Jurnal Penelitian Tanaman Industri
Not a member yet
    401 research outputs found

    BIOSINTESIS MENTHOL PADA BERBAGAI PERIODE PENCAHAYAAN TANAMAN MENTHA (Mentha piperita L.)

    Get PDF
    ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengkaji mekanisme sintesis mentholpada berbagai periode pencahayaan tanaman M. piperita L. Penelitiandilakukan di Instalasi Penelitian Balai Penelitian Tanaman Obat danAromatik, Lembang, Jawa Barat, dari bulan Januari 2000 hingga Juli 2000.Penelitian dilakukan tiga tahap. Tahap pertama membuat variasilingkungan cahaya, tahap kedua penyulingan dan analisis komponenminyak dengan kromatografi gas spektrometer massa dan tahap ketigamerunut lintasan biosintesis menthol. Penelitian menggunakan rancanganacak kelompok 5 perlakuan, yaitu L 0 (panjang hari normal sebagaikontrol), L 1 (pemutusan periode gelap 1 jam, pukul 21.00-22.00 mulaiumur 30 hari), L 2  (pemutusan periode gelap 1 jam, pukul 21.00-22.00mulai umur 60 hari), L 3 (penambahan cahaya 4 jam, pukul 18.00-22.00mulai umur 30 hari), dan L 4 (penambahan cahaya 4 jam, pukul 18.00-22.00 mulai umur 60 hari). Hasil penelitian menunjukkan bahwaperubahan lingkungan mempengaruhi mekanisme sintesis menthol didalam tanaman Mentha piperita L. Perubahan lingkungan mengubahlintasan menthol yang selanjutnya mengubah komponen minyak dan mutumenthol. Tingginya kadar menthol dan rendahnya menthofuran padapenambahan cahaya 4 jam terjadi melalui penghambatan pembentukansenyawa menthofuran dengan mereduksi pulegon menjadi menthol,sehingga menthol meningkat, sedangkan pada perlakuan kontrol terjadioksidasi pulegon ke menthofuran sehingga menthol rendah. Penambahancahaya 4 jam mulai umur 30 hari setelah tanam menghasilkan minyakdengan kadar menthol paling tinggi yaitu 54,89% dan menthofuran palingrendah yaitu 7,83%.Kata kunci :  Mentha, Mentha piperita L., periode pencahayaan, hasil,komposisi minyak, Jawa BaratABSTRACTThe effect of photoperiod on menthol sysnthesis ofMentha piperita L.Research on the effect of photoperiod on menthol synthesis ofMentha piperita L, was carried out at the Experimental Garden of InstituteReseach for Medicinal and Aromatic Crops, Lembang, West Java, fromJanuary until July, 2000. The objective is to study the machanism ofmenthol synthesis in relation with the manipulation of light periode, threesteps were taken: The first step was manipulation of environment using TLlamps (two experiments), the second step was distillation and analisis ofpeppermint oil from their products with gas chromatography and massspectrometry, and the third step was tracing the pathway on mentholbiosynthesis. At the first experiment, 5 treatments were given i.e. (1)control or normal light period, (2) four hours light supplement at the age of30 days and 60 days after planting, and (3) one hour interruption of darkperiod at the age of 30 days and 60 days. The result showed that the effectof light period manipulation can change the pathway of mentholbiosynthesis and oil component and finally the quality of menthol. Fourhours light supplement at the age of 30 days after planting could enhancethe menthol content and reduce menthofuran by blocking the reaction frompulegone to menthofuran, so the pulegone was reduced into menthon andmenthol. Four hours light supplement at 30 days after planting showed thehighest menthol content (54.89%) and the lowest menthofuran (7.83%).Control treatment (normal light period) showed the lowest mentholcontent, due to no reduction of pulegone into menthon, but pulegone wasoxidized into menthofuran. Without additional light the menthol contentdecreased and the menthofuran content increased.Key words : Mentha, Mentha piperita L., oil composition, photoperiod,yield, West Jav

    PENGARUH AIR KELAPA TERHADAP MULTIPLIKASI TUNAS IN VITRO, PRODUKSI RIMPANG, DAN KANDUNGAN XANTHORRHIZOL TEMULAWAK DI LAPANGAN

