Jurnal Kelautan: Indonesian Journal of Marine Science and Technology
Not a member yet
453 research outputs found
Sort by
KAJIAN PENGEMBANGAN PERIKANAN BERBASIS KOMODITAS UNGGULAN DI KABUPATEN MUNA
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengkaji komoditas unggulan perikanan dalam upaya pengembangan perikanan dan menyusun strategi kebijakan produksi perikanan yang didasarkan pada komoditas unggulan di Kabupaten Muna. Hasil analisis LQ diperoleh bahwa perikanan darat merupakan komoditi unggulan di Kabupaten Muna, dengan arah pengembangan komiditi rumput laut dan budidaya kerapu. Dalam menjamin keberlanjutan dari usaha perikanan di kabupaten Muna maka diarahkan diantaranya (1) Pengembangan sumber daya manusia mulai dari proses produksi, penanganan pasca panen dan pengolahan sampai kepada pemasaran (2) Pengembangan kelembagaan KUB pembudidaya rumput laut perlu segera difasilitasi di seluruh kawasan perikanan. (3) Pengembangan teknologi budidaya perlu dilakukan khususnya dalam rangka menghadapi perubahan iklim global (4) Pengembangan sarana dan prasarana pengembangan komoditas unggulan.Kata Kunci: perikanan, komoditas unggulan, Kabupaten Muna STUDY ON THE DEVELOPMENT OF FISHERIES MAIN COMMODITIES OF MUNA DISTRICT This study was conducted to assess the main commodity fishery in the development of fisheries and fishery production policy strategy that is based on the main commodity in the Muna District. LQ analysis results showed that inland fisheries were the main commodity in the Muna, especially supported by the development of seaweeds commodity and grouper aquaculture. In order to ensure the sustainability of fisheries in Muna then directed polices includes (1) development of human resources from production, post harvest handling and processing to fulfill market demand (2) institutional development KUB of seaweed farmers needs to be facilitated throughout the area of fisheries. (3) development of cultivation technology needs to be done, especially in order to face global climate change (4) development of infrastructure development of main commodities.Key Words : fisheries, main commodity, Muna distric
BAKTERI INDIKATOR PENCEMARAN DI PERAIRAN KABUPATEN BANGKALAN
Perairan Selat Madura, khususnya di Kecamatan Kamal dan Socah Kabupaten Bangkalan, merupakan wilayah perairan yang terdampak langsung oleh berbagai aktivitas di Kota Surabaya dan Kabupaten Gresik serta adanya Jembatan Suramadu. Beberapa dampak, salah satunya adalah dampak negative berupa potensi pencemaran di lingkungan perairan laut. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui keberadaan bakteri pencemar, salah satu indikatornya adalah bakteri pathogen, di perairan Kecamatan Kamal Kabupaten Bangkalan. Pengambilan data berupa sampel air laut dilakukan di tiga stasiun, dibiakkan dalam media agar. Selanjutnya, proses kultur pada media selektif. Hasil kultur menunjukkan ada bakteri pathogen dari jenis coliform. Keberadaan bakteri pathogen menjadi salah satu indicator awal yang menunjukkan adanya peluang terjadinya pencemaran di lokasi penelitian.Kata Kunci: Bakteri pathogen, Coliform, Indikator pencemaranPOLLUTION INDICATOR BACTERIA IN BANGKALAN DISTRICT WATERSABSTRACTMadura Strait, especially in Sub Kamal and Socah Bangkalan, a water area directly affected by the activities in the city of Surabaya and Gresik as well as the Bridge. Some effects, one of which is in the form of the potential negative impact of pollution in the marine environment. The purpose of this study to determine the presence of bacterial contaminants, one indicator is the bacterial pathogen, in the waters of the District Kamal Bangkalan. Retrieval of data in the form of sea water samples carried out at three stations, cultured in an agar medium. Furthermore, the process of culture in selective media. Culture results showed no coliform bacterial pathogens of this type. The existence of pathogenic bacteria becomes one of the early indicators that indicate the chances of contamination at the sites.Keywords: Coliform, Pathogenic bacteria, pollution indicator
STRUKTUR KOMUNITAS MANGROVE DI DESA MARTAJASAH KABUPATEN BANGKALAN
