Jurnal Penelitian Tanaman Industri
Not a member yet
401 research outputs found
Sort by
DINAMIKA POPULASI KUTU TEMPURUNG (Coccus viridis) DAN KUTUDAUN (Aphis gossypii) PADA TIGA VARIETAS KOPI ARABIKA (Coffea Arabica)
ABSTRAKSalah satu kendala dalam pembibitan kopi arabika di rumah kaca adalahadanya serangan hama kutu tempurung (Coccus viridis) dan kutudaun(Aphis gossypii) yang dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangantanaman. Persaingan dalam memanfaatkan unsur hara dan nutrisi yangberada pada jaringan tanaman kopi dapat menyebabkan tanaman yangterserang menjadi lebih parah bahkan tidak jarang menyebabkan kematiantanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dinamika populasikutu tempurung dan kutudaun pada benih kopi arabika varietas SigararUtang, Kartika, dan S795. Penelitian dilakukan di rumah kaca PusatPenelitian dan Pengembangan Perkebunan (Puslitbangbun), sejak bulanAgustus 2011 sampai Januari 2012. Jumlah benih kopi arabika yangdiamati sebanyak 200 benih yang terdiri dari varietas S795, Sigarar utang,dan Kartika. Pengamatan dilakukan setiap dua minggu sekali sebanyaksepuluh kali pengamatan dengan menghitung populasi serangan hama danmembandingkan frekuensi populasi (perkembangan) kutu tempurung (C.viridis) dan kutudaun (A. gossypii) dengan metode regresi dan uji t. Darihasil pengamatan, ditemukan 2 jenis populasi hama yaitu populasi kututempurung (C. viridis) dan kutudaun (A. gossypii) yang menyerang benihkopi arabika di pembibitan dengan tingkat populasi kutu tempurung (C.viridis) lebih banyak dijumpai dibandingkan dengan populasi kutudaun (A.gossypii) yaitu sebanyak 81,23%. Pada kopi arabika varietas Kartikapaling banyak ditemukan populasi kutu tempurung (C. viridis) dan kutudaun (A. gossypii) dibandingkan dengan varietas Sigarar Utang dan S795.Kopi arabika varietas Kartika memiliki percabangan yang agak lentur danmemiliki ruas yang pendek sehingga kutu tempurung (C.viridis) dankutudaun (A. gossypii) lebih senang berinang pada varietas Kartikadibandingkan varietas Sigarar Utang dan S795, karena lebih mudah untukmemperoleh makanannya dengan mengisap cairan yang ada padapercabangannya. Perkembangan populasi C. viridis membentuk garis lurusselama 5 bulan dengan nilai r masing-masing 0,98 pada varietas SigararUtang; 0,98 pada varietas Kartika; dan 0,99 pada varietas S795.Perkembangan populasi A. gossypii membentuk dua buah garis yangbertemu di satu titik dan sebuah garis lurus dengan nilai r masing-masing0,99 pada Sigarar Utang; 0,98 pada varietas Kartika; dan 0,99 padavarietas S795.Kata kunci: Kopi arabika, dinamika populasi, Aphis gossypii, CoccusviridisABSTRACTOne of the main constraints on the growth of coffee seedlings in thegreenhouse is pests lice green scales (Coccus viridis) and Aphids (Aphidsgossypii) that can inhibit the growth of plants. Competition in utilizingnutrients can cause the attacked plants to become more severe, even someplants to be dead. This study aims to determine the population dynamics ofC. viridis and A. gossypii on arabica coffee seedlings of Sigarar Utang,Kartika, and S795 varieties. The study was conducted in the greenhouse ofIndonesian Center For Estate Crops Research and Development, fromAugust 2011 to January 2012. 200 seedlings of arabica coffee consisting ofS795, Sigarar Utang, and Kartika varieties were planted in polythene bagsin the greenhouse. Observations were made every two weeks for ten timesthe observations by calculating the pest populations and comparepopulation growth of C. viridis and A. gossypii by regression method and ttest. It was found that mite green scale (C. viridis) population were moredominant than the aphids (A. gossypii) population, with a total populationof green scales (C. viridis) as much as 81.23%. Green scales (C. viridis)and aphids (A. gossypii) were found more abundant in the Kartikaseedlings compared to Sigarar Utang and S795 varieties. It is easier for thepests to obtain their food by sucking the liquid inside in the branches. Thegrowth population of C. viridis forming a straight line for 5 months with rvalues respectively, Sigarar Utang is 0,98; Kartika is 0,98; and S795 is0,97. Growth population of A. gossypii forming straight lines with thevalue of r : Sigarar Utang is 0,99; Kartika is 0,98; and S795 is 0,99.Key words: Coffea arabica, population dynamics, Aphis gossypii, Coccusviridi
PERANAN SEMUT (Oecophylla smaragdina dan Dolichoderus sp.) DALAM PENGENDALIAN Helopeltis spp., dan Sanurus indecora PADA JAMBU METE
Serangga berperan penting pada petumbuhan dan perkembangan serta produktivitas tanaman jambu mete. Di daerah Lombok, Nusa Tcnggara Barat telah diidcntiikasi lebih dari 90 jenis serangga yang meliputi serangga hama, musuh alami, penyerbuk dan serangga lainnya. Helopeltis spp. dan S. indecora merupakan serangga hama yang menonjol di wilayah tersebut. Beberapa musuh alami juga telah ditemukan, terutama semut yang bcrfungsi sebagai predator bagi Helopeltis spp. Akhir-akhir ini ketiga jenis serangga tersebut sering bcrada bersamaan dalam satu tanaman. Oleh sebab itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pcranan semut dan intcraksinya dengan Helopeltis spp. dan S. indecora. Penelitian dilaksanakan di Dusun Sambik Rindang dan Sambik Jengkel, Lombok Barat dai bulan Mei sampai dengan Nopember 2003 Penelitian tcrdiri atas 3 kegiatan yang satu sama lain saling menunjang, yaitu (a) penelitian lapang, (b) penelitian semi lapang, dan (c) penelitian rumah kaca/pot. Pada penelitian lapang keadaan lingkungan tidak dikendalikan. pengamatan dilakukan dengan penarikan contoh. Penelitian lapang ditunjang oleh penelitian semi lapang, yaitu hanya salah satu faktor lingkungan yang dikendalikan (faktor populasi semut : 0, 5, dan 10 koloni per 5 tanaman). Penelitian semi lapang kemudian ditunjang oleh penelitian rumah kaca/pot. Pada penelitian ini tiga faktor dikendalikan/diperlakukan yaitu populasi semut, populasi Helopeltis dan populasi Sanurus indecora. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa hama utama yang dominan di Dusun Sambik Jengkel berbeda dengan hama utama yang dominan di Dusun Sambik Rindang. Di Sambik Jengkel, Helopeltis lebih dominan dibandingkan dengan i'. indecora, walaupun S. indecora ditemukan tapi tidak sebanyak serangan Helopeltis. Di Sambik Rindang terjadi sebaliknya, 5. indecora lebih dominan bila dibandingkan dengan Helopeltis. Semut cukup berperan dalam mengendalikan populasi Helopeltis. Dai data yang diperoleh sampai bulan Oktober 2003 diketahui bahwa persentase pucuk yang terserang Helopeltis lebih kecil pada kelompok-kelompok tanaman yang dibei perlakuan semut, begitu pula populasi nimfa dan imagonya. Tidak demikian yang terjadi dengan ,S'. Indecora, populasi nimfa dan imagonya tidak dipengaruhi oleh kehadiran semut. Pada kelompok tanaman yang dibei perlakuan semut, populasi S. indecora justru lebih banyak. Namun demikian, jumlah bunga yang diserang S. indecora lebih banyak pada pucuk yang tidak ada semutnya. Oleh sebab itu, khusus pada bunga, 5. indecora tidak akan datang kalau pada bunga tersebut ada semutnya. Pada pucuk yang telah diserang 5. indecora, semut tidak mengganggu kecuali kalau Helopeltis tidak ada, semut akan memangsa nimfa-nimfa S. indecora.Kata kunci: Anacardium occidentale, jambu mete, Helopeltis spp., nektar, Sanurus indecora, semutABSTRACTRole of ants (Oecophylla smaragdina and Dolichoderus sp.) in controlling Helopeltis spp. and Sanurus indecora on cashew plantInsects have important roles in cashew growth and productivity. In Lombok, West Nusa Tenggara, more than 90 kinds of insects have been identiied including pest, natural enemies and pollinators. Helopeltis spp. and S. indecora are the main pests in this area. Ants were found to be the predator of Helopeltis spp. Nowadays the three kinds of insects sometime exist in one plant, therefore the objective of this research was to ind out the interaction among Helopeltis spp., S. indecora and ants. The research was caried out in Sambik Rindang and Sambik Jengkel, West Lombok from May to November 2003. There were 3 activities of research (a) ield trial, (b) semi-ield tial, and (c) glass house trial. In the ield trial, the environment conditions were not treated as ixed variables, the observations were done by sampling This ield trial was supported by semi ield trial, only one factor was used as a treatment (ants population) that had 3 levels : 0, 5, and 10 colonies per 5 plants. The semi ield trial was also supported by glass house trial. In this trial 3 factors were used as treatments ants population, Helopeltis spp. and Sanurus indecora population. The result showed that the main pest found in Sambik Jengkel was different from the main pest found in Sambik Rindang. In Sambik Jengkel, Helopeltis spp. was dominant, while in Sambik Rindang £ indecora. Ants had an impotant role in controlling Helopeltis population. The data obtained up to October 2003 revealed that the percentage of damaged shoots was less in the ants-invested plant than that without ants Meanwhile, the population of 5. indecora was not affected by ants incidence, however the number of flowers atacked by £ indecora were more in the shoots without ants. If shoots were previously attacked by S. indecora, the ants would not bother the insects, but when there was no Helopeltis spp. in the plant, the ants would atack the nymphs of S. indecora.Key words : Anacardium occidentale, cashew plant, ants, Helopeltis spp., nectarc, Sanurus indecoraSerangga berperan penting pada petumbuhan dan perkembangan serta produktivitas tanaman jambu mete. Di daerah Lombok, Nusa Tcnggara Barat telah diidcntiikasi lebih dari 90 jenis serangga yang meliputi serangga hama, musuh alami, penyerbuk dan serangga lainnya. Helopeltis spp. dan S. indecora merupakan serangga hama yang menonjol di wilayah tersebut. Beberapa musuh alami juga telah ditemukan, terutama semut yang bcrfungsi sebagai predator bagi Helopeltis spp. Akhir-akhir ini ketiga jenis serangga tersebut sering bcrada bersamaan dalam satu tanaman. Oleh sebab itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pcranan semut dan intcraksinya dengan Helopeltis spp. dan S. indecora. Penelitian dilaksanakan di Dusun Sambik Rindang dan Sambik Jengkel, Lombok Barat dai bulan Mei sampai dengan Nopember 2003 Penelitian tcrdiri atas 3 kegiatan yang satu sama lain saling menunjang, yaitu (a) penelitian lapang, (b) penelitian semi lapang, dan (c) penelitian rumah kaca/pot. Pada penelitian lapang keadaan lingkungan tidak dikendalikan. pengamatan dilakukan dengan penarikan contoh. Penelitian lapang ditunjang oleh penelitian semi lapang, yaitu hanya salah satu faktor lingkungan yang dikendalikan (faktor populasi semut : 0, 5, dan 10 koloni per 5 tanaman). Penelitian semi lapang kemudian ditunjang oleh penelitian rumah kaca/pot. Pada penelitian ini tiga faktor dikendalikan/diperlakukan yaitu populasi semut, populasi Helopeltis dan populasi Sanurus indecora. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa hama utama yang dominan di Dusun Sambik Jengkel berbeda dengan hama utama yang dominan di Dusun Sambik Rindang. Di Sambik Jengkel, Helopeltis lebih dominan dibandingkan dengan i'. indecora, walaupun S. indecora ditemukan tapi tidak sebanyak serangan Helopeltis. Di Sambik Rindang terjadi sebaliknya, 5. indecora lebih dominan bila dibandingkan dengan Helopeltis. Semut cukup berperan dalam mengendalikan populasi Helopeltis. Dai data yang diperoleh sampai bulan Oktober 2003 diketahui bahwa persentase pucuk yang terserang Helopeltis lebih kecil pada kelompok-kelompok tanaman yang dibei perlakuan semut, begitu pula populasi nimfa dan imagonya. Tidak demikian yang terjadi dengan ,S'. Indecora, populasi nimfa dan imagonya tidak dipengaruhi oleh kehadiran semut. Pada kelompok tanaman yang dibei perlakuan semut, populasi S. indecora justru lebih banyak. Namun demikian, jumlah bunga yang diserang S. indecora lebih banyak pada pucuk yang tidak ada semutnya. Oleh sebab itu, khusus pada bunga, 5. indecora tidak akan datang kalau pada bunga tersebut ada semutnya. Pada pucuk yang telah diserang 5. indecora, semut tidak mengganggu kecuali kalau Helopeltis tidak ada, semut akan memangsa nimfa-nimfa S. indecora.Kata kunci: Anacardium occidentale, jambu mete, Helopeltis spp., nektar, Sanurus indecora, semutABSTRACTRole of ants (Oecophylla smaragdina and Dolichoderus sp.) in controlling Helopeltis spp. and Sanurus indecora on cashew plantInsects have important roles in cashew growth and productivity. In Lombok, West Nusa Tenggara, more than 90 kinds of insects have been identiied including pest, natural enemies and pollinators. Helopeltis spp. and S. indecora are the main pests in this area. Ants were found to be the predator of Helopeltis spp. Nowadays the three kinds of insects sometime exist in one plant, therefore the objective of this research was to ind out the interaction among Helopeltis spp., S. indecora and ants. The research was caried out in Sambik Rindang and Sambik Jengkel, West Lombok from May to November 2003. There were 3 activities of research (a) ield trial, (b) semi-ield tial, and (c) glass house trial. In the ield trial, the environment conditions were not treated as ixed variables, the observations were done by sampling This ield trial was supported by semi ield trial, only one factor was used as a treatment (ants population) that had 3 levels : 0, 5, and 10 colonies per 5 plants. The semi ield trial was also supported by glass house trial. In this trial 3 factors were used as treatments ants population, Helopeltis spp. and Sanurus indecora population. The result showed that the main pest found in Sambik Jengkel was different from the main pest found in Sambik Rindang. In Sambik Jengkel, Helopeltis spp. was dominant, while in Sambik Rindang £ indecora. Ants had an impotant role in controlling Helopeltis population. The data obtained up to October 2003 revealed that the percentage of damaged shoots was less in the ants-invested plant than that without ants Meanwhile, the population of 5. indecora was not affected by ants incidence, however the number of flowers atacked by £ indecora were more in the shoots without ants. If shoots were previously attacked by S. indecora, the ants would not bother the insects, but when there was no Helopeltis spp. in the plant, the ants would atack the nymphs of S. indecora.Key words : Anacardium occidentale, cashew plant, ants, Helopeltis spp., nectarc, Sanurus indecor
PENYARINGAN GALUR HASIL PERSILANGAN TEMBAKAU MADURA DAN ORIENTAL BERDASARKAN INDEKS TANAMAN DAN KADAR NIKOTIN
This expeiment was caried out at Palalang Village, Sub Pakong Distict, Pamekasan District, rom April to October 2000. There were 137 treatments, consisted of 100 FS lines [number 1 to 50 were progeny of Prancak-95 x IW (oriental), number 51 to 100 were progeny of Prancak-95 x IS (oiental)], 36 lines were selected from local cultivar, and Prancak-95 as a check variety. This experiment was arranged in randomized block design, two replications. The objective of this research was to select the promising lines based on crop index and nicotine content. Each lines were morphologically homogen, the potency of yield and quality among lines were significantly different. Foty-four lines were selected. They were resemble to Prancak-95, their nicotine content varied from 1.84% to 4.09%. Genotype and phenotype correlation between nicotine content and yield and grade index were not significantly different. There were 11 selected lines out of the 44 with crop index higher than that of Prancak-95, and their nicotine content vaied from 1.90 -3.96%
KETAHANAN Pogostemon cablin DAN Pogostemon heyneanus TERHADAP Synchytrium pogostemonis
