Jurnal Penelitian Tanaman Industri
Not a member yet
401 research outputs found
Sort by
EFEKTIVITAS TEKNIK KONSERVASI LAHAN DALAM MENEKAN EROSI DAN PENYAKIT LINCAT
Penelitian dilaksanakan di Desa Glapansari, Kecamatan Parakan, Kabupaten Temanggung pada bulan Maret sampai Desember tahun 2001 untuk mcngcvaluasi pengaruh penerapan teknik konservasi lahan dalam pengendalian erosi dan penyakit lincat terhadap erosi, sifat fisik tanah, populasi patogen, kematian tanaman, serta hasil tembakau. Perlakuan yang diuji adalah teknik pengendalian erosi yang meliputi penanaman rumput Setaria pada bibir teras dan tanaman Elemingia congesta pada bidang tampingan, seta pembuatan rorak di dasar saluran teras dan pengolahan tanah minimum. Perlakuan tersebut dikombinasikan dengan teknologi pengendalian penyakit lincat, yaitu penanaman galur tembakau tahan (BC3-C51) dan pembcian/penyemprotan mikrobia antagonis Aspergillus fumigatus dan Bacillus cereus. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok dengan dua perlakuan (konservasi dan kontrol) dan enam ulangan. Setiap satuan percobaan tersusun atas petak berukuran 22 m x 4 m dan masing-masing dipasang satu unit bak penampung erosi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan teknik konservasi dapat menekan besanya erosi dari 30.2 ton/ha menjadi 16.7 ton/ha atau turun 44.8 %. Kombinasi teknik pengendalian penyakit lincat dapat menekan perkembangan patogen lincat dan mengurangi kematian tanaman tembakau sebesar 53.6%. Hasil daun tembakau basah dan rajangan kering pada perlakuan konservasi masing-masing 41.7% dan 42.1% dibanding kontrol.Kata kunci: Tembakau, Nicotiana tabacum, tembakau temanggung. konservasi tanah, erosi, patogen tanah ABSTRACTEffectiveness of land conservation technique in reducing soil erosion and lincat plant diseasesField trial was conducted in Glapansari Village, Parakan, Temang¬ gung District from March to December 2001 to evaluate the effect of land conservation by controlling soil erosion and plant disease on soil erosion, soil physical characteristics, soil pathogens population, dead tobacco plant, and tobacco yield. The treatments were soil conservation technique by planting of Setaria grass on Ihe terrace edge and planting Elemingia congesta on the riser, and digging of sediment trap on the base of terrace ditch. The treatments were planting tobacco line (BC3-C51) tolerant to lincat disease combined with the application of antagonistic microbes (Aspergillus fumigatus and Bacillus cereus). The research used complete randomized block design with two treatments and six replications. Each expeimental units composed of plot sized 22 m x 4 m and soil erosion collector. Results showed that the land conservation technique reduced soil erosion rom 30.2 to 16.7 tones/ha or 44.8%. This technique reduced soil pathogen population and dead tobacco plant 53.6%. The land conservation technique increased signiicantly tobacco fresh leaves yield 41.7% and dried sliced tobacco yield 42.1 % compared to that of control.Key words: Tobacco, Nicotiana tabacum, temanggung tobacco, soil conservation, erosion, soil pathoge
DIVERSITY OF EXTRACELLULAR ENZYMES PRODUCED BY ENDOPHYTIC FUNGUS ORIGINATED FROM Centella asiatica (L.) Urban
Asiatic Pennyworth (Centella asiatica) is a medicinal plant known to be symbiotic with various types of endophytic fungi. There are extensively studied as a source of new bioactive compounds, including extracellular enzymes. This study aimed to characterize enzymes produced by 40 endophytic fungi from C. asiatica. This research was conducted at the Microbiology Laboratory, Indonesian Center for Agricultural Biotechnology and Genetic Resources Research and Development Bogor and the Microbiology Laboratory, PLT UIN Syarif Hidayatullah Jakarta in February to April 2019. Seven enzymes screened were asparaginase, amylase, cellulase, pectinase, protease, glucanase, and laccase on Potato Dextrose Agar enriched with a specific substrate. The results showed that the number and type of enzymes produced by the fungi varied. Phanerochaete chrysosporium MB02, Fusarium falciforme MB07, Trichaptum sp.MB11, Fusariumkeratoplasticum MB12, Penicillium capsulatum MB15, Phomamultirostrata MB16, Fusarium oxysporum MB17, and Mycochaetophora gentianae MB21 produced the highest enzyme number, i.e., six types of enzymes. Colletotrichum tabaci MB14 produced the highest index value for asparaginase (index 2.65), Fusarium keratoplasticum MB12, Colletotrichum tabaci MB14, and Phoma multirostrata MB16 for amylase (index 2.00); Peroneutypa scoparia MM10 for cellulase (index 4.10); Colletotrichum karstii