Jurnal Kelautan: Indonesian Journal of Marine Science and Technology
Not a member yet
    453 research outputs found

    KAJIAN PERTUMBUHAN Kappaphycus alvarezii HASIL KULTUR JARINGAN PADA PERLAKUAN SUHU YANG BERBEDA

    No full text
    Saat ini awal dan akhir periode budidaya rumput laut sudah tidak dapat dipastikan lagi karena mengalami pergeseran yang diduga akibat perubahan iklim global.  Hal tersebut mengakibatkan gagal panen dan rendahnya rendemen karaginan.  Salah satu cara untuk mengetahui dampak perubahan iklim terhadap budidaya rumput laut (Kappaphycus alvarezii) adalah dengan mengkaji parameter kualitas air yang mempengaruhi pertumbuhannya yaitu suhu.  Melalui penelitian ini diharapkan diperoleh temuan baru mengenai pengaruh suhu terhadap pertumbuhan rumput laut.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa, Kappaphycus alvarezii yang diberi perlakuan suhu 200C, 250C, 300C, 350C dan 400C tidak menunjukkan perbedaan yang nyata terhadap rata-rata pertumbuhan hariannya. Kata kunci: suhu, pertumbuhan, Kappaphycus alvarezi

    Pengaruh Kedalaman Tanam Terhadap Pertumbuhan Eucheuma spinosum Pada Budidaya dengan Metode Rawai

    No full text
    Eucheuma spinosum merupakan algae makro bentik yang dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan tepung agar-agar, keraginan dan alginat. Bahan baku tersebut dimanfaatkan dalam industri tekstil, kosmetik, dan makanan. Luasnya pemanfaatan hasil olahan rumput laut dalam berbagai industri, mengakibatkan peningkatan kebutuhan Eucheuma spinosum. Budidaya Eucheuma spinosum yang sudah dilakukan oleh pembudidaya adalah menggunakan metode rakit apung (floating raft method), metode lepas dasar (off bottom method) dan metode rawai (long line method). Namun dari ketiga metode ini yang lebih memberikan keuntungan dan lebih digemari oleh petani adalah metode rawai. Sehingga perlu dilakukan penelitian ”Pengaruh Beberapa Kedalaman Penanaman Terhadap Pertumbuhan Eucheuma spinosum pada Budidaya dengan Metode Rawai”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kedalaman penanaman terhadap pertumbuhan Eucheuma spinosum pada budidaya dengan metode rawai. Penelitian dilaksanakan di Balai Budidaya Laut (BBL) Lombok Desa Gerupuk Lombok Tengah Agustus 2010 hingga Oktober 2010. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL), terdiri atas 4 perlakuan kedalaman penanaman yakni A (25 cm), B (35 cm), C (45 cm) dan D (55 cm). Setiap perlakuan terdiri 4 ulangan dalam enam sisi karena akan dilakukan pengamatan destruktif sebanyak enam kali, sehingga diperoleh 96 plot percobaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Perlakuan kedalaman penanaman Eucheuma spinosum berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan berdasarkan berat basah, berat komersil dan berat kering. Pada kedalaman penanaman 45 cm memberikan hasil pertumbuhan yang lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan kedalaman lainnya. Kata Kunci: Budidaya, Eucheuma spinosum, kedalaman, pertumbuhan, metode rawai

