Saraswati
Not a member yet
696 research outputs found
Sort by
Samanan dalam Masyarakat Dusun Jolosutra Srimulyo Piyungan Bantul
Tulisan ini mengupas tentang “Fungsi kesenian Shalawatan Samanan dalam Masyarakat Dusun Jolosutra Srimulyo Piyungan Bantul. Dalam penelitian ini, yang menjadi hal pokok permasalahan adalah fungsi kesenian Shalawatan Samanan dalam masyarakat Jolosutra. Untuk membantu menemukan jawaban dari permasalahan,meminjam pendapat Soedarsono mengenai fungsi tari-tari tradisional, Soedarsono secara sederhana mengutarakan adanya tiga fungsi dalam tari. Namun fungsi tersebut dapat dilihat lebih detail menjadi fungsi yang lebih spesifik. Untuk itulah peneliti meminjam konsep atau teori lain untuk dapat menjelaskan kedudukan fungsi kesenian Shalawatan Samanan ditengah masyarakat yaitu dengan meminjam pendapat dari A.R Radcliffe Brown mengenai Struktural Fungsional. Menurut A.R Radcliffe Brown lebih mengacu dalam struktur sosial yang didalamnya memiliki relasi antar sistem yang saling berkaitan. Kesenian Shalawatan Samanan adalah kesenian kelompok yang bernafaskan agama Islam. Kesenian Shalawatan Samanan selalu hadir disetiap Upacara Merti Dusun “Kupatan Jolosutra” dan Upacara Ritual Keagamaan Maulid Nabi. Kesenian ini disajikan pada pukul 20.00-03.00 WIB pada saat acara Maulud Nabi, sedangkan upacara Merti Dusun diadakan pukul 20.00-22.00 WIB. Waktu yang dipertunjukkan berbeda, karena tujuan dari kedua upacara tersebut tidak sama, sehingga hal ini menciptakan berbagai fungsi yang berbeda ketika kesenian Shalawatan Samanan ini dihadirkan pada upacara tertentu. Fungsi dari kesenian Shalawatan Samanan antara lain sebagai sumber nilai spiritual, sebagai pengikat solidaritas, sebagai sarana penyampaian nilai-nilai Islam, sebagai ucapan rasa syukur kepada Allah SWT, dan sebagai sarana untuk memperingati upacara ritual keagamaan Maulud Nabi. Kesenian Shalawatan Samanan selalu hadir karena adanya sebuah kepercayaan yang masyarakat yakini,sehingga adanya fungsi kesenian Shalawatan Samanan dapat menjadikan masyarakat Jolosutra untuk selalu menghadirkan kesenian ini pada setiap upacara adat dan upacara keagamaan yang ada di masyarakat Jolosutra. Kata kunci : Shalawatan Samanan, Fungsi, Upacara Masyarakat Jolosutr
Hikmah Ziarah Sebagai Ide Penciptaan Seni Patung
Kehidupan ini telah dipengaruhi oleh modernisasi. Mulai dari ujung kota sampai ke ujung desa, kehidupan masyarakat telah berbaur dengan media-media modern. Teknologi dan informasi begitu mudah untuk dipergunakan oleh umat manusia saat sekarang ini melalui: televisi, internet, telepon seluler (Hand phone) dan lain-lain. Hal ini sampai ke desa-desa terutama semenjak listrik telah menjangkau daerah-daerah tersebut. Penulis juga secara pribadi akhirnya merasakan adanya pergeseran makna, bahkan bentuk kehidupan yang penulis jalani dari kecil sampai saat ini, terutama perjalanan perubahan tradisi yang sampai saat sekarang ini masih bisa penulis rasakan perbedaannya. Satu dari sekian banyaknya tradisi dalam masyarakat yang membekas di dalam diri penulis yang notabene beragama islam ialah tradisi ziarah kubur, yaitu suatu kegiatan yang biasanya dilakukan oleh sekelompok orang atau keluarga tertentu yang mengunjungi kuburan untuk membersihkan dan mendoakan saudara-saudaranya yang telah meninggal dunia atau silaturrahim lintas dua dunia. Penulis masih mengingat peristiwa ziarah kubur ini menjadi tradisi yang sangat penting untuk dilakukan oleh keluarga penulis. Kata kunci : spiritual art, hikmah ziarah, patun
Denotasi dan Konotasi dalam Karya Fotojurnalistik Bencana Alam Tanah Longsor di Banjarnegara pada Harian Kompas Edisi 13-18 Desember 2014