MM02 for pectinase (index4.12); C. tabaci MB14 for protease (index 4.37); Acrocalymma vagum MB04 for glucanase (index 1.68); and Fusarium solani MM03 for laccase (index 0.22). Colletotrichum tabaci MB14 was superior because it produced the highest of 3 enzymes (asparaginase, amylase, and protease). Further study is required to find optimal conditions for each enzyme production for industrial purposes.Keywords: Asiatic Pennyworth, extracellular enzyme, in vitro production Abstrak KERAGAMAN ENZIM EKSTRASELULER DIHASILKAN OLEH JAMUR ENDOFIT ASAL Centella asiatica (L.) UrbanTanaman Pegagan (Centella asiatica) adalah tanaman obat yang dikenal bersimbiosis dengan berbagai jenis jamur endofit. Jamur endofit dipelajari secara ekstensif sebagai sumber senyawa bioaktif baru, termasuk enzim ekstraseluler. Enzim asparaginase, amilase, selulase, pektinase, protease, glukanase, dan lakase digunakan dalam industri. Penelitian ini bertujuan untuk mengkarakterisasi beberapa produksi enzim dari 40 jamur endofit dari C. asiatica. Penelitian dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi, Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian Bogor dan Laboratorium Mikrobiologi, PLT UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada bulan Februari hingga April 2019. Skrining enzim asparaginase, amilase, selulase, pektinase, protease, glukanase, dan lakase dilakukan pada medium Potato Dextrose Agar yang diperkaya dengan substrat tertentu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah dan jenis enzim yang dihasilkan oleh jamur bervariasi. Phanerochaete chrysosporium MB02, Fusarium falciforme MB07, Trichaptum sp. MB11, Fusarium keratoplasticum MB12, Penicillium capsulatum MB15, Phoma multirostrata MB16, Fusarium oxysporum MB17, dan Mycochaetophora gentianae MB21 menghasilkan jumlah enzim tertinggi (6 jenis enzim). Berdasarkan enzim yang diproduksi (nilai indeks), Colletotrichum tabaci MB14 menghasilkan asparaginase tertinggi (indeks 2,65), Fusarium keratoplasticum MB12, Colletotrichum tabaci MB14, dan Phoma multirostrata MB16 untuk amilase (indeks 2,00); Peroneutypa scoparia MM10 untuk selulase (indeks 4.10); Colletotrichum karstii MM02 untuk pektinase (indeks 4.12); C. tabaci MB14 untuk protease (indeks 4.37); Acrocalymma vagum MB04 untuk glukanase (indeks 1,68); dan Fusarium solani MM03 untuk lakase (indeks 0,22). Colletotrichum tabaci MB14 merupakan isolat yang unggul penghasil 3 jenis enzim tertinggi (asparaginase, amilase, dan protease). Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk menganalisis secara kuantitatif produksi enzim ekstraseluler yang dihasilkan dan prospeknya untuk keperluan industri.Kata kunci: Enzim ekstraseluler, pegagan, produksi in vitro
PATOGENISITAS DUA ISOLAT LOKAL JAMUR Nomuraea rileyi (FARLOW) SAMSON TERHADAP Helicoverpa armigera HUBNER (LEPIDOPTERA: NOCTUIDAE)
ABSTRAKEpizootik Nomuraea rileyi telah berkembang secara alami dalampopulasi lebih dari 30 spesies serangga inang, termasuk H. armigera.Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Patologi Serangga BalaiPenelitian Tanaman Pemanis dan Serat Malang mulai Januari hinggaDesember 2011, tujuannya untuk mengetahui patogenisitas dua isolat lokaljamur entomopatogen N. rileyi terhadap larva H. armigera. Penelitianterdiri atas dua faktor perlakuan, faktor 1 adalah dua isolat lokal N. rileyi,yaitu ML 01 dan LG 02, dan faktor 2 adalah konsentrasi konidia, yaitu: 2,2x 10 5 ; 4,5 x 10 5 ; 2,2 x 10 6 ; 4,5 x 10 6 ; 2,2 x 10 7 ; 4,5 x 10 7 ; 2,2 x 10 8 ; 4,5 x10 8 konidia/ml, dan kontrol. Setiap perlakuan disusun dalam RancanganAcak Kelompok Faktorial dengan tiga kali ulangan. Aplikasi jamur padalarva H. armigera dilakukan dengan metode kontaminasi permukaanmedia yang berupa daun kapas muda (1cm 2 ) di dalam ruangan bersuhu25±1⁰C dan kelembapan 75-80%. Parameter yang diamati adalahmortalitas larva, LC 50 dan LT 50 , serta bobot larva. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa tingkat patogenisitas isolat ML 01 terhadap larva H.armigera lebih tinggi dibandingkan dengan isolat LG 02. Isolat ML 01menyebabkan mortalitas larva H. armigera antara 51,13-85,56% (LC 50 =2,5 x 10 2 Konidia/ml) dan isolat LG 02 antara 43,36-78,90%, (LC 50 =5x10 6 Konidia/ml). LT 50 isolat ML 01 antara 5,2-5,5 hari, sedangkan isolatLG 02 antara 6,8-7,0 hari, terutama pada konsentrasi 2,2-4,5 x 10 8konidia/ml. Terdapat korelasi positif yang erat antara konsentrasi konidiadan mortalitas larva baik pada isolat ML 01 (r=0,975) maupun LG 02(r=0,980), demikian pula antara konsentrasi konidia dan kehilangan bobotlarva pada isolat ML 01 (r=0,982) dan LG 02 (r=0,972).Kata