Jurnal Penelitian Tanaman Industri
Not a member yet
401 research outputs found
Sort by
PENGARUH PUPUK KISERIT TERHADAP PERTUMBUHAN KELAPA SAWIT DAN PRODUKTIVITAS TANAH
ABSTRAKPerluasan lahan perkebunan kelapa sawit lebih diarahkan padalahan-lahan di luar Pulau Jawa. Lahan yang tersedia bersifat marginalseperti pada tanah Ultisols dan Oxisols. Pada lahan tanah tersebut telahmengalami pencucian yang hebat karena curah hujan yang tinggi sehinggakadar hara Mg rendah. Sumber hara Mg yang banyak digunakan adalahpupuk kiserit (Mg dan S), dolomit (Ca dan Mg) dan pupuk majemuk.Penelitian bertujuan untuk mempelajari peranan pupuk kiserit terhadappertumbuhan dan produktivitas tanah. Penelitian dilakukan di kebunpembibitan Cimulang, Kabupaten Bogor (PTP. Nusantara VIII), padaFebruari – Desember 2005. Tanah yang digunakan untuk penelitian adalahUltisols dan Oxisols. Rancangan menggunakan acak kelompok, 5perlakuan, ulangan 9 kali. Satu perlakuan terdiri dari satu tanaman bibitkelapa sawit. Pupuk Mg yang digunakan adalah kiserit powder 2 Pandadan kiserit yang telah beredar di pasaran sebagai standar. Dosis pupukkiserit yang dicoba: 0; 0,5; 1,0; dan 1,5 g/tanaman. Pupuk kiserit danpupuk dasar diberikan setiap 2 minggu sekali atau 12 kali pemberian.Pemupukan pertama diberikan pada umur 1 minggu, mulai pemupukan ke-2 dosis pupuk dikalikan 2, mulai minggu ke 10 dosis pupuk dikalikan 3,dan mulai minggu ke-18 dosis pupuk dikalikan 4. Contoh tanah bulk darilapang dikeringanginkan, diayak dengan saringan 2 mm, ditimbang 20 kgdan dimasukkan ke dalam polybag. Hasil penelitian menunjukkan bahwapemupukan kiserit pada Ultisols dapat meningkatkan tinggi, jumlah daun,diameter batang, bobot kering tanaman bibit kelapa sawit, serta mening-katkan hara Mg dalam tanah dari 1,25 menjadi 3,04 me/100 g dan kadarMg dalam tanaman menjadi 0,31 g/100 g. Pemupukan kiserit pada Oxisolsmeningkatkan tinggi, jumlah daun, diameter batang, bobot kering tanamanbibit kelapa sawit, serta meningkatkan hara Mg dalam tanah dari 0,28menjadi 2,36 me/100 g dan kadar Mg dalam tanaman menjadi 0,34 g/100g.Dosis optimum pupuk kiserit pada Ultisols dan Oxisols sama yaitu 0,80 g/tanaman. Pengaruh pupuk kiserit terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawitdan produktivitas tanah sama dengan kiserit yang telah beredar di pasaransebagai standar.Kata kunci: Elaeis guineensis, pupuk kiserit, status hara Mg, pertumbuhantanaman, produktivitas tanahABSTRACTThe Effect of Kieserite Fertilizer to Oil Palm Growth andSoil ProductivityThe expansion of oil palm plantation is driven to outside JavaIsland. The available lands are marginal such as Ultisols and Oxisols,where intensive bleaching occurs for the high rate of rainfall, and causesthe low content of magnesium in such land. There are three sources used toprovide the Mg nutrient, such as kieserite (Mg and S), dolomite (Ca andMg) and compound fertilizer. The objective of this experiment was tostudy the effect of kieserite fertilizer on plant growth and soil productivity.This research was conducted in the seedling plot of Cimulang Site, BogorDistrict (PTP. Nusantara VIII) in February- December 2005 on Ultisolsand Oxisols using a randomized complete block design with 5 treatmentsand 9 replicates. One oil palm seedling was planted in each treatment. Thisexperiment used kieserite powder 2 Panda to provide Mg and ordinaryKieserite as the standard. The kieserite dosages were 0, 0.5, 1.0, and 1.5g/plant. Fertilizing the plot was done every 2 weeks, using kieserite andbasic fertilizer or fertilizing 12 times, but the first fertilization was donewhen the plants reached 1 week of age. Starting on the second fertilization,the dosage was multiplied 2 times, and starting on the 10 th week, thedosage was multiplied 3 times, and starting on 18 th week the dosage offertilizing is multiplied 4 times. Bulk soil samples were air-dried, sievedpassing 2 mm siever, and put 20 kg into polybags. The research resultshowed that kieserite fertilization on Ultisols increased plant height,number of leaves, stems (leaf midrib) diameter, dry weight of biomass, Mgnutrient content in the soil (from 1.25 to 3.04 me/100 g), and alsoincreased the plant Mg content to become 0.31 g/100 g. In addition,kieserite fertilization on Oxisols increased plant height, number of leaves,stems (leaf midrib) diameter, plant dry weight of oil palm seedling, Mgnutrient content in the soil, (from 0.28 into 2.38 me/100 g), and increasedplant Mg content into 0.34 g/100 g. The optimum kieserite fertilizingdosage on Ultisols and Oxisols was just the same, i.e. 0.80 g/plant. Theeffect of these two kinds of kieserite to the plant growth and soilproductivity was just almost the same.Key words: Elaeis guineensis, kieserite fertilizer, Mg nutrient status, plantgrowth, soil productivit
