Jurnal Penelitian Tanaman Industri
Not a member yet
401 research outputs found
Sort by
HUBUNGAN ANTARA KERAPATAN POPULASI KEPIK RENDA, Diconocoris hewetti (Dist) (HEMIPTERA : TINGIDAE) DAN KEHILANGAN HASIL PADA TANAMAN LADA
ABSTRAKKepik renda, Diconocoris hewetti (Dist) (Hemiptera : Tingidae)merupakan salah satu hama yang menyerang tanaman lada di Indonesia.Hama ini mengisap bunga lada, dan dapat menggagalkan pembuahan.Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui hubungan antara kerapatanpopulasi D. hewetti dan kerusakan bunga serta pembentukan buah padaberbagai fase bunga. Penelitian dilaksanakan di rumah kaca dan kebunpercobaan Petaling BPTP Kepulauan Bangka Belitung pada musim hujan(Nopember 2003 – Pebruari 2004). Penelitian rumah kaca menggunakanlada perdu varietas LDL umur ± 1 tahun. Kerapatan populasi nimfa instar5 dan imago masing-masing 0,1 dan 2 per tandan bunga masing-masingpada 3 fase bunga. Periode mengisap bunga selama 24 jam. Rancanganpercobaan yang digunakan adalah acak lengkap dengan pola faktorial dandiulang 5 kali. Percobaan lapangan menggunakan varietas LDL, umur ± 6tahun. Populasi imago 0, 1, 2, 3, dan 4 per 4 tandan bunga masing-masingpada 3 fase bunga. Periode mengisap bunga selama 72 jam. Untuk nimfamenggunakan kerapatan populasi 0, 1, 2, dan 3 per tandan. Pemaparanserangga selama 24 jam. Rancangan percobaan untuk nimfa menggunakanacak kelompok dengan pola faktorial dan diulang 5 kali, sedangkan untukimago juga menggunakan rancangan acak kelompok dengan pola faktorialdan diulang 6 kali. Parameter yang diamati adalah persentase kerusakanbunga, buah terbentuk, buah yang tidak terbentuk dan kehilangan hasil.Hasil penelitian menunjukkan perbedaan yang nyata antara kerapatanpopulasi kepik renda dengan kerusakan bunga lada dan pembentukanbuah. Pada kerapatan 2 ekor nimfa maupun imago menunjukkankerusakan bunga dan kehilangan hasil yang paling tinggi. Kerusakanbunga dan pembentukan buah akibat serangan imago dan nimfa tidakmenunjukkan perbedaan yang nyata. Tingkat kerusakan bunga di rumahkaca antara 67,00–87,89%, sedangkan di lapangan antara 61,10–85,30%,disebabkan oleh imago kepik renda, dan 71,00-93,30% oleh nimfa.Kehilangan hasil di rumah kaca antara 55,07–83,04%, sedangkan dilapangan antara 35,30–82,89%, disebabkan oleh imago, sedangkan olehnimfa berkisar antara 73,24–89,05%. Tingkat kerusakan bunga lebih tinggipada fase 1 dan 2 dibandingkan dengan fase 3. Hasil penelitian inimemberikan indikasi bahwa serangan oleh satu ekor nimfa maupun imagokepik renda mengakibatkan kerusakan bunga minimal 61,10% dankehilangan hasil minimal 35,30%.Kata kunci : Lada, Piper nigrum, hama, Diconocoris hewetti, kerusakanbunga, kehilangan hasilABSTRACTRelationship between the population densities of blossomsucking lace bug Diconocoris hewetti (Dist) (Hemiptera;Tingidae) and yield losses on pepper plantationBlossom sucking lace bug, Diconocoris hewetti (Dist) (Hemiptera;Tingidae) is one of the pest insect attacking pepper in Indonesia. This pestinsect sucks pepper blossom liquid and disturb fruit formation. Theobjective of this experiment was to find out the relationship between thepopulation densities of blossom sucking lace bug, D. hewetti and flowerdamage, number of fruits formed and yield losses of pepper at variousflower phases. These studies were conducted in a green house and pepperplantation in the Institute of Assessment Agricultural Technology, BangkaBelitung Island during rainy season (November 2003 to February 2004).The green house research used bushy pepper more or less 1 year old. Thelace bug of the last instar or 5 th instar nymph and adult were used atpopulation density : 0, 1 and 2 insects/bunch in 3 blossom phasesrespectively. Feeding period of lace bug was 24 hours. Design of thisexperiment was completely randomized with factorial design and 5replications. Field study used LDL pepper variety with aged ± 6 years.The population densities of adult lace bug were: 0, 1, 2, 3 and 4 per 4bunches on 3 types of pepper blossom phases respectively. Feeding periodof lace bug was 72 hours. Field study also used last instar nymph withpopulation density : 0, 1, 2 and 3/bunch. Feeding period was 24 hours.Randomized block design with factorial and 5 replications were used oninstar nymph, while on the adult stadium randomized block design withfactorial and 6 replications were also used. The intensity of flowerdamage, fruits formed, fruits unformed and yield losses were counted. Theresult revealed that the number of fruits formed and yield losses