kunci: Helicoverpa armigera, Nomuraea rileyi, patogenisitas, isolat,mortalitasABSTRACTThe epizootic of the fungi Nomuraea rileyi has naturally developedin more than 30 species of insect host population, including cottonbollworm, H. armigera. A study on pathogenicity of two local isolates ofNomuraea rileyi (Farlow) Samson fungi against Helicoverpa armigera(Hubner) (Lepidoptera: Noctuidae) was conducted at Insect PathologyLaboratory of Indonesian Sweeteners and Fibers Crops Research Institute(ISFCRI) in Malang from January to December 2011 in order to find outthe pathogenicity of the isolates against H. armigera larvae. This studyconsists of two factors as treatment. The first factor was N. rileyi isolates,e.g. ML 01 and LG 02, and the second factor were eight conidiaconcentrations, viz. 2.2 x 10 5 ; 4.5 x 10 5 ; 2.2 x 10 6 ; 4.5 x 10 6 ; 2.2 x 10 7 ; 4.5x 10 7 ; 2.2 x 10 8 ; 4.5 x 10 8 conidia/ml, and one untreated control.Treatments were arranged in Factorial Randomized Block Design withthree replications. Suspense of conidia was applied by surfacecontamination method of cotton leaf as medium at 25±1⁰C of temperatureand 75-80% of humidity. Parameter observed were larval mortality, LC 50 ,LT 50 , and larval weight. Result showed that ML 01 isolate was morepathogenic against H. armigera larvae than LG 02 isolate based on larvalmortality, LC 50 , and LT 50 . Percentage of mortality of H. armigera larvaedue to ML 01 and LG 02 infection were 51.1- 85.56% and 43.36-78.90%,respectively. The LC 50 of ML 01 and LG 02 isolates was 5.2-5.5 days and6.8-7.0 days, respectively.There are closest positive correlation betweenconidia concentration and percentage of mortality on ML 01 (r = 0.975)and LG 02 (r = 0.980) isolates as well as between conidia concentrationand larval weight loss on ML 01 (r = 0.982) and LG 02 (r = 0.972)isolates.Key words: Helicoverpa armigera, Nomuraea rileyi, pathogenicity,isolate, mortalit
KARAKTERISTIK FISIOLOGI ISOLAT Pleurotus spp.
ABSTRAKStudi in vitro tentang karakteristik fungi isolat Pleurotus spp. telahdilaksanakan di Bogor dari bulan Juli sampai Agustus 2004. Penelitianmenggunakan rancangan faktorial dalam rancangan acak lengkap danbertujuan untuk mempelajari pengaruh media, temperatur inkubasi dan pHmedia terhadap 6 isolat Pleurotus sp. Karakter lain yang juga dipelajariadalah kemampuan untuk mengoksidasi asam tanat dan asam galat dalammedia agar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pleurotus isolat sp.6dan sp.8 tumbuh baik pada media MPA, isolat Pleurotus sp.1, 3 dan 4pada media MEA dan isolate sp.2 pada media PDA. Kecuali isolat sp.8,isolat lainnya tidak dapat tumbuh pada temperatur 10 dan 35 o C. Pertum-buhan isolat sp.8 terbaik dibandingkan isolat lainnya pada semuatemperatur. Diameter koloni isolat lainnya hanya mencapai 0,2 – 2,33 cm.Pertumbuhan isolat sp.8 juga terbaik pada semua pH media diikuti isolatsp.6 kemudian isolat sp.4. Semua isolat menunjukkan reaksi oksidasipositif pada agar asam tanat dan asam galat yang ditunjukkan oleh warnacoklat pada media yang melingkari koloni.Kata kunci : Pleurotus spp, media, temperature, pH, oksidasi, asam tanat,asam galatABSTRACTPhysiological Characteristics of Pleurotus spp. IsolatesPhysiological characteristics of some Pleurotus sp. isolates werestudied in vitro, from July until August 2004 in Bogor. Experiments tostudy the effect of kind of media, temperature of incubation room, and pHof medium on six isolates of Pleurotus sp. were arranged in factorialrandomized complete design and replicated three times with colony in apetri dish as experimental units. Another physiological character studiedwas the ability to oxidize tannic and gallic acids in agar medium. Resultsshowed that isolates Pleurotus sp.6 and -8 grew better in MPA medium,Pleurotus sp.1, -3, and -4 in MEA, and Pleurotus sp.2 in PDA. ExceptPleurotus sp.8, other isolates could not grow in incubation roomtemperature of 10 and 35 o C. The growth of Pleurotus sp.8 was the bestamong the isolates in all temperature levels. Other isolates grew poorly in20 and 29o C with diameter range was 0.2 – 2.33 cm. The growth ofPleurotus sp.8 was also the best in all pH medium levels, followed byPleurotus sp.6, and then Pleurotus sp.4. All isolates showed positiveoxidative reaction on tannic and gallic acid agar indicated by brown colorof the medium around the colony.Key words: Pleurotus spp., medium, temperature, pH, oxidation, tannicacid, gallic aci
TEKNIK KONSERVASI UNTUK MENEKAN EROSI DAN PENYAKIT LINCAT PADA LAHAN TEMBAKAU TEMANGGUNG
