Jurnal Penelitian Tanaman Industri
Not a member yet
401 research outputs found
Sort by
ADAPTASI KLON-KLON RAMI DI ANTARA KELAPA
ABSTRAKPenelitian untuk mendapatkan klon-klon unggul rami untuk lahan diantara pohon kelapa, telah dilaksanakan pada bulan April 1999 - Maret2000, di lahan kebun plasma PIR-Kelapa 5 (NES 5) Desa Mekarsari,Kecamatan Cimerak, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Tanaman kelapahibrida ditanam pada tahun 1993/1994 dengan jarak tanam 9 m x 9 m, dansudah berproduksi. Perlakuan terdiri dari 12 klon rami yang disusun dalamrancangan acak kelompok dan diulang 3 kali. Klon-klon tersebut adalahPujon 10, Pujon 13, Bandung A, Pujon 9, Pujon 902, Indochina, Kotaraja,Japan I, Hakuki, Padang 3, Jawa Timur 3-0 dan Pujon 601. Bibit/rhizomaditanam dengan jarak tanam 50 cm x 80 cm satu stek per lubang, pada plotberukuran 4 m x 9 m. Kapur dan pupuk kandang diberikan bersamaandengan pengolahan tanah dengan dosis masing-masing 2 ton dan 20 tonper hektar. Sedangkan pupuk buatan diberikan pada 10 hari setelah tanamdengan dosis 200 kg urea + 150 kg SP-36 + 100 kg KC1 per hektar.Pemupukan selanjutnya dilakukan 7-10 hari setiap sehabis panen/pangkasdengan dosis yang sama. Panen pertama dilakukan pada 70 HST,sedangkan panen berikutnya setiap dua bulan sekali. Pengamatan padasebelum dan sesudah panen dilakukan terhadap tinggi tanaman, diameterbatang, jumlah anakan per rumpun, bobot brangkasan segar, bobot batangsegar dan bobot kering china grass. Hasil penelitian menunjukkan bahwaklon Pujon 10, Pujon 13, Padang 3, Bandung A dan Indochina merupakanklon-klon yang memiliki daya adaptasi tinggi di lahan antara pohon kelapadi Ciamis sampai dengan panen ke empat.Kata kunci: Rami, Boehmeria nivea L. Gaud, adaptasi, kebun kelapa,tanaman sela, Jawa BaratABSTRACTAdaptation of ramie clones in coconut plantationAn experiment to find out the promising clones of ramie in coconutplantation in Mekarsari, Cimerak,West Java from April 1999 to March2000. Coconut trees in the experiment location were planted in 1993/1994with plant spacing 9 x 9 m and have already producted. Twelve ramiclones viz. Pujon 10, Pujon 13, Bandung A, Pujon 9, Pujon 902,Indochina, Kotaraja, Japan I, Hakuki, Padang 3, Jawa Timur 3-0 and Pujon601, was evaluated using Randomized Block Design (RBD) with threereplications. Rami rhizome was planted in 4 m x 9 m plot size with 50 cmx 80 cm plant spacing and one rhizome per hole. Lime (2 ton/ha) andorganic manure (20 ton/ha) were applied during land preparation. Organicfertilizers were applied 10 days after planting 200 kg urea •+• 150 kg SP-36+ 100 kg KC1 per hectare. The next fertilizing was conducted 7 - 10 daysevery after harvest with the same doses. The first harvesting time was 70days after planting and the folowing harvests were conducted every twomonths. Parameters observed were plant height, stem diameter, plantnumber per scrub, fresh wight biomass, stem fresh wight and chinagrassdry weight. Research result indicated that ramie clones viz. Pujon 10,Pujon 13, Padang 3, Bandung A, and Indochina, were more adaptable incoconut plantation in Ciamis, West Java, up to the fourth harvest.Ramie, Boehmeria nivea L. Gaud, adaptation, coconplantation, intercrop, West Jav
PENGGUNAAN SELASIH DALAM PENGENDALIAN HAMA LALAT BUAH PADA MANGGA
ABSTRAKPenelitian dilakukan di Kabupaten Sumedang pada bulan Januarihingga April 2009 dengan tujuan untuk menggali kearifan lokalpenggunaan selasih dalam pengendalian hama lalat buah. Sumedangmerupakan sentra produksi mangga, sehingga menjadi sumber matapencaharian utama bagi beberapa petani. Lalat buah merupakan hamautama pada komoditas mangga di Sumedang yang mengakibatkankerugian berupa kuantitas dengan rontoknya buah-buahan yang terserangdan berupa kualitas, yaitu busuknya mangga yang terserang. Penelitiandirancang dalam acak kelompok, empat perlakuan dan enam ulangan.Perlakuan terdiri dari pestisida nabati formula petani berupa (1) air sulingselasih, (2) minyak selasih petani, (3) minyak selasih yang diproses diBalittro, (4) atraktan lalat buah yang sudah dikomersialkan (pembanding).Semua formula diteteskan sebanyak 0,25 ml pada gumpalan kapas, kecualiair suling selasih dengan cara mencelupkan kapas ke dalam air sulingnya,kemudian ditempatkan di dalam botol perangkap yang terbuat dari botolminuman air mineral volume 600 ml dan digantungkan pada pohonmangga setinggi 2 m di atas permukaan tanah yang ditempatkan secaraacak. Penempatan perangkap dilakukan pada enam blok kebun yangterpisah dan merupakan ulangan. Aplikasi formula hanya dilakukan satukali, untuk melihat daya tahan masing-masing formula dalam me-merangkap lalat buah di lapangan. Pengamatan dilakukan setiap mingguterhadap jumlah, jenis dan kelamin lalat buah yang terperangkap sertakandungan bahan aktif pada masing-masing formula dengan menggunakanGas Kromatografi. Aspek sosial ekonomi dilakukan terhadap 30 orangpetani yang diambil secara acak, termasuk pedagang buah dengan carawawancara melalui kuesioner yang telah dipersiapkan. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa penggunaan pestisida selasih sebagai atraktan untukmengendalikan hama lalat buah, dapat menurunkan penggunaan pestisidasebanyak 62%, menurunkan tingkat kerusakan buah-buahan sebesar 34%dan meningkatkan hasil sebesar 73%. Air suling selasih dengan kandunganmetil eugenol sebesar 0,46% mampu memerangkap hama lalat buahselama satu minggu, setelah itu perlu aplikasi ulang pada setiapminggunya, sedangkan minyak selasih hasil petani dengan kandunganmetil eugenol sebesar 77,9% mampu memerangkap hama lalat buahselama satu bulan, setara dengan minyak selasih yang diproses di Balittrodengan kandungan metil eugenol sebesar 73,6% dan lebih baik daripadaatraktan lalat buah komersial yang mengandung metil eugenol sebesar75%. Lalat buah yang terperangkap didominasi oleh spesies Bactroceradorsalis (97%) dan sisanya adalah Bactrocera umbrosus (3%) sertadidominasi oleh lalat buah berkelamin jantan.Kata kunci : Ocimum minimum, Bactrocera dorsalis, Mangifera indicaABSTRACTUsing Ocimum spp. on controlling fruit flies on mangoThe objective of the research is to digest indigenous technology(local wisdom) of using botanical pesticide in controlling fruit flies.Research was conducted by evaluating the effectiveness of farmerstechnology (indigenous knowledge) in formulating botanical pesticide forcontrolling fruit flies (fruit flies attractant), compared to fruit fliesattractant formulated in the laboratory of Indonesian Medicinal andAromatic Research Institute (IMACRI) and commercial fruit fliesattractant. Research was arranged by randomized block design, fourtreatments and six replications. Treatments consist of (1) farmerstechnology, i.e. distilled water of basil (Ocimum spp.), (2) farmerstechnology, i.e. essential oil of basil (Ocimum spp.), (3) essential oil ofbasil formulated in IMACRI and (4) commercial attractant. Each formulawas dropped as much as 0.25 ml on cotton bud, except distilled water ofbasil which is applied by dipping the cotton bud into the distilled water,placing it in the trap made from 600 ml volume drinking water, thenhanging it as high as 2 m on the mango tree. Dropping of formula wasdone just one time to evaluate the duration of attractant on trapping fruitflies in the field. Observations were done every week on the number,species, sex ratio of fruit flies trapped, and the duration of attractant abilityon trapping fruit flies in the field. The active ingredient of formula wasanalyzed by Gas Chromatograph conducted in IMACRI. The social andeconomy aspects were done by interviewing the farmers throughquestionnaires. The number of the farmers interviewed were 30 farmers,including the trader of mango. Result showed that indigenous technologyof the farmer was effective and efficient since it can decrease the use ofpesticide as much as 62% and decrease fruit damage as much as 34% andincrease their income as much as 73%. Technology of farmers in the formof distilled water of basil could stand as long as a week on trapping fruitflies, hence its application must be repeated every week. Meanwhile in theform of essential oil could stand for one month and is not significantlydifferent with attractant formulated in IMACRI, even better thancommercial attractant, hence its application can be done every month.Only male fruit flies can be trapped and most of them consist ofBactrocera dorsalis species (97%) and the rest is Bactrocera umbrosusspecies (3%). The active ingredient content (Methyl eugenol – C 12 H 24 O 2 )in the distilled water of basil is 0.43%. Meanwhile in essential oil of thefarmer is 77.9% and in essential oil of IMACRI is 73.6% and incommercial attractant is 75%.Key words : Ocimum minimum, Bactrocera dorsalis, Mangifera indic
PENGARUH ROTASI KENAF TERHADAP PRODUKSI PADI DAN JAGUNG