    Get PDF
    ABSTRAKLangkah antisipatif pemenuhan kebutuhan massal benih temulawakdilakukan dengan perbanyakan secara in vitro menggunakan mediumtumbuh yang murah mengandung air kelapa. Penelitian bertujuan untukmenganalisis kandungan kimia air kelapa dan peranannya dalam multi-plikasi tunas temulawak in vitro, serta pengaruhnya terhadap produksirimpang dan kandungan xanthorrizol. Penelitian dilakukan mulai Mei2009 sampai Agustus 2010 di Laboratorium dan Kebun Percobaan BalaiPenelitian Tanaman Rempah dan Obat; serta Balai Besar Penelitian danPengembangan Pascapanen Pertanian. Air kelapa yang digunakan berasaldari kelapa muda (7-8 bulan) dan kelapa tua berumur (10-12 bulan).Penelitian dilakukan secara bertahap, terdiri atas 4 kegiatan. Pertama,analisis zat pengatur tumbuh, vitamin dan mineral dalam air kelapamenggunakan metode HPLC. Kedua, pengaruh konsentrasi air kelapa (0,5, 10, 15, 20, dan 25%) terhadap multiplikasi tunas temulawak in vitro.Kegiatan dirancang secara acak kelompok, 3 ulangan. Pengamatanmeliputi parameter pertumbuhan. Ketiga, aklimatisasi dan kandunganklorofil tanaman hasil in vitro. Keempat, pertumbuhan dan produksirimpang benih temulawak in vitro dalam pot berisi media tanah + pasir dananalisis kandungan xanthorrizolnya. Rancangan penelitian acak kelompok,3 ulangan, dan parameter pengamatan karakter pertumbuhan, produksirimpang, dan kandungan xanthorrizol. Hasil penelitian menunjukkanbahwa air kelapa mengandung kinetin, zeatin, auksin, vitamin, mineral dansumber karbon yang berguna untuk multiplikasi tunas in vitro. Kandungankimia air kelapa muda lebih tinggi dibanding air kelapa tua. Mediumtumbuh mengandung air kelapa 15% terbaik dalam merangsang pertum-buhan tunas in vitro (rata-rata 4,6 jumlah tunas per botol selama periodeawal pertumbuhan (8 minggu) sehingga dijadikan sebagai standar perba-nyakan. Bibit temulawak hasil perbanyakan in vitro tumbuh baik (72%)pada masa aklimatisasi, walaupun sebagian kecil ada yang menguning.Kandungan klorofil a, b, dan total klorofil temulawak asal kultur in vitrolebih tinggi dibandingkan dengan yang konvensional, dan bentukrimpangnya normal. Poduksi rimpang generasi awal (Vo) mencapai rata-rata 320,2g, lebih rendah dibandingkan dengan rimpang konvensional(800,5g). Kandungan xanthorrhizol temulawak hasil kultur in vitro lebihrendah dibandingkan rimpang konvensional. Hasil penelitian mengindi-kasikan potensi air kelapa sebagai zat pengatur tumbuh alami padatemulawak in vitro.Kata kunci: air kelapa, Curcuma xanthorrhiza, in vitro, xanthorrhizol,hasilABSTRACTAnticipated step for Java turmeric seed massal fulfillment wasconducted by in vitro using cheap growth medium enriched with coconutwater. The aim of the research was to analyse the chemical content ofcoconut water and its role on java turmeric micropropagation in vitro andtheir effect on yield and xanthorrhizol content. The experiement wasconducted from May 2009 to August 2009 at Indonesian Spices andMedicinal Research Institute and Indonsian Center for Agricultural PostHarvest Research and Development. The coconut water used comes fromyoung coconut (7-8 months) and old coconut (10-12 months). The researchconsisted of four steps. First, analysis of growth regulator, vitamin andsucrose from coconut water using HPLC method. Second, the effect ofseveral concentration od water coconut: 0, 5, 10, 15, 20, and 25% on invitro multiplication. The experiment was arranged in completely blockdesign with three replicates. The parameters observed were growth ofculture during in vitro. Third, acclimatization and chlorophyll content ofplant derived from in vitro and fourth, growth, and yield of java turmericseed on pot containing soil + sand as growth medium and xanthorrhizolanalysis. The experiment was arranged in completely block design withthree replicates. The parameters observed were growth characters, yieldand xnthorrhizol content. Result showed that coconut water containkinetin, zeatin, auksin, vitamin, mineral and carbon source which used forin vitro shoots multiplication. The chemical of young coconut water washigher than old coconut. The growth medium enriched with 15 % coconutwater gave the best result on inducing shoots in vitro (average 4.6shoots/bottle during 8 weeks culture), so it’s used as multiplicationstandard. Java turmeric seed from in vitro culture grew well (72%) onacclimatization. Although, some of them were greenish.The content of a,b, and total chlorophyll of java ginger from in vitro culture was higher thanconventional rhizome and have a normal rhizome. The production on Vo(plantlet generation) around 320.2 g/plant, is lower than conventionalrhyzome (800.5 g). Xanthorhizol and essential oil content of Java turmericfrom in vitro seed were lower than conventional rhyzome. Result researchindicated potency of the coconut water as a nature growth regulator invitro.Key words: coconut water, Curcuma xanthorrhiza, in vitro, growth,xanthorrhizol, yiel

    FRAKSINASI KERING MINYAK KELAPA MENGGUNAKAN KRISTALISATOR SKALA 120 KG UNTUK MENGHASILKAN FRAKSI MINYAK KAYA TRIASILGLISER0L RANTAI MENENGAH

    Get PDF
    ABSTRAKMinyak kelapa merupakan sumber medium chain triglycerides(MCT) utama. Melalui proses fraksinasi dapat dihasilkan fraksi minyakdengan kandungan MCT tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajaripengaruh berbagai faktor perlakuan dingin terhadap kristalisasi danfraksinasi minyak kelapa, serta untuk menetapkan prosedur pendinginanyang efektif dalam menghasilkan fraksi minyak dengan kandungan MCTtinggi. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium SEAFAST CENTER IPBdari bulan Maret 2012 sampai bulan Februari 2013. Fraksinasi dilakukandengan memanaskan minyak pada suhu 70°C lalu didinginkan padaberbagai laju pendinginan untuk mencapai beberapa variasi suhukristalisasi, diaduk dengan kecepatan 15 rpm, dibiarkan mengkristal padalama waktu yang berbeda (hingga 900 menit), serta difraksinasi denganpenyaringan vakum menggunakan kertas Whatman 40. Tiga tahappendinginan yang merupakan faktor kunci keberhasilan proses kristalisasiminyak kelapa yaitu tahap pendinginan awal dari suhu 70 hingga 29°C;tahap pendinginan kritis 29°C hingga suhu kristalisasi; dan tahapkristalisasi itu sendiri. Pada tahap pertama minyak kelapa didinginkansecepat mungkin untuk menurunkan waktu proses, tetapi pada tahap keduaharus dilaksanakan dengan laju pendinginan lambat (kurang dari 0,176°C/menit) untuk menghasilkan kristal yang berukuran besar dan tidak mudahmeleleh. Minyak dengan kandungan triasilgliserol tinggi dapat diperolehdari fraksi olein minyak kelapa. Pada perlakuan suhu kristalisasi 21,30-21,73°C untuk laju pendinginan kritis antara 0,013 hingga 0,176°C/menit,semakin rendah laju pendinginan kritis dan semakin lama proseskristalisasi maka kandungan MCT fraksi olein yang dihasilkan akansemakin tinggi.Kata kunci: minyak kelapa, laju pendinginan, kristalisasi, fraksinasi, MCTABSTRACTCoconut oil is the main source of medium chain triglycerides(MCT). Fractionation produce oil fraction containing MCT concentrate.This research aims to study the influence of various factors of coolingtreatment on the crystallization and fractionation of coconut oil, and toestablish effective cooling procedure to produce oil fraction with highMCT content. The research was conducted in Laboratorium of SEAFASTCENTER IPB from March 2012 to February 2013. Coconut oil washeated at 70°C then cooled at different cooling rate to reach variouscrystalization temperatures. The oil was then stirred at 15 rpm and allow tocrystallized at different period of time (up to 900 min), and finallyfractionated by vacuum filtration using Whatman #40 paper. Fractionationtemperatures was the same as crystalization temperature. The resultsshowed that there were three distinct cooling regimes critical tocrystallization process, i.e temperature range from 70 to 29°C; 29°C tocrystallization temperature; and crystallization temperature. In the firstregime, melted coconut oil might be cooled quickly to save time, but in thesecond regime need be done with a cooling rate of less than 0.176°C/minto produce physically stable crystal. Oil with high triacylglycerol contentcould be obtained from olein fraction of coconut oil. At the crystallizationtemperature 21.30-21.73°C for the critical cooling rate between 0.013 to0.176°C/min, the higher MCT content of olein fraction were produced bythe lower critical cooling rate and the longer crystallization process.Keywords: fractionation, crystallization, MCT, coconut oil, cooling rate