    PEMETAAN SUHU PERMUKAAN LAUT (SPL) MENGGUNAKAN CITRA SATELIT ASTER DI PERAIRAN LAUT JAWA BAGIAN BARAT MADURA

    No full text
    Oceanographical temperature in Java Sea is very important to be considered. This research was combines in-site observation technique, Geographical Information System (GLS) and remote sensing in order to get accurate, present and updateable data. The aim of this research is to determine the distribution of sea-surface temperature and accuration-test value in Java Sea especially on western coast of Madura using ASTER satellite imagery. This research were used software of ENVI 4.5, ILWIS 3.3, and ArcGIS 9.3 and also changed the radian value until °C. Result showed that using ASTER satellite imagery within band 10 range between 32 "C-35 "C. Band 11,between 24.9"C 25,2"C. Band 12 between 16,7"C to 17"C. Band while band 13 abd 14 between 30.7, band 28. Band 11 is more accurate compared to Band 10, 12, 13. 14, the RMS Error on band 11 showed lower value compared to the other band.Keywords: Sea-surface Temperature. ASTER satellite imagery. Java Sea, Western coast of Madur

    PROSENTASE PENUTUPAN KARANG DI PULAU KANGEAN-SUMENEP

    No full text
    Terumbu karang merupakan habitat bagi spesies laut yang mernpunyai nilai komersial tinggi dan juga berfungsi untuk melakukan pemijahan, peneturan, pembesaran anak, makan dan mencari makan (Peding foraging). Sehingga terumbu karang sebagai gudang keanekaragaman hayati laut. Saat ini, peran terumbu karang sebagai gudang keanekaragaman hayati menjadikannya sebagai sumber penting bagi berbagai bahan bioaktif yang diperiukan di bidang medis dan farmasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui prosentase penutupan karang di lokasi penelitian yang nantinya merupakan informasi awal dalam menentukan kondisi terumbu karang di Kepulauan Kangean Sumenep. Penelitian ini dilakukan pada tanggal Agustus 2010 di Pulau Kangean — Sumenep. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa prosentase penutupan terumbu karang di pulau Kangean termasuk dalam kondisi buruk.Kata Kunci : terumbu karang, pulau kangean sumenep, prosentase peneutupanCORAL COVER IN THE KANGEAN ISLAND SUMENEPCoral reefs are habitat for marine species that have high commercial value and also serves as spawning, hatching, breeding, feeding and foraging (Peding foraging). So the coral reefs as marine biodiversity warehouse. Currently, the role of coral reefs as a house of biodiversity making it an important resource for a variety of bioactive materials that needed in the medical and pharmaceutical field. the purpose of this study was to determine the percentage of coral cover in the study site which will constitute the initial information in determining the condition of coral reefs in Kangean Islands, Sumenep. This research was conducted on August 2010 in Kangean Island - Sumenep. The results showed that the percentage of the coral cover in the Kangean Island including in adverse conditions.Keywords: Coral reefs, Kangean Island Sumenep, Coral cove

    KEANEKARAGAMAN, KESERAGAMAN, DAN DOMINANSI BIVALVIA DI AREA BUANGAN LUMPUR LAPINDO MUARA SUNGAI PORONG

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur komunitas bivalvia di muara sungai area buangan lumpur Lapindo. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah organisme Makrozoobenthos yaitu kelas bivalvia yang diambil dari perairan sekitar muara Sungai Porong, serta beberapa parameter lingkungan yang dipandang memiliki pengaruh pada kehidupan bivalvia. Analisis stuktur komunitas yang dilakukan meliputi kelimpahan, indeks keanekaragaman, indeks keseragaman dan indeks dominansi. Hasil penelitian menunjukan bahwa tidak ditemukanya bivalvia pada lokasi penelitian di muara sungai Porong, Kata Kunci : bivalvia, muara sungai porong, makrozoobenthos This research aimed to understand the community structure of bivalve in river delta of Porong which used for Lapindo mud wash out. Material in this research was macrozoobenthos collected from Porong river delta and their associated ambient environment parameter. Community structure analysis included were diversity, eveness and dominance index. Result showed that there was no bivalve found in Porong river Delta.Keywords: Bivalve, Porong river delta, Macrozoobentho