Denotasi dan Konotasi dalam Karya Fotojurnalistik Bencana Alam Tanah Longsor di Banjarnegara pada Harian Kompas Edisi 13-18 Desember 2014 adalah sebuah pengkajian semiotika dalam karya fotografi jurnalistik. Penelitian menggunakan metode yang bersifat interpretatif deskriptif kualitatif, dengan pendekatan metode analisis semiotik denotatif dan konotatif Roland Barthes. Analisis visual dilakukan dari 11 foto yang dimuat pada rentang waktu 6 hari, terhitung tanggal 13 sampai 18 Desember 2014, 11 foto digunakan sebagai bahan kajian akan dikelompokkan menjadi tiga kategori berdasarkan kesamaan tema foto, yaitu: (1) foto dampak bencana alam tanah longsor, (2) foto kunjungan pejabat negara, (3) foto tindakan dan dampak pasca bencana alam tanah longsor. Selanjutnya fotojurnalistik tersebut dianalisis pemaknaan denotatif dan konotatifnya, sesuai dengan teori yang digunakan dalam penelitian. Fotojurnalistik juga akan dianalisis pemaknaannya dengan teori pemaknaan Kempson dan yang terakhir dengan pemaknaan secara estetika fotografi pada tataran ideasional dan teknikal. Kata kunci : Denotasi, Konotasi, Karya Fotojurnalisti
Gebogan Sebagai Inspirasi Dalam Penciptaan Seni Lukis
Sebagai masyarakat Hindu Bali yang dikenal relijius, dan kental akan tradisi dalam kehidupan beragama serta berkeseniannya, sangat dekat dengan upacara-upacara keagamaan, dengan menggunakan berbagai sarana yang menujukan kemegahan. Tampak yang paling menonjol dalam kehidupan keagamaan Hindu Bali adalah penggunaan banten sebagai sarana upacara keagamaan. Hampir tidak ada aktifitas kehidupan yang tidak disertai dengan melakukan upacara keagamaan. Warisan nenek moyang yang mengandung nilai-nilai filosofis dan ajaran moral menjadi acuan masyarakat untuk berperilaku. Maka dalam pelaksanaan segala aktivitas keagamaan di masyarakat Hindu Bali tidak bisa dilepaskan dari kegiatan upacara adatnya. Hal ini menjadi salah satu rangkaian kegiatan keagamaan dalam menghubungkan, atau mendekatkan diri dengan Sang penciptanya untuk selalu berusaha bersikap seimbang terhadap alam sekitarnya. Konsep ini terggambarkan dalam dua sifat alam yang berbeda, yakni Skala alam semesta (kasat mata), maupun Niskala (tidak kasat mata). Dalam masyarakat Hindu Bali dikenal dengan sebutan Rwa Bhineda, yakni baik-buruk, siang-malam, nyata-tidak nyata. Hal ini dilandasi oleh kesadaran bahwa alam semesta mengandung unsur-unsur kesatuan dalam perbedaan yang satu sama lain terkait dan membentuk satu kesatuan alam semesta. Salah satu sarana upacara yang menjadi perhatian adalah gebogan yang banyak mengandung aspek artistik. “Gebogan sebagai Inspirasi dalam Penciptaan Seni Lukis” adalah gebogan sebagai persembahan berupa susunan buah dan jajanan yang dihaturkan kehadapan Hyang Widhi sebagai bentuk rasa syukur atas rejeki yang dinikmati, gebogan sarat akan makna filosofi yang merupakan salah satu cara untuk mewujudkan hubungan yang harmonis antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam lingkungannya. Untuk menjaga keseimbangan alam semesta. Menjadi ilham yang membangkitkan kreatifitas dalam imajinasi untuk menghasilkan karya yang mengandung unsur local genius. Menciptakan sesuatu yang baru dalam bahasa ungkap dari pengalaman artistik maupun ideologis yang menggunakan garis dan warna, guna mengungkapkan perasaan, mengeskpresikan emosi, gerak, ilusi maupun ilustrasi dari kondisi subjektif seseorang yang dibuat dalam bidang dua dimensional yaitu lukisan. Kata kunci : Seni lukis, Gebogan, Banten, Hindu Bal
Analisis Teknik Penjarian Kiri Pada Fuga Bwv 997 Karya Johann Sebastian Bach Edisi Transkripsi Frank Koonce
Teknik penjarian pada gitar klasik merupakan sebuah hal vital. Kesadaran dalam pengolahan teknik penjarian kiri maupun kanan merupakan sebuah sarana utama untuk dapat merepresentasikan unsur musikal dari sebuah karya musik. Pada karya fuga BWV 997, penerapan teknik penjarian didasarkan pada analisis terhadap struktur musikal-nya. Prioritas struktur musikal dari fuga BWV 997, yakni subject, answer (sekuen-answer), counter-subject, serta motif yang muncul pada episode. Penerapan teknik penjarian pada karya ini, tentu saja berdasarkan kebutuhan untuk menojolkan materi tersebut secara