Jurnal Penelitian Tanaman Industri
Not a member yet
    401 research outputs found

    EKOBIOLOGI NEMATODA HAWAR DAUN (Aphelenchoides fragariae) PADA TANAMAN SAMBILOTO (Andrographis paniculata)

    Get PDF
    ABSTRAKNematoda hawar daun (Aphelenchoides fragariae) merupakan salahsatu kendala dalam budidaya tanaman obat sambiloto (Andrographispaniculata). Informasi tentang perilaku dan cara pengendalian nematodapada tanaman sambiloto masih sangat terbatas. Dalam rangka mencari carapengendalian nematoda yang efektif, maka penelitian ini bertujuan untukmengetahui ekobiologi nematoda tersebut seperti kisaran inang, sumberinokulum, dan pestisida. Penelitian dilakukan di laboratorium, rumah kaca,dan kebun percobaan Balittro pada tahun 2006-2008. Studi kisaran inangalami dilakukan dengan mengamati karakteristik gejala khas penyakit,ekstraksi, dan karakterisasi morfologi nematoda dari sampel daun-daungulma yang tumbuh di pembibitan dan pertanaman sambiloto. Studi sum-ber penularan nematoda dilakukan dengan metode bioassay, yaitu denganmengamati gejala hawar daun dan jenis nematoda pada bibit sambilotoyang ditanam pada beberapa macam media tumbuh (tanah steril dicampurdengan beberapa macam jenis bahan organik seperti pupuk kandang,kompos, pupuk organik, dan potongan daun-daun sambiloto sakit).Sedangkan studi sensitivitas nematoda terhadap pestisida sintetik dannabati dilakukan di rumah kaca dan di lapang. Hasil penelitian menun-jukkan bahwa 6 jenis gulma, yaitu babadotan (Ageratum conyzoides),pulus hayam (Acalypha lanceolata), calincing (Oxalys sepium), gulmaBorreria sp., gulma daun sirih (Lindernia sp.), dan paku (Pleocnemia sp.)merupakan inang pengganti nematoda A. fragariae. Bahan organik sepertipupuk kandang dan serasah daun sambiloto sakit dalam tanah merupakansumber penting inokulum A. fragariae, tetapi penyebaran utama penyakitterjadi melalui bibit terinfeksi dan kontak fisik antara daun sakit dengandaun sehat. Perkembangan penyakit hawar daun berlangsung selama 2-4minggu setelah infeksi pertama. Senyawa karbofuran (2-5 g/tanaman),CNSL (cashew nut shell liquid) (0,5-1,0%), tepung (10,0-15,0 g/tanaman),dan ekstrak biji mimba (0,5-1,0%) efektif menekan populasi A. fragariae.Penanaman bibit sehat, sanitasi kebun, penggunaan pupuk kandang yangbenar-benar matang, dan aplikasi pestisida merupakan faktor pentingdalam pengendalian penyakit hawar daun nematoda pada sambiloto.Kata kunci: Andrographis paniculata, sambiloto, nematoda hawar daun,Aphelenchoides fragariae, ekobiologiABSTRACTBioecology of Leaf Blotch Nematode (Aphelenchoidesfragariae) on King of Bitter Plant (Andrographispaniculata)Leaf blotch nematode (Aphelenchoides fragariae) is one of the mostimportant constrains on cultivation of king of bitter plant (Andrographispaniculata). Information on the bioecology and control method of thenematode is still limited. In relation to finding an effective control methodof the nematode, this study aimed to evaluate several bioecological factorsof the nematode, such as its host range, inoculums source, and sensitivityof the nematode to several chemicals. The studies were conducted inlaboratory, green house, and experimental station of the IndonesianMedicinal and Aromatic Crops Research Institute in 2006-2008. Naturalhost range of the nematode was studied by examining the typical diseasesymptoms on leaves of several weeds grown in the nursery and field of theking of bitter plants, followed with extraction and morphologicalexamination of nematodes. Infection source of the nematode was carriedout by bioassay method using healthy king of bitter seedlings grown onsoil planting medium incorporated with suspected infection sources suchas animal manure, compost, organic fertilizer, and diseased leaf cutting ofthe plants. Sensitivity of the nematode to several pesticides (carbofuran,neem seed powder, neem seed extract, and cashew nut shell liquid) wasconducted in the green house and field. The results showed that six weedssuch as Ageratum conyzoides, Acalypha lanceolata, Oxalys sepium,Borreria sp., Lindernia sp., and Pleocnemia sp. grown in the nursery andfield of king of bitter plantation were infected with the nematode; thereforethese plants are natural alternate hosts of A. fragariae. Organic animalmanure and infected fallen leaves of the king of bitter were importantsources of inoculums of A. fragariae, however, main spread of the diseasewas through infected seedlings and direct contact between healthy andinfected leaves. Leaf blotch disease development occurred 2-4 weeks afterfirst infection. Chemicals such as carbofuran (2-5 g/plant), cashew nutshell liquid (0.5-1.0%), neem seed powder (10.0-15.0 g/plant) and extract(0.5-1.0%) were effectively suppressed the nematode. Planting disease-free seedlings, sanitation, and application of well-decomposed animalmanure and certain chemical pesticides are important factors to control theleaf blotch nematode on king of bitter plant.Key words: Andrographis paniculata, king of bitter, leaf blotchnematode, Aphelenchoides fragariae, bioecology