weresignificantly different among population density of lace bug. Thepopulation densities of two lace bug caused higher flower damage andyield losses than other population densities. Flowers damage, fruitsformation and yield losses caused by nymph and adult were notsignificantly different. The level of flower damage in green houseobservation was between 67.00 – 87.89%, while in the field was between61.10 – 85.30% caused by adult, and 71.00 – 93.30% caused by nymph.Yield loss of pepper was 55.07 – 83.04% in the green house, while theyield losses in the field was 35.30 – 82.89% due to the attack of adult.Yield loss caused by nymph was 73.24 – 89.05%. The level of flowerdamage on phases 1 and 2 were higher than the flower damage of phase3. This research indicated that the attack of one adult or one nymph oflace bug, D. hewetti caused flower damage minimum 61.10% and yieldloss minimum 35.30%.Key words : Pepper, Piper nigrum, pest insect, Diconocoris hewetti,flower damage, yield los
PENGARUH UKURAN BRAKTEA BEBERAPA AKSESI KAPAS TERHADAP TINGKAT SERANGAN HAMA PENGGEREK BUAH Helicoverpa armigera (HUBNER)
ABSTRAKHingga kini teknik perakitan varietas kapas tahan hama masihdilakukan secara konvensional berdasarkan beberapa karakter morfologitanaman, seperti: bulu daun, daun okra, braktea berpilin, nektar, dangosipol tinggi. Karakter-karakter ini diketahui erat hubungannya denganketahanan terhadap hama, khususnya H. armigera. Berkaitan denganserangan H. armigera pada buah, diduga ada bagian-bagian buah kapasyang berkontribusi secara langsung pada serangan hama ini, misalnyabraktea buah. Namun demikian, besarnya pengaruh braktea terhadapkerusakan buah kapas perlu dipelajari dalam upaya meminimalkankerusakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ukuranbraktea terhadap tingkat kerusakan buah oleh H. armigera pada beberapaaksesi kapas. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Balai PenelitianTanaman Tembakau dan Serat, di Asembagus, Situbondo, Jawa Timurmulai bulan Januari hingga Desember 2006. Sebanyak 18 aksesi dari 50aksesi kapas dengan berbagai variasi ukuran braktea digunakan sebagaiperlakuan. Setiap perlakuan (aksesi) disusun dalam rancangan acakkelompok (RAK), dengan tiga kali ulangan. Lima tanaman kapas darimasing-masing aksesi ditentukan secara acak, dan sebanyak 5 buah kapasmuda (diameter ± 4 cm) dipetik dari masing-masing tanaman sampel,kemudian dibawa ke laboratorium untuk diukur luas braktea dan buahnya.Selain itu dilakukan pula pengamatan kerusakan buah dan hasil kapasberbiji di lapang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ukuran brakteaberkorelasi positif dengan tingkat kerusakan buah (R 2 = 0,9014), sehinggabraktea berukuran besar dan lebar serta menutupi buah secara totalberpotensi mengalami kerusakan akibat serangan H. armigera lebih tinggidibanding braktea berukuran kecil dan sempit. Ukuran panjang dan lebarbraktea pada 18 aksesi kapas bervariasi antar aksesi dan masing-masingberkorelasi positif dengan luas (R 2 = 0,876; R 2 = 0,894). Hasil penelitianini dapat dimanfaatkan dalam merakit varietas tahan hama, dankombinasinya dengan karakter-karakter morfologi kapas yang sudah adauntuk menghasilkan varietas kapas baru dengan tingkat ketahanan yanglebih tinggi terhadap hama penggerek buah H. armigera.Katakunci : Braktea, Helicoverpa armigera, aksesi kapas, karaktermorfologi.ABSTRACTEffects of bract size of several cotton accessions toAmerican bollworm injury levelConventional method by crossing technique based onmorphological characters of plant is now still used in providing resistantvarieties of cotton against insect bollworms. A number of geneticcharacters are now available and have been studying for their assosiationwith insect pests resistance such as hairiness, okra leaf, frego bract,nectariless, and high gossypol. Regarding to boll damage by H. armigera,it can be mentioned that there are many other morphological characters ofcotton attributable to bollworm damage, such as floral bract. As a part ofboll, it is estimated that bracts assosiated with bollworm attacked due totheir larger size compared with boll size. Objective of the study was to findout the effect of bract size in relation to bollworm damage on cottonaccessions. The study was conducted at Experimental Station ofIndonesian Tobacco and Fiber Crops Research Institute in Asembagus,Situbondo, East Java from January to December 2006. Eighteen of fiftycotton accessions were used as treatment and they were arranged inRandomized Block Design (RBD) with three