Jurnal Penelitian Tanaman Industri
Not a member yet
    401 research outputs found

    PENGARUH PUPUK K TERHADAP PERTUMBUHAN, HASIL DAN MUTU RIMPANG JAHE MUDA (Zingiber officinale Rocs.)

    Get PDF
    ABSTRAKKalium merupakan unsur hara yang paling banyak diserap olehtanaman jahe dibandingkan N dan P. Produktivitas tanaman akan menurunapabila kekurangan unsur hara K, karena K mempunyai fungsi pentingpada proses fotosintesis, aktifitas enzim, metabolisme karbohidrat, proteindan sebagai transport ion. Penelitian dilakukan di Kebun PercobaanSukamulya sejak Januari sampai Mei 2010. Tujuan penelitian ini adalahuntuk mengetahui pengaruh pemberian pupuk KCl terhadap pertumbuhan,hasil, serapan hara, dan mutu rimpang jahe muda. Perlakuan disusundalam rancangan acak kelompok dan diulang 4 kali. Perlakuan yangdicoba terdiri atas delapan perlakuan pupuk KCl yaitu; 0, 50, 100, 150,200, 250, 300, dan 350 kg/ha. Jarak tanam yang digunakan adalah 50 x 60cm, dengan populasi 100 tanaman/plot. Contoh tanaman diambil padaumur 4 BST, sebanyak 5 tanaman setiap satuan perlakuan. Peubah yangdiamati adalah, tinggi tanaman, jumlah anakan, bobot segar rimpang,bobot kering rimpang dan tanaman, kadar minyak atsiri, pati, serat, haraN, P dan K. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tinggi tanaman, bobotsegar rimpang, bobot kering batang+daun dan bobot kering rimpangmeningkat secara nyata dengan meningkatnya perlakuan pupuk KCl.Tinggi tanaman, bobot segar rimpang, bobot kering batang+daun tertinggidicapai pada perlakuan pupuk KCl dosis 350 kg/ha, masing-masing adalah86,88 cm, 272,51 g/tanaman, dan 27,46 g/tanaman. Peningkatan bobotkering batang+daun dan bobot segar rimpang berkorelasi positif denganmeningkatnya pemupukan KCl sampai dosis 350 kg/ha, membentukpersamaan linier (r = 0,610 tn dan 0,643 tn ) dengan tingkat kepercayaanmasing-masing P = 0,987** dan 0,99**. Kadar serat rimpang meningkatmembentuk persamaan kuadratik (R 2 = 0,792*) dengan peningkatanpemupukan KCl sampai dosis 350 kg/ha, dengan tingkat kepercayaan P =0,997**. Serapan hara N, P dan K berkorelasi positif dengan peningkatanpemupukan KCl sampai dosis 350 kg/ha. Serapan N membentukpersamaan linier (r = 0,541 tn ) dengan tingkat kepercayaan P = 0,977**,serapan P membentuk persamaan kuadratik (R 2 = 0,798*) dengan tingkatkepercayaan P = 0,992**, dan serapan K membentuk persamaan kuadratik(R 2 = 0,643 tn ) dengan tingkat kepercayaan P = 0,947**.Kata kunci : Zingiber officinale Rocs., pupuk KCl, pertumbuhan, mutu,hasil jahe mudaABSTRACTPotassium is the nutrient most absorbed by ginger compared to Nand P nutrients. Crop productivity will decline if it lacks of K nutrient,because K has an important function in the photosynthesis of process,enzyme activity, metabolisms of carbohydrates and proteins, and it alsofunctions as an ion transport. A study, conducted at SukamulyaExperimental Station from January to May 2010, aimed at determining theeffect of KCl fertilizer application on growth, yield, nutrient uptake, andquality of young ginger rhizomes. Treatments were arranged in arandomized block design with four replicates. The treatments consisted ofeight KCl fertilizer dosages, namely: 0, 50, 100, 150, 200, 250, 300, and350 kg/ha. Planting space used was 50 x 60 cm, with plants population of100/plot. Five plants per treatment unit were sampled at the age of 4months after planting. Variables observed were plant height, number oftillers, rhizome fresh weight, dry weights of rhizomes and plants, contentsof essential oil, starch, fiber, and N, P, and K nutrients. The results showedthat plant height, rhizome fresh weight, stems + leaf dry weight, andrhizome dry weight increased significantly in line with the increase in KClfertilizer dosages. The best results of plant height, rhizome fresh weight,and dry weight of stem + leaf were achieved at the highest dosage of KClfertilizer (350 kg/ha). The measures were 86.88 cm, 272.51 g/plant, and27.46 g/plant, respectively. Increase in dry weights of stem + leaf andfresh rhizome were positively correlated with increasing fertilizer dosagesof KCl up to 350 kg/ha, forming a linear equation (r = 0.610 tn and r =0.643 tn ) with P confidence levels of 0.987** and 0.99**, respectively.Increase in fiber content of rhizomes formed a quadratic equation (R 2 =0.792*) by increasing dosages of KCl fertilizer up to 350 kg/ha, with a Pconfidence level of 0.997**. Uptakes of N, P, and K nutrients werepositively correlated with increases in KCl fertilizations up to 350 kg/ha.Uptakes of N nutrient formed a linear equation (r = 0.541 tn ) with a Pconfidence level of 0.977**, P uptakes formed a quadratic equation (R 2 =0.798*) with a P confidence level of 0.992**, and uptakes of K alsoformed a quadratic equation (R 2 = 0.643 tn ) with a P confidence level of0.947**.Key words: Zingiber officinale Rocs., KCl fertilizer, growth, quality,young ginger rizhom