    PENGARUH TINGGI MUKA AIR SALURAN DRAINASE, PUPUK, DAN AMELIORAN TERHADAP EMISI CO 2 PADA PERKEBUNAN KELAPA SAWIT DI LAHAN GAMBUT

    Get PDF
    ABSTRAKDrainase yang berlebihan dan penggunaan pupuk yang intensifdiduga menjadi penyebab tingginya emisi gas rumah kaca (GRK) padaperkebunan kelapa sawit di lahan gambut. Penelitian ini bertujuan untukmempelajari pengaruh tinggi muka air (TMA) saluran drainase, pupuk,serta amelioran terhadap emisi CO 2  dari perkebunan kelapa sawit di lahangambut. Penelitian dilakukan dari bulan Januari 2010 sampai denganDesember 2011, pada perkebunan sawit di lahan gambut, di KecamatanSiak Kecil, Kabupaten Bengkalis, Riau, menggunakan rancangan petakterpisah, tiga ulangan. Petak utama adalah TMA saluran drainase (40, 60,dan 80 cm). Anak petak adalah pupuk dan amelioran: (1) dolomit 3kg/pohon/tahun; (2) Pugam 10 kg/pohon/tahun; (3) Pupuk dosisrekomendasi (2,5 kg urea+2,75 kg SP-36+2,25 kg KCl+dolomit 2kg)/pohon/tahun; (4) Pupuk 75% dosis rekomendasi pukan 20kg/pohon/tahun; (5) Pupuk 75% dosis rekomendasi Pugam 2,5 kg/pohon.Parameter yang diamati adalah fluks CO 2 . Hasil penelitian menunjukkanbahwa pada TMA drainase 80 cm, perlakuan dolomit menghasilkan fluksCO 2 nyata paling tinggi (142,1 t/ha/tahun) dan terendah (44,5 t/ha/tahun)dicapai perlakuan pugam. Fluks CO 2 yang tinggi (130,6 t/ha/tahun) jugadicapai perlakuan pupuk dosis rekomendasi, khususnya pada TMA 40 cm.Pada musim kemarau TMA drainase berpengaruh nyata terhadap fluksCO 2 , terendah dicapai TMA 40 cm. Oleh karena itu, untuk meminimalkanemisi gas CO 2 , maka TMA drainase perlu dipertahankan sedangkalmungkin (sekitar 40 cm) selama tidak menurunkan produksi kelapa sawit.Amelioran dengan bahan aktif kation polyvalen berpotensi dapat menekanemisi GRK dari lahan gambut yang dikelola secara intensif.Kata kunci: amelioran, emisi, drainase, gambut, kelapa sawit, pupukABSTRACTExcessive drainage and intensive use of fertilizers thought to bethe cause of high greenhouse gas emissions in peatland under oil palmplantations. The study aimed at measuring the influence of water leveldrainage (WLD), fertilizer, and ameliorant on CO 2 emissions from oilpalm plantations on peatland. The study was conducted from January2010 to December 2011, at oil palm plantation on peatland, located in SiakKecil District, Bengkalis Regency, Riau, using split plot design, with threereplications. The main plot were WLD (40, 60, and 80 cm), as sub plotswere fertilizer and amelioran: (1) dolomite 3 kg/tree/year; (2) peatfertilizer 10 kg/tree/year; (3) dose of fertilizer recommendations (2,5 kgurea+2,75 kg SP-36+2,25 kg KCl+dolomite 2 kg)/tree/year; (4) 75% doseof fertilizer recommendations + manure 20 kg/tree/year; (5) 75% dose offertilizer recommendations + peat fertilizer 2.5 kg/tree/year. Parameterobserved was CO 2 flux. The result showed that at WLD 80 cm, dolomitetreatment resulted the highest (142,1 t/ha/year) and the lowest CO 2  flux(44,5 t/ha/year) resulted by peat fertilizer. The highest CO 2 flux alsoreached by fertilizer recommendations treatment, particularly on WLD 40cm. In dry season WLD significantly effect on CO 2 flux. The lowestreached by WLD 40 cm. Based on that the WLD needs to be maintainedin a state of shallow (approximately 40 cm), without lowering production.The use of fertilizer containing ameliorant with the polyvalen cation asactive material, potentially suppress the rate of greenhouse gas emissionsfrom peatlands are managed intensively.Key words: ameliorant, emission, drainage, peatland, oil palm, , fertilize