    GENETIC CHARACTERIZATION OF SEVERAL PROMISING ACCESSION OF Jatropha curcas L. BASED ON RAPD MARKER

    Get PDF
    ABSTRACTThe objective of this research was to obtain genetic relationshipamong 13 Jatropha curcas L. accession plants based on Random Amplified Polymorphic DNA marker. This experiment used 13 accessionsof J. curcas L. potential to have higher seed productivity, including HS-49,SP-16, SP-38, SP-8, SM-33, SP-34, SM-35, IP-1A, IP-1M, IP-1P, IP-2A,IP-2M, and IP-2P. Polymerase Chain Reaction (PCR) was performedusing 10 selected primers of RAPD markers (OPA 2, OPA 9, OPA 13,OPA 15, OPA 18, OPA 19, OPA 20, OPF 8, OPF 10, and OPF 15). PCRproduct was used to determine genetic distance which implemented Un-weighted Pair-Group Method With Arithmetic (UPGMA) procedure andconstructed phylogeny trees using Numerical Taxonomy and MultivariateSystem (NTSYS) software version 1.8. The confidence level of UPGMAwas then tested by Boostrap using WinBoot program. Ten primers used inthis research were able to be applied in genomic DNA of J. curcas L. plantwhich had resulted about four (OPA 19) to ten band numbers (OPA 9)with the band size around 72-1,078 bp. However, OPA 13 primer was notable to give different band size. Genetic relationship analysis has foundtwo main groups, firstly accession plants consisted of HS-49, SP-16, SP-18, SP-8, SM-33, SM-35, and SP-34 (coefficient 0.8). In this group, SP-38clustered with SP-8, and SM-33 with SM-35 (coefficient 0.91). In thesecond group, the accessions consisted of IP-1A, IP-1M, IP-1P, IP-2A, IP-2M, and IP-2P (coefficient 0.78). In this group, accession of IP-1Aclustered with IP-1M (coefficient 0.85), IP-1P with IP-2M (coefficient0.87), and IP-2A with IP-2P (coefficient 0.90). Then, the first and secondgroups formed genetic relationship with coefficient 0.66.Key words: Genetic characterization, Jatropha curcas L., RAPD,molecular marker, promising accession.ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi keragamangenetik dan hubungan kekerabatan berbagai aksesi jarak pagar terpilihberdasarkan analisis molekuler Random Amplified Polymorphic DNA(RAPD). Penelitian menggunakan 13 aksesi Jatropha curcas yangmemiliki potensi produksi tinggi (HS-49, SP-16, SP-38, SP-8, SM-33, SP-34, SM-35, IP-1A, IP-1M, IP-1P, IP-2A, IP-2M, dan IP-2P). Isolasi DNAgenom J. curcas dilaksanakan dengan metode Zheng yang dimodifikasi.Polymerase Chain Reaction (PCR) dilakukan menggunakan 10 primersRAPD (primer OPA 2, OPA 9, OPA 13, OPA 15, OPA 18, OPA 19, OPA20, OPF 8, OPF 10, dan OPF 15). Produk PCR yang dihasilkan digunakanuntuk menentukan tingkat kekerabatan menggunakan Un-weighted Pair-Group Method With Arithmetic (UPGMA) dan diagram filogenetik denganprogram Numerical Taxonomy and Multivariate System (NTSYS) versi1.8. Kesepuluh primer yang digunakan mampu mengamplifikasi DNAjarak pagar dengan jumlah produk pita antara 4 (primer OPA 19) hingga10 pita DNA (OPA 9), dengan ukuran pita 72-1.078 bp. Primer OPA 13tidak dapat memberikan perbedaan pita DNA. Hasil analisis kekerabatanmenunjukkan adanya dua kelompok utama. Kelompok pertama terdiri atasaksesi HS-49, SP-16, SP-18, SP-8, SM-33, SM-35, dan SP-34 (koefisien0,80). Dalam kelompok pertama, SP-38 berkelompok dengan SP-8, danSM-33 dengan SM-35 (koefisien 0,91). Kelompok kedua terdiri atas aksesiIP-1A, IP-1M, IP-1P, IP-2A, IP-2M, dan IP-2P (koefisien 0,78). Dalamkelompok kedua, IP-1A berkelompok dengan IP-1M (koefisien 0,85), IP-1P dengan IP-2M (koefisien 0,87), dan IP-2A dengan IP-2P (koefisien0,90). Selanjutnya, kelompok pertama dan kelompok kedua membentukkekerabatan pada koefisien 0,66.Kata kunci: Karakterisasi genetik, Jatropha curcas L., RAPD, markamolekuler, aksesi harapan

