Saraswati
Not a member yet
696 research outputs found
Sort by
Perancangan Buku Ilustrasi Peralatan Masak Tradisional dari Bambu di Yogyakarta
Indonesia merupakan negara agraris yang kaya akan sumber daya alam. Hutan hujan tropis di Indonesia memiliki vegetasi yang sangat beragam. Diantara ribuan tanaman yang ada di Indonesia, bambu merupakan salah satu tanaman yang mudah ditemui di setiap daerah di Indonesia, baik di dataran rendah maupun di dataran tinggi. Bambu merupakan tanaman multi fungsi, dari akar daun, batang, bunga dan rebung nya dapat dimanfaatkan untuk kehidupan sehari-hari. Sejak jaman dahulu bambu dimanfaatkan sebagai bahan bangunan, kerajinan tangan, obat-obatan dan alat masak tradisional. Salah satu hasil olahan dari bambu, yaitu alat masak tradisional, dewasa ini mulai ditinggalkan karena dianggap kurang praktis dan kuno. Padahal alat masak tradisional yang sangat ramah lingkungan ini, merupakan artefak budaya Indonesia peninggalan nenek moyang yang sepatutunya kita lestarikan. Banyak generasi muda saat ini tidak mengetahui dan acuh tak acuh pada peralatan ini. Kita ketahui banyak wisatawan mancanegara yang menghargai produk semacam ini. Jangan sampai kita kecewa jika artefak budaya Indonesia yang satu ini di klaim milik negara lain. Buku merupakan media penyampai pesan yang tidak asing bagi semua orang. ilustrasi pada buku dapat menambah nilai estetis dan artistik. Dengan menambahkan ilustrasi pada buku akan lebih menarik perhatian audiens dan mempermudah pembaca untuk memahami pesan yang ingin disampaikan. Buku ilustrasi alat masak tradisional dari bambu merupakan salah satu upaya pelestarian budaya lokal di Indonesia. Buku ini menyajikan ilustrasi beberapa jenis bambu, pengolahan batang bambu agar dapat dianyam dan peralatan masak tradisional dari anyaman bambu, serta keterangan kegunaan alat masak tersebut. Dengan harapan pembaca ataupun generasi muda mengerti dan dapat ikut melestarikan. Kata kunci : buku, Ilustrasi, bamb
“OR”
“OR” merupakan karya komposisi karawitan yang mengangkat ide tentang aksi demonstrasi. Demonstrasi adalah sebuah tindakan bersama untuk menyatakan protes terhadap suatu pendapat. Ada dampak positif dan negatif dalam aksi demonstrasi. Hal positif aksi tersebut diwarnai dengan berbagai orasi untuk menyampaikan aspirasi rakyat, sedangkan hal negatif yaitu aksi yang merusak fasilitas Negara umum karena sikap emosional. Aksi demonstrasi tersebut kemudian diolah secara musikal dengan menganalogikan suasana yang terjadi. Judul “OR” diambil singkatan dua huruf awal dari Oration of React. Oration berarti orasi dan React yang berarti menentang. Judul tersebut diambil dari kejadian yang pasti ada di dalam aksi demonstrasi. Orasi yang menentang ini terdapat hal yang terkait dengan benar atau salah aksi demonstrai tersebut. Judul “OR” dijadikan sebuah pesan yang ingin disampaikan penulis tentang benar atau salah aksi tersebut. Komposisi ini terdiri dari introduksi, empat bagian lagu, ending yang merupakan analogi dari suasana dan kejadian yang ada pada aksi demonstrasi. Instrumen yang digunakan sebagai media ungkapan dari suasana tersebut adalah bonang, gender, suling, gender air, kendang, demung, saron, gambang, kempul dan gong. Kata kunci : Komposisi, Karawitan, Demonstras
Fenomena Konflik Etnis Di Kalimantan Barat Sebagai Inspirasi Penciptaan Naskah Drama “Junjung Sumpah”