    STUDI KOMUNITAS FITOPLANKTON DI PESISIR KENJERAN SURABAYA SEBAGAI BIOINDIKATOR KUALITAS PERAIRAN

    No full text
    Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kelimpahan, keanekaragaman, keseragaman dan dominansi fitoplankton serta hubungan tingkat pencemaran dengan fase saprobitas di pesisir Kenjeran Surabaya. Pengamatan dilakukan 3 kali pengulangan setiap 1 minggu. Lokasi pengambilan sampel dilakukan tegak lurus garis pantai yang terdiri atas 3 stasiun. Setiap stasiun ada 3 titik• Metode pelaksanaan Praktek Kerja Lapang menggunakan metode observasi. Hasil analisa menunjukkan bahwa nilai kelirnpahan fitoplankton pada stasiun 1 = 917 ind/l, pada stasiun 2 = 558 ind/l dan pada stasiun 3 = 361 ind/l. Indeks keanekaragaman (H') fitoplankton di lokasi penelitian mempunyai nilai berkisar antara 2,1644 — 2,3445 dengan kategori tingkat keanekaragaman sedang, indeks keseragaman (E) rnempunyai nilal berkisar antara 0,5377 — 0,5993 dengan kategori tingkat keseragaman sedang, indeks dominansi (D) mempunyai nilai berkisar antara 0,2516 — 0,2969 dengan kategori tingkat dominansi rendah atau tidak ada spesies yang mendominasi, dan nilal indeks saprobik di lokasi penelitian berkisar antara 1,3 — 1.9 menunjukkan kategori tingkat pencemaran ringan dengan fase 13-meso/oligosaprobik dan sangat ringan dengan fase oligo/13-mesosaprobik.Kata kunci : Kelimpahan, Struktur Komunitas, Fitoplankton, dan Fase Saprobita

    ANALISA SEBARAN TOTAL SUSPENDED SOLID (TSS) DI PERAIRAN PANTAI KABUPATEN BANGKALAN PASCA JEMBATAN SURAMADU

    No full text
    Konsentrasi Total Suspended Solid (TSS) merupakan satu parameter yang mengindikasikan laju sedimentasi.penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jumlah konsentrasi Total Suspended Solid (TSS) di perairan Kabupaten Bangkalan pasca pembangunan Jembatan Suramadu. Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan materi contoh air dan dianalisa Total Suspended Solid (TSS) dengan didukung oleh data sekunder berupa parameter hidrooseanograti dan sedimen. Metode ini dapat mendeskripsikan distribusi Total Suspended Solid (ISS). Hasilnya adalah konsentrasi Total Suspended Solid (TSS) yang berbeda antar lokasi sampling. Ada kecenderungan bahwa nilai Total Suspended Solid (TSS) secara umum relatif berkurang dan variatif sesuai profil kedalaman.Kata Kunci : Total Suspended Solid (TSS), Sedime

    STUDI KENAIKAN PARAS LAUT DAN DAMPAKNYA TERHADAP WILAYAH PESISIR SURABAYA dan BANGKALAN

    No full text
    Setiap perubahan iklim di permukaan bumi akan memberikan danyak terhadap keberlangsungan hidup manusia. Salah satu kajian yang saat ini banyak dilakukan berkaitan dengan isu pemanasan global adalah mengenai kenaikan paras air laut. Pengkajian mengenai kenaikan paras air laut dan dampaknya bagi wilayah pesisir memegang peranan sangat penting. Hal ini mengingat banyaknya masyarakat yang tinggal dan memanfaatkan wilayah pesisir. Kota Surabaya dan Kabupaten Bangkalan merupakan wilayah yang sebagian besar wilayahnya terletak di pesisir yang berhadapan langsung dengan perairan. Dengan kondisi hutan mangrove yang tipis, tanah yang landal, ketinggian dari permukaan laut yang rendah dan aktivitas-aktivitas yang dapat mengurangi ketahanan pesisir maka mengakibatkan terjadinya genangan air laut balk yang terjadi di darat maupun yang terjadi di luar garis pantal. Hal ini tentunya akan mempengaruhi kualitas hidup masyarakat pesisir.Kata kunci: pemanasan global, kenaikan paras laut, darnpak, pesisi