    PENGARUH PUPUK KASTING DAN MACAM BENIH TERHADAP PERTUMBUHAN, PRODUKSI DAN MUTU JAHE MUDA

    Get PDF
    ABSTRAKKendala utama dalam produksi jahe (Zingiber officinale, Rosc.)adalah kurang tersedianya benih yang bermutu dan komponen teknologipemupukan yang tepat. Upaya pemilihan bahan tanaman yang bermutuserta penggunaan kasting telah dilakukan melalui penelitian yangbertujuan untuk memberikan petunjuk tentang kondisi optimum benihberdasarkan posisi bagian rimpang (umur fisiologis) yang dapatmeningkatkan produktivitas tanaman serta dosis optimum dari penggunaankasting. Percobaan ini dilaksanakan di Instalasi Penelitian Cimanggu,Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Bogor, pada bulan Agustus1996 sampai Januari 1997 yang merupakan percobaan pot. Bahan tanamberasal dari jahe putih besar yang dipanen pada umur 10 bulan. Rancanganyang digunakan adalah rancangan acak kelompok yang disusun secarafaktorial, 3 ulangan. Faktor pertama terdiri atas perlakuan umur fisiologisposisi bagian rimpang : bagian rimpang ke II, III dan IV dan faktor keduaterdiri atas takaran pupuk kasting : 0; 0,25; 0,50; 0,75; 1,0 kg/tanaman/pot.Setiap perlakuan dalam satu ulangan terdiri atas 6 contoh tanaman. Hasilpenelitian menunjukkan bahwa pemberian kasting meningkatkan tinggitanaman, jumlah anakan dan jumlah daun, bobot segar rimpang, bobotkering tanaman (daun, batang, akar dan rimpang), produksi pati, serapanhara N, P, K dan C-organik. Penggunaan benih pada posisi bagian rimpangke II, III dan IV yang dikombinasikan dengan kasting 0,50 kg/tanamandapat meningkatkan bobot kering rimpang masing-masing 62,17g, 59,49gdan 58,65 g/tanaman dengan kadar pati 40,71%, 34,36% dan 39,57%.Kata kunci : Jahe,  Zingiber  officinale,  pupuk  kasting,  benih,pertumbuhan, produksi, mutu, Jawa BaratABSTRACTThe effect of casting fertilizer and types of seeds ongrowth, yield and quality of young gingerThe most important constrains in ginger (Zingiber officinale Rose)production are lack of good quality seeds and components of fertilizertechnology. The research was conducted to obtain the optimum conditionfor ginger production from different parts of rhizome (physiological age)and optimum dosage of casting. The research was conducted in CimangguResearch Instalation, Indonesian Spice and Medicinal Crops ResearchInstitute (ISMECRI) Bogor from August 1996 until January 1997 in potexperiment which was arranged in completely randomized design with 2factors and 3 replications. The first factor was 3 parts of rhizome position(secondary, tertiary and quarter rhizomes) while the second factor wasdosage of casting fertilizer (0; 0.25; 0.50; 0.75; 1.0 kg/plant). The resultsof the research indicated that the use of casting fertilizer could improve theheight of plant, number of leaves, number of tillers, fresh weight and dryweight of rhizome, dry weight of leaves, dry weight of stem and dryweight of root. Casting application improved starch content and nutrientabsorbtion of N, P, K and organic carbon. Combination treatment ofsecondary, tertiary and quarter rhizomes combined with application ofcasting 0.50 kg/plant, improved dry weight of rhizome 62.17 g, 59.49 gand 58.65 g/plant and starch content of rhizome 40.71%, 34.36% and39.57% respectively.Key words : Zinger, Zingiber officinale, casting fertilizer seeds, growth,yield, quality, West Jav

    INBREEDING DEPRESSION PADA PROGENI HASIL PENYERBUKAN SENDIRI DAN OUTBREEDING DEPRESSION PADA HASIL PENYERBUKAN SILANG JARAK PAGAR (Jatropha curcas L.)

