Jurnal Kelautan: Indonesian Journal of Marine Science and Technology
Not a member yet
453 research outputs found
Sort by
POTENSI DAN TINGKAT PEMAFAATAN IKAN SEBAGAI DASAR PENGEMBANGAN SEKTOR PERIKANAN DI SELATAN JAWA TIMUR
Jawa Timur (Jatim) adalah salah satu propinsi yang memiliki potensi sumberdaya perikanan laut yang terdiri dari ikan pelagis dan ikan demersal. Wilayah pengelolaan perikanan laut di Jawa Timur bagian selatan memiliki potensi yang sangat besar karena berhadapan langsung dengan samudera Hindia dan memiliki potensi ikan khususnya kelompok pelagis besar seperti tuna (Thunnus sp) dan cakalang (Katsuwonus pelamis). Untuk mengetahui informasi tentang potensi dan tingkat pemanfaatan perikanan laut di Jatim perlu dianalisis data yang ada, sehingga dapat digunakan sebagai acuan dalam mengembangkan sektor perikanan laut kedepannya dengan memperhatikan kelestarian sumberdayanya. Tujuan penelitian adalah mengetahui potensi dan tingkat pemanfaatan ikan di wilayah Selatan Jatim. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survey dengan analisa data menggunakan metode Maximum Sustainable Yield (MSY). MSY atau potensi lestari ikan adalah besarnya jumlah stok ikan tertinggi yang yang dapat ditangkap secara terus menerus dari suatu sumberdaya tanpa mempengaruhi kelestarian stok ikan tersebut. Dengan menggunakan metode surplus produksi, potensi lestari ikan (MSY) di wilayah Selatan Jatim periode 2009-2013 adalah sebesar 219.189,453 ton. Tingkat pemanfaatan ikan di perairan Selatan Jatim tahun 2009-2013 nilai rata-ratanya sebesar 49,48% yang berarti masih dibawah nilai jumlah tangkapan yang diperbolahkan (JTB sebesar 80%). Dari nilai tingkat pemanfaatan selama 5 (lima) tahun tersebut dapat dikatakan perairan Selatan Jatim masih dalam kondisi underfishing karena tingkat pemanfaatannya masih dibawah nilai JTB (kurang dari 80%). Rata-rata nilai upaya penangkapan sebesar 577.764 trip dengan upaya optimum sebesar 523.437 trip, maka dapat disimpulkan bahwa upaya optimum lebih rendah dibandingkan dengan nilai rata-rata upaya penangkapan selama 5 (lima) tahun.Kata Kunci: CPUE, MSY, potensi, tingkat pemanfaatan, upaya UTILIZATION POTENTIAL AND LEVEL OF FISH AS A BASIS FOR DEVELOPMENT SECTOR FISHERIES IN SOUTH EAST JAVAABSTRACTJawa Timur (East Java) is one of the provinces that have the potential of marine fishery resources consisting of pelagic and demersal fish. Marine fisheries management area in the southern part of East Java has a huge potential for dealing directly with the Indian Ocean and has the potential of large pelagic fish, especially groups such as tuna (Thunnus sp) and skipjack (Katsuwonus pelamis). To find out information about the potential and the level of utilization of marine fisheries in East Java needs to be analyzed existing data, so it can be used as a reference in developing the marine fisheries sector in the future by taking into account the preservation of resources. The research objective was to determine the potential and the utilization rate of the fish in the southern region of East Java. The method used is survey method with data analysis using the Maximum Sustainable Yield (MSY). MSY or the potential for sustainable fish is the large number of fish stocks highest that can be captured continuously from a resource without affecting the sustainability of fish stocks. By using surplus production, the potential for sustainable fish (MSY) in the southern region of East Java 2009-2013 period amounted to 219,189.453 tonnes. The utilization rate of the fish in the waters of South East Java in 2009-2013 the average score of 49.48%, which means it is still below the value of the catch volume be allowed (JTB by 80%). Of the value of the utilization rate for five (5) years could be said Southern waters Java is still in a state of underfishing because the level of utilization is still below the value JTB (less than 80%). The average value of 577 764 trips fishing effort with optimum effort amounted to 523 437 trips, it can be concluded that the optimum effort lower than the average value of fishing effort for five (5) years.Keywords: CPUE, MSY, the effort, the potential, the utilization rat
PROTOTYPE PUPUK MULTINUTRIENT BERBASIS PHOSPATE BERBAHAN DASAR LIMBAH GARAM (BITTERN) SEBAGAI ALTERNATIF SOLUSI PENUMBUH PAKAN ALAMI
