696 research outputs found

    Perempuan Sebagai Objek Dalam Seni Lukis

    No full text
    Lukisan merupakan sebuah bahasa ungkap dalam media seni rupa, mengungkapkan apa yang dirasakan, dicermati dan dialami dalam proses berkehidupan. Menjadi seorang pelukis haruslah mempunyai sikap kejujuran dalam berkarya sehingga akan tercipta sebuah karya yang memiliki kedekatan personal. Dalam hal ini sosok perempuan sangat erat kaitanya dalam kehidupan sehingga tema yang di angkat adalah perempuan sebagai objek dalam seni lukis. Perempuan sebagai objek dijadikan sebagai pemicu untuk menciptakan lukisan, setiap perempuan yang divisualkan sebagai objek dikemas dengan gaya realistik. Kebanyakan karya yang ditampilkan adalah figur-figur perempuan dengan berbagai bentuk permasalahan-permasalahan yang terjadi dalam kehidupanya. Setelah semuanya dijelaskan mengenai konsep serta ide penciptaan yang telah dibuat serta pemahaman yang di dapat, maka dari penulisan ini dapat ditarik kesimpulan bahwa kehidupan perempuan begitu kompleks ( sebagai pelengkap kehidupan laki-laki, pekerja seks komersial, keindahan tubuh mereka di eksploitasi sebagai dayatarik dunia periklanaan, bahkan tidak sedikit dari mereka menjadi korban pelecehan seksual dan kekerasan seksual.) sehingga permasalah yang muncul pada perempuan menempatkan mereka sebagai objek. Kata kunci : lukisan, perempuan, realisti

    Proses Aransemen Lagu The World Is Saved Dalam Format Band, Orkestra Dan Intsrumen Tradisi

    No full text
    Penelitian ini mengangkat aransemen sebagai buah karya yang diteliti untuk melakukan eksplorasi dan menghasilkan penemuan baru dalam hal kreativitas musik. Adapun studi kasus adalah lagu The World Is Saved karya Bryan Everest S (2013) yang diaransemen dalam format band, orkestra, dan instrumen tradisi. Proses pembuatan aransemen ini menggunakan program penulisan notasi musik/musical notation software yaitu “Sibelius 6” dan kemudian dilanjutkan dengan pengolahan ke dalam pernangkat lunak “Nuendo 4” untuk proses rekaman nya, serta editing, memasukan efek suara/soundscape dan mixing. Diharapkan dari penelitian yang berbasis karya ini akan menjadi stimulus dalam memuncul penemuan baru dalam bidang aransemen maupun komposisi musik, serta menambah apresiasi musik dalam hal kreativitas aransemen khususnya jurusan musik. Kata kunci : Aransemen, The World is Saved, Orkestrasi

    Lagu Anak Domba Allah Karya Gabriel Edy Langgu Sebagai Wujud Inkulturasi Di Gereja Katolik Santa Maria Assumpta Kupang – Ntt

    No full text
    Karya Tulis ini berisi tentang bentuk lagu Anak Domba Allah karya Gabriel Edy Langgu yang menggunakan motif lagu Manggarai Timur yaitu gelang lite cela’ d’ kedalam pembuatan ordinarium misanya. Lagu Anak Domba Allah merupakan bentuk lagu inkulturasi untuk misa yang seringkali digunakan oleh awam maupun para rohaniawan di Gereja Assumpta yang bentuk lagunya tidak dipahami oleh semua orang digereja tersebut. Metodolgi yang digunakan yaitu dengan menganalisis secara musikologis bentuk lagu tersebut. Lagu Anak Domba Allah ini dapat diterima umat dan membantu peribadatan dalam penghayatan keimanan. Gereja-gereja Katolik di kota Kupang mempunyai peranan dalam melestarikan lagu-lagu Ordinarium yang berwujud Inkulturasi. Kata kunci : Inkulturasi Musik , Bentuk Lagu Anak Domba Allah, Manggarai Timu

    Penciptaan Tata Rias dan Tata Busana Dalam Pementasan Lakon Swan Lake Karya Mark Heyman