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Mengetahui kontribusi tiap jenis mangrove terhadap ekologi kawasan pesisir Desa Martajasah serta mengetahui struktur komunitas mangrove di Desa Martajasah Kabupaten Bangkalan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Indeks Nilai Penting (INP) dengan rumus INP = RDi + RFi + RCi, Indeks keanekaragaman, Indeks Keseragaman, Indeks dominansi Simpson. Bruguiera gymnorrhiza adalah jenis yang dominan dibandingkan jenis mangrove lainnya di ekosistem mangrove Desa Martajasah. Bruguiera gymnorrhiza adalah jenis yang memiliki INP tertinggi (INP=1,245). Hasil penilaian terhadap keanekaragaman (Diversity) mangrove di Desa Martajasah memiliki tingkat keanekaragam rendah serta mengalami tekanan ekologi yang tinggi (H’ ≤ 2,0). Keanekaragaman stasiun 1 yaitu 0,506, stasiun 2 yaitu 0,936 dan stasiun 3 yaitu 0,859. Mangrove jenis Bruguiera gymnorrhiza memiliki peran (dominansi) dan struktur vegetasi mangrove tertinggi (INP=1,245) dibandingkan jenis mangrove lainnya yang ada di Desa Martajasah. Ekosistem mangrove di Desa Martajasah, berada dalam kondisi ekologi tertekan. Kata Kunci: ekologi mangrove, konstribusi mangrove, struktur komunitasTHE STRUCTURE OF MANGROVE COMMUNITY IN MARTAJASAH VILLAGE, BANGKALAN REGENCYABSTRACTThis research aimed to know the contribution of each mangrove for the ecology of coastal area of Martajasah Village, as we want to know the mangrove community structure in Martajasah Village, Bangkalan Regency. The method that is used in this research was Important Value Index (IVI), with IVI formula = RDi + RFi + RCi, Diversity Index, Uniformity Index, Simpson’s Dominance Index. Bruguiera gymnorrhiza is the dominant kind compared to other mangrove types in mangrove ecosystem of Martajasah Village. Bruguiera gymnorrhiza is the kind that had the highest IVI (IVI=1.245). The assessment result toward mangrove diversity in Martajasah Village was low after experiencing high ecology depression (H’ ≤ 2.0). The station 1 diversity was 0.506, whilethe station 2 was 0.936 and station 3 was 0.859. Bruguiera gymnorrhiza type mangrove played role (dominance) and highest mangrove vegetation structure (IVI=1.245) compared to other kinds of mangrove in Martajasah Village. The ecosystem of mangrove in Martajasah Village was in the condition of depressed ecology.Keywords: community structure, mangrove contribution, mangrove ecolog
KEMAMPUAN Gracilaria sp. SEBAGAI AGEN BIOREMEDIASI DALAM MENYERAP LOGAM BERAT Pb
Efek negatif dari kegiatan industri telah menyebar tidak hanya di darat tapi juga di ekosistem perairan, termasuk laut. Polusi dari kegiatan industri ke air laut terutama heavymetal, menjadi masalah di seluruh dunia. Penelitian tentang makroalga Gracilaria sp. menyerap Timbal telah dilakukan dalam percobaan 6-hari untuk menyelidiki kemampuan potensial sebagai agen bioremediasi. Penurunan konsentrasi Timbal ditemukan dalam air laut selama percobaan 144 jam diukur dalam suhu kamar. Percobaan ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan dua faktor, amonium dan Timbal (Pb). Memimpin digunakan dalam tiga tingkat (0,0, 0,5, dan 1 ppm) dan amonium digunakan dalam satu tingkat (0,5 ppm). Setiap pengobatan menggunakan tiga ulangan. Hasil akhir menunjukkan bahwa konsentrasi Timbal dalam Gracilaria sp. selama pengobatan A (0.00 ppm dari amonium) naik ke 0,03 ppm, perlakuan B (0,05 ppm dari amonium) naik 0,55 ppm, perlakuan C (0,50 ppm dari amonium) naik ke 1,77 ppm dan perlakuan D (1 ppm dari amonium) naik ke 2.94 ppm. Konsentrasi Timbal ditemukan dalam air laut menurun secara berkala. Pada periode 96 jam eksperimental, konsentrasi Timbal di semua perawatan mencapai 0.00 ppm.Kata kunci: Ammonium, Bioremediasi, Gracillaria, Timbal (Pb) THE ABILITY OF Gracilaria sp. AS BIOREMEDIATION AGENT IN ABSORBING HEAVY METAL PbABSTRACTThe negative effect of industrial activities has been spread out not only in terrestrial but also in aquatic ecosystems, including ocean. The pollution from industrial activities to the seawater especially heavymetal, become problem all over the world. Research on macroalgae Gracilaria