replications. Five randomlycotton plants from each accession and five young bolls were sampledfrom the selected plant with about 4 cm of diameter were brought in thelaboratory to collect information on bract and boll sizes. Bollwormdamage was determined by counting the damaged bolls in the field as wellas the seed cotton yield. Result showed that bract size was positivelycorrelated with boll damage (R 2 = 0.9014). Higher damaged bolls occuredon bolls which is covered completely by bracts. There is variation betweenlength and wide size of bracts among cotton accessions and both showedpositive correlation to bract area (R 2 = 0.876; R 2 = 0.894). Based on thisstudy, higher resistance of cotton variety against H. armigera willpossiblly be provided through combination between bract size and anyother morphological characters of cotton.Key words : Floral bract, Helicoverpa armigera, cotton accession,morphological characte
KARAKTERISTIK MORFOLOGI, POTENSI PRODUKSI DAN KOMPONEN UTAMA RIMPANG SEMBILAN NOMOR LEMPUYANG WANGI
ABSTRAKLempuyang merupakan family Zingiberaceae, dan banyakdigunakan oleh masyarakat untuk obat/jamu sebagai peningkat stamina,antikanker dan obat antiinfeksi. Balittro memiliki koleksi plasma nutfahlempuyang yang dikumpulkan dari berbagai daerah. Potensi sifat tanamanperlu dievaluasi untuk mengetahui karakter potensial dan keunggulannya.Karakterisasi sembilan aksesi lempuyang wangi dilakukan di KP. Cicurug– Sukabumi Jawa Barat tahun 2009 hingga tahun 2010. Benih ditanamdengan jarak tanam 60 x 40 cm, jumlah tanaman per plot 20 tanaman dandiulang tiga kali. Pengamatan dilakukan pada sepuluh tanaman terhadapsifat morfologi tanaman, pertumbuhan, produksi, dan mutu rimpang. Hasilpengamatan menunjukkan bahwa morfologi dan pertumbuhan tanamanlempuyang bervariasi. Pertumbuhan tinggi tanaman, jumlah anakan,jumlah daun panjang dan lebar daun, serta diameter batang antar aksesibervariasi. Produksi rimpang lempuyang wangi umumnya lebih dari 15ton/ha, rimpang mempunyai banyak akar. Mutu simplisia rimpang adalahkisaran kadar minyak atsiri 1,34–4,61%, kadar sari larut dalam air 16,22–23,5%, kadar sari larut etanol 7,9–13,8%, kadar serat 5,47– 8,87% dankadar pati 40-50%. Hasil analisis ekstrak rimpang lempuyang dengan GC-MS menunjukkan bahwa sekitar 50 komponen terdeteksi. Zerumbonemerupakan komponen utama lempuyang dengan nilai sebesar 36–49%.Komponen utama zerumbone dan acetic acid terdapat di semua aksesi.Komponen utama lainnya di antaranya adalah alpha humulene, humuleneoxide, beta-eudesmol, beta-selinene, linalool, 12-oxabicyclo, caryophileneoxide, 3-octadecyne, hexadecanoic acid, dan 3-octyne 5-methyl.Komposisi komponen utama antar aksesi berbeda senada dengan aromawangi yang ditimbulkan pada lempuyang. Sebanyak tujuh nomor aksesiyang mempunyai keunggulan produksi lebih dari 15 t/ha, mutu minyakatsiri lebih dari 1% dan zerumbone 40%.Kata kunci: Zingiber aromaticum, produksi, komponen utama rimpangABSTRACTWild ginger is one of Zingiberaceae family. Plant use as a medicinefor stamina improvement, anticancer and antiinfection. Balittro hadcollected wild ginger from several area and potential characters should beevaluated. Characterization was conducted at Cicurug experimental garden– West Java on 2009-2010. Seed rhizome of nine accession was plantedwith 60 x 40 cm space, twenty numbers of plant each plot and threereplication. Observation was carried out for morphological characters,growth, yield, and rhizome quality. Result showed that there werevariations in morphology and growth of wild ginger. Plant height, numbersof tillers, numbers of leaves, leaves length, leaves width, and stemdiameter among acessions were variate. Rhizome yield was generally morethan 15 ton/ha, rhizome having plenty of roots. Rhizome quality analysisshowed that among accessions have essential oil content range from 1.34-4.61%, extract soluble water 16.22 – 23.5%, extract soluble ethanol 7.9-13.88%, fiber content 5.47 – 8.87%, and carbohydrat content 40-50%.GS-MS of wild ginger rhizome extract revealed totally around 50constituent was detected. The highest constituent detected is zerumbone(36-49%). Moreover, acetic acid also detected in all accession with valuerange from 4.64 – 14.36%. Other major constituent are alpha humulene,humulene oxide, beta-eudesmol, beta-selinene, linalool, 12-oxabicyclo,caryophilene oxide, 3-octadecyne, hexadecanoic acid, and 3-octyne 5-methyl. The composition of major constituent among collection numbers isdifferent and reflected the differences of the flavour of the flesh rhizome.Seven collection numbers are having yield potential more than 15 ton/ha,essential oil content more than 1% dan zerumbone content 40%.Key word: Zingiber aromaticum, rhizome yield, rhizome constituen