    ANALISIS KERAGAMAN GENETIK PLASMA NUTFAH KAKAO (Theobroma cacaoL.) BERDASARKANMARKA SSR / Analysis of Genetic Variability Germplasm of Cacao (Theobroma cacaoL.)Basedon SSR Marker

    No full text
    Microsatellite or simple sequence repeat (SSR) markers have proven to be an excellent tool for cultivar identification, pedigree analysis, and genetic distance evaluations among organisms. The objectives of this research were to characterize cacao collection of Indonesian Coffee and Cacao Research Institute (ICCRI) and to analyze their genetic diversity using SSR markers. In this research, 39 SSR primer pairs were used to amplify genomic DNA of 29 cacao clones. Amplified SSR fragments for each primer pair were scored as individual band and used to determine genetic distance among evaluated cacao clones. Results of the experiment indicated that all SSR primer pairs evaluated were able to produce SSR markers for 29 cacao clones. The results also indicated that 34 out of 39 microsatellite loci evaluated were polymorphic, while 5 others were monomorphic. The total number of observed alleles among 29 clones was 132. Number of alleles per locus ranged from 4-8, with an average of 5.5 alelles per locus. Results of data analysis indicated that the PIC value was 0.665, the observed heterozigosity (Ho) was 0.651, and the gene diversity (He) was 0.720. The PIC, Ho, and He values were considered high. Genetic distances were evaluated using NTSys version 2.1 and dendrogram was constructed. Results of analysis indicated that 12 cacao clones evaluated were clustered in the first group with diversity coefficient of < 3.75. Nine cacao clones were in the second group but with the same value of diversity coefficient (<7.50). The rest of the cacao clones were in the third group with diversity coefficient of>7.50. Based on those finding, all SSR primer pairs evaluated could be used to analyze cacao genome and be useful for genetic diversity analysis of cacao germplasm. The SSR marker analysis in ICCRI cacao collections resulted in high PIC, high observed heterozygosity, and high genetic diversity.Key words: Theobroma cacao L, microsatelite, molecular marker, genetic diversity, heterozygosity AbstrakMarka mikrosatelit atau sekuens sederhana berulang (simple sequence repeat = SSR) terbukti merupakan alat yang bagus untuk identifikasi kultivar, analisis pedigree, dan evaluasi jarak genetik berbagai organisme. Penelitian ini bertujuan untuk:1) karakterisasi kakao koleksi Pusat penelitian Kopi dan Kakao Indonesia menggunakan marka SSR dan 2) analisis keragaman genetik klon-klon kakao koleksi dengan menggunakan marka SSR. Dalam penelitian ini, 39 pasangan primer SSR telah digunakan untuk amplifikasi DNA genomik dari 29 klon kakao. Skoring pita SSR hasil amplifikasi menggunakan masing-masing pasangan primer dilakukan secara terpisah dan digunakan untuk menentukan jarak genetik di antara klon kakao yang dievaluasi. Hasil percobaan menunjukkan bahwa semua pasangan primer SSR yang digunakan mampu menghasilkan pita DNA hasil amplifikasi (marka SSR) untuk 29 klon kakao yang diuji. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa 34 dari 39 lokus SSR yang dianalisis bersifat polimorfik sedangkan lima primer yang lain bersifat monomorfik. Dari 29 klon kakao yang dievaluasi, telah berhasil diamplifikasi sebanyak 132 alel, dengan kisaran antara 4-8 alel/lokus. Rataan jumlah alel per lokus sebanyak 5,50. Hasil analisis data yang dilakukan juga menunjukkan nilai PIC untuk marka SSR yang digunakan sebesar 0,665. Untuk populasi klon kakao yang dievaluasi, diperoleh nilai rataan heterosigositas pengamatan (Ho) sebesar 0,651 dan rataan diversitas gen (He) sebesar 0,720. Nilai PIC Ho dan He yang didapat tergolong tinggi. Berdasarkan analisis keragaman dengan menggunakan program NTSys, diperoleh hasil 12 klon kakao berada dalam grup pertama (koefisien keragaman<3,75) dan9 klon berada dalam grup kedua, dengan koefisien keragaman < 7,50. Sedangkan klon-klon lainnya mempunyai koefisien keragaman > 7,50. Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data disimpulkan bahwa marka SSR dapat digunakan untuk menganalisis keragaman genetik plasma nutfah kakao. Tingkat polimorfisme yang dihasilkan marka SSR relatif tinggi. Tingkat heterosigositas plasma nutfah kakao koleksi Puslit Kopi dan Kakao Indonesiarelatif tinggi, dan keragaman genetiknyacukup tinggi.Kata kunci : Theobroma cacao L, mikrosatelit, marka molekuler, keragaman genetik, heterosigosita

    PENGARUH PENGAIRAN TERHADAP PRODUKSI DAN KANDUNGAN MINYAK BIJI TIGA PROVENAN JARAK PAGAR (Jatropha curcas L.)