    No full text
    Dalam sebuah pertunjukan teater, tata rias dan busana merupakan bagian penting. Tata busana bukan hanya sekedar sebagai penutup badan tapi juga merupakan identitas bagi tokoh dan juga pertunjukan. Dalam salah satu kisah yang berjudul Swan Lake, tata rias dan busana merupakan bagian penting agar dapat menjadi identitas yang utuh dari setiap tokoh dan juga menjadi identitas yang menjelaskan bahwa cerita tersebut merupakan dongeng. Dongeng tentu saja memiliki imajinasi terhadap rias dan busana yang lebih dari tata rias dan busana pada pertunjukan realis. Pertunjukan Swan Lake kali ini mencoba untuk memunculkan eksplorasi dalam tata rias dan busana. Salah satu konsep yang ditunjukkan dalam pertunjukan tersebut adalah glow in the dark. Konsep ini untuk membangun kesan bahwa pertunjukan ini adalah sebuah dongeng yang tak terjadi di dunia nyata. Konsep tata rias dan busana glow in the dark tersebut ditunjukkan dengan bahan bodypainting Xneon dan fosfor untuk riasnya, serta lampu jenis led dan bahan kain yang dapat menyala dalam gelap jika dibantu lampu UV untuk busananya. Kata kunci : Swan Lake, tata rias, tata busan

    Kegiatan Bermain Keyboard Anak Slow Learner Di Sekolah Inklusif Sd 1 Trirenggo Bantul Tahun Ajaran 2014/2015

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan yang dimiliki oleh anak slow learner pada bidang musik dan mendeskripsikan proses kegiatan bermain keyboard anak slow learner di sekolah inklusif SD 1 Trirenggo bantul tahun ajaran 2014/2015. Sampel penelitian berjumlah 4 anak slow learner. Model kegiatan bermain yang dilakukan adalah menggunakan alat musik keyboard sebagai media yang akan dimainkan secara langsung oleh 4 anak slow learner. Jenis metode yang dipakai adalah kualitatif, adapun metode penelitian yang digunakan adalah wawancara, discografi dan analisis secara musikologis yang selanjutnya dideskripsikan dalam bentuk skripsi. Materi yang disampaikan oleh guru meliputi pengetahuan tentang alat musik keyboard, teknik tangga nada, akord, dinamika dan satu buah lagu yang berjudul Ibu Kita Kartini dengan menggunakan tangga nada C Mayor. Metode pengajaran menggunakan metode demonstrasi, imitasi dan driil. Kata kunci : Kegiatan bermain, slow learner, keyboar

    Eksplorasi Material Lidi Dalam Penciptaan Seni Patung

    No full text
    Dalam penciptaan karya pada Tugas Akhir ini, penulis melakukan proses berkarya yang dimulai dari proses penentuan dan eksplorasi material sampai terciptanya karya. Pemilihan pada dua jenis material lidi, yaitu lidi kelapa dan aren karena mempunyai karakter dan potensi yang menarik untuk dilakukan eksplorasi.Dalam prosesnya, penulis membuat rancangan bentuk sebagai alasan berbuat atau bertindak untuk mengolah lidi, menggali berbagai kemungkinan kebentukan yang lain ketika proses kreatif berlangsung. Bentuk yang hadir belum tentu sama dengan bentuk pada rancangan awal dikarenakan menyesuaikan pada karakter lidi. Dalam perwujudan karya digunakan teknik anyam bebas sebagai ungkapan ekspresi, teknik anyam ini tidak terikat oleh motif tertentu, tetapi tetap mempertimbangkan unsur estetis seperti keselarasan, keseimbangan dan irama. Proses lahirnya bentuk pada perwujudan karya, entah itu termasuk representasional maupun non representasional merupakan otoritas dari penikmat untuk menerjemahkan atau menafsirkan, karena proses kreasi yang dijalankan tidak melalui prakonsepsi atau pamrih kebentukan. Masalah representasional atau non representasional lebih bersifat interpretativ atau penafsiran individu yang melihat dan mengamati.Eksplorasi material yang dilakukan adalah untuk melihat sejauh mana potensi material dapat dimaksimalkan sehingga bentuk yang dihasilkan akan beragam. Penulis memutuskan bahwa karya dianggap selesai apabila sudah mantap dari pribadi penulis baik dari segi bentuk maupun dari olahan pada karakter alaminya. Setelah melakukan proses eksplorasi terhadap lidi, didapati sebuah pembelajaran terhadap material yang digunakan. Beda perlakuan terhadap lidi juga pasti berbeda penanganan. hal inilah yang menjadi landasan dalam eksplorasi material lidi, mengerti akan kekuatan material yang selanjutnya dilakukan penanganan yang sesuai. Menuntun material berdasarkan potensi yang dimilikinya adalah syarat utama atas terciptanya sebuah bentuk dari karya, bukan pada keinginan untuk manaklukan material. Bentuk – bentuk yang dihasilkan dari eksplorasi tersebut didapati berupa bentuk volumentrik, organik, biomorfik dan bentuk linier tanpa anyaman. Semua bentuk tersebut dapat dicapai melalui proses anyaman secara acak tanpa berdasar pada pola tertentu. Proses berkarya yang menuntun material pada proses kebentukan berdampak pada rasa kebebasan dan lepas tanpa adanya beban, yang pada prosesnya mengalir begitu saja sehingga menjadi kesan kepuasan tersendiri bagi penulis. Begitu juga bagi masyarakat agar lebih dapat memanfaatkan material-material alami sehinggga dapat dimanfaatkan menjadi sesuatu yang mempunyai nilai estetis dan fungsional. Khususnya dalam dunia seni rupa di Indonesia. Kata kunci : Lidi, tiga dimensional, pelepah daun pohon kelap