Bittern sebagai limbah dari proses produksi garam rakyat bisa bermanfaat untuk mendukung kegiatan budidaya perairan. Hal ini menjadi tujuan dari penelitian ini. Penelitian dilakukan dengan dimulai membuat formulasi pembuatan pupuk selanjutnya diujicobakan di lapangan dengan menggunakan dua petak tambak berukuran 100m2 dengan ikan contoh adalah ikan Bandeng (Chanos chanos). Hasil penelitian menunjukkan, bahwa dengan formulasi Na2HPO4 250 ml + NaOH 250 ml + bittern 250 ml bisa menghasilkan pupuk berbasis phosphat sebanyak 46,4994 gram yang selanjutnya diujicobakan ke tambak. Indikator yang diperoleh dari hasil ujicoba adalah ikan yang dipeliharan di tambak yang dipupuk menhasilkan pertumbuhan yang lebih baik dibandingkan dengan pertumbuhan dari ikan yang dipelihara pada tambak yang tidak diberi pupuk.Kata Kunci: bittern, pakan alami, phospate, pupuk multinutrientPROTOTYPE BASED PHOSPHATE FERTILIZER MULTINUTRIENT BASED WASTE BASIC SALT (BITTERN) AS AN ALTERNATIVE SOLUTION FEED NATURAL GROWERSABSTRACTBittern as a waste of people's salt production process could be useful to support aquaculture. It is the goal of this research. Research carried out by starting to make fertilizer formulations subsequently tested in the field by using two ponds with fish measuring 100m2 example is fish milkfish (Chanos chanos). The results showed that the formulation Na2HPO4 NaOH 250 ml + 250 ml + 250 ml bittern could produce phosphate -based fertilizers as much as 46.4994 grams were subsequently tested to the pond. Indicators derived from the results of tests are fish in ponds fertilized dipeliharan yielding better growth than the growth of fish reared in ponds that are not fertilized.Keywords: bittern, fertilizers multinutrient, natural food, phosphat
PENINGKATAN KUALITAS LINGKUNGAN DI KAWASAN NELAYAN SEPULUH - MADURA
Usaha perbaikan lingkungan permukiman kumuh nelayan di Kecamatan Sepuluh Madura merupakan upaya strategis yang diharapkan mampu menangani permasalahan lingkungan permukiman nelayan yang terjadi dan dapat mengantisipasi terjadinya permasalahan yang sama di masa mendatang karena kawasan nelayan di Kec. Sepuluh Madura berpotensi sebagai kawasan permukiman. Dengan kondisi yang demikian dan agar dapat meningkatkan kualitas lingkungan di Kec. Sepuluh Kabupaten Bangkalan di Kawasan Nelayan, maka perlu di lakukan penelitian untuk merumuskan strategi peningkatan kualitas lingkungan di kawasan nelayan Sepuluh – Madura. Dengan menggunakan analisis SWOT, diperoleh beberapa strategi pengelolaan lingkungan pesisir Sepulu berdasarkan ranking yaitu, pembatasan lahan budidaya pada kawasan konservasi alami terutama untuk pemanfaatan terbangun di wilayah pesisir yang didukung secara instuisional dan pemberdayaan masyarakat, pemberlakuan kebijakan dari pemerintah setempat atau yang berwewenang untuk mengendalikan konversi secara top down (kebijakan tegas) dengan melalui sosialisasi dan pemberian insentif dan disinsentif bagi para pelanggarnya, memberikan alokasi ruang khusus untuk pengamanan dan perlindungan pantai terutama daerah-daerah yang sering menjadi transit dan bongkar muat perdagangan dan pada jalur-jalur pelayaran serta membuat daerah khusus pengamanan pantai dan konservasi pantai secara alami terutama sebagai langkah pengendalian pencemaran, sedimentasi, abrasi dan akresi.Kata Kunci: kualitas lingkungan, SWOT, Sepuluh MaduraTHE ENVIRONMENT QUALITY IMPROVEMENT IN FISHERMEN AREA OF SEPULUH DISTRICT, MADURAABSTRACTImprovement effort for fishermen’s slum area in Sepuluh District, Madura is the strategic effort that is expected to be able to handle the problem in fishermen’s neighborhood and to anticipate the occurrence of same problem in the future, because fishermen’s neighborhood in Sepuluh District, Madura has potential as neighborhood. With that kind of condition, in order to improve the environment quality in Sepuluh District, Bangkalan Regency in fishermen’s neighborhood, the research to formulate the strategy of environment quality improvement in that place is necessarily to conduct. By using SWOT analysis, there found some strategy in developing coastal environment of Sepuluh District based on the rank, which are the limitation of cultivation land on natural conservation area especially for construction utilization in coastal area which is institutionally supported and community empowerment, policy enforcement from the local government or the authorized party to control the conversion through top-down (firm policy) by conducting socialization and giving both incentive and disincentive for the rule breakers, giving special room allocation for securing and protecting the beach area, especially for the regions that are frequently becoming the place of transit and unloading trade, as well as the shipping lines, also by creating the special area for natural coastal security and conservation especially as the controlling methods for pollution, sedimentation, abrasion, and accretion.Keywords: environment quality, Madura, Sepuluh District, SWO