    Get PDF
    ABSTRAKUntuk mengetahui pengaruh inbreeding (ID) dan outbreedingdepression (OD) pada tanaman jarak pagar dilakukan evaluasi populasi S1hasil penyerbukan sendiri dan F1 hasil penyerbukan silang genotipeterpilih. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Balai PenelitianTanaman Industri dan Penyegar mulai Juni 2009-Juli 2010. Evaluasimenggunakan 100 populasi S1 dan F1 yang berasal dari persilangan diallellengkap antar 10 tetua yang terdiri atas 1 tetua berdaya hasil rendah, 6tetua berdaya hasil sedang, dan 3 tetua berdaya hasil tinggi. Hasilpenelitian menunjukkan penyerbukan sendiri pada tanaman jarak pagartidak selalu mengakibatkan ID. ID ditemukan pada sebagian karakterprogeni hasil penyerbukan sendiri tetua 1 (575-3), 2 (HS 49-2), 4 (PT 13-1), 5 (SP 16-2), 6 (PT 33-2), 7 (3012-1), 8 (PT 15-1), 9 (PT 14-1), dan 10(Sulsel 8), sedangkan OD ditemukan pada progeni hasil penyerbukansilang tetua 3 (IP 1A-2) dengan tetua lainnya. Penyerbukan sendiri tetua 2(HS 49-2), 6 (PT 33-2), 8 (PT 15-1), dan 9 (PT 14-1) mengakibatkan IDpada karakter umur berbunga dan OD pada karakter jumlah buah pertanaman dan menghasilkan progeni yang lebih cepat berbunga danberbuah  lebih  banyak  dibanding  penyerbukan  silangnya.  ODmengakibatkan penurunan hasil pada F1. Persilangan antar tetua dengandaya hasil berbeda menghasilkan progeni F1 dengan daya hasil lebihrendah dari tetua terbaiknya. Persilangan dengan tetua jantan berdaya hasilrendah menghasilkan progeni F1 yang berdaya hasil lebih rendah dari tetuabetinanya. Penurunan daya hasil pada progeni F1 akibat persilangandengan tetua jantan berdaya hasil rendah berkisar 31-76%.Kata kunci: Jatropha curcas L., populasi S1, populasi F1, penurunanhasilABSTRACTA sets of F1 and S1 arrays were generated to determine the presenceof inbreeding (ID) and outbreeding (OD) effects of physic nut. Researchwas conducted at Indonesian Industrial and Beverage Crops ResearchInstitute Experimental Station during June 2009 to July 2010. Ten physicnut genotypes i.e. 1 parent with low yield, 6 parents with medium, and 3parents with high yield potential were used to generate one hundred F1 andS1 progenies by full diallel scheme. Results indicated ID only occurred ina several number of genotypes. ID for a number of characters wereobserved among S1 progenies derived from parents number 1 (575-3), 2(HS 49-2), 4 (PT 13-1), 5 (SP 16-2), 6 (PT 33-2), 7 (3012-1), 8 (PT 15-1),9 (PT 14-1), and 10 (Sulsel 8), while OD were observed among F1progenies derived from parent number 3 (IP 1A-2). Selfing of parentsnumber 2 (HS 49-2), 6 (PT 33-2), 8 (PT 15-1), and 9 (PT 14-1) resulted IDfor days to flowering and OD for number of fruit. Selfing of these parentsresulted early flowering and high fruit yielding progenies. OD resultedyield reduction on several F1 progenies. Crossing among parents withdifferent yield level resulted F1 progenies with lower yield than that of thebest parent. Crossing to low yielding male parent resulted F1 progenieshaving lower yield than that of low yielding female parent. Yield reductionamong F1 progenies ranged from 31 to 76%.Key words: Jatropha curcas L., S1 population, F1 population, yieldreductio

    POTENSI HASIL GALUR-GALUR F1 MANDUL JANTAN KAPAS PADA PERSILANGAN ALAMI

    Get PDF
    ABSTRAKProduksi benih varietas kapas hibrida dapat ditempuh dengan duacara, yaitu dengan persilangan manual dan dengan memanfaatkan galurmandul jantan (male-sterile line). Memproduksi benih kapas secarapersilangan manual memerlukan tenaga dan biaya yang tinggi, dan biayatersebut dapat dikurangi dengan menggunakan galur male steril. Penelitiandilaksanakan di Kebun Percobaan Balai Penelitian Tanaman Tembakaudan Serat, di Karangploso, Malang, Jawa Timur, dari bulan April sampaiOktober 2007. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui potensi hasilgalur-galur mandul jantan kapas untuk memproduksi benih hibrida. Tigaaksesi kapas yaitu KI 487, KI 489, dan KI 494 yang memiliki persentasetanaman mandul jantan masing-masing 60,8%, 57,5%, dan 65% telahdigunakan sebagai donor sifat mandul jantan dan telah dilakukan introgresisifat mandul jantan dari ketiga aksesi tersebut ke varietas komersialKanesia 7, Kanesia 8, dan Kanesia 9 melalui persilangan pada tahun 2006dan diperoleh 9 set kombinasi persilangan. Pada tahun 2007, evaluasipotensi galur dilakukan terhadap 8 galur F1 mandul jantan, 3 tetua jantanyaitu varietas Kanesia 7, Kanesia 8, dan Kanesia 9, serta satu varietas baruyaitu Kanesia 12 sebagai pembanding yang disusun dalam rancangan acakkelompok yang diulang 3 kali. Plot percobaan berukuran 3 x 10 m 2dengan jarak tanam 100 cm x 25 cm; satu tanaman per lubang. Dosispupuk yang digunakan adalah 100 kg urea + 100kg ZA + 100kg SP 36 +100kg KCL per ha. Tidak dilakukan pengendalian hama denganinsektisida kimia selama penelitian. Pengamatan yang dilakukan adalahkemandulan benangsari secara visual dan mikroskopis, jumlah buah pertanaman, bobot buah, dan hasil kapas berbiji. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa pengamatan secara visual dan mikroskopis terhadapstruktur bunga menunjukkan bahwa semua individu tanaman dari 8 galurF1 yang diuji adalah mandul jantan. Jumlah buah galur mandul jantan 7 –96% lebih banyak tetapi ukuran buahnya lebih kecil dibandingkan denganKanesia. Galur-galur mandul jantan KI 494 x Kanesia 7 dan KI 494 xKanesia 8 memberikan hasil kapas berbiji paling tinggi masing-masing2.609kg dan 2.153kg per hektar dibandingkan dengan galur-galur lain,atau sebesar 94 % dan 95% dibandingkan dengan Kanesia 7 dan Kanesia8. Persilangan alami galur-galur tersebut bervariasi sebesar 51 – 95%.Kata kunci : Kapas, Gossypium hirsutum. L., mandul jantan, benih hibridaABSTRACTCotton yield potential of F1 male sterile lines undernatural crossingCotton hybrid seed production can be done by manual crossing andby using male steril line methods. The manual crossing technique ishowever labor dan cost intensive, and the cost can only be reduced byusing male sterile lines. The experiment was conducted in KarangplosoExperimental Station of Indonesian Tobacco and Fiber Crops ResearchInstitute (IToFCRI), Malang, East Java, from April to Oktober 2007aiming to evaluate the yield potential of cotton male sterile lines. Threecotton accessions e.i KI 487, KI 489, and KI 494 which have male sterilitypercentage of 60.8%, 57.5%, and 65%, respectively, were used as donorfor male sterility and were then introgressed to three commercial cottonvariety, Kanesia 7, Kanesia 8, and Kanesia 9 through manual crossing, andthat resulted in nine sets of crossing combinations. In 2007, yield potentialwere studied including 8 F1 male sterile lines, 3 male parent lines (Kanesia7, Kanesia 8, and Kanesia 9), and one new cotton variety, Kanesia 12, ascontrol in a randomized block design with 3 replications. Plot size was 3 x10 m 2 with 100 cm x 25 cm plant spacing; one plant per hill. Fertilizerdosage was 100kg urea + 100kg ZA + 100kg SP 36 + 100kg KCl per ha.Chemical insecticide was not used for insect protection during theresearch. Parameters observed were plants male sterility, number of bollsper plant, boll weight, and seed cotton yield. The experimental resultshowed that both visual and microscopic observation of male sterility onindividual plants confirmed that the eight F1 lines tested were male sterile.Number of bolls per plant of male sterile lines were 7 – 96% higher thanthat of Kanesia’s, but boll size was smaller. Lines KI 494 x Kanesia 7 andKI 494 x Kanesia 8 produced highest cotton seed yield of 2609 kg and2153 kg per hectar, respectively, which were 94% and 95% of that of theirmale parents, Kanesia 7 and Kanesia 8, respectively. Natural crossing ofthose lines varied around 51 – 95%.Key words : Cotton, Gossypium hirsutum. L., male sterile, hybrid see

