Jurnal Kelautan: Indonesian Journal of Marine Science and Technology
Not a member yet
    453 research outputs found

    DETEKSI SUHU PERMUKAAN LAUT (SPL) MENGGUNAKAN SATELIT

    No full text
    ABSTRACTSea surface temperature (SST) can be measured by instrument on the ship or buoys on same spots, however, it can’t give information on a wide area or on a global scale. Therefore, we needs remote sensing system which it can be used for SST measurement. This system be able to estimate SST on an larger region and within a short time. The aims of the study were to explain and understand the SST estimation using remote sensing system using literature studies. There are several remote sensing satellite system that can be used to estimate SST such as MODIS, NOAA AVHRR, and TRMM (Microwave). SST average in Indonesian water based on NOAA AVHRR estimation was 26-31oC (1993-2003) with 90% accuracy. Highest SST range in July 2015 was 29.1-29.8oC (MODIS estimation) with corelation coefisien values was 0.72 dan RMSE 0.74oC. On west Indonesian water (north Papua), SST estimation was in the range of 29.10-29.36°C (Aqua MODIS) and 28.88-29.19°C (Terra MODIS) with RMSE values of 0.2461°C (Aqua) and 0.4854°C (Terra). SST estimation on this water using NOAA AVHRR (2010-2012) was about 29.11-29.65oC with RMSE 0.2228°C. The accuracy of microwave sensor estimated SST was about 0.5oC within a free cloud case. SST range (TRMM/Microwave, 2008) in Indonesian water was about 21-31ºC. Using NLSST formula, SST estimation produced the highest accuracy with coefficient determination of 0.95 and RMSE 0.24 K. There were different estimated values from using same remote sensing satellite that’s. Generally, SST estimated highest acurracy by NOAA AVHHR that has lowest error, but can be effected by clouds. Different with Microwave sensor (TRMM) that free clouds coverage but has middle acuration for SST estimation.Keywords: Sea Surface Termperature, NOAA-AVHRR, MODIS, TRMM/Microwave SensorABSTRAKPada mulanya, pengukuran suhu permukaan laut (SPL) dilakukan menggunakan alat langsung di kapal ataupun pelampung (buoy) pada titik tertentu, namun tidak dapat memberikan informasi luas dan skala global. Diperlukan sistem penginderaan jauh untuk pengukuran SPL secara spasial dan temporal, sistem tersebut mampu menganalisis area dalam skala luas, sulit ditempuh, dan dalam waktu singkat. Tujuan kajian adalah melakukan pendeteksian SPL dengan sistem penginderaan jauh, melalui ulasan kajian yang sudah dilakukan oleh berbagai ilmuan. Beberapa satelit penginderaan jauh yang dapat melakukan pendeteksian SPL yaitu satelit MODIS, NOAA dan TRMM (Microwave). Rata-rata SPL di perairan Indonesia adalah 26-31oC (estimasi NOAA, 1993 – 2003), akurasi 90 % dan selisih SPL pengukuran lapang dan estimasi sebesar 0.2oC. Kondisi SPL di Indonesia cukup tinggi terjadi pada bulan Juli 2015 dengan kisaran 29.1-29.8oC (estimasi MODIS), nilai koefisien korelasi r=0.72 dan RMSE 0.74oC. Pada perairan timur Indonesia (utara Papua), hasil SPL estimasi MODIS (Aqua) adalah sebesar 29.10-29.36°C, MODIS (Terra) sebesar 28.88-29.19°C. Nilai RMSE yang diperoleh dari interpretasi citra MODIS yaitu 0.2461oC (Aqua) dan 0.4854oC (Terra). Pada perairan tersebut, nilai SPL rata-rata sebesar 29.11-29.65oC (estimasi NOAA, tahun 2010-2012) dengan bias sebesar -0.43 dan rata-rata RMSE 0.2228oC. Akurasi sensor microwave dalam estimasi SPL mencapai 0.5°C, bebas dari pengaruh tutupan awan. Sebaran SPL (TRMM/Microwave tahun 2008) pada perairan Indonesia sebesar 21-31ºC. Menggunakan formula/algoritma NLSST, estimasi SST menghasilkan akurasi lebih baik dengan nilai koefisien korelasi 0.95 dan RMSE 0.24 K. Terdapat perbedaan nilai estimasi dari penggunaan beberapa citra satelit yang digunakan tersebut. Secara umum, nilai SPL lebih baik terdapat pada pengukuran satelit NOAA-AVHRR dengan bias dan RMSE yang cukup rendah, namun beresiko karena terpengaruh oleh tutupan awan. Untuk penggunaan sensor Microwave (TRMM) memiliki akurasi sedikit lebih tinggi namun tidak terpengaruh dari tutupan awan tersebut. Kata kunci: Suhu Permukaan Laut, SPL, NOAA-AVHRR, MODIS, TRMM/Sensor Microwav

