Jurnal Kelautan: Indonesian Journal of Marine Science and Technology
Not a member yet
453 research outputs found
Sort by
Karakterisasi Senyawa Bioaktif dan Aktivitas Antioksidan Ekstrak Kasar Caulerpa sp dan Gracilaria sp dari Perairan Bangkalan Madura
ABSTRAKRumput laut pada umumnya dapat dimanfaatkan sebagai sumber pangan dan juga sebagai antioksidan alami. Rumput laut yang berpotensi sebagai bahan aktioksidan alami dari perairan Bangkalan yaitu Caulerpa sp. dan Gracilaria sp. dikarenakan kandungan senyawa bioaktif di dalamnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakterisasi fisik dan kimia, kandungan senyawa bioaktif serta aktivitas antioksidan dari ekstrak kasar Caulerpa sp. dan Gracilaria sp. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Bioteknologi Laut, Universitas Trunojoyo Madura dengan beberapa tahap yaitu: preparasi sampel, analisa proksimat, analisa fitokimia dan analisis aktivitas antioksidan dengan DPPH. Hasil identifikasi morfologi Caulerpa sp memiliki warna hijau tua dan ramuli kecil seperti anggur. Gracilaria sp. memiliki warna merah kecoklatan dengan percabangan yang tidak teratur seperti akar serabut. Kadar proksimat Caulerpa sp dan Gracilaria sp. menunjukkan tingginya kadar air, abu, dan serat kasar, dibandingkan protein dan lemaknya. Ekstrak kasar rumput laut Caulerpa sp mengandung senyawa bioaktif berupa flavonoid, fenolik, steroid, terpenoid, alkaloid, saponin, dan tannin. Ekstrak kasar rumput laut Gracilaria sp. senyawa bioaktif yaitu alkaloid, steroid, flavonoid, fenol, saponin, dan terpenoid. Aktivitas antioksidan terbaik terdapat pada ekstrak kasar rumput laut Caulerpa sp. pelarut n-heksan dengan nilai IC50 sebesar 116,41 ppm lebih kuat dibandingkan dengan ekstrak kasar rumput laut Gracilaria sp. Rumput laut dari perairan Bangkalan berpotensi dapat dikembangkan sebagai bahan bahan pangan alami dan antioksidan alami di masa yang akan datang.Kata Kunci: Caulerpa sp, Gracilaria sp, senyawa bioaktif, dan aktivitas antioksidan. ABSTRACTSeaweed in general can be used as a food source and also as a natural antioxidant. Seaweed that has the potential as a natural antioxidant from Bangkalan waters is Caulerpa sp. and Gracilaria sp. due to the content of bioactive compounds in it. This research aims to determine the physical and chemical characteristics, content of bioactive compounds and antioxidant activity of crude extracts of Caulerpa sp. and Gracilaria sp. The research was carried out at the Marine Biotechnology Laboratory, Trunojoyo University, Madura in several stages, namely: sample preparation, proximate analysis, phytochemical analysis and antioxidant activity analysis with DPPH. The results of the morphological identification of Caulerpa sp have a dark green color and small ramuli like grapes. Gracilaria sp. has a brownish red color with irregular branching like fibrous roots. Proximate levels of Caulerpa sp and Gracilaria sp. shows high levels of water, ash and crude fiber, compared to protein and fat. Caulerpa sp seaweed crude extract contains bioactive compounds in the form of flavonoids, phenolics, steroids, terpenoids, alkaloids, saponins and tannins. Crude extract of seaweed Gracilaria sp. Bioactive compounds are alkaloids, steroids, flavonoids, phenols, saponins and terpenoids. The best antioxidant activity is found in the crude extract of seaweed Caulerpa sp. with n-hexane solvent was an IC50 value of 116.41 ppm is stronger than the crude extract of seaweed Gracilaria sp. Seaweed from Bangkalan seawaters has the potential to be developed as a natural food ingredient and natural antioxidant in the future.Keywords: Caulerpa sp, Gracilaria sp, bioactive compounds, and antioxidant activity
Analisis Variabilitas Sebaran Klorofil-A Pada Lokasi Bongkar Muat Batubara Di Perairan Aceh Barat Dan Nagan Raya Menggunakan Citra Aqua MODIS Dan Kaitannya Dengan Arus