Junjung Sumpah menjunjung adat, bumi di pijak adat di junjung, mana kala kita sedarah, saling menjaga ke akhir hayat. Putri Vati merintih, suaminya mati dibunuh warga, dua anaknya menangis minta susu, Kakek Suci dan siluman kera murka mengutuk Vati dan memisahkan kedua buah hatinya. Bertahun lewat, Kaha dan Kanu tumbuh dewasa, tak saling mengenal akan saudara, berbeda suku juga budaya maka terjadilah perang saudara. Tumpukan-tumpukan konflik, serta berbagai macam intrik di dalam cerita coba dihadirkan, agar mampu merangsang daya imaji pembaca untuk masuk ke dalam dimensi ruang peristiwa Junjung Sumpah. Karya ini merupakan sebuah bentuk protes terhadap fenomena konflik etnis 1997-1999 di Kalimantan Barat, peristiwa yang masih membekas sampai sekarang di hati seluruh masyarakat. Bangsa ini masih belum seutuhnya meresapi arti dari kata “Bhineka Tunggal Ika”, jika di setiap penjuru negeri masih ada konflik perang saudara. Kata kunci : Junjung Sumpah, Konflik Etnis, Kalimantan Bara
Kelompok Musik Serempet Gudal Di Kota Semarang Provinsi Jawa Tengah: Sebuah Kajian Etnomusikologi
Kelompok musik Serempet Gudal merupakan kelompok musik parodi, dalam pementasannya kelompok ini menyajikan lagu-lagu yang mereka buat sendiri, dimana didalam lagu-lagu tersebut termuat pesan moral dan kritik sosial yang disampaikan melalui lirik-lirik lagunya. Karya-karya mereka sebagian besar mengadopsi idiom dan medium musik barat, namun selain itu kelompok musik Serempet Gudal juga memasukan unsur-unsur lokal dalam penggarapanya. Keunikan inilah yang menjadikan Kelompok musik ini dapat diterima oleh masyarakat kota Semarang pada khusus dan masyarakat luas pada umumnya. Tujuan penelitian ini adalah ingin mengetahui bagaimana pesan moral dan kritik sosial yang disampaikan melalui lirik-lirik lagunya, dan juga ingin mengetahui bagaimana bentuk penyajian kelompok musik Serempet Gudal. Untuk kepentingan tersebut, maka penulis menggunakan metode deskriptif analitis sebagai alatnya, dan dengan perpekstif Etnomusikologis sebagai pendekatannya. Setelah melalui proses pembahasan, maka dapat dikatakan bahwa kelompok musik Serempet Gudal memiliki kekuatan pada aksi panggung dan lirik-lirik lagunya, yang ternyata sangat diminati warga masyarakat Semarang pada khusunya dan masyarakat luas pada umumnya. Kata kunci : Serempet Gudal, Pesan Moral, Kritik Sosia
Perancangan Interior Lobby, Lounge Dan Restaurant Hotel Courtyard Marriott, Ubud, Bali
Ubud merupakan daerah di Bali yang terkenal dengan pemandangan sawah dan sungainya yang indah serta kekayaan seni dan budayanya. Daerah ini menjadi tempat persinggahan para wisatawan baik asing maupun lokal karena terdapat banyak galeri, pertunjukan seni, maupun tempat wisata lainnya. Selain hal tersebut, magnet utama Ubud bagi para wisatawan adalah pemandangan jajaran hutan dan persawahannya yang merupakan nilai plus bagi sektor pariwisata di daerah tersebut. Berangkat dari hal tersebut, daerah ini sangat strategis untuk dibangun resort hotel yang mampu memberikan pelayanan bagi para penikmat alam, seni dan budaya di Ubud. Sebuah resort hotel perlu mencerminkan karakteristik dan keunikan dari tempat dimana hotel itu berada. Perancangan interior pada hotel Courtyard Marriot ini mengusung tema “natural Bali” dimana mengangkat karakteristik lingkungan alam Bali dan arsitekturnya. Penggunaan material alami, penghawaan alami, dan aspek lainnya akan menjadi poin utama dalam perancangan ini. Bentuk-bentuk modern akan dipadukan dengan bentuk bunga kamboja Bali yang diterapkan pada rancangan interior lobby, lounge, dan restaurant di hotel ini. Kata kunci : resort hotel, desain, natura
Lung Kukilo Ring Sekar