konsisten, baik dalam artikulasi maupun timbre. Hal utama yang juga perlu dipahami dalam penerapan penjarian pada karya fuga BWV 997 adalah kesadaran akan tiap jalur suara yang ada di dalam karya tersebut. Dalam memainkan kontrapung dapat diakomodasi dengan baik ketika indepedensi jalur suara tersebut dapat dimainkan sesuai fungsinya. Fungsi tersebut juga harus terakomodasi dengan pemahaman akan penjarian efektif. Secara umum ke-efektifan ini didasari oleh beberapa faktor, yakni anatomi, legato-playing, serta timbre. Penulisan ini merupakan sebuah analisis penerapan teknik penjarian kiri pada karya Fuga BWV 997 karya Johann Sebastian Bach, transkripsi Frank Koonce. Kata kunci : Fuga BWV 997, teknik penjarian, gitar klasi
Penciptaan Karya Seni Tugas Akhir S1 Penerapan Graphical Match Pada Editing Program Cerita ‘Potret’
Pertanggungjawaban Karya Seni ini yang berjudul Penerapan Editing Graphical Match Pada Cerita ‘Potret’ ini bertujuan sebagai pencapaian sebuah karya audio visual dengan penerapan editing graphical match, pengganti transisi antar ruang dan waktu dan memberikan variasi bentuk transisi dalam editing. Objek penciptaan karya fillm ‘Potret’ ini adalah seorang fotografer jurnalistik yang hidup di era tahun 1998 dan menggunakan latar belakang cerita Indonesia dan sejarah. Indonesia memiliki latar belakang cerita yang menarik untuk di ceritakan kepada banyak orang. Indonsia memiliki banyak kisah sebelum menjadi bangsa dan negara yang merdeka sampai seperti saat ini. Bahkan mempertahankan kemerdekakaan Indonesia pun masih perlu adanya perjuangan. Orang-orang yang berjuang tidak luput dari peran orang yang menemani selama perjalanan hidup hingga menjadi seseorang yang berkarakter dan membaur pada masyarkat. Karya Seni ini berbentuk film fiksi realis dengan durasi 24 menit. Konsep Estetik penciptaan Karya ‘Potret’ ini adalah menampilkan sebuah perpindahan shot dengan menggunakan graphical match melalui penyajian yang lebih menarik dan kaya dalam memaparkan cerita. Penyampaian pesan dan cerita dibuat tidak dengan secara verbal seperti menggunakan dialog langsung, tetapi dengan menggunakan pemotongan gambar dan hubungan antar shot dengan shot berikutnya. Kata kunci : Graphical Match, Sejarah, Potret, Film
Penelusuran Proses Penulisan Lagu Suplemenuntuk Ibadah Liturgi Gereja Katolik Santo Antonius Padua Kotabaru Yogyakarta Studi Kasus Lagu Karena Aku Kau Cinta Dari Buku Kidung Ekaristi Kotabaru
Gereja Katolik mengalami perkembangan dalam bidang liturgi khususnya musik. Perkembangan ini berjalan dengan tahapan yang mengikuti zaman. Dengan serentetan latar belakang Gereja yang panjang dan peraturanperaturan yang amat ketat di awal-awal Gereja Katolik berkembang tidak mudah untuk dapat menerima hal-hal baru khususnya di bidang musik. Musik liturgi mengalami perkembangan, dengan demikian banyak lagu-lagu untuk ibadah bermunculan contohnya adalah lagu Karena Aku Kau Cinta yang ditulis oleh Chatarina Soeliandari Retno. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui proses pembuatan lagu-lagu dalam buku Kidung Ekaristi Kotabaru dan mengetahui unsur apa saja yang diadaptasi dari lagu-lagu yang sudah ada pada lagu Karena Aku Kau Cinta. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif serta ada analisis lagu Karena Aku Kau Cinta dengan data penguat dari buku-buku dan dokumen serta wawancara dengan narasumber. Kesimpulan dari penelitian ini adalah lagu Karena Aku Kau Cinta merupakan adaptasi dari lagu-lagu pop rohani walaupun lagu Karena Aku Kau Cinta sendiri bukanlah lagu pop rohani, dan lagu-lagu ibadah yang sudah ada, dari mulai bentuk melodi dan progresi akordnya. Dengan hasil analisis yang sudah ada dapat disimpulkan juga bahwa lagu ini sederhana dan mudah diingat. Kata kunci : Gereja Katolik, Lagu Karena Aku Kau Cinta, liturg
Analisis Permainan Lagu Dangdut Koplo “Sakitnya Tuh Disini” Kelompok Pengamen New Banesa Di Malioboro Yogyakarta