ABSTRAKSynchytrium pogostemonis merupakan jamur penyebab penyakitbudok pada tanaman nilam (Pogostemon cablin) di Indonesia. Synchytriummempunyai kekhususan inang yang tinggi, sehingga penggunaan varietasyang tahan merupakan komponen pengendalian yang efektif. Di Indonesiaterdapat nilam Aceh (Pogostemon cablin) dan nilam Jawa (Pogostemonheyneanus). Nilam Aceh relatif peka terhadap gangguan penyakit. NilamAceh telah dibudidayakan secara luas di Indonesia karena kandunganminyak nilamnya sangat tinggi. Penelitian ini bertujuan mengetahuiketahanan nilam Aceh dan nilam Jawa terhadap serangan S. pogostemonis.Uji ketahanan dilakukan terhadap nilam Aceh terdiri dari tiga varietasLhokseumawe, Sidikalang dan Tapaktuan, sedangkan nilam Jawa hanyasatu varietas yaitu Girilaya. Inokulasi dilakukan dengan menggunakanpotongan bagian tanaman yang telah terinfeksi sebagai sumber inokulum,yang diletakkan di antara tanaman nilam yang diuji. Pengujian dilakukandi laboratorium dengan menggunakan media air, dan di rumah kacadengan menggunakan media tanah (tanah dan kompos perbandingan 1:1)yang telah disterilisasi. Nilam yang digunakan berupa setek pucuk 4 buku,yang ditanam dengan cara membenamkan buku ke-4 ke dalam media, danmeletakkan buku ke-3 di perbatasan antara media dengan udara, sedangbuku dua dan satu ada di permukaan media. Di laboratorium, untukmenahan agar setek tidak tenggelam ke dalam air, digunakan gabus yangtelah dilubangi sebagai penahan. Setek nilam dimasukkan ke dalam lubanggabus, yang selanjutnya diletakkan pada wadah plastik (berdiameter ± 7,5cm, ± 350 ml yang telah berisi air). Inokulum yang digunakan berupapotongan daun dan batang nilam yang terinfeksi S. pogostemonis seberat2 g per wadah yang diletakkan pada bagian tengah gabus di antara setekyang diuji. Satu wadah berisi tujuh setek dan diulang empat wadah untuksetiap varietas nilam yang diuji. Pada percobaan di rumah kaca, setekditanam dalam kotak (30 x 25 cm 2 ). Setek ditanam dalam baris denganjarak ± 5 antar baris dan ± 1 cm di dalam baris. Di dalam satu kotakterdapat 20 setek dan inokulum yang diaplikasikan sebanyak 40 g perkotak. Kotak yang telah berisi tanaman dan inokulum disungkup plastikselama satu bulan untuk menjaga kelembapannya, kemudian dipindahkanke polybag untuk diinkubasi dan diamati gejalanya. Pengamatan dilakukanpada minggu ke-6 setelah inokulasi untuk uji di laboratorium, dan 16minggu untuk uji di rumah kaca. Hasil pengujian menunjukkan, ketigavarietas nilam Aceh peka terhadap S. pogostemonis yang ditunjukkandengan adanya gejala kutil dengan spora berdinding tebal di dalamnyapada permukaan batang nilam Aceh baik pengujian di laboratoriummaupun rumah kaca. Pada nilam Jawa varietas Girilaya tidak ditemukankutil baik pada pengujian di laboratorium maupun di rumah kaca. Kutilberwarna jernih saat masih muda, berukuran kecil dan berubah berwarnagelap pada stadia lebih lanjut. Kutil banyak terlihat pada batang yangberbatasan dengan permukaan air dan tunas-tunas baru yang keluar daripermukaan tanah. Penelitian ini menunjukkan nilam Aceh peka terhadapS. pogostemonis, dan nilam Jawa tahan terhadap S. pogostemonis sehinggadapat digunakan sebagai sumber ketahanan.Kata kunci: Ketahanan, Pogostemon cablin, Pogostemon heyneanus,S. pogostemonisABSTRACTSynchytrium pogostemonis is an obligate soil borne plant pathogenicfungus and causes a disease named “budok” of patchouli in Indonesia.Synchytrium is well known as a genus of highly host specific plantpathogen, therefore developing a resistant variety is considered as aneffective control measure. In Indonesia, there are two types of patchouliplants, i.e. Pogostemon cablin locally known as Nilam Aceh andPogostemon heyneanus known as Nilam Java or wild Nilam. P. cablin iswidely cultivated because it contains highly patchouli alcohol. However, P.cablin is susceptible to the pathogen. The aim of the current research wasto evaluate the resistance of three released patchouli varieties of P. cablinand a wild species of P. heyneanus. The three patchouli varieties testedwere Lhokseumawe, Sidikalang, and Tapak Tuan of P. cablin; whereas thewild variety was Girilaya of P. heyneanus. The test was conducted inlaboratory and green house using infected stem and leaves of patchouli assource of inoculum. Four nodes healthy cuttings of patchouli plant weregrown in plastic pots and boxes containing water and sterilized soil asplanting media, respectively. In the laboratory experiment, the cuttingswere inserted into hollowed sponge then placed on the surface of water inpots (7.5 cm diameter, and ± 350 ml). The source of inoculum (2 g) wasplaced in center of the pots. In the green house experiment, the cuttingswere planted into sterilized soil (mix of soil and compost in 1:1 ratio) inboxes (30 x 25 cm 2 ). The space between two rows of cuttings was 5 cm,and 1 cm within the row. The source of inoculum was placed between tworows of tested cuttings. The tested plants were covered with plastic bag tomaintain its humidity for one month and then transferred into polybagscontaining sterilized soil. Disease symptom and microscopic examinationswere observed at 6 th and 16 th weeks after inoculation for the laboratory andgreen house experiments, respectively. Results indicated that wartscontaining resting spores of S. pogostemonis were found in all varieties ofinoculated P. cablin, but none in the Girilaya variety of P. heyneanus. Thewarts were minutes, hyaline at immature stage, and darker in advancestage developed on the infected plants surface. The warts were mostlyfound at the base stems close to the surface of media, and also on shootsthat emerge from bellow media surface, both at laboratory and green housetests for P. cablin. There were no warts young on young shoots of Girilayavariety of P. heyneanus. The study concluded that P. cablin is highlysusceptible, but P. heyneanus is resistant to the pathogen, therefore it canbe used as resistant gene source.Key words: Resistance, Pogostemon cablin, Pogostemon heyneanus, S.pogostemoni