PENGARUH VARIETAS DAN POLA TANAM KAPAS TERHADAP KELIMPAHAN POPULASI PREDATOR HAMA PENGISAP DAUN Amrasca biguttula (ISHIDA)
ABSTRAKPenanaman varietas tahan hama adalah salah satu cara pengendalianserangga hama pengisap daun, A. biguttula, yang telah diadopsi petanikapas di Indonesia. Penggunaan varietas tahan hama cukup efektifmenekan serangan hama pengisap ini. Namun demikian, peluang adanyacara pengendalian alternatif patut dipertimbangkan, misalnya memanfaat-kan faktor mortalitas biotik A. biguttula, seperti musuh alami. Penelitianpengaruh varietas dan pola tanam kapas terhadap perkembangan populasipredator hama pengisap daun A. biguttula telah dilakukan di KebunPercobaan Asembagus, Situbondo, dan di laboratorium Entomologi BalaiPenelitian Tanaman Tembakau dan Serat di Malang, mulai Januari sampaiDesember 2005. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruhperbedaan varietas dan pola tanam kapas terhadap perkembangan predatorA. biguttula. Perlakuan terdiri atas dua faktor, yaitu faktor I adalah varietaskapas dengan tingkat ketahanan terhadap A. biguttula berbeda-beda, yaitu:(1) TAMCOT SP37 (peka), (2) Kanesia 7 (moderat), dan (3) LRA 5166(tahan). Faktor II adalah pola tanam kapas, yaitu: (1) monokultur, dan (2)tumpangsari dengan kedelai. Setiap perlakuan disusun secara faktorialdengan rancangan petak terbagi (Split Plot) dengan tiga kali ulangan.Parameter pengamatannya adalah populasi nimfa A. biguttula danpredator. Di laboratorium dilakukan uji pemangsaan terhadap predatorterpilih dengan cara memberi umpan nimfa A. biguttula untuk mengetahuikemampuannya memangsa per hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwaperbedaan tingkat ketahanan varietas terhadap A. biguttula mempengaruhiperkembangan populasi kompleks predator. Lebih banyak predatorditemukan pada TAMCOT SP37 dan Kanesia 7 dibanding pada LRA5166. Sedangkan perbedaan pola tanam tidak menyebabkan perbedaanpopulasi predator. Kapas monokultur maupun tumpangsari dapatmenyediakan lingkungan ideal bagi perkembangan kompleks predator.Laba-laba dan Paederus sp. adalah predator yang populasinya lebihdominan dibanding predator lainnya. Pada uji pemangsaan dilaboratorium, Paederus sp. mampu memangsa 15-25 nimfa A. biguttulainstar kecil dan 10-20 instar besar, sedangkan laba-laba per harimemangsa 2-12 nimfa A. biguttula instar kecil dan besar.Kata kunci: Kapas, Gossypium hirsutum, hama, Amrasca biguttula,Paederus sp., nimfa, mortalitas biotik, varietas, pola tanam,Jawa TimurABSTRACTEffect of variety and cropping pattern of cotton onpopulation density of insect predator Amrasca biguttula(Ishida)Planting resistant variety of cotton is one of cultural method forcontrolling sucking insect pest, A. biguttula. This method has widely beenapplied by cotton farmers in Indonesia. Nevertheless, alternative controlshould also be found to obtain better control of this pest, e.g. biologicalcontrol by using parasitoids and predators. Study on effect of variety andcropping pattern of cotton to population density of insect predator of A.biguttula was carried out at Asembagus Experimental Station and inEntomology Laboratory of Indonesian Tobacco and Fiber Crops Institutein Malang from January to December 2005. The objective of study was tostudy the effect of variety and cropping pattern of cotton to populationdensity of insect predators. Treatment consists of two factors. The firstfactor was cotton variety based on resistance to A. biguttula, viz.TAMCOT SP37, Kanesia 7, and LRA 5166 known susceptible,intermediate, and resistant to A. biguttula, respectively. The second factorwas cropping system with monoculture and intercropping with soybean.Each treatments was arranged in Split Plot Design with three replications.Parameter observed in field study were population of A. biguttula and itspredators. While, the laboratory study was to find out the daily preyability of selected predator by baiting nymph of A. biguttula.The result showed that difference resistance of cotton varietyinfluenced the population density of insect predator. More insect predatorswere found on TAMCOT SP37 and Kanesia 7 compared to LRA 5166,while the density of insect predator was not affected by different croppingpattern and it was due to the patterns provided better environment forinsect predator development. Spider and Paederus sp. were the dominantinsect predators found in the field because their population higher thanthose other predators. Laboratory study showed that Paederus sp. preyed15-25 younger and 10-20 older instar of nymph per day, while spider ate2-12 nymphs of both age of A. biguttula per day.Key words: Cotton, Gossypium hirsutum, pest, Amrasca biguttula,Paederus sp., nymph, biotic mortality, variety, croppingpattern, East Jav
