Jurnal Kelautan: Indonesian Journal of Marine Science and Technology
Not a member yet
    453 research outputs found

    PEMETAAN PASANG SURUT DAN ARUS LAUT PULAU BATAM DAN PENGARUHNYA TERHADAP JALUR TRANSPORTASI ANTARPULAU

    No full text
    TIDAL AND CURRENT MAPPING OF BATAM ISLAND AND THEIR EFFECT ON THE INTER-ISLAND TRANSPORTATIONThe strategic geographical position of Batam Island makes sea transportation become a basic means connecting the islands of the Riau Islands, Riau, Kalimantan, even with neighboring Singapore and Malaysia. The development of coastal areas and the determination of the transportation ways needs tidal and ocean currents data. This study measures and analyzes the tidal type usingmeasuring signs and current patterns using Lagrangian method, then presented in the web form. Five research sites were selected by purposive sampling method with a measurement time of 24 hours in one hour intervals. The results showed that the type of tidal in Batam Island in general is semidiurnal tide. Tidal period an average of 12 hours and 24 minutes. Wave height of about 0.2 to 2.77 meters from the south to the northwest. Batam Island ocean current patterns ranging from 0.02 m/s to 0.1 m/s from north towards the northeast. Tidal and current survey is one of the conditions in developing inter-island transportation. The tidal and current is useful in design port building, determining the route of transport, port basin design and planning of the breakwater.Keywords: current patterns, lagrangian, signs measure, tidal, transport route.ABSTRAKPosisi geografis Pulau Batam yang strategis membuat jalur transportasi laut merupakan sarana dasar menghubungkan antarpulau di Kepulauan Riau, Riau, Kalimantan, bahkan dengan negara tetangga Singapura dan Malaysia. Pengembangan wilayah pesisir dan penentuan jalur transportasi membutuhkan data pasang surut dan arus laut. Penelitian ini mengukur dan menganalisis tipe pasang surut dengan rambu ukur dan pola arus dengan metode metode Lagrangian, kemudian disajikan dalam bentuk web. Dipilih lima lokasi penelitian berdasarkan metode Purposive Sampling dengan waktu pengukuran 24 jam dalam interval satu jam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tipe pasang surut pulau Batam secara umum adalah pasang surut harian ganda (semidiurnal tide). Periode pasang surut rata-rata 12 jam 24 menit. Tinggi gelombang sekitar 0,2 sampai 2,77 meter dari arah selatan ke arah barat laut. Pola arus laut pulau Batam berkisar antara 0,02 m/s sampai 0,1 m/s dari arah utara ke arah timur laut. Survei pasang surut dan arus laut merupakan salah satu syarat dalam mengembangkan transportasi antarpulau. Pasang surut dan arus berguna dalam kegiatan perancangan bangunan pelabuhan, penentuan rute transportasi, perancangan kolam pelabuhan, dan perencanaan pemecah gelombang.Kata kunci: jalur transportasi, lagrangian, pasang surut, pola arus, rambu ukur

    STUDI KONDISI HIDROLOGIS SEBAGAI LOKASI PENEMPATAN TERUMBU BUATAN DI PERAIRAN TANJUNG BENOA BALI

    No full text
    STUDY OF HIDROLOGICAL CONDITION FOR ARTIFICIAL REEF LOCATION  IN TANJUNG BENOA BALIOne of the tourism which was demanded by the tourists are underwater activity, namely scuba diving and seawalker, where the main target underwater tourism activities is the beauty of the underwater in the form of coral and reef fish. The purpose of this study is to determine the hydrological condition of artificial reefs in Tanjung Benoa, Bali. The method used in determining the location is a purposive sampling method. Sampling was carried out in three (3) stations and taken randomly in the study site (Tanjung Benoa). Measurement of hydrological conditions include the temperature, salinity, water clarity, current, depth, turbidity, TSS, DO, Nitrate, Phosphate. Hydrological conditions measurements carried out in situ (direct) and in laboratory. Data was analyzed by descriptive qualitative by comparing the quality of water based on the Ministry of the Environment Decree No. 51 of 2004 on Sea Water Quality Standard. Based on the results of hydrological conditions measurements, conditions of environmental parameters are still within the tolerance limit for the growth of marine biota. The basic conditions of the waters is not suitable for the placement of artificial reefs, this is because the substrate is muddy sand, where the basic conditions of these waters will submerge artificial reef into the sand.Keywords: artificial reef, hidrological condition, Tanjung BenoaABSTRAKSalah satu wisata yang sangat diminati oleh para wisatawan adalah wisata bawah air, yaitu scuba diving dan seawalker, dimana dalam kegiatan wisata bawah air yang menjadi target utama yaitu keindahan bawah air berupa terumbu karang dan ikan karang. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui kondisi hidrologis terumbu karang buatan di Tanjung Benoa-Bali. Metode yang digunakan dalam penentuan lokasi sampling adalah metode sampling pertimbangan, yaitu metode pengambilan lokasi dan sampel didasarkan atas adanya tujuan tertentu dengan berbagai pertimbangan. Pengambilan sampel dilakukan di 3 (tiga) stasiun yang diambil secara acak di lokasi penelitian (Tanjung Benoa). Pengukuran kondisi hidrologis meliputi suhu, salinitas, kecerahan, kecepatan arus, kedalaman, kekeruhan, TSS, DO, Nitrat, Fosfat. Pengukuran kondisi hidrologis dilakukan secara insitu (langsung) dan pengujian skala laboratorium. Data di analisis secara diskriptif kualitatif dengan membandingkan kualitas air berdasarkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 51 Tahun 2004 Tentang Baku Mutu Air Laut. Berdasarkan hasil pengukuran kondisi hidrologis, kondisi parameter lingkungan masih dalam batas toleransi untuk pertumbuhan biota laut. Kondisi dasar perairan sangat tidak cocok untuk penempatan terumbu karang buatan (artificial reef), hal ini dikarenakan substrat dasar perairan yaitu pasir berlumpur, dimana kondisi dasar perairan tersebut akan menenggelamkan terumbu karang buatan (artificial reef) kedalam pasir. Kata Kunci: kondisi hidrologis, terumbu buatan, Tanjung Beno

