Jurnal Penelitian Tanaman Industri
Not a member yet
    401 research outputs found

    HUBUNGAN ANTARA KERAGAMAN BIOFISIK DAN FISIOLOGIS BENIH DENGAN VIGOR BENIH DAN BIBIT KAKAO HIBRIDA

    Get PDF
    ABSTRAKPenentuan karakteristik biofisik guna menghasilkan benih dan bibit berkualitas. Penelitian bertujuan untuk mengetahui keragaman hubungan mutu biofisik dan fisiologis benih terhadap vigor benih dan bibit kakao hibrida. Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei sampai November 2010, di Kebun Benih, Puslitkoka, Jember dan Laboratorium Ilmu dan Teknologi Benih IPB serta di rumah kacaBalai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia, Bogor. Penelitianmenggunakan Rancangan Acak Kelompok, lima jenis kakao hibrida danempat ukuran benih, dengan empat ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keragaman karakteristik biofisik benih kakao GC 7, ICS 13 dan 60,TSH 858 dan UIT 1 pada jumlah dan bobot benih sangat bervariasi. Keragaman hubungan karakteristik biofisik untuk panjang, diameter, tebal dan bobot per 100 benih optimal pada benih kakao ukuran besar GC 7, ICS60, dan TSH 858, sangat besar ICS 13 dan UIT 1. Ukuran benih berkaitan dengan mutu fisiologis perkecambahan benih, nilai, periode, daya, dan lajukecambah optimal ukuran benih sedang dan besar pada kakao GC 7, ICS60, dan TSH 858, ICS 13 dan UIT 1 pada ukuran benih sedang, besar dansangat besar. Ukuran benih berhubungan dengan daya hidup benih terbaikkakao GC 7, ICS 60, dan TSH 858 untuk ukuran sedang dan besar, ICS 13dan UIT 1 ukuran benih besar dan sangat besar. Pertumbuhan bibitberkaitan dengan panjang tunas, panjang akar, diameter batang, dan tunas,rasio bobot kering akar dan tunas terbaik kakao GC 7 dan TSH 858 padaukuran sedang dan besar, ICS 60 benih besar serta ICS 13 dan UIT 1ukuran besar dan sangat besar. Perkembangan hasil total bobot keringtunas, daun dan bibit, bobot kering akar, total bobot kering bibit, dan rasiobobot kering akar dan tunas (A:T) optimal pada benih ukuran sedang,besar dan sangat besar.Kata kunci: Theobroma cacao, benih hibrida, matriconditioning, seleksibenih, vigor benihABSTRACTDetermination of biophysical and physiological characteristics ofseeds is essential in order to produce quality seeds and seedlings. Thestudy aims to determine the diversity of biophysical and physiologicalrelationship quality seed from the seed vigor and hybrid cacao seedlings.The experiment was conducted in May and November 2010. The studywas conducted at Seed Gardens, Puslitkoka, Jember and Seed LaboratoryScience and Technology IPB and in greenhouse Indonesian BiotechnologyResearch for Estate Crops, Bogor. The study used a randomized block design, five and four types of hybrida cocoa seed size, with four replications. The results showed the diversity of biophysical characteristicsof cacao seeds GC 7, ICS 13 and 60, TSH 858 and UIT 1 on number andweight of seeds. The diversity of the biophysical characteristics of therelationship to length, diameter, thickness and weight per 100 seeds on theoftimal size of a large cocoa seeds GC 7, ICS 60, and TSH 858, a verylarge ICS 13 and UIT 1. Size physiological seed quality associated withthe germination of seeds, value, period, the power, and the optimal rate ofgermination medium and large seed size in cocoa GC 7, ICS 60, and TSH858, ICS 13 and UIT 1 seed sizes medium, large and very large. Seed sizeassociated with the best seed vitality of cacao GC 7, ICS 60, and TSH 858for medium and large size, ICS 13 and UIT 1 large seed size and verylarge. Seedling growth related to the length of shoots, root length, stemdiameter, and shoots, root dry weight ratio and best buds of cacao GC 7and TSH 858 on medium and large size, large seed ICS 60 and ICS 13 andUIT 1 large and very large size. The development of the dry weight of thetotal yield of shoots, leaves and seeds, root dry weight, total dry weight ofthe seeds, and the ratio of dry weight of roots and shoots (A:T) on theoptimal size of the seed medium, large and very large.Key words: Theobroma cacao, hybrid seeds, matriconditioning, seedselection, seed vigo

    INTERAKSI ANTARA Trichogrammatoidea bactrae N. DAN Trichogrammatoidea armigera N. PADA TELUR KAMA PENGGEREK BUAH KAPAS Helicoverpa armigera Hbn.