    STUDY OF NUTRITIONAL CONTENTS OF SEA URCHIN GONAD FROM DRINI BEACH, GUNUNG KIDUL, YOGYAKARTA

    No full text
    ABSTRACTThis paper aims to determine the types and contents of protein, fatty acids, amino acids and protein in the gonads of Arbacia lixula, Colobocentrotus atratus, Heterocentrotus trigonarius and Echinotrix diadema from the waters of Drini, Gunung Kidul, Yogyakarta. Kjedal method was used to analyze the protein content, while GC and HPLC methods were employed to analyze amino acids in this study. The results showed that the protein contents of each sample, consequently from highest to lowest, were Heterocentrotus trigonarius (13.3 %), Echinotrix diadema (10.86), Colobocentrotus atratus (10.41) and Arbacia lixula (9.90%). Amino acids analysis from all identified both saturated fatty acids, consisting of lauric acid, myristic acid, palmitic acid, stearic acid, arachidonic acid, lignoceric acid, as well as non-saturated fatty acids, consisting of palmitoleic acid, oleic acid, linoleic acid, erucic acid, EPA, and DHA. The highest contents of non-saturated fatty acids were identified in Colobocentrotus atratus (434.14 mg/100g) and the lowest content in Arbacia lixula (197.71 mg/100g). The highest percentage of essential fatty acids was found in Heterocentrotus trigonarius (0.29%), whereas the lowest was found in Echinotrix diadema (0.19 %). It is concluded that the gonad of Heterocentrotus trigonarius showed the highest protein and essential fatty acids contents. This study also found that Colobocentrotus atratus sea urchin gonads possess the highest content of non-saturated fatty acids (434.14 mg/100g).  Keywords: amino acid, fatty acid, protein, sea urchin gonad

    PENGARUH KONDISI LINGKUNGAN TERHADAP KEMAMPUAN SONAR KRI DALAM MENDETEKSI KONTAK BAWAH AIR

    No full text
    ABSTRACTThe ability of sonar in detecting underwater contact is still a mainstay in carrying out Anti Submarine warfare. warship will find it difficult to detect the presence of submarines without the sonar equipment installed on the warship. The sonar's ability to detect underwater contact is not only influenced by the underwater environment conditions, especially when underwater conditions experience a negative gradient where the submarine can hide without being detected by the ship's sonar because the sound waves emitted by the sonar cannot penetrate the area or the waves cannot return to the source of the sound waves. To anticipate the constraints that may be obtained by sonar due to the influence of the underwater conditions, the sonar operator must have data on underwater propagation in the environment. The addition of portable sonar equipment is also very useful for detecting underwater contacts in the shadow zone region that cannot be penetrated by Sonar.Keywords: Sonar Ability, Underwater Environmental Influence, Anti-Submarine WarfareABSTRAKKemampuan sonar (Sound Navigation and Ranging) dalam mendeteksi kontak bawah air masih menjadi andalan dalam melaksanakan peperangan Anti Kapal Selam.  KRI akan kesulitan dalam mendeteksi keberadaan kapal selam tanpa adanya peralatan sonar yang terpasang di KRI tersebut. Kemampuan sonar dalam mendeteksi kontak bawah air selain dipengaruhi kemampuan operator dan kesiapan teknis peralatannya, juga dipengaruhi oleh kondisi lingkungan bawah air terutama saat kondisi bawah air mengalami gradien negatif maka akan muncul wilayah Shadow Zone yang merupakan wilayah dimana kapal selam dapat bersembunyi tanpa terdeteksi oleh sonar kapal karena gelombang suara yang dipancarkan oleh sonar tidak dapat menembus daerah tersebut atau gelombang tersebut tidak dapat kembali ke sumber gelombang suara (Sonar). Untuk mengantisipasi kendala yang mungkin didapatkan oleh sonar akibat pengaruh kondisi bawah air tersebut maka operator sonar harus mempunyai data-data tentang propagasi bawah air di lingkungan tempat melaksanakan operasi baik mendapatkan data dari bank data yang dimiliki maupun dengan melakukan penghitungaa kondisi bawah air dengan menggunakan alat Bathytermografi (XBT). Penambahan peralatan sonar portable (Variable depth Sonar) juga sangat berguna untuk mendeteksi kontak bawah air yang berada di wilayah shadow zone yang tidak dapat ditembus oleh gelombang suara yang dipancarkan oleh sonar hull mounted sonar (HMS). Kata kunci: Kemampuan Sonar, pengaruh lingkungan bawah air, peperangan anti kapal selam