    Garap Gending Lonthang, Jatikusuma, Renyep Dan Lung Gadhung

    No full text
    Penggarapan dan penulisan ini merupakan salah satu upaya untuk menggali dan melestarikan karawitan khususnya gending-gending Gaya Yogyakarta. Pada tugas akhir ini disajikan empat repertoar gending dengan garap soran, lirihan, iringan tari dan iringan pakeliran. Repertoar yang pertama yaitu Gending Lonthang laras pelog patet nem kethuk 4 arang dhawah kethuk 8 kerep Kendhangan Mawur, gending ini disajikan dengan garap soran. Repertoar yang kedua yaitu Gending Jatikusuma laras slendro patet sanga kethuk 4 kerep dhawah kethuk 8 Kendhangan Jangga. Gending ini disajikan dengan garap lirihan. Repertoar yang ketiga yaitu Gending Renyep laras slendro patet sanga kethuk 2 kerep dhawah kethuk 8 Kendhangan Candra. Gending ini merupakan gending yang digunakan untuk iringan tari Serimpi Renggawati. Repertoar yang keempat yaitu Gending Lung Gadhung laras pelog patet nem. Gending ini merupakan bagian dari adegan jejer II pada karawitan pakeliran Gaya Yogyakarta. Pembahasan yang dijadikan obyek dalam penelitian ini adalah mengenai garap ricikan bonang pada Gending Lonthang, ricikan rebab pada Gending Jatikusuma, ricikan kendhang pada gending iringan tari, dan ricikan gender pada gending iringan pakeliran. Dalam penelitian ini akan dikaji mengenai analisis garap ricikan dan struktur penyajian pada tiap-tiap gending. Metode penggarapan yang digunakan yaitu pengumpulan data dan analisis data. Tahap yang pertama pengumpulan data ditempuh dengan cara wawancara kepada pelaku seni (narasumber) yang mengetahui tentang gending-gending Gaya Yogyakarta dan garapnya. Selain wawancara yaitu studi pustaka yang bersumber dari referensi buku-buku tentang gending-gending karawitan dan skripsi yang berkaitan dengan materi penyaji. Tahap yang kedua yaitu analisis data. Setelah mendapatkan datadata yang fakta dari narasumber dan buku, kemudian diamati dan diolah datanya sesuai dengan permasalahan yang akan diuraikan. Setelah melakukan metode penggarapan langkah selanjutnya yaitu proses penggarapan. Tahapan-tahapan dalam proses penggarapan yaitu persiapan penulisan notasi balungan gending, analisis notasi balungan, analisis garap, aplikasi, menghafal, pola penyajian, latihan dan evaluasi, uji kelayakan dan penyajian. Kata kunci : Garap, Gending Lonthang, Gending Jatikusum

    Suita Tiga Ekspresi (Sebuah Komposisi Musik Untuk Bigband)

