Jurnal Kelautan: Indonesian Journal of Marine Science and Technology
Not a member yet
453 research outputs found
Sort by
FORTIFIKASI PAKAN IKAN DENGAN TEPUNG RUMPUT LAUT Gracilaria sp. PADA BUDIDAYA IKAN NILA (Oreochromis niloticus)
ABSTRACTTilapia is a fishery commodity and plays a role in supporting national food security. The development of tilapia aquaculture needs to be carried out, including the development of feed. Feed fortification with other ingredients can reduce the production costs of tilapia aquaculture. Fortification that can be done includes using seaweed. Seaweed is an algae that is used as raw material in various industries because seaweed has good nutritional content. This study aims to analyze the effect of fortification of fish feed with Gracilaria sp. on growth, survival, feed efficiency and FCR of cultured tilapia. The research method used is an experimental method. This study used a completely randomized design (CRD) using four (4) treatments of fortification of fish feed with Gracilaria sp. Seaweed flour. in the cultivation of tilapia (Oreochromis niloticus) with 3 replications, namely the P1 Control treatment (without the addition of Gracilaria sp. seaweed flour) P2 (Gracilaria sp. 4% seaweed flour), P3 (Gracilaria sp. 8% seaweed flour) , P4 (Gracilaria sp. 12% seaweed flour). Data were analyzed using analysis of variance (ANOVA) at a significant level of 5% with a confidence interval of 95% and continued with the Duncan test. The results showed that the absolute length growth of tilapia during 42 days of rearing with artificial feeding at various fortification concentrations of Gracilaria sp. Seaweed flour. ranged from 8.43 cm -1.2cm. Fortification treatment of Gracilaria sp. 8% (P3) gave the highest average value of growth in absolute weight, namely 32.17 g. The specific weight growth rate of tilapia ranged from 1.34% / day -1.74% / day. Tilapia FCR ranged from 1.79% - 2.31% and the efficiency of feed utilization ranged from 43.37% - 56.29%. The survival rate for tilapia ranged from 73.3% - 76.7%. The conclusion of this study is the fortification of fish feed with seaweed flour Gracilaria sp. can affect the absolute growth of tilapia (Oreochromis niloticus), but does not affect the specific growth rate, FCR value, feed efficiency and survival rate.Keywords: nutrition, food, growth, survival, feed efficiency.ABSTRAKIkan nila merupakan komoditas perikanan dan berperan dalam mendukung ketahanan pangan nasional. Pengembangan budidaya ikan nila perlu terus dilakukan, diantaranya adalah pengembangan pakan. Fortifikasi pakan dengan bahan lainnya dapat mengurangi biaya produksi budidaya ikan nila. Fortifikasi yang dapat dilakukan diantaranya dengan menggunakan rumput luat. Rumput laut merupakan alga yang dimanfaatkan sebagai bahan baku di berbagai industri karena rumput laut memiliki kandungan nutrisi yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh fortifikasi pakan ikan dengan tepung rumput laut Gracilaria sp. terhadap pertumbuhan, kelangsungan hidup, efisiensi pakan dan FCR ikan nila yang dibudidaya. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimental. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan menggunakan empat (4) perlakuan fortifikasi pakan ikan dengan tepung rumput laut Gracilaria sp. pada budidaya ikan nila (Oreochromis niloticus) dengan 3 kali ulangan, yaitu perlakuan P1 Kontrol (tanpa penambahan tepung rumput laut Gracilaria sp.) P2 (tepung rumput laut Gracilaria sp. 4%), P3 (tepung rumput laut Gracilaria sp. 8%), P4 (tepung rumput laut Gracilaria sp. 12%). Data dianalisis menggunakan analysis of variance (ANOVA) pada taraf nyata 5% dengan selang kepercayaan 95% dan dilanjutkan dengan uji Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan panjang mutlak ikan nila selama 42 hari masa pemeliharaan dengan pemberian pakan buatan pada berbagai konsentrasi fortifikasi tepung rumput laut Gracilaria sp. berkisar antara 8,43 cm –1,2cm. Perlakuan fortifikasi tepung rumput laut Gracilaria sp. 8% (P3) memberikan nilai rata-rata pertumbuhan berat mutlak tertinggi