    DISTRIBUSI Solen sp DI PERAIRAN KABUPATEN BANGKALAN

    No full text
    DISTRIBUTION OF Solen sp IN BANGKALAN WATERSSolen sp potential needs to be developed on the island of Madura, particularly in Bangkalan. Solen sp utilization has increased which has the potential to overfishing. Therefore, this study aims to determine the density of Solen sp and their ecology in the waters Modung village, Modung District, Bangkalan. The experiment was conducted in April 2015 using the descriptive method. The materials used include Solen sp and physico-chemical parameters of the environment (temperature, salinity, pH, and substrate). The analyzes were conducted at the Laboratory of Marine Science, Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura by using the tool grabsampler, sieveshaker, and pipetting with gravimetric method. The analysis shows the range of values of temperature between 29-300C, salinity between 31-32 ppt, pH were 7.9-8.0 and the type of substrate in the form of sandy mud, as well as the density of Solen sp from 8-10 individuals/m2. All measurement results indicate normal conditions and in accordance with the sea water quality standard for marine life, which can be a suitable habitat for the growth and development of Solen sp. This condition is thought to affect the density of Solen sp.Keywords: Bangkalan, density, distribution, Solen sp, substrate.ABSTRAKPotensi Solen sp perlu dikembangkan di pulau Madura, khususnya di Kabupaten Bangkalan. Pemanfaatan Solen sp mengalami peningkatan sehingga berpotensi overfishing. Untuk itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kepadatan Solen sp dan ekologinya di perairan desa Modung, Kecamatan Modung, Kabupaten Bangkalan. Penelitian dilaksanakan pada bulan April 2015 dengan metode deskriptif. Materi dan bahan yang digunakan diantaranya Solen sp dan parameter fisika-kimia lingkungan (suhu, salinitas, pH, dan substrat). Analisa dilakukan di Laboratorium Ilmu Kelautan, Program studi/Jurusan Ilmu Kelautan Universitas Trunojoyo Madura dengan menggunakan alat grabsampler, sieveshaker, dan pemipetan dengan metode gravimetri. Hasil analisa menunjukkan kisaran nilai suhu 29-300C, salinitas 31-32 ppt, pH 7.9-8.0, dan jenis substrat berupa lumpur berpasir, serta kepadatan Solen sp 8-10 individu/m2. Semua hasil pengukuran menunjukkan kondisi normal dan sesuai dengan baku mutu air laut untuk biota laut, sehingga dapat menjadi habitat yang cocok untuk tumbuh dan kembang Solen sp. Kondisi ini diduga mempengaruhi kepadatan Solen sp.   Kata kunci:  Bangkalan, distribusi, kepadatan, Solen sp, substrat