PATOGENISITAS Achaea janata GRANULOSIS VIRUS (AjGV) TERHADAP ULAT PEMAKAN DAUN TANAMAN JARAK KEPYAR
ABSTRAKAchaea janata L. adalah hama penting tanaman jarak kepyar(Ricinus communis) yang hingga kini pengendaliannya masihmenggunakan insektisida kimia secara intensif. Selain tidak efisien,insektisida kimia juga menimbulkan pencemaran lingkungan. Untukmengatasi masalah tersebut, maka perlu cara pengendalian alternatif yangselain efektif dan efisien, juga ramah lingkungan, seperti virus yangdiisolasi dari ulat A. janata (A. janata Granulosis Virus/AjGV). Penelitianpatogenisitas AjGV pada A. janata dilakukan di Laboratorium PatologiSerangga Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas) mulaiJanuari - Desember 2012. Perlakuan terdiri atas enam konsentrasi AjGV,yaitu 10 3 , 10 4 , 10 5 , 10 6 , 10 7 , 10 8 occlusion bodies (OB), dan satu kontrol.Perlakuan disusun dalam Rancangan Acak Kelompok dengan empat kaliulangan. Ulat A. janata yang digunakan adalah instar II, III, IV, dan Vmasing-masing 90 ekor/perlakuan. Parameter yang diamati adalahmortalitas dan bobot ulat, konsentrasi untuk membunuh 50% ulat (LC 50 ),dan waktu untuk membunuh 50% ulat (LT 50 ). Hasil penelitianmenunjukkan bahwa AjGV patogenik terhadap A. janata, terutama ulatinstar II dan III dengan mortalitas berturut-turut 90 dan 86,7%. LC 50 AjGVpada ulat instar II dan III masing-masing mencapai 1,0 x 10 3 dan 1,2 x 10 3OB/ml, dengan LT 50 kedua instar sekitar 3,4-4,2 hari. Pengaruh infeksiAjGV pada ulat A. janata efektif menurunkan bobot ulat hidup 57,9 dan57,4% masing-masing pada ulat instar II dan III. Hasil penelitian inimengindikasikan bahwa sasaran yang tepat untuk pengendalian ulat A.janata dengan AjGV di lapangan adalah pada saat instar II dan III.Kata kunci: Achaea janata L, patogenisitas, instar, mortalitasABSTRACTAchaea janata L. is an important insect pest of castor plant (Ricinuscommunis L.) that was intensively controlled by chemical insecticidecaused inefficiency and an environmental polution. To solve the problemsit needs an effective, efficient and environmental friendly of alternativecontrol, especially using Granulosis Virus isolated from A. janata larvae(AjGV). Study on pathogenicity of A. janata virus isolate against castorleaf-eater, A. janata L. was conducted at Insect Pathology Laboratory ofIndonesia Sweetener and Fibre Crops Research Institute in Malang fromJanuary to December 2012. The objective of study is to test thepathogenicity of AjGV against A. janata larvae. Treatment consists of sixconcentrations of AjGV, viz. 10 3 , 10 4 , 10 5 , 10 6 , 10 7 , 10 8 OBs/ml and onecontrol. Four instars of larvae, e.g. second, third, fourth, and fifth wereused in this study. Each treatments was arranged in Randomized BlockDesign with four replications. Parameter recorded were mortality andweight of larvae, LC 50 , and LT 50 . Result showed that AjGV was pathogenicto A. janata larvae, mainly on second and third instar in resulting of 90%and 86.7% of mortality, respectively. The LC 50 of AjGV on the second andthird instar was 1.0 x 10 3 and 1.2 x 10 3 OB/ml, respectively and the LT 50was 3.4 and 4.2 days, respectively. Infection of A. janata virus reducedthe weight of both instar up to 57.9% and 57.4%, respectively. This resultindicated that the second and third was the suitable instars of A. janatalarvae for better control of AjGV in field.Key word: Achaea janata L, pathogenicity, instar, mortalit
KERAGAMAN GENETIK, HERITABILITAS DAN KORELASI ANTAR KARAKTER KUANTITATIF NILAM (Pogostemon sp.) HASIL FUSI PROTOPLAS
ABSTRAKFusi protoplas merupakan salah satu alternatif yang dapat dilakukanuntuk meningkatkan keragaman genetik pada tanaman nilam. Pendugaanparameter genetik nilam hasil fusi protoplas nilam Jawa (Girilaya) dengannilam Aceh (Sidikalang dan TT 75) adalah penting dalam programpemuliaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keragaman genetik,heritabilitas, korelasi fenotipik dan genotipik beberapa karakter kuantitatifhibrida somatik nilam hasil fusi protoplas. Penelitian dilakukan di KP.Cimanggu Balittro dari bulan Juli-Desember 2004. Rancangan percobaanyang digunakan adalah rancangan acak kelompok dengan 33 genotipeyang terdiri dari 3 tetua dan 30 klon hibrida somatik sebagai perlakuan dandiulang dua kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah cabangprimer, jumlah daun per cabang primer dan tebal daun mempunyaikeragaman genetik yang sempit, sedangkan tinggi tanaman, panjangcabang primer, jumlah dan panjang cabang sekunder, panjang dan lebardaun, panjang tangkai daun, produksi terna basah dan kering keragamangenetiknya luas. Heritabilitas tinggi tanaman, panjang cabang primer,panjang