Tingkat kesuburan tanah dapat diperbaiki melalui pemberian bahan organik, hijauan tanaman ke dalam tanah atau diadakan rotasi tanaman. Kenaf merupakan tanaman semusim berumur 120 hari yang sesuai dirolasi dengan padi dan jagung. Penelitian rotasi kenaf dengan padi dan jagung dilaksanakan di Desa Canggu, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri pada musim tanam 1992/1993 sampai dengan 1994/1995 pada tanah regosol cokelat keabuan Tinggi tempat 70 meter di atas permukaan air laut dengan tipe iklim C3 menurut sistem klasiikasi Oldeman Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh rotasi tanaman kenaf dengan tanaman padi dan jagung terhadap peningkatan hasil padi dan jagung setelah lanaman kenaf seta perubahan ciri-ciri tanah tetentu sepeti kandungan C, N dan KTK di lahan irigasi Perlakuan disusun dalam rancangan acak kelompok yang diulang sebanyak tiga kali. Seluruh perlakuan ada 12 macam rotasi. Ukuran petak 14 m x 10 m. Padi yang ditanam varietas IR-64, jagung varietas CPI dan kenaf He. G4. Jarak tanam padi, jagung dan kenaf beturut-turut 20 cm x 20 cm; 75 cm x 30 cm dan 20 cm x 15 cm Hasil penelitian menunjukkan bahwa frekuensi penanaman kenaf dapat meningkatkan kesuburan tanah yang meliputi C-organik. N-total dan KTK tanah, baik pada tahun petama maupun pada tahun petama dan kedua. Hasil padi pada tahun petama tanpa kenaf, satu dan dua kali tanam kenaf sebelum padi masing-masing sebesar 5.19, 5.25, dan 6.24 ton/ha. Pada tahun petama dan kedua tanpa tanam kenaf dua dan liga kali tanam kenaf sebelum padi, masing-masing sebesar 4 68, 4.98, dan 5.23 ton/ha. Hasil jagung pada tahun petama tanpa kenaf dan satu kali tanam kenaf sebelum jagung, masing-masing sebesar 3.70 dan 4 47 ton/ha.Kata kunci: Kenaf, rotasi tanaman, padi, jagung, irigasi, kesuburan tanah ABSTRACTEffect of kenaf rotation on paddy and corn yieldThe fetility status of soil could be improved through the application of organic matter, fresh green plant or crop rotation practices. An experiment on kenaf-paddy-com rotalion was conducted ai Canggu Village, Pare Sub District, Kediri District from 1992/1993 to 1994/1995 on grey brown regosol. The altitude was 70 m above sea level, and the climate type was C3 according to Oldeman classiication. The purpose of the study was to know the effect of kenaf rotation on paddy and com yields and some soil characteristic change ater kenaf planting in irrigalcd land. The cxperimenl was arranged in a randomized block design with three replications. All treatments consisted of 12 kinds of rotations. Plot size was 14 m x 10 m. The variety of paddy, com, and kenaf used in this experiment were IR-64, CPI and He G4 respectively. The plant spacing were 20 cm x 20 cm; 75 cm x 30 cm and 20 cm x 15 cm respectively. The result indicated that the frequency of growing kenaf enhanced C- organic, Total-N and CEC status. Paddy yield in the irst year of growing none, once and two times of kenaf before paddy obtained 5.19; 5.25 and 6.24 ton/ha respectively. Paddy yield in the irst and second year of growing none, two and three times of kenaf before paddy obtained 4.68; 4.98 and 5.23 ton/ha respectively. Corn yield in the irst year of none and once of kenaf before com obtained 3.70 and 4.47 ton/ha respectively.Key words : Kenaf, plant rotation, paddy, com, irrigation, soil fetilit
INDUKSI KALUS DAN REGENERASI DUA VARIETAS TEBU (Saccharum officinarum L.) SECARA IN VITRO
ABSTRAKPerbanyakan tebu umumnya dilakukan secara vegetatif mengguna- kan setek. Teknik ini mempunyai keterbatasan memproduksi jumlah bibit dalam skala besar. Dalam rangka mendukung peningkatan produktivitas, maka perlu pemenuhan bibit tebu dalam skala besar. Kultur jaringan merupakan teknologi alternatif yang dapat dikembangkan untuk pemenuhan bibit dalam jumlah yang banyak. Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan formulasi media terbaik untuk induksi kalus dan regenerasi tebu varietas Kidang Kencana dan PSJT 941. Penelitian dilakukan di Laboratorium Unit Pengelola Benih Unggul Pertanian, Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, Bogor dari bulan Februari sampai September 2012. Penelitian terdiri dari tiga tahap, yaitu induksi kalus, regenerasi tunas dan perakaran, serta aklimatisasi. Bahan tanaman tebu yang digunakan adalah daun muda varietas Kidang Kencana dan PSJT 941 yang masih menggulung. Empat formulasi media digunakan pada tahap induksi kalus. Sementara itu, pada tahap regenerasi tunas dan perakaran menggunakan tujuh formulasi media. Aklimatisasi menggunakan media tanah steril dan kompos (2:1). Percobaan menggunakan Rancangan Acak Lengkap yang disusun secara faktorial, terdiri atas dua faktor dan diulang sepuluh kali. Faktor pertama adalah varietas dan kedua adalah formulasi media. Hasil penelitian menunjukkan media induksi kalus terbaik untuk varietas Kidang Kencana adalah 2,4-D 9 µM + Picloram 4,5 µM, sedangkan PSJT 941 adalah 2,4-D 13,5 µM. Media regenerasi dapat digunakan untuk menginduksi tunas sekaligus perakaran. Media regenerasi terbaik varietas Kidang Kencana dan PSJT 941 adalah IBA 2,46 µM + BAP 1,33 µM. Kedua varietas dapat diaklimatisasi di rumah kaca dengan tingkat keberhasilan tinggi (80-100%).Kata kunci: Saccharum officinarum, tebu, kultur jaringan, organogenesis, perbanyakan Callus Induction and Plant Regeneration of Two Sugarcane Varieties (Saccharum officinarum L.) through In VitroABSTRACTGenerally, sugarcane propagation was done by vegetative cuttings. The technique had limitation of producing seeds in a large scale. In order to increase productivity of sugarcane, it is required to provide sugarcane seeds in large scale. Tissue culture is an alternative technique that can be developed to provide the seeds. The objective of this research was toobtain the best formulations for callus induction and regeneration of Kidang Kencana and PSJT 941 varieties. The study was conducted in the Laboratory of Superior Farm Seeds Management Unit, Indonesian Agency for Agricultural Research and Development, Bogor from February until September 2012. The researches were carried out in three steps, name lycallus induction, regeneration of shoots and roots, and acclimatization. Explant material used was young rolled leaves collected from two sugarcane varieties (Kidang Kencana and PSJT 941). Four media formulations used for callus induction, while seven media formulations used for shoots and roots regeneration. Acclimatization used sterile soil and compost (2:1). The experiment arranged in Factorial Completely Randomized Design with two factors and ten replications. The first factor was varieties and second factor was media formulations. The results showed that the best callus induction media for Kidang Kencana was 2.4- D 9 µM + Picloram 4.5 µM, while for PSJT 941 was 2.4-D 13.5 µM. Regeneration media could induce both shoots and roots. The best regeneration media for Kidang Kencana and PSJT 941 were IBA 2.46 µM + BAP 1.33 µM. They could be acclimatized successfully in green house with highly percentage (80-100%).Key words: Saccharum officinarum, sugarcane, tissue culture, organo- genesis, multiplicatio
PENINGKATAN PRODUKSI DAN PENDAPATAN USAHATANI KAPAS MELALUI PENERAPAN TEKNOLOGI PENGENDALIAN HAMA TERPADU (PHT)
ABSTRAKPenelitian dilakukan di Desa Pongkah, Kecamatan Tellusiatinge,Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, bulan April sampai dengan Nopember2001. Tujuan penelitian adalah untuk (a) mengetahui besarnya biayaproduksi dan pendapatan usahatani kapas antara petani kapas binaan danpetani kapas non binaan, (b) mengetahui tingkat adopsi teknologi padausahatani kapas binaan, dan (c) mengetahui kendala yang dihadapi dalamproses adopsi teknologi PHT yang dianjurkan. Lokasi penelitian dipilihsecara sengaja (purposive) dengan pertimbangan bahwa Kabupaten Bonemerupakan salah satu sentra produksi kapas di Sulawesi Selatan. Duaperlakuan yang dibandingkan terdiri dari petani kapas peserta PHT sebagaipetani kapas binaan ditentukan secara sengaja sebanyak 87 petani padahamparan lahan kering seluas 51 ha. Sebagai pembanding diambil secaraacak sederhana (simple random sampling) sebanyak 60 petani kapas nonbinaan dengan luas lahan 33 ha. Komponen teknologi yang dianjurkanpada petani PHT adalah : (a) benih kapas tanpa kabu-kabu, (b) tanamkapas varietas toleran wereng (Kanesia 7), (c) tanam tepat waktu, (d)penanaman jagung sebagai perangkap hama, (e) penggunaan serasah, (f)konservasi gulma penarik parasitoid, dan (g) penyemprotan berdasar hasilpanduan. Data yang dikumpulkan meliputi : (1) populasi arthropodaperusak dan berguna, (2) biaya saprodi dan tenaga kerja, (3) hasil kapasberbiji, (4) tingkat adopsi teknologi, (5) kendala penerapan teknologi PHT.Data di analisis menggunakan model analisis diskriptif dan usahatanienterprise. Hasil penelitian menunjukkan bahwa populasi predator padaserasah di areal kapas binaan mencapai 178,57 ekor per 0,35m 3 onggokanserasah, dan populasi pada tanaman kapas 11,62 ekor per 25 tanamankapas. Produksi kapas berbiji yang diperoleh petani binaan dan petani nonbinaan masing-masing sebesar 1435 kg/ha dan 588 kg/ha, denganpendapatan atas biaya tunai masing-masing sebesar Rp. 2.330.648 dan Rp.279.273. Tingkat adopsi petani dalam penerapan teknologi PHT barumencapai 70%. Secara umum kendala yang dihadapi adalah (1) petanimasih belum menguasai teknologi bertanam kapas, termasuk teknologiPHT karena minimnya ketersediaan modal, (2) benih yang ditanam petanidaya tumbuhnya hanya 20-40%, dan (3) petani menghendaki harga kapastinggi.Kata kunci : Kapas, Gossypium hirsutum, adopsi teknologi, pendapatanABSTRACTIncreasing production and farmer’s income throughintegrated pest management applicationThis research was conducted in Pongkah, Tellusiatinge District,Bone, South Sulawesi from April to November 2001. The aims of thisresearch were to (a) determine the production cost and income from cottoncultivation between the trained cotton farmer and non-trained cottonfarmer, and (b) determine the level of technology adoption among thetrained cotton farmers and (c) investigate constraints