sp. to absorb Lead has been conducted in 6-day experiment to investigate the potential ability as bioremediation agent. The decline of Lead concentration found in the seawater during 144 hours experiment measured in room temperature. This experiments used Completely Randomized Design (CRD) with two factors, ammonium and Lead (Pb). Lead used in three level (0.0, 0.5, and 1 ppm) and ammonium used in one level (0.5 ppm). Each treatment used three replicates. Final results showed that Lead concentration in Gracilaria sp. during treatment A (0.00 ppm of ammonium) rises to 0.03 ppm, treatment B (0.05 ppm of ammonium) rises to 0.55 ppm, treatment C (0.50 ppm of ammonium) rise to 1.77 ppm and treatment D (1 ppm of ammonium) rise to 2.94 ppm. The concentration of Lead found in seawater declined periodically. In 96 hours experimental period, the concentration of Lead in all treatments reached 0.00 ppm.Keywords: Ammonium, Bioremediation, Gracillaria, Lead (Pb
ANALISIS KANDUNGAN GIZI PADA IKAN BANDENG YANG BERASAL DARI HABITAT YANG BERBEDA
Bandeng (Chanos chanos, Forskal) merupakan salah satu komoditas yang strategis untuk memenuhi kebutuhan protein yang relatif murah dan digemari oleh konsumen di Indonesia. Bandeng sebagai bahan pangan, merupakan sumber zat gizi yang penting bagi proses kelangsungan hidup manusia Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui komposisi kimia daging ikan bandeng yang berasal dari habitat yang berbeda yaitu air tawar dan air payau. Penelitian dilakukan dengan dua tahap yaitu preparasi sampel saat transportasi dan preparasi bahan baku untuk memisahkan daging, kulit, tulang dan jeroan. Analisa yang dilakukan yaitu analisis proksimat, asam amino, asam lemak, mineral dan vitamin. Hasil yang didapatkan bahwa ikan bandeng dari dua habitat memperoleh rendemen yang berbeda. Rendemen ikan bandeng air tawar sebesar 38,5%, sedangkan air payau sebesar 50,8%. Ikan bandeng kaya akan sumber protein (20-24%), asam amino, asam lemak, mineral dan vitamin. Komposisi asam amino tertinggi yaitu glutamat sebesar 1,386% (air tawar) dan 1,268% (air payau). Asam lemak tidak jenuh tertinggi oleat 31-32%, mineral makro pada daging ikan bandeng yaitu: Ca, Mg, Na dan K. Mineral mikronya terdiri dari Fe, Zn, Cu, Mn. Kandungan vitamin daging ikan bandeng meliputi vitamin A, B1 dan B12.Kata Kunci: habitat berbeda, ikan bandeng (Chanos chanos, Forskal), kandungan giziTHE ANALYSIS OF NUTRITIONAL CONTENT OF MILKFISHES WHICH COME FROM DIFFERENT HABITATSABSTRACTMilkfish (Chanos chanos, Forskal) is one of the strategic commodities to fulfill protein need which is relatively cheap and favored by Indonesian consumer. Milkfish as a comestible is an important sources of nutrient for the survival of mankind. The objective of this research is to know the flesh’s chemical composition of the milkfishes come from different habitats which are freshwater and brackish water. The research was conducted through two stages, the stage of sample preparation for transportation, and the stage of raw material preparation like separating flesh, scale, bone, and offal. The analysis which was conducted was analysis of proximate, amino acids, fatty acids, minerals and vitamins. The finding showed that two milkfishes from two different habitats got different yields. The yield of freshwater milkfish was 38.5%, while the brackish water milkfish was 50.8%. Milkfishes are rich with protein source (20-24%), amino acid, fatty acid, mineral and vitamin.The highest composition of amino acid was glutamate by1.386% (freshwater milkfish) and 1.268% (brackish water milkfish). The highest unsaturated fatty acid was oleic by 31-32%, macro mineralson milkfish flesh which were: Ca, Mg, Na and K. The mineral micro consisted of Fe, Zn, Cu, Mn. Vitamin content of milkfish flesh included vitamin A, B1 and B12.Keywords: different habitats, milkfish (Chanos chanos, Forskal), nutritional conten
HUBUNGAN LEBAR KARAPAS DAN BERAT KEPITING BAKAU (Scylla spp.) HASIL TANGKAPAN DI DESA KAHYAPU PULAU ENGGANO PROVINSI BENGKULU