    Get PDF
    ABSTRAKPenggerek buah kapas, Helicoverpa armigera Hubner. (Lepidoptera;Noctuidae) dan Pectinophora gossypiella Saunders (Lepidoptera;Gelechiidae) merupakan hama Unaman kapas. Trichogrammatoideaarmigera N. yang dilepas secara inundasi telah terbukti mampumengendalikan populasi H. armigera, tctapi belum mampu mengendalikanP. gossypiella. Parasitoid telur yang berpotensi sebagai agens hayati bagi-P.gossypiella adalah Trichogrammatoidea bactrae N. Penelitian ini bertujuanmempelajari interaksi antara T. bactrae (muncul dari telur P. gossypiellayang berasal dari Lamongan (T. bactrae - L) dan Asembagus T. bactrae -A)) dengan T. armigera yang digunakan untuk pengendalian H. armigera.Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Hayati (parasitoid & predator)Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat, Malang pada bulan Maret2002 sampai dengan Desember 2002. Suhu ruang penelitian 25-27 derajat Cdan kelembaban nisbi 65-70 persen. Interaksi yang diuji adalah (1)interaksi imago dengan perlakuan variasi kepadatan populasi parasitoid daninang telur H. armigera; dan (2) interaksi pra imago yang berada di dalamtelur inang dengan perlakuan pemaparan telur H. armigera secarabergantian terhadap (a) T. armigera dan T. bactrae - A, dan (b) T. armigeradan T. bactrae - L. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi antaraimago T. armigera dengan T. bactrae - A dan T. bactrae - L, lebihdidominasi oleh T. armigera. Total dominasi dari semua perlakuanmencapai 6 : 95 atau proporsi parasitisasi terhadap telur inang H.armigera oleh T. armigera yang lebih tinggi dibanding proporsiparasitisasi oleh T. bactrae peluangnya adalah 0,94. Pada interaksi praimago, interaksi antara T. bactrae - A dan T. armigera didominasi olehT. armigera, sedangkan antara T. bactrae - L : T. armigera didominasioleh T. bactrae - L. Dominasi T. armigera terhadap T. bactrae adalah 0: 21 atau peluang proporsi T. armigera yang bertahan hidup di dalam telurH. armigera yang lebih tinggi dibanding proporsi T. bactrae - A adalah1. Sedangkan dominasi T. bactrae terhadap T. armigera adalah 16 : 3atau peluang proporsi T. bactrae - L yang bertahan hidup di dalam telurH. armigera yang lebih tinggi dibanding proporsi T. armigera adalah 0,84.Berdasarkan bentuk interaksi tersebut, maka T. bactrae - A dapat dipilihsebagai kandidat agens hayati P. gossypiella yang lebih ideal dibanding T.bactrae -L. Penggunaan T. bactrae - L sebagai agens hayati,berpeluang menyebabkan terganggunya efektifttas parasitisasi T. armigeradalam pengendalian H. armigera.Kata kunci: Kapas, Gossypium hirsutum, hama, penggerek kapas, agenshayati, Trichogrammatoidea armigera, Trichogrammatoideabactrae, Pectinophora gossypiella, Helicoverpa armigera,interaksi antar spesiesABSTRACTTrichogrammatoidea bactrae N, The objective of this research is to studythe interaction between T. bactrae (emerged from P. gossypiella collectedfrom Lamongan (7". bactrae - L) and collected from Asembagus T. bactrae- A)) with T. armigera. The study was conducted in Biological ControlLaboratory of ITOFCRI, March - December 2002. The tested interactionswere (1) adult interaction with different density of parasitoids and the hostH. armigera eggs; (2) pre-adult interactions in H. armigera eggs withsubsequently exposed the eggs to T. armigera and T. bactrae - A IT.bactrae - L. The results showed that T. armigera dominates the adultinteraction with T. bactrae - A / T. bactrae - L. Total domination of alltreatments was 6:95 or the probability of higher proportion of T. armigerato parasitize H. armigera than that of T. bactrae was 0.94. T. armigeraalso dominates pre-adult interaction with T. bactrae - A, but T. bactrae - Ldominates T. armigera. The dominance value of T. armigera against T.bactrae - A was 0:21 or probability of the higher proportion of T.armigera survival than tat of T. bactrae - A was 1. The dominance valueof the higher proportion of T. bactrae - L survival than that of T. armigerawas 0.84. Based on the results, prospective biocontrol agent of P.gossypiella is T. bactrae - A. Mass release of T. bactrae - L may interferethe effectiveness of T. armigera on H. armigera eggs.Key words : Cotton, Gossypium hirsutum, pest, cotton bollworms, bioagents, Trichogrammatoidea armigera, Trichogrammatoideabactrae, Pectinophora gossypiella, Helicoverpa armigera,interspecific interactionInteraction of Trichogrammatoidea armigera N. andTrichogrammatoidea bactrae N. on cotton-bottwormsHelicoverpa armigera Hbn. eggsCotton bollworms Helicoverpa armigera Hubner. (Lepidoptera;Noctuidae) and Pectinophora gossypiella Saunders (Lepidoptera;Gelechiidae) are two of cotton pests in Indonesia. Inundation releases ofTrichogrammatoidea armigera N. could control H. armigera population,but not P. gossypiella. The potential egg parasitoid of P. gossypiella i