    ANALISA TINGKAT PREVALENSI DAN DERAJAT INFEKSI PARASIT PADA IKAN KERAPU MACAN (Ephinephilus fuscoguttatus) DI LOKASI BUDIDAYA BERBEDA

    No full text
    Fish is the potential protein source for human. People consumption of fish requires attention related to whether the fish is safe to consume. This research is aimed at finding kind of parasite attack Groupers (E. fuscoguttatus) and the prevalence and the infection level in the different farming location. The research method used that is by taking Groupers size between 10 cm - 35 cm as many  fish from all population in each location with the assumption of percentage the prevalence used was 10%. Sample then analyzed for amount and type of parasite attacked and determined level of prevalence and degree of parasite infection. Result showed the type of parasite attack Groupers are Anasakis sp., Diphyllobothrium sp., Caligus sp., Diplectanum sp., Ergasillus sp., and Argulus sp. The different location of farming didn’t influence the parasite prevalence degree in Groupers. It is known that in location 1 in Lamongan, the prevalence level is 60% and the amount of fish attacked is 12, while in location 2 which is in Situbondo regency the prevalence degree is 50% with 10 fish attacked. t-test result showed that the level of infection degree did not differ perhaps because of the water condition quality between two location was relatively similar and still in the normal category, and also farmers have known the farming techniques well. Key Words : Prevalence, Degree of parasite infection, Grouper

    OPTIMASI KARAGINAN RUMPUT LAUT ASAL MADURA MELALUI PERIODE PENCAHAYAAN BERBEDA

    No full text
    Agar dapat hidup dan tumbuh dengan balk, rumput taut syarat-syarat lingkungan tertentu. Semakin sesuai kondisi lingkungan perairan dengan areal yang akan dibudidayakan akan semakin baik pertumbuhannya dan juga hasil yang diperoleh Rumput taut umumnya dibudidayakan dan dapat tumbuh dengan baik di daerah pasang surut atau di daerah yang selalu terendam air (subtidal) sampai batas ke dalaman 200 meter dimana intensitas cahaya masih dapat tembus. Salah satu faktor yang dapat berpengaruh pada peningkatan senyawa bioaktif yang terkandung dalam suatu tanaman adalah cahaya. Secara fisiologis, cahaya mempunyai pengaruh baik langsung maupun tidak langsung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh periode pencahayaan terhadap kandungan karaganen yang dilakukan di perairan taut desa Jumiang kabupaten Pamekasan. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan acak kelompok (RAK) faktorial. Faktor pertama adalah periode pencahayaan (P) (Po = Lama pencahayaan 30 hari (kontrol); RI Kedalaman I m selama 7 hari + lama pencahayaan 23 had; P2 = Kedalaman I m selama 14 hari + lama pencahayaan 16 hari; P3 = Kedalaman I m selama 30 hari (sampai panen) dan faktor kedua adalah spesies (S) rumput laut (E. Cottoni  Maumere dan E. Cottoni Lokal). Rancangan penelitian dari perlakuan terdapat 8 kombinasi yang diulang 3 kali. Adapun hasil dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa periode pencahayaan berpengaruh terhadap pertumbuhan rumput taut (E. cottoni Maumere maupun Lokal dan kandungan karaginan, dimana kandungan karaginan tertinggi terdapat pada spesies E cottonit Lokal sebesar 2,64 g atau sebesar 53,2 % dari bobot sampel rumput taut kering 5 g pada perlakuan 14 hari di dasar dan 16 hari mendapat cahaya (permukaan) dibanding spesies E. cottoni Maumere hanya sebesar 36%.Keyword: E. cottoni, karaginan, cahay

    0

    full texts

    453

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Kelautan: Indonesian Journal of Marine Science and Technology
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