    PERBANDINGAN STRUKTUR DAN KOMPOSISI MAKROALGA DI PANTAI DRINI DAN PANTAI KRAKAL

    No full text
    ABSTRACTDrini and Krakal Beach are two beaches in the Gunungkidul area which are crowded with visitors. The high human activity, directly and indirectly will affect marine organisms in the region, one of them is macroalgae. The purpose of this study is to find out information on diversity and distribution patterns of macroalgae in the Drini and Krakal Coast waters. Data was collected on 15 -17 September 2019. The method used in sampling is the quadratic transect method using a 1x1 m grid plot. At each location 25 plots were taken and then the data were analyzed in the form of important value index, diversity index, similarity index, dominance index and distribution patterns. Morphological description was also carried out for the characterization and manufacture of herbarium for sample identification. For identification, the method used was to compare samples with photographs, sketches, herbarium and descriptions from identification books. Macroalgae found in both locations consisted of 29 species, 23 genera, 21 families, 14 orders and 3 classes. The highest diversity is found in Rhodophyta phyla with 17 species and phylum with the lowest diversity is Heterokontophyta with four species. Drini Beach has a diversity index value and a higher similarity index compared to Krakal Beach. While the dominance index is higher in Krakal Beach. The species with the highest importance index in both locations is Ulva lactuca. On Drini Beach there are 14 species with random distribution patterns and 7 species with cluster distribution patterns while on Krakal Beach there are 16 species with random distribution patterns and 3 species with clumped distribution patterns.Keywords: Distribution Pattern, Diversity, Gunungkidul, Marine MacroalgaABSTRAKPantai Drini dan Krakal merupakan dua pantai diwilayah Gunungkidul yang ramai pengunjung. Tingginya aktifitas manusia, secara langsung manupun tidak langsung akan mempengaruhi organisme laut yang ada di wilayah tersebut, salah satunya makroalga. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui informasi keanekaragaman dan pola distribusi makroalga yang berada di wilayah perairan pantai Drini dan Pantai Krakal. Pengambilan data dilakukan pada 15-17 September 2019. Metode yang digunakan dalam pengambilan sampel yaitu metode transek kuadrat dengan menggunakan grid plot 1x1 m. Pada setiap lokasi diambil 25 plot kemudian dianalisis datanya berupa indeks nilai penting, indeks keanekaragaman, indeks kesamaan, indeks dominansi dan pola distribusi. Selain itu juga dilakukan deskripsi morfologi untuk karakterisasi dan pembuatan herbarium untuk identifikasi sampel.Untuk identifikasi, metode yang digunakan adalah dengan membandingkan sampel dengan foto, sketsa, herbarium dan deskripsi dari buku identifikasi. Makroalga yang ditemukan di kedua lokasi terdiri dari 29 spesies, 23 genus, 21 famili, 14 ordo serta 3 kelas. Keanekaragaman tertinggi terdapat pada filum Rhodophyta dengan 17 spesies dan filum dengan keanekaragaman terendah yaitu Heterokontophyta dengan empat spesies. Pantai Drini memiliki nilai indeks keanekaragaman dan indeks kesamaan yang lebih tinggi dibandingkan dengan Pantai Krakal. Sedangkan indeks dominansi terhitung lebih tinggi di Pantai Krakal. Spesies dengan indeks nilai penting tertinggi di kedua lokasi yaitu Ulva lactuca. Di Pantai Drini terdapat 14 spesies dengan pola distribusi acak dan 7 spesies dengan pola distribusi mengelompok sedangkan di Pantai Krakal terdapat 16 spesies dengan pola distribusi acak dan 3 spesies dengan pola distribusi mengelompok.Kata kunci: Pola Distribusi, Keanekaragaman, Gunungkidul, Makroalga lau