yakni 32,17 g. Laju pertumbuhan berat spesifik ikan nila berkisar antara 1,34 %/hari –1,74 %/hari. FCR ikan nila berkisar antara 1,79 % – 2,31% dan efisiensi pemanfaatan pakan berkisar antara 43,37 % – 56,29%. Tingkat kelangsungan hidup ikan nila berkisar antara 73,3 % – 76,7%. Kesimpulan penelitian ini adalah fortifikasi pakan ikan dengan tepung rumput laut Gracilaria sp. dapat mempengaruhi pertumbuhan mutlak ikan nila (Oreochromis niloticus), namun tidak berpengaruh terhadap laju pertumbuhan spesifik, nilai FCR, efisiensi pakan dan tingkat kelangsungan hidupnya. Kata kunci : Nutrisi, pangan, pertumbuhan, kelangsungan hidup, efisiensi pakan
DETEKSI AWAL HABITAT PERAIRAN LAUT DANGKAL MENGGUNAKAN TEKNIK OPTIMUM INDEX FACTOR PADA CITRA SPOT 7 DAN LANDSAT 8
ABSTRACTInformation of the existence of the shallow water habitat is required especially in environmental conservation and monitoring of activities in coastal areas. The component of the shallow water habitat including coral reefs and seagrass. Interpretation of the shallow water habitat is constrained by the location of ecosystem associated with other objects. The aim of study is to determine the best combination of band composites in identifying the shallow water habitat in Pemuteran Beach, Bali. The study used SPOT 7 imagery (acquisition on April 11, 2018) and Landsat 8 imagery (acquisition on April 14, 2018). The data of the shallow water habitat based on the result of field survey was conducted on 7-13 April 2018 at Pemuteran Beach, Bali. Image data obtained from Remote Sensing Technology and Data Center of LAPAN. Determination of combination of 3 (three) bands the shallow water habitat using Optimum Index Factor (OIF) method where this method used standard deviation value and correlation coefficient from combination of 3 (three) bands. The results show the composite combinations of band 2 (green), band 3 (red) and band 4 (NIR) have the highest OIF values for SPOT 7 image, while the composite combinations of band 2 (blue), band 4 (red) and band 6 (SWIR 1) have the highest OIF values for Landsat 8 image. Interpretation of distribution of shallow water habitat can be done effectively using RGB 423 composite image (SPOT 7) and RGB 642 composite image (Landsat 8). Keywords: Shallow Water Habitat, OIF, SPOT 7, Landsat 8, PemuteranABSTRAKInformasi keberadaan habitat perairan laut dangkal semakin dibutuhkan terutama dalam kegiatan pelestarian lingkungan dan monitoring di wilayah pesisir. Komponen penyusun ekosistem habitat dasar perairan laut dangkal di antaranya terumbu karang dan lamun. Dalam interpretasi ekosistem habitat dasar perairan laut dangkal terkendala oleh lokasi keberadaan ekosistem yang berasosiasi dengan obyek lainnya. Tujuan penelitian ini adalah menentukan kombinasi komposit kanal terbaik dalam mengidentifikasi obyek habitat dasar perairan laut dangkal di Pantai Pemuteran, Bali. Data citra satelit yang digunakan dalam penelitian ini adalah citra SPOT 7 akuisisi tanggal 11 April 2018 dan citra Landsat 8 akuisisi tanggal 14 April 2018, sedangkan data terkait informasi sebaran habitat dasar perairan laut dangkal diperoleh berdasarkan hasil survei lapangan yang telah dilakukan pada tanggal 7-13 April 2018 di Pantai Pemuteran, Bali. Data citra satelit diperoleh dari Pusat Teknologi dan Data LAPAN. Untuk menentukan kombinasi dari 3 (tiga) kanal terbaik dalam interpretasi habitat dasar perairan laut dangkal digunakan metode Optimum Index Factor (OIF) dimana metode ini menggunakan nilai standar deviasi dan koefisien korelasi dari kombinasi 3 (tiga) kanal citra yang digunakan. Hasil penelitian menunjukkan kombinasi komposit 2 (hijau), 3 (merah) dan 4 (NIR) mempunyai nilai OIF tertinggi untuk citra SPOT 7, sedangkan kombinasi komposit 2 (biru), 4 (merah) dan 6 (SWIR 1) mempunyai nilai OIF tertinggi untuk citra Landsat 8. Interpretasi sebaran habitat dasar perairan laut dangkal dapat dilakukan secara efektif dengan menggunakan citra komposit RGB 423 untuk citra SPOT 7 dan RGB 642 untuk citra Landsat 8.Kata kunci: Habitat Dasar Perairan Dangkal, OIF, SPOT 7, Landsat 8, Pemutera
