696 research outputs found

    1 KOMPOSISI TANAH KARO DALAM SIMFONI

    No full text
    Karo tribe is a part of Batak tribes family which settled down in middle and west part of the Province of North Sumatra, Indonesia. The other tribes of  Batak tribes family are Angkola, Mandailing, Toba, Dairi/Pak-pak, dan Simalungun tribe. Like the other Indonesian traditional music, Karonese traditional music has a distinctive characteristic like the musical unsure and instrumentation. Karonese traditional music has a potential to be develop into another nuance or form. The work Tanah Karo Dalam Simfoni (Karo Land in Symphony) is a piece that combine the musical principles of western music, like form, harmony, and orchestration with the principles of Karonese traditional music like scale, ornamentation, and rhythm. This work has the symphony form that consist of three movements. The first movement has brilliance nuance in tempo Allegro, the second movement has sad nuance in tempo adagio, and third or last movement has happy and cheerful nuance with more Karonese traditional music influence in tempo allegro. This work is be played by orchestra and Karonese traditional music ansamble.   Keywords: Karo Land, Symphony, Orchestr

    KONTINUITAS ELEMEN PEMBENTUK RUANG DAN ELEMEN DEKORASI PADA MASJID AGUNG TUBAN PERIODE 1987 – SEKARANG

    No full text
    Sebuah bangunan yang sudah tua pasti akan melewati berbagai perubahan dan kerusakan. Begitu juga dengan bangunan Masjid Agung Tuban. Masjid Agung Tuban merupakan salah satu masjid yang memiliki sejarah dalam kemajuan dan perkembangan Islam di Indonesia. Bangunan yang berusia sekitar 120 tahun ini sudah beberapa kali mengalami perubahan dan pemugaran. Berbagai penyesuaian pun telah dilakukan pada bangunan ini. Masjid yang terletak di sebelah barat alun-alun Kota Tuban ini memiliki keindahan arsitektur yang mengkombinasikan arsitektur Kolonial dan arsitektur Islam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kontinuitas elemen pembentuk ruang dan elemen dekorasi pada Masjid Agung Tuban, sejak periode 1987 hingga saat ini.Hasil penelitian menunjukan adanya kontinuitas elemen pembentuk ruang dan elemen dekorasi yang masih tetap dipertahankan pada bangunan Masjid Agung Tuban walau telah beberapa kali mengalami pemugaran dan renovasi.Kata Kunci: Kontinuitas, , elemen pembentuk ruang, elemen dekorasi

    Perancangan Maduranesia Typeface terinspirasi dari ragam hias motif sulur pada ukiran tradisional Sumenep Madura

    No full text
    Perancangan typeface yang mengadaptasi karakter visual ragam hias motif sulur ukiran tradisional Sumenep pada dasarnya merupakan respon kreatif yang dilakukan dalam ranah Desain Komunikasi Visual (DKV) untuk meningkatkan kesadaran (awareness) masyarakat dengan mengenalkan intangible heritage berupa ragam hias ukir khas dari kabupaten Sumenep, Pulau Madura, Jawa Timur, yang kaya historis, filosofis, dan pengaruh dari berbagai kebudayaan masa lampau, namun selama ini sedikit diketahui. Pendekatan pemecahan masalah melalui eksplorasi Tipografi ini bermaksud membuat tradisi ornamentasi ukir tradisional Sumenep menjadi akrab di keseharian dalam medium yang berbeda, yaitu berupa perancangan typeface baru jenis display type dan text type hasil eksplorasi bentuk karakter motif ukir tersebut ke dalam anatomi bentuk huruf latin yang kemudian diberi nama Maduranesia Typeface. Eksplorasi Tipografi dipilih sebagai strategi solutif karena medium Tipografi sangat akrab dan sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari serta sifatnya yang aplikatif-implementatif sesuai dengan konsumsi masyarakat modern yang erat serta dekat dengan budaya komunikasi verbal dan visual saat ini, serta dapat dinikmati dalam jangka waktu yang tak terbatas. Dalam konteks yang lebih besar, Maduranesia typeface dihadirkan dalam rangka menawarkan solusi alternatif untuk mengatasi krisis identitas budaya serta menumbuhkan kebanggaan dan kecintaan pada budaya sendiri yang merepresentasikan muatan budaya seni ukir Sumenep sebagai bagian kekayaan budaya nasional yang mencerminkan kepribadian dan keluhuran budaya Indonesia, sekaligus memunculkan citra Sumenep (Madura) sebagai daerah penghasil ukiran di Indonesia yang bersaing. Sehingga unsur budaya yang ditunjukkan dan dipresentasikan dalam huruf dapat semakin populer, bahkan semakin mendapat pengakuan di mata dunia, dan identitas kebangsaan Indonesia tetap terjaga. Perancangan typeface bernuansa kearifan lokal ini bukan bermaksud mengedepankan rasa kedaerahan, namun sentuhan kearifan lokal (berbasis kekhasan daerah) justru digunakan untuk memunculkan kekuatan nusantara dalam mengekspresikan karakter bangsa melalui eksplorasi Tipografi. Hasil perancangan typeface dengan sentuhan lokal tersebut sekaligus diharapkan dapat memperkaya dan menginspirasi pengekplorasian aksara latin yang memunculkan kekuatan budaya Indonesia.   Kata kunci: Ukir, Sumenep, Madura, typeface, Tipograf