Informasi biologi perikanan diperlukan untuk mengetahui status suatu komoditas perikanan di alam, terutama untuk komoditas bernilai ekonomis tinggi seperti kepiting bakau. Salah satu daerah penangkapan kepiting bakau di alam adalah Desa Kahyapu, Pulau Enggano, Provinsi Bengkulu. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengumpulkan informasi biologi kepiting bakau di Desa Kahyapu, Pulau Enggano, khususnya informasi mengenai hubungan lebar karapas dan berat kepiting bakau. Sampel kepiting bakau (jantan dan betina) dari hutan mangrove di Desa Kahyapu, Pulau Enggano. Penelitian ini menggunakan 3 stasiun pengamatan, setiap statiun dibagi menjadi 3 transek garis dengan masing-masing 3 plot (ukuran 10x10 m) tiap transek garis. Tiap plot dipasang bubu sebanyak 3 buah selama 14 hari. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa kepiting bakau jantan lebih banyak tertangkap dengan nisbah kelamin jantan dan betina adalah 1: 0,47. Lebar karapas kepiting bakau jantan berkisar antara 70 – 193 mm (67,65% telah dewasa kelamin), sedangkan lebar karapas kepiting bakau betina berkisar antara 83 – 180 mm (93,75% telah dewasa kelamin). Pola pertumbuhan kepiting bakau baik jantan maupun betina adalah allometrik negatif (b 3).Kata kunci: berat, Enggano, Kahyapu, karapas, kepiting bakauTHE RELATIONSHIP BETWEEN THE WIDTH OF CARAPACE AND THE WEIGHT OF CAUGHT MANGROVE CRAB (Scylla spp.) IN KAHYAPU VILLAGE, ENGGANO ISLAND, BENGKULU PROVINCEABSTRACTBiological information of fisheries is necessary to know the status of certain fisheries commodity in nature, especially for the high-economical-valued commodity like the mangrove crab. One of natural mangrove crab fishing grounds is Kahyapu Village, Enggano Island, Bengkulu Province. The objective of this research is to collect biological information of mangrove crab in Kahyapu Village, Enggano Island, especially the information about the relationship between the width of carapace and the weight of mangrove crab. The samples of mangrove crab (male and female) were taken from mangrove forest in Kahyapu Village, Enggano Island. This research used 3 observation stations. Each station was divided into 3 line transects each had 3 plots (the size was 10 x 10 m) for each line transect. Each plot was installed by 3 fish traps for 14 days. The observation result showed that the mostly caught were male mangrove crabs, the comparison between the caught male and female mangrove crabs were 1: 0.47. The width of male mangrove crab’s carapaces were about 70 to 193 mm (67.65% were the adult ones), while the width of female mangrove crab’s carapaces were about 83 – 180 mm (93.75% were the adult ones). The growth pattern of both male and female mangrove crabs was negative allometric (b 3).Keywords: carapace, Enggano, Kahyapu, mangrove crab, weigh
TINGKAT KEKRITISAN DAN KESESUAIAN LAHAN MANGROVE DI KABUPATEN SAMPANG DENGAN MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS
Tujuan penelitian ini untuk mengevaluasi kondisi kekritisan dan kesesuaian lahan mangrove di kabupaten Sampang. Tahap pekerjaan: (1) tahap persiapan; (2) proses pengolahan citra; (3) cek lapangan; (4) analisis data; (5) uji akurasi; dan (6) hasil analisis. Penentuan tingkat kekritisan dan kesesuaian lahan dengan menggunakan pemodelan SIG dengan model indeks. Hasil analisis citra mendapatkan mangrove di Kabupaten Sampang mencapai 914,54 Ha, yang tersebar di 6 Kecamatan. Tingkat kekritisan mendapatkan mangrove dalam kondisi rusak 600,8 Ha (65,7%), mangrove dalam kondisi baik 292,5 Ha (32%) dan mangrove dalam kondisi rusak berat 21,1 Ha (2,3%). Mangrove dalam kondisi tidak rusak sebagian besar terdapat di Kecamatan Sampang mencapai 109,6 Ha atau 11,98%. Mangrove kondisi rusak sebagian besar di Kecamatan Sreseh (39,39 Ha atau 39,39%), mangrove dalam kondisi rusak berat sebagian besar di Kecamatan Sreseh (11,1 ha atau 1,21%). Kesesuaian lahan mangrove mendapatkan lahan yang sesuai untuk mangrove seluas282,9 Ha (30,9%), cukup sesuai untuk lahan mangrove 624,1 Ha (68,2%) dan sesuai bersyarat mencapai 7,6 Ha (0,8%). Daerah yang sangat sesuai sebagian besar di Kecamatan Sampang (155 Ha).Kata Kunci: kekritisan mangrove, kesesuaian lahan, sistem informasi geografi