ABSTRAKMasalah utama pada budidaya tembakau temanggung adalah erosi yangmencapai 42,75 ton/ha dan serangan penyakit lincat yang dapat mematikantanaman sampai 80%. Untuk menekan erosi dan penyakit lincat tersebut telahdilakukan penelitian yang dilaksanakan pada tahun 2002 di Desa Glapansari,Kecamatan Parakan, Kabupaten Temanggung. Tujuannya adalah untukmengetahui pengaruh penerapan teknik konservasi lahan yang dikombinasikandengan pengendalian penyakit lincat terhadap erosi, kadar unsur hara tanahtererosi, sifat fisik tanah, populasi patogen, persentase kematian tanaman, sertahasil tembakau. Perlakuan yang diuji adalah teknologi konservasi lahan yangmeliputi penanaman rumput setaria pada bibir saluran pemotong lahan selebar4 m, dan tanaman flemingia pada bidang vertikal saluran pemotong setinggi 0,5m, serta pembuatan rorak di dasar saluran pemotong lahan yang mempunyaikemiringan 43%. Perlakuan tersebut dikombinasikan dengan teknologipengendalian penyakit “lincat”, yaitu penanaman galur tahan (BC3-C51),pemberian mikrobia antagonis A. fumigatus, penyemprotan dan pemberianpestisida kimiawi. Mikrobia antagonis dan pestisida kimia disemprotkan padalubang tanam sehari sebelum tembakau ditanam. Penanaman bibit rumputsetaria dan flemingia serta pembuatan rorak dilakukan pada tahun 2000, yaitudua bulan sebelum penanaman tembakau musim tanam tahun 2000. Rancanganyang digunakan adalah rancangan acak kelompok yang diulang 6 kali. Disetiap petak perlakuan yang berukuran 22 m x 4 m dipasang sebanyak dua unitbak penampung erosi, yaitu 1 unit bak penampung erosi untuk perlakuankontrol dan 1 unit untuk perlakuan teknik konservasi yang diletakkan di tengahpetak bagian bawah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan teknikkonservasi pada lahan tembakau temanggung dapat menekan besarnya erosidari 30,22 menjadi 16,67 ton/ha/thn atau sebesar 44,84%. Penyemprotanmikrobia antagonis pada lahan dengan teknik konservasi dapat menekanperkembangan populasi patogen lincat dan mengurangi persentase kematiantanaman tembakau. Hasil tembakau yang ditanam pada lahan dengan teknikkonservasi dan aplikasi pengendalian penyakit “lincat” ternyata lebih tinggi42% dibanding hasil tembakau yang ditanam pada lahan kontrol.Kata kunci : Konservasi lahan, erosi, tembakau temanggung, penyakit lincatABSTRACTSoil conservation technique to reduce erosion and soilpathogens of temanggung tobacco landMostly area cropping of temanggung tobacco is located in hilly land, sothat erosion and accumulation of disease are the main problems. To minimizeerosion and disease attacks, research had been done in Glapansari Village,Parakan District, Temanggung in 2002 at site with slope of 43%. The aim wasto know the effect of soil conservation which was combined with soil diseasecontrol techniques on soil erosion, eroded soil element, soil physics, soilpathogens population, percentage of dead tobacco plant, and tobacco yield.The treatments are soil conservation technique, planting of setaria grass andflemingia in ridge terrace and digging of ditch pitch on the base of ridgeterrace. All of the treatments was established in 2000. The soil conservationtreatments were combined with application of antagonistic microbes (A.fumigatus) and cropping of resistant tobacco line (BC3-C51). RandomizedBlock Design with 6 replicates was used in this research. In each treatment of22 m x 4 m plots, two units soil erosion collector were set, one unit was forcontrol treatment (without soil conservation and soil disease control techniquesor local farmer technology treatment) and the other for soil conservationtechniques. Results showed that soil conservation technique reduced soilerosion from 30.22 to 16.67 tones/ha/year or 44.84%. Tobacco land that wastreated with soil conservation and soil pathogen control techniques had less soilpathogen population and death tobacco plant than tobacco land withouttreatments (control). Tobacco yield planted in land with soil conservation washigher 42% than that planted in control land.Key words : Soil conservation, erosion, temanggung tobacco, soil pathoge
PENGARUH MACAM SETEK DAN MEDIA TUMBUH TERHADAP VIGOR BIBIT KEMUKUS (Piper cubeba LINN)