    Get PDF
    ABSTRAKPenelitian lapang dilakukan di Kebun Percobaan Balai PenelitianTanaman Tembakau dan Serat di Muktiharjo, Pati dengan tekstur tanah liatberdebu mulai tahun 2007 sampai 2009. Penelitian bertujuan untukmengetahui respon pengairan terhadap produksi dan kadar minyak bijijarak pagar. Jarak pagar ditanam pada bulan Februari 2007. Percobaanmenggunakan rancangan petak berjalur dengan tiga ulangan yang terdiridari dua faktor, yaitu faktor pertama : provenan IP-1A, IP-1M, dan IP-1P,dan faktor kedua yaitu kriteria pengairan : kontrol (tanpa pengairan),pengairan saat kandungan air tanah mencapai 35, 50, dan 65%. Pengairandiberikan selama musim kemarau. Pemangkasan pertama dilakukan padatahun II yaitu awal musim hujan (September 2008). Hasil penelitianmenunjukkan bahwa tambahan pengairan hanya diperlukan pada tahunpertama. Produksi biji jarak pagar tidak dipengaruhi oleh irigasi mulaitahun II sehingga tanaman jarak pagar tidak memerlukan tambahanpengairan selama musim kemarau dan dapat beradaptasi pada berbagaiketersediaan air tanah terutama pada daerah dengan curah hujan tahunan1.200-1.500 mm. Produksi biji IP-1P pada tahun I mencapai 258,7 kg/halebih tinggi dibanding IP-1A yaitu 148,11 kg/ha bila diairi saat kandunganair tanah 65%. Bila tidak diairi atau pengairan terbatas, produksi biji IP-1Adan IP-1P akan menurun masing-masing 37-59 dan 17-31%. Pada berbagaiperlakuan pengairan pada tahun II dan III, kisaran produksi biji 842-975dan 818-966 kg/ha. Pada tahun II, tanaman IP-1P menghasilkan produksibiji tertinggi (1.369 kg/ha) dibanding IP-1A (737 kg/ha) dan IP-1M (631kg/ha). Selanjutnya pada tahun III, produksi biji IP-1P (1.268 kg/ha) tetaplebih unggul dibanding IP-1A (902 kg/ha) dan IP-1M (416 kg/ha).Keunggulan IP-1P dibanding provenan lainnya adalah kemampuannyayang lebih tinggi dalam membentuk cabang produktif dan buah. Tambahanpengairan selama musim kemarau pada tahun I selain untuk meningkatkanproduksi biji juga meningkatkan kandungan minyak biji IP-1A dari 27,26menjadi 29,89% dan IP-1P dari 26,54 menjadi 30,05%. Selanjutnya padatahun II, tambahan pengairan sampai kandungan air tanah 50% tidakmempengaruhi kandungan minyak biji IP-1A, IP-1M, dan IP-1P.Kata kunci: Jarak pagar, ketersediaan air tanah, pengairan, produksi biji,kandungan minyak bijiABSTRACTEffects of irrigation on seed production and oil content ofthree provenances of physic nut (Jatropha curcas L.)A field experiment was conducted at the experiment station ofIndonesian Tobacco and Fiber Crops Research Institute in Muktiharjo, Pation a soil texture of silty clay for three years from 2007 to 2009. Theexperiment aimed to investigate the response of irrigation on productionand oil content of jatropha seed. Jatropha was planted in February 2007.The experiment used a striped plot design with three replicates. Itconsisted of two factors, firstly three provenances : IP-1A, IP-1M, and IP-1P, and secondly four irrigation levels : control (no irrigation), irrigationwhen available soil water content reached 35, 50, and 65%. Irrigation wasapplied during the dry season. The first pruning was done in the secondyear during rainy season (September 2008). The results showed thatsupplementary irrigation was needed only in the first year. The productionof jatropha seeds was not affected by irrigation from the second year on.The plants did not require additional irrigation during the dry season andthey well adapted to different soil available water, especially in areas withannual rainfall of 1,200-1,500 mm. When no irrigation supply or underinsufficient moisture content, the seed yield of IP-1A and IP-1P decreasedby 37-59 and 17-31%. In the second and third years, seed production of allirrigation treatments ranged from 842-975 and about 818-966 kg/ha. IP-1Pproduced the highest seed yield (1,369 kg/ha) compared to IP-1A (737kg/ha) and IP-1M (631 kg/ha) second year. In the third year, seedproduction of IP-1P was 1,268 kg/ha which was still more superior thanIP-1A (902 kg/ha) and IP-1M (416 kg/ha). Compared to the other twoprovenances, IP-1P was higher ability in producing productive branchesand fruits. In addition to increase in seed production, supplementaryirrigation during the dry season in the first year also increased seed oilcontent from 27.26 to 29.89% for IP-1A and from 26.54 to 30.05% for IP-1P. Furthermore, in the second year an additional irrigation to soilavailable water of 50% did not affect the seed oil content of allprovenances.Key words: Jatropha curcas L., soil available water, irrigation, seedyield, seed oil conten

