696 research outputs found

    Kicak Shrogol

    No full text
    Kicak Shrogol, merupakan judul yang dipilih untuk karya tari ini.Kicak Shrogol diambil dari gabungan suku kata nama motif yang dikembangkan yaitu kirig, cakilan, shrokal, dan megol. Motif gerak yang menjadi dasar karya tari ini adalah motif gerak kirig, cakilan, megol, dan satu rangkaian motif gerak yang meminjam nama dari iringan yaitu shrokal. Karya tari Kicak Shrogol merupakan jenis koreografi kelompok dengan menggunakan dua puluh lima penari. Tidak ada makna khusus dalam jumlah penari Kicak Shrogol, koreografer hanya ingin mencoba dan membuat pola lantai yang bervariasi dengan menggunakan dua puluh lima penari. Selain itu, pembawaan yang lebih maskulin maupun feminin juga ditekankan. Tipe karya tari Kicak Shrogol adalah studi motif gerak kirig, cakilan, megol, dan shrokal. Pencarian pengembangan atau kemungkinan-kemungkinan dalam mengembangkan esensi motif gerak tersebut, misalnya esensi gerak kirig pada bahu di pindah ke pantat dan dada, maka akan menghasilkan gerak yang baru. Formasi karya tari Kicak Shrogol menggunakan titik kuat dan titik lemah pada proscenium stage. Kata kunci : Kicak Shrogol, studi Koreografi, kelompo

    Penciptaan Naskah Drama Secangkir Teh Terinspirasi Cerita Cinderella Karya Charles Perrault

    No full text
    Cinderella adalah cerita karya Charles Perrault yang menceritakan Cinderella, seorang gadis yang mempunyai impian menikah dengan seorang pangeran, pada akhir cerita impian cinderella akhirnya terwujud dengan bantuan peri yang menjaga dirinya. Kisah Cinderella ini kemudian dibaca dengan pemaknaan yang lain sehingga tercipta naskah drama Secangkir Teh. Pembacaan makna ini bukan berarti, bahwa naskah drama Secangkir Teh adalah pembenaran makna dari cerita Cinderella, melainkan menemukan makna lain hingga naskah drama Secangkir Teh berdiri sebagai sebuah karya yang mempunyai maknanya tersendiri. Pemindahan makna ini dapat terjadi dan tidak terlepas karena keduanya merupakan sebuah teks. Sebuah teks terkait dengan teks lainnya, itulah prinsip interteks. Kata kunci : Cinderella, naskah drama Secangkir Teh, Makn

    Aktivitas Koor Gerejawi Lingkungan Stephanie Keparakan Lor Dalam Ibadat Liturgi Gereja Katolik St. Fransiscus Xaverius Kidul Loji Yogyakarta

    No full text
    Sebuah ibadat liturgi mingguan di gereja Katolik hampir selalu dimeriahkan oleh sebuah kelompok koor yang anggotanya berasal dari umat yang tergabung dalam sebuah lingkungan di wilayah gereja tersebut. Di setiap kelompok koor lingkungan, tidak semua anggotanya memiliki kemampuan menyanyi yang baik. Aktivitas koor yang mereka lakukan lebih didasari pada semangat pelayanan untuk gereja, sehingga peran aktif umat untuk bergabung menjadi anggota koor lingkungan menjadi suatu hal yang patut disyukuri. Untuk mencapai fungsi kemeriahan ibadat liturgi, maka sebuah kelompok koor sebagai pendukung ibadat liturgi perlu mempersiapkan diri. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui aktivitas koor gerejawi Lingkungan Stephanie Keparakan Lor Gereja Katolik St. Fransiscus Xaverius Kidul Loji Yogyakarta yaitu proses latihan untuk mempersiapkan tugas ibadat liturgi di Hari Raya Pentakosta tanggal 24 Mei 2015. Penelitian ini memaparkan dampak pemahaman peran aktif anggota koor dalam ibadat liturgi terhadap upaya individu memberikan perhatian pada detil aktivitas musikal yang dipersiapkan untuk mencapai kemeriahan ibadat liturgi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dirigen memegang peran penting untuk mengarahkan anggotanya dalam mempersiapkan ibadat liturgi. Aktivitas musikal yang dilakukan lebih banyak ditentukan oleh pemahaman dirigen terhadap cara mempersiapkan anggotanya untuk memberikan kemampuan bernyanyi koor mereka secara maksimal. Kata kunci : koor, koor lingkungan, pelatih koo

    Analisis Koreografi Bedhaya Bedhah Madiyun Gaya Yogyakarta Rekonstruksi Juni 2014 Oleh R.Ay Sri Kadaryati