    EFEKTIVITAS DAN EFISIENSI BEBERAPA TEKNIK PENGENDALIAN HAMA PENGISAP DAUN PADA KAPAS

    Get PDF
    ABSTRAKRekomendasi cara pengendalian hama pengisap daun, Amrascabiguttula (ISHIDA) pada  tanaman  kapas masih  mengandalkanpenggunaan kombinasi varietas tahan dan perlakuan benih denganinsektisida kimia sistemik imidakloprid. Namun, tidak jarang petanimelakukan penyemprotan insektisida kimia pada kanopi tanaman yangjuga dapat membunuh serangga berguna, termasuk musuh alami. Tujuanpenelitian adalah untuk mengetahui keefektifan teknik pengendalian A.biguttula pada kapas menggunakan varietas dan insektisida. Penelitiandilakukan di KP Asembagus mulai Januari sampai dengan Nopember2010. Perlakuan petak utama, yaitu teknik pengendalian: (1) perlakuanbenih dengan imidakloprid (PB), (2) tanpa perlakuan benih maupunpenyemprotan kanopi tanaman atau kontrol (TPB), (3) perlakuan benih +penyemprotan kanopi (PBS), dan (4) penyemprotan kanopi (S). Perlakuananak petak adalah tiga galur/varietas kapas, yaitu: (1) galur 98050/9/2/4,(2) KI 645, dan (3) Kanesia 10. Pola tanam yang diterapkan adalahtumpangsari kapas dan kacang hijau yang ditanam di antara baris kapas.Setiap perlakuan disusun dalam rancangan petak terbagi dengan tiga kaliulangan. Ukuran anak petak adalah 10 m x 15 m. Pengamatan dilakukanterhadap (1) populasi nimfa A. biguttula dan predatornya, (2) frekuensipencapaian populasi ambang ekonomi, (3) skor kerusakan tanaman kapas,(4) hasil kapas berbiji dan kacang hijau, dan (5) analisis ekonomiperlakuan. Hasil  penelitian  menunjukkan  bahwa  setiap  teknikpengendalian yang diuji berpengaruh terhadap perkembangan populasi A.biguttula dan predatornya. Rata-rata pencapaian populasi ambangekonomi pada perlakuan benih (PB) dan kontrol lebih rendah (0,5–2 kali)dibandingkan dengan kombinasi perlakuan benih dan penyemprotankanopi (PBS) serta penyemprotan kanopi saja (S) yang mencapai 3–4 kali.Pada galur/varietas kapas yang diuji, pencapaian populasi ambangekonomi paling rendah terjadi pada galur 98050/9/2/4, diikuti oleh Kanesia10 dan KI 645. Perlakuan benih saja (PB) selain menurunkan populasi A.biguttula dan tidak menurunkan populasi predator, juga lebih efisiendibanding perlakuan lainnya dengan nilai marginal rate of return 1,38 danpeningkatan bersih 14,3%. Makna dari hasil yang diperoleh adalahpengendalian A. biguttula pada kapas dengan cara menyemprot kanopilebih baik dihindari apabila benih masih dapat diperlakukan, sedapatmungkin dikombinasikan dengan penggunaan varietas tahan/toleran.Kata kunci : Amrasca biguttula, imidakloprid, ambang ekonomi, galur/varietas, kapas, predator, marginal rate of return (MRR)ABSTRACTEffectiveness and Efficiency of Different ControlTechniques of Cotton Jassid, Amrasca biguttulaRecommendation for controlling jassid (A. biguttula) of cotton still relieson the use of combination of resistant variety and seed treatment(imidachloprid). Farmers, however, often spray chemical insecticides overplant canopy that also kill beneficial insects, including natural enemies.This study was conducted at Asembagus Experimental Station fromJanuary to November 2010. The objective of the study was to find out theeffectiveness and efficiency of control techniques against cotton jassid, A.biguttula. This field study consisted of two factors. First factor consistedof three different control techniques i.e. (1) seed treatment (PB), (2)without seed treatment and foliar application or control (TPB), (3)combination between seed treatment and foliar application (PBS), and (4)foliar application alone (S). Second factor consisted of three cottonvarieties, e.g. 98050/9/2/4, KI 645, and Kanesia 10. Treatments werearranged in a split plot design with three replicates. Cotton intercroppedwith mung bean planted in between cotton rows. Population of A. biguttulaand its predator, economic threshold achievement, score of plant injury,yields of cotton and mung bean were observed. Economic analysis of thetreatments was evaluated at the end of the experiment. Results showed thateach control techniques caused different effect on jassid and its predatordevelopment. The average of economic threshold achievement in seedtreatment application (PB) and control (TPB) were lower (0.5-2.0 times)compared to combination between seed treatment and foliar sprayed(PBS), also only foliar sprayed (3-4 times). Averaged of economicthreshold achievement on 98050/9/2/4 line was the lowest, followed byKanesia 10 and KI 645. Application of seed treatment (PB) not onlyreduced jassid population but also less effective on predator population. Itwas more efficient than other treatments with marginal rate 1.38 and didincrease net income by 14.3%. It means that foliar sprays to control A.biguttula on cotton should be ignored, if applying seed treatment andresistant/tolerant varieties.Key words: Amrasca biguttula, imidachloprid, economic threshold,cotton cultivar/variety, predator, marginal rate of return(MRR

    PEWARISAN SIFAT HERMAPRODIT DAN KONTRIBUSINYA TERHADAP DAYA HASIL PADA JARAK PAGAR (Jatropha curcas L.)