ABSTRAKKlorofil- a adalah salah satu dari beberapa pigmen hijau yang terkait fitoplankton yang digunakan sebagai indikator kesuburan perairan. Pengukuran zat ini dilakukan dengan dua cara, salah satunya dengan menggunakan teknologi penginderaan jauh. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsentrasi klorofil-a dalam kaitannya dengan kondisi arus laut di perairan Aceh Barat dan Nagan Raya. Penelitian ini menggunakan metode penginderaan jauh dengan menggunakan citra satelit Aqua MODIS, citra yang digunakan merupakan citra Standard Mapped Image (SMI) klorofil-a Level 3 dengan rentang waktu 11 tahun mulai tahun 2011 hingga 2021 dan mempunyai resolusi spasial 4 km. Gambar diolah menggunakan software yaitu SeaDAS dan ArcMap. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebaran konsentrasi klorofil-a tahunan tertinggi terjadi pada tahun 2021 sebesar 2,07–4,86 mg/m3, dan konsentrasi klorofil-a terendah pada tahun 2011 berkisar antara 0,94–3,01 mg/m3. Faktor abiotik yang dipertimbangkan pengaruhnya terhadap distribusi konsentrasi klorofil-a adalah arus laut.Kata Kunci: Klorofil -a, Batubara, Aceh Barat, Arus, Aqua MODISABSTRACTChlorophyll-A is one of several phytoplankton-associated green pigments that are used as indicators of water fertility. Measurement of this substance is done in two ways, one of which is by using remote sensing technology. This study aims to analyse chlorophyll-a concentration and current conditions in the waters of West Aceh and Nagan Raya. This research uses remote sensing methods using Aqua MODIS satellite imagery, the image used is an annual Standard Mapped Image (SMI) Level 3 chlorophyll-a image with a time span of 11 years from 2011 to 2021 and has a spatial resolution of 4 km. Images were processed using software namely SeaDAS and ArcMap. The results showed that the highest annual chlorophyll-a concentration distribution occurred in 2021 at 2.07-4.86 mg/m3, and the lowest chlorophyll-a concentration in 2011 ranging from 0.94-3.01 mg/m3. The abiotic factor considered to influence the distribution of chlorophyll-a concentration is ocean currents.Keywords: Chlorophyll-a, Coal, Aceh Barat, Currents, Aqua MODI
Evaluasi Keberlanjutan Pengelolaan Kawasan Konservasi Penyu Di Pesisir Pangandaran, Jawa Barat
ABSTRAKPenyu merupakan salah satu reptil laut yang kini keberadaannya terancam punah. Kawasan konservasi penyu memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan penyu. Konservasi penyu yang terdapat di Pangandaran, diantaranya berada di pesisir pantai Batu Hiu dan Legokjawa. Pengelolaan kawasan konservasi tersebut dinilai masih kurang optimal, sehingga diperlukan perbaikan pengelolaan agar dapat berjalan secara berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis status keberlanjutan pengelolaan konservasi penyu di Pantai Batu Hiu dan Legok Jawa, Kabupaten Pangandaran ditinjau dari dimensi ekologi, ekonomi, sosial, kelembagaan, dan infrastruktur. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah Multidimensional Scaling (MDS) dengan bantuan Rapfish. Hasil analisis menunjukkan bahwa status keberlanjutan konservasi penyu di Batu Hiu dan Legok Jawa berada pada kategori cukup berkelanjutan dengan nilai indeks masing-masing sebesar 62,43% dan 56,35%. Seluruh dimensi yang dianalisis menunjukkan status keberlanjutan dengan kategori cukup berkelanjutan. Di kawasan konservasi Batu Hiu, dimensi infrastruktur memiliki nilai tertinggi sebesar 73,36%, sedangkan dimensi ekologi memperoleh nilai terendah 53,93%, kemudian dimensi sosial memperoleh nilai 71,44%, ekonomi 55,53%, dan kelembagaan 57,92%, Sementara pada konservasi Legok Jawa, dimensi ekologi memiliki nilai tertinggi sebesar 65,61%, sedangkan dimensi ekonomi memiliki nilai terendah 51,54%. Kemudian dimensi lainnya, yaitu dimensi sosial memiliki nilai 54,61%, dimensi kelembagaan 54,58%, dan dimensi infrastruktur 55,41%. Kata Kunci: Konservasi Penyu, Keberlanjutan, MDS, PengelolaanABSTRACTSea turtles are one of the marine reptiles that are now threatened with extinction. Sea turtle conservation areas play an important role in ensuring the survival of sea turtles. Sea turtle conservation areas in Pangandaran include those located on the coast of Batu Hiu and Legokjawa. The management of these conservation