HUBUNGAN PERSEN PENUTUPAN LAMUN DAN STRUKTUR KOMUNITAS ECHINODERMATA DI PULAU RA’AS
ABSTRACTSeagrass beds are one of the ecosystems that support a variety of life in the sea. Various types of biota live around seagrass beds, one of which is Echinodermata. Echinodermata has a role as a detritus eater in seagrass plants. The association of Echinodermata and seagrass species can be used to see the suitability of a habitat for the existence of species that live in seagrass ecosystems. The purpose of this study was to determine the associations of Echinoderms and Seagrasses on Ra'as Island, Brakas Village, Telangoh Tengah Hamlet, Sumenep Regency, East Java. This research was conducted in November-December 2018. The method used is the quadratic method placed on the transect line with the size of each quadrant of 1x1 m. The association of Echinodermata and Seagrass relationships between Echinoderms and Seagrasses was analyzed by simple linear regression. The results showed that there were 4 species of Echinoderms and 3 species of seagrass. Diversity, uniformity and dominance of Echinoderms at each is low. The association of Echinoderms and Seagrasses showed that seagrass results and Echinodermata did not have a significant relationship. The influencing factor is that most Echinoderms found are Echinoderms, which occupy coral reef ecosystems such as Diadema sitosum, which is most often found at each station.Keywords: Seagrass, Community Structure, Relationship to Seagrasses and Echinoderms, Ra'as IslandABSTRAKPadang lamun adalah salah satu ekosistem yang menyangga berbagai kehidupan di laut. Berbagai macam biota hidup disekitar padang lamun salah satunya adalah Echinodermata. Echinodermata memiliki peranan sebagai pemakan detritus pada tumbuhan lamun. Asosiasi spesies Echinodermata dan lamun dapat digunakan untuk melihat tingkat kesesuaian suatu habitat bagi keberadaan spesies yang hidup pada ekosistem padang lamun. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui asosiasi Echinodermata dan lamun di Pulau Ra’as, Desa Brakas, Dusun Telangoh Tengah, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November-Desember 2018. Metode yang digunakan metode kuadrat yang diletakkan pada garis transek dengan ukuran tiap kuadran 1x1 m. Asosiasi Echinodermata dan lamun hubungan Echinodermata dan lamun dianalisis dengan regresi linier sederhana. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 4 spesies Echinodermata dan 3 spesies lamun. Keanekaragaman, keseragaman, dan dominasi Echinodermata pada setiap stasiun adalah rendah. Asosiasi Echinodermata dan lamun menunjukkan hasil tidak memiliki hubungan yang signifikan. Faktor yang mempengaruhi adalah kebanyakan Echinodermata yang di temukan adalah Echinodermata yang menempati ekosistem terumbu karang seperti Diadema sitosum yang paling sering ditemukan pada setiap stasiun.Kata Kunci: Lamun, Struktur Komunitas, Hubungan Lamun dan Echinodermata, Pulau Ra’a
ANALISIS KONDISI KESEHATAN TERUMBU KARANG DENGAN MENGGUNAKAN SOFTWARE CPCE (CORAL POINT COUNT WITH EXCEL EXTENSIONS) DI TAMAN NASIONAL KOMODO, NUSA TENGGARA TIMUR
ABSTRACTCoral reef is one of the coastal ecosystems that has an important role as a place to look for food, shelter, and breeding grounds for other biotas. Besides, the ecological aspects of coral reefs as a coastal protectors from waves and abrasion. CPCe (Coral Points Count with Excel extension) is used to observe or monitoring reefs ecpsystems. The photo that will be taken using the Underwater Photo Transect (UPT) method from 9 observation stations in Komodo’s Waters will be used as this research database. The photos consists of 50 photos for each station. Photos were taken, assuming can represent the Komodo Waters. Each photo processed in the CPCe, using 30 random points. The results showed the highest hard coral percentage cover at station 2 is 58.36%, while the lowest hard coral percentage cover at station 7 is 5.07%. Hard coral cover in Komodo waters has a percentage of 23.62% categorized in the damaged state.Keywords: coral reef; CPCe, Komodo