Jurnal Kelautan: Indonesian Journal of Marine Science and Technology
Not a member yet
    453 research outputs found

    FRONT COVER

    No full text

    Back Matter

    No full text

    Front Matter

    No full text

    Analisis Sebaran Suhu Permukaan Laut Di Laut Banda Tahun 2017 – 2019 Menggunakan Data Dari Sensor Amsr-2

    No full text
    ABSTRACTSea Surface Temperature (SST) measurement is one of the ten key variable in ocean climate change variable. SST can be measure using earth observing satellite (EOS) using thermal infrared or microwave spectrum in instrument such as MODIS or AMSR-2, making way for much complex study regarding rising ocean temperature. Observations using microwave-based sensor, has proven to be useful to measure SST, especially because the sensor capability to penetrate cloud and ignore atmospheric biases. The purpose of this study is to analyze the distribution of SST in Banda Sea using AMSR-2 and OISST data which were processed using IDL software. The result of this study has shown that, the average temperature in Banda Sea is 26oC – 30oC in period of 2017 – 2019, the year 2019 has lower average temperature compare to the year 2017. The yearly temperature also shown that the month of December has the highest average temperature and the lowest temperature happen in the month of august. Keywords: Sea Surface Temperature, IDL, AMSR-2 Instrument, and Remote SensingABSTRAKPengukuran Suhu Permukaan Laut (SST) adalah salah satu dari sepuluh variabel kunci dalam variabel perubahan iklim lautan. SST dapat diukur dengan menggunakan satelit pengamat bumi (EOS) dengan menggunakan spektrum inframerah termal atau gelombang mikro dalam instrumen seperti MODIS atau AMSR-2, sehingga membuka jalan bagi studi yang jauh lebih kompleks terkait dengan kenaikan suhu laut. Pengamatan menggunakan sensor berbasis gelombang mikro, terbukti bermanfaat untuk mengukur SST, terutama karena kemampuan sensornya untuk menembus awan dan mengabaikan bias atmosfer. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis sebaran SPL di Laut Banda dengan menggunakan data AMSR-2 dan OISST yang kemudian diolah menggunakan perangkat lunak IDL. Hasil pengolahan data menunjukan bahwa dalam rentang 2017 – 2019, Suhu Permukaan Laut di Laut Banda memiliki rata – rata sebesar 26oC – 30oC dengan tahun 2019, memiliki suhu rata – rata yang lebih rendah, selain dari itu, pola tahunan suhu permukaan di Laut Banda adalah suhu tertinggi terjadi di bulan desember, dan suhu terendah terjadi di bulan agustus.  Kata Kunci: Suhu Permukaan Laut (SPL), IDL, Sensor AMSR-2, dan Penginderaan Jau

    Struktur Populasi Ikan Endemik Banggai Cardinalfish (Pterapogon kauderni) Yang Diintroduksi Di Perairan Pulau Bokori – Sulawesi Tenggara

    No full text
    ABSTRACTBanggai cardinalfish (Pterapogon kauderni) has been introduced and has spread around Bokori Island, Southeast Sulawesi. This study aims to determine the population of P. kauderni in the waters of Bokori Island from the aspect of density, body length distribution, and microhabitat. This study used the belt transect method at three observation stations, with three replications for each station to observe of the fish population’s density. Overall, fish density is in the range of 13.67±1.53 individuals/100 m2 to 36.67±4.62 individuals/100 m2. The distribution of fish body size (Total Length/TL) that is observed varies moderately, ranging from 0.5 cm to 5.5 cm. Microhabitat preferences that are associated with fish include sea anemones (57.3%), coral Millepora (28.5%), and sea urchins Diadema (14.2%). Despite the presence of other fish species in the same microhabitat, P. kauderni coexists with other fish species peacefully.Keywords: Pterapogon kauderni, density, body length, microhabitatABSTRAKIkan Banggai cardinal (Pterapogon kauderni) telah diintroduksi dan telah menyebar di sekitar Pulau Bokori, Sulawesi Tenggara.  Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengestimasi kepadatan, sebaran ukuran tubuh dan mikrohabitat ikan P. kauderni di perairan Pulau Bokori. Pengamatan kondisi populasi ikan menggunakan metode transek sabuk pada 3 stasiun pengamatan, dengan 3 ulangan setiap stasiun. Secara keseluruhan kepadatan ikan berada pada kisaran 13.67±1.53 individu/100 m2 sampai 36.67±4.62 individu/100 m2. Sebaran ukuran tubuh ikan (Panjang Total/TL) yang telah berhasil diamati cukup bervariasi yaitu antara 0.5 cm hingga 5.5 cm. Pilihan mikrohabitat yang berasosiasi dengan ikan antara lain anemon laut (57.3%), karang api dari genus Millepora (28.5%) dan bulu babi genus Diadema (14.2%). Meskipun terdapat jenis ikan lain dalam mikrohabitat yang sama, P. kauderni hidup berdampingan dengan jenis ikan lain tanpa saling mengganggu. Kata kunci: Pterapogon kauderni, kepadatan, ukuran, mikrohabita