KERAPATAN GALUR HARAPAN KAPAS PADA SISTEM TUMPANGSARI DENGAN KEDELAI
Penelitian pengaturan kerapalan galur harapan kapas pada sistem tumpangsari dengan kedelai dilakukan di IPPTP Mojosari, Mojokerto, Jawa Timur pada lahan sawah sesudah padi dari bulan Mei sampai dengan Oktobcr 2000. Tujuan penelitian untuk mendapatkan kerapalan lanaman yang sesuai pada galur harapan kapas pada sistem tumpangsari dengan kedelai Percobaan disusun dalam rancangan petak tcrbagi dengan 4 varictas'galur (92016/6, 91001 29 2, 88003/16/2 dan Kanesia 7) sebagai pelak utama Anak petak terdiri atas 3 tata tanam yaitu (1) tala tanam 1(1); 3, yaitu I bans kapas (I tan 'lubang) dan 3 bais kedelai, (2) tata tanam 2 (1) 4 yaitu 2 baris kapas(l tan.'lubang) dan 4 baris kedelai, (3) tata tanam 1 (2)3 yaitu 1 baris (2 tan 'lubang dan 3 bais kedelai) Jarak lanam kapas dan kedelai pada (ala tanam 1(1) 3 adalah 150 x 20 cm dan 25 x 20 cm, pada tata tanam 2( I ):4 adalah 150 (60) cm x 30 cm dan 20 cm x 20 cm, dan tata tanam 1 (2) 3 adalah 150 cm x 30 cm dan 25 cm x 20 cm Hasil penelitian menunjukkan bahwa lata tanam yang sesuai pada galur varietas baru kapas adalah tata tanam 1(1)3 |1 baris kapas (1 tan lubang) dan tiga baris kedelai] Mengurangi jumlah lanaman kapas tiap lubang dari 2 menjadi I lanaman pada tata tanam 1 (2)3 (1 baris kapas (2 lan lubang) dan 3 bais kedelai) meningkatkan eisiensi fotosintcsis dai 59 x 10 menjadi 9.4 x 10"" mgC02.mgll20 sehingga produksi kapas meningkat dari 1 167 2 menjadi I 251 6 kgha, sedangkan produksi kedelai tidak berpengaruh yaitu rata-rata 846 kgha Apabila dialur dalam sistem 2:4 (2 baris kapas diantara 4 baris kedelai), maka eisiensi fotosintcsis hanya meningkat dari 5.9 x \0A menjadi 77 x 10 mg C02mg H20 sehingga produksi kapas hanya meningkat dari I 167 2 menjadi I 206 2 kgha Pada kedua sistem lanam tersebut produktivitas galur 8800316/2 (1 323.3 kgha) lidak berbeda dengan Kanesia 7 (I 365.2 kg/ha) dan nyata lebih tinggi daripada galur 920166 (1 096 9 kgha) maupun 91001.29/2 (1 048 0 kgha).Kata kunci: Gossypium hirsutum. kapas. Glycine Max, kedelai, kerapatan lanaman, tumpangsari, hasil ABSTRACTDensity of neyv cotton lines under intercropping system with soybeanThe ield trial on different crop densities for new cotton lines under intercropping system with soybean was conducted in Mojosari. East Java from May lo October 2000 on the rice ield ater harvest. The purpose of the study was to investigate die optimum population for new cotton lines under intercropping with soybean The field experiment was arranged in a Split Plot Design with three replications. Pour new cotton lines were allocated lo main plots 92016 6, 91001/29.2 (okra leal). 88003/16/2 and Kanesia 7 'Three crop arrangements were allocated to sub-plots: 1 (1 ):3 [1 cotton row (I plant/hole) in between 3 rows of soybean), 2(1 ):4 [ 2 coton rows (1 plant/hole) in between 4 rows of soybean, and 1(2):3 (1 cotton row (2 planlholc) in between 3 rows of soybean). Two replications for sole crops of cotton and soybean were included in this expeiment lo compare both cropping systems. Research showed that by keeping one cotton plant/hole under intercropping system wi(h soybean in arrangement of 1:3 11 conon row in between 3 rows of soybean), increased the photosynthetic efficiency from 5 9 x 10"* to 9.4 x 10"* mg C02/mg H20, causing cotton yield increased from 1167.2 to 1 251.6 kg/ha; however soybean yield did not differ between different propotions of cotton and soybean (846 kg/ha) Under arrangement of Iwo cotton rows * four rows of soybean, the photosynthetic efficiency increased from 5.9 x 10"1 to 7.7 x 10"* mg COj'mg HjO resulted in increased cotton yield from I 167.2 lo 1 206.2 kgha Ihe yield of line 88003/16 2 (1 323.3 kgha) did not differ with that on Kanesia 7 (I 365.2 kg/ha); both were higher than those on 92016/6 (1 096.9 kg/ha) and 91001 /29/2 (1 048.0 kgha).Key words: Gossypium hirsutum, kapas. Glycine Max, soybean, crop density, intercropping, yiel
PENGARUH FILTRAT BAKTERI ENDOFIT TERHADAP MORTALITAS, PENETASAN TELUR DAN POPULASI NEMATODA PELUKA AKAR Pratylenchus brachyurus PADA NILAM
