Jurnal Kelautan: Indonesian Journal of Marine Science and Technology
Not a member yet
453 research outputs found
Sort by
PERTUMBUHAN EUCHEUMA COTTONII PADA KEDALAMAN 150 CM DENGAN JARAK TANAM YANG BERBEDA
Budidaya rumput laut memiliki peranan penting dalam usaha meningkatkan produksi perikanan untuk memenuhi kebutuhan pangan dan gizi serta memenuhi kebutuhan pasar dalam dan luar negeri. Budidaya rumput laut dapat dilakukan dengan menggunakan metode rawai, yang saat ini merupakan metode yang dapat dianggap fleksibel dalam pemilihan lokasi dan biaya lebih rendah dibanding metode lain. Namun pada saat ini, dari metode tersebut masih belum dapat memenuhi permintaan pasar. Untuk itu diperlukan penelitian yang berkaitan dengan metode budidaya yang tepat mengenai jarak tanam, sehingga dapat meningkatkan produksi rumput laut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jarak tanam (30 cm, 35 cm, 40 cm, 45 cm, dan 50 cm) terhadap pertumbuhan Eucheuma cottonli pada kedalaman 150 cm. Rancangan yang digunalcan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan faktor tunggal yaitu jarak tanam yang terdiri was lima perlakuan jarak tanam yaitu ; 30 cm (JT(30)), 35 cm (JT(35)), 40 cm (JT (40)), 45 cm (JT(45)), dan 50 cm (JT(50)) dengan pengulangan sebanyak 3 kali. Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari sampai Agustus 2010 di perairan Gerupuk, Desa Sengkol, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Provinsi NTB. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jarak tanam berpengaruh terhadappertumbuhan Eucheuma cottonii pada kedalaman 150 cm. Jarak tanam yang memberikan pertumbuhan paling balk pada kedalaman 150 cm untuk pertumbuhan Eucheuma cottonii adalah 45 clan 50 cm.Kata Kunci: Eucheuma cottonli, kedalaman, jarak tanam, pertumbuha
STUDI KEPADATAN DAN POLA DISTRIBUSI CACING LUR (Nereis sp) DI PERAIRAN PESISIR KECAMATAN KWANYAR KABUPATEN BANGKALAN
Nereis sp merupakan salah satu spesies cacing yang termasuk dalam polychaeta yang memiliki peran dalam perairan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kelimpahan Nereis sp dan pola distribusi cacing lur (Nereis sp) di perairan pesisir Kecamatan Kwanyar Kabupaten Bangkalan. Sampel Nereis sp diambil pada 5 stasiun berbeda sesuai dengan penggunaannya. Pengambilan sampel dilakukan pada kondisi surut menggunakan transek kuadrat berukuran 10 x 10 m2 dengan 4 plot pada setiap stasiun dengan transek berukuran 1x1 m2. Data dianalisa dengan analisa regresi linear sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepadatan cacing lur (Nereis sp) (dalam satuan individu/m2) pada stasiun I, II, III, IV dan V berturut-turut sebesar 19, 38, 49, 23, dan 42; dengan pola penyebaran cenderung seragam, kecuali pada stasiun I dengan pola berkelompok. Parameter kualitas air di perairan pesisir Kecamatan Kwanyar sudah optimal untuk kehidupan cacing lur (Nereis sp).Kata kunci: Nereis sp, Pesisir Kwanyar, Kepadatan, Distribus
KAJIAN PENGELOLAAN PESISIR DAN LAUT LINTAS NEGARA (REVIEW: PERBANDINGAN TELUK PERSIA DAN INDONESIA)
Kawasan perbatasan suatu negara mempunyai peranan penting dalam penentuan batas wilayah kedaulatan, pemanfaatan sumberdaya alam, serta keamanan dan keutuhan wilayah. Selain itu juga merupakan komitmen dunia terhadap pengelolaan alut yang berkelanjutan. Oleh karena itu, beragamnya kerfasama antar negara ditujukan untuk mencapai pengelolaan pesisir yang berkelanjutan dan program pencegahan polusi lingkungan. Skema pengelolaan di kawasan teluk seperti di Teluk Persia dilakukan dengan menggabungkannya ke dalam legislasi nasional seperti Daerah Perlindungan Laut (DPL) melalui program ROPME. Hal ini merupakan bagian dari program pengelolaan pesisir terpadu yang efektif dan dapat membawa perubahan signifikan di daerah Teluk Persia. Di Indonesia juga terdapat program-program pengelolaan sumberdaya alam lintas negara, antara lain melalui Konferensi Kelautan Dunia WOC (World Ocean Conference) dan Coral Triangle Initiative (CTI). Pertemuan merupakan inisiatif Indonesia dalam rangka penanggulangan perubahan iklim dan penyelamatan terumbu karang yang memiliki nilai strategis di wilayah zona ekonomi eksklusif dan segitiga terumbu karang enam negara.Kata kunci: pengelolaan, WOC, CTI, lintas negar
EFEKTIVITAS DAN EFEK TOKSIK EKSTRAK STEROID TERIPANG DAN 17α METILTESTOSTERON PADA MANIPULASI KELAMIN UDANG GALAH