cabang sekunder, panjang dan lebar daun, panjang tangkai daun,produksi terna basah dan kering bernilai tinggi. Sedangkan karakter jumlahcabang primer, jumlah cabang sekunder, jumlah daun per cabang primerdan tebal daun bernilai heritabilitas rendah sampai sedang. Sebagian besarkarakter yang diamati memiliki keragaman genetik luas dan heritabilitastinggi, kecuali jumlah cabang primer, jumlah daun per cabang primer dantebal daun. Korelasi fenotipik dan genotipik positif dan nyata terhadapproduksi terna kering ditunjukkan oleh karakter tinggi tanaman, jumlahcabang primer, panjang cabang sekunder, panjang dan lebar daun, panjangtangkai daun serta produksi terna basah.Kata kunci: Pogostemon sp., fusi protoplas, parameter genetikABSTRACTGenetic variability, heritability, and correlation among quantitativecharacters of patchouli (Pogostemon sp.) derived from protoplastfussionProtoplast fussion is one of the alternatives for increasing geneticvariability of patchouli. Study to estimate genetic parameters of somatichybrids of Pogostemon heyneaneus (cv. Girilaya) x P. cablin (cv.Sidikalang and TT 75) is important in breeding program. Study on geneticvariability, heritability, phenotypic and genetic correlation for somequantitative characters of somatic hybrids of patchouli derived fromprotoplast fussion was conducted in Cimanggu Experimental Garden fromJuly to December 2004. The experiment was arranged in a randomizedcomplete block design with two replications using 33 genotypes consistingof three parents and 30 somatic hybrids as treatments. Results of thisexperiment showed that number of primary branches, number of leaves onprimary branches, and thickness of leaves indicated narrow geneticvariability, while plant height, length of primary branches, number andlength of secondary branches, length and width of leaves, leaf petiolelength, fresh and dry leaves production indicated wide genetic variability.Plant height, length of primary branches, number and length of secondarybranches, length and width of leaves, leaf petioles length, fresh and dryleaves production showed high heritability values. Meanwhile, thecharacters of number of primary and secondary branches, number ofleaves on primary branches and thick of leaves showed moderate to lowheritability values. Most characters observed showed wide geneticvariability and high heritability, except for number of primary branches,number of leaves on primary branches, and thick of leaf. Phenotypic andgenotypic correlations between plant height, number of primary branches,length of secondary branches, length and width of leaves, leaf petiolelength and fresh leaves production with dry leaves production werepositive and significant.Key words: Pogostemon sp., protoplast fussion, genetic parameter
PENGARUH SISTEM PENANAMAN TERHADAP PRODUKSI BENIH G0, G1, DAN G2 BEBERAPA VARIETAS TEBU UNGGUL HASIL KULTUR JARINGAN
ABSTRAKPenyediaan benih tebu berdaya hasil tinggi memegang perananpenting dalam mendukung pencapaian program swasembada gula.Produksi benih tebu melalui teknologi kultur jaringan merupakan salahsatu alternatif untuk menyediakan benih bermutu secara masal denganwaktu yang cepat. Salah satu bagian penting dalam program produksibenih tebu adalah penanganan benih hasil kultur in vitro menjadi benihproduksi di lapangan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan metodepenanaman benih primer (G0), sekunder (G1), dan komersial (G2) daribeberapa varietas tebu hasil kultur in vitro. Penelitian dilakukan di tigalokasi, yaitu Kebun Percobaan Cibinong-Bogor, Ngemplak-Pati, danKlari-Karawang. Percobaan terdiri atas tiga kegiatan: (1) pengaruh mediatumbuh terhadap pertumbuhan plantlet, (2) pengaruh jarak tanam terhadapproduksi benih G1, dan (3) pengaruh jarak tanam terhadap produksi benihG2. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Acak Kelompok,dengan perlakuan pada percobaan pertama adalah media dan tempataklimatisasi, pada percobaan kedua dan ketiga berupa jarak tanam danvarietas. Parameter pengamatan meliputi persentase tumbuh, jumlahbatang per rumpun, jumlah buku, diameter batang, dan tinggi tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan polibag dan pot tray merupakan cara terbaik untuk aklimatisasi tebu. Jarak tanam terbaik benihG0 dan G1 varietas PS864 dan SS-57 di KP Cibinong adalah 60 cm × 40cm yang dapat memproduksi budset G1 masing-masing 1,72 dan 1,93 jutaper ha dan benih G2 masing-masing 0,9 dan 1,01 juta per ha. Produksibudset G2 PS864 di Klari pada jarak tanam yang sama menghasilkan 1,94juta per ha, sedangkan produksi budset G2 varietas PS881 dan KidangKencana di KP Ngemplak masing-masing mencapai 2,02 dan 2,18 juta perha. Sementara itu, produksi terbanyak benih G2 varietas Bulu Lawang danPS862 di KP Ngemplak dihasilkan pada perlakuan jarak tanam 100 cm ×20 cm masing-masing sebanyak 2,44 dan 1,41 juta per ha. Produktivitasbenih tebu hasil kultur jaringan dipengaruhi oleh jarak tanam, lokasipenanaman, dan varietas tanaman.Kata kunci: tebu, benih unggul, kultur jaringan, jarak tanam, benih G0,G1, G2