ABSTRAKPratylenchus brachyurus merupakan salah satu patogen utama padatanaman nilam di Indonesia. Pengendalian yang banyak dilakukan petanisaat ini adalah menggunakan pestisida sintetik. Penggunaan pestisidasintetik yang terus menerus merupakan ancaman terhadap lingkungan, dankesehatan manusia. Bakteri endofit mungkin dapat dimanfaatkan sebagaisalah satu teknik pengendalian nematoda yang ramah lingkungan karenabakteri endofit dapat menghasilkan racun yang toksik terhadap nematoda.Tujuan penelitian adalah melihat pengaruh kultur filtrat bakteri endofitterhadap mortalitas nematoda, penetasan telur dan perkembangannematoda di dalam akar nilam. Penelitian dilakukan di Laboratorium danRumah kaca Hama dan Penyakit Balai Penelitian Tanaman Obat danAromatik Bogor, dari bulan Januari sampai April 2008 menggunakanrancangan acak lengkap (RAL). Filtrat bakteri dibuat dengan caramenumbuhkan bakteri endofit pada media TSB selama 48 jam, kemudiandisentrifugasi dengan kecepatan 7.000 rpm selama 15 menit. Filtratdisaring dengan milipore berdiameter 0,22 µm, selanjutnya filtrat diujipada nematoda in vitro dan rumah kaca. Hasil penelitian menunjukkanbahwa filtrat dapat membunuh nematoda dalam waktu 24 jam dengannilai LC 50 sebesar 7,709%. Bakteri endofit isolat TT2 dan EH11memperlihatkan daya bunuh paling tinggi yaitu 91-100%. Di samping itufiltrat bakteri endofit juga dapat menekan penetasan telur nematoda 48,5-74,6% dibanding dengan kontrol. Namun hanya filtrat bakteri endofitisolat EH11 yang nyata dapat menekan populasi nematoda di dalam akarnilam dengan tingkat penekanan sebesar 81,3%.Kata kunci : Pratylenchus brachyurus, bakteri endofit, kultur filtrat,Pogostemon cablinABSTRACTEffect of culture filtrates endophytic bacteria on themortality, hatching eggs and population of root lesionnematodes Pratylenchus brachyurus on patchouliRoot lesion nematode (Pratylenchus brachyurus) is an importantpathogen of patchouli in Indonesia and causes significant losses. Controlsystem that are done today is using synthetic pesticides. The use ofsynthetic pesticides is a continuing threat to the environment and humanhealth. However, endophytic bacterial culture filtrates may be used as oneof the nematode control that is environmentally friendly. Effect of culturefiltrates endophytic bacteria on the mortality, hatching eggs and populationroot lesion nematodes Pratylenchus brachyurus on patchouli has beendone in vitro and greenhouse. The results showed that the culture filtrate ofendophytic bacteria produced metabolite toxic to nematodes and wereable to kill P. brachyurus 100% within 24 hours with LC 50 7.709%. TT2and EH11 isolates showed high killing power of 91-100%. The culturefiltrates also inhibited hatching of P. brachyurus eggs compared withcontrols. Not all culture filtrates can suppress the nematode population inthe roots of patchouli. EH11 isolates filtrate really pressing nematodepopulations compared to other isolates.Key words: Pratylenchus brachyurus, culture filtrate, endophyticbacteria, Pogostemon cabli
PENGUPASAN KULIT BUAH LADA DENGAN ENZIM PEKTINASE
ABSTRAKTahap perendaman dalam pengolahan lada putih secara tradisionalyang biasa memakan waktu lebih dari 8 hari sangat mempengaruhi kualitaslada putih yang dihasilkan. Proses perendaman yang lama dapatmenyebabkan produk berbau busuk dan kemungkinan kontaminasi olehmikroba yang tidak dikehendaki menjadi lebih besar. Dengan demikianproses perendaman perlu dipercepat tetapi kulit buah lada tetap menjadilunak dan mudah dikupas. Salah satu kemungkinannya adalah denganproses enzimatis menggunakan pektinase. Telah ada cara pengolahan ladaputih secara masinal yang dapat meningkatkan mutu lada, namun cara iniperlu perlakuan pelunakan kulit buah lada sebelum pengupasan untukmeningkatkan kapasitasnya. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahuikemungkinan penggunaan pektinasi untuk melunakkan kulit buah lada danmutu lada putih yang dihasilkannya. Penelitian dilakukan pada bulanAgustus 2005 di Laboratorium Proses Balai Besar Penelitian dan Pengem-bangan Pascapanen Pertanian. Penelitian dirancang menggunakan ran-cangan acak lengkap (RAL) pola faktorial 2 x 2 dengan ulangan 4 kali.Faktor perlakuan terdiri atas: (i) pemberian pektinase (A) yaitu A1 (1%)dan A2 (2%); dan (ii) pemberian asam sitrat (B) yaitu B1 (0%) dan B2(2%). Parameter yang diukur meliputi nilai total mikroba/TPC (Total PlateCount) (CFU/ml), rendemen (%), warna yang dinyatakan dalam derajatkecerahan, kemerahan dan kebiruan, kadar minyak atsiri dan air (%). Hasilpenelitian menunjukkan bahwa pemberian enzim pektinase dapat memper-pendek waktu perendaman sebelum pengupasan menjadi 24 jam dan ladaputih yang diberi perlakuan pektinase 1% dan asam sitrat 2% mempunyaiwarna