ABSTRAKTanaman kemukus (Piper cubeba LINN.) sudah dikenal sejakjaman dahulu sebagai tanaman obat, rempah, pengharum dan penyedapmasakan. Di Jawa Tengah perbanyakan tanaman kemukus pada umumnyadilakukan melalui setek panjang yang terdiri dari 8 - 14 ruas. Perbanyakandengan cara demikian dianggap tidak ekonomis, oleh karena itu perludicari cara perbanyakan yang efisien dan efektif. Percobaan pengaruhmacam setek dan komposisi media tumbuh terhadap daya tumbuh danvigor bibit dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan teknologiperbanyakan kemukus. Percobaan dilakukan di Kebun PercobaanCimanggu, Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Bogor dari bulanSeptember sampai dengan Desember 2003. Percobaan menggunakanrancangan acak kelompok yang disusun secara faktorial dengan 2 faktordan 3 ulangan. Sebagai faktor pertama adalah 3 macam setek pendek 3ruas yaitu : (1) setek bertapak, (2) setek sulur panjat dan (3) setek cabangbuah. Faktor kedua adalah tiga perlakuan komposisi media tumbuh terdiridari (tanah + pupuk kandang + pasir) dengan perbandingan: (a) 1:1:1, (b)2:1:1, dan (c) 3:1:1. Media dimasukkan ke dalam polibag ukuran 10 x 12cm. Variabel yang diamati meliputi persentase daya tumbuh, panjangtunas, jumlah daun, bobot kering tunas, jumlah akar, panjang akar danbobot kering akar. Hasil percobaan menunjukkan bahwa vigor bibit yangdiekspresikan oleh persentase daya tumbuh, pertumbuhan tunas dan akartidak nyata dipengaruhi oleh interaksi jenis setek dan komposisi mediatumbuh. Jenis setek berpangaruh nyata terhadap semua variabel yangdiamati, kecuali terhadap jumlah daun. Jenis setek yang berasal dari setekbertapak dan sulur panjat manghasilkan persentase daya tumbuh 68,40%dan 62,00%, panjang tunas 2,87 cm dan 4,70 cm, bobot kering tunas 0,13g dan 0,14 g, jumlah akar 5,95 dan 5,76 dan bobot kering akar 0,05 g dan0.05 g, lebih baik dibandingkan setek cabang buah. Jenis media tumbuhhanya berpengaruh nyata terhadap bobot kering tunas tapi tidakberpengruh nyata terhadap variabel lainnya. Bobot kering tunas yangterbaik didapat pada komposisi media tumbuh tanah + pupuk kandang +pasir (1 : 1 : 1) (0,14 g) dan terendah pada komposisi media tumbuh tanah+ pupuk kandang + pasir (3 : 1 : 1) (0.11 g).Kata kunci : Kemukus, Piper cubeba LINN, bahan tanaman, macamsetek, media tumbuh, daya tumbuh, Jawa BaratABSTRACTEffect of cutting materials and growth media on thegrowth of cubeba cuttingsIn Indonesia, cubeba pepper plant (Piper cubeba LINN) has beenknown for years as a traditional medicine, spice, fragrant, and seasonings.In Central of Java, it is usually propagated by using eight or fourteen nodecuttings which is not an economical practice. The research on cuttingmaterials and growth media was conducted in Cimanggu ExperimentalGarden of the Indonesian Spice and Medicinal Crops Research Institutefrom September to December 2003. The objective of the research was tofind out an appropriate propagation technology of cubeba. The researchused two factors and three replications which was arranged in arandomized completely block design. The first factor was three kinds ofcutting nodes, i.e. (1) attached-rooted cuttings (2) vegetative branch and(3) generative branch. The second factor was three kinds of mediacompositions of soil, dung manure and sand (1) 1:1:1, (2) 2:1:1 and (3)3:1:1. Observations were conducted on the percentage of budding, lengthof bud, number of leaves, number of roots, length of root, dry weight ofthe roots, and the shoot. The results of the research indicated that the vigorof seedlings which was expressed by germination percentage, growth ofseedlings, and growth of root, did not significantly affected by theinteraction between kinds of cuttings and media composition. However,the kinds of cuttings significantly affected all variables, except the numberof leaves. Cubeba seedlings originated from attached-rooted cuttings andvegetative branch had higher germination percentage i.e. 68.40% and62.00%, length of shoot 2.87 cm and 4.70 cm, dry weight of shoot 0.13 gand 0.14 g, number of roots 5.95 and 5.76, length of root 7.32 cm and 7.27cm, and dry weight of root 0.05 g and 0.05 g, compared to the cubebaseedlings originated from generative branch. Media composition wassignificantly effected only on dry weight of shoots. The highest dry weightof shoot was resulted from composition of soil, dung manure and sand1:1;1 (0.14 g), while the lowest was found on ratio media composition ofsoil, dung manure and sand 3:1:1 (0.11g).Key words : Cubeba, Piper cubeba LINN, plant material, cuttingmaterials, growth media, growth, West Jav
PENGARUH MEDIA TANAM DAN FREKUENSI PEMBERIAN AIR TERHADAP SIFAT FISIK, KIMIA DAN BIOLOGI TANAH SERTA PERTUMBUHAN JARAK PAGAR