    Get PDF
    ABSTRAKKontribusi sifat hermaprodit terhadap daya hasil tanaman jarakpagar belum banyak diketahui. Tujuan penelitian adalah mengetahui peranbunga hermaprodit terhadap daya hasil dan mekanisme pewarisannya.Penelitian dilakukan terhadap 60 genotipe jarak pagar di Kebun PercobaanBalittri Sukabumi. Penelitian dilaksanakan mulai bulan Mei 2007 sampaidengan Juli 2010. Jarak tanam 2 m x 2 m, menggunakan 2,5 kg pupukkandang + 20 g Urea + 20 g SP 36 + 10 g KCl per tanaman. Penelitianterdiri dari (1) evaluasi tipe bunga jarak pagar dan (2) pewarisan sifathermaprodit dan kontribusinya terhadap daya hasil. Hasil evaluasimenunjukkan bahwa delapan dari 60 genotipe jarak pagar yang dievaluasimerupakan tanaman tri-monoecious yang menghasilkan bunga jantan,bunga betina, dan bunga hermaprodit, 52 lainnya merupakan tanamanmonoecious yang hanya menghasilkan bunga jantan dan bunga betina.Karakter yang dimiliki oleh delapan genotipe tri-monoecious yangdievaluasi adalah lebih lambat berbunga (mulai berbunga pada umur 120-274 hari) dan berdaya hasil rendah sampai sedang (jumlah buah 23-228per tanaman pada tahun pertama). Kemunculan bunga hermaprodit tidakterjadi sepanjang tahun, tetapi lebih dominan pada tanaman berumur enambulan. Persentase bunga hermaprodit berkisar 6,25-53% dari total bungayang dihasilkan. Persentase fruitset pada tandan bunga hermaprodit lebihtinggi dibanding tandan bunga non-hermaprodit, dengan tingkatkeberhasilan rata-rata 80% (kisaran 56-100%). Pada tandan bunga yangtidak menghasilkan bunga hermaprodit, buah jadi rata-rata sebesar 50%(kisaran 11-100%). Daya hasil tanaman jarak pagar ditentukan olehgenetik tetua. Bunga hermaprodit diwariskan oleh tetua betina maupuntetua jantan. Gen pengendali sifat hermaprodit diduga adalah gensederhana yang bersifat dominan.Kata kunci: Jatropha  curcas,  monoecious,  tri-monoecious,  bungahermaprodit, fruit setABSTRACTHermaphrodite character has been reported in physic nut, its roleand contribution to production process especially to the yield has not beeninvestigated. The objectives of this research were to evaluatehermaphrodite flowers contribution on yield and their mechanisminheritance. The evaluation was conducted at the Experimental Station ofBalittri Sukabumi from May 2007 to July 2010. The spacing was 2 m x 2m with 2,5 kg manure + 20 g Urea + 20 g SP 36 + 10 g KCl/plant. Theexperiment consisted of (1) evaluation of flower type of physic nut and(2) hermaphrodite inheritance and their contribution on yield. Results ofthe experiment indicated eight from 60 physic nut genotypes were tri-monoecious which were capable on producing male, female, andhermaphrodite flowers while as the rest (52 genotypes) were monoeciouswhich produced only male and female flowers. The tri-monoecious weregenerally late flowering (120-274 days after planting) and low to mediumyield (producing 23-228 fruits per plant in the first year). Hermaphroditeflowers generally occurred six months after planting at the amount rangedfrom 6,25-53% of total flowers. Fruit set of inflorescences havinghermaphrodite flowers was higher, average of 80% (ranged from 56-100%) than those with female and male flowers, average of 50% (rangedfrom 11-100%). Yield of physic nut was affected by the genetic potentialof their parents rather than hermaphrodite character. Hermaphrodite flowercharacter was inherited by both female and male parents and might becontrolled by simple-dominant gene.Key words: Jatropha curcas, monoecious, tri-monoecious, hermaphroditeflower, fruit se

    KINERJA PASAR PANDAN SEBAGAI BAHAN BAKU INDUSTRI ANYAMAN DI KABUPATEN TASIKMALAYA

    Get PDF
    ABSTRAKTanaman pandan di Indonesia pada umumnya digunakan sebagaibahan baku untuk industri anyaman yang merupakan komoditas ekspor.Introduksi atau pengembangan tanaman pandan menjadi salah satualternatif pada daerah-daerah yang dominan mengguna-kan bahan bakupandan untuk kebutuhan industri, terutama industri anyaman danhandicraft. Untuk mengetahui kinerja pemasaran pandan maka pada bulanJuli-Agustus 2004 telah dilakukan penelitian di Kabupaten Tasikmalaya,Jawa Barat, sebagai sentra penghasil dan industri anyaman pandan diIndonesia. Petani responden dipilih secara acak, demikian pula pedagangpengumpul I, pedagang pengumpul II, dan produsen anyaman pandan.Data yang dikumpulkan terdiri atas data primer dan sekunder berupa dataharga deret waktu (time series) dari berbagai sumber. Pendekatan yangdigunakan adalah model Structure - Conduct - Performance, denganpangsa petani dan transmisi harga sebagai indikator kinerja pasar. Hasilpenelitian menunjukkan bahwa sebagian besar petani menggunakansaluran pemasaran I (89,25%) dan hanya 10,75% yang menggunakansaluran pemasaran II. Bagian harga yang diterima petani hanya 31,25%pada saluran I dan 37,50% pada saluran pemasaran II. Nilai elastisitastransmisi harga sebesar 0,5148 mengindikasikan bahwa perubahan hargapandan tidak seluruhnya ditransmisikan ke petani produsen. Kinerja pasaryang kurang baik ini terjadi karena struktur pasar yang kurang bersaingdan perilaku pasar yang menjadikan posisi tawar petani lemah berhadapandengan pedagang pengumpul.Kata kunci: Pandanus sp, struktur, perilaku, kinerja pasar, pangsapetani, elastisitas transmisi hargaABSTRACTMarket performance of pandanus as raw material ofhandicraft industry in TasikmalayaPandanus (Pandanus sp.) is the essential raw material of handicraftand potential export commodities. The research was carried out to study ofpandanus performance market. The study was conducted at Tasikmalaya,West Java, as main pandanus handicraft producer, on July-August 2004used survey method. Data collected consisted of primary and secondarydata (time series). The sampling method used was simple randomsampling for farmers, traders I, traders II, and pandanus handicraftproduct. Data analyzed was designed with Structure - Conduct –Performance or SCP model. Farmer share and price transmissionelasticity as main indicator and criteria of analysis. The results showedthat 89,25% farmers used marketing channel I, only 10,75% usedmarketing channel II. Farmers share were only 31,25% on marketingchannel I and 37,50% on marketing channel II. Price transmissionelasticity was 0,5148 indicated that pandanus market had asymmetricprices information. The bad pandanus performance market caused byimperfect market and market conduct while powerless bargaining positionof pandanus farmers.Key words: Pandanus sp., structure, conduct, performance, market,farmers share, prices transmission elasticit