yang relatif sama dengan yang dihasilkan dengan cara perendamanbiasa/tradisional dengan nilai TPC yang jauh lebih rendah. Hal inimenunjukkan adanya kemungkinan perlakuan dengan pektinase ini dipakaisebagai perlakuan pendahuluan dalam pengupasan lada secara masinal. Disamping itu pemberian pektinase dapat dipertimbangkan untuk memper-cepat proses perendaman dalam proses pengolahan lada putih secaratradisional.Kata kunci: Piper nigrum L., lada putih, mikroba, pektinase, asam sitratABSTRACTPepper skin decorticating process using pectinase enzymeSoaking process as a part of traditional white pepper processingwhich is usually done for more than 8 days influence the quality of whitepepper produced. Long soaking process could produce bad odour andincrease the possibility to be contaminated with undesirablemicroorganism. For that reason the soaking process duration should beshortened but still could make the pepper skin to be soft enough to bepeeled. Enzimatic process using pectinase enzyme is one of methodswhich can be used. The mechanical process to improve the quality ofwhite pepper is available, but to increase its capacity the softening pepperskin process is needed. The aim of this study was to find out the possibilityof using pectinase to softening the pepper skin in white pepper processingand the quality of white pepper produced. The study was designed asCompletely Randomized Design (CRD) factorially 2x2 with 4 replications.Treatments consisted of: (i) pectinase (A): A1 (1%) and A2 (2%), and (ii)citric acid: B1 (0%) and B2 (2%). Parameters observed were total platecount (CFU/ml), yield (%), colour which was stated as degree of lightness,redness and bluish, essential oil concentration (%) and moisture content(%). The result showed that the use of pectinase could decrease thesoaking period to 24 hours. The colour value of white pepper producedwith 1% pectinase and 2% citric acid treatments was relatively the samewith the one produced by traditional method, with much TPC value. Basedon the above result, pectinase could be consider to be applied in traditionalmethod to decrease the soaking process and it could also use to softenedthe pepper skin before mechanical decorticating process.Key words: Piper nigrum L., white pepper, microbes, pectinase enzyme,citric aci
EFISIENSI PEMUPUKAN NPK PADA TEMULAWAK (Curcuma xanthorrhiza Roxb)
ABSTRAKPemberian pupuk N, P, dan K yang tepat jumlah, dan jenis padatanaman temulawak, diharapkan dapat meningkatkan efisiensi penggunaanpupuk dan biaya sehingga produksi dan pendapatan yang diperoleh akanoptimal. Untuk itu dilakukan pengujian beberapa dosis pupuk urea, SP-36dan KCl pada temulawak di Kebun Percobaan Sukamulaya pada tanahLatosol dengan ketinggian tempat 350 m dpl, tipe iklim C (klasifikasiSchmidt dan Ferguson). Penanaman dilakukan pada bulan Agustus 2006dan panen dilakukan bulan September 2007. Percobaan ini menggunakanrancangan acak kelompok (RAK) yang disusun secara faktorial dengan 3kali ulangan. Faktor pertama, kedua dan ketiga adalah pupuk urea (N),SP-36 (P) dan KCl (K) masing-masing dengan dosis 100 kg/ha, 200 kg/hadan 300kg/ha. Ukuran petak percobaan adalah 3,75 m x 4 m per perlakuan/ulangan. Percobaan menggunakan bibit temulawak nomor harapan Fdengan jarak tanam 75 cm x 50 cm. Sebagai pupuk dasar diberikan pupukkandang dengan dosis adalah 20 ton pupuk kandang. Pupuk SP-36, danKCl diberikan sesuai dengan perlakuan yang seluruhnya diberikan padasaat tanam. Sedangkan pupuk urea diberikan sesuai dengan perlakuanmasing-masing 1/3 bagian pada umur 1, 2, dan 3 BST (Bulan SesudahTanam). Tanaman dipanen pada umur 10 bulan setelah tanam (BST).Peubah yang diamati meliputi; data asupan (input) berupa penggunaansarana produksi usahatani, penggunaan tenaga kerja dan peralatan, sertadata keluaran (output) berupa hasil rimpang segar, simplisia kering, danrendemen ekstrak temulawak. Harga masukan dan keluaran yangdigunakan mengacu pada harga standard/pasar yang berlaku pada saatpenelitian dilakukan. Analisis efisiensi teknis dan ekonomis digunakanuntuk menentukan dosis pemupukan yang paling baik untuk dikembang-kan. Hasil penelitian menunjukkan, berdasarkan beberapa kriteria analisisefisiensi teknis dan ekonomis pengembangan temulawak nomor harapan Fdianjurkan menggunakan dosis pemupukan an-organik yang rendah yaitu200 kg/ha urea, dan SP-36 dan KCl masing-masing 100 kg/ha. Dengandosis pemupukan tersebut diperoleh : (1) produksi rimpang, kurkuminoiddan xanthorizol masing-masing 2.277 kg, 33,24 dan 73,26 kg per 1.000 m 