    Tingkat Kelulusan Hidup Propagul Rhizophora sp. Di Area Restorasi Mangrove Pada Kawasan Pesisir Tanjung Pisau Dan Tanah Merah, Kabupaten Bintan

    No full text
    ABSTRACTThis research is based on the importance of the role of mangroves to the needs of coastal ecosystems, because they have high economic and ecological value. The main problem in the mangrove ecosystem is the occurrence of logging and degradation for several purposes and purposes. Therefore, it is necessary to understand and understand the importance of rehabilitation and restoration, especially for the Bintan Regency area. So far, the restoration that has been carried out is using the seedling method. Mangrove Restoration Activities in the Tanah Merah and Tanjung Pisau areas, Bintan Regency using Rhizophora sp. The purpose of the study was to determine the survival rate and the level of community awareness of mangrove restoration activities in the coastal areas of Tanjung Pisau and Tanah Merah, Bintan Regency. This research uses purposive sampling method. Determination of sampling points in accordance with the points selected in government programs that have been carried out by taking into account the ability to represent each region. Monitoring is carried out using plots where in 1 plot there will be 33 mangroves planted with a 3x1 pattern, and 10 plots will be monitored for each area. The results showed that the survival rate for each region was Tanah Merah 58% and Tanjung Pisau 85% which were quite successful. While the level of public awareness is also quite good with a percentage of 73.4%.Keywords: Awareness, Mangrove, Restoration, Bintan IslandABSTRAKPenelitian ini didasari oleh pentingnya peranan mangrove terhadap kebutuhan ekosistem pesisir, karena memiliki nilai ekonomis dan ekologis yang tinggi. Permasalahan utama pada ekosistem mangrove adalah terjadinya penebangan dan degradasi untuk beberapa kepentingan dan peruntukan. Maka dari itu, perlunya memahami dan mengerti akan pentingnya rehabilitasi dan restorasi terutama untuk kawasan daerah Kabupaten Bintan. Selama ini restorasi yang telah dilakukan menggunakan cara pembibitan(penyemaian). Kegiatan Restorasi Mangrove pada wilayah Tanah Merah dan Tanjung Pisau, Kabupaten Bintan menggunakan cara pembenihan propagul Rhizophoran sp. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui tingkat kelulusan hidup dan tingkat kepedulian (awareness) masyarakat terhadap kegiatan Restorasi mangrove pada kawasan pesisir Tanjung Pisau dan Tanah Merah, Kabupaten Bintan. Penelitian ini menggunakan metode Purposive Sampling. Penentuan titik sampling sesuai dengan titik yang dipilih dalam program pemerintah yang sudah dilakukan dengan memperhatikan kecakupan mewakili setiap daerahnya. Pemantauan dilakukan dengan menggunakan plot dimana dalam 1 plot akan didapati 33 mangrove yang ditanam dengan pola 3x1, dan akan dipantau 10 plot untuk masing-masing wilayah. Hasil penelitian menunjukkan tingkat kelulusan hidup masing-masing daerah adalah Tanah Merah 58% dan Tanjung Pisau 85% yang tergolong cukup berhasil. Sedangkan tingkat kepedulian masyarakat juga tergolong baik dengan mencapai persentase 73,4%. Kata kunci: Kepedulian , Mangrove, Restorasi, Pulau Binta

    Back Cover

    No full text

    Perbedaan dan Hubungan Nitrat, Fosfat Dengan Kelimpahan Fitoplankton Pada Saat Air Pasang dan Surut di Muara Ujung Piring Bangkalan