ABSTRAKLahan pertanian yang didominasi oleh partikel pasir di daerah lahankering iklim kering mempunyai kapasitas yang rendah dalam menyimpanair dan unsur hara, serta rentan terhadap erosi. Penambahan tanah liat,zeolit, dan bahan organik diharapkan dapat meningkatkan kadar unsur haratanah, kadar air tanah, dan pertumbuhan tanaman. Penelitian yangdilakukan dari bulan Mei sampai Desember 2008 ini bertujuan untukmengetahui pengaruh penambahan tanah liat, zeolit dan interaksinyadengan bahan organik terhadap stabilitas makroagregat, kadar unsur haraC, N, P, dan K, daya pegang air tanah berpasir, populasi mikroorganismetanah serta pertumbuhan jarak pagar. Media tanam yang diuji sebanyak 5jenis, yaitu (1) 100% tanah pasir, (2) 95% tanah pasir + 5% tanah liat, (3)95% tanah pasir + 5% zeolit, (4) 94,2% tanah pasir + 5% tanah liat + 0,8%bahan organik, dan (5) 94,2% tanah pasir + 5% zeolit + 0,8% bahanorganik. Untuk mengetahui kemampuan daya pegang air tanah, makaperlakuan jenis media tersebut dikombinasikan dengan perlakuanfrekuensi pemberian air, yaitu dengan interval 7 dan 21 hari sekali.Perlakuan disusun dalam rancangan acak kelompok faktorial denganempat kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan 5%tanah liat + 0,8% bahan organik pada tanah berpasir dapat meningkatkanproporsi makroagregat, kadar unsur hara C, N, P, dan K, serta kapasitasdaya pegang air tanah. Penambahan sebanyak 5% zeolit pada tanah pasirmeningkatkan populasi bakteri. Peningkatan populasi jamur lebih dipacudengan frekuensi pemberian air 7 hari sekali. Pertumbuhan tinggi tanamanjarak pagar juga lebih dipercepat oleh pemberian air dengan frekuensi 7hari sekali.Kata kunci: Jatropha curcas, pasir, liat, zeolit, bahan organik, kesuburantanah, pengairanABSTRACTThe role of clay, zeolit, and organic matter in increasingsoil fertility of sandy soil as growth media for JatrophacurcasAgricultural sandy soils have low capability to retain water andnutrients. Addition of clay, zeolit and organic matter to these soils wasexpected to increase macro-aggregate stability, soil nutrients and waterholding capacity. The research had been conducted from May up toDecember 2008 to find out the effect of addition of clay, zeolit, and theirinteractions with organic matter in increasing sandy soil fertility as growthmedia for Jatropha curcas. The study had an objective to quantify theeffect of plant media and frequency of watering on soil macro-aggregatestability, soil nutrients, water holding capacity, soil microorganismspopulation, and growth of J. curcas. Plant growth media tested in thisstudy consisted of 5 types, i.e. (1) 100% sand soil, (2) 95% sand soil + 5%clay soil, (3) 95% sand soil + 5% zeolit, (4) 94.2% sand soil + 5% clay +0.8% organic matter, and (5) 94.2% sand soil + 5% zeolit + 0.8% organicmatter. Watering of plant was divided into two time intervals, i.e. each of 7days and each of 21 days. Results showed that plant media which was amixture of 94.2% sand soil + 5% clay + 0.8% organic matter increasedproportion of maco-aggregate, plant nutrients (C, N, P, K) and soil waterholding capacity. Plant media consisted of mixture of 95% sand soil + 5%zeolit was suitable for development of bacteria population. Acceleratingof growth of J curcas was induced by watering with interval of 7 days.Key words: Jatropha curcas, sand, clay, zeolit, organic matter, watering,soil fertilit
KEKERABATAN PLASMA NUTFAH JAMBU METE BERDASAR SIFAT MORFOLOGI
ABSTRAKHasil seleksi dari pengumpulan tanaman jambu mete yang didasarioleh warna buah semu, terutama dari daerah Jawa Tengah, Jawa Timur,Lampung dan Bengkulu yang ditanam di dua Instalasi (Tegineneng danMuktiharjo) menghasilkan 26 pohon induk. Secara vegetatif sebanyak 15nomor dari pohon induk tersebut ditanam di Muktiharjo tahun 1989.Tanaman ditanam dengan jarak tanam 8 x 8 meter. Tanaman tersebutkemudian digunakan sebagai bahan penelitian dan dilakukan pengamatanterhadap sifat morfologi sesuai dengan descriptor list yang diterbitkan olehIBPGR mengenai tanaman jambu mete. Pengamatan dilakukan pada tahun2002-2003 terhadap 50 karakter morfologi. Data dikelompokkan menjadidata umum, dan data morfologi daun, bunga, buah serta gelondong.Berdasarkan data tersebut telah dilakukan analisis kluster menggunakanprogram NTSYSpc-ver21. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keragam-an plasma nutfah jambu mete tergolong rendah dengan rata-rata tingkatkemiripan antar koleksi sebesar 0,513. Oleh karena itu masih perlumeningkatkan keragaman melalui introduksi atau penambahan koleksiplasma nutfah, terutama dari daerah luar Jawa. Berdasar karakter umumtanaman dan karakter keseluruhan, A3 dan L3 mempunyai kekerabatanyang relatif jauh dengan nomor-nomor lainnya. A3 merupakan kultivarintroduksi asal Thailand dan mempunyai sifat produksi tinggi sehinggadapat digunakan sebagai tetua persilangan untuk memperbaiki sifatproduksi atau meningkatkan keragaman. Nomor P3 dan V8 berdasarberbagai pengelompokan tersebut berada pada kluster yang sama dengantingkat kemiripan hampir 