in adopting thetechnology of integrated pest management (IPM) which had beensuggested for the implementation by the farmers. The location waspurposively selected based on the consideration that the Bone regency wasone of the main area of cotton cultivation in the South Sulawesi. Twogroups were compared in this study. These groups were 87 trained farmerswho cultivated 51 hectares of dry field and 60 non-trained farmers, whocultivated 33 hectares of dry field. The technology implemented by thetrained farmers were (a) the use of delinted seed , (b) the use of resistantcotton variety to Sundapteryx biguttula (Kanesia 7), (c) timely planting,(d) planting corn to trap the pest, (e) using mulch (corn stalk waste), (f)conservation of weeds to attracts parasitoid, and (g) insecticide sprayingbased on scouting system. The data gathered in this study included: (1)population of arthropods, both pest and non-pest, (2) the cost of productionand labor, (3) the yield of cotton, (4) the level of technology adoption, and(5) the constraints in adopting PHT technology. The data were analyzedusing descriptive analysis and farming enterprise. The results of theanalysis showed that the population of predators on the mulch in the fieldcultivated by trained farmers was 178.57insects 0.35 m 3 and in non-trainedfarmer field was 11.62 insects/25 plants. The yields of cotton betweentrained and non-trained farmers was 1435 kg/ha and 55 kg/ha, resulting incash income of Rp. 2,330,648.00 and Rp. 279,273.00. The level oftechnology adoption for trained farmers was 70 percent and the constraintswere: (1) lack of knowledge in applying PHT technology due toinsufficient capital, (2) germination rate of seeds planted by non-trainedfarmers was only 20-40 percent, (3) the low price of cotton.Key words: Cotton, Gossypium hirsutum, technology adoption, incom
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBERHASILAN USAHATANI JAMBU METE DI SULAWESI TENGGARA
Metode AHP (analytical hierarchy process) digunakan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan usahatani jambu mete. Data dikumpulkan melalui wawancara secara mendalam dengan para ahli mete dan melalui wawancara terstruktur dengan petani jambu mete di empat desa dalam dua kecamatan di Kabupaten Kendari dan di empat desa dalam dua kecamatan di Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara yang dilaksanakan pada bulan Mei 2002. Hasil analisis menunjukkan ada 12 faktor penentu yaitu modal, tenaga kerja, sarana produksi, lahan, teknologi, managerial, lembaga pemasaran, transportasi, informasi pemasaran, kelompok tani, penyuluh dan lembaga keuangan. Empat faktor, yaitu tenaga kerja, sarana produksi, lembaga pemasaran dan transportasi bcrada dalam kondisi dapat diterima. Tiga faktor yaitu modal, lahan dan kelompok tani bcrada dalam kondisi sangat buruk, sedangkan lima faktor lainnya berada dalam kondisi buruk. Dilihat dari nilai kcpentingannya, tiga faktor yaitu modal yang kondisinya sangat buruk, teknologi dan informasi pemasaran yang kondisinya buruk, memiliki tingkat kepentingan yang tinggi. Ha] ini menunjukkan pioritas pembenahan usahatani jambu mete harus diarahkan pada ketiga faktor tersebut.Kata kunci: Anacardium occidentale L, usahatani, faktor penentu ABSTRACT Analysis of determinant factors in cashew farming performance in Southeast SulawesiAnalytical hierarchy process (AHP) method was applied to analyze determinant factors in cashew farming performance. Data were collected through indepth interview with cashew experts and through structured interview with cashew farmers in four villages in two districts in Kendari Regency and in four villages in two districts in Buton Regency, Southeast Sulawesi in May 2002. The results showed that there were 12 determinant factors, i.e. the availability of capital, labour, input production, land condition, technology, managerial, market institution, transportation, market information, farmers institution, farming instructor, and financial institution. Four factors, labour, input production, transportation and market institution are in fair condition. Three factors, capital, land and fanners institution were in very poor condition. And the rest ive factors were in poor condition. The effort to increase the cashew farming performance has to be focused on capital, technology and market information factors which are in poor or very poor conditions and are crucial determinants.Key words: Anacardium occidentale L, farming, determinant factor
PENGARUH RETARDAN PACLOBUTRAZOL TERHADAP PERTUMBUHAN TEMU LAWAK (Curcuma xanthorrhiza) SELAMA KONSERVASI IN VITRO