    PENGUJIAN BAKTERI ENDOFIT TERHADAP EFISIENSI HARA PADA PERTUMBUHAN TANAMAN LADA DI LAMPUNG / The Evaluation of Endophytic Bacteria Application on Nutrient Efficiency of Black Pepper Growth in Lampung

    Get PDF
    Black pepper (Piper nigrum L.) requires high nutrients to support its growth. The research was carried out to find an alternative way to reduce high nutrient requirements with the application of growth-promoting bacteria. The research was conducted at Natar Experimental Station, Lampung Assessment Institute for Agricultural Technology (AIAT), from January to December 2018. The study was undertaken in a randomized block design, arranged factorially, with 16 treatments and 3 replications. The first factor was endophytic bacteria application consisted of: without endophytic bacteria (B0), Ca2 endophytic bacterial isolates (B1), isolates combination A (Dj9 + Sa4 + Labt8 + Ldbp4) (B2), and isolates combination B (Sa8 + Sd10 + Labt1 + Ldbp9 (B3). The second factor was fertilizer application comprised of: without fertilizer (P0), 25% (P1), 50% (P2), and 75% (P3) of recommendation dosage (NPKMg: 12: 12: 17: 2). The recommended fertilizer dose was 200 kg/ha/year. The results showed that there was an interaction between endophytic bacteria and fertilizer in enhancing plant growth and NPK nutrient uptake of pepper at 11 months after planting. The combination of Ca2 endophytic bacteria and 75% NPK fertilizer recommendations enhanced plant growth by 19.5% for plant height, 34.3% for the number of nodes, and 16.8% for the number of branches, compared to that without endophytic bacteria application. However, the combination of B2 endophytic bacteria and 75% of NPK fertilizer recommendations showed the best result for biomass weight and nutrient uptake. Endophytic bacteria can improve the effectiveness of organic fertilizer usage to support sustainable agriculture.Keywords: Piper nigrum, nutrition, improvement, PGPB. AbstrakLada (Piper nigrum L.) merupakan tanaman yang memerlukan hara cukup tinggi untuk pertumbuhannya. Penelitian ini dilakukan sebagai upaya untuk mengurangi pemberian hara yang cukup tinggi yaitu dengan memberikan bakteri pemicu pertumbuhan. Penelitian telah dilakukan di Kebun Percobaan Natar BPTP Lampung, dimulai dari bulan Januari-Desember 2018. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok, faktorial, 16 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan terdiri dari faktor pertama penggunaan bakteri endofit yaitu; tanpa bakteri endofit (B0), isolat bakteri endofit Ca2 (B1), isolat kombinasi A (Dj9+Sa4+Labt8+Ldbp4) (B2), dan isolat kombinasi B (Sa8+Sd10+Labt1+Ldbp9) (B3). Faktor kedua pemupukan anorganik yaitu; tanpa pupuk (P0), 25% (P1), 50% (P2), dan 75% (P3) dosis rekomendasi (NPKMg: 12:12:17:2). Dosis rekomendasi adalah 200 kg/ha/tahun. Hasil penelitian menunjukkan adanya interaksi antara bakteri endofit dan pupuk terhadap peningkatan pertumbuhan, dan serapan hara NPK pada tanaman lada berumur 11 bulan setelah tanam. Pemberian bakteri endofit dapat meningkatkan tinggi tanaman 19,5%, jumlah ruas 34,3%, dan jumlah cabang 16,8% pada kombinasi bakteri endofit B1 dibandingkan tanaman tanpa pemberian bakteri endofit dan 75% rekomendasi pupuk NPK. Namun kombinasi perlakuan terbaik untuk bobot biomas dan serapan hara adalah pada kombinasi perlakuan bakteri endofit B2 dan 75% rekomendasi pupuk NPK. Bakteri endofit dapat berfungsi sebagai pupuk hayati dan dapat mengefisienkan penggunaan pupuk buatan untuk pertanian berkelanjutan.Kata kunci: Piper nigrum, nutrisi, peningkatan,PGPB

    INOVASI TEKNOLOGI DAN INOVASI KELEMBAGAAN MENDUKUNG KEBERLANJUTAN USAHATANI LADA DI KALIMANTAN TIMUR / Technology and Institution Innovation Supporting the Sustainability of Pepper Farming System in East Kalimantan