areas is considered to be less than optimal, so improvements are needed to ensure sustainable management. This study aims to analyze the sustainability status of sea turtle conservation management at Batu Hiu and Legok Jawa beaches in Pangandaran District, focusing on ecological, economic, social, institutional, and infrastructure dimensions. The analysis method used in this study is Multidimensional Scaling (MDS) with the assistance of Rapfish. The analysis results indicate that the sustainability status of sea turtle conservation at Batu Hiu and Legok Jawa falls into the moderately sustainable category, with index values of 62.43% and 56.35%, respectively. All analyzed dimensions show a moderately sustainable status. At the Batu Hiu conservation area, the infrastructure dimension has the highest value at 73.36%, while the ecological dimension had the lowest value of 53.93%, followed by the social dimension with a value of 71.44%, the economic dimension with 55.53%, and the institutional dimension with 57.92%. Meanwhile, in the Legok Jawa conservation area, the ecological dimension had the highest value of 65.61%, while the economic dimension had the lowest value of 51.54%. The other dimensions are as follows: the social dimension has a value of 54.61%, the institutional dimension 54.58%, and the infrastructure dimension 55.41%. Keywords: Sea Turtle Conservation, Sustainability, MDS, Managemen
Analisis Hubungan Antara Suhu Permukaan Laut Dengan Hasil Tangkapan Ikan di Teluk Ciletuh, Kabupaten Sukabumi
ABSTRAKPotensi di Teluk Ciletuh menjadi perhatian besar baik dari segi pemerintahan maupun masyarakat pesisir dalam peningkatan ekonomi biru hingga industri kreatif pariwisata. Berdasarkan data tangkapan ikan dari Dinas Perikanan Kabupaten Sukabumi dan Kantor Tempat Pelelangan Ikan di Teluk Ciletuh, hasil tangkapan ikan sejak 2019 hingga 2023 mengalami fluktuasi yang lebih rendah jika dibandingkan dengan hasil tangkapan ikan di Teluk Genteng dan Palabuhanratu. Penelitian ini akan berfokus pada uji korelasi statistik untuk mengetahui seberapa besar korelasi antara suhu permukaan laut dengan hasil tangkapan ikan di Teluk Ciletuh, Kabupaten Sukabumi. Metode penelitian meliputi pengumpulan data sekunder dengan citra satelit Sentinel-3, visualisasi data, uji normalitas, dan uji statistik yang menggunakan statistik inferensial yaitu uji korelasi. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa nilai distribusi data pada setiap jenis ikan yaitu terdapat 11 jenis ikan bernilai distribusi normal, dan 15 jenis ikan berdistribusi tidak normal. Hasil uji korelasi antara suhu permukaan laut dengan hasil tangkapan ikan di Teluk Ciletuh menunjukkan bahwa hanya 5 dari 26 jenis ikan yang berkorelasi dan signifikan 0.05 secara statistik.Kata kunci: Hasil Tangkapan Ikan, Uji Korelasi, Uji Normalitas, Suhu Permukaan LautABSTRACTThe potential of Ciletuh Bay is of great concern both in terms of government and coastal communities in improving the blue economy to the creative tourism industry. Based on fish catch data from the Sukabumi Regency Fisheries Service and the Fish Auction Office in Ciletuh Bay, fish catches from 2019 to 2023 experienced lower fluctuations when compared to fish catches in Genteng Bay and Palabuhanratu. This research will focus on statistical correlation test to determine how much correlation between sea surface temperature and fish catch in Ciletuh Bay, Sukabumi Regency. The research method includes secondary data collection with Sentinel-3 satellite imagery, data visualization, normality test, and statistical test using inferential statistics, namely correlation test. The results of the study showed that the value of data distribution in each type of fish is that there are 11 types of fish with normal distribution, and 15 types of fish with abnormal distribution. The results of the correlation test between sea surface temperature and fish catch in Ciletuh Bay showed that only 5 out of 26 fish species were correlated and statistically significant 0.05.Keywords: Fish Catch, Correlation Test, Normality Test, Sea Surface Temperatur