ABSTRAKTemu lawak (Curcuma xanthorrhiza) merupakan salah satu jenistanaman obat potensial untuk dikembangkan. Rimpangnya berguna untukmengobati penyakit hepatitis dan memperbaiki sistem kekebalan tubuh.Untuk mendukung kegiatan plasma nutfah temulawak saat ini telahdilakukan upaya konservasi secara in vitro di laboratorium Kultur JaringanBalai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik, Bogor mulai bulan Juni2005 sampai April 2006. Bahan tanaman yang digunakan adalah matatunas temulawak yang telah tersedia secara in vitro. Media dasar yangdigunakan adalah Murashige dan Skoog (MS) yang diperkaya vitamin darigroup B. Sebagai sumber energi digunakan sukrosa sebanyak 30 g/l.Perlakuan yang diuji adalah beberapa taraf konsentrasi paclobutrazolyaitu: Paclobutrazol 1,0 mg/l; 3,0 mg/l dan 5,0 mg/l. Sebagai kontrol digu-nakan media dasar MS tanpa paclobutrazol. Rancangan yang digunakanadalah acak lengkap dengan tujuh ulangan. Parameter yang diamati adalahjumlah tunas, panjang tunas, jumlah daun dan akar pada umur 4 dan 7bulan serta penampilan kultur secara visual. Setelah dikonservasi selamatujuh bulan, maka dilakukan uji regenerasi kultur setelah perlakuanpaclobutrazol ke dalam media MS + BA 0,1 mg/l. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa penggunaan retardan paclobutrazol mampu menekanpertumbuhan kultur dan dapat mengurangi periode sub kultur yangbiasanya setiap dua bulan menjadi tujuh bulan. Konsentrasi paclobutrazol5,0 mg/l merupakan konsentrasi terbaik karena kultur masih mampuberegenerasi normal setelah konservasi. Hasil aklimatisasi plantlet dirumah kaca dapat tumbuh dengan baik. Plantlet tumbuh dan berkembangtanpa menunjukkan adanya penyimpangan dalam penampilan visualnya.Kata kunci: Temulawak, Curcuma xanthorrhiza, paclobutrazol, konser-vasi regenerasi, in vitro, pertumbuhan, Jawa BaratABSTRACTEffect of paclobutrazol on temulawak growth during invitro conservationTemulawak (Curcuma xanthorrhiza) is one of medicinal plantwhich is potential to be developed. The rhizome is used to heal hepatitisand to improve the imune system of human body. To support themedicinal germplasm conservation, in vitro conservation of temulawakwas conducted in Tissue Culture Laboratory of Indonesian ResearchInstitute for Medicinal and Aromatic, Bogor from June 2005 to April2006. Sterile shoots in vitro were used as plant explants. The basicmedium used was Murashige and Skoog (MS) medium, supplementedwith vitamine from B group. Sucrose as carbon sources, was given 30 g/linto the medium. The treatment tested were several concentrations ofpaclobutrazol: (1) Paclobutrazol 0.0 mg/l; 1.0 mg/l; 3.0 mg/l; dan 5.0 mg/l.The treatments were arranged in a completely randomized design withseven replications. The parameters observed were number of shoots, shootlength, number of leaves and roots during conservation. After sevenmonths conserved, shoots were regenerated into regeneration medium.The result showed that paclobutrazol at 5.0 mg/l could reduce the plantgrowth during seven months in conservatioan period and the culture couldregenerate normally after transferring into multiplication medium. Thistechnique can be applied to prolong the conservation culture. Plantlets oftemoe lawak which were acclimatisized in the glass house grew wellwithout any changes in their performance.Key words : Temulawak, Curcuma xanthorrhiza, paclobutrazol , in vitroconservation, regeneration, growth, West Jav
REKAYASA TEKNOLOGI MESIN PENGERING RIMPANG JAHE
Jahe gajah adalah tanaman obat yang sangat potensial dalam industri makanan, minuman maupun obat-obatan. Dalam proses pengolahannya memeriukan pcnanganan yang baik dalam rangka mempertahankan mutu produk yang dihasilkan. Salah satu proses yang sangat penting dan erat kailannya dengan mutu produk tersebut adalah pengcingan Pengcingan merupakan aspek penting dalam upaya pengawetan bahan dan mencegah terjadinya pencemaran oleh jamur atau patogen yang dapat menurunkan mutu bahan. Penelitian ini bertujuan untuk merancang bangun mesin pengering rimpang jahe sebagai bahan baku industi obat. Dalam jangka panjang penelitian ini dipersiapkan untuk menyediakan teknologi rancang bangun dan teknologi proses dalam pengembangan agroindusti tanaman obat, sehingga dapat meningkatkan nilai tambah rimpang jahe dan aktivitas di pedesaan. Penelitian dilakukan di Bengkel Rekayasa dan di Laboratorium Pengolahan Hasil, Balittro pada bulan April - Desember tahun 2002. Metode yang digunakan meliputi perancangan, pembuatan, pengujian, perbaikan, pengujian akhir dan analisis mutu. Mesin pengering impang jahe yang dirancang bangun adalah mesin pengering tipe rak yang berkapasitas S00 kg jahe iisan tiap operasi pengcingan. Sistem pemanasnya menggunakan minyak tanah sebagai bahan bakar dengan konsumsi 3-6 liter perjam dan dilengkapi dengan kipas untuk mendorong