    VIABILITAS DAN EFEKTIVITAS FORMULA NEMATODA Steinernema sp. TERHADAP HAMA PENGGEREK BUAH KAPAS Helicoverpa armigera HUBNER

    Get PDF
    ABSTRAKEntomopatogen dari genus Steinernema berpotensi digunakansebagai pengendali berbagai serangga hama, terutama ordo Lepidoptera,seperti  Helicoverpa  armigera.  Penggunaan  Steinernema  untukpengendalian H. armigera akan menguntungkan karena aman terhadaplingkungan, mudah diproduksi massal, toleran terhadap berbagai macampestisida, dapat aktif mencari serangga sasaran, tidak menyebabkanresisten dan resurjensi, serta dapat diaplikasikan dengan alat semprotstandar. Namun, formula pestisida hayati mengandung Steinernema masihsangat terbatas. Tujuan penelitian adalah membuat formula Steinernemasp. yang efektif terhadap hama penggerek buah kapas (H. armigera).Penelitian dilaksanakan di laboratorium Patologi Serangga, BalaiPenelitian Tanaman Pemanis dan Serat, Malang mulai bulan Mei-Juli2010. Larva instar III Steinernema sp. dibuat dalam 6 macam formulaperlakuan dengan bahan pembawa (carrier) berbeda-beda, yaitu (1)suspensi (akuades + sukrosa), (2) pellet-2 (sekam padi), (3) pellet-1(tanah liat + arang), (4) agar + spon, (5) kapsul (Ca-alginat), dan (6)kontrol (akuades). Setiap formula diinokulasikan 10 6 juvenil infektif (JI).Masing-masing perlakuan disusun dalam rancangan acak lengkap (RAL)dengan tiga kali ulangan. Penurunan jumlah juvenil infektif (JI) padasetiap formula yang diamati per minggu selama ± 4 minggu. Isolat yangdigunakan untuk penelitian ini berasal dari Asembagus. Untukmengevaluasi efektivitas formula, larva H. armigera diperlakukan denganJI yang berasal dari masing-masing formula setiap minggu selama empatminggu. Perlakuan ini menggunakan rancangan acak lengkap denganempat ulangan. Jumlah penurunan JI setiap minggu selama empat minggusetelah perlakuan. Persentase JI yang hidup pada pellet-1, suspensi, pellet-2, agar + spon, kapsul, dan kontrol berturut-turut sebesar 53; 12,4; 44;63,8; 17,6; dan 5%. Pada minggu pertama sampai minggu keempat setelahperlakuan terlihat bahwa formula yang paling baik mempertahankan JIadalah agar + spon dan kemudian berturut-turut diikuti oleh pellet-1,pellet-2, kapsul, suspensi. Steinernema sp. yang disimpan selama empatminggu dalam berbagai bentuk formula terhadap H. armigera berkisarantara 80-99%. Formula agar dan spon paling baik untuk menyimpanSteinernema sp. selama empat minggu, karena formula ini memberikantingkat viabilitas dan efektivitas Steinernema sp. paling tinggi.Kata kunci : efektivitas, formula, Helicoverpa armigera, Steinernema sp.,viabilitasABSTRACTEntomopathogenic nematodes genus Steinernema for are potentialto be used as a control for various insect pests, especially ordoLepidoptera, such as Helicoverpa armigera. The use of Steinernema tocontrol H. armigera is beneficial because it is environmentally friendly,easy to produce, tolerant to several pesticides, actively search the targetinsect, does not cause resistance and resurgence, and can be applied byusing standard sprayer. Unfortunately, biological pesticide containingSteinernema is still limited. The study was aimed at formulating abiological agen containing Steinernema sp. to control the cotton bollwormweevil (H. armigera). The experiment was conducted at insect pathologylaboratory, Indonesian Sweetener and Fiber Crops Research Institute,Malang from May to July 2010. Steinernema sp. instar III larvae wasformulated in six different forms such as Pellet-1 (clay+carbon),suspension (distilled water+sucrose), Pellet-2 (rice husk), agar+sponge,capsule (Ca-alginate), and control (distilled water). Each formulation wasinoculated with 10 6 Infective Juvenile (IJ). Each treatment was arranged incompletely randomized design (CRD) with three replicates. Eachformulation observed showed decrease in IJ number every week for + 4weeks. Isolates used for this research were originated from Asembagusexperimental station. For evaluation of the formulation effectiveness, H.armigera larvae was treated using IJ from the formula weekly for fourweeks. On the first week after treatment, the percentages of living IJ inPellet-1, suspension, Pellet-2, agar+sponge, capsule, and control were 53;12.4; 44; 63.8; 17.6; and 5%, respectively. Effectiveness of Steinernemasp. stored for four weeks in various formulations against H. armigeraranged from 80-99%. The best formula of Steinernema sp for storage wasagar+sponge because of its ability to viability and effectiveness ofSteinernema sp.Key words: effectiveness, formulation, Helicoverpa armigera, viability,Steinernema sp.