    Jurnal ilmiah gaya expository pada penyutradaraan program feature “muslim ways” episode “jilbabers”

    No full text
    Laporan pertanggungjawaban tugas akhir karya seni “Gaya Expository” pada Penyutradaraan program feature “Muslim Ways” ini berisi tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan proses konsep dan kinerja dalam menciptakan program feature. Konsep yang digunakan untuk merancang program dengan menggunakan pendekatan gaya expository. Objek yang dipilih untuk dijadikan tema program tersebut adalah Jilbaber. Jilbaber adalah istilah bagi pengguna jilbab, berbagai macam jilbab menjadi hal menarik untuk di bahas. Maksud dan tujuan dari penciptaan karya seni ini adalah membuat program feature dengan gaya penyajian expository dengan objek jilbab yang memberikan informasi seputar berbagai macam hijab style, eksistensi jilbab sampai hukum menutup aurat. Konsep estetik yang digunakan dalam penciptaan Karya Seni ini menggunakan Gaya Penyajian Pendekatan Expository. Gaya penyajian ini adalah gaya yang paling efektif dalam menyampaikan informasi yang tidak bisa didukung dengan visual

    Food Photography Sebagai Media Promosi Dalam Media Cetak

    No full text
    Fotografi makanan adalah bagian dari genre fotografi still life yang sangatberperan penting sebagai media promosi periklanan. Fotografi merupakan salah satumedia yang paling sering digunakan untuk kebutuhan berpromosi. Penyajianfotografi makanan sangat penting akan adanya unsur estetetis dalam visual. Sebuahfoto dapat berperan sebagai media penyampaian pesan yang efektif untukmemperoleh kepercayaan meyakinkan konsumen terhadap produk. Sedangkanpromosi bertujuan untuk dapat memberi dan menarik minat konsumen dan fotografimerupakan salah satu media yang efektif dalam melakukan promosi.Peran penting fotografi, khususnya food photography sebagai salah satumedia yang paling sering digunakan untuk berpromosi inilah yang melatarbelakangipembuatan karya foto pada pameran tugas akhir bertajuk "Food PhotographySebagai Media Promosi Dalam Media Cetak." Secara substansial, karya foto yangdipamerkan merupakan karya fotografi komersial yang merepresentasikan sebuahfoto makanan yang mempunyai peran signifikan dalam kelancaran promosi bisniskuliner.Media cetak sebagai sarana komunikasi yang sangat berperan penting dalammelakukan penyebaran informasi maupun promosi. Dalam Tugas Akhir ini penulismembahas pengaplikasian food photography melalui media cetak khususnya tabloidmingguan yang segmentasi pembacanya adalah wanita.Kata kunci: fotografi makanan, fotografi komersial promosi, periklanan, media cetak,tabloid minggua

    Mimbar Dan Mihrab Masjid Jawa Tengah Abad 16-19 Dalam Kajian Ikonografi

    No full text
    Mihrab dibuat pertama kali pada 708 Masehi, berfungsi sebagai qibla’axis atau petanda arah kiblat. Sedangkan mimbar adalah panggung kecil yang dipakai oleh Rasulullah untuk berpidato di depan umatnya, agar dapat berdiri lebih tinggi dari orang lain, sehingga ia bisa dilihat jelas oleh orang-orang di sekitarnya. Pada masa setelah Nabi, mimbar lebih sering diidentikkan dengan kekuasaan dan mahkota, sehingga mimbar boleh digunakan oleh khalifah atau penguasa. Dalam sebuah bangunan Masjid Jawa Abad 16-19, Mihrab dan Mimbar dianggap sebagai bagian penting. Penelitian ini mengkaji bentuk, fungsi, dan makna dari ornamen Mihrab dan Mimbar Masjid Jawa Tengah Abad 16-19, di tiga kota yakni Masjid Kadilangu Demak, Masjid Mantingan Jepara, dan Masjid Al Makmur Kudus yang menggunakan kajian ikonografi menurut Roelof van Straten. Berdasarkan tahap analisis Ikonografi yang meliputi tahap Pre-Ikonografi, Ikonografi, dan Interpretasi Ikonologi, letak, bentuk, serta ornamen Mihrab dan Mimbar Masjid Jawa Tengah Abad 16-19, menunjukan adanya pengaruh dari budaya terdahulu yakni Hindu dan Cina. Melalui pemaknaannya, diketahui bahwa bentuknya menggambarkan kemegahan yang bertujuan untuk mengagungkan atau menghormati penggunanya yakni para wali, serta sebagai simbol kebanggaan bagi pendiri masjid tersebut. Sedangkan ornamennya berisikan dakwah dan pesan-pesan yang harus diamalkan oleh umat muslim. Hal tersebut, menyatakan bahwa Mihrab dan Mimbar pada masa itu dianggap sebagai bagian penting dari sebuah Bangunan Masjid Jawa Tengah Abad 16-19.Kata kunci: Mihrab, Mimbar, Ikonograf

    Aransemen Lagu Doxy Karya Sonny Rollins Dalam Ansambel Combo. Skripsi thesis

    No full text
    Skripsi ini membahas penyajian ulang karya jazz instrumental Sonny Rollins, Doxyuntuk trumpet, yang dibawakan pada gitar elektrik. Tujuan dari penyajian tersebut ialah untuk menginterpretasikan karya Doxy melalui media gitar elektrik. Kontribusi dari upaya ini ialah sebagai salah satu prototipe pengembangan repertoar gitar elektrik untuk genre jazz. Metode yang diterapkan dalam perancangan penyajian gitar elektrik ini ialah melalui pendekatan transkripsi yang didasarkan atas sumber-sumber diskografi dan publikasi tercetak karya-karya Rollins. Hasil dari penelitian ini berwujud aransemen baru Doxy untuk gitar elektrik, dengan orkestrasi iringan yang melibatkan bass elektrik, piano, drum set, trombon, saxophone tenor, saxophone bariton, saxophone alto, dan trombon. Kata kunci : rollins,doxy,gitar elektri

    PENCIPTAAN NASKAH DRAMA MODUS SPIONASE TERINSPIRASI DARI KASUS TRANSAKSI NARKOBA DI LEMBAGA PEMASYARAKATAN

    No full text
    Penciptaan naskah drama Modus Spionase berdasarkan kasus perdagangan narkoba di Lembaga Pemasyarakatan. Drama Modus Spionase berkisah tentang seorang sipir perempuan bernama Balqis yang dipercaya kepala penjara untuk menggantikan posisinya sebagai pimpinan. Balqis, mengalami beberapa konflik dengan pihak sipir dan para narapidana yang disebabkan oleh seorang sipir bernama Likan mengenai kecemburuan masalah jabatan. Naskah drama Modus Spionase dalam proses penciptaannya melalui tahapan mengumpulkan data, bersumber pada peristiwa perilaku buruk seorang sipir kemudian dikembangkan melalui teknik wawancara, beberapa kolase berita kasus perdagangan narkoba, buku-buku tentang narkoba, karya naskah drama dan film untuk dijadikan sumber penciptaam. Setelah semua data diperoleh tahap selanjutnya adalah mengolah data menjadi karya fiksi menggunakan metode intertekstual. Dari semua data yang sudah tersusun kemudian dipilih bentuk naskah drama komedi satir.Kata kunci : Kasus perdagangan narkoba di lapas, metode intertekstual dan komedi satir

    KOMPARASI ELEMEN PROGRAM DOKUMENTER JEJAK PETUALANG TRANS 7 DAN 100 HARI KELILING INDONESIA KOMPAS TV PADA EPISODE RAJA AMPAT

    No full text
    Penelitian berjudul “Komparasi Elemen Program Dokumenter Jejak Petualang Trans 7 dan 100 Hari Keliling Indonesia Kompas TV Pada Episode Raja Ampat” bertujuan untuk mengetahui persamaan dan perbedaan, serta alasan terjadinya persamaan dan perbedaan pada  program Jejak Petualang Trans 7 dan 100 Hari Keliling Indonesia Kompas TV episode Raja Ampat ditinjau dari gaya, bentuk bertutur, dan struktur penuturan. Penelitian ini menggunakan metode gabungan atau mix method antara kuantitatif dan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan, persamaan program dokumenter Jejak Petualang Trans 7 dan 100 Hari Keliling Indonesia Kompas TV pada episode Raja Ampat tampak pada penggunaan gaya, yaitu sama-sama menggunakan gaya atau tipe eksposisi (expository documentary) dan bentuk bertuturnya laporan perjalanan. Perbedaan kedua program tersebut pada episode Raja Ampat adalah program 100 Hari Keliling Kompas TV Indonesia mengkombinasikan gaya eksposisi (expository documentary) dengan gaya performatif (performative documentary) sedangkan program Jejak Petualang Trans 7 hanya menggunakan gaya eksposisi (expository documentary). Selain itu, program Jejak Petualang Trans 7 menggunakan struktur penuturan tematis sedangkan program 100 Hari Keliling Indonesia menggunakan struktur penuturan kronologis. Program dokumenter 100 Hari Keliling Indonesia Kompas TV episode Raja Ampat sebagai sebuah dokumenter dengan gaya hibriditas. Penggabungan gaya dokumenter merupakan bentuk kreativitas dalam mengemas program televisi. Kreativitas dalam mengemas program dokumenter menjadi tuntutan bagi para kreator program dalam menghadapi fenomana ketatnya persaingan program antar stasiun televisi di Indonesia.   Kata Kunci: program dokumenter, gaya dokumenter, bentuk bertutur,   struktur penuturan

    DUMAYA

    No full text
    Dumaya merupakan sebuah karya tari kelompok yang ditarikan dua belas orang penari. Tari ini merupakan penuangan ide serta kreativitas penata yang dilatarbelakangi oleh rangsang gagasan yaitu pengetahuan penata tentang cerita legenda Roro Mendut yang dapat menginspirasi penata untuk mengembangkannya ke dalam konsep koreografi kelompok. Dasar gerak yang digunakan yaitu motivasi asap (suita 1), Manten Jawa (suita 2) dan patah-patah (suita 3). Fokus dalam karya ini lebih kepada esensi dan fungsi rokok itu sendiri dalam masa ke masanya. Menurut pengamatan penata dari masa ke masanya rokok memiliki fungsi tersendiri mengapa perempuan saat ini pun tidak tabu lagi untuk merokok seperti selayaknya kaum laki-laki.Pada karya yang digarap ini, penata menggarapnya ke dalam bentuk suita. Pada suita 1 penata akan membicarakan Roro Mendut, bahwa fungsi rokok di jaman dahulu perempuan merokok karena untuk memenuhi ataupun membantu mencukupi ekonomi seorang Mendut guna untuk membayar pajak kepada Tumenggung Wiroguno. Pada suita 2 penata akan membicarakan dari segi ritualnya yang dari jaman dahulu hingga sekarang ritual tersebut masih saja ada yang melakukannya, pada suita 2 ini penata akan membicarakan sosok dukun manten yang selalu bergelut dengan rokok dan asapnya untuk meningkatkan aura kecantikan sosok manten putri itu sendiri. Sedangkan pada suita 3, penata akan membicarakan dari segi kekiniannya, yaitu dimana pada jaman sekarang seorang perempuan perokok hanya memiliki fungsi untuk terkesan bergaya/style selain itu fungsi rokok itu sendiri hanya sebagai pelampiasan semata disaat ada masalah pribadi.Kata kunci: perempuan, rokok dan asap

    0

    full texts

    696

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Saraswati
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