Jurnal Kelautan: Indonesian Journal of Marine Science and Technology
Not a member yet
453 research outputs found
Sort by
REPRODUCTIVE PERFORMANCE OF Anodontia philippiana
Objective of this study was to determine reproductive performance of A. philippiana. Samples were collected from the oil affected mangrove mudflat in Pototan, Guimaras, Philippine on September 2007. A. philippiana were induced to spawn using the serotonin method. Only A. philippiana with shell length of approximately 4.0-5.5 cm were induced to spawn. Three pairs of one ripe female and one ripe male were chosen and placed in aquaria with 3 replicates. A 0.3 ml of 4 rnM serotonin solution (Gros et al., 1997) was injected into 1-2 mm of the gonad of both male and female clams using 0.65 x 25-mm bore hypodermic needle attached to a 5 ml plastic syringe during mid until late afternoon. Number of spawned eggs was calculated, and fertilization was conducted. At 47 h, the percentage of normal (D-larvae) veliger relative to the initial number of eggs was calculated (Massapina et aL, 1999). Larvae from each spawner were reared separately in aquaria for several days without feeding in order to estimate survival rates. The number of larvae we re-estimated every 24-h intervals until total mortality. The decrease in the number of larvae per container we re-calculated as the proportion of live larvae from the initial number of larvae (extinction rate) (Narvarte and Pascual, 2003). Result of this study are total Total spawned eggs (x10 (g m) is 86.11±3.80, Fertilization rate (%) is 83.01±3.13, and harching rate is 36.51+8.64, Length of newly hatched larvae (gm) is 135.73±1.96, Number of days to total mortality (after hatching) without feeding is 9-10 days.Keywords: reproductive, Anodotia philippian
EFEKTIVITAS HORMON 17 α-METILTESTOSTERON UNTUK MEMANIPULASI KELAMIN IKAN NILA (Oreochromis niloticus) PADA PEMELIHARAAN SALINITAS YANG BERBEDA
Secara alami produksi benih ikan nila sebagian besar merupakan individu betina, dengan perbandingan 1 jantan : 3 – 6 betina. Hal tersebut dapat menyebabkan biomass yang dihasilkan lebih kecil, sehingga produksi budidaya tidak maksimal, maka budidaya monoseks jantan merupakan salah satu cara untuk memaksimalkan produksi dengan menggunakan hormon 17 α-Metiltestosteron. Desain Penelitian ini menggunakan 3 perlakuan dengan 3 kali ulangan melalui dua tahap. Tahap yang pertama dilakukan dengan metode perendaman selama 6 jam, tahap yang kedua pada perlakuan A setelah perendaman secara terkontrol selanjutnya dipelihara dalam air dengan salinitas 0 0/00, perlakuan B setelah perendaman dengan hormon MT 5 mg/l selanjutnya dipelihara dalam air dengan salinitas 5 0/00, perlakuan C setelah perendaman dengan hormon MT 10 mg/l selanjutnya dipelihara dalam air dengan salinitas 10 0/00. Data yang diambil dengan mengukur jumlah persentase jantan, ADG, SR, Efek pemberian hormon dan kualitas air. Sehingga dapat diketahui persentase kelamin jantan ikan nila pada perlakuan A (62 %), perlakuan B (78 %), perlakuan C (85 %). Persentase ADG pada perlakuan A (66,1 %), perlakuan B (50,2 %), perlakuan C (47,1 %) dan pertumbuhan berat ikan nila pada perlakuan A lebih cepat dari perlakuan B dan C dan pertumbuhan panjang ikan nila pada perlakuan C lebih cepat dari perlakuan A dan B. Laju kelangsungan hidup ikan nila pada perlakuan A menghasilkan 92,5 %, perlakuan B menghasilkan 93 % dan perlakuan C menghasilkan 95 %. Efek negatif akibat pemberian hormon pada perlakuan B dan C dapat diketahui dengan kelainan pada tubuh ikan diantaranya kelainan rongga tanpa bola mata, kelainan tubuh terlipat, kelainan tubuh tidak berekor, kelainan ekor terlipat, sedangkan pada perlakuan A tidak terdapat adanya kelainan pada tubuh ikan.Kata Kunci : Hormon 17 α-Metiltestosteron, manipulasi kelamin dan salinita
KUALITAS MUTU BAHAN MENTAH DAN PRODUK AKHIR PADA UNIT PENGALENGAN IKAN SARDINE DI PT. KARYA MANUNGGAL PRIMA SUKSES MUNCAR BANYUWANGI
Mutu ikan kaleng tergantung pada kesegaran bahan mentah, cara pengalengan, peralatan dan kecakapan serta pengetahuan pelaksana-pelaksana teknis, sanitasi dan higiene pabrik dan lingkungan. Kesegaran bahan mentah sangat penting dalam industri perikanan. Kesegaran adalah tolak ukur untuk membedakan ikan jelek dan bagus kualitasnya. Bila kualitas bahan mentah bagus, maka produk yang dihasilkan juga bagus. Untuk mengendalikan mutu produk yang dihasilkan perusahaan diperlukan suatu sistem yang terkendali dan dapat mengendalikan seluruh aktifitas yang mempengaruhi mutu produk. Khusus untuk produk perikanan lahirnya konsep HACCP mendorong negara-negara maju menerapkan sistem pengawasan mutu ini kepada produsen sebagai jaminan mutu produknya. Dari hasi studi pustaka dan penelitian serta pengamatan langsung pada PT. Karya Manunggal Prima Sukses Muncar, ternyata diketahui bahwa mutu bahan baku dan produk akhir berupa ikan kaleng sardine saus tomat yang dihasilkan sesuai dengan standart mutu SNI 01-3548-1994. Sedangkan penerapan konsepsi HACCP belum terlaksana dengan baik sehingga diperlukan perbaikan, baik GMP dan SSOP pada unit pengolahan.Kata kunci : Mutu ikan kaleng, HACCP. The quality of a certain tinned-fish depends on several things; those are the freshness of raw materials, tinning technique, devices, knowledge, and capability of the technicians, sanitation and hygienist of the factory. The freshness of raw materials is important in fishery industries. Freshness is one of indicators in determining fish quality. If raw materials are in good quality so that the product will be. To maintain quality of a product in certain factory, system that are able to control all of the elements affecting product quality, is absolutely needed. In fishery product, availability of HACCP, encourage the advanced-countries to apply a monitoring system of product quality to the producer as a kind of quality guarantee. From the study of certain literature, research, and also direct observation in PT Karya Manunggal Prima Sukses, Muncar, it is known that the quality of raw materials and the final product in a form tinned-sardine with tomato sauce, produced by this factory, is in accordance with quality standard of SNI 01-3548-1994, even though the application of HACCP concept still needs several corrections. This is also available for GMP and SSOP in the processing unit. Keywords : Quality of Tinned-fish, HACCP