    No full text
    Bedaya merupakan artefak hidup yang lahir, tumbuh, dan berkembang dilingkungan aristokrat, baik di Keraton Surakarta, Keraton Yogyakarta, Kadipaten Mangkunegara, dan Kadipaten Pakualaman. Bedhaya Bedhah Madiyun Gaya Yogyakarta lahir pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwono VII. Bedaya ini telah kehilangan gaungnya semenjak terakhir direkonstruksi pada tahun 1987, sehingga pada Juni 2014 bedaya tersebut berhasil direkonstruksi kembali. Awal penelitian ini dilakukan pencermatan terhadap teks Bedhaya Bedhah Madiyun Gaya Yogyakarta, sebagai objek material. Bedaya yang merupakan artefak hidup tidak akan lepas dari sebuah struktur tari yang membentuknya. Struktur itu dibentuk oleh teks dan konteks yang berkaitan dengan terbentuknya Bedhaya Bedhah Madiyun. Bedasarkan penelitian ini, digunakan cara pandang Janet Ashead mengenai metode analisis yang terdiri dari empat tataran metode, yaitu (1) Discribing (mendiskripsikan tarian) (2) Discerning (mengkaitan koreografi dalam komponen-komponen tari ) (3) Interpreting (interpretasi) dan (4) Evaluating (evaluasi). Analisis koreografi menggunakan konsep-konsep yang dikemukakan oleh La Meri, dan konsep tari Jawa, khususnya gaya Yogyakarta. Diperkaya dengan konsep-konsep koreografi lainnya. Melalui pendekatan analisis koreografi ditemukan, hal unik yakni pada aspek gerak dan pola lantainya. Ditemukan suatu kenyataan bahwa motif gerak gudhawa tampak khas dalam struktur geraknya. Motif ini tidak lazim ditemukan pada bedaya lainnya. Beberapa pola lantai pada bedaya ini tampak khas, karena terdapat pola lantai dua garis berbanjar saling berhadapan dan terdapat dua garis mendatar saling berhadapan secara horisontal, pola lantai tersebut yakni rakit baris dan rakit gelar. Kata kunci : Bedhaya, Bedhah Madiyun, Analisis Koreograf

    Perancangan Motion Comic Biografi Sultan Hamengku Buwana IX

    No full text
    Tanggal 17 agustus 1945 adalah tonggak kemerdekaan Indonesia lepas dari penjajahan. Hal ini ditandai dengan banyaknya keringat, darah, dan pikiran yang telah disumbangkan oleh para pahlawan kita. Tokoh seperti Soekarno, Hatta, Sjahrir, Sultan Hamengku Buwana IX, Tan Malaka, dan masih banyak nama-nama yang memiliki andil besar dalam perjuangan merintis kemerdekaan Indonesia. Menurut pengamatan penulis, dewasa ini banyak tokoh-tokoh pahlawan kita dilupakan. Sultan Hamengku Buwana IX misalnya, beliau merupakan salah satu raja Kraton Yogyakarta yang menjabat disaat masa sulit. Beliau mengalami 3 masa, yakni masa penjajahan Belanda, masa penjajahan Jepang, dan masa perang revolusi kemerdekaan. Meskipun nama beliau kalah tenar gaungnya dari para tokoh seperti Soekarno, Hatta, dan sebagainya, namun Sultan Hamengku Buwana IX memiliki jasa yang sangat vital dalam mempertahankan negara Indonesia. Ironisnya, sekarang para generasi muda cenderung melupakan jasa-jasa para pahlawan kita, terutama Sultan Hamengku Buwana IX. Hal ini dikarenakan perkembangan globalisasi yang tanpa filter lebih mengenalkan budaya dan tokohtokoh luar Indonesia daripada para pahlawan kita sendiri. Maka penulis merasa perlu adanya suatu karya seni dengan gaya baru untuk mengembalikan atau minimal menggugah minat para pemuda untuk mencoba lagi mengenal para pahlawan kita terdahulu. Maka penulis merancang sebuah motion comic berjudul Sultan Hamengku Buwana IX. Penulis mengangkat sejarah perjalanan kehidupan Sultan Hamengku Buwana IX, dikarenakan beliau bisa dikiaskan sebagai penjaga gawang bangsa Indonesia dari serbuan Agresi Militer Belanda dan penjaga gerbang dalam melindungi rakyatnya. Melalui motion comic ini, penulis menceritakan sejarah singkat Sultan Hamengku Buwana IX dimulai dari kelahiran beliau sampai dengan perjuangan dalam mempertahankan Indonesia. Ini terlihat pada peristiwa “Serangan Oemoem 1 Maret” yang digagasnya. Diharapkan melalui pendekatan cerita ini, masyarakat Indonesia terutama para generasi muda tergugah akan pentingnya kalimat “JAS MERAH” Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah. Kata kunci : desain, komunikasi visual, Motion comi