    PENGARUH DOSIS MIKORIZA DAN PEMUPUKAN NPK TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI KOPI ROBUSTA DI BAWAH TEGAKAN KELAPA PRODUKTIF

    No full text
    AbstrakTanaman kopi robusta yang ditanam di bawah tegakan kelapa diperkirakan mengalami persaingan yang cukup ketat dalam memanfaatkan air dan hara. Mikoriza adalah salah satu mikroorganisme yang dapat meningkatkan kemampuan perakaran kopi robusta dalam persaingan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dosis pemberian mikoriza dan pupuk NPK untuk tanaman kopi robusta di bawah tegakan kelapa produktif. Penelitian ini dilakukan tahun 2012-2013 di Kebun Percobaan Pakuwon, Sukabumi di bawah tegakan kelapa umur 37 tahun jenis kelapa dalam. Penelitian disusun menurut rancangan petak terbagi. Sebagai petak utama adalah empat dosis mikoriza: (1) tanpa mikoriza, (2) 20 g/tanaman, (3) 40 g/tanaman, dan (4) 60 g/tanaman, sedangkan sebagai anak petak adalah dosis pupuk NPK: (1) tanpa pupuk, (2) 60% dari rekomendasi, (3) 80% dari rekomendasi, dan (4) 100% dari rekomendasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian mikoriza 40 g/tanaman sudah menunjukkan pertumbuhan vegetatif yang berbeda nyata dengan tanpa pemberian mikoriza dan tidak berbeda nyata dengan pemberian 60 g/tanaman. Jumlah ruas/cabang tertinggi diperoleh pada pemberian pupuk NPK 100% rekomendasi. Pemberian mikoriza 60 g/tanaman + pupuk NPK 40% nyata menghasilkan bonggol dan produksi yang tinggi. Bobot 100 biji basah dan kering tertinggi diperoleh pada pemberian kombinasi mikoriza 60 g/tanaman + pupuk NPK 40% rekomendasi. Pemberian mikoriza tidak hanya meningkatkan daya saing kopi di bawah tegakan kelapa produktif, tetapi juga dapat mengurangi penggunaan pupuk NPK. Pemberian mikoriza 60 g/tanaman + pupuk NPK 40% dapat meningkatkan produksi dan kualitas biji kopi di bawah tegakan kelapa.Kata kunci: Coffea conephora, kelapa, NPK, mikoriza, pertumbuha