100%, kecuali pada pengelompokan berdasarpercabangan dan daun. Kemiripan antar nomor berdasar seluruh karaktertertinggi adalah antara P3 dengan V8 dengan nilai 0,750 dan terendahadalah antara L3 dengan XII/2 dengan nilai 0,302 disusul kemudian antaraA3 dengan XII/8 dengan nilai 0,326. Untuk memprediksi kekerabatanantar nomor jambu mete dapat digunakan karakter umum tanaman, namunakan lebih baik bila digunakan karakter secara keseluruhan tanaman sesuaidengan descriptor list IBPGR.Kata kunci : Jambu mete, Anacardium occidentale L, plasma nutfah, sifatmorfologi, keragaman genetik, Jawa TengahABSTRACTRelationship of cashew collections based on morpho-logycal characteristicsThe research was carried out at Muktiharjo Experimental Station,Pati, Central Java. Cashew collections were mostly collected from JavaIsland. A total of 15 accessions (from cuttings) were planted using 8 x 8 msquare in 1989. Observation was made according to the IBPGR list using50 morphological characteristics, i.e general characteristics, stem andleaves, flower-fruit and nut characteristics; the data were clustered usingNTSYSpc-21. Research results showed that the diversity of cashewcollections was low, with the average similarity among them were 0.513.It was meant that the introduction or plant collection especially fromoutside Java area are required to increase the cashew genetic variability.Clustering based on group characteristics, i.e. general characters and othermorphological characters showed that Tegineneng A3 and Madura L3 hada quite far relationship. A3 is an introduced kultivar from Thailand and hashigh yielding characteristics, which can be choosen as a parent to increaseplant yield or genetic variability. Moreover, based on several groupcharacteristics for clustering, it revealed that P3 and V8 have the closestrelationship among the collections. According to the total characteristicsthe highest similarity was between P3 and V8 which had value of 0.750.The lowest similarity was between L3 and XII/2 revealed by value of0.302 then between A3 and XII/8 which had value of 0.326. Those generalcharacteristics, can be used to asses relationship among cashew collections,preferably using IBPGR list.Key words : Cashew, Anacardium occidentale, genetic resources,clustering, morphological characteristics, geneticvariability, Central Jav
KANESIA 10 - KANESIA 13: EMPAT VARIETAS KAPAS BARU BERPRODUKSI TINGGI
ABSTRAKProgram perbaikan varietas kapas bertujuan meningkatkanproduktivitas dan mutu serat. Sembilan hasil persilangan kapas tahun 1997dan 1998 yang melibatkan dua tetua dari Amerika Serikat (DeltapineAcala 90 dan Deltapine 5690), tiga tetua dari India (LRA 5166, Pusa 1,dan SRT 1), dan satu tetua dari Asia Tengah (Tashkent 2) telah melaluitujuh pengujian di Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, dan SulawesiSelatan untuk menilai potensi produksi, mutu serat, dan tingkat ketahananterhadap beberapa hama di lahan tadah hujan dengan atau tanpa diproteksidengan insektisida. Perlakuan disusun dalam rancangan acak kelompok(RAK) yang diulang tiga kali dalam kondisi diproteksi ataupun tanpadiproteksi dengan insektisida pada petak-petak percobaan berukuran 40-50m2 dengan jarak tanam (100 x 25) cm. Pengendalian hama pada ulanganulanganyang diproteksi dengan insektisida adalah penambahan insektisidabenih Imidachloprit 10 ml/kg benih dan pengendalian hama H. armigerasebanyak 5-6 kali menggunakan pestisida nabati Organeem (Azadirachtin1%). Hasil pengujian menunjukkan bahwa Kanesia 10 – Kanesia 13mampu berproduksi lebih tinggi apabila diproteksi dengan insektisidadengan potensi produksi berturut-turut 19,32, 21,75, 17,05, dan 21,7%lebih tinggi dari Kanesia 8, dan rata-rata produktivitas berturut-turutadalah 2.457,2, 2.507,3, 2.410,5, dan 2.506,8 kg kapas berbiji per hektar.Kanesia 10 dan Kanesia 11 memiliki kandungan serat berturut-turut 27,2%dan 8,11% lebih tinggi dibandingkan Kanesia 8. Pada rekayasa Kanesia10 - Kanesia 13 ini tidak diperoleh kemajuan genetik yang nyata padaparameter mutu serat, akan tetapi mutu serat dari empat galur tersebut diatas memenuhi kriteria industri tekstil yaitu dengan rata-rata karakteristikmutu serat yaitu panjang serat 26,92 – 29,34 mm, kekuatan 27,13 – 29,50g/tex, kehalusan 4,38-5,08 micronaire, dan keseragaman serat 83,3 –84,6%.Kata kunci : Gossypium hirsutum, kemajuan genetik, produktivitas, mutuseratABSTRACTKanesia 10- Kanesia 13: Four New High Yielding Cotton VarietiesThe cotton breeding program is focusing on the increase ofproductivity and fiber properties. The 1997 and 1998 crossing programinvolving two parents introduced from the United