    Get PDF
    Pepper farming in East Kalimantan has faced many obstacles. It is shown by the decline in pepper production in the last five years and the pepper conversion. This condition will affect the sustainability of pepper farming in East Kalimantan, as one of the national white pepper centers. Consequently, it is important to analyze and to establish a technology and institutional innovations. The study aimed to: (1) measure and analyze the sustainability of pepper farming, (2) identify technology innovation, (3) map the opportunities for adoption, and (4) develop institutional innovation and support system. The sustainability analysis of farming was done using weighting and rating methods. Data were collected in Kutai Kertanegara Regency, East Kalimantan in 2016. Results showed that the sustainability level of pepper farming is 3.0062, in the good category, but with a very low value. The environmental aspects provided the greatest value of the contribution to sustainability, followed by economic aspects and social aspects. Technology innovation was needed to overcome the problems. Nevertheless, technology adoption was relatively low. This was influenced by several factors, such as economic factors namely costs and income, social factors namely institutions and facilities support, and technological factors namely suitability and ease of implementation. Therefore, technology innovation needs to be supported by institutional innovation. The types of institutional innovations consist of: (1) establishment of working groups, (2) development of Seed Self-Reliance Region, (3) regulations related to quality standards and monitoring mechanisms, and (4) joint sales, as well as supporting facility to accelerate innovation adoption.Keyword: sustainability index, technology adoption, economic, support facilities. AbstrakUsahatani lada di Kalimantan Timur masih dihadapkan pada berbagai permasalahan, yang ditunjukkan oleh penurunan kemampuan produksi setelah lima tahun dan adanya konversi usahatani dari lada menjadi komoditas lain. Hal ini akan mempengaruhi keberlanjutan usahatani lada di Kalimantan Timur sebagai salah satu sentra lada putih nasional. Oleh karena itu penting untuk dianalisis dan disusun inovasi teknologi dan kelembagaan untuk mengatasinya. Kajian bertujuan untuk (1) mengukur dan menganalisis keberlanjutan usahatani lada, (2) identifikasi inovasi teknologi, (3) pemetaan peluang adopsi, serta (4) menyusun inovasi kelembagaan dan dukungan bagi peningkatan adopsi inovasi. Analisis keberlanjutan usahatani dilakukan dengan menggunakan metode weighting dan rating. Pengambilan data dilakukan di Kabupaten Kutai Kertanegara Kalimantan Timur pada tahun 2016. Berdasarkan analisis yang dilakukan, diketahui bahwa tingkat keberlanjutan usahatani lada memiliki nilai 3,0062 masuk kategori baik, namun dengan nilai sangat rendah pada kelas tersebut. Aspek lingkungan memberikan nilai kontribusi terbesar terhadap keberlanjutan, diikuti dengan aspek ekonomi dan aspek sosial. Inovasi teknologi diperlukan untuk mengatasi permasalahan sehingga terbangun keberlanjutan usahatani lada. Secara umum, peluang adopsi teknologi masih relatif rendah.  Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu faktor ekonomi yaitu dari sisi biaya dan pendapatan, faktor sosial yaitu kelembagaan dan dukungan fasilitas, serta faktor teknologi yaitu kesesuaian dan kemudahan dalam menerapkan teknologi. Oleh karena itu inovasi teknologi perlu didukung dengan inovasi kelembagaan. Jenis inovasi kelembagaan bagi peningkatan keberlanjutan usahatani lada yaitu: (1) pembentukan kelompok kerja, (2) pengembangan desa mandiri benih, (3) regulasi terkait standar mutu dan mekanisme pengawasan, serta (4) penjualan bersama, Selain itu juga perlu dukungan fasilitas untuk mempercepat adopsi inovasi.Kata kunci: indeks keberlanjutan, adopsi teknologi, ekonomi, fasilitas pendukung

    PEMANFAATAN LIMBAH KOMODITAS PERKEBUNAN UNTUK PEMBUATAN ASAP CAIR / Utilization of Plantation Commodities Waste for Liquid Smoke

    Get PDF
    Liquid smoke is the result of condensation of smoke from the pyrolysis process of biomass containing elements of lignin and cellulose. The chemical and physical components of liquid smoke were determined by the raw materials used. The purpose of this study was to determine the characteristics of liquid smoke from different plantation wastes. The raw material used consists of coconut shells, palm shells, and sawdust. Coconut shells were obtained from coconut milk traders in the Pangkal Pinang market. Palm oil shells were taken from palm oil mill waste. Sawdust was a waste of wood craftsmen in Pangkalpinang. Liquid smoke was produced by pyrolysis using a simple tool consisting of a plate with the main components of a combustion tube, a smoke conduit pipe, and a condensing tube. This study used a randomized block design with five replications. The results showed the highest yield of liquid smoke was obtained from coconut shell compared to palm shell liquid and sawdust liquid smoke. Liquid smoke from coconut shel had lower pH and water content than that from oil palm shell and sawdust. The phenol content of coconut shell liquid smoke was 19.45 mg/ml, sawdust liquid smoke 8.24 mg/ml and oil palm shell liquid smoke 19.54 mg/ml. The acid content of coconut shell liquid smoke (7.44%) was higher than that of oil palm shell liquid smoke (5.70%) and sawdust (1.36%).Keywords: phenol, pyrolysis, coconut shell, oil palm shell AbstrakAsap cair merupakan hasil kondensasi asap dari proses pirolisis biomassa yang mengandung unsur lignin dan selulosa. Komponen kimia dan fisika asap cair ditentukan oleh bahan baku yang digunakan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik asap cair dari limbah komoditas perkebunan yang berbeda. Bahan baku yang digunakan terdiri dari tempurung kelapa, cangkang kelapa sawit dan serbuk gergaji. Tempurung kelapa diperoleh dari pedagang santan di pasar Pangkal Pinang. Cangkang kelapa sawit diambil dari limbah pabrik kelapa sawit. Serbuk gergaji  merupakan limbah pengrajin kayu yang ada di Pangkalpinang.  Pembuatan asap cair dilakukan dengan pirolisis menggunakan alat sederhana yang tediri dari plat dengan komponen utama tabung pembakaran, pipa penyalur asap,  dan tabung kondensasi. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok dengan lima ulangan. Hasil penelitian menunjukkan rendemen asap cair dari tempurung kelapa paling tinggi dibandingkan dengan asap cair cangkang kelapa sawit dan serbuk gergaji. Asap cair tempurung kelapa mempunyai pH dan kadar air yang lebih rendah daripada asap cair cangkang kelapa sawit dan serbuk gergaji. Kandungan fenol asap cair tempurung kelapa 19,45 mg/ml, asap cair serbuk gergaji 8,24 mg/ml dan asap cair cangkang kelapa sawit 19,54 mg/ml. Kandungan  asam asap cair tempurung kelapa (7,44%) lebih tinggi  daripada asap cair cangkang kelapa sawit (5,70 %) dan serbuk gergaji (1,36 %).Kata kunci: fenol, pirolisis, tempurung kelapa, cangkang kelapa sawi