Testosteron selain dapat dimanfaatkan sebagai obat, juga dimanfaatkan untuk sex reversal pada udang galah (Macrobrachium rosenbergii de Man). Hormon yang umum dipakai untuk sex reversal jantan adalah 17α metiltestosteron, merupakan hormon sintetis. Bioassay pada ayam, diketahui bahwa hormon sintetis memberikan efek samping toksik pada hati, limpa dan bursa fabricius. Agar tidak memberikan efek toksik, salah satu cara dengan menggunakan sumber hormon testosteron alami dari teripang. Pemberian hormon menggunakan metode dipping, lima perlakuan dan tiga ulangan. Dosis ekstrak steroid teripang 1, 2 dan 3mg/l, serta 17α metiltestosteron 2mg/l dapat menghasilkan populasi jantan lebih tinggi dari kontrol negatif (tanpa hormon), yaitu 44,15%, 49,65%, 49,72% dan 50,45%. Kata kunci: ekstrak steroid teripang, 17α metiltestosteron, udang gala
PERBEDAAAN PADAT TEBAR TERHADAP TINGKAT PERTUMBUHAN DAN KELANGSUNGAN HIDUP POST PEURULUS LOBSTER PASIR (Panulirus homarus) PADA BAK TERKONTROL
Prospek budidaya Panulirus homarus menjanjikan dari segi ekonomi dan keadaan alam di wilayah NTB serta merupakan spesies komoditi ekspor utama di Indonesia.Potensi akuakultur lobster pasir tentunya membutuhkan teknik budidaya yang sesuai agar mendapatkan hasil yang optimal.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan padat tebar terhadap pertumbuhan dan nilai Survival rate (SR) serta untuk mengetahui padat tebar yang dapat menghasilkan pertumbuhan dan nilai SR optimum post puerulus Panulirus homarus.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimental dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan faktor tunggal yaitu padat tebar dengan densitas 20 ekor/m2, 40 ekor/m2, 60 ekor/m2, dan 80 ekor/m2. Parameter yang diamati adalah pertumbuhan spesifik dan kelangsungan hidup (SR) post puerulus Panulirus homarus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian perlakuan perbedaan padat tebar berpengaruh (P0,05) terhadap pertumbuhan spesifik dan kelangsungan hidup (SR) post puerulus Panulirus homarus. Nilai SGR dan SR tertinggi terdapat pada kepadatan 20 ekor/m2 sebesar 2,15425% dengan nilai SR 75%, dengan kualitas air sebagai faktor pembatas dengan nilai rata-rata pH 7,2, suhu 26,930 C, salinitas 34,4 ppt dan DO 5,86 mg/l nilai tersebut dalam batas toleransi sebagai kehidupan biota air khususnya lobster pasir. Kata kunci : Panulirus homarus, padat tebar, survival rat
OPTIMASI PROSES EKSTRAKSI KHITIN DARI CANGKANG RAJUNGAN DENGAN MENGGUNAKAN MESIN EKSTRAKSI OTOMATIS
Chitin is one of the natural polymer compound which is totally generous sufficient and most total after cellulose. This research directed to know optimisation process for the extraction of chitin from the carapax crabs by using automatic machine extraction. The research covered the activity which is appearance of utomatic machine extraction making that consist of determination level of the first extraction of optimation process. This study to analyzied the composition of raw material quality of chitin and standard of optimation of chitin extraction process. At last, this research determined continu of level optimation extraction process include study in characteristic quality of chitin. This study conducted refers to exhibit time combination during the process especially for demineralisasi and deproteinasi of chitin. Analysis for chitin extraction consist of rendemen, ash value, nitrogen value, water value, whaiteness level and deasetilasi level. The result have influence significant to examined parameter as ash value, nitrogen value, water value, whiteness level and deasetilasi level. Optimum condition obtained from demineralisasi process at 100 0C temperature for 60 minutes and deproteinasi process at 100 0C temperature for 60 minutes by 9.279% rendemen; 7.257% water; 0.6398% ash, 5.4068% total nitrogen, 50.2% whaiteness level and 21.3% deasetilasi level. Key words: Chitin, Extraction, Carapax, Crab
APPLICATION OF GIS FOR ASSESSING PRAWN FARM DEVELOPMENT IN TULLY-CARDWELL, NORTH QUEENSLAND
In recent years, Geographical Information Systems (GIS) has been employed for various studies in aquaculture where geographical factors, natural resources and human activities are involved. With an adequate database GIS, can serve as powerful tools in aquaculture. GIS have capabilities of organizing, analyzing, and displaying large, spatially explicit datasets due to spatial nature of the factors involved in aquaculture development particularly for site suitability studies. This study is intended to become a preliminary investigation for the development of prawn farm in Tully-Cardwell region of North Queensland. The aim of this research is to identify suitable sites for development of prawn farming using GIS multi-based criteria based on the basic requirements for prawn farming, for instance: suitable elevation and slope, proximity to water and distance from urban areas. Key words: Geographical Information Systems (GIS), Tully Cardwell, North Queensland, Prawn farm