BUDIDAYA LOBSTER (Panulirus homarus) DAN ABALON (Haliotis sp.) DENGAN SISTEM INTEGRASI DI PERAIRAN TELUK EKAS
Pesatnya perkembangan kegiatan budidaya laut di beberapa kawasan dapat mengakibatkan kerusakan habitat ataupun ekosistem laut, jika tidak dikelola dengan arif dan bijaksana. Kerusakan ini terjadi akibat dari limbah yang tidak termanfaatkan sehingga menyebabkan racun bagi organisme di sekitar budidaya. Oleh karena itu, pengembangan budidaya laut harus dikelola secara berkelanjutan dengan menerapkan sistem integrasi. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi laju pertumbuhan dan sintasan lobster dan abalon dengan budidaya sistem integrasi dalam karamba jaring apung, menganalisis kualitas air dan sedimen pada budidaya sistem integrasi dalam karamba jaring apung, dan memperoleh informasi keuntungan usaha budidaya lobster dan abalon sistem integrasi dalam karamba jaring apung. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan pertumbuhan panjang dan berat lobster serta abalon dan sintasan 100%. Parameter kualitas air juga menunjukkan kualitas yang optimal pada budidaya lobster dengan abalon secara terintegrasi dibandingkan area non budidaya.Kata Kunci: lobster, abalon, integras
IDENTIFIKASI POTENSI KAWASAN SUMBERDAYA PULAU KANGEAN KABUPATEN SUMENEP MADURA SEBAGAI KAWASAN WISATA BAHARI
Kepulauan Kangean merupakan gugusan pulau-pulau kecil yang terletak di sebelah timur laut pulau Madura, dengan kepulauan terbesar adalah pulau Kangean. Pulau kangean sendiri termasuk dalam wilayah kabupaten Sumenep dan terbagi dalam Tiga wilayah kecamatan yaitu kecamatan Arjasa, Kecamatan Sapeken dan Kecamatan Raas. Aktivitas wisata bahari diantaranya adalah santai dipantai/menikmati lingkungan alam sekitar pantai, berenang, tour keliling (boat tour, cruising/extended bongat tour), surfing, diving, water sky dan sailing. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan manganalisa permasalahan yang dihadapi dalam pengembangan wisata bahari Kepulauan Kangean, serta menganalisis rencana starategis pemetaan pengembangan wisata bahari di Kepulauan Kangean Kabupaten Sumenep, Madura. Hasil penilaian kesesuaian pulau kangean untuk wisata bahari diperoleh hasil 708 yang artinya sangat sesuai, sedangkan untuk analisa Internal Eksternal Faktor Analisys Summary (I-EFAS) adalah 2,8 – 2,9 yang artinya kondisi internal dan eksternal memiliki kekuatan untuk mengatasi situasi yang ada. Skala prioritas untuk pengembangan wisata bahari di pulau kangean berdasarkan analisis SWOT dan AHP adalah: 1). Peningkatan infrastruktur wisata bahari, 2). Pengelolaan wisata bahari berbasis masyarakat, 3). Promosi dan publikasi obyek wisata, 4). Peningkatan kerjasama antar sektor terkait, 5). Pembinaan dan pelatihan wisata bahari, 6). Peningkatan stabilitas keamanan wilayah, 7). Pembagian zonasi pemanfaatan perikanan dan pariwisata. Sedangkan untuk data citra ALOS diperoleh data dari masing-masing lokasi yang disurvey memiliki lokasi yang berkarakteristik dan memiliki kelemahan dan kekuatan masing-masing namun demikian secara umum lokasi ini dinilai semua kawasan ini berpotensi untuk dikembangkan sebagai kawasan wisata bahari.Kata Kunci: AHP, identifikasi, pemetaan, sumberdaya, SWOT, wisata bahariTHE IDENTIFICATION OF RESOURCE POTENTIAL AREA OF KANGEAN ISLAND, SUMENEP REGENCY, MADURA AS NAUTICAL TOURISM AREAABSTRACTKangean Islands is a cluster of small islands located at the north east of Madura Island. The biggest island is Kangean Island. Kangean Island is included in the territory of Sumenep Regency area and divided into three districts areas which are Arjasa, Sapeken and Raas Districts. The activity of nautical tourism some of which are relaxing on the beach/enjoying environment around the beach, swimming, touring around (boat tour, cruising/extended boat tour), surfing, diving, water skyingand sailing. This research had the objective to identify and analyze the problems dealt in developing nautical tourism in Kangean Islands, as well as to analyze the strategic plan of development mapping for nautical tourism in Kangean Islands, Sumenep Regency, Madura. The finding showed that Kangean Island was suitable for nautical tourism, the result was 708 which meant that it was highly suitable. While the Internal External Factor Analysis Summary (I-EFAS) was by 2.8 – 2.9 which meant that both internal and external conditions had strength to deal with the existing situation.The priority scales to develop nautical tourism in Kangean Island which was based