    No full text
    Karya Suita Tiga Ekspresi untuk big band, pada dasarnya dipengaruhi oleh keinginan penulis untuk membuat sebuah karya musik tentang kehidupan pribadi penulis. Tujuan penciptaan karya ini adalah mengemukakan isi dari perasaan penulis yang berupa kesedihan, kebahagiaan, dan kemarahan. Proses penciptaan karya ini memiliki tahapan-tahapan dalam penggambaran tiga ekspresi melalui musik. Tahapan tersebut antara lain menentukan ekspresi, menentukan kejadian-kejadian berdasarkan ekspresi, kemudian mempertimbangkan penggunaan unsur-unsur musik yang ada untuk mewujudkan penggambaran ketiga ekspresi tersebut. Karya ini dibuat berdasarkan pengalaman hidup penulis serta peninjauan pustaka mengenai makna dari ekspresi sehingga kejadian-kejadian yang dialami dapat dikelompokan ke dalam ekspresi-ekspresi yang ada. Berdasarkan pertimbangan tersebut, penulis mengelompokan tiga ekspresi yang umum dirasakan oleh manusia, yaitu sedih, bahagia, dan marah yang di dalamnya terdapat kejadiankejadian yang mewakili masing-masing ekspresi. Berbagai macam teknik digunakan, baik dalam teknik komposisi maupun teknik pada instrumentasinya untuk lebih dapat menggambarkan perasaan penulis. Penulis kerap menggunakan teknik komposisi seperti repetisi, imitasi, eliminasi, augmentasi, dan pengembangan. Sedangkan dalam instrumentasinya penulis menggunakan teknik glissando dan penggunaan mute. Kata kunci : Musik, Suita, Ekspres

    Akulturasi Budaya Pada Interior Masjid Indrapuri Di Aceh Besar

    No full text
    Masjid indrapuri merupakan sebuah masjid yang terletak di kecamatan Indrapuri kabupaten Aceh Besar, Aceh. Sebelum ajaran Islam masuk di Aceh, bangunan ini diduga sebagai candi Hindu milik kerajaan yang oleh orang arab disebut sebagai Lamuri dan disebut Lambri oleh Marcopolo. Di masa Sultan Iskandar Muda, bangunan candi ini dirombak menjadi masjid. Puncak perkembangan kerajaan Aceh terjadi pada masa Sultan Iskandar Muda (1607-1637). Masa pemerintahan Sultan ini merupakan masa kejayaan kerajaan Aceh, baik politis maupun ekonomi. Pada masa ini banyak dibangun masjid sebagai tempat beribadah umat Islam. Ekspansi-ekspansi teritorial di daerah-daerah tetangga dilakukannya. Dari tahun 1612-1621, ia telah berhasil menaklukkan sejumlah kerajaan pantai di sekitar selat malaka dan di pantai bagian barat pulau Sumatera. Sepulangnya dari Malaka, dibangunlah masjid Indrapuri diatas reruntuhan Candi tersebut. Pondasi Candi yang bertingkat di robohkan hingga tingkatan ke empat. Di tingkat ke empat inilah tiang-tiang masjid didirikan. Banyaknya kebudayaan yang masuk dan berkembang di Aceh, membuat penulis tertarik untuk meneliti akulturasi budaya yang terdapat pada masjid Indrapuri tersebut. Keunikan letak masjid Indrapuri yang dibangun diatas Candi Hindu itu juga membuat penulis ingin mengetahui bagaimanakah interior masjid Indrapuri tersebut ditinjau dari mihrab dan mimbar, ruang utama dan ornamen. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa masjid ini merupakan akulturasi dari budaya Hindu dengan budaya tradisional Aceh. Kebudayaan hindu dapat terlihat dari denah masjid, atap, lantai, dinding, dan mihrab masjid. Sedangkan kebudayaan Aceh dapat terlihat dari dinding, tiang dalam masjid, dan plafon. Kata kunci : Studi Akulturasi, Masjid, Indrapur

    Penciptaan Naskah Drama Jagapati Puputan Terinspirasi Dari Sejarah Perang Puputan Bayu

    No full text
    Naskah drama Jagapati Puputan adalah sebuah naskah drama dengan genre klasik yang mengusung irama tragis dengan tema perjuangan. Drama Jagapati Puputan berkisah tentang perjuangan Pangeran Jagapati di Kerajaan Blambangan. Dalam peperangan, Jagapati memerintahkan untuk tidak menyerah dan tetap berjuang mengusir kompeni. Naskah drama Jagapati Puputan dalam proses penciptaannya melalui berbagai tahapan, yang bersumber pada sejarah perang Puputan Bayu, dengan tahap pengumpulan data yang menggunakan metode deskriptif dan kajian pustaka, kemudian data tersebut direkonstruksi menjadi karya fiksi menggunakan metode intertekstual dan rekonstruksi teks. Alur yang digunakan dalam naskah drama menggunakan alur aristotelian atau yang biasa disebut dengan dramatic plot aristoteles. Hasil penciptaan naskah ini memiliki pesan moral bahwasanya dalam perjuangan dibutuhkan jiwa nasionalisme, kesetiaan, keberanian, ketulusan dan pengorbanan. Kata kunci : Naskah, drama, genre klasi

    0

    full texts

    696

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Saraswati
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