KELIMPAHAN DAN KOMPOSISI FITOPLANKTON DI WADUK SELOREJO KECAMATAN NGANTANG KABUPATEN MALANG
Penelitian dilakukan di waduk Selorejo pada bulan April-Mei 2008. Tujuannya adalah untuk mengetahui kelimpahan dan komposisi fitoplankton di waduk Selorejo. Metode yang digunakan adalah metode survei dengan pengambilan data primer dan sekunder. Pengambilan sampel dilakukan sebanyak 3 kali setiap minggu pada 4 stasiun. Kelimpahan fitoplankton berkisar antara 120 – 930 ind/ml. Data kualitas air diperoleh suhu perairan yaitu berkisar antara 24 – 260C, kecerahan 32 – 55 cm, warna air warna hijau dan coklat keruh, pH 8 – 9, nitrat 0,33 – 1,04 mg/l, dan fosfat 0,9 – 0,55 mg/l. Sebagai usaha untuk menjaga kondisi perairan waduk Selorejo disarankan perlunya penanganan dan upaya manajemen bagi masyarakat sekitar tentang pemanfaatan dan pelestarian perairan sungai dan juga waduk Selorejo bagi kehidupan manusia. Kata Kunci : Fitoplankton, Waduk Selorejo, Kualitas Air
SEBARAN TOTAL SUSPENDED SOLID (TSS) DI PERAIRAN SEPANJANG JEMBATAN SURAMADU KABUPATEN BANGKALAN
Pembangunan Jembatan Suramadu di sepanjang Selat Madura diduga menyebabkan adanya perubahan pola arus di sepanjang tiang pancang Jembatan Suramadu. Perubahan pola arus ini diperkirakan akan menyebabkan parameter kualitas perairan di sepanjang Jembatan Suramadu akan berbeda. Salah satu parameter kualitas perairan yang didugaberubah adalahTotal Suspended Solid (TSS). Total Suspended Solid (TSS) merupakan zat padat (pasir, lumpur, dan tanah liat) atau partikel tersuspensi dalam air dan dapat berupa komponen hidup (biotik) seperti fitoplankton, zooplankton, bakteri, fungi, ataupun komponen mati (abiotik) seperti detritus dan partikelanorganik. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui konsentrasi dan penyebaran Total Suspended Solid (TSS) di sepanjangJembatan Suramadu. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan pengambilan contoh air dan pengambilan sedimen serta pengukuran parameter kualitas perairan pada 5 stasiun di sepanjang jembatan Suramadu sebagai data pendukung. Contoh air dianalisa menggunakan SK SNI 06-6989.3-2004. Hasil penelitian menunjukkan Konsentrasi Total Suspended Solid (TSS) di sepanjang tiang pancang jembatan Suramadu bervariasi tiap minggunya dengan karakteristik parameter oseanografi yang berbeda. Kata Kunci : Total Suspended Solid, Jembatan Suramadu, Distribusi Sedimen.
PENGARUH KOMBINASI PAKAN BUATAN DAN PAKAN ALAMI CACING SUTERA (Tubifex tubifex) DENGAN PERSENTASE YANG BERBEDA TERHADAP RETENSI PROTEIN, LEMAK DAN ENERGI PADA IKAN SIDAT (Anguilla bicolor)
Indonesian short fin eel (Anguilla bicolor) was one of Indonesian fishery commodities which have high value not only in local market but also western market. Advantages of Indonesian short fin eel not only their high value because of prospectively in international market, but also the quality of Indonesian short fin eel itself that contain high vitamin and micronutrient. Weaknesses of Indonesian short fin eel was their growth classified slow. That was can be overcome by giving the exact feed. The purpose of this research was to know the effect of combination between artificial feed and natural feed with different percentage to protein retention, fat retention and energy retention of Indonesian short fin eel (Anguilla bicolor). This research used experimental method and Completely Random Design method with five treatments. Each treatment was replicated four times. The treatment used were : 100% of artificial feed (A), 75% of artificial feed and 25% of natural feed (B), 50% of artificial feed and 50% of natural feed (C), 25% of artificial feed and 75% natural feed (D), and 100% natural feed (E). The main parameters measured were protein, fat, and energy retentions. The supporting parameters observed was growth rate and water quality. Data analysis used analysis of variance (ANOVA) to know the effect of the treatments. The difference among treatments were known by using Duncan’s Multiple Range Test (DMRT).The result showed that combination between artificial and natural feeds with difference percentage showed different effect (p0,05) to fat retention of Indonesian short fin eel therefore they didn’t showed different effect to protein and energy retentions of Indonesian short fin eel (p0,05). Water quality of Indonesian short fin eel rearing medium was 28-31oC in temperatures, 7-8,5 in pH, 3,5-5,8 mg/l in dissolved oxygen and 0,003 mg/l in ammonia. Keywords : Anguilla bicolor, artificial feed, Tubifex tubifex, protein retention, fat retention, energy retention