on SWOT and AHP analysis were: 1). Improvement for nautical tourism infrastructure, 2). Community-based nautical tourism development, 3). Promotion and publication of tourism object, 4). Cooperation improvement among the relevant sectors, 5). Training and development of nautical tourism, 6). Improvement of security stability of the region, 7). The zone division of fisheries and tourism utilization. While for ALOS image data, there found the data of each surveyed location that they were characterized location which had their own strength and weakness. However, in general all locations were considered potential to be developed as nautical tourism area.Keywords: AHP, identification, mapping, nautical tourism, resource, SWO
PENGEMBANGAN ALAT PERAGA SEDERHANA STRUKTUR DAN ORGAN DALAM IKAN UNTUK MEMPERMUDAH PEMBELAJARAN PADA PRAKTIKUM IKHTIOLOGI PERIKANAN
Simple structure and organs model of fish used to help students collage in observing fish organ structure in Ichtiology practicum. In fact, there are many observers found difficulties to learn fish organs structure. During the practicum, there are several part of organs that cannot be clearly seen or too small. Moreover, it happened for the fishes that has small size. Another, If the organ structure is not in a good condition it will be difficult to be observed. As a replecement, observer can see dan observe by using tool model to see inside organs of fish. Beside, it make PJMK/Assistant to explain inside part of fish organ structure. Simple structure and organs model of fish is validated by academic civitas that have expertised in fisheries. The result was very worthy to be used in learning process in inchtiology practicum. Score that has been gotten is 100 %. In the class observation, it included 100 observer of Ichtiology. The result of the questionair are: the interesting of fish shape model is 72% was very satisfied. Model, tool design, accessories and completeness of tool model is 70% was satisfied. The beneficial of the ichtiology praticum is 80% was helped. The corellation of tool and praticum material ichtiology 80%. The suggestion from the tool user in the future, 96%, suggested to use the tool model. Observer comments that mastery assitant in the used of the tool model 65% still less. 70% observer stated that the tool is still need improvement.Keywords: ichtiology practicum, observer, tool mode
STUDI KANDUNGAN NaCl DI DALAM AIR BAKU DAN GARAM YANG DIHASILKAN SERTA PRODUKTIVITAS LAHAN GARAM MENGGUNAKAN MEDIA MEJA GARAM YANG BERBEDA
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan NaCl air baku dan kandungan NaCl dari garam yang dihasilkan oleh media meja garam jenis tanah, geomembran dan keramik, serta mengetahui produktivitas meja garam tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif, pengambilan sampel dilakukan tiga kali panen sebagai ulangan dengan perlakuan media meja garam yang berbeda. Hasil penelitian menunjukkan nilai rata-rata kandungan NaCl pada air baku dan garam yang dihasilkan masing-masing adalah 84,76% dan 88,96% untuk media tanah, sedangkan untuk media geomembran masing-masing adalah 89,79% dan 95,72%, untuk media keramik masing-masing adalah 79,71%, dan 91,32%. Produktivitas lahan dengan menggunakan media tanah, geomembran dan keramik secara berturut-turut adalah 5.184 kg/hari/m, 7.56kg/hari/m2 dan 4,13 kg/hari/m2. Produktivitas dengan menggunakan media geomembran lebih besar daripada tanah maupun keramik.Kata Kunci: Kandungan NaCl (Air Baku dan Garam) dan Produktivitas, Lepas Air Tua (LAT), Meja GaramSTUDY OF NaCL CONTENT IN RAW WATER AND THEIR SALT PRODUCTION AND PRODUCTIVITY USING DIFFERENT TABLE SALT LANDABSTRACTObjectives of the study was to determine the NaCl content of the raw water and NaCl content of salt have been produced every kind of media table salt land, geomembrane, ceramics, as well as their productivity. The method used descriptive quantitative, sampling was conducted three harvests as replication with table salt treatment of different media. The results showed the average value of the NaCl content of the raw water and the salt produced for the land media were 84.76% and 88.96%, respectively, while the geomembrane media were 89.79% and 95.72%, respectively and for ceramics media were 79.71% and 91.32%, respectively. Salt productivity from the soil media, geomembrane and ceramics were 5,184 kg/day/m2, 7.56kg/day/m2, and 4.13 kg/day/m2, respectively. It can be concluded that productivity using geomembrane media is greater than the land and ceramics.Keywords: Salt table, the NaCl content (raw water and salt) and productivit