    MORFOMETRIK DAN GENETIKA PADA IKAN Pterocaesio chrysozona DI PASAR IKAN MODERN MUARA BARU, DKI JAKARTA

    No full text
    ABSTRACTCoral fish is one of the biota that live in coral reef ecosystems and its life is very dependent on thecondition of coral reefs. Pterocaesio chrysozona is a species of reef fish from the family Caesionidae that live in groups around coral reefs between 0-25 meters deep. Morphogenetic, morphological and DNA barcoding based measurements have advantages in identifying species that have been proven successful in identifying reef fish species. Morphometric and morphological analysis results showed that the overall specimens identified were Pterocasio chrysozona fish. It is directly proportional to the DNA Barcoding analysis which is read at the level of Pterocasio chrysozona fish species with a percentage of 93% Query Cover and Per. Ident 96.54%.Keywords: Reef fish, Pterocaesio chrysozona, morphometrics, morphology, DNA barcoding.ABSTRAKIkan karang adalah salah satu biota yang hidup pada ekosistem terumbu karang dan hidupnya sangat bergantung pada kondisi terumbu karang. Pterocaesio chrysozona merupakan spesies ikan karang dari Famili Caesionidae yang hidup bergerombol di sekitar terumbu karang kedalaman antara 0-25 meter. Pengukuran yang berbasis morfogenetik, morfologi dan DNA Barcoding memiliki kelebihan dalam melakukan identifikasi spesies yang terbukti berhasil dalam melakukan identifikasi spesies ikan karang. Hasil analisis morfometrik dan morfologi menunjukkan secara keseluruhan spesimen yang teridentifikasi adalah ikan Pterocasio chrysozona. Berbanding lurus dengan analisis DNA Barcoding yang terbaca pada tingkat spesies ikan Pterocasio chrysozona dengan persentase Query Cover 93% dan Per. Ident 96,54%.Kata kunci : ikan karang, Pterocaesio chrysozona , morfometrik, morfologi, DNA barcodin

    PERBANDINGAN HASIL METODE IDENTIFIKASI SPESIES : MORFOLOGI DAN MOLEKULER PADA IKAN JULUNG-JULUNG DI TPI (TEMPAT PELELANGAN IKAN) MUARA ANGKE, DKI JAKARTA