    PENGARUH WAKTU TANAM SORGUM PADA SISTEM TUMPANGSARI TEMBAKAU TERHADAP SIFAT AGRONOMIS DAN KIMIAWI TEMBAKAU

    No full text
    Percobaan lapang telah dilakukan di Kebun Percobaan Pekuwon, Bojonegoro, 1992, untuk mcmpelajai sifat-sifat agronomis dan kimiawi tembakau pada berbagai waktu tanam sorgum pada sistem tumpangsai tembakau + sorgum. Percobaan disusun dalam rancangan acak kelompok dengan enam ulangan. Perlakuan terdiri dai 5 taraf waktu tanam sorgum yaitu 4 dan 2 minggu sebelum tanam tembakau, bersamaan dengan waktu tanam tembakau, 2 dan 4 minggu setelah tanam tembakau. Ukuran petak 10.8 m x 12.0 m. dengan 240 tanaman tembakau per petak dan 720 tanaman sorgum per petak. Analisis N, P, K, nikotin, dan gula beturut- turut dengan Kyeldhal, Spektrofotometi, Flamefotometi, Titrasi dengan NaOH dan Luff-Schroll. Hasil percobaan menunjukkan bahwa dengan mempcrcepat waktu tanam sorgum dari 4 minggu setelah tanam tembakau menjadi 4 minggu sebelum tanam tembakau sangat menurunkan pertumbuhan, hasil dan mutu. Scbaliknya perlakuan tersebut meningkat¬ kan kadar N-total, P, dan K, dan hasil sorgum tumpangsai, serta tidak berpengaruh pada kadar nikotin, gula, nisbah/nikotin, dan N/nikotin tembakau. Pada keadaan kering yang dialami oleh percobaan ini walaupun hasil tembakau rendah namun mutu hasil masih dalam kisaran yang baik dan persaingan dikuasai oleh tanaman sorgum.Kata kunci: Nicotiana tabacum, sorgum bicolor, tumpangsai, waktu tanam ABSTRACTAgronomics and chemicals properties of tobacco under different planting dates ofsorghum in tobacco -Horghum intercropping systemThe ield expeiment was conducted at Pekuwon Expeimental Station, Bojonegoro, in 1992, to study the agronomic and chemical propeties of tobacco grown under diferent planting dates of sorghum in tobacco+sorghum intercropping system. The expeiment was arranged in randomized block design, with 6 replications. The treatment consisted of 5 levels of sorghum planting, 2 and 4 weeks ater tobacco planting. Plot size was 10.8 m x 12.0 m, with 240 and 720 plants of tobacco and sorghum respectively. The methods for analyses N, P, K, nicotine and sugar analyses were Kyeldhal, Spectrophotometry, Flame photometry, Titration with NaOH, and Luf-Schroll, respectively. The growth, yield, and quality of tobacco were decreased sharply, but the N, P, K contents of the leaves were increased by accelerating planting date of sorghum from 4 weeks ater to 4 weeks before tobacco planting. The content of nicotine, sugar, sugar/nicotine. N/nicotine of the leaves were not afected by this treatment. In dry condition, although the yield of tobacco was low, but the quality was in good category, and the competition in tobacco ♦ sorghum intercropping system was dominated by sorghum.Key words : Nicotiana tabacum, sorghum bicolor, intercropping, planting dat

    PENGARUH PERENDAMAN TERHADAP VIABILITAS BENIH TEMBAKAU (Nicotiana tabacum L.)

    Get PDF
    ABSTRAKPermasalahan dalam pengembangan tembakau rakyat adalah dayaberkecambah benih yang rendah. Penelitian ini bertujuan untukmengetahui pengaruh perendaman benih terhadap daya berkecambahbenih tembakau (Nicotiana tabacum L.). Penelitian dilaksanakan dilaboratorium Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada bulan Meisampai dengan Juli 2013. Perlakuan disusun dalam rancangan petakterbagi dan diulang empat kali. Sebagai petak utama adalah tujuh varietastembakau lokal, yaitu V1 = Kemloko1; V2 = Kemloko2; V3 = