Saraswati
Not a member yet
696 research outputs found
Sort by
Kontribusi Komposisi Variation On A Theme of G. F. Handel, Opus 107 Karya M. Giuliani (1781-1892) Terhadap Peningkatan Kualitas Studi Gitar Klasik Tingkat Lanjut
Studi ini membahas analisis struktural terhadap komposisi tema-variasi untuk gitar karya Mauro Giuliani yang didasarkan tema G.F. Handel. Tujuan studi ini ialah untuk memperoleh pengetahuan tentang karakteristik teknik gitar dan musikal dari karya tersebut. Metode penelitian yang diterapkan dalam studi ini ialah metode analitikal, yaitu dengan mendekontruksi struktur musikalnya dalam rangka memahami fungsi serta hubungan di antara tiap-tiap bagiannya. Studi analitikal ini menyimpulkan bahwa karya tema-variasi untuk gitar ini ternyata tidak menerapkan teknik-teknik komposisi dan permainan gitar yang khusus. Secara musikologis susunan harmoni klasik bersifat konvensional namun masih menerapkan gaya bass ground yang lazim pada masa BarokKata kunci : tema-variasi, gitar, analitika
Penyutradaraan Program Dokumenter Televisi Dengan Gaya Expository “Jagad Kejawen” Episode Ritual Suro Kraton Yogyakarta
Objek penciptaan karya seni ini adalah tentang eksistensi tradisi bulan Suro yang dilakukan keraton Yogyakarta sebagai simbol pembersihan diri serta pensucian diri, yang bagi masyarakat Yogyakarta dimaknai sebagai wahana mencari berkah. Upacara yang pertama adalah ritual malam mubeng benteng kraton Yogyakarta, yang kedua ritual pembersihan pusaka/jamasan, ritual terakhir adalah nguras enceh yang berada di makam raja-raja Imogiri. Program dokumenter ini dikemas dengan menggunakan dokumenter expository yang bertujuan menyampaikan pesan secara informatif dan deskriptif. Uraian dalam dokumenter ini mencoba memaparkan secara sederhana setiap proses beberapa ritual kraton Yogyakarta pada bulan Suro mulai dari awal hingga akhir program, dengan melibatkan beberapa narasumber yang merupakan tokoh abdi dalem serta budayawan Jawa dalam setiap segmennya guna memperkuat fakta yang diungkapkan dalam dokumenter ini. Kata kunci : tradisi bulan Suro, ritual, Program dokumente
PERANCANGAN APLIKASI INTERAKTIF PENGENALAN PENYAKIT THALASEMIA MELALUI MEDIA ANDROID
Perancangan aplikasi "Thalasemia Interaktif" ini dibuat karena sedikitnya jumlah remaja/pasangan pranikah yang mengetahui informasi tentang Thalasemia, sehingga menjadi penyebab utama penyebaran Thalasemia semakin meluas dan sulit dikendalikan. Hasil dari perancangan ini berupa aplikasi interaktif berbasis Android, yang digunakan sebagai media informasi tentang penyakit Thalasemia. Aplikasi Thalasemia Interaktif ini berisi sebuah video animasi sebagai sarana untuk mengenalkan Thalasemia dan tes interaktif sebagai sarana untuk evaluasi dan memahami Thalasemia. Tujuan dari perancangan ini adalah agar para remaja lebih mengetahui informasi Thalasemia sejak dini sebagai langkah pencegahan penurunan penyakit Thalasemia dalam keluarga.Thalasemia merupakan penyakit yang dimana penderita harus mendapatkan tranfusi darah secara rutin setiap bulan selama seumur hidup. Jumlah penderita di Indonesia saat ini lebih dari 6.000 jiwa. Sehingga pengenalan penyakit Thalasemia sangatlah penting sebagai langkah pencegahan penyebaran penyakit Thalasemia di Indonesia.Analisis data mengenai permasalahan Thalasemia dan metode pengumpulan data dibuat untuk menentukan tema dan media, sehingga perancangan aplikasi interaktif ini dapat tersampaikan dengan baik dan mudah dipahami oleh target audience. Perancangan aplikasi "Thalasemia Interaktif" ini bekerja sama dengan YTI (Yayasan Thalasemia Indonesia) Yogyakarta, sehingga dapat digunakan sebagai media sosialisasi dan berbagai keperluan lainnya sebagai langkah pencegahan penyebaran Thalasemia di Indonesia.Keyword : Thalasemia, Aplikasi Interaktif, Androi
Penciptaan Program Dokumenter Televisi “Jogja Last Friday Ride” Dengan Pendekatan Expositori
Karya video dokumenter “JOGJA LAST FRIDAY RIDE - Perayaan Bagi Siapapun yang Suka Bersepeda” menyoroti sebuah kegiatan bersepeda di Yogyakata, yaitu Jogja Last Friday Ride (JLFR). Kegiatan ini sudah dimulai sejak tahun 2010 dan diikuti ribuan pesepeda. Selebihnya karya ini akan mengulas mengenai bagaimana berawalnya aktivitas JLFR, seperti apa pesan yang dibawa oleh aktivitas ini, siapa saja yang terlibat dan seperti apa perkembangan dari aktivitas JLFR hingga saat ini.Media dokumenter dipilih agar penyampaikan pesan mengenai aktivitas JLFR bisa tersaji sesuai perspektif pembuatnya yang juga ikut mengikuti aktivitas JLFR. pendekatan ekspositori diaplikasikan untuk membangun argumentasi yang bersifat didaktis dan memaparkan informasi secara langsung kepada penonton hingga mempertanyakan baik-buruk fenomena keberadaan sepeda dan aktivitas JLFR, dan mengarahkan penonton pada kesimpulan.Video dokumenter ini menitik beratkan wawancara dan narasi sebagai inti cerita, dengan mengoptimalkan peran narasi dan wawancara sebagai alur cerita yang menggunakan struktur berbertutur tiga babak dengan memasukkan dua tipe pembicara yaitu narator dan narasumber untuk memaparkan secara runtut mengenai awal kemunculan aktivitas JLFR, masalah yang muncul dan perkembangan terakhir mengenai aktivitas ini. Penggunaan narasi dilakukan guna memberikan persuasi pada penonton untuk memahami keberadaan sepeda dan aktivitas JLFR. Narasumber yang diwawancara dalam karya ini adalah penggagas, admin dan pihak-pihak yang mengamati aktivitas JLFR.Video dokumenter “JOGJA LAST FRIDAY RIDE - Perayaan Bagi Siapapun yang Suka Bersepeda” mencoba menyuguhkan fakta, konsep dan mengungkapkan dinamika yang terjadi di sepanjang aktivitas JLFR juga bagaimana sebuah aktivitas bersepeda di Yogyakarta bisa bertahan, berkembang, maju, dan menjadi sebuah gerakan sepeda terbesar seNusantara.Kata kunci: dokumenter, ekspositori, aktivitas JLFR.Pendahulua
Garap Gending Glompong Gaya Yogyakarta
Gending Glompong laras slendro patet sanga kethuk 4 kerep dhawah kethuk 8 Kendhangan Jangga kalajengaken Ladrang Sobrang Barang merupakan gending Gaya Yogyakarta yang belum banyak dikenal oleh masyarakat umum maupun para seniman. Gending Glompong laras slendro patet sanga kethuk 4kerep dhawah kethuk 8 Kendhangan Jangga merupakan gending dalam klasifikasi bentuk gending ageng, dan pada penyajiannya dapat disajikan dalam garap lirihan maupun soran. Dalam sajian garap lirihan, Gending Glompong mempunyaispesifikasi garap. Ricikan rebab berperan penting sebagai pamurba lagu menuntun garap lagu mengacu pada alur lagu balungan gending, menghias, mengisi balungan dengan cengkok wiledan-nya. Ricikan rebab mendahului membuatcengkok yang selanjutnya diikuti oleh ricikan yang lain termasuk vokal sindhenan. Sehingga ricikan rebab merupakan penentu bagaimana sajian garap Gending Glompong. Dikaji dari sisi estetik musikal, bahwa keindahan penggarapan gending terletak pada hubungan timbal balik antara tabuhan ricikan satu dengan lainnya. Interaksi tersebut membentuk garap musikal yang utuh dan dari bangunan garap terwujud berbagai jenis karakter dan berbagai kesan rasa estetik.Kata Kunci: Glompong, Sobrang Barang, Gaya Yogyakarta
ANALISIS PERBANDINGAN STRUKTUR AKTAN VERSI FILM DAN VERSI SINETRON ‘SURAT KECIL UNTUK TUHAN’
Penelitian tentang Analisis Perbandingan Struktur Aktan Versi Film dan Sinetron “Surat Kecil untuk Tuhan” ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan versi film dan sinetron “Surat Kecil untuk Tuhan” dari perspektif struktur aktan. Perbandingan dilakukan untuk menemukan cara masing-masing versi media memperlakukan atau menyajikan cerita “Surat Kecil untuk Tuhan”. Penelitian ini menggunakan teori struktur aktan dari AJ. Greimas yang terdiri dari enam elemen aktansial yaitu pengirim, penerima, subjek, objek, penolong dan penentang. Berdasarkan hasil kajian dapat diambil kesimpulan bahwa perbandingan versi sinetron lebih mengeksplorasi struktur aktan dibandingkan versi film. Konsep serialisasi dan durasi adalah penyebab cara masing-masing versi berbeda dalam memperlakukan cerita Surat Kecil untuk Tuhan. Kata Kunci: Film Surat Kecil untuk Tuhan, Sinetron Surat Kecil untuk Tuhan, Aktan, Perbandinga
MITOLOGI BURUNG PHOENIX SEBAGAI IDE PENCIPTAAN KARYA SENI LUKIS
Mitologi Burung Phoenix merupakan prosa rakyat yang menceritakan kisah berlatar masa lampau, yang mengandung penafsiran tentang makhluk supranatural berwujud burung . Salah satu elemen dalam kehidupan yaitu unsur api yang mewakili burung Phoenix, sebagai simbolisasi kebangkitan kembali, mampu mempengaruhi imajinasi penulis. Mitologi yang tersebar dan berkembang di beberapa kebudayaan, menjadikan ragam visual dan narasi, hal itu memperkaya persoalan yang ingin diangkat ke dalam karya seni.Phoenix sebagai penjaga surga dan dewa matahari menjadi simbolisasi atas kemenangan kekuatan kebaikan melawan kejahatan, menciptakan bumi dan langit. Dalam kebudayaan Hindu terdapat kepercayaan adanya suatu burung Agni atau Vadavamukha yang berarti gunung berapi. Memaknai kebangkitan pada suatu peradaban yang telah hancur sebagai suatu rangkaian hukum alam yang memunculkan kehidupan baru setelahnya.Dalam imajinasi penulis, keberadaan makhluk burung mitologi ini seperti ada pada suatu zaman dimana terdapat kebudayaan yang gemilang dengan tekhnologi yang sangat canggih. Pusat pemerintahan yang megah dengan ilmu pengetahuan tinggi, sehingga manusia pada zaman itu mampu menciptakan makhluk-makhluk superior dengan cara rekayasa genetika untuk dimanfaatkan sebagai keperluan berpindah tempatDalam kebentukan hasil seni rupa, dapat dibedakan antara Visual Form dan Aesthetic Structure. Yang pertama adalah benda seninya suatu eksistensi yang dapat dilihat, yang kedua adalah hasil pengamatan terhadap objek yang dipengaruhi oleh berbagai kondisi. Distorsi bentuk diadopsi dari ragam budaya, sebagai wujud empati akan tradisi dan budaya yang harus didokumentasikan dalam karya seni lukis. Digambarkan dengan perpaduan gaya surealis dan ekspresif, guna mengkomunikasikan kepada khalayak umum.Kata Kunci: Mitologi Burung Phoenix, Kebudayaan Barat dan Timur, Peradaban, Imajinasi, Distorsi, , Seni lukis
GOD
Konsep tiga dalam ajaran agama Hindu memang sangat lekat dengan kehidupan masrayakat Bali. Salah satu dari konsep tersebut adalah tri murti. Tri murti merupakan tiga pewujudan utama Tuhan. Tri artinya tiga, murti berarti manifestasi, bentuk, wujud, atau inkarnasi. Setali dengan beberapa pengertian tersebut di atas, maka dapat dipahami pengertiantri murtisebagai tiga manifestasi atau tiga pewujudan, kekuatan, kemampuan, dan kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa. Pewujudan Tuhan sebagai tri murti,dalam tradisi Hindu di Bali khususnya dan umat Hindu di Indonesia pada umumnya diyakini mempunyai tiga wujud (sifat). Tiga wujud tersebut adalah Tuhan sebagai pencipta yang disebut Brahma, Tuhan sebagai pemelihara yang disebut Wisnu, dan Tuhan sebagai pelebur yang disebut Siwa. GOD sebagai judul komposisi musik etnis Nusantara di sini bukan diartikan sebagai Tuhan, melainkan merupakan singkatan dari bahasa Inggris yaitu generation: generasi atau keturunan (G), organization: tata kerja/aturan (O), dan destruction: pekerjaan yang menghancurkan/ merusak/ membinasakan; pengrusakan, pembongkaran (D). Singkatan tersebut dapat pula dipandang atau dianalogkan sebagai tri murti.Generation analog dengan Brahma, organization analog dengan Wisnu, dan destruction analog dengan Siwa. Sebagaimana telah penulis paparkan, konsep tiga yang membumi di tanah Bali (khususnya) telah menginspirasi, dan memotivasi ketersentuhan bathin penulis untuk menciptakan sebuah komposisi musik etnis Nusantara dengan bingkai tajuk ritual.Karya musik etnis ini memiliki tujuan mewujudkan sebuah karya musik sebagai proses perwujudan kreativitas. Karya ini juga bertujuan untuk melestarikan, mengembangkan, dan memperkenalkan nilai-nilai budaya. Tahap untuk mewujudkan ide-ide seni dalam proses penciptaan karya musik etnis ini menggunakan enam tahap. Tahapan tersebut mulai dari rangsang awal, inspirasi (pemunculan ide) eksplorasi, improvisasi, komposisi, dan penyajian. Kata kunci: tri murti, GOD, ritual
SELUK-BELUK SEPAK BOLA DALAM SENI LUKIS
Tugas akhir penciptaan ini mengangkat tentang sepak bola yang divisualisasikan melalui seni lukis, dengan dilatar belakangi kesukaan penulis terhadap sepak bola menjadikan penulis tertarik untuk mengulas sepak bola dari sudut pandang yang berbeda.Sepak bola merupakan olahraga yang banyak digemari oleh semua kalangan, sepak bola juga menyajikan pertunjukan olahraga yang enak ditonton sebagai hiburan maupun sebagai olahraga itu sendiri. Seiring berkembangnya teknologi sepak bola saat ini juga lebih berkembang, bukan hanya sebatas cabang olahraga saja, melainkan telah menjadi industri sepak bola yang banyak menghasilkan keuntungan bagi sebagian kalangan masyarakat.Dalam upaya untuk mewujudkan permasalahan yang ada dalam sepak bola, penulis melibatkan tokoh-tokoh dalam sepak bola untuk dijadikan sebagai objek utama dalam lukisan, seperti pemain, pelatih, suporter.Objek-objek tersebut penulis kemas dalam bentuk karikatural, untuk memmberikan kesan menyenangkan dan menghibur.Kata Kunci: Olahraga, Sepak bola, seni lukis, pemain sepak bola, pelatih, suporter, karikatur
Alep ing Ngeruji
Alep Ing Ngeruji adalah sebuah judul karya tari oleh asri dwi Hapsari yang mengusung nilai-nilai keindahan dalam bentuk gerak tangan yang gemulai, yang disebut dengan namaNgeruji. Ngeruji itu sendiri diambil dari salah satu gerakan tari tradisional gaya Yogyakarta yang dilambagkan dengan gerakan tangan yang sarat akan makna. Hal tersebut menginspirasi dan juga menyulut hasrat penata untuk mengambil tema Ngeruji sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah karya tari yang apik.Nilai-nilai lain kemuadian muncul saat penata mengamati Ngeruji sebagai subjek dan bukan objek, dan hal itu justru diluar pemikiran awal. Ngeruji secara makna menarik beberapanilai yang cenderung berlawanan atau kotradiktif. Sebut saja bentuk lentik sekaligus kokoh, kelembutan sekaligus ketegasan. Banyak hal yang menjiwai karya tari ini, baik yang bersifat besar maupun yang bersifat sepele. Ngeruji dalam karya tari ini juga bukan semata membahas pergelangan tangan ( yang Ngeruji) tetapi juga tubuh.Garapan Tugas Akhir ini adalah transformasi Koreografi III yang pernah penata gagas pada semester lalu. Akan tetapi, tidak berarti bahwa penata hanya mengemas ulang garapansebelumnya. Ada beberapa hal yang dikembangkan dari karya tersebut, dengan kata lain karya penata kali ini merupakan metamorfosis dari gagasan sebelumnya (Baca: Koreografi III).Beberapa perbedaan antara garapan sebelumnya dan garapan pada Tugas Akhir ini terletak pada gagasan, artikulasi bentuk garapan, dan komposisi tarinya. Pada Koreografi III yang telahlalu, penata murni berbicara ngeruji sebagai ngeruji, sedangkan dalam Tugas akhir ini, segala sisinya diformat ulang.Dimensi ide, komposisi tari, dan maknanya sarat dengan ‘pembaharuan’. Pada dasaran awal ngeruji direpresentasikan sebagaimana khalayak memahaminya (fokus eksplorasi terpusat pada pergelangan tangan). Sedangkan digarapan kali ini, penata ingin memperluas fokusnya dengan jalan mengekplor seluruh tubuh yang menari gemulai seperti tangan yang Ngeruji. Hal tersebut diangkat guna membahas Ngeruji sebagai symbol gerakan yang sarat makna.Alep in ngeruji adalah judul sebuah tarian yang digarap oleh Asri Dwi Hapsari.Kata Kunci: Ngeruji, Kontradiktif, Transformasi