Evaluasi Habitat Peneluran Penyu Pada Tiga Kawasan Konservasi Penyu Di Sumatera Barat
ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi karakteristik habitat pendaratan dan keberhasilan penetasan telur penyu di tiga kawasan konservasi penyu di Sumatera Barat, yaitu Pulau Pandan, Pulau Karabak Ketek, dan Ampiang Parak. Pengumpulan data dilakukan dengan pendekatan berbeda pada masing-masing lokasi, menyesuaikan kondisi ekologi dan akses lapangan. Pengamatan primer dilakukan di Pulau Pandan karena aktivitas pendaratan penyu masih terjadi dan lokasi dapat dijangkau selama penelitian. Sementara itu, pengumpulan data primer tidak dapat dilakukan di Pulau Karabak Ketek akibat kondisi gelombang tinggi, dan di Ampiang Parak tidak ditemukan penyu yang mendarat karena abrasi yang menyebabkan kemiringan pantai menjadi curam. Oleh karena itu, data pada kedua lokasi tersebut diperoleh melalui data sekunder dari laporan monitoring pengelola kawasan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pulau Pandan memiliki tujuh sarang aktif (satu sarang alami dan enam semi-alami), sedangkan informasi dari Karabak Ketek dan Ampiang Parak diperoleh melalui monitoring tahunan pengelola. Variasi keberhasilan penetasan di Pulau Pandan (11-98%) berasal dari sarang bulan Januari-Desember 2024, sedangkan nilai 54-99% pada Karabak Ketek dan 73-100% pada Ampiang Parak merupakan rekapitulasi sarang semi-alami yang dikelola sepanjang tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pulau Pandan masih memiliki habitat yang sesuai untuk peneluran, sementara dua lokasi lain menunjukkan penurunan fungsi habitat akibat abrasi dan gelombang tinggi. Penelitian ini merupakan evaluasi komparatif terbaru yang memadukan data primer dan monitoring tahunan untuk melihat pergeseran fungsi habitat penyu di Sumatera Barat.Kata Kunci: habitat peneluran, konservasi, penyu lautABSTRACTThe study aims to evaluate sea turtle nesting habitat characteristics and hatching success in three conservation areas in West Sumatera: Pandan Island, Karabak Ketek, and Ampiang Parak. Data collection methods differed among locations based on ecological conditions and field accessibility. Primary observations were conducted on Pandan Island, where active nesting was still occurring and field access was feasible. In contrast, primary data collection could not be conducted on Karabak Ketek Island due to high wave conditions, and no nesting activity was observed at Ampiang Parak due to coastal abrasion that caused steep beach slopes. Therefore, data from Karabak Ketek and Ampiang Parak were obtained from secondary monitoring records maintained by conservation staff. The findings show that Pulau Pandan recorded seven active nests (one natural nest and six semi-natural nests), while information from Karabak Ketek and Ampiang Parak was sourced from annual monitoring records. The variation in hatching success on Pandan Island (11-98%) represents nest outcomes recorded from January to December 2024, whereas the 54-99% range in Karabak Ketek and the 73-100% range in Ampiang Parak reflect semi-natural hatchery results managed throughout the monitoring year. Overall, the analysis indicates that Pandan Island still maintains suitable ecological conditions for natural nesting, while the other two locations have experienced a decline in habitat function due to abrasion and high wave exposure. This study presents the most recent comparative evaluations integrating primary field observations with annual monitoring data to identify shifts in sea turtle nesting habitat functionality in West Sumatera.Keywords: nesting habitat, conservation, sea turtl
Wave-generated Forecast in Weda Bay, Central Halmahera, Based on Wind and Satellite Data