GALUR HARAPAN TEMBAKAU TEMANGGUNG PRODUKSI TINGGI DAN TAHAN PENYAKIT LINCAT
ABSTRAKMasalah utama tembakau Temanggung adalah rendahnyaproduktivitas yang disebabkan oleh mundurnya daya dukung lahan karenaerosi dan endemi penyakit lincat (kompleks nematoda Meloidogyne spp,bakteri Ralstonia solanacearum, dan cendawan Phytophthora nicotianae).Saat ini telah diperoleh enam galur hasil persilangan dari varietas Sindoro1 (moderat tahan terhadap Ralstonia solanacearum tetapi rentan terhadapMeloidogyne spp. dan sangat rentan terhadap Phytophthora nicotianae)dengan tembakau virginia yang tahan terhadap ketiga patogen tersebut.Evaluasi terhadap hasil, indeks mutu, indeks tanaman dan ketahananterhadap ketiga patogen telah dilakukan di 3 lokasi selama tiga tahundengan rancangan acak kelompok tiga ulangan. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa ada dua galur harapan yaitu (1) Galur A dengan rata-rata produktivitas : 0,880 ton rajangan kering per ha dan indeks mutu40,28 indeks tanaman 35,47 dan kadar nikotin 5,52%. Produktivitas galurA meningkat 48,08%, indeks mutu meningkat 4,87% dan indeks tanamanmeningkat 53,73% serta kadar nikotin menurun 15,06% dibanding varietasstandar. Galur A memiliki sifat moderat tahan terhadap bakteri Ralstoniasolanacearum dan toleran terhadap nematoda Meloidogyne spp. (2) GalurE dengan rata-rata produktivitas : 0,869 ton rajangan kering per ha, indeksmutu 36,01 indeks tanaman 31,87 dan kadar nikotin 6,00%. Produktivitasgalur E meningkat 46,23%, indeks mutu menurun 6,25% dan indekstanaman meningkat 38,12% serta kadar nikotin menurun 2,56% dibandingvarietas standar. Galur E memiliki sifat moderat tahan terhadap bakteriRalstonia solanacearum dan toleran terhadap nematoda Meloidogyne spp.Kata kunci : Tembakau, Nicotiana tabacum, Temanggung, galurharapan, Ralstonia solanacearum, Meloidogyne spp,Phytophthora nicotianae, lahan lincat, Jawa TimurABSTRACTTemanggung tobacco promising lines with high producti-vity and resistant to lincat diseasedThe main problem in Temanggung tobacco cultivation is lowproductivity which is caused by increasing land erosion and invasion ofendemic disease called ‘lincat’. Lincat is a disease caused by a complexinvasion of three pathogens i.e. Meloidogyne spp. (root-knot nematode),Ralstonia solanacearum (bacteria) and Phytophthora nicotianae (fungus).Hybridization between variety Sindoro 1 (moderately resistant to R.solanacearum but susceptible to Meloidogyne spp. and highly susceptibleto P. nicotianae) and virginia tobacco (resistant to these three pathogens)has resulted in six lines. These lines were planted in three locations for 3years and were evaluated for their yield, grade index, crop index, andresistance intensity to these three pathogens, using randomized blockdesign with 3 replications. Two promising lines were resulted from thisevaluation i.e. (1) Line A, that has productivity of tobacco sliced : 0.880ton per hectare, grade index: 40.28 crop index: 35.47 and nicotine content:5.52%. In comparison to standard variety, the productivity, grade index,and crop index of this line increased of 48.08%, 4.87%, and 53.73%,respectively, and nicotine content decreased of 15.06%. Moreover, thisline is moderately resistant to R. solanacearum and tolerant toMeloidogyne spp. (2) Line E, that has productivity of tobacco sliced:0.869 ton per hectare, grade index: 36.01 crop index: 31.87 and nicotinecontent: 6.00%. This line also has increase productivity, and crop index of46.23% 38.12%, respectively, and has decrease grade index and nicotinecontent of 6.25% and 2.56%, respectively compared to standard variety.This line is moderately resistant to R. solanacearum and tolerant toMeloidogyne spp.Key words : Tobacco, Nicotiana tabacum, Temanggung, promising line,Ralstonia solanacearum, Meloidogyne spp., Phytophthoranicotianae, lincat land, East Ja
RATIO OPTIMUM GALUR MANDUL JANTAN (A line) DAN GALUR PEMULIH KESUBURAN (R line) PADA PRODUKSI BENIH HIBRIDA KAPAS
ABSTRAKTeknologi kapas hibrida merupakan salah satu upaya untukmeningkatkan produksi kapas nasional. Sampai saat ini belum tersediavarietas kapas hibrida nasional untuk program pengembangan kapasnasional. Penelitian ini bertujuan mengetahui ratio galur (A line) manduljantan dan galur pemulih kesuburan (R line) yang optimum untukmenghasilkan benih hibrida kapas paling tinggi dengan cara persilanganalami. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Pasirian-Lumajang,Jawa Timur mulai Januari sampai Desember 2011. Percobaan ini terdiridari satu pembanding T1 dengan penyerbukan manual dan 5 perbandinganratio (A line : R line) yang berbeda, yaitu T2 (3:2), T3 (4:2), T4 (5:2), T5(6:2), dan T6 (7:2) dengan penyerbukan alami. Perlakuan disusun dalamRancangan Acak Kelompok (RAK) diulang 3 kali dengan luas petakmasing-masing perlakuan 25 m x 5 m. Benih kapas ditanam dengan jarak125 cm x 25 cm. Pupuk yang diberikan sebanyak 300 kg pupuk majemuk(15 N:15 P 2 O 5 :15 K 2 O) dan 100 kg pupuk Urea/ha. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa perlakuan penyerbukan manual (T1) menghasilkankapas berbiji sebanyak 1023 kg/ha, nyata paling tinggi dibandingkanperlakuan dengan penyerbukan alami. Terdapat korelasi positif yangsangat nyata antara hasil kapas berbiji dengan jumlah populasi (r =0.75967). Hasil kapas berbiji tidak berbeda pada perlakuan T2 sampai T6yang bervariasi antara 377- 452 kg kapas berbiji/ha, dengan efisiensipenyerbukan alami sebesar 37–45%. Untuk produksi benih hibrida denganpersilangan alami dapat digunakan ratio 7 baris tetua betina dan 2 baristetua jantan (perlakuan T6). Harga benih hibrida kapas yang dihasilkandengan cara penyerbukan alami sebesar Rp. 98.571,-/kg sedangkan dengancara penyerbukan manual sebesar Rp. 101.826,-/kg.Kata kunci: Gossypium hirsutum, mandul jantan, pemulih kesuburan,penyerbukan manual, penyerbukan alamiABSTRACTHybrid cotton technology is an attempt to increase the nationalcotton production. Hybrid cotton varieties is not yet available for thenational cotton development program. This study was aimed atdetermining optimum ratio of male sterile lines (A line) and restorers (Rline) lines for producing high hybrid cotton seed yield. The experimentwas conducted in the Experimental Garden Pasirian-Lumajang, East Javafrom January to December 2011. This experiment consisted of T1 withmanual pollination (control), and 5 different ratios (A line : R line) withnatural pollination namely T2 (3:2), T3 (4:2), T4 (5:2 ), T5 (6:2) and T6(7:2). Treatments were arranged in a randomized block design (RBD) with3 replications, plot size was 25 m x 5 m of each. Seeds were sown witha distance of 125 cm x 25 cm. Fertilizers given were 300 kg of compoundfertilizer (15 N: 15 P 2 O 5 : 15 K 2 O) and 100 kg Urea /ha. From this researchit was found out that the T1 treatment by manual pollination produced asmuch 1023 kg seed cotton yield / ha, was the highest compared to naturalpollination treatments. There was high correlation between seed cottonyield and plant population (r = 0.75967). Seed cotton yield of T2 to T6treatments was not significantly different, which varies between 377-452kg/ha, with natural pollination efficiency of 37-45%. Therefore, for cottonhybrid seed production based male sterility by natural crossing, 7 rows offemale lines and 2 rows of male lines ratio (treatment T6) can be used.Price of cotton hybrid seed by natural pollination as much as Rp. 98,571, -/kg while by manual pollination as much as Rp. 101, 826, - /kg.Key words: Gossypium hirsutum, male sterile, restorer, manual pollination,natural pollinatio
PEREKAYASAAN INSTALASI PEMANFAATAN UDARA PANAS BUANG PADA PENGOVENAN TEMBAKAU VIRGINIA
Pcrekayasaan instalasi pemanfaatan udara panas buang pada pengolahan daun tembakau Virginia menjadi krosok fc (flue-cured) telah dilaksanakan di Balai Penelitian lanaman lembakau dan Serat, Malang, Jawa Timur. Pengujian alal dilakukan di lombok Timur, Nusa Tcnggara Barat, pada musim panen antara bulan Agustus sampai dengan Oktober 2000 di sentra produksi tembakau Virginia Hasil penelitian ini diharapkan dapat mendukung efisiensi penggunaan biaya bahan bakar sekaligus mengurangi subsidi bahan bakar minyak dari Pemerintah Konstruksi instalasi pemanfaatan udara panas buang terdii atas pipa penghubung (d~ 15.24 cm) dua oven dan blower 0 75 TK untuk mcngalirkan udara panas buang dari oven pertama ke oven kedua. Kapasitas oven pertama yang digunakan 3 547 kg, sedangkan oven kedua 2 617 kg daun lembakau. Hasil penelitian menunjukkan bahwa. pemasangan instalasi udara panas buang dapat menekan konsumsi bahan bakar oven kedua 12 39% yaitu dari 1 352 liter minyak tanah tiap kg krosok menjadi 1.141 liter tiap kg krosok. Analisis ekonomi pada harga minyak tanah Rp 700/1 penggunaan alat tersebut belum memberikan keuntungan yang bcrati karena nilai rasio BC ■ 1.29. NPV ■ Rp 99 835 885 dan IRR - 52 73%, dibandingkan tidak memasang instalasi tersebut dengan nilai rasio BC 1.29, NPV Rp 98 547 176, dan IRR 52 78%. Namun bila harga minyak tanah Rp. 1 000/1 maka pemasangan instalasi udara panas buang membeikan nilai rasio BC 1.25, NPV Rp. 88 246 683 dan IRR -52 58%. lebih baik dibanding tidak memasang instalasi tersebut (rasio BC 1 24. NPV Rp. 85 977 099 dan IRR - 52 63%) Peluang keuntungan rclatif makin besar jika harga minyak lanah makin linggi. Keuntungan lain pemasangan instalasi ini adalah menekan subsidi bahan bakar minyak.Kata kunci : Nicotiana tabacum 1. , oven, instalasi udara, panas buang, mutu, aspek ekonomi ABSTRACTUtilization of waste heat-air installation in Virginia tobacco curingInstallation of me waste hcal-air utilization in Virginia tobacco curing to produce flue-cured tobacco has been conducted in Indonesian Tobacco and fiber Crops Research Institute. Malang, Indonesia. The equipment test was taken place in Virginia tobacco production centre. East lombok. West Nusa Tcnggara Province on harvesting-time between August and October 2000 Ihe result of the research was expected to suppot fuel efficiency, and decrease the government fuel-oil subsidiary. Construction of Ihe waste hcat- air installation consisted of connecting-pipe (d 15.24 cm) between two eunng-bams. and 0 75 HP blower for blowing the waste heat-air to the second cunng-barn The capacity of the irst curing-barn was 3 547 kg