    BACK COVER

    No full text

    DISTRIBUSI NITRAT, OKSIGEN TERLARUT, DAN SUHU DI PERAIRAN SOCAH-KAMAL KABUPATEN BANGKALAN

    No full text
    Kondisi dan dinamika perairan laut sangat dipengaruhi oleh beberapa parameter, diantaranya adalah parameter fisika, kimia, biologi, dan lain sebagainya. Diantara parameter penting tersebut adalah nitrat, oksigen terlarut, dan suhu. Ketiga parameter ini penting karena berpengaruh terhadap kondisi dan kualitas perairan, khususnya di perairan Socah, Kecamatan Kamal, Kabupaten Bangkalan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik dan distribusi nitrat, oksigen terlarut, dan suhu di perairan Socah-Kamal Kabupaten Bangkalan. Penelitian dilakukan pada bulan Oktober 2014 dengan 10 titik sampling. Analisa nitrat dianalisa dengan menggunakan spektrofotometri dengan panjang gelombang 410 nm dilakukan di Laboratorium Ilmu Kelautan Universitas Trunojoyo Madura. Hasil analisa menunjukkan konsentrasi nitrat berkisar 0.002-0.022 mg/l, oksigen terlarut berkisar 6,01-9,04 mg/l, dan suhu permukaan berkisar 29.0-32,7˚C. Hasil analisa menunjukkan kondisi baik dan cocok untuk kehidupan biota laut sesuai standar baku mutu yang sudah ditetapkan oleh Kementrian Negara Lingkungan Hidup (KMNLH).Kata Kunci : Nitrat, Oksigen Terlarut, Suhu, Perairan Socah-KamalDISTRIBUTION OF NITRATE, DISSOLVED OXYGEN AND TEMPERATURE IN SOCAH WATERS, DISTRICT OF KAMAL, BANGKALANThe conditions and the dynamics of ocean waters is influenced by several parameters, including the parameters of physics, chemistry, biology, and others. Among the important parameters are nitrates, dissolved oxygen, and temperature. Those parameters are important because it affects the quality and condition of the waters, particularly in Socah waters, District of Kamal, Bangkalan. The purpose of this study was to determine the characteristics and distribution of nitrate, dissolved oxygen, and temperature in the Socah waters, Kamal, Bangkalan. The study was conducted in October 2014 with 10 sampling points. Nitrate was analyzed using spectrophotometry with a wavelength of 410 nm performed at the Laboratory of Marine Science Trunojoyo University of Madura. An analysis showed that nitrate concentrations ranging from 0002-0022 mg/l, dissolved oxygen ranges from 6.01 to 9.04 mg/l, and the surface temperature ranges 29.0-32,7˚C. The analysis shows good condition and suitable for marine life appropriate quality standards set by the Ministry of Environment (KMNLH). Keywords: Nitrates, Dissolved oxygen, Temperature, Socah water

    TSUNAMI MENTAWAI 25 OKTOBER 2010 (SIMULASI COMCOT 1.7) DAN DAMPAKNYA KINI TERHADAP PANTAI BARAT MENTAWAI

    No full text
    Tsunami yang terjadi pada 25 Oktober 2010 di Mentawai disebabkan oleh subduksi lempeng Indo-Australia dan Eurasia. Gempa dengan magnitude 7.7 MW ini terjadi pada pukul 14:42:22 UTC atau 21:42:22 WIB dengan lokasi episenter di 3.484 oLS dan 100.114 oBT, pada kedalaman 20.6 kilometer di Samudera Hindia dan berjarak 280 kilometer dari Padang atau 110 kilometer dari Pagai Utara. Gempa ini tergolong tsunami earthquake karena merupakan gempa dasar laut yang menghasilkan gelombang tsunami cukup besar. Simulasi tsunami dilakukan menggunakan COMCOT 1.7 dengan parameter sesar strike 325o, dip 11,62o , dan slip 101.4625o. Hasil simulasi menunjukkan bahwa tinggi tsunami di enam titik berkisar 3.4 hingga 4.3 meter. Model ini menghitung penjalaran gelombang sampai ke garis pantai menggunakan persamaan linear. Dampak Tsunami tahun 2010 terhadap pantai Barat Mentawai berupa perubahan garis pantai yaitu abrasi parah pada pulau kecil dan hilangnya kawasan serta beberapa jenis mangrove. Kata Kunci : Tsunami earthquake, parameter sesar, dampak Tsunami MentawaiTSUNAMI OF MENTAWAI ON 25 OCTOBER 2010 AND ITS TODAY IMPACT ON THE WEST COAST OF MENTAWAITsunami that occurred on October 25, 2010 in Mentawai caused by the subduction of Indo-Australian plate and the Eurasian. An earthquake with a magnitude of 7.7 MW occurred at 14:42:22 UTC, or 21:42:22 pm with the epicenter at 3.484 locations 0LS and 100.114 0BT, at a depth of 20.6 kilometers in the Indian Ocean and is 280 kilometers from Padang or 110 kilometers of North Pagai. This earthquake was classified as a tsunami earthquake seaquake that generate big enough tsunami waves. Tsunami simulation was performed using 1.7 COMCOT with cesarean parameter strike 325o, dip 11,62o, and slip 101.4625o. The simulation results show that the tsunami height at six points ranging from 3.4 to 4.3 meters. This model calculates wave propagation up to the shoreline using linear equations. 2010 Tsunami impact on the West coast of the Mentawai include changes in the coastline that is severe abrasion on a small island and the loss of the region as well as several species of mangrove.Keywords: Tsunami earthquake, the fault parameters, Mentawai Tsunam