    PERTUMBUHAN BENIH KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq.) PADA MEDIA TANAM KOMBINASI ANTARA GAMBUT, TANAH LAPISAN ATAS DAN ARANG SEKAM PADI DI PEMBIBITAN AWAL/The Growth of Oil Palm Seeds (Elaeis guineensis Jacq.) on Combinated Media of Peat, Topsoil an

    Get PDF
    Growth medium is very important to produce good quality of seedling. The use of different growing media would give a different influence on plant colonization, as each medium type has different nutrient content.  The purpose of the study was to evaluate the growth of oil palm seedlings in a variety of growing media composition in pre-nursery. The research was carried out in smallholder estate of Keramasan Karyajaya Village, Kertapati Sub district of South Sumatra from September 2017 until December 2017. The design used was completely randomized design with growing media (M) as treatments: M0 (topsoil/controls), M1 (peat), M2 (topsoil+rice husk charcoal), M3 (peat + rice husk charcoal), M4 (topsoil+peat+rice husk charcoal). The observed variables were plant height number of leaves, greenness of leaves, and the number of survival seeds. The results of this study showed that growth media significantly affected plant height and the greenness of leaves. The percentage of oil palm seeds growing on peat media increase about 13% compared to the top soil medium. So, peat moss media can be used as an alternative media to replace the top soil media.Key words: topsoil, peat, rice husk charcoal, oil palm, pre-nursery AbstrakMedia pembibitan sangat penting dalam menghasilkan bibit yang berkualitas baik. Penggunaan media tanam yang berbeda-beda diduga akan memberikan pengaruh yang berbeda terhadap pertumbuhan tanaman, karena setiap jenis media tanam memiliki kandungan unsur hara yang berbeda.  Tujuan penelitian adalah mengevaluasi pertumbuhan benih kelapa sawit pada berbagai komposisi media tanam di pembibitan awal. Penelitian dilaksanakan di perkebunan rakyat Desa Keramasan Karyajaya, Kecamatan Kertapati, Sumatera Selatan dari bulan September 2017 sampai Desember 2017. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan perlakuan media tanam (M): M0 (Tanah lapisan atas/kontrol), M1 (Gambut), M2 (Tanah lapisan atas+arang sekam padi), M3 (Gambut+arang sekam padi), M4 (Tanah lapisan atas+gambut+arang sekam padi). Peubah yang diamati meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, tingkat kehijauan daun, dan jumlah benih yang hidup.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan media tanam berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman dan tingkat kehijauan. Persentase tumbuh benih kelapa sawit pada media gambut naik sekitar 13% jika dibandingkan dengan media tanah lapisan atas, sehingga media gambut dapat digunakan sebagi media alternatif untuk menggantikan media tanah lapisan atas.Kata kunci: Tanah lapisan atas, gambut, arang sekam padi, kelapa sawit, pembibitan awa

    SIDIK LINTAS KARAKTER VEGETATIF DAN GENERATIF KELAPA DALAM DI DAERAH PASANG SURUT JAMBI / Path Coefficient Analysis of Vegetative and Generative Characters of Tall Coconut in Tidal Swamp Area of Jambi