    PEMURNIAN MINYAK NILAM DAN MINYAK DAUN CENGKEH SECARA KOMPLEKSOMETRI

    Get PDF
    ABSTRAKMinyak nilam dan minyak daun cengkeh mempunyai arti pentingdalam ekspor minyak atsiri Indonesia, karena kedua jenis minyak atsiritersebut memiliki volume ekspor tertinggi. Sebagian minyak nilam danminyak daun cengkeh dihasilkan dari penyulingan yang masih mengguna-kan ketel penyuling terbuat dari logam besi, sehingga warnanya keruh dangelap. Keadaan tersebut menyebabkan kedua minyak tersebut sulit diteri-ma dalam perdagangan dan harganya lebih rendah. Minyak yang keruhdan gelap karena kontaminasi dari logam besi dapat dimurnikan dengancara kompleksometri, yaitu pengikatan logam menggunakan bahan kimiayang disebut bahan pengkelat (chelating agent). Penelitian pemurnianminyak nilam dan minyak daun cengkeh yang keruh dan gelap telahdilakukan di Laboratorium Pengolahan Hasil Balai Penelitian TanamanRempah dan Obat, Bogor, dari bulan Januari sampai April 2005.Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan acak lengkap(RAL) dengan 3 perlakuan dan diulang 3 kali. Perlakuan yang diuji terdiriatas (1) jenis bahan pengkelat, yaitu etilen diamin tetra asetat (EDTA),asam sitrat dan asam tartarat; (2) konsentrasi pada masing-masingpengkelat terdiri atas 0,50%; 1,0% dan 1,50%; (3) lama waktu pengadukanyaitu 30; 60 dan 90 menit. Penilaian hasil pemurnian didasarkan padatingkat kejernihan minyak (%T), kandungan besi (Fe) dan kandungankomponen utama dalam minyak hasil pemurnian. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa bahan pengkelat, konsentrasi pengkelat maupun lamapengadukan sangat berpengaruh terhadap tingkat kejernihan dankandungan besi dalam minyak hasil pemurnian. EDTA dapat memurnikanminyak nilam dan minyak daun cengkeh lebih baik dibanding asam sitratdan asam tartarat. Semakin tinggi konsentrasi pengkelat serta semakinlama waktu pengadukan dapat meningkatkan kejernihan minyak nilam danminyak daun cengkeh dan menurunkan kandungan besi didalam keduaminyak tersebut. Bahan pengkelat EDTA 1,50% menghasilkan minyakpaling jernih serta kadar Fe paling rendah. Pada minyak nilam kadar Feterendah 17,66 ppm dan pada minyak daun cengkeh 27,16 ppm. Kom-ponen utama dalam minyak nilam yaitu patchouli alkohol dan komponenutama dalam minyak cengkeh yaitu eugenol serta karakteristik lainnyadalam kedua minyak tersebut tidak dipengaruhi oleh perlakuan. Minyaknilam dan minyak daun cengkeh hasil pemurnian tersebut memenuhipersyaratan Standar Nasional Indonesia.Kata kunci : Nilam, Pogostemon spp., cengkeh, Eugenia aromatica,minyak nilam, minyak daun cengkeh, prosesing, pemurnian,kompleksometri, patchouli alkohol, eugenol, Jawa BaratABSTRACTPatchouly oil and clove leaf oil purification usingcomplexometry methodPatchouly oil and clove leaf oil have the biggest volume in the totalIndonesian essential oil export. Some of the oil is produced using ironmetal distilling apparatus. So that, as the result the oil produced is dirtyand has dark colour. Its quality is low and its price is lower. Purification ofthe dirty and dark oil can be carried out using complexometry method,where the iron metals are attachted by chelating agent chemical to form thecomplex compound. The purification experiment was carried out toevaluate the influence of chelating agents (EDTA, citric acid, tartaric acid)their concentration and duration of mixing on the quality of pure oilproduced. Material used was the crude patchouly oil and clove leaf oilfrom the small distilling industry in Purwokerto, Central Java. Theexperiment used a completely randomized design, arranged factoriallywith three replications. Parameters used for evaluating the effect of thetreatment were the clearness of the oil, iron (Fe) content, and the maincomponent (patchouly alcohol in patchouly oil, eugenol in clove leaf oil)of oil produced. Experiment was conducted in the Postharvest TechnologyLaboratory, Research Institute for Spice and Medicinal Crops, Bogor, fromJanuary to April 2005. The result of the experiment showed that the bestpurification method is using EDTA chelating agent of 1.50% concen-tration. Such a purification method produced the clearest oil and the lowestiron content in purified patchouly oil and clove leaf oil. Meanwhile, themain component content and other characteristics of both oil were notaffected by the treatment. Patchouly oil and clove leaf oil of thepurification method meet the Indonesian National Standard.Key words: Patchouly, Pogostemon spp., patchouly oil, clove, Eugeniaaromatica,  clove  leaf  oil,  processing,  purification,complexometry, patchouli alcohol, eugenol, West Jav

    DINAMIKA POPULASI Rhizoctonia solani PADA LAHAN PERTANAMAN TUMPANGSARI KAPAS-KACANG HIJAU DENGAN Crotalaria sp.