    No full text
    ABSTRACTThe Congaturi halfbeak (Hyporhampus limbatus), also known as the Valenciennes halfbeak, is an important economic fish in the fisheries sector of Indonesia, with a high level of diversity. The high diversity creates difficulties in the identification process for each species. The identification of species can be based on morphological and molecular methods. Therefore, this study aimed to compare the results of the morphological and molecular identification methods using a sample of H. limbatus. Morphological identification was carried out using morphometric techniques and for molecular identification following DNA Barcoding protocol. The results showed both morphological and molecular methods indicate that the sample was identified as Hyporhampus limbatus. The morphology of the Hyporhampus limbatus has an elongated body shape with a silvery color filled with scales all over his body except on the head. The lower jaw is taper in shape longer than the upper jaw and has an immarginate tail. While for the DNA Barcoding results show high similiraty (97%) and percentage of query coverage (98%) to identify Hyporhampus limbatus. Keyword: morphological, molecular, garfishABSTRAKIkan julung-julung (Hyporhampus limbatus) merupakan ikan ekonomis penting di sektor perikanan Indonesia yang memiliki tingkat keragaman yang tinggi. Tingginya keragaman menyebabkan kesulitan dalam proses identifikasi dari setiap spesies. Metode yang dapat digunakan untuk identifikasi spesies adalah metode morfologi dan molekuler. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan hasil dari metode identifikasi morfologi dan molekuler dengan menggunakan sampel ikan julung-julung. Identifikasi morfologi dilakukan menggunakan teknik morfometrik sedangkan untuk molekuler diaplikasikan dengan DNA Barcoding. Hasil identifikasi dengan metode morfologi dan molekuler menunjukkan hasil yang sama yaitu Hyporhampus limbatus. Berdasarkan hasil identifikasi morfologi Hyporhampus limbatus memiliki bentuk tubuh yang memanjang dengan warna perak dengan sisik di seluruh tubuhnya kecuali pada bagian kepala. Rahang bawahnya berbentuk lancip dengan ukuran lebih panjang dibandingkan dengan rahang atas serta memiliki ekor imarginate. Hasil molekuler (DNA Barcoding) menunjukkan bahwa Hyporhampus limbatus  memiliki nilai yang tinggi untuk tingkat kemiripan (97%) dan Query Cover (98%). Kata kunci: morfologi, molekuler, ikan julung-julun

    ANALISA POTENSI KANDUNGAN LIDAH BUAYA UNTUK PENGENDALIAN VIBRIO PADA IKAN KAKAP PUTIH

    No full text
    ABSTRACTAloe vera is a type of plant that is often used as a wound healing and skin care since thousands of years ago. So this article will present the contents contained in Aloe vera. This research was conducted with the aim to determine the content of Aloe vera extract as a control of Vibrio sp. At Lates Calcarifer. The method used in this research is the method of maceration and GCMS testing. The results of the study showed that Aloe vera extract contained several chemical components such as 1,2-Benzenedicarboxylic acid, dinonyl ester (CAS) Unimoll, with 9.00% percent area, and 7-Octadecenoic acid, methyl ester (CAS) METHYL of 7, 94%. 1,2-Benzenedicarboxylic acid, dinonyl ester (CAS) Unimoll serves as an anti-bacterial and anti-bacterial function, and 7-Octadecenoic acid, methyl ester (CAS) METHYL is able to accelerate the wound healing process in fish, so that the content in Aloe vera extract is very good for controller of Vibrio sp. At Lates Calcarifer.Keywords: extract Aloe vera, vibrio sp. And Lates Calcarifer.ABSTRAKLidah buaya merupakan salah satu jenis tumbuhan yang sering digunakan sebagai penyembuh luka dan perawatan kulit sejak ribuan tahun silam. Maka tulisan ini akan menyajikan kandungan yang terdapat pada lidah buaya. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kandungan ekstrak lidah buaya sebagai pengendali bakteri Vibrio sp. Pada ikan kakap. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode maserasi dan pengujian GCMS. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa ekstrak lidah buaya mengandung beberapa komponen kimia seperti 1,2-Benzenedicarboxylic acid, dinonyl ester (CAS) Unimoll, dengan persen area 9,00%, dan 7-Octadecenoic acid, methyl ester (CAS) METHYL sebesar 7,94%. 1,2-Benzenedicarboxylic acid, dinonyl ester (CAS) Unimollberfungsi sebagai anti bakteri dan anti fungsi, dan 7-Octadecenoic acid, methyl ester (CAS) METHYL mampu mempercepat proses penyemuhan luka pada ikan, sehingga kandungan dalam ekstrak lidah buaya ini sangat bagus untuk pengendali Vibrio sp. Pada ikan kakap putih.Kata kunci: ekstak lidah buaya, vibrio sp. Dan ikan kaka

    EFEKTIVITAS EKSTRAK KULIT PISANG KEPOK (Musa balbisiana Colla) UNTUK MENURUNKAN KANIBALISME PADA UDANG VANAME (Litopenaeus vannamei)