tobacco leaves and second curing-bam was 2 617 kg tobacco leaves. The results of the experiment showed that the installation of the waste hea(-air equipment could reduce 12.39% of fuel consumption of second curing-bam, from 1.352 I kerosene per kg to 1 141 I kerosene per kg of the cured leaves The economic analysis of the equipment al kerosene price Rp 700/1 was that equipment did nol give meaning-full benefit, because the value of B'C ratio 1.29, NPV Rp 99 835 885 and IRR 52.73%, compared to those without waste heal air installation, with BC ratio 1 29, NPV Rp. 98 547 176 and IRR 52.78%. Nevertheless al Rp I 000 1 kerosene price the installation of waste heal-air equipment gave the B'C ratio -1 25. NPV ■ Rp. 88 835 885 and IRR 52 58%, was better than those without equipment installation (BC ratio I 24. NPV Rp. 85 977 099 and IRR' 52 63%). Relative beneit chance would be beter if there was higher kerosene price. Ihe other benefit from the installation of Ihe equipment was to reduce government fuel subsidiary.Key words Nicotiana tabacum I... curing-bam. waste heat-air, installation, quality, economic aspec
PENGARUH JENIS PUPUK DASAR DAN SUSULAN TERHADAP PRODUKSI DAN MUTU TEMBAKAU CERUTU BESUKI
Penelitian pemupukan tembakau cerutu besuki telah dilakukan di Desa Mangaran, Kecamatan Jenggawah, Kabupaten Jember (30 m dpi) untuk mengetahui pengaruh jenis pupuk dasar dan pupuk susulan terhadap produksi dan mutu. Tembakau ditanam pada awal musim kemarau (disebut besnota), yaitu minggu ke 1 bulan Juli 2000. Lahan percobaan berjcnis tanah Aluvial dengan tekstur liat berkadar 44% liat, 20% debu, dan 46% pasir, 0.67% C-organik, 0.14% N total, 10.64 cmol/kg P tersedia, 0.45 cmol/kg K, 7.30 cmol/kg Ca, dan pH 6.62. Perlakuan disusun dalam rancangan acak kelompok faktorial, dengan 3 ulangan Faktor petama adalah perlakuan pupuk dasar (jenis pupuk NPK dan SP36 + urea), sedangkan faktor kedua adalah perlakuan jenis pupuk susulan (urea, CN, CN+CPN, CN+PN, dan CSN). Ukuran petak percobaan 10 m x 7 m , jarak tanam (110 cm i 90 cm) x 35 cm, dengan populasi 200 tanaman per petak dan varietas 11382 Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pupuk dasar NPK tidak berbeda pengaruhnya dibanding dengan pupuk SP36+ urea terhadap hasil, ukuran, ketcbalan daun posisi KAK dan TNG, persentase daun pembalut-pembungkus dan kadar unsur hara daun. Namun perlakuan pupuk NPK menghasilkan daun KOS 3 lebih tipis, daya bakar daun KOS 1 dan KAK 3 yang lebih lama, nisbah K20/CaO yang lebih tinggi. Pupuk susulan CN i CPN dan CN + PN memberikan hasil dan kadar N daun yang lebih tinggi daripada perlakuan yang lain. Pupuk susulan tidak berpengaruh terhadap ukuran daun, ketebalan daun, daya bakar, persentase daun pembalul-pembungkus, kadar P2Oj. K20, dan CaO daun. Berdasarkan analisis kualitas semua pupuk altematif yang dicoba- kan, baik sebagai pupuk dasar maupun pupuk susulan, pupuk-pupuk tersebut dapat digunakan pada tembakau cerutu besuki. Selanjutnya, perlu dilakukan sosialisasi penggunaan pupuk altematif tersebut kepada petani.Kata kunci: pupuk, produksi, mutu, Nicotiana tabacum, tembakau cerutuABSTRACTEffect ofbasalfetilizers and side dressingfetilizer on the production and quality of besuki cigar tobaccoThe expeiment was conducted in Mangaran, Jenggawah Distict, Jember (at the altitude of 30 m). The objective was to study the effect of basal fetilizers and side dressing fetilizer on the production and quality of besuki cigar tobacco. Tobacco was planted in early dry season, in irst week of July 2000 (named as besnota tobacco). The soil was alluvial with clay texture (44% clay, 20% silt, and 46% sand). Other characteristics of the soil was 0.67% C-organic, 0.14% total-N, 10.64 cmol/kg available P, 0.45 cmol/kg available K, 7.30 cmol/kg Ca, and pH 6.62. The treatment consisted of two factors, i.e. basal dressing (NPK compound fetilizer and SP36 + urea) and side dressing (urea, CN, CN + CPN, CN + PN, and CSN). The treatments were arranged in a factoially randomized block design with 3 replications. Planting space was double row (110 cm + 90cm) x 35 cm, 200 plants per plot. Tobacco vaiety was H382. The results of the experiment showed that the effect of NPK fetilizer was not significantly different from SP36 + urea, on the yield, leaf size, thickness of KAK and TNG leaf positions, wrapper + binder precentagc and chemical content of the leaves. However, the tobacco crop received NPK fetilizer had positive characteistics, i.e. thinner leaves (KOS 3), longer buning duration (KOS 1 and KAK 3), higher K20/CaO ratio than SP36 + urea (reatment. CN + CPN and CN + PN as side dressing treatments gave yield and N content higher than other treatments. Side dressing treatments did not affect the leaf size, thickness, buning duration, wrappcr+binder percentage. P2Oj. KjO, and CaO, content of the leaves. However, based on the quality analysis the fertilizers tested either as basal dressing or as side dressing can be used as an altenative for besuki cigar tobacco fetilization. Futhermore, the use of these altenative fetilizers need to be socialized to the tobacco farmers.Keywords: Cigar tobacco, fetilizer, production, quality, Nicotiana tabacu
PERKIRAAN PELUANG HUJAN UNTUK MENENTUKAN WAKTU TANAM KAPAS DI NUSA TENGGARA BARAT
Curah hujan merupakan salah salu unsur iklim yang sangal berpengaruh terhadap produksi kapas Variasi hujan di lahan tadah hujan sangat linggi. Waklu tanam yang telah dilentukan sebelumnya hanya berdasarkan data curah hujan selama 1 0 Uihun Untuk mcmpcrbaiki waktu tanam tersebut, perlu dilakukan analisis hujan berdasarkan data curah hujan selama lebih dari 20 tahun untuk mendapatkan angka peluang yang lebih stabil. Analisis dilakukan berdasarkan data curah hujan lebih dari 20 tahun yang lerkumpul dari 16 slasiun hujan yang tersebar di Kabupaten Lombok Timur. lombok Tengah. Lombok Barat, Sumbawa, Bima, dan Dompu. Data dianalisis menggunakan metode peluang Markov Ordc Pertama dan perhilungan peluang sclang kering beturut-turut Waktu tanam kapas di sebagian besar I-ombok dan Sumbawa berkisar minggu pertama sampai minggu kedua Desember, minggu ketiga sampai keempal Desember di Kawo, Lombok Tengah dan Rasanae, Bima, dan minggu pertama Januari di Moyohilir, Sumbawa dan Bayan, Lombok Barat. Daerah yang beresiko linggi untuk pengembangan kapas adalah di wilayah sekilar Pringgabaya (Lombok Timur), Ulhan (Sumbawa), Donggo dan Wawo di Bima Daerah lainnya dengan kandungan air tersedia yang rendah dengan kandungan pasir lebih dari 50% seperti di 1-ape (Sumbawa) penanaman kapas hendaknya dilakukan lebih awal. Tipe iklim didominasi iklim kering dengan musim hujan yang sangat pendek sehingga tidak memungkinkan adanya pergiliran tanaman palawija-kapas Kapas hendaknya ditanam bersamaan dengan palawija mcngingal pendeknya periode hujan.Kata kunci : Gossypium hirsutum, waktu tanam. periode kering, masa tanam ABSTRACT Prediction of rainfall probability for determination of cotton sowing times in West Nusa TenggaraClimatic elements paticularly rainfall strongly influences successful prediction of rainfed cotton yield. Rainfall vaiability varies amongst Ihe season The previous planting times were determined based on 10 years daily rainfall data. I-ongterm rainfall data arc required for rainfall analysis to get reliable probabilities. The rainfall analysis was done using Markov Chain First Order Probability and dryspell probability methods Ihe rainfall data were collected from 16 rainfall stations in West Nusa Tcnggara (Eas( Lombok, Central I-ombok, West Lombok, Sumbawa, Bima, and Dompu). Ihe planting times varied from the irst week to the second week of December for most areas of I-ombok and Sumbawa The planting limes in Kawo, Central Lombok and Rasanae, Bima were mid December: and early January in Moyohilir, Sumbawa and Bayan, West l.ombok The areas which high risk to drought are around Pringgabaya (Hast lombok), Uthan (Sumbawa), Donggo and Wawo (Bima). On sandy- areas such as I-ape (Sumbawa) cotton should be planted earlier Type of climate in most areas is dry with limited rainy season, thai relay-planting of these areas is not practiced.Key words: Gossypium hirsutum, planting time, dryspcll, seasonal pater
KANDUNGAN FENOL DAN LIGNIN TANAMAN NILAM HIBRIDA (Pogostemon sp.) HASIL FUSI PROTOPLAS
Evaluation of phenols and lignin in the root of hybrid patchouli (Pogostemon cablin Benth.) front protoplast fusionOne of the problems faced in patchouli production is nematode infection (Pratylenchus brachyurus). Improvement of the plant resistance to nematode in patchouli is dificult 10 be conducted through conventional method as the plant never llowcrs. One of the methods of improving (he plain resistance is by using protoplast fusion of Aceh patchouli (Pogostemon cablin, cv Sidikalang ) and Java patchouli (/' heyneanus. cv (iirilaya). It has been found thai Ihe plain resistance lo nematode is closely related to phenols and lignin content of the root Therefore. Ihe level of resistance of different clones of somatic hybrids lo nematode was approached by evaluating ihe content of phenols and lignin of the roots The study was conducted al the laboratory of the Research Institute for food Crop Biotechnology, Bogor in November 2000. Phenol content was determined with high performance liquid Chromatography (IIPI.C). while lignin content was determined with Klasou method. Result showed that Java patchouli (Girilaya) contained phenols and lignin respectively 76.53 and 21 900 pp. higher than those of Aceh patchouli (Sidikalang and Tapak Tuan) respectively 38 2-81 45 and 8 000-7 200 ppm. Phenol and lignin content in the somatic hybrids were dilferenl in Ihe respective pairs. In the fusion of Girilaya x Sidikalang. all clones contained phenol lower than those of Iheir parents, some clones (29%) contained lignin higher than Sidikalang but lower than (iirilaya. and the rest (71%) contained lignin lower than the two parents. Meanwhile, from Ihe fusion of Girilaya, Tapak Tuan. I clone (4%) contained phenols higher than those of (he two parents (97 ppm). 39% contained phenols higher than Tapak Tuan but lower than Girilaya (38.75-60.12 ppm) and the rests (60%) contained phenol lower than the two parents. Furthermore, the lignin content, of 78% somatic hybrids was lower than Girilaya but higher than Tapak Tuan, but the rest (22%) was lower than the two parents. Based on the distribution of phenols and lignin content. Ihe somatic hybrids can be categorized in three group The irst groups (5 clones) contained high phenols (higher than the average). Ihe second group (9 clones) contained high lignin. and Ihe third (I clone) contained high phenol and lignin