    Pembelajaran Drum Band Pada Anak Kelas 4 dan 5 Di SD Negeri 1 Sleman

    No full text
    Pembelajaran drum band merupakan kegiatan pembelajaran sekolah yang bersifat ekstrakulikuler. Pembelajaran ekstrakulikuler drum band memiliki manfaat yang baik untuk murid, dan juga digemari oleh murid. SD Negeri 1 Sleman merupakan sekolah yang telah menyelenggarakan kegiatan ekstrakulikuler drum band. Ekstrakulikuler drum band SD Negeri 1 Sleman mendapat dukungan dari pihak sekolah, sehingga dapat meraih prestasi.Tujuan penelitian ini untuk mengetahui tentang bagaimana proses pembelajaran ekstrakulikuler drum band yang dilaksanakan pada anak kelas 4 dan 5 di SD Negeri 1 Sleman. Setelah melalui penelitian kualitatif, hasil yang didapat yaitu dalam proses pembelajaran drum band di SD Negeri 1 Sleman pengajar atau pelatih terlebih dahulu merancang metode pembelajaran berupa materi dan tahap pembelajaran yang baik dan efisien, dengan mengadakan latihan bertahap dari seksional hingga gabungan serta pembahasan materi lagu secara bertahap sesuai bagian lagu. Model pembelajaran yang digunakan dalam proses pembelajaran ekstrakulikuler drum band di SD Negeri 1 Sleman yaitu model pembelajaran dengancara menirukan guru yang memberi contoh terlebih dahulu, sedangkan murid mengamati sebelum mempraktekkan. Kata kunci : Metode pembelajaran, drum band, musik,SD Negeri 1 Slema

    Penyutradaraan Program Dokumenter Ekspositori “Adu Jago”

    No full text
    Dokumenter televisi “Adu Jago” merupakan hasil karya seni tugas akhir yang menerapkan gaya dokumenter ekspositori. Karya ini mengangkat keterkaitannya dengan sejarah dan budaya sabung ayam dengan perjudian dan isu kekerasan terhadap hewan sebagai konfliknya. Lewat komunitas penggemar ayam aduan, karya ini memaparkan setiap argumentasi dari narasumbernya sebagai penjalin cerita. Kontes ayam aduan lewat komunitas Papaji dijadikan sebuah resolusi dalam karya ini. Penerapan gaya ekspositori digunakan untuk mengarahkan penonton ke sebuah sudut pandang dimana adu ayam merupakan warisan budaya yang perlu dilestarikan tanpa stigma negatif yang melekat lewat kontes ketangkasan ayam aduan. Karya ini melihat hobi terhadap ayam aduan lewat subjektifitas dari para pelakunya dimana para penggemarnya menjadikan ayam aduan sebagai sebuah kebanggaan dan ajang prestisius. Kata kunci : Dokumenter, Ekspositori, Adu Jag

    Eksistensi Grup Musik Ki Ageng Ganjur Yogyakarta

    No full text
    Grup Ki Ageng Ganjur adalah grup musik bernafas Islam yang terbentuk di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dengan memadukan Istrument Barat, Gamelan, dan permainan gaya Timur Tengah, nama Ki Ageng Ganjur diambil berdasarkan saran dan petunjuk dari almahrum Gus Dur yang merujuk pada nama seorang pembantu setia Sunan Kalijaga bernama Syekh Abdurrahman yang terkenal dengan sebutan Ki Ageng Ganjur sebagai seorang panglima kerajaan Demak dan pemberi semangat dalam setiap perjuangan pasukannya dengan membunyikan Gong Ganjur (berbentuk seperti gong gamelan Jawa)untuk memanggil dan mengumpulkan masyarakat, ketika Kanjeng Sunan Kalijaga akan memberikan wejangan dan ceramah. Musik merupakan wahana auditif yang universal, sehingga tidak dapat di intervensi untuk suatu kepentingan ataupun selera. Musik merupakan titik puncak dari sebuah proses dimana pemusik atau pencipta menyerahkan seluruh daya akal dan rasa menghidupkan suatu realitas sosial, budaya, politik, dan ekonomi. Musik hadir sebagai media dalam daya ungkap, daya kritis, serta ajaran moral yang tinggi. Tema yang diangkat dalam pertunjukan grup Ki Ageng Ganjur adalah religi dengan ketentuan yang ada pada religi agama Islam, kesan religi yang nampak terdapat pada pengolahan syair, musik, dan masyarakat pendukungnya, keunikan dari segi instrumentasi grup Ki Ageng Ganjur adalah dari pembuatan gamelan dengan susunan nada yang dapat membentuk nadaminor Zigana, pengolahan nada dari gamelan ini akan mempermudah grup Ki Ageng Ganjur untuk memainkan nada dengan nuansa Timur Tengah yang membuat kesan Religi Islam semakin kuat pada setiap penggarapan lagu Ki Ageng Ganjur.Grup KAG memiliki pengalaman pentas yang tinggi terutama sebagai alternatifpertunjukan seni di Pondok Pesantren NU, relasi dari berbagai instansi membuat eksistensi grup KAG bertahan hingga sekarang. Kata kunci : Eksistensi, Grup Ki Ageng Ganjur, Relig