    Get PDF
    Coconut improvement programs require knowledge of the effect of morphological characters on the coconut yield. The study aimed to determine the effects of fourteen morphological characters on the production of coconut meat character on Kampung Laut and Pengabuan tall coconut. This study was conducted in Kampung Laut and Pengabuan Villages, Jambi Province. Correlation analysis among 15 characters of vegetative, generative, and fruit components used the Walpole formula (1992). Fourteen characters affecting meat production were analyzed by using Path analysis of Singh and Chaudary formula following the R i386 3.5.2 software package in the Agricole package. Correlation analysis resulted in the characters of the number of leaves, number of bunches, number of fruits, polar circumference of fruit, weight of unhusked fruit, equatorial circumference of nut, and weight of endosperm correlated with the production of endosperm, on Kampung Laut tall coconut, while Pengabuan tall coconut have number of fruits, equatorial circumference of nut, and weight of endosperm. The results of path analysis showed that the characters of the number of bunches, number of fruits, and weight of endosperm had a significant direct effect on the production of endosperm on the Kampung Laut tall coconut. While on the Pengabuan tall coconut, only the fruits number and endosperm weight affected the endosperm production. The study indicates that the number of bunches, number of fruits, and weight of endosperm can be used as selection criteria to increase the production of the endosperm of the Kampung Laut and Pangabuan tall coconut.Keywords:   Morphological characters, correlation, fruit components, selection AbstrakProgram perbaikan tanaman kelapa membutuhkan pengetahuan tentang pengaruh karakter morfologi terhadap hasil. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh langsung dan tidak langsung 14 karakter morfologi terhadap produksi daging buah kelapa Dalam Pengabuan dan kelapa Dalam Kampung Laut asal Propinsi Jambi. Penelitian dilakukan di Desa Kampung Laut, Tanjung Jabung Timur dan Desa Pengabuan, Tanjung Jabung Barat, Propinsi Jambi pada tahun 2017. Analisis korelasi antar 15 karakter vegetatif, generatif, dan komponen buah menggunakan rumus Walpole (1992). Analisis sidik lintas 14 karakter vegetatif, generatif serta komponen buah terhadap karakter produksi daging buah per pohon per tahun, menggunakan rumus dari Singh dan Chaudary. Kedua analisis tersebut menggunakan program software R i386 3.5.2 package Agricole. Hasil Analisis korelasi menunjukkan karakter-karakter jumlah daun, jumlah tandan, jumlah buah, lingkar polar buah utuh, bobot buah tanpa sabut, lingkar equatorial biji, dan bobot daging buah berkorelasi dengan produksi daging buah, untuk kelapa Dalam Kampung Laut, sedangkan untuk kelapa Dalam Pengabuan adalah jumlah buah, lingkar equatorial biji, dan bobot daging buah. Hasil analisis lintas menunjukkan bahwa karakter jumlah tandan, jumlah buah, dan bobot daging buah berpengaruh langsung secara nyata terhadap karakter produksi daging buah untuk kelapa Dalam Kampung Laut, sedangkan untuk kelapa Dalam Pangabuan hanya dua karakter yang berpengaruh langsung terhadap produksi daging buah, yaitu karakter jumlah buah dan bobot daging buah. Hasil penelitian mengindikasika bahwa karakter jumlah tandan, jumlah buah, dan bobot daging buah dapat dijadikan sebagai kriteria seleksi untuk peningkatan produksi daging buah kelapa Dalam Kampung Laut dan kelapa Dalam Pengabuan.Kata kunci: karakter morfologi, korelasi, komponen buah, produksi kelapa, seleksi

    ANALISIS MUTU GULA TANJUNG DARI TIGA VARIETAS TEBU / Analysis of Tanjung Sugar Quality of Three Sugarcane Varieties

    Get PDF
    Tanjung sugar usually called “semut” sugar, is brown sugarcane in the form of fine powder with water content lower than block sugar. Tanjung sugar can be used to replace white sugar. The process of making tanjung sugar followed a standard method. Analysis of tanjung sugar quality from different sugarcane varieties has never been reported. This study aimed to analyze the quality of tanjung sugar produced from sugarcane varieties PS 864, PS 862, and BL. This research was carried out in the Sugar Production Unit at the Muktiharjo Experimental Station, Pati from May to October 2018. The process of making tanjung sugar from the three sugarcane varieties included squeezing the juice with a pressing machine with a capacity of 0.5 tons/day (0.5 TCD), cooking the juice in a pan on the stove at the temperature of  90-1100C for 3-4 hours until the juice has thickened. Then cooling the thickened juice in a cold pan for 15-30 minutes, and lastly stirring it until the brown sugar became granules. The sugar quality-analyzed were the color, content, ash, sugar reduction, and sucrose content. Data obtained were analyzed using an independent t-test. The results showed that tanjung sugar made from sugarcane PS 862 variety was the best quality compared to those of  PS 864 and BL varieties. Tanjung sugar from varieties PS 862 had a light-brown color with a color index of 42.500, the water content of 3.90%, sucrose 87.10%, reducing sugar content of 4.40%, and ash content of 1.80%.Keywords: Brown sugar, sugarcane juice, sucrose, reducing sugar. AbstrakGula tanjung adalah gula merah tebu dalam bentuk serbuk halus dengan kadar air lebih rendah dari gula cetak, dan sering disebut gula semut. Gula tanjung ini dapat digunakan sebagai pengganti pemakaian gula pasir. Proses pembuatan gula tanjung mengikuti metode standar. Analisis mutu gula tanjung dari varietas tebu di daerah pengembangan belum pernah dilaporkan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis mutu gula tanjung yang dihasilkan dari tebu varietas PS 864, PS 862 dan BL. Penelitian ini dilaksanakan di Unit Pengolahan Gula Merah Tebu di Kebun Percobaan (KP) Muktiharjo, Pati pada Mei-Oktober 2018. Proses pembuatan gula tanjung dari ketiga varietas tebu tersebut meliputi pemerasan nira dengan mesin pemerah berkapasitas 0,5 ton/hari (0,5 TCD), dimasak dalam wajan di atas tungku dengan suhu bahan 90-110oC selama 3-4 jam sampai nira mengental. Pendinginan dalam wajan dingin dilakukan sampai nira lebih mengental (15-30 menit) dan pengadukan dilakukan sampai gula merah tebu menjadi butiran gula tanjung. Mutu gula tanjung yang dianalisis yaitu warna dengan metode ICUMSA, kadar air dengan metode oven, kadar abu dengan tanur, kadar gula pereduksi dan sukrosa dengan metode Luff Schoorl. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan independen t tes. Gula tanjung yang dibuat dari varietas tebu PS 862 mempunyai mutu terbaik dibandingkan varietas PS 864 dan BL. Gula tanjung dari tebu varietas PS 862 mempunyai warna coklat muda-tua dengan indeks warna 42.500, kadar air 3.90%, sukrosa 87.10%, kadar gula reduksi 4.40%, dan kadar abu 1.80%.Kata kunci:  Gula merah tebu, mutu nira, sukrosa, gula reduksi