udara panas dengan kapasitas 102 m per menit. Kipas digerakkan dengan motor listrik bertenaga 2 HP (1440 RPM, SO Hz). Hasil pengujian dengan menggunakan 100 kg jahe gajah irisan menunjukkan bahwa lama pengcringan sampai mencapai kadar air keseimbangan adalah 13 jam. Rendemen jahe iisan kering rata-rata 13.5%, laju pengeringan 6.85 kg air perjam, dan efisiensi pengcringan 38.84%. Suhu ruang pengering 60-70"C dan kelembaban relatif 20 - 25%. Biaya pengeingan 500 kg jahe iisan jika perajangan jahe dilakukan secara manual yaitu Rp. I 022 perkg. Jika menggunakan mesin perajang, biaya pengeingan menjadi Rp. 273 per kg. Mesin pengeing layak digunakan oleh petani atau kelompok tani. Harga jual produk jahe irisan Rp.30 000 perkg jika pcrajangannya manual, dan Rp. 25 000 per kg jika pcrajangannya menggunakan mesin. Jumlah jahe gajah segar yang dibutuhkan pada titik impas (BEP) yaitu 70.107 kg-'tahun atau 292 kg perhai setara dengan luas pertanaman 2 ha jika perajangan secara manual, dan 33 357 kg/tahun atau 139 kg/hari setara dengan luas areal pertanaman 1 ha jika pcrajangannya menggunakan mesin.Kata kunci: Jahe, simplisia, alat pengeing, irisan, perajangan manual, perajangan mesin ABSTRACT Technology of sliced ginger dryerGinger is a medicinal crop which is very potential as raw mateial in food, drink, and medicinal industry. Drying is an important aspect of its processing to preserve and protect it from fungi or pathogens which can decrease its quality. The aim of this research is to design a drying machine for rhizomes of Zingiberaceae as raw mateial of medicinal industry. In the long term, this research will produce a design and process technology to develop a medicinal crops industry, so that the crops it can get an added value and increase activity in the rural area. The research was conducted al the Workshop and Post Harvest Laboratory of the Research Institute for Spices and Medicinal Crops, Bogor in April-December 2002. The methods used were designing, constructing and testing, repairing, inal testing and quality analysis. The dryer type was tray dryer with capacity 500 kg for each drying process. Drying chamber was equipped with 40 drying trays. Heating unit used kerosene with consumption rate of 3-6 l/hr. This heating system was equipped with electrical fan blower, which had capacity 102 mVminutc. This fan blower was powered by 2 HP electical motor (1440 RPM, 50 Hz). The methods were designing, constructing, testing, and product quality analysis. The result of sliced ginger drying showed that the 148 drying time to achieve the equilibrium moisture content was 13 hours. The average drying yield was 13.5% and the drying rate was 6.85 kg water/hr. In general, the drying system has drying eiciency of 38.84%. The temperature of drying chamber was 60-70 °C with relative humidity of 20- 25%. The cost analysis showed that the drying cost of resh ginger per kilogram was Rp.l 022 if drying process was carried out manually, while the drying cost using the machine was Rp. 273. This dryer is feasible to be operated by farmers or farmers groups if they arc able to sell the died product at a price not less than Rp. 30 000/kg (by manual slicing) and Rp. 25 000 (by machine slicing). The quantity of fresh ginger at BEP was 70.107 kg/year or 292 kg/day (by manual slicing), while using the slicing machine; the quantity of resh ginger at BEP was 33 357 kg/year or 139 kg/day.Key words: Ginger, simplisia, ginger dryer, manual slicing, machine slicin
FARMERS’ SATISFACTION TOWARD ARRANGEMENT AND PERFORMANCE OF SUGARCANE CONTRACT FARMING IN WONOLANGAN SUGAR MILL, PROBOLINGGO, EAST JAVA
The sugarcane supply chain needs to be efficient and highly coordinated to ensure quality and quantity. Contract farming is an instrument used to achieve efficiency and high coordination of the sugarcane supply chain. The efficiency of contract farming depends on how the contract's arrangement satisfies the requirements and characteristics of each party involved. This study aimed to analyze the arrangement and farmer's satisfaction toward the implementation of contract farming. This study was conducted at PG Wonolangan in Probolinggo, East Java, on March, April, and September 2018. The samples used in this study consisted of 100 sugarcane contract farmers in PG Wonolangan and seven employees of PG Wonolangan. Descriptive and rank Spearman correlation analyses were employed to analyze the arrangement and farmer's satisfaction toward contract farming. The results of this study showed that there was a change in the contractual arrangement between PG and farmers. Currently, the role of PG changed from acting as farm credit and inputs supplier into a market guarantor for farmers; the