    No full text
    ABSTRACTThis study aims to determine the effectiveness of adding kapok banana peel extract (Musa balbisiana colla) in commercial feed to reduce cannibalism in vaname shrimp (Litopenaeus vannamei). Test animals used in this study were 22-day-old vaname shrimp (PL 22) with an initial weight of 0.07-0.09 g. The method used in this study is an experimental method using a Completely Randomized Design (CRD) consisting of 4 treatments and 3 replications to obtain 12 experimental units, namely P0 (without the addition of banana peel extract), P1 (banana peel extract 0.5% ), P2 (1% banana peel extract), P3 (1.5% banana peel extract). The results showed that there was no significant effect on the rate of cannibalism predation, survival, FCR and frequency of molting, but had a significant effect on the growth of absolute weights and specific weights. 1.5% piak skin) is the best treatment with an absolute weight percentage of 2.80 g and a specific weight of 3.83%.Keywords: Shrimp vaname, banana peel extract, cannibalism, growth, survival.ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas penambahan ekstrak kulit pisang kapok (Musa balbisiana colla) dalam pakan komersial untuk menurunkan kanibalisme pada udang vaname (Litopenaeus vannamei). Hewan uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah udang vaname umur 22 hari (PL 22) dengan bobot awal 0,07-0,09 g. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 4 perlakuan dan 3 kali ulangan sehingga diperoleh 12 unit percobaan, yakni P0 (tanpa penambahan ekstrak kulit pisang), P1 (ekstrak kulit pisang 0,5%), P2 (ekstrak kulit pisang 1%), P3 (ekstrak kulit pisang 1,5%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak signifikan terhadap laju pemangsaan kanibalisme, kelangsungan hidup, FCR dan frekuensi molting, namun berpengaruh yang nyata terhadap pertumbuhan bobot mutlak dan bobot spesifik, sehingga dilakukan uji lanjut untuk mengetahui perlakuan terbaik dalam menghasilkan pertumbuhan udang vaname, diketahui bahwa P3 (ektrak kulit piang 1,5%) merupakan perlakuan terbaik dengan persentase bobot mutlak sebesar 2,80 g dan bobot spesifik sebesar 3,83%.Kata kunci: Udang vaname, ekstrak kulit pisang, kanibalisme, pertumbuhan, kelangsungan hidup

    ASOSIASI LAMUN DAN ECHINODERMATA PADA EKOSISTEM PADANG LAMUN CAGAR ALAM LEUWEUNG SANCANG, JAWA BARAT

    No full text
    ABSTRACTThe Leuweung Sancang Nature Reserve has ecosystem diversity, including seagrass beds, with a variaety of natural resources that are important to be preserved. Apart from being a food source for herbivorous organisms, seagrass beds also function as shelter and breed for many marine invertebrates, including Echinoderms. Association between Echinoderms and seagrass was observed in this study to investigate the interaction. Sampling was carried out in 1x1 m2 plots which were placed in 3  transect  lines  of 250 m long, with a plot intervals of 25 m on each transect line.  The transect line extended from the beach heading to the shore, and was carried out in 4 different stations, namely Ciporeang, Cipunaga, Cikolomberan, and Cipangikisan. Observation had been done to determine diversity, density, coverage, and evenness of both seagrass and Echinoderms, thus to study the correlation between them. The results showed that there were 2 seagrass species, Thalassia hempricii and Cymodocea rotundata, and there were 2 families of Echinoderms: Ophiocomidae and Holothuridae. Result of Rank–Spearman correlation coefficient showed possitive association between seagrass and echinoderms in all stations being observed, but only in Cikolomberan that showed significantly high association.Keywords:  association, Echinoderms, Leuweung Sancang, seagrass.ABSTRAKCagar alam Leuweung Sancang memiliki keanekaragaman ekosistem, termasuk padang lamun, dengan berbagai sumber daya alam di dalamnya yang penting untuk dijaga kelestariannya. Selain sebagai sumber makanan bagi organisme herbivor, padang lamun juga berfungsi sebagai tempat berlindung dan berkembang biak bagi banyak invertebrata laut, termasuk Echinodermata. Keterkaitan antara Echinodermata dan lamun diobservasi pada studi ini untuk dipelajari untuk melihat interaksinya. Pengambilan sampel dilakukan dalam plot 1 x 1 m2 yang ditempatkan pada 3 garis transek masing-masing sepanjang 250 m dengan interval plot sejauh 25 m pada setiap garis transek. Garis transek terbentang dari pantai menuju laut, dan dilakukan pada 4 stasiun yang berbeda, yaitu Ciporeang, Cipunaga, Cikolomberan, Cipangikisan. Pengamatan dilakukan untuk menentukan keragaman, kepadatan, frekuensi, tutupan dan kemerataan lamun dan Echinodermata, untuk kemudian dilihat asosiasinya. Hasil menunjukkan bahwa di keempat stasiun pengamatan ditemukan 2 spesies lamun yaitu Thalassia hempricii dan Cymodocea rotundata dan 2 famili Echinodermata: Ophiocomidae dan Holothuridae. Hasil koefisien korelasi Rank-Spearman pada keempat stasiun pengamatan menunjukan adanya asosiasi positif antara lamun dan Echinodermata, namun hanya di Cikolomberan yang memiliki asosiasi tinggi dan signifikan.Kata kunci: asosiasi, Echinodermata, Leuweung Sancang, lamun