KOMBINASI PUPUK NPK DAN PUPUK KANDANG DALAM MENINGKATKAN PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI ASIATIKOSIDA TANAMAN PEGAGAN
ABSTRAKPenelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari pupukkandang dan NPK terhadap pertumbuhan dan produksi asiatikosida.Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Gunung Putri, Cipanas,Kabupaten Cianjur mulai dari bulan Mei 2009 sampai dengan Januari2010. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak kelompokdengan dua faktor dan diulang 3 kali. Faktor A tanpa , 0,25, 0,50, 0,75 dan1,00 dosis rekomnedasi NPK (kg/ha). Faktor B tanpa, dan 30 t pupukkandang/ha. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi pupuk NPK1,00 rekomendasi dan pupuk kandang sebanyak 30 t/ha meningkatkanpertumbuhan dan produksi asiotikosida secara signifikan (5,12 g/m 2 ).Produksi asiatikosida tersebut tidak berbeda nyata dengan 0,5 dan 0,75dosis rekomendasi NPK/ha tanpa menggunakan pupuk kandang dan 0,5dosis rekomendasi NPK/ha + pupuk kandang 30 t/ha dan memilikikandungan asiatikosida (standar >MMI =0,90). Pemupukan maksimum 0,5dosis rekomendasi NPK/ha atau pupuk kandang meningkatkan produksiasiatikosida, akan tetapi pemberian pupuk kandang saja tidak mempe-ngaruhi kandungan asiatikosida. Interaksi antara pupuk NPK dan pupukkandang secara umum meningkatkan pertumbuhan dan hasil asiatikosida.Keuntungan tertinggi 79,82 and 30,81% (B/C ratio 0,17 dan 0,14)didapatkan dari kombinasi 1,00 dan 0,75 dosis rekomendasi NPK/ha +pupuk kandang sebanyak 30 t/ha.Kata kunci : Asiatikosida, pegagan, pupuk NPK, pupuk kandang, datarantinggiABSTRACTCombination NPK Fertilizer and Manure Application toincrease growth and Asiaticoside Production of IndianPennyworthThe aim of the research was to identify the effect of combination ofcow manure and NPK fertilizer application on the growth and asiaticosideproduction of Indian Pennyworth (Centella asiatica L. Urban) of BoyolaliCASI 016 accession. The research was conducted from May 2009 untilJanuary 2010, at The Institute of Plant Medicine and Aromatic ResearchStation of Indonesian Medicinal and Aromatic Research Institute inGunung Putri, Cipanas, Cianjur Residence. The research used randomizedcomplete block design with two factors. The A factor were without NPK,0.25, 0.50, 0.75 and 1.00 NPK recommendation dosage/ha. The NPKrecommendation dosage is 135 kg N/ha, 60 kg P 2 O 5 /ha and 132 kgK 2 O/ha. The B factors were without cow manure and 30 t cow manure/ha,with 3 replicates. Research result showed that combination of 1.00 NPKrecommendation dosage/ha and 30 t/ha cow manure significantly increasedgrowth and asiaticoside production (5.12 g/m 2 ). This asiaticosideproduction was not different with 0.50 and 0.75 recommendation NPKdosage/ha without cow manure, and 0.50 NPK recommendation dosage/ha+ 30 t cow manure/ha, and have high asiaticoside content (>MMI standard= 0.90). NPK fertilizer (maximum at 0.50 recommen-dation NPKdosage/ha) or cow manure increased growth and asiaticoside production,but cow manure did not affect asiaticoside content. Interaction betweenNPK and cow manure generally increased growth and yield ofasiaticoside. High profit 79.82 and 30.81% (B/C ratio 0,17 and 0,14) wasfound at combinations 1.00 and 0.75 NPK recommendation dosage/ha +cow manure 30 t/ha.Key words : Asiaticoside, Indian Pennyworth, NPK fertilizer, cowmanure, and high altitud
POTENSI PRODUKSI DAN MUTU SERAT PADA GALUR-GALUR F1 HASIL PERSILANGAN INTERSPESIES KAPAS TETRAPLOID
ABSTRAKPersilangan interspesies kapas tetraploid antara G. hirsutum danG. barbadense dilakukan untuk memperbaiki mutu serat G. hirsutum.Penelitian dilakukan dengan menguji 16 galur F1 hasil persilanganinterspesifik kapas tetraploid, 8 varietas tetua betina dari kelompokG. hirsutum (Kanesia 9, Kanesia 10, Kanesia 11, Kanesia 12, Kanesia 14,dan Kanesia 15), dan 2 varietas tetua jantan dari kelompok G. barbadense(Pima dan Giza 90). Penelitian disusun dalam rancangan acak kelompokyang diulang dua kali, dengan luas plot 50 m 2 dan jarak tanam 100 x 25cm 2 . Percobaan dilaksanakan di Asembagus dari bulan Januari sampaidengan Desember 2009. Pengamatan dilakukan terhadap komponenproduksi, produksi, dan mutu serat. Hasil penelitian menunjukkan bahwaproduktivitas galur-galur F1 hasil persilangan interspesies kapas tetraploidberkisar antara 1.495-2.602,50 kg kapas berbiji/ha dan kandungan seratantara 30,14 – 38,66%. Galur