    No full text
    ABSTRACT Estuaries are dynamic waters that are dominated by tides, so these waters are classified as fertile.  The fertility of the estuary cannot be separated from the high abundance of phytoplankton, nitrate and phosphate.  Nutrient values and abundance of phytoplankton can be influenced by the phenomenon of tidal sea water.  The purpose of this study was to determine the differences and the correlation between the concentration of nitrate phosphate and the abundance of phytoplankton at high and low tide.  The method used in this research is descriptive quantitative and purposive sampling.  The data obtained were analyzed using SPSS 16.0 software.  The results showed that nitrate concentrations at high tide ranged from 0.28 to 13.49 Mg/L while at low tide it ranged from 0.31 to 15.60 Mg/L.  The concentration of phosphate from the results of the study, namely at high tide, ranged from 0.01 - 2.39 Mg/L, while at low tide it was 1.09 - 3.92 Mg/L.  The abundance of phytoplankton obtained at high tide ranged from 165,900 - 1,554,000 Ind/L while at low tide it ranged from 80,500 - 373,100 Ind/L.  From the results of SPSS 16.0 analysis, it is known that the difference in nitrate concentration at high tide and low tide is 0.710 0.05, which means that the nitrate concentration at high tide and low tide is not significantly different.  The difference in the concentration of phosphate and phytoplankton at high and low tides were 0.004 0.05 and 0.003 0.05.  which means the concentration of phosphate and abundance of phytoplankton is significantly different. Analysis of the relationship between the concentration of nitrate, phosphate and the abundance of phytoplankton at high tide has an R value of 0.94 which is categorized as a very strong correlation.  While the relationship between the concentration of nitrate and phosphate with the abundance of phytoplankton at low tide is 0.64, it can be categorized that there is a fairly strong correlation. Keyword: Phytoplankton, Phospate, Nitrate, Ujung Piring Bangkalan.ABSTRAKMuara merupakan perairan dinamis yang didominasi oleh pasang surut air, sehingga perairan tersebut tergolong subur. Kesuburan muara tidak lepas dari tingginya nilai kelimpahan fitoplankton, nitrat dan fosfat. Nilai nutrien dan kelimpahan fitoplankton dapat dipengaruhi oleh fenomena pasang surut air laut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan dan hubungan konsentrasi nitrat fosfat dan kelimpahan fitoplankton pada saat air pasang dan surut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif dan purposive sampling. Data yang diperoleh di analisa menggunakan software SPSS 16.0. Hasil penelitian menunjukkan konsentrasi nitrat pada saat pasang berkisar antara 0,28 - 13,49 Mg/L sedangkan pada saat surut berkisar 0,31 - 15,60 Mg/L. Konsentrasi fosfat dari hasil penelitian yaitu pada saat pasang berkisar 0,01 - 2,39 Mg/L sedangkan pada saat kondisi surut sebesar 1,09 - 3,92 Mg/L. Kelimpahan fitoplankton yang diperoleh pada saat air pasang berkisar antara 165.900 - 1.554.000 Ind/L sedangkan pada saat air surut berkisar antara 80.500 - 373.100 Ind/L. Dari hasil analisa SPSS 16.0 diketahui perbedaan konsentrasi nitrat pada saat pasang dan surut adalah sebesar 0,710 0,05 yang berarti konsentrasi nitrat pada saat pasang dan surut tidak berbeda secara signifikan. Perbedaan konsentrasi fosfat dan fitoplankton pada saat air pasang dan surut yaitu 0,004 0,05 dan 0,003 0,05. yang berarti konsentrasi fosfat dan kelimpahan fitoplankton berbeda secara signifikan. Analisa hubungan konsentrasi nitrat, fosfat dengan kelimpahan fitoplankton saat air pasang memiliki nilai R sebesar 0,94 yang dikategorikan berkolerasi sangat kuat. Sedangkan hubungan konsentrasi nitrat dan fosfat dengan kelipahan fitoplankton pada saat air surut adalah sebesar 0,64 dapat dikategorikan bahwa terdapat kolerasi yang cukup kuat.Kata kunci: Fitoplankton, Fosfat, Nitrat, Ujung Piring Bangkalan