    Interpretasi Nasehat Ibu Dalam Karya Seni Kriya Kayu

    No full text
    Pertumbuhan sosial ekonomi masyarakat telah mengubah etitut manusia dalam menghadapi perubahan zaman, sehingga secara perlahan mengalami pergeseran norma. Diperkuat berkembangnya pertumbuhan teknologi sebagai sarana penyebaran informasi dari berbagai belahan dunia. Perubahan sikap manusia dimasyarakat telah mempengaruhi segala bidang kehidupan. Seiring dengan isu tersebut, terjadi pula pergeseran bahasa nasehat serta penyampaianya, pada saat ini bahasa dikemas lebih sederhana sehingga anak lebih mudah memahami. Anak-anak saat ini tentu tidak mengenali bahasa nasehat masa lalu yang disampaikan oleh ibu. Tugas Akhir ini adalah usaha untuk mengenalkan kembali budaya nasehat di masa lalu sehingga menjadi momentum memaknai pentingnya nasehat dan peran ibu dalam mendidik anak. Proses penciptaan Tugas Akhir, penulis menggunakan beberapa metode. Diawali dengan eksplorasi untuk mengidentifikasi sumber ide berupa gejala-gejala perubahan moral dan budaya anak muda yang terjadi di masyarakat. Temuan hasil analisis dari interpretasi kemudian diolah secara simbolik, kreatif dan menampilkan nilai estetis. Selanjutnya dipergunakan sebagai bahan perancangan. Perwujudan merupakan tahap terakhir dari desain terpilih dengan pembuatan gambar kerja atau prototype hingga ditemukan bentuk dalam wujud karya yang dapat menjadi simbol sesuai keinginan penulis. Hasil penciptaan karya seni kriya pada Tugas akhir ini, penulis menampilkan karya berbentuk dua dimensional dan tiga dimensional, beberapa karyanya memiliki nilai fungsional dan beragam bentuk untuk menghindari kemonotonan. Karya-karya tersebut merupakan hasil interprestasi penulis, dan tidak menampilkan pembenaran terhadap nasehat ibu. Kata kunci : Nasehat ibu, Interpretasi, Seni Kriy

    Tokoh Petruk Sebagai Sumber Ide Penciptaan Karya Seni Batik

    No full text
    Wayang merupakan salah satu hasil budaya suku Jawa yang sangat terkenal sebagai seni klasik yang adiluhung dan perlu dilestarikan. Budaya wayang meliputi: seni musik, seni sastra, seni lukis, dan juga seni pahat. Budaya wayang yang terus berkembang dari zaman ke zaman, juga merupakan media dakwah, pendidikan, dan hiburan. Penciptaan karya Tugas Akhir yang berjudul “ Tokoh Petruk Sebagai Sumber Ide Penciptaan Karya Seni Batik” menggambil ide dari tokoh Petruk yang divisualisasikan sebagai wakil dari sifat dan sikap masyarakat dilingkungan penulis. Dalam menciptakan karya seni langkah awal adalah mengumpulkan data, maupun observasi langsung. Metode penciptaan yang digunakan melalui 3 tahap yang di kemukakan oleh SP. Gustami yaitu, Eksplorasi, Perancangan dan Perwujudan. Kemudian dilanjutkan dengan membuat desain acuhan dalam proses perwujudan karya yang didukung dengan teknik, alat dan bahan pedukung lainya. Dengan menggunakan teknik batik tulis untuk membuat karya seni batik. Karya kriya yang diciptakan ini berupa karya seni batik sebagai hiasan dinding yang mengandung nasehat dan pesan-pesan moral untuk masyarakat. Hasil yang dicapai dalam penciptaan karya ini yaitu delapan karya batik yang dominan berwarna biru, orange, dan kuning yang dihasilkan dengan pewarna remasol, naptol dan indigosol. Sentuhan akhir untuk menyempurnakan batik ditampilkan dengan menggunakan pigura kayu yang berfungsi sebagai panel. Kata kunci : Tokoh Petruk, Karya Seni Batik

    0

    full texts

    696

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Saraswati
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