F1 yang tertinggi produktivitasnya adalah P08019 (Kanesia 10 x Pima), sedangkan galur yang tertinggi kandunganseratnya adalah P 08032 (Kanesia 13 x Pima). Heterosis produksi kapasberbiji atas rerata kedua tetua pada galur-galur F1 berserat panjang hasilpersilangan interspesies kapas tetraploid cukup luas kisarannya yaitu dari-20,60 sampai 35,47. Galur-galur F1 hasil persilangan interspesies kapastetraploid memiliki kehalusan, kekuatan dan panjang serat yang lebih baikdibandingkan tetua betinanya (G. hirsutum). Limabelas dari 16 galur F1memiliki kehalusan serat yang berada dalam kisaran 3,5 – 4,9 mic.Perbaikan genetik 15 galur F1 tersebut untuk kekuatan serat adalah 7,34 -72,88%, sedangkan untuk karakter panjang serat mencapai 8,94 – 34,58%.Terdapat korelasi negatif antara potensi produksi dan kekuatan serat, jugaantara kehalusan serat dengan kekuatan dan panjang serat.Kata kunci : G. hirsutum, produksi, mutu serat, persilangan interspesies,tetraploidABSTRACTYield and Fiber Properties of F1 Lines Resulted fromInterspecific Hybridisation of Tetraploid CottonInterspecific hybridisation of tetraploid cotton between G. hirsutumand G. barbadense aiming to improve fiber properties of G. hirsutum wascarried out in Asembagus from January through December 2009.Experiment was testing 16 F1 interspecific cotton lines, eight G. hirsutumvarieties of female parents (Kanesia 9, Kanesia 10, Kanesia 11, Kanesia12, Kanesia 14, dan Kanesia 15), and two G. barbadense varieties of maleparents (Pima dan Giza 90). The experiment was arranged in randomizedblock design with two replicates; plot size was 50 m 2 and planting spacewas 100 x 25 cm 2 . Parameters observed were yield components, yield, andfiber properties. Experiment result showed that yield of F1 lines resultedfrom interspecific hybridisation of tetraploid cotton ranged 1,495 –2,602.50 kg seed cotton/ha with gin turnout of 30.4 – 38.66%. Line P08019 (Kanesia 10 x Pima) was the best yielding line, whereas lineP 08032 performed the highest gin turn. Heterosis of yield overmid parentsof each line ranged from -20.60 to 35.47. F1 lines resulted frominterspecific hybridisation of tetraploid cotton have better fiber fineness,strength, and length as compared to their female parents. Fifteen out of 16F1 line have fiber finess of 3.5 - 4.9 mic. The F1 lines showed geneticimprovement of fiber strength by 7.34 - 72.88% and of fiber length by 8.94- 34.58%. A negative correlation was observed between yield and fiberstrength, as well as between fiber fineness and fiber strength and length.Key words : G. hirsutum, production, fiber value, interspecifichibdridisation, tetraploi
RESPON TEMULAWAK (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) HASIL RIMPANG KULTUR JARINGAN GENERASI KEDUA TERHADAP PEMUPUKAN
ABSTRAKPenelitian mengenai respon temulawak hasil rimpang kulturjaringan generasi kedua terhadap pemupukan telah dilaksanakan di lahanpetani Sumur Wangi, Kecamatan Tanah Sareal, Bogor dari bulan Oktober2002 sampai bulan September 2003. Bahan tanaman yang digunakansebagai benih adalah rimpang induk temulawak hasil kultur jaringangenerasi kedua. Perlakuan yang diuji adalah : (1) tanpa pupuk (kontrol),(2) pupuk kandang kambing 1 kg/tanaman, (3) pupuk kandang kambing 2kg/tanaman, (4) pupuk kandang kambing 1 kg/tanaman + pupuk buatanyaitu urea 2 g/tanaman, SP-36 1,8 g/tanaman dan KCL 2,7 g/tanaman dan,(5) pupuk kandang kambing 2 kg/tanaman + pupuk buatan urea 2g/tanaman, SP-36 1,8 g/tanaman dan KCL 2,7 g/tanaman. Rancangan yangdigunakan adalah rancangan acak kelompok dengan tiga ulangan. Setiapulangan terdiri atas sepuluh tanaman. Jarak tanam yang digunakan adalah60 cm x 60 cm. Parameter yang diamati adalah persentase tumbuh, jumlahanakan, tinggi tanaman, jumlah daun, panjang dan lebar daun serta lingkarbatang pada umur empat bulan, bobot rimpang per tanaman, panjang, lebardan diameter rimpang, jumlah rimpang induk serta analisa mutu yangmeliputi kadar air, kadar minyak atsiri dan kurkumin pada umursembilan bulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah anakan,tinggi tanaman, jumlah daun dan panjang daun tidak dipengaruhi olehaplikasi pemupukan. Respon tanaman terhadap aplikasi pemupukanberpengaruh terhadap parameter lebar daun dan lingkar batang.Selanjutnya pemupukan berpengaruh nyata terhadap berat rimpang,panjang rimpang, lebar rimpang serta jumlah rimpang induk namuntidak berpengaruh terhadap diameter rimpang. Kandungan kurkuminpaling tinggi diperoleh pada perlakuan tanpa pemupukan.Kata kunci : Temulawak, Curcuma xanthorrhiza, kultur jaringan,pemupukan, pertumbuhan, produksi, mutu, Jawa BaratABSTRACTResponse of Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.)derived from rhizome in vitro of the second