States of America(Deltapine Acala 90 and Deltapine 5690), three parents introduced fromIndia (LRA 5166, Pusa 1, and SRT 1), and one variety originated fromCentral Asia (Tashkent 2), have resulted in nine crosses which had beentested in seven locations at East Java, West Nusa Tenggara, and SouthSulawesi to evaluate their yield potentials, fiber properties, and resistancelevel to insect pests on rainfed areas with or without protection.Experiments were arranged in randomized block design (RBD) with threereplications either with or without insecticide spray on 40-50 m2 plots with(100 x 25) cm planting space. Insect controls were done by treating cottonseed with 10 ml Imidachloprit per kg seed and 5-6 applications ofbotanical pesticide Organeem (Azadirachtin 1%). Experimental resultsshowed that Kanesia 10-Kanesia 13 yield better when insects arecontrolled. Their yield potentials are 19.32, 21.75, 17.05, and 21.7%higher than Kanesia 8, respectively, and means of yield are 2,457.2,2,507.3, 2,410.5, and 2,506.8 kg seed cotton, respectively. Kanesia 10 andKanesia 11 have 27.2 and 8.11% higher gin turnout, respectively thanKanesia 8. On the engineering of Kanesia 10-Kanesia 13, there is noimprovement on the fiber properties, although they meet the textileindustries’ criteria i.e. staple length 26.92 – 29.34 mm, fiber strength 27.13– 29.50 g/tex, fiber fineness 4.38-5.08 micronaire, and uniformity ratio83.3 – 84.6%.Key words : Gossypium hirsutum, genetic improvement, productivity,fiber propertie
PENGGUNAAN FILM PLASTIK UNTUK KEMASAN KELAPA KOPYOR
ABSTRAKKelapa kopyor memiliki kandungan gizi yang penting, seperti karbohidrat, protein, lemak, dan asam lemak. Selama penyimpanan kelapa kopyor mudah mengalami kerusakan karena proses oksidasi dan hidrolisis lemak. Hal ini menyebabkan kelapa kopyor mengalami ketengikan dan perubahan warna dari putih menjadi kuning kecoklatan. Untuk mengatasi hal tersebut, dilakukan pengemasan dengan film plastik dan menyimpannya pada suhu dingin. Tujuan penelitian adalah untuk Memberikan informasi mengenai keefektifan film plastik untuk penyimpanan daging kelapa kopyor. Bahan penelitian adalah kelapa kopyor dari Kalianda (Lampung Selatan). Kelapa kopyor dikemas film plastik jenis Polyamide (PA), Polypropylene (PP), dan High Density Polyethylene (HDPE). Arameter mutu yang dianalisis adalah Thiobarbituric acid (TBA), asam lemak bebas (ALB), total padatan terlarut (TPT), pH, total mikrob, kadar lemak, serta uji organoleptik warna, aroma, dan rasa. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan dua faktor. Faktor pertama adalah film plastik dengan tiga taraf (PA, PP, HDPE), dan faktor kedua adalah suhu dengan dua taraf (5 ± 2 dan 10 ± 2 oC). Hasil penelitian menunjukkan jenis film plastik PA pada penyimpanan suhu 5 ± 2 oC merupakan kemasan yang efektif dalam mempertahankan mutu kelapa kopyor hingga enam hari, yang dibuktikan dengan rendahnya total mikrob, TBA, dan ALB. Selain itu, panelis masih menyukai kelapa kopyor dari warna, aroma dan rasa.Kata kunci: kelapa kopyor, plastik film, mutu, suhu, waktu penyimpanan The Usage of Plastic Film for Kopyor Coconut Packaging ABSTRACTKopyor coconut contains important nutrients, such as carbohydrates, protein, fat, and fatty acids. During storage kopyor coconut is easily suffered damage, because of oxidizing and fat hydrolysis processes. The processes cause kopyor coconut suffered rancidity and color change from white to brownish-yellow. Packaging kopyor coconut with plastic film and keep it in a cool temperature could overcome this problem. The aim of the research was to provide information the effectiveness of plastic films for kopyor coconut storage. Research material was kopyor coconut obtained from Kalianda (South Lampung). Kopyor coconut packaged in plastic film type Polyamide (PA), Polypropylene (PP), and High Density Polyethylene (HDPE). The quality parameters observed were Thiobarbituric acid (TBA), free fatty acids (FFA), pH, total soluble solid (TSS), pH, total microbes, fat content, and sensory characteristics including color, flavor, and taste. This research used Randomized Complete Design with two factors. The first factor was the packaging material with three different types (PA, PP, HDPE), and the second factor was the storage temperature at two levels of 5 ± 2 and 10 ± 2 oC. The results showed that the type of plastic film packaging PA at storage temperature 5 ± 2 oC is effective in maintaining the quality of kopyor coconut up to six days, as evidenced bythe low total microbe, TBA, and ALB. In addition, panelists still like kopyor coconut of color aroma and taste