2lahan, (2) tingkat pendapatan bersih Rp. 344.500/1.000 m 2 lahan, rasiobiaya operasional terhadap pendapatan kotor 23,13%, rasio pendapatandikurangi biaya operasional terhadap pendapatan kotor 76,87%, danefisiensi ekonomi tiap perlakuan pemupukan dibanding kontrol (urea,SP36 dan KCl masing-masing 100 kg/ha) 5,08.Kata kunci : Curcuma xanthorrhiza Roxb, kajian finansial, pupuk NPK,nomor harapan FABSTRACTEfficiency of NPK Fertilizer Application on Java Turmeric (Curcumaxanthorrhiza Roxb)Efficiency of inorganic fertilizers application is determined byeffective type and fertilizers dosage. Current experiment was designed tocompare the efficiency of application of three levels dosage of urea, SP-36, and KCl on java turmeric farming system. The experiment wasconducted at Sukamulya (Sukabumi) Experimental Garden on latosol soiltype, 350 m above sea level, with climate type A of Schmidt andFerguson’s climate classification from August 2007 to September 2008.Treatments were combination of 100 kg/ha, 200 kg/ha, and 300 kg/ha ofeach urea, SP36, and KCl fertilizer. The treatments were designed infactorial randomized block with three replications. Organic fertilizer(manure) was applied to all experiment plots at planting time with dosageof 20 tons/ha. SP36 and KCl fertilizer were applied at planting time, whileurea fertilizer was applied in three equal parts, separately, on plantingtime, one and two months after planting time. Java turmeric promisingline of F was used as plant materials and planted at 75 cm x 50 cm plantedspacing. Physical and economic efficiency analysis of the each treatmentunit was used to evaluate the efficiency of fertilizer application withtreatment-related costs were assumed as variable costs. Results showedthat based on physical and economic efficiency, fertilizer combination of200 kg urea/ha, 100 kg SP36/ha, and 100 kg KCl/ha was the most efficientdosage with yield of rhizome, curcuminoid and xanthorhizol at the dosagelevel per 1000 m 2 were 2.277 kg, 33,24 kg, and 73,26 kg respectively.Moreover, that were gained crop value Rp. 344.500/1.000 m 2 , operatingexpense ratio 23,13%, net farm income from operation ratio 76,87%, andeconomic efficiency each treatment compare to control 5,08 times.Key words: Curcuma xanthorrhiza Roxb, financial analysis, NPKfertilizer, promising line
EFEKTIVITAS BEBERAPA DEPOSIT FOSFAT ALAM INDONESIA SEBAGAI PUPUK SUMBER FOSFOR TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT KELAPA SAWIT PADA TANAH ULTISOLS
ABSTRAKPenelitian bertujuan untuk mempelajari pengaruh fosfat alam asalIndonesia terhadap kadar P dalam tanah dan pertumbuhan kelapa sawit.Penelitian dilaksanakan di rumah kaca Balai Penelitian Tanah di Laladon,Bogor dari bulan Juni sampai Desember 2009, dengan menggunakanrancangan percobaan acak kelompok dengan 8 perlakuan dan diulang 5kali. Perlakuan yang dicoba adalah 5 P-alam asal Indonesia, ditambahSuperphos, P-alam Tunisia, dan kontrol. Tanah yang digunakan adalahTypic Kanhapludults dan Typic Plinthudults yang diambil dari Lampung,dengan tanaman indikator adalah kelapa sawit. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa pemupukan P nyata meningkatkan diameter batang,tinggi tanaman, berat akar dan berat kering tanaman. Pemupukan P denganSuperphos memberikan peningkatan yang lebih tinggi daripada pemu-pukan dengan fosfat alam. Efektivitas pupuk P-alam pada TypicPlintudults lebih rendah dibandingkan pada Typic Kanhapludults. PupukP-alam dari Indonesia sama efektifnya dengan P-alam Tunisia untukpemupukan tanaman kelapa sawit. Pemupukan P dengan Superphos padatanaman kelapa sawit nyata meningkatkan kadar P tanah lebih tinggidaripada kadar P tanah yang dipupuk P-alam. Pemberian pupuk P belumberpengaruh terhadap kadar P dalam akar dan tanaman kelapa sawit dalampembibitan.Kata kunci: Elaeis guinensis, kelapa sawit, tanah masam, fosfat alamABSTRACTEffectiviness of several rock phosphate deposites fromIndonesia as P fertilizer sources on the growth of oilpalmseedling on ultisolsThe aim of this research was to study the effect of rock phosphatefrom Indonesia on P content on the soil and growth of oil palm. Thisresearch was conducted at the glass house of Indonesian Soil ResearchInstitute, Laladon Bogor from June to December 2009, using randomizedcomplete block design (RCBD) with 8 treatments and 5 replicates. Thetreatments were 5 types of Indonesia rock phosphate, Superphos, Tunisiarock phosphate, and control. The soils used were Typic Kanhapudults andTypic Plinthudults, and oil palm nursery as plant indicator. The