generation tofertilizer aplicationThe experiment was conducted to study the response of temulawakderived from rhizome in vitro of the second generation to fertilizerapplication. It was carried out in a farmer field at Sumur Wangi, Bogorfrom October 2002 to September 2003. Plant materials used were obtainedfrom in vitro rhizome of the second generation. Treatments tested werefive level of manure fertilizer and artificial fertilizer : (1) without fertilizer(control), (2) stable manure 1 kg/plant, (3) stable manure 2 kg/plant, (4)stable manure 1 kg/plant + artificial fertilizer i.e urea 2 g/plant, SP-36 1.8g/plant and KCL 2.7 g/plant and (5) stable manure 2 kg/plant + artificialfertilizer i.e urea 2 g/plant, SP-36 1.8 g/plant and KCL 2.7 g/plant. Theexperiment was designed using a randomized block design with threereplications, ten plants per replication. Plant spacing was 60 cm x 60 cm.The parameters observed were growth percentage, number of tillers, plantheight, number of leaves, length and width of leaves, stem coil at fourmonths of age, rhizome weight, length and width, rhizome diameter andnumber of main rhizomes. In addition, quality analysis was also conductedon water, essential, oil and curcumin content, nine months of age. Resultshowed that fertilizer treatment did not significantly increase the numberof tillers, plant height, leaf number, rhizome length and diameter comparedwith without fertilizer, but it significantly increased the leaf width, stemcoil, rhizome weight, length and width and also the number of mainrhizomes. The highest curcumin content was achieved by those withoutfertilizer treatment.Key words : Temulawak, Curcuma xanthorrhiza, tissue culture, fertilizerapplication, growth, yield, quality, West Jav
PENGARUH PUPUK ORGANIK TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI KATUK (Sauropus androgynus (L) Merr)
Daun kaluk (Sauropus androgynus (I.) Merr) banyak dikonsurnsi sebagai sayuran yang horkhasial dapal meningkatkan produksi dan kualitas air susu ibu (ASI), Kim ekstrak simplisia daun kaluk telah diproduksi dan dipasarkan perusahaan farmasi dan jamu dalam ramuan pelancar ASI .Adanya peningkatan permintaan kaluk untuk sayuran dan produksi ramuan ASI sebaiknya pengembangannya didukung teknologi budidaya tepat guna yang memadai agar dapat diperoleh hasil yang bcmiutu dengan produktivitas tinggi Komponen teknologi pemupukan organik menipakan salah satu altematif yang dipandang dapat mencapai tujuan tersebut. Penelitian pemupukan dengan pupuk kandang Iclah dilakukan di pertanaman katuk umur tiga tahun milik petani di Desa Cilendek Timur. Kecamatan Semplak Kabupaten Hogor, pada Marel sampai Juni 1998. I ujuan penelitian adalah unluk mendapatkan komponen tcknologi dosis pemberian pupuk kandang yang dapal meningkatkan pertumbuhan tanaman. hasil panen pangkasan, hasil daun dan kandungan protein Klon kaluk yang digunakan adalah klon baslar yang ditanam pada hedengan Perlakuan terdiri atas sembilan dosis pupuk kandang, masing-masing dalam kg. plot adalah ,0 (kontrol), 1.8, 3.6, 5.4, 7.2, 9.0. 10.8. 12.6 dan 14.4 atau setara 0, 5, 10, 15, 20, 25, 30, 35 dan 40 ton ha dengan memakai rancangan acak kelompok, diulang tiga kali. Pupuk kandang yang sudah lerdekomposisi dengan baik diberikan secara merata pada setiap plot lanaman I'aiienan dilakukan dengan memangkas lanaman 10 1 5 cm dan atas lanah selang 40 42 hari sekali. Sebelum percobaan dimulai. lanaman dipangkas lebih dahulu Hasil pencliuan menunjukkan bahwa dosis 5 4 kg plot pada panen pertama dan ketiga hanya berpengaruh terhadap komponen pertumbuhan linggi lanaman. Pada panen petama dosis 10.8 kg/plot nyata memberikan rataan per tanaman hasil pangkasan tertinggi (38.64 g) Pengaruh pupuk kandang selanjutnya nyata pada panen ketiga, hasil tertinggi dicapai pada dosis 5.4 kg plot baik untuk hasil pangkasan segar (48.79 g), dan daun segar (27 43 g). Jumlah hasil tertinggi dan liga kali panen secara nyata juga dicapai pada dosis 5.4 kg plot terhadap hasil pangkasan kering (42.79 g) serta daun kering (5.05 g). Kandungan protein daun nyata lebih linggi (37.83 -41.29 %) pada perlakuan dengan pupuk kandang, dibandingkan dengan kontrol (33.50%). Hasil analisis rcgresi dosis pupuk kandang dengan kandungan protein daun berbentuk persamaan kuadratik y=34.8372 + 1.2977x 0.0664X2 Hasil maksimum dapat dicapai pada dosis 9.76 kg/plot.Katakunci : Sauropus androgynus, pupuk kandang, hasil pangkasan. hasil daun. kandungan protein ABSTRACT Effect of manure on growth and yield of katuk (Sauropus androgynus L. Merr)Katuk leaves (Sauropus androgynus L. Merr,) are used as vegetable which have beneficial effect on stimulating the production of breast milk during lactation periode. Nowadays katuk extract has been produced and put on the market by pharmaceutical and jamu (traditional medicine) companies. The high demand of kaluk boOi for vegetable and pharmaceutical product should be supported by adequate cultivation technology, to obtain high quality and yield of kaluk. Organic fertilizers such as farmyard manure (FYM) is one of Uic alternatives to achieve the goal. A field trial using randomized block design, with nine treatments of FYM dosage, 0 (control), 1.8 kg/plot (5 ton/ha), 3.6 kg/plot (10 ton/ha), 5.4 kg/plot (15 ton/ha). 