ABSTRACTOcean waves are an important oceanographic parameter to analyse due to their role in ocean circulation, marine transportation, and coastal management. This research focused on forecasting the height and duration of significant waves in the Weda Bay, utilizing wind data from meteorological stations and altimetry satellite data. The data utilized comprised maximum wind speed and direction records spanning ten years, from 2011 to 2021, collected from two meteorological stations: Baabullah Station in Ternate and Gamar Malamo in Galela. Simultaneously, AVISIO Altimetry satellite data is retrieved from a website that aligns with the temporal measurement range of meteorological station data. The analysis phase initiates with wind speed correction, effective fetch calculation, and high and periodic wave forecasting utilizing Excel software, while satellite data is examined using ArcGIS software. The prediction results for wave height and period indicate that data from the Baabullah station show a significant wave height ranging from 0.00 to 2.33 meters and a significant wave period from 0.09 to 5.07 seconds. In contrast, data from the Gamar Malamo station reveal a significant wave height ranging from 0.02 to 4.28 meters and a significant wave period from 0.20 to 6.85 seconds. The study indicates that BMKG and satellite data produce consistent wave height calculationsKeywords: Wave Forecasting, Sea Waves, Weda Bay, Altimetry Satellit
Evaluasi Komponen Harmonik Pasang Surut Dengan Data Altimetri Pesisir Dan Tide Gauge Di Pesisir Barat Daya Sumatera
ABSTRAKPerkembangan teknologi akuisisi data menghasilkan alternatif dalam pengamatan pasang surut (pasut) selain menggunakan stasiun lapangan (tide gauge) yaitu satelit altimetri. Peningkatan ketelitian dari sistem retracker di pesisir menjadi parameter untuk meninjau tingkat kebaikan penggunaan satelit altimetri dalam pengamatan pasut sebagai pelengkap data tide gauge. Penelitian ini melakukan analisis harmonik dengan metode least square, menghasilkan nilai konstituen pasut utama yang digunakan dalam analisis kesesuaian data altimetri dibanding dengan tide gauge. Menggunakan dua stasiun di barat daya Sumatera, stasiun Krui menghasilkan amplitudo konstituen dominan K2 sebesar 0,034 m dan stasiun pasut Seblat dengan konstituen dominan K1 sebesar 0,035 m. Data altimetri Jason-1, Jason-2 dan Jason-3 pada pass 153 untuk data ALES dan GDR menghasilkan komponen pasut dominan P1 sebesar 0,283 m dan 0,354 m. Pass 077 data ALES dan GDR menghasilkan komponen pasut dominan P1 sebesar 0,532 m dan 0,313 m. Hasil analisis kesesuaian data antara satelit altimetri dan stasiun pasang surut diperoleh bahwa data ALES lebih baik di pesisir dengan jarak 10 km dari garis pantai. Sedangkan data GDR lebih baik untuk pesisir berjarak 10 km dari garis pantai. Disamping itu, apabila pengamatan dilakukan pada jarak yang lebih besar dari pesisir dapat menggunakan kombinasi dari kedua data tersebut.Kata Kunci: analisis harmonik, muka air laut, pesisir, satelit altimetri, stasiun pasutABSTRACTThe advancement of data acquisition technology has provided alternatives to tide gauge observations for sea-level monitoring, namely satellite altimetry. The accuracy improvement of retracking systems in coastal regions is a key parameter for evaluating the effectiveness of satellite altimetry as a complement to tide gauge data. This study applied harmonic analysis using the least squares method to obtain tidal constituents, which were then used to assess the consistency of altimetry data compared with tide gauges. Two tide gauge stations on the west coast of Sumatra were analyzed: Krui, where the dominant tidal constituent was K2 with an amplitude of 0.034 m, and Seblat, where the dominant constituent was K1 with an amplitude of 0.035 m. Altimetry data from Jason-1, Jason-2, and Jason-3 along pass 153 produced dominant P1 constituent with an amplitudes of 0.283 m (ALES) and 0.354 m (GDR), while pass 077 yielded P1 with amplitudes of 0.532 m (ALES) and 0.313 m (GDR). The results indicate that ALES data are more reliable within 10 km of the coastline, whereas GDR data perform better beyond 10 km. Furthermore, a combination of both datasets is recommended for improved tidal representation in the coastal zone of West Sumatra.Keywords: altimetry satellite, coastal zone, harmonic analysis, sea level, tide gaug