    PENGARUH DIET EMULSI VIRGIN COCONUT OIL (VCO) TERHADAP PROFIL LIPID TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus)

    Get PDF
    ABSTRAKVirgin Coconut Oil (VCO) merupakan salah satu produk panganfungsional yang populer di masyarakat. Cita rasa VCO dapat diperkayadalam bentuk emulsi mengandung sari buah nenas. Penelitian inidilakukan untuk mengetahui pengaruh diet emulsi VCO terhadap profillipid tikus (Rattus norvegicus) yang sebelumnya diinduksi hiperlipidemiadengan lemak babi 180g/100g ransum dan kuning telur bebek dengandosis 4 ml/hari. Penelitian dilakukan bulan Januari sampai Desember 2009di Laboratorium Balai Penelitian Tanaman Kelapa dan Palma Lain(BALITKA), Laboratorium FMIPA Universitas Sam Ratulangi Manado,Laboratorium UPHP (Unit Penelitian Hewan Percobaan) UniversitasGadjah Mada Yogyakarta serta Laboratorium PAU IPB Bogor. Delapanbelas tikus dibagi secara acak ke dalam 3 kelompok (6 tikus perkelompok). Kelompok I adalah kelompok kontrol yang diberi akuades,kelompok II diberi diet emulsi VCO, dan kelompok III diberi diet VCOmurni. Kandungan kolesterol total, HDL, LDL, dan triasilgliserol diukursetelah akhir perlakuan dengan metode enzimatik. Kadar kolesterol totaldiukur menggunakan metode CHOD-PAP, kadar kolesterol LDLmenggunakan metode PVS, kadar kolesterol HDL menggunakan metodeCHOD-PAP dan kadar triasil gliserol menggunakan metode GPO-PAP.Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumsi 0,945ml/hari VCO dan3,78ml/hari emulsi VCO selama 7 hari dapat menurunkan kadar kolesteroltotal, kadar kolesterol LDL, serta meningkatkan kadar kolesterol HDLdarah tikus Wistar secara signifikan (=0,05), sedangkan penurunan kadartriasilgliserol hanya ditunjukkan oleh konsumsi emulsi VCO (=0,05).Dengan demikian, emulsi VCO yang diperkaya dengan sari buah nenasberperan lebih baik dari VCO murni dalam menurunkan kolesterol padahewan uji tikus.Kata kunci: Virgin coconut oil (VCO), emulsi VCO, profil lemakABSTRACTEffect of Virgin Coconut Oil (VCO) Emulsion Diet onLipid Profile of White Rats (Rattus norvegicus)Virgin Coconut Oil (VCO) is a functional food product that ispopular in the society. VCO-emulsion is a VCO emulsified with pineapplejuice. This study was conducted to find out the effect of VCO-emulsiondiet on lipid profile of mouse (Rattus norvegicus) strain wistar which wasalready treated by inducting hyperlipidemia using lard (180g/100g) andyolk (4ml/days). This research was conducted from January to December2009 at the Laboratory of Coconut and Other Palm Trees ResearchInstitute (BALITKA), the Laboratory of FMIPA Sam Ratulangi UniversityManado, the Laboratory of Experiment Animal Research Unit GadjahMada University Yogyakarta, and the Laboratory of PAU IPB Bogor.Eighteen mice were randomly divided into 3 groups. Group I was thecontrol group treated with aquadest only, group II was treated with VCO-emulsion diet, and group III was treated with pure VCO diet. The contentof total cholesterol, HDL, LDL, and triacylglicerol were measured at theend of the treatment using enzymatic method. In this study, there weresome methods used for measurements: CHOD-PAP method for level oftotal cholesterol, PVS method for level of LDL cholesterol, CHOD-PAPmethod for level of HDL cholesterol, and GPO-PAP method for measuringlevel of triacylglicerol. The study results showed that diet of 0.945ml/daysof VCO and 3.78ml/days of VCO emulsion for 7 days significantlydecreased the level of total cholesterol and the level of LDL cholesterol,and increased the level of HDL cholesterol in the blood of Wistar mouse(α=0.05). Whereas it was shown that only by diet of VCO emulsion(α=0.05) decreased the level of triacylglicerol. Thus, VCO emulsionsignificantly lowered cholesterol in the experimental mouse better thanpure VCO diet only.Key words : Virgin coconut oil(VCO) , VCO emulsion, lipid profil