“Lung kukilo ring sekar” sebuah koreografi kelompok sebagai tugas akhir yang pelaksanaannya di procenium stage Jurusan Tari Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Lung kukilo ring sekar (bahasa kawi). Lung berarti ranting atau cabang-cabang memiliki makna saling memberi, menolong dan dermawan. Kukilo berarti burung, mengandung unsur gambar burung memiliki arti sedikit bicara dan berwibawa. Ring berarti ing, ingkang, dhateng dan wonten ing yang memiliki makna berada. Sekar berarti kembang atau bunga memiliki makna diam itu emas. “Lung kukilo ring sekar” yang berarti kedermawanan, kewibawaan sebagai laku spiritual untuk mencapai hakikat kemulyaan. Koreografi mengambil tema tentang batik sida mukti. Batik sida mukti menjadi rangsang idesional dan visual dalam koreografi ini dengan penggembangan gerak ukel, ragam nglayang, nggurdha dan nggundhuh sekar. Koreografi “lung kukilo ring” sekar menceritakan tentang selembar kain putih atau mori sebagai sarana permohonan do’a yang diwujudkan dengan motif yang dilukiskan di kain khususnya batik sida mukti. Batik dipakai menyertai dalam siklus kehidupan manusia sejak lahir, remaja, dewasa, menikah hingga ajal tiba. Salah satu contoh batik sida mukti biasanya digunakan sepasang manten saat upacara pernikahan yang memiliki makna dan harapan keduanya mendapatkan kehidupan yang mukti di dunia maupun akhirat. Dasar gerak koreografi “lung kukilo ring sekar” adalah Gaya Klasik Yogyakarta yang ditarikan oleh 5 orang penari perempuan. Koreografi “lung kukilo ring sekar” diharapkan dapat mengenalkan dan memotivasi khususnya batik sida mukti, untuk mengetahui nilai filosofi, makna, serta kegunaan batik sida mukti pada masyarakat umum khususnya yang melihat karya “lung kukiko ring sekar”. Kata kunci : lung kukilo ring sekar, sida mukti, siklus kehidupa
Bande Angen
Karya tari Bande Angen adalah karya tari yang mengangkat tema Gejolak Hati Dedare Sasak, karya tari ini merupakan koreografi kelompok yang terinspirasi dari fenomena di masyarakat suku Sasak Lombok tentang pernikahan berbeda kalangan, dalam hal ini perbedaan antara kalangan wanita yang lebih tinggi dari laki-laki. Pernikahan ini selalu diwarnai dengan permasalahan dari pihak wanita yang tidak ingin melepaskan anaknya untuk menikah dengan lakilaki dari kalangan dibawahnya. Hal inilah yang membuat gadis-gadis atau dedarededare menjadi khawatir, takut untuk memperkenalkannya kepada orang tua, namun di sisi lain rasa bahagia itu tetap ada karena bisa menjalin hubungan dengan orang yang disayang. Tipe tari yang digunakan dalam karya tari ini adalah tipe dramatik dengan mode penyajian simbolik representasional. Karya tari ini terdiri dari tujuh orang penari putri, dua orang penari Gendang Beleq yang langsung ditarikan oleh pemusik, satu orang penari putri dan satu orang penari putra sebagai penggambaran tentang inti permasalahan yang ingin ditunjukkan. Gerak yang disajikan dalam karya tari ini adalah gerak-gerak tradisi Lombok yang kemudian dikembangkan baik waktu, ruang, dan tenaga. Karya tari Bande Angen menggunakan lampu khusus dengan menggunakan lampu zoom profile, hal ini bertujuan untuk membentuk hasil cahaya berbentuk kotak agar fokus pada satu titik saja, selain itu karya tari ini menggunakan siluet pada bagian tertentu. Kata kunci : Bande Angen, Gendang Beleq, Koreografi Kelompo
Pembuatan Aransemen Lagu Autumn Leaves Karya Joseph Kosma Untuk Vokal Solo Dan Orkestra