resultshowed that P fertlizer was significant to increase trunk diameter, plantheight, root weight, and plant dry weight. Superphos fertilizer increasedtrunk diameter, plant height, root weight, and plant dry weigth better thanrock phosphate. Effectivity of rock phosphate at Typic Plinthudults waslower than at Typic Kanhapludults. Indonesian rock phosphate waseffective for fertilizing oil palm, as well as Tunisia rock phosphate. Pfertilization using Superphos significantly increased P soil content and wasbetter than rock phosphate. Application of rock phosphate did notinfluence P contents in root and plant of oil palm in nursery.Key words: Elaeis guinensis, oil palm, acid soils, rock phosphat
DAYA SIMPAN BENIH RIMPANG JAHE PUTIH BESAR DI DATARAN TINGGI DENGAN PERLAKUAN PESTISIDA NABATI DAN ANALISIS EKONOMINYA
ABSTRAK
KARAKTER PERTUMBUHAN, KETAHANAN TERHADAP PENYAKIT, DAN KADAR NIKOTIN BEBERAPA GALUR TEMBAKAU TEMANGGUNG
ABSTRAKPergeseran selera konsumen ke arah rokok ringan semakin nyata,sehingga dirasa perlu memiliki galur-galur tembakau temanggung dengankadar nikotin rendah dan mutu sesuai dengan selera konsumen. Tembakautemanggung memiliki kadar nikotin yang sangat tinggi (7,8%). Selainkadar nikotin, kendala utama budi daya tembakau temanggung adalahadanya penyakit tular tanah yang disebabkan oleh kompleks nematodaMeloidogyne spp, bakteri Ralstonia solanacearum, dan jamurPhytophthora nicotianae yang dikenal dengan nama ‘penyakit lincat”.Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh galur tembakau temanggungdengan kadar nikotin lebih rendah dari varietas yang sudah ada (Kemloko1 dan Kemloko 2), mutu sesuai untuk konsumen, dan toleran terhadappenyakit utama. Penelitian dilaksanakan mulai bulan Februari sampaiOktober 2009, di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu, KabupatenTemanggung pada lahan tegal endemik tiga patogen dengan ketinggiantempat + 800 m dpl. Bahan penelitian terdiri atas tujuh genotipe F6 hasilpersilangan antara tembakau temanggung dan tembakau oriental. Masing-masing genotipe ditanam sebanyak 520 tanaman. Seleksi pertamadilakukan berdasarkan kriteria: tidak terserang penyakit, memiliki lebihdari 18 daun, ukuran daun sedang sampai besar, morfologi mirip dauntembakau temanggung, dan disenangi petani. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa dari 2.436 tanaman yang tidak diserang penyakit(berasal dari tujuh genotipe) secara visual terpilih 302 tanaman.Berdasarkan ukuran daun, dari 302 tanaman terpilih tersebut diperoleh 40genotipe. Keempat puluh genotipe tersebut dievaluasi pada tahapberikutnya. Kadar nikotin semua galur berkisar 1,34-5,22% dan galur yangmemiliki rata-rata kadar nikotin terendah adalah genotipe hasil persilanganantara Kemloko 1 dan Xanthi Yacca.Kata kunci: persilangan, Nicotiana tabacum, kadar nikotin, tembakauoriental, tembakau temanggungABSTRACTA shift in consumer tastes toward lighter cigarette has led to findingof low nicotine content of temanggung tobacco with the quality suitable toconsumer preferences. The nicotine content of temanggung tobacco is veryhigh, which can reach 7.8%. One of the main problem of temanggungtobacco cultivation is soil born diseases caused by complexity ofnematodes Meloidogyne spp, Ralstonia solanacearum, and the fungiPhytophthora nicotianae which is known as “lincat”. The research aimedat obtaining hybrid lines of temanggung tobacco with nicotine levels lowerthan the existing varieties (Kemloko 1 and Kemloko 2), quality suitable toconsumers preferences, and tolerant to the main diseases. The experimentwas conducted from February to Oktober 2009 in Gandurejo Village BuluSubdistrict, Temanggung District, on the dry land endemic pathogens withaltitude about 800 m asl. Research material consisted of 7 genotypes F6from hybridization between temanggung and orient tobacco, and 5 parentalvarieties. As many as 520 crops of each genotype were planted. Firstselection was done based on the criteria: free from disease, having > 18leaves, medium to big leaf size, and farmers’ favorite. The results showedthat from 2,436 healthy plants (derived from 7 genotypes) were visuallyselected for 302 plants. From the second selection based on leaf size fromthe 302 plants obtained 40 genotypes. The forty genotypes wereevaluated/screened at later stage. Nicotine content ranged from 1.07 to5.22% and the lowest nicotine content was derived from crosses betweenKemloko 1 and Xanthi Yacca.Key words: hybrid progenies, Nicotiana tabacum, nicotine content,orient tobacco, temanggung tobacc