    PERBAIKAN TEKNIK PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT PERKEBUNAN PALA BANDA (Myristica Fragrants Houtt) DI MALUKU / Control Techniques Improvement of Banda Nutmeg Pest and Disease in Maluku

    No full text
    Banda Nutmeg (Myristica fragrans Houtt.) is a native plant of Maluku Islands. The aim of the study was to improve control technique of pest and disease Banda nutmeg in Maluku. The location of this study was in Pulau Ay village, Banda Naira District, Central Maluku Regency. This Study began in 2014 - 2015 through a survey of pest and disease identification. The research used Randomized Block Design (RBD) consisting of 6 (six) treatments followed by DMRT test. Treatment of Integrated Pest Management (IPM) includes: (A) Sanitation + furadan 3G pesticides), (B) Sanitation + Beauvaria bassiana, (C) Sanitation + Shell charcoal + Additional fertilizer (M2C), (D) Sanitation + Shell charcoal + Liquid Organic Fertilizer (LOF), (E) Sanitation + Biotris and (F) farmers' Practices. Results of identification, the main pests and diseases were stem borers (Batocera hercules) and stem cancer (Phytopthora palmivora). Pest and disease attacks, decline fruit production for the last 5 years from 3000-5000 fruits/tree/year to 457 - 2905 fruits/tree/year. After the treatment, the production increases 1,850 - 3,000 fruits/tree/year. The effective technology component applied was Treatment B (Sanitation + Beauvaria Bassiana), followed by treatment D (Sanitation + Shell charcoal + LOF), treatment C (Sanitation + Shell Charcoal + M2C) and treatment E (Sanitation + Biotris). The control treatment which was economically beneficial, were: treatment D (Sanitation + shell charcoal + LOF), followed by treatment C (Sanitation + shell charcoal + M2C), B (Sanitation + Beauvaria bassiana) and treatment A (Sanitation + furadan 3G pesticides).Keyword: Integrated control, Banda Nutmeg, LOF, B. bassiana, biotris AbstrakPala Banda (Myristica fragrans  Houtt.) merupakan tanaman asli Kepulauan Maluku. Tujuan dari penelitian adalah untuk menguji teknik pengendalian hama dan penyakit terpadu pada pala Banda di Maluku. Lokasi penelitian di Desa Pulau Ay, Kecamatan  Banda  Naira, Kabupaten Maluku Tengah. Penelitian dilaksanakan pada tahun 2014 -2015, dimulai dengan survei identifikasi hama dan penyakit utama tanaman pala. Penelitian pengendalian hama dan penyakit menggunakan Racangan Acak Kelompok  (RAK) yang terdiri atas 6 perlakuan, yaitu (A) Sanitasi + furadan pestisida 3G), (B)   Sanitasi + Beauveria bassiana, (C) Sanitasi + Arang tempurung + Pupuk tambahan (M2C), (D) Sanitasi + Arang tempurung + pupuk organik cair, (E) Sanitasi + Insektisida nabati Biotris dan (F) kebiasaan petani. Hasil identifikasi diketahui bahwa hama utama pada pertanaman pala di Maluku adalah penggerek batang (Batocera hercules) dan penyakit utamanya adalah kanker batang (Phytophthora   palmivora). Akibat serangan hama dan penyakit maka produksi buah pala selama 5 tahun terakhir menurun dari dari 3000 - 5000 buah/pohon/tahun menjadi 457 - 2905 buah/pohon/tahun. Setelah dilakukan pengendalian hama dan penyakit secara terpadu maka produksi meningkat menjadi 1.850 -3.000 buah/pohon/tahun. Paket pengendalian terbaik adalah perlakuan sanitasi + B. bassiana, diikuti dengan perlakuan sanitasi + arang tempurung + hormon, perlakuan sanitasi + arang tempurung + pupuk tambahan, dan perlakuan sanitasi + insektisida hayati biotris. Pengendalian hama dan penyakit pada tanaman pala yang paling menguntungkan adalah  sanitasi + arang tempurung  + pupuk organik cair. Oleh karena itu, perlakuan tersebut perlu diuji pada skala komersial sebelum direkomendasikan kepada petani.Kata kunci: Pengendalian terpadu, pala Banda, LOF, B. bassiana, biotri

    245

    full texts

    401

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Penelitian Tanaman Industri
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