Lagu Autumn Leaves merupakan lagu standar jazz dengan irama medium swing karya Joseph Kosma yang dipopulerkan oleh Johnny Mercer pada tahun 1950. Lagu Autumn Leaves berasal dari kalimat puisi yang ditulis oleh Jacques Prevert yang berasal dari Perancis berjudul Les Feuiless Mortes. Puisi tersebut menceritakan tentang kisah sepasang kekasih yang berpisah. Puisi tersebut ditulis menjadi sebuah lagu oleh Joseph Kosma seorang komposer yang berasal dari Hungaria. Lagu Les Feuiless Mortes ditulis ke dalam bahasa Inggris oleh Johnnya Mercer yang berjudul Autumn Leaves. Sejarah lagu ini memiliki kesamaan pengalaman pribadi penulis sehingga penulis sangat tertarik membuat sebuah karya aransemen lagu tersebut. Aransemen adalah mengolah kembali sebuah karya musik, melengkapi dengan berbagai bagian struktur dan menambahkan bahan materi yg diperlukan biasanya membuat menjadi berbeda dari karya yang awal atau aslinya. Penulis mengolah lagu Autumn Leaves untuk orkestra dan vokal solo. Lagu Autumn Leaves terdiri dari dua bagian, yaitu bagian A dan B. Bagian A terdiri dari frase A dan A’ sedangkan bagian B terdiri dari frase B dan C. Aransemen yang dilakukan penulis terdiri dari introduksi I, transisi I, introduksi II, tema A, tema B, transisi II, tema A, tema B, interlude, tema B dan koda/ending. Kata kunci : aransemen, lagu autumn leaves, orkestr
Stage Manager Dalam Yogyakarta International Chamber Music Festival
Yogyakarta International Chamber Music Festival (YICMF) merupakan konser musik yang bertaraf Internasional yang dimiliki Jurusan Musik ISI Yogyakarta ini, sudah memiliki tim untuk mengelola proses dari awal hingga berlangsungnya konser tersebut. Tim yang mengelola sebuah pertunjukan dari persiapan awal hingga konser berlangsung. Ini sering disebut juga dengan Manajemen Pertunjukan, yang biasanya dipimpin oleh seorang stage manager yang bertanggung jawab secara penuh terhadap terlaksananya suatu pertunjukan mulai dari perencanaan ,latihan, persiapan tehnik, hingga jalannya pertunjukan. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif analisis, yaitu terdiri dari menentukan materi penelitian dan tehnik pengumpulan data yang dilakukan dengan wawancara mengenai kinerja seorang stage manager serta peranannya dalam memimpin pertunjukan. Kata kunci : manajemen pertunjukan, stage manager, YICM
Analisis Koreografi Tari Sepen Versi Bapak Suchron
Tulisan ini menganalisis tari Sepen versi Bapak Suchron sebagai sebuah tari yang lahir dari masyarakat Belitung. Tari Sepen lahir dari upacara marastaun, yaitu upacara keselamatan saat usai panen padi. Pada awalnya di setiap acara marastaun terdapat kesenian yang disebut besepen sebagai ungkapan kegembiraan seluruh masyarakat yang diwujudkan dengan menari secara berpasangan dalam suatu kelompok di mana gerakannya cenderung sederhana dan terus menerus diulang-ulang. Sekitar tahun 1980-an seorang seniman bernama Domra menggubah kesenian besepen ini menjadi tari Sepen, yang dikenal oleh masyarakat Belitung sampai saat ini. Penelitian ini menggunakan pendekatan koreografi yang melihat tari dengan analisis yang meliputi aspek bentuk, aspek teknik, dan aspek isi, serta elemen dasar koreografi yang terdiri dari aspek gerak, aspek ruang, dan aspek waktu. Penggunaan pendekatan tersebut dipakai untuk mengetahui teks koreografi tari Sepen secara keseluruhan. Tari Sepen versi Suchron adalah tari kelompok yang biasanya ditarikan oleh 6 orang penari wanita. Secara koreografis bentuk garapan tari Sepen bersifat sederhana, baik unsur gerak tari, pola lantai, maupun tata rias-busana. Gerakan, pola lantai, kostum, iringan tari Sepen ini tidak baku sehingga mengalami banyak pengembangan yang dilakukan oleh banyak seniman Belitung. Biasanya setiap sanggar memiliki pola-pola gerak tari Sepen tersendiri yang berbeda dengan sanggar-sanggar lainnya. Alasan dipilihnya tari Sepen versi Bapak Suchron sebagai objek kajian karena baik gerakan tari, pola lantai, serta musik, tidak terlalu banyak divariasikan sehingga masih berpijak pada kesenian besepen. Spesifikasi gerak tari pada kesenian besepen yaitu gerak kaisan kaki dan tepuk tangan masih mendasari tari Sepen versi Suchron ini. Kata kunci : Marastaun, Tari Sepen, Koreograf