IslandABSTRAKTerumbu karang merupakan salah satu ekosistem pesisir yang memiliki peranan penting sebagai tempat mencari makan, tempat tinggal, dan tempat berkembang biak biota lain. Selain itu, aspek ekologis terumbu karang yaitu sebagai pelindung pantai dari terpaan gelombang dan abrasi. CPCe (Coral Point Count with Excel extensions) digunakan untuk mengamati atau memantau terumbu karang. Data yang digunakan adalah hasil foto yang diambil menggunakan metode Underwater Photo Transect (UPT) dari 9 stasiun pengamatan di Perairan Komodo. Foto tersebut terdiri dari 50 foto untuk setiap stasiunnya. Foto yang diambil dengan asumsi dapat mewakili stasiun yang digunakan. Setiap foto yang diolah dalam CPCe digunakan 30 titik acak. Hasil penelitian menunjukkan tutupan karang keras tertinggi terdapat di stasiun 2 sebesar 58,36%, sedangkan tutupan karang keras terendah pada stasiun 7 dengan nilai sebesar 5,07%. Tutupan karang keras di Perairan Komodo memiliki persentase sebesar 23,62% yang termasuk dalam kategori rusak.Kata kunci: terumbu karang, CPCe, Perairan Komod
Karakteristik Geokimia Phosphor Sedimen Permukaan Perairan Mangunharjo (Semarang) Dan Marunda (Jakarta)
ABSTRACTThe waters of Mangunharjo, Semarang and Marunda, Jakarta are located in the area of industrial and dense population. There is the activity of industrial, household, urban waste and agricultural in the land or along the river upstream can potentially as a source of pollutants and impacting the aquatic environment. Pollutants get into the water together with a suspension of sediment through river water flow and precipitation in the coastal environment. The study aims to determine the geochemical characteristics of sedimentary phosphor from two different locations. Determination of the phosphate fraction of sediment, using sequential determination extraction (SEDEX). The results showed that the concentration of the inorganic phosphorus sediment fraction has a similar relative distribution of Mangunharjo and Marunda waters i.e. Fe-P Ca-P Ads-P. The concentration of Ads-P, Ca-P, and Fe-P in Mangunharjo water is between 0.20-0.26 μmol g-1, 2.77-3.60 μmol g-1, and 4.60-5.74 μmol g-1 and Marunda water is between 0.28-0.61 μmol g-1, 2.91-4.13 μmol g-1, and 0.92-2.83 μmol g-1, respectively. The grain size of sediments and current patterns affect the distribution of phosphorus fraction.Keywords: Phosphorus fraction, surface sediments, Mangunharjo, MarundaABSTRAKPerairan Mangunharjo, Semarang dan Marunda, Jakarta berada didaerah kawasan industri dan padat penduduk. Terdapatnya aktivitas industri, rumah tangga, limbah perkotaan dan pertanian di daratan ataupun di sepanjang hulu sungai dapat berpotensi sebagai sumber pencemar dan berdampak bagi lingkungan perairan. Bahan pencemar masuk ke perairan bersama-sama muatan sedimen tersuspensi melalui aliran air sungai dan mengalami pengendapan di lingkungan pantai. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik geokimia sedimen phosphor dari dua lokasi yang berbeda. Penentuan lokasi penelitian menggunakan metode purposive sampling. Penentuan fraksi phosphat sedimen, menggunakan ekstraksi bertingkat (SEDEX). Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi dari fraksi inorganic phosphor sedimen memiliki distribusi relatif yang serupa antara Perairan Mangunharjo dan Marunda yaitu Fe-P Ca-P Ads-P. Konsentrasi Ads-P, Ca-P, dan Fe-P di Perairan Mangunharjo adalah antara 0.20 - 0.26 μmol g-1, 2.77 - 3.60 μmol g-1, dan 4.60 - 5.74 μmol g-1 dan Perairan Marunda adalah antara 0.28 - 0.61 μmol g-1, 2.91 - 4.13 μmol g-1, dan 0.92 - 2.83 μmol g-1, secara berurutan. Ukuran butir sedimen dan pola arus mempengaruhi konsentrasi fraksi fosfat pada kedua perairan tersebut.Kata Kunci : Fraksi phosphor, Sedimen permukaan, Mangunharjo, MarundaPerairan Mangunharjo, Semarang dan Marunda, Jakarta berada didaerah kawasan industri dan padat penduduk. Terdapatnya aktivitas industri, rumah tangga, limbah perkotaan dan pertanian di daratan ataupun di sepanjang hulu sungai dapat berpotensi sebagai sumber pencemar dan berdampak bagi lingkungan perairan. Bahan pencemar masuk ke perairan bersama-sama muatan sedimen tersuspensi melalui aliran air sungai dan mengalami pengendapan di lingkungan pantai. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik geokimia sedimen phosphor dari dua lokasi yang berbeda. Penentuan lokasi penelitian menggunakan metode purposive sampling. Penentuan fraksi phosphat sedimen, menggunakan ekstraksi bertingkat (SEDEX). Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi dari fraksi inorganic phosphor sedimen memiliki distribusi relatif yang serupa antara Perairan Mangunharjo dan Marunda yaitu Fe-P Ca-P Ads-P. Konsentrasi Ads-P, Ca-P, dan Fe-P di Perairan Mangunharjo adalah antara 0.20 - 0.26 μmol g-1, 2.77 - 3.60 μmol g-1, dan 4.60 - 5.74 μmol g-1 dan Perairan Marunda adalah antara 0.28 - 0.61 μmol g-1, 2.91 - 4.13 μmol g-1, dan 0.92 - 2.83 μmol g-1, secara berurutan. Ukuran butir sedimen dan pola arus mempengaruhi konsentrasi fraksi fosfat pada kedua perairan tersebut
PENGARUH PENGGUNAAN AMPAS TAHU TERFERMENTASI MENGGUNAKAN MIKROORGANISME MIX TERHADAP KINERJA PERTUMBUHAN JUVENIL UDANG VANAME (Litopenaeus vannamei)
ABSTRACTThis study aims to determine the effect of the use of fermented tofu dregs using mix microorganisms on the growth of vaname shrimp (Litopenaeus vannamei). Test animals used in this study were 22-day-old vaname shrimp (PL 22) with an initial weight of ± 0.09 g. This study uses a completely randomized design (CRD) consisting of 4 treatments and 3 replications to obtain 12 experimental units, namely PA (5% fermented tofu waste) PB (10% fermented tofu waste) PC (15% fermented tofu waste) PD (20% fermented tofu pulp). The results showed that the treatment of various doses of fermented tofu dregs using Microorganism Mix significantly affected the growth rate and survival but did not affect the level of consumption of vaname shrimp feed. 15% fermented tofu pulp dosage is the best treatment for absolute growth, survival and consumption level of vaname shrimp feed Keywords: Tofu waste, mixed microorganisms, vaname shrimp, absolute growth, survival ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan ampas tahu terfermentasi menggunakan mikroorganisme mix terhadap pertumbuhan udang vaname (Litopenaeus vannamei). Hewan uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah udang vaname umur 22 hari (PL 22) dengan bobot awal ± 0,09 g. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri dari 4 perlakuan dan 3 kali ulangan sehingga diperoleh 12 unit percobaan, yakni PA (5 % ampas tahu terfermentasi) PB (10 % ampas tahu terfermentasi) PC (15 % ampas tahu terfermentasi) PD (20 % ampas tahu terfermentasi). Hasil penelitian menunjukkan perlakuan berbagai dosis ampas tahu terfermentasi menggunakan Mikroorganisme Mix berpengaruh nyata terhadap laju pertumbuhan dan sintasan tetapi tidak berpengaruh terhadap tingkat konsumsi pakan udang vaname. Dosis ampas tahu terfermentasi sebanyak 15% merupakan perlakuan terbaik untuk pertumbuhan mutlak, kelangsungan hidup dan tingkat konsumsi pakan udang vanameKata kunci : Ampas tahu, mikroorganisme mix, udang vaname, pertumbuhan mutlak, kelangsungan hidu
PERTUMBUHAN YUWANA ABALON (Haliotis squamata) YANG DIBERI PAKAN Ulva sp. DENGAN PENGKAYAAN UREA
ABSTRACTThis study aims to determine the effect of different concentrations of urea as a source of nitrogen in Ulva sp. on absolute growth and daily specific growth rate of abalone juvenile (Haliotis squamata) as two main parameters in the experiment. Ulva sp. is one of the feed choices given when abalone enters the juvenile phase. This research was conducted on July 22-September 16 2019 at the Aquaculture Fisheries Center, Sekotong, West Lombok. The method used in this study is an experimental method with a Completely Randomized Design (CRD) consisting of 4 treatments and 3 replications namely A (control), B (20 ppm), C (40 ppm), D (60 ppm). Results of analysis of variance (ANOVA) at 5% significance level showed (F hit F tab 5%), which means the difference in the concentration of urea in Ulva sp. provide a real influence on the growth of absolute body weight and the specific growth rate of daily body weight abalone juvenile.Keywords: Ulva sp., Haliotis squamata, growth, nitrogen.ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kandungan konsentrasi urea yang berbeda sebagai sumber nitrogen pada Ulva sp. terhadap pertumbuhan mutlak dan laju pertumbuhan spesifik harian yuwana abalon (Haliotis squamata) sebagai dua parameter utama dalam percobaan. Ulva sp. merupakan salah satu pilihan pakan yang diberikan saat abalon memasuki fase yuwana. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 22 Juli-16 September 2019 bertempat di Balai Perikanan Budidaya Laut, Sekotong, Lombok Barat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 4 perlakuan dan 3 ulangan yaitu A (kontrol), B (20 ppm), C (40 ppm), D (60 ppm). Hasil analisis sidik ragam (ANOVA) pada taraf nyata 5% menunjukkan (F hit F tab 5%) yang artinya perbedaan kandungan konsentrasi urea pada Ulva sp. memberikan pengaruh nyata bagi pertumbuhan mutlak bobot tubuh dan laju pertumbuhan spesifik harian bobot tubuh yuwana abalon.Kata Kunci: Ulva sp., Haliotis squamata, pertumbuhan, nitrogen
REGENERASI RUMPUT LAUT Gracilaria sp. MELALUI PROPAGASI SECARA EX VITRO
ABSTRACT This study aims to observe the growth of Gracilaria sp. seaweed seedlings through ex vitro propagation. Thallus was cut into thallus fragments measuring ± 2-3 cm. The treatments tested were different types of nutrients and thallus densities. The nutrients used were Provasoli Enriched Sea Water (PES) 20 mL/L, organic fertilizer A (0,05 mL/L), organic fertilizer B (0,05 mL/L) and without fertilizer; while the densities of the thallus fragment tested were 2 g/L; 2,5 g/L and 3 g/L. Thallus fragments were maintained for 8 weeks with media renewal and thallus weighing every week. Shoot length was measured and number of shoots was calculated at the end of the observation. Then, the seedlings were acclimatized at the sea for 8 weeks by binding every 10 thallus fragments to each clump rope in a net box with a side length of 50 cm. Growth was observed by weighing thallus fragments every 4 weeks. The results showed that organic fertilizer A provided better seedling growth compared to other types of fertilizers. The highest Daily Growth Rate (DGR) and shoot length occurred at a density of 2 g/L, but the number of shoots at three densities did not differ at an average of 5 shoots per thallus fragment. The highest average DGR of seedlings during acclimatization reached 4,85%/day in the first month, then decreased to 2,05%/day in the second month. Ex vitro propagation can be used as an alternative effort to propagate the seedlings of Gracilaria sp. by paying attention to the physical condition of the growth environment, especially the temperature and light intensity. Keywords: ex vitro, Gracilaria sp., propagation, regeneration ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengamati pertumbuhan bibit rumput laut Gracilaria sp. melalui propagasi ex vitro. Talus dipotong menjadi fragmen talus berukuran ±2-3 cm. Perlakuan yang diuji yaitu jenis nutrisi dan kepadatan talus yang berbeda. Nutrisi yang digunakan adalah Provasoli’s Enriched Seawater (PES) sebanyak 20 mL/L, pupuk organik A (0,05 mL/L), pupuk organik B (0,05 mL/L) dan tanpa pupuk; sedangkan kepadatan fragmen talus yang yang diuji adalah 2 g/L; 2,5 g/L dan 3 g/L. Fragmen talus dipelihara selama 8 minggu dengan pembaruan media dan penimbangan bobot talus setiap minggu. Panjang tunas diukur dan jumlah tunas dihitung di akhir pengamatan. Kemudian, bibit diaklimatisasi di laut selama 8 minggu dengan mengikat tiap 10 fragmen talus pada tiap tali rumpun dalam kotak hapa dengan panjang sisi 50 cm. Pertumbuhan diamati dengan menimbang fragmen talus setiap 4 minggu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pupuk organik A memberikan pertumbuhan bibit yang lebih baik dibandingkan jenis pupuk yang lain. Laju Pertumbuhan Harian (LPH) dan panjang tunas tertinggi terjadi pada kepadatan 2 g/L, namun jumlah tunas pada tiga kepadatan tidak berbeda yaitu rata-rata 5 tunas per fragmen talus. Rataan LPH tertinggi saat aklimatisasi mencapai 4,85 %/hari pada bulan pertama, kemudian menurun menjadi 2,05 %/hari di bulan kedua. Propagasi ex vitro dapat dijadikan salah satu upaya alternatif perbanyakan bibit Gracilaria sp. dengan memperhatikan kondisi fisik pemeliharaan, terutama suhu dan intensitas cahaya. Kata kunci : ex vitro, Gracilaria sp., propagasi, regeneras