    KAJIAN KESUBURAN TANAH PERKEBUNAN KARET RAKYAT DI PROVINSI BENGKULU

    No full text
    AbstrakKaret merupakan salah satu komoditas perkebunan penting, baik sebagai sumber pendapatan, kesempatan kerja maupun devisa negara. Kesuburan tanah sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman karet. Oleh sebab itu, penilaian kesuburannya mutlak diperlukan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji tingkat kesuburan tanah pada perkebunan karet rakyat di Provinsi Bengkulu. Penelitian ini dilaksanakan di sentra perkebunan karet rakyat Provinsi Bengkulu yang meliputi Kabupaten Bengkulu Tengah, Seluma, Bengkulu Utara, Bengkulu Selatan dan Kaur. Pengambilan sampel tanah dilakukan dengan metode purposive random sampling pada lahan seluas 5 ha pada kedalaman tanah 0-20 cm da 20-40 cm. Analisis tanah yang dilakukan meliputi penetapan pH tanah (dengan metode pHmetri), C-Organik (spektrofotometri), N (Kjeldhal), P (spektrofotometri), kation K (flamephotometer), kation Mg (titrasi) dan KTK (destilasi). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pH tanah berkisar 4,35-5,20 sesuai untuk tanaman karet. Kandungan bahan organik termasuk rendah sehingga perlu penambahan bahan organik, dalam hal ini dilakukan penanaman tanaman penutup tanah. Kandungan unsur hara N dan P termasuk sangat rendah sampai rendah sehingga mutlak diperlukan pupuk yang mengandung N dan P. Kandungan K-dd yang tersedia termasuk sangat rendah sehingga perlu pemupukan yang mengandung K2O. Kandungan Mg-dd termasuk sedang sampai sangat tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa tanaman tidak menunjukkan gejala diperlukannya pemupukan Mg. Kandungan KTK termasuk sangat rendah sampai rendah, artinya pemupukan kation tertentu tidak boleh banyak karena mudah tercuci bila diberikan dalam jumlah berlebihan.Kata Kunci: Hevea brasiliensis , analisis tanah, kesuburan, produktivitas, Bengkul

    PENGARUH CEKAMAN KURANG AIR TERHADAP BEBERAPA KARAKTER FISIOLOGIS TANAMAN NILAM (Pogostemon cablin Benth)