    KEANEKARAGAMAN DAN POLA SEBARAN JENIS MANGROVE DI SPTN WILAYAH I BEKOL, TAMAN NASIONAL BALURAN

    No full text
    ABSTRACT           Mangroves in Baluran National Park are one of the natural mangroves on Java Island. Habitat conditions strongly influence mangrove preservation, so any changes can affect species composition. Along with global climate change, it can  directly or indirectly impact on mangroves and their habitat. The purpose of this study was to determine the diversity of species and distribution patterns of mangroves. The research was conducted in mangroves located in SPTNW 1 Bekol Baluran National Park with an area of ± 288.7 ha with a sampling intensity of 0.5% to obtain 145 measuring plots. Data collections of mangrove vegetation use a combination of pathway and sampling plot methods which are placed systematically. Diversity analysis uses the Simpson index and distribution patterns with the dispersion index/variance-mean ratio. The measurements obtained 22 types of mangroves with 13 species at the seedling level, 19 species at the weaning level, and 21 species at the tree level. The highest density was at the seedling level (8,347.32 individuals/ha). The diversity of mangrove species at the seedling level is moderate, while weaning and trees are in the high category. The majority of mangrove species found have a clustered distribution pattern, with the dominant species being Ceriops tagal and Rhizophora apiculata. Keywords: Mangrove, distribution pattern, diversity, species composition, national parkABSTRAKTaman Nasional Baluran memiliki salah satu mangrove alami yang tersisa di Pulau Jawa. Kelestarian mangrove sangat dipengaruhi oleh kondisi habitatnya, sehingga adanya perubahan dapat memengaruhi komposisi jenisnya. Seiring dengan terjadinya perubahan iklim global, maka berpotensi memengaruhi secara langsung atau tidak terhadap mangrove dan habitatnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman jenis dan pola sebarannya. Penelitian dilakukan pada mangrove yang berada di SPTNW 1 Bekol, Taman Nasional Baluran dengan luas ± 288,7 ha dengan intensitas sampling yang digunakan 0,5% sehingga diperoleh 145 petak ukur. Pengambilan data vegetasi mangrove menggunakan kombinasi antara metode jalur dan petak contoh serta diletakkan secara sistematis. Analisis keanekaragaman menggunakan Indeks Simpson dan Pola sebaran dengan Indeks Dispersi/ Rasio Varians-Mean. Hasil pengukuran, jenis mangrove di SPTNW I Bekol ada 22 jenis dengan rincian 13 jenis di tingkat semai, 19 jenis di sapihan, dan 21 jenis pada tingkat pohon. Kerapatan tertinggi pada tingkat semai (8,347.32 individu/ha). Keanekaragaman jenis mangrove pada tingkat semai termasuk sedang, sedangkan sapihan dan pohon berada pada kategori tinggi. Mayoritas jenis mangrove yang ditemukan memiliki pola sebaran mengelompok, dengan jenis dominan berupa Ceriops tagal dan Rhizophora apiculata.Kata kunci: Mangrove, pola sebaran, keanekaragaman, komposisi jenis, taman nasiona

    Pemetaan Terumbu Karang Menggunakan Unmanned Aerial Vehicle (UAV) Di Selatan Pulau Tikus Kota Bengkulu

    No full text
    ABSTRACTRemote sensing can be interpreted as a technology to obtain information on an object on the earth's surface without direct contact with the object to be studied. Along with the development of current technology, the creation of unmanned aircraft technology or UAV (Unmanned Aerial Vehicle). This research was conducted in June 2020 in the southern waters of Tikus Island. The results of mapping coral reefs in the South of Tikus Island using the UAV (Unmanned Aerial Vehicle) obtained an area of 58.22 ha of Tikus Island South and got four classes, namely the living coral area of 15.34 ha. , Dead Coral and Algae 15.60 ha, Sand 8.08 ha, and Rubble 19.20 ha. Accuracy gets a value of 83.3% and this becomes the accuracy of image data with high resolution.Keywords: UAV, Mapping, Coral reefs, Aerial photography, Tikus Island.ABSTRAKPenginderaan jauh dapat diartikan sebagai teknologi untuk memperoleh informasi suatu objek di permukaan bumi tanpa kontak langsung ke objek yang akan dikaji. Seiring berkembangnya teknologi saat ini terciptanya teknologi pesawat tanpa awak atau UAV (Unmanned Aerial Vehicle). Penelitian ini dilakukan pada bulan Juni 2020  di Perairan Selatan Pulau Tikus, Hasil pemetaan terumbu karang di Selatan Pulau Tikus Menggunakan UAV (Unmanned Aerial Vehicle) mendapatkan Luasan Area Selatan Pulau Tikus 58,22 ha dan mendapatkan empat kelas yaitu luasan Karang hidup 15,34 ha, Karang Mati dan Algae 15,60 ha, Pasir 8,08 ha, dan Rubble  19,20 ha. Akurasi mendapatkan nilai 83.3% dan ini menjadi akurasi data citra dengan resolusi tinggi.Kata Kunci: UAV, Pemetaan, Terumbu karang,  Foto udara, Pulau Tikus

    0

    full texts

    453

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Kelautan: Indonesian Journal of Marine Science and Technology
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