7 2 kg/plot (20 ton/ha), 9.0 kg/plot (25 ton/ha), 10.8 kg/plot (30 ton/ha), 12.6 kg/p(oI (33 Ion/ha) dan 144 kg/plot (40 tonlia), Uiree replication was carried out from March to Juni 1998, on larmer's kaluk plantation in fast Cilendek village, Semplak, Bogor. For the beginning of the trial, formerly katuk was pruned, and then a well decomposed 1 YM was broadcasted on each plot between plant rows Harvesting was done at an interval lime of 40 42 days by pruned lop part of the green lealy stem 10 1 5 cm above the soil surface Results showed only plant height as one of growth components was significantly influenced by the application of 5 4 kgplot I YM plot at the first harvest The highest significant yield of fresh green leafly steins (38 64 g per plant), was given by a 10 8 kgplot treatment al die first harvest, and then at the third harvest (48 79 g) of fresh green leafly stems and (27.43 g) of fresh leaf yield respectively, Ihe highest yield from three limes of harvest, was produced from the plots applied with 5.4 kg'plot for, dry basis (42 79 g) leafly stems, and dry leaf (5.05 g) Prolein content of the leaf signilicanly were higher (37 83 41.29 %), on FYM treatment lhan control (33 50 0/o). The regression equation between dosage of FYM with Icar protein conten( was y 34 8372 I 1.2977x 0.0664X2 Maximum prolin conlcnl can be obtained by a 9 76 kgplot.Key words : Sauropus androgynus. farmyard manure, yield, leaf, protein conten
PENGARUH PEMOTONGAN BUNGA, PUCUK DAN PENGHENTIAN PENAMBAHAN CAHAYA PADA TANAMAN MENTHA (Mentha piperita L.)
ABSTRAKPenelitian bertujuan mengkaji pengaruh pemotongan bunga, pucukdan penghentian pencahayaan pada tanaman M. piperita L. Penelitiandilakukan di Instalasi Penelitian Lembang, Balai Penelitian TanamanRempah dan Obat, Jawa Barat, dari bulan Januari sampai Juli 2000, dalamdua tahap : tahap pertama membuat variasi lingkungan cahaya dan habitustanaman, dan tahap kedua penyulingan dan analisis komponen minyakdengan kromatografi gas spektrometer massa. Penelitian menggunakantanaman yang tidak berbunga akibat panjang hari normal dan tanamanberbunga akibat penambahan cahaya empat jam, pukul 18.00-22.00 mulaiumur 30 hari. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok 5perlakuan, yaitu B 0 (tanaman berbunga dibiarkan), B 1 (tanaman berbungadipotong bunganya), B 2 (tanaman berbunga diletakkan pada kondisinormal), B 3 (tanaman tidak berbunga dibiarkan), dan B 4 (tanaman tidakberbunga dipotong pucuk). Hasil penelitian menunjukkan bahwapemotongan bunga meningkatkan mentol dan menekan menthofuran.Penghentian penambahan cahaya 4 jam pada tanaman berbungamenjadikan tanaman merunduk, kadar mentol menurun dan menthofuranmeningkat. Pemotongan pucuk dapat menurunkan kandungan mentol danmeningkatkan kandungan menthofuran.Kata kunci : Mentha, Mentha piperita L., pemotongan bunga, pucuk,pencahayaan, kandungan mentol, kandungan menthofuranABSTRACTThe effect of inflorescent pinching , bud pinching, andnormal light period on peppermint (Mentha piperita L)Experiment on the effect of pinching the inflorescent, pinching thebud, and normal light period on peppermint (Mentha piperita L) wascarried out at the experimental garden Lembang of Research Institute forSpice and Medicinal Crops, West Java, from January to July, 2000. Thestudy was conducted with two steps i.e. The first step was manipulation ofphoto period using TL lamps and the second step was distillation andanalisis of peppermint oil from their products with gas chromatographyand mass spectrometry. The experiment, 5 treatments were given i.e.using long day treated plants, 3 treatments are given i.e. control, pinchingthe inflorescent and with holding light supplement (four hours lightsupplement at the age of 30 days), and using control plants, 2 treamentsare given i.e. no pinching and pinching of terminal bud (control or normallight period). The result showed that pinching the inflorescent elevate thementhol and reduce the menthofuran content. Pinching the bud of nonflowering plants can reduce the menthol and increase the menthofurancontent.Key words : Peppermint, Mentha piperita L, inflorescent pinching, bud,pinching, light period, menthol content, menthofuran conten