changes reduced the risk and capital requirements of PG. In general, farmers were satisfied with the implementation of contract farming. The farmers' satisfaction increased as farm extension, scheduled planting and harvesting times, and the quickest harvest and transport management. However, they have concerns regarding farm inputs provision and profit-sharing mechanism.Keywords: Sugarcane agribusiness, correlation analysis, supply chainAbstrakKEPUASAN PETANI TERHADAP POLA DAN KINERJA KEMITRAAN USAHATANI TEBU DI PABRIK GULA WONOLANGAN, PROBOLINGGO, JAWA TIMURRantai pasok agribisnis tebu perlu efisiensi dan keeratan koordinasi yang tinggi untuk menjaga kualitas dan kuantitas gula yang dihasilkan. Kemitraan adalah salah satu cara untuk meningkatkan efisiensi dan koordinasi rantai pasok agribisnis tebu. Efisiensi kemitraan tergantung pada bagaimana pola kemitraan tersebut bisa memuaskan kebutuhan dan karakteristik pihak yang bermitra. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola kemitraan usahatani tebu dan kepuasan petani terhadap kinerja kemitraan. Penelitian dilakukan pada Pabrik Gula (PG) Wonolongan di Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, pada bulan Maret, April, dan September 2018. Responden terdiri dari 100 petani mitra PG Wonolangan dan 7 pegawai PG Wonolangan. Analisis deskriptif dan korelasi rank spearman digunakan untuk menjelaskan pola kemitraan dan kepuasan petani terhadap kemitraan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi perubahan pola kemitraan antara PG dengan petani. PG berubah peran dari yang sebelumnya sebagai pemberi kredit dan input usahatani menjadi penjamin pasar, perubahan ini menurunkan risiko usaha PG serta modal awal yang harus dikeluarkan PG. Secara umum, petani mitra merasa puas dengan kemitraan yang dijalankan PG Wonolangan. Faktor yang memperkuat kepuasan petani adalah adanya bimbingan teknis dari PG, teraturnya jadwal tanam dan panen, serta cepatnya proses tebang dan angkut. Akan tetapi fasilitas saprodi, sistem bagi hasil dan penentuan rendemen dengan sistem hamparan merupakan faktor yang menjadi perhatian petani.Kata kunci : Agribisnis tebu, analisis korelasi, rantai pasok
DIVERSITAS GENETIK TUJUH AKSESI PLASMA NUTFAH PINANG (Areca catechu L.) ASAL PULAU SUMATERA
ABSTRAKAnalisis jarak genetik dilakukan terhadap tujuh populasi pinang(Areca catechu L.), yaitu Sumut-1, Sumut-2, Sumbar-1, Sumbar-2,Sumbar-3, Bengkulu-1 dan Bengkulu-2 hasil eksplorasi pada tahun 1994dan telah dikoleksi di kebun koleksi plasma nutfah palma Kayuwatu,Sulawesi Utara. Tujuan analisis adalah untuk mengetahui seberapa besarjarak genetik antara ke tujuh aksesi pinang sekaligus untukmengelompokkan ketujuh aksesi tersebut. Analisis menggunakan UjiStatistik D 2 dari Mahalanobis, sedangkan untuk pengelompokan populasimenggunakan metode Tocher yang dikemukakan oleh RAO dalam SINGHdan CHAUDARY. Hasil analisis menunjukkan bahwa ketujuh aksesipinang membentuk 4 kelompok yaitu, kelompok I terdiri dari aksesiSumbar-1 dan Sumut-1; kelompok II terdiri dari 3 aksesi yaitu Sumbar-3,Sumut-2 dan Bengkulu-1; kelompok III dan kelompok IV masing-masinghanya terdapat satu aksesi yaitu Sumbar-2 dan Bengkulu-2. Jarak genetikpaling jauh adalah antara kelompok I dan II dengan nilai D 2 = 1263.137.Sementara jarak genetik antar kelompok terdekat adalah antara kelompok Idan III dengan nilai D 2 = 108.587. Penyumbang terbesar terjadinyapengelompokan tersebut adalah karakter jumlah bekas daun.Kata kunci : Pinang, Areca catechu L., populasi, jarak genetik, SulawesiUtaraABSTRACTGenetic diversity of seven arecanut (Areca catechu L.)accessions from Sumatera IslandGenetic divergence analysis has been done on seven arecanut(Areca catechu L.) populations, i.e, Sumut-1, Sumut-2, Sumbar-1,Sumbar-2, Sumbar-3, Bengkulu-1, and Bengkulu-2 explorated in 1994 andhad been collected in Kayuwatu Experimental Garden, North Sulawesi.The purpose of the analysis was to know how far the genetic distanceamong the seven accessions of the arecanut. The analysis used D 2 statisticsof Mahalanobis, while to cluster the population used Tocher Method byRao. The result showed that there are four groups among the sevenaccessions of arecanut. Group I consisted of Sumbar-1 and Sumut-1, groupII consisted of Sumbar-3, Sumut-2, and Bengkulu-1, and both of group IIIand group IV consisted of one accession, namely Sumbar-2 and Bengkulu-2 respectively. The largest genetic distance occurred between group I andgroup II (D 2 = 1263.137) while the smallest genetic distance occurredbetween group I and group III (D 2 = 108.587). Number of leaf scars wasthe largest contribution of the grouping.Key words : Arecanut, Areca catehcu L., population, genetic distance,North Sulawes