    Get PDF
    ABSTRAKNilam (Pogostemon cablin Benth) merupakan salah satu tanamanpenghasil minyak atsiri yang dikenal dengan minyak nilam (patchouli oil).Salah satu kendala dalam pengembangan tanaman nilam adalah pekaterhadap kekurangan air. Perubahan iklim cenderung menyebabkan lebihsering terjadi kekeringan di sejumlah wilayah termasuk Indonesia sehinggadalam pengembangan tanaman nilam diperlukan varietas toleran terhadapcekaman kurang air. Terdapat tiga varietas unggul nilam (Tapaktuan,Sidikalang, dan Lhokseumawe) dengan produksi minyak (290-375 kg/ha)dengan kadar patchouli alkohol 32–33%. Penelitian bertujuan untukmengevaluasi respon fisiologis 4 varietas/aksesi tanaman nilam terhadapcekaman kurang air. Penelitian dilaksanakan di rumah kaca di Bogor padatahun 2012. Penelitian menggunakan RAK faktorial dengan tiga ulangan.Faktor  pertama  4  varietas/aksesi  nilam  (V)  yaitu  Sidikalang,Lhokseumawe, Tapaktuan, dan Bio-4. Faktor kedua empat intervalpenyiraman (W) yaitu 1, 3, 6, dan 9 hari sekali. Evaluasi pengaruhcekaman kurang air dilakukan terhadap beberapa karakter fisiologitanaman nilam. Pengamatan dilakukan antara lain terhadap peubah kadarlengas tanah, konduktivitas stomata (Gs), laju transpirasi (Tr), kandunganair nisbi (KAN), potensial air daun (PAD) dan kandungan prolin daun.Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi penurunan kadar lengas tanah,konduktivitas stomata, laju transpirasi, dan KAN pada semua varietas,sedangkan PAD dan kadar prolin meningkat seiring dengan semakinlamanya interval penyiraman. Kadar prolin tertinggi pada interval 9 harisekali pada varietas Sidikalang. Tidak terdapat perbedaan responvarietas/aksesi nilam yang diuji.Kata kunci: Pogostemon cablin Benth, cekaman kurang air, karakterfisiologis.ABSTRACTPatchouli (Pogostemon cablin Benth) is one of plant that producespatchouli oil call patchouli oil. However, patchouli is susceptible todrought. The effect of global warming which changes rainfall patterncaused droughts in several regions including Indonesia. Therefore, it isimportant to find patchouli variety which is relatively tolerant to drought.Tapaktuan, Sidikalang, dan Lhokseumawe are three varieties of patchouliwhich produce high essential oil (290-375 kg/ha) with high patchoulialcohol content (32–33%). The objective of this research was to evaluatethe physiological responses of four varieties/clone of patchouli to drought.The experiment was conducted at greenhouse at Cimanggu, Bogor fromFebruary to July 2012. The research was designed in randomized factorialblock design (RBD) with three replications. The first factor was fourvarieties/clone of patchouli (V) Sidikalang, Lhokseumawe, Tapaktuan, andBio-4. The second factor was four watering intervals (W) every 1, 3, 6and 9 days of watering. Parameters evaluated were physiologicalcharacteristics, soil moisture content, stomatal conductance, transpirationrate (Tr), leaf water potential, relative water content, and proline content ofleaf. The results showed that soil moisture content, stomatal conductivity,transpiration rate and relative water content decreased, while leaf waterpotential and proline levels increased along with the increase of wateringintervals. The highest proline level was at interval of nine days wateringtreatment on Sidikalang varieties. However, all varieties/clone have notdifferent responses to water deficit.Key words: Pogostemon  cablin  Benth,water  deficit,  physiologicalcharacteristic

    POTENSI BAKTERI ENDOFIT MENGINDUKSI KETAHANAN TANAMAN LADA TERHADAP INFEKSI Meloidogyne incognita

    Get PDF
    ABSTRAKMeloidogyne incognita, merupakan salah satu organisme peng-ganggu (OPT) penyebab penyakit kuning pada tanaman lada dan dapatmengakibatkan penurunan hasil sampai 32%. Beberapa teknik untukmengendalikan patogen ini telah dilakukan tetapi belum memberikan hasilyang memuaskan. Pengendalian biologi dengan menggunakan bakteriendofit merupakan salah satu alternatif pengendalian yang cukup men-janjikan untuk dapat mengatasi permasalahan nematoda penyakit tanaman.Penelitian ini telah dilakukan di Laboratorium Bakteriologi danNematologi Departemen Proteksi Tanaman Institut Pertanian Bogor, danRumah Kaca Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Aneka TanamanIndustri Pakuwon Sukabumi dari bulan Mei sampai November 2009.Kegiatan yang dilakukan adalah: 1) Seleksi beberapa isolat bakteri endofituntuk mengendalikan nematoda M. incognita pada tanaman lada dan 2)Potensi induced systemic resistance (ISR) dan analisis asam salisilat sertaperoksidase. Isolat bakteri endofit yang digunakan adalah isolat bakteriendofit potensial yang diisolasi dari akar nilam. Akar tanaman ladadirendam dalam suspensi bakteri endofit, selanjutnya diinokulasi dengan500 ekor larva 2 M. incognita. Sebulan setelah inokulasi tanamandibongkar diamati populasi nematoda dan pertumbuhan tanaman. AnalisisISR dilakukan dengan metode split root system dilanjutkan dengananalisis kadar asam salisilat dan peroksidase. Penelitian mengunakanRancangan Acak Lengkap. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bakteriendofit dapat menekan jumlah puru dan populasi nematoda di dalam akar.Penekanan tertinggi pada isolat MSK (97,93%) tidak berbeda nyatadengan isolat BAS, TT2, dan NJ46 yaitu 97,35; 95,22; dan 92,14%.Berdasarkan analisis split root system, ke 4 isolat tersebut dapat meng-induksi ketahanan tanaman lada secara sistemik dengan mekanismepeningkatan kandungan asam salisilat dan peroksidase di dalam akar.Kata kunci : Bakteri endofit, penyakit kuning, Piper nigrum L.,Meloidogyne incognita, induksi ketahananABSTRACTThe use of endophytic bacteria to induce plant resistanceagainst infection of root-knot nematode (Meloidogyneincognita) on black pepperRoot-knot nematode (Meloidogyne incognita) is one of important patho-gens causing yellow disease on black pepper. As a result of this pathogenattack can lower the results up to 32%. Several control methods have beendone successful to control pathogen. Biological control using endophyticbacteria is one of prospective alternative control methods to overcomenematode problem. The research had been conducted in the Laboratory ofBacteriology and Nematology Department of Plant Protection, BogorAgricultural University (IPB) and in greenhouse of Indonesian Spices andIndustrial Crops Research Institute (ISICRI) Sukabumi. The objectives ofthis study were : 1) Selection of endophytic bacteria to control M.incognita nematodes on black pepper and 2) Potential of induced systemicresistance (ISR) and analysis of salicylic acid and peroxidase. Endophyticbacterial isolates used were endophytic potential bacterial isolates isolatedfrom the roots of patchouli. Pepper plant roots were soaked in anendophytic bacterial suspension, then inoculated with 500 larvae of 2 M.incognita. A month after inoculation, the plants were dismantled andobserved population of nematodes and plant growth. ISR analysis wasperformed by the method of split root system followed by analysis ofsalicylic acid and peroxidase contents. The research was arranged usingCompletely Randomized Design. The results showed that endophyticbacteria were able to suppress the amount of gall and nematode populationin roots. The highest suppression was on MSK isolate (97.93%) which wasnot significantly different from BAS, TT2, and NJ46 isolates, namely97.35, 95.22, and 92.14%, respectively. The analysis of split root systemshowed that the 4 isolates were able to induce systemic resistance of blackpepper with a mechanism of increase in salicylic acid and peroxidasecontents in roots.Key words : Endophytic bacteria, yellow disease, Piper nigrum L.,Meloidogyne incognita, induce systemic resistanc