Tugas akhir ini membahas perbandingan lagu Sakitnya Tuh Disini antara bentuk asli dengan aransemen kelompok pengamen New Banesa yang ber-genre dangdut koplo. Setelah melakukan penelitian dengan menggunakan metode kualitatif, lagu Sakitnya Tuh Disini memiliki banyak hal untuk diteliti mulai dari analisis bentuk lagu, progresi akord dan teknik permainan. Hasil penelitian perbandingan bentuk asli dan aransemen New Banesa memiliki alur melodi, progresi akord dan pola ritmis yang hampir sama. Perbedaannya terletak pada bentuk fill in sebagai ciri khas dari genre dangdut koplo. Kata kunci : analisis, dangdut koplo, lagu Sakitnya Tuh Disin
Persepsi Audience pada Poster Dakwah Muslim Designer Community (MDC) Indonesia Hijab Movement 2014
Kemajuan di bidang teknologi informasi memungkinkan penyebaran pesan syiar dan dakwah Islam menjadi lebih masif. Hal ini telah dimanfaatkan lembaga resmi keagamaan, ormas-ormas Islam, lembaga filantropi Islam, dan berbagai komunitas Islam yang ada, salah satunya Muslim Designer Community (MDC), dengan kampanye poster hijabnya di tahun 2014 lalu yang bertajuk MDC Indonesia Hijab Movement 2014. Kampanye ini ingin mensosialisasikan arti penting hijab bagi muslimah sebagai salah satu kewajiban dalam agama Islam. Berbagai gaya visual dan verbal digunakan para desainer dalam komunitas ini dalam usaha mengartikulasikan pesan-pesan dakwahnya kepada masyarakat. Penelitian ini bertujuan mengetahui persepsi audience terhadap poster dakwah hijab MDC Indonesia Hijab Movement 2014. Metode peneletian yang digunakan adalah kualitatif, dimana peneliti meneliti hubungan antarvariabel penelitian dan menganalisisnya dengan teori tertentu secara deskriptif. Peneliti menjaring dan menganalisis data yang diperoleh melalui kuesioner yang diajukan kepada 150 responden yang merupakan sampel dari populasi audience. Data kuesioner ini menjadi pijakan awal untuk melakukan pencarian data berikutnya yang penulis peroleh dari wawancara kepada narasumber utama dan pendukung. Data tadi dielaborasi, dijaring, dan dianalisis menggunakan teori persepsi. Hasil penelitan yang telah dilakukan, audience menganggap poster-poster dakwah tersebut menarik karena aspek visualnya. Audience juga menganggap poster-poster tersebut diolah dengan artistik. Audience mampu membaca pesan yang dimuat poster baik dengan mudah maupun dengan pengamatan berulang, setelah melihat hubungan antara teks dengan gambarnya. Kata kunci : Persepsi, Audience, Poste
Musik Ritual Onang – Onang Pada Ensambel Gordang Sambilan Di Penyabungan Mandailing Natal (Perspektif Musikologis)
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fenomena yang terjadi di Indonesia pada tahun 2012 yakni tentang pengklaiman Malaysia pada Tor-tor dan Gordang Sambilan. Setelah ditelusuri lebih dalam, ketertarikan akan fenomena itu ternyata bukan hanya pada Gordang Sambilan saja, melainkan juga kepada musik ritual Onang-onang pada etnis Mandailing. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui stuktur dan bentuk dari musik Onang-onang pada ansambel Gordang Sambilan serta fungsi musik ritual Onang-onang pada upacara-upacara adat etnis Mandailing. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Metode analitik kualitatif dengan pendekatan musikologis. Teknik yang digunakan yaitu teknik pengumpulan data yang meliputi observasi langsung ke lokasi penelitian, wawancara dengan beberapa narasumber dan teknik dokumentasi. Hasil dari penelitian ini menyimpulkan bahwa struktur musik pada musik ritual Onangonang hanya memiliki introduksi dan lagu pokok, hal ini disebabkan karena musik ritual Onang-onang banyak mengalami pengulangan-pengulangan dan bentuk musiknya hanya terdiri dari satu bagian serta fungsi musik menurut Alan P. Meriam pada musik ritual Onang-onang yang paling mendekati adalah fungsi musik sebagai sarana komunikasi yaitu sebagai pengantar maksud dan tujuan suatu upacara adat. Kata kunci : Analisis, Musik Ritual, Onang-onan