    FRONT MATTER

    No full text

    PEMODELAN DAYA DUKUNG PEMANFAATAN PULAU SAPUDI DENGAN MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS

    No full text
    MODELLING OF UTILIZATION CARRYING CAPACITY OF SAPUDI ISLAND USING  GEOGRAPHIC INFORMATION SYSTEMSumenep Regency has natural resources in the form of coral reefs and mangrove which are potential to be exploited. The number of islands with names in Sumenep regency as many as 106 islands. This study was aimed to mapping the land physical parameters used for modeling the carrying capacity utilization and assessment of Sapudi Island. The method used was the geographic information system modeling for ecotourism suitability model using index approach. Coral reefs in Sapudi Island was found about 1,544 ha. The condition of coral reefs in Sapudi Island taken using Underwater Photo Transect method was 25.9% live coral and dead coral was 71.55%. Water temperature conditions were between 30,1-30.5 0C, pH were 6.8-7.1, salinity were 25-30 0/00, dissolved oxygen were 4.6-6.6 mg/l and water clarity of 100%. Carrying capacity utilization of Sapudi Island for diving ecotourism was about 1,947 people/day, while for snorkeling ecotourism was 2,283 person/day.Keywords: carrying capacity, ecotourism, small island, Sapudi.ABSTRAKKabupaten Sumenep mempunyai sumberdaya alam terumbu karang dan mangrove yang sangat potensial untuk dimanfaatkan. Jumlah pulau yang mempunyai nama di Kabupaten Sumenep sebanyak 106 pulau. Penelitian bertujuan ini pemetaan parameter fisik lahan yang akan digunakan untuk pemodelan daya dukung pemanfaatan dan penilaian daya dukung pulau Sapudi. Metode yang dipergunakan adalah pemodelan Sistem Informasi geografis untuk kesesuaian ekowisata dengan pendekatan model indeks. Luas terumbu karang di Pulau Sapudi ditemukan mencapai 1.544 ha. Kondisi terumbu karang di Pulau Sapudi dengan metode Transek Foto Bawah air untuk karang hidup 25,9 %, karang mati 71,55 %.  Kondisi suhu air 30,1- 30,5 0C, pH 6,8-7,1, salinitas 25-30 0/00, Oksigen terlarut 4,6-6,6 mg/l dan kecerahan 100%. Daya dukung pemanfataan Pulau Sapudi untuk ekowisata selam 1.947 orang/hari, untuk ekowisata snorkeling 2.283 orang/hari.Kata kunci: daya dukung kawasan, ekowisata, pulau kecil, Sapudi

    GAYA EXTRA BOUYANCY DAN BUKAAN MATA JARING SEBAGAI INDIKATOR EFEKTIFITAS DAN SELEKTIFITAS ALAT TANGKAP PURSE SEINE DI PERAIRAN SAMPANG MADURA

    No full text
    Selektifitas alat tangkap menjadi permasalahan utama dalam menjaga kelestarian sumberdaya ikan, karena semua nelayan cenderung memperkecil ukuran mata jaring untuk menyikapi semakin sedikitnya sumberdaya ikan. Keterbatasan sumberdaya ikan dan meningkatnya biaya operasi penangkapan merupakan dilema yang harus dihadapi dengan melakukan operasi penangkapan ikan yang efektif dan selektif sesuai dengan prinsip kelestarian sumberdaya ikan. Penelitian bertujuan untuk mengetahui prosentase gaya extra bouyancy dan bukaan mata jaring purse seine sebagai indikator efektifitas dan keramahan terhadap lingkungan. Penghitungan efektifitas operasi penangkapan diawali dengan analisa teknis jaring purse seine seperti shortening, hanging ratio, bukaan mata jaring, luas jaring, gaya apung dan gaya tenggelam jaring.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecepatan kapal di bawah 6 knot kurang efektif untuk menangkap ikan karena banyak ikan yang lolos dan beberapa kali mengalami kegagalan operasi penangkapan. Kecepatan efektif penangkapan sekitar7,1 knot dengan hasil tangkapan ikan1000 kg dan waktu operasi panangkapan sebesar 2.853 detik. Kecepatan operasi penangkapan di atas 8 knot sudah tidak efisien lagi karena terjadi lonjakan konsumsi bahan bakar yang cukup signifikan dan hasil tangkapan cenderung tetap. Efektifitas waktu operasi penangkapan dicapai pada setting yang ketiga dengan nilai sekitar 0,0476 dan hasil tangkapan sebesar 1300 kg.Kata Kunci: bouyancy, jaring, efektifitas, selektifita

    BACK MATTER

    No full text

    0

    full texts

    453

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Kelautan: Indonesian Journal of Marine Science and Technology
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