    STATUS TANAMAN, PRODUKSI DAN PENGGUNAAN CENGKEH

    No full text
    Penelitian ini betujuan untuk mengetahui (1) luas dan keadaan lanaman pada status TBM, TM dan TR secara nyata, (2) pcndugaan produksi dan penggunaan cengkch "agregate" untuk tahun-tahun yang akan datang. Hasil yang diharapkan adalah dipeolehnya da(a yang lebih baik karena data BPS/Dirjenbun cenderung over estimate. Penelitian ini menggunakan mctode survci untuk pcndugaan luas dan produksi pada daerah sentra produksi (Sulawesi Utara, Jawa Tengah, dan Lampung), seta pendugaan penggunaan cengkch di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Pada tiap propinsi diambil 3 kecamatan dan tiap kecamatan yang terpilih diambil 3 desa, dengan kiteria produksi tinggi, sedang dan rendah. Sedangkan penggunaan cengkch diambil secara purporsivc (terarah) atas kontribusi pabrik rokok. Jumlah petani sampel yang diambil 230 dan jumlah pabrik 9 buah (3 besar, 3 sedang dan 3 kecil). Penelitian dilakukan pada bulan April 2001 sampai Desember 2001. Analisis data dilakukan secara statistik dengan mctode kuadrat terkecil untuk pcndugaan produksi dan penggunaan (2) penghitungan status tanaman (TBM, TM, TR) dilakukan dengan metode matematis (pcrsamaan identitas). Hasil penelitian menunjukkan bahwa populasi lanaman yang belum menghasilkan (TBM) tidak ada, tanaman menghasilkan (TM) adalah 40% dan tanaman rusak/mati (TR) adalah 60%. Dari status TR yang berpcluang/potcnsial produktif hanya 34% dan 66% rusak berat. Dari status tanaman menghasilkan TM distibusinya 63.78% tcrgolong tua (>25 tahun). Produktivitas tanaman per ha makin menurun dan meningkat untuk per pohon. Data Disbun/BPS temyata over estimate ± 14% dibandingkan dengan data survci. Dari hasil pendugaan produksi dan penggunaan untuk tahun 2010 akan terjadi ekses demand yang cukup besar yang tidak dapat ditutupi oleh impor. Bila lidak terjadi perubahan teknologi dan kebijakan pemerintah akan terjadi kekurangan cengkch.Kata kunci : Cengkeh, status tanaman, produksi, penggunaanABSTRACT Status ofplant, production and usage of cloveThis research was aimed to find out (1) the size and situation of crop status at TBM. I'M and TR manifestly, ( 2) lo estimate the production and usage of clove " agregate" for the following years. The objective of Ihe research was lo obtain better data because the data of BPS/DG Estate tended to be over estimate. This research used survey method to estimate the size and the production of the clove area of central production (North Sulawesi, Central Java, and I .ampiiiig). and also to estimate the usage of clove in Central Java and East Java. At every province was taken 3 disticts and every district was taken 3 villages, with the criteria, high, medium, and low production. While the clove usage was taken by purposive of cigarete factory contibution. The number of farmers taken for sample were 230 and the number of factories were 9 (3 big, 3 medium and 3 small) The research was conducted in April 2001 to December 2001. Data analysis was conducted statistically with smallest square method for the estimating production and usage, while the enumeration of crop status (TBM, TM, TR) was conducted with mathematical method (equation of identity ). 'The result of the research indicated that there is no crop population which have not yet yielded (TBM) yielded crop (TM) was 40%, and damaged/death crop (TR) was 60%. From the TR status which have oppotunity to be productive was only 34% and 66% damaged. Of yielded crop status (TM) the distribution was 63.78% was old (>25 year). Crop productivity per ha decrease, however the productivity per plant increased. Data of BPS/DG estate was over estimate ± 14% compared to survey data. Fom the estimation of the production and usage of clove, for the 2010 Ihere will be highly demand which cannot be met by import. If there were no suppoting technology and government policy, there will be lack of clove supply.Key words : Clove, crop status, usage and productio

    245

    full texts

    401

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Penelitian Tanaman Industri
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