    Get PDF
    ABSTRAKLahan kapas di Indonesia umumnya tegalan tadah hujan yangkesuburannya rendah-sedang. Penambahan pupuk hijau sebagai cara untukmeningkatkan kesuburan tanah sekaligus menahan air perlu memper-timbangkan kondisi biologis tanah, terutama patogen tanah sepertiRhizoctonia solani yang akan terpacu pertumbuhannya. Jamur ini sulitdikendalikan karena mampu bertahan hidup pada sisa-sisa tanaman.Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian pupukhijau (Crotalaria sp.) ke dalam tanah terhadap populasi mikroorganismedan R. solani pada pertanaman tumpangsari kapas-kacang hijau. Penelitiandilakukan di dua tipe tanah, yaitu tanah lempung berpasir di Pasirian,Lumajang dan tanah liat di Sumberrejo, Bojonegoro (Jawa Timur).Kacang hijau varietas Perkutut ditanam di antara barisan kapas Kanesia 8.Perlakuan yang diuji adalah dua cara pemberian Crotalaria segar (dicacah10-15 cm), yaitu dibenamkan ke dalam tanah (seminggu sebelum tanambenih kapas) dan disebarkan (dimulsakan) di atas tanah bersamaan denganwaktu tanam kapas dan kacang hijau. Cacahan Crotalaria (20 ton/ha atau216 kg/petak berukuran 12 m x 9 m) diaplikasikan pada lajur di sekitartanaman kapas. Perlakuan disusun secara kelompok dan diulang tiga kali.Sampel tanah diambil pada saat tanaman kapas berumur 30, 60, dan 90hari setelah tanam (hst) untuk dihitung populasi mikroba non patogen,yaitu aktinomisetes, bakteri, dan jamur menggunakan media selektif,sedangkan R. solani dihitung dengan metode bioasay menggunakan tusukgigi steril. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa populasi mikroorga-nisme di dalam tanah meningkat secara nyata setelah diberi Crotalaria,baik dengan cara dimulsakan maupun dibenamkan, sementara populasimikroorganisme di dalam tanah yang tidak diberi mulsa relatif stabil.Secara umum terjadi peningkatan populasi mikroorganisme tanah(aktinomisetes, bakteri, dan jamur) pada tanah yang diberi Crotalariadengan cara dibenamkan dibandingkan yang dimulsakan, 30 hst. Pada 90hst populasi mikroba menurun, namun total populasi mikroorganismedalam tanah yang diberi Crotalaria masih lebih tinggi daripada tanah yangtidak diberi Crotalaria. Populasi R. solani pada tanah lempung berpasiratau tanah liat yang diberi perlakuan Crotalaria, baik yang dimulsakanmaupun dibenamkan, relatif lebih tinggi dibandingkan dengan kontrol.Pada pengamatan 30 hst, populasi R. solani dalam tanah berpasir naik 82-140% dari kontrol, sedangkan di dalam tanah liat naik 47-58%. Sejalandengan proses dekomposisi Crotalaria, persediaan bahan organik yangbelum terdekomposisi menipis ditambah dengan meningkatnya populasimikrorganisme saprofitik lain di dalam tanah, maka pada 90 hst populasiR. solani menurun dan tidak berbeda nyata dibandingkan dengan kontrol.Dengan demikian, penambahan pupuk hijau Crotalaria segar pada lahanyang sudah tercemar jamur R. solani berrisiko meningkatkan kematiantanaman kapas sehingga pupuk hijau harus didekomposisikan terlebihdahulu sebelum diaplikasikan.Kata kunci : Gossypium hirsutum, Vigna sinensis, dinamika populasi,mikroba tanah, Rhizoctonia solani, mulsa CrotalariaABSTRACTPopulation Dynamic of Rhizoctonia solani on Cotton-Mungbean Cropping System Enriched with CrotalariaCotton in Indonesia is usually cultivated on rain fed areas with low-medium soil fertility. Amendment of green manure to improve soilproperties should consider soil biological conditions, particularly soilbornepathogens, such as Rhizoctonia solani which could be stimulated. Thisinvestigation aimed to determine the effect of amendment of Crotalariasp. on population of R. solani and non pathogenic soil microorganisms inthe soil cultivated with cotton intercropped with mungbean plants. Theinvestigation was conducted in two soil types i.e. sandy loam in Pasirian,Lumajang and clay soil in Sumberrejo, Bojonegoro (East Java). Mungbean(var. Perkutut) was planted within the cotton row (var. Kanesia 8). FreshCrotalaria plants were cut into 10-15 cm long. The treatments wereincorporation of Crotalaria into the soil a week before planting andmulching the Crotalaria on the soil surface. Crotalaria was applied at arate of 20 t/ha or 216 kg/plot (12 m x 9m). Control treatment was plotwithout Crotalaria amendment. The experiment was arranged using arandomized block design with three replicates. The soil was sampled whenthe cotton plants were 30, 60, and 90 days after sowing (das) to estimatethe population of non pathogenic soil microbes (actinomycetes, bacteria,and fungi) using selective media. It was also to estimate population of R.solani using sterile toothpick bait bioassay. The study showed that popu-lation of soil microbes significantly increased following amendment ofCrotalaria at 30 das, both in the incorporated and mulched treatments.Generally, the population was higher in the incorporated treatment than inthe mulched one. At 90 das the microbial population decreased, however,those in the crotalaria amendments were still higher compared to thecontrol. Population of R. solani increased significantly both in the sandyloam and clay soils amended with Crotalaria. Population of R. solaniincreased 82-140% in the sandy loam soil on 30 das, whilst in the clay soilit increased 47-58%. As the decomposition of Crotalaria occurred, theavailable organic matter diminished as the result the population of R.solani declined. For example, at 90 das the number of R. solani was notsignificantly different compared with the control. This study concludedthat addition of fresh green manure (Crotalaria) soon prior to planting ofcotton in the soil infested with R. solani is highly risk to damping offdisease incidence. Therefore, green manure plant should be decomposedbefore application.Key words : Gossypium hirsutum, Vigna sinensis, population dynamic,soil microbes, Rhizoctonia solani, plant residue

    245

    full texts

    401

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Penelitian Tanaman Industri
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