DESAIN DAN MANUFAKTUR MINI CIRCULATING WATER CHANNEL TANK UNTUK PENGUJIAN PROTOTYPE KAPAL GUNA MENGETAHUI KARAKTERISTIK HIDRODINAMIKA LAMBUNG KAPAL DAN PERILAKU GERAKAN KAPAL
ABSTRACTAs a coastal area, Banyuwangi has a variety of marine potential that can be harness, both in terms of tourism and in terms of fishing. This certainly must be equipped with ships that the design are in accordance with the conditions of the Banyuwangi sea, and the special purpose of the ship. So it is become necessary to test hydrodynamic characteristic of the ship hull. Hydrodynamics testing is one of the engineering subject in the field of naval architecture technology. This field, studies the behavior of the object motion or ships hull that are in the water. The existence and movement of objects in water create a boundary layer where if the boundary layer is wider the consequence is resistance will increase, so that the ship's fuel consumption also increases. The hydrodynamic analysis in this study is based on the observation method of water flow generated by the ship's prototype, and the ship's maneuver conditions. For this reason, in this research, an experimental test equipment for fast boat (tourism) and fishing boat needs to be designed. The equipment is a Mini Circulating Water Channel Tank, this experimental device can help the design stages of fast boats and fishing boats before fabrication, so it is able to minimize design failure. Mini Circulating Water Channel Tank is designed with a length of about 3 meters and a height of 2 meters with a maximum flow speed of 4 m / s and in the upper position will be given a special suspension clamp to provide a feasible simulation of ships sailing on the high seas, so as to provide data accurate regarding the condition of the hull and the behavior of the ship's movements.Keywords: Mini Circulating Water Channel Tank, Hydrostatic Test. ABSTRAK Sebagai daerah pesisir, Banyuwangi memiliki berbagai macam potensi laut yang bisa dimanfaatkan, baik itu dari segi pariwisata maupun dari segi penangkapan ikan. Hal ini tentu harus di lengkapi dengan kapal-kapal dengan desain yang sesuai dengan kondisi laut Banyuwangi dan tujuan khusus kapal tersebut. Sehingga diperlukannya pengujian hidrodinamis terhadap lambung kapal. Hidrodinamika atau pengujian hidrodinamis merupakan ilmu keteknikan di bidang teknologi perkapalan. Bidang ilmu ini mempelajari perilaku gerakan benda atau kapal yang berada di air. Keberadaan dan pergerakan benda di air menimbulkan apa yang disebut lapisan batas atau boundary layer dimana jika boundary layer semakin lebar maka konsekuensinya adalah besarnya hambatan tenaga penggerak sehingga konsumsi bahan bakar kapal meningkat. Analisa hidrodinamika pada penelitian ini didasarkan pada metode observasi aliran air yang di hasilkan oleh prototype kapal, dan kondisi manuver kapal. Untuk itu dalam penelitian ini, perlu dirancang sebuah peralatan eksperimen pengujian untuk kapal cepat (pariwisata) dan kapal nelayan. Peralatan tersebut adalah Mini Circulating Water Channel Tank, piranti percobaan ini dapat membantu tahap desain kapal cepat dan kapal nelayan sebelum fabrikasi, sehingga dapat meminimalkan kegagalan desain yang disebabkan oleh cacat pada lambung kapal. Mini Circulating Water Channel Tank dirancang dengan ukuran panjang sekitar 3 meter dan tinggi 2 meter dengan kecepatan aliran maksimal 4 m/s dan di posisi atas akan di berikan penjepit bersuspensi khusus untuk memberikan simulasi layak nya kapal berlayar di lautan lepas, sehingga mampu memberikan data yang akurat mengenai kondisi lambung kapal dan perilaku gerakan kapal. Kata Kunci: Mini Circulating Water Channel Tank, Uji Hidrodinamika Kapal