    PENGARUH FREKUENSI PEMBERIAN PAKAN TERHADAP PERTUMBUHAN DAN KELANGSUNGAN HIDUP BANGGAI CARDINAL FISH (BCF)

    No full text
    ABSTRACTThe purpose of this study was to determine the effect of feeding frequency on the growth and survival of Banggai Cardinal Fish (BCF), and to determine the optimal frequency and timing of feeding. The study used a Completely Randomized Design (CRD) method with 5 treatments and 3 replications namely treatment P1 = one time feeding at 06.00 (morning), treatment P2 = one time feeding at 18.00 (afternoon), treatment P3 = twice feeding at 06.00 and 18.00, treatment P4 = three times feeding at 06.00, 12.00, and 18.00, treatment P5 = four times feeding at 06.00, 12.00, 18.00, and 24.00. The data obtained were analyzed using ANOVA at 95% confidence level and further tests using (Tukey HSD) to determine the best treatment. The parameters observed were absolute length growth, absolute weight growth, daily growth rate, survival rate and water quality. The results showed the frequency of feeding significantly affected the growth and survival of Banggai Cardinal Fish (BCF). The best treatment was obtained from the treatment of feeding 3 times a day resulting in an absolute length growth of 0.62 cm, an absolute weight growth of 0.20 grams, a daily growth rate of 6.97% / day, a survival rate of 73.3%.Keywords: growth, survival, Banggai Cardinal Fish, frequency.ABSTRAKTujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh frekuensi pemberian pakan terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup Banggai Cardinal Fish (BCF), serta mengetahui frekuensi dan waktu pemberian pakan yang optimal.Penelitian menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan dan 3 kali ulangan yakni perlakuan P1 = satu kali pemberian pakan jam 06.00 (pagi), perlakuan P2 = satu kali pemberian pakan jam 18.00 (sore), perlakuan P3 = dua kali pemberian pakan jam 06.00 dan 18.00, perlakuan P4 = tiga kali pemberian pakan jam 06.00, 12.00, dan 18.00, perlakuan P5 = empat kali pemberian pakan jam 06.00, 12.00, 18.00, dan 24.00. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan ANOVA pada taraf kepercayaan 95% dan uji lanjut menggunakan (Tukey HSD) untuk mengetahui perlakuan terbaik. Parameter yang diamati adalah pertumbuhan panjang mutlak, pertumbuhan berat mutlak, laju pertumbuhan harian, tingkat kelangsungan hidup dan kualitas air. Hasil penelitian menunjukkan frekuensi pemberian pakan berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup Banggai Cardina Fish (BCF). Perlakuan terbaik didapatkan dari perlakuan pemberian pakan sebanyak 3x sehari menghasilkan pertumbuhan panjang mutlak sebesar 0,62 cm, pertumbuhan berat mutlak sebesar 0,20 gram, laju pertumbuhan harian sebesar 6,97 %/hari, tingkat kelangsungan hidup sebesar 73,3%. Kata kunci: pertumbuhan, kelangsungan hidup, Banggai Cardinal Fish, frekuensi

    0

    full texts

    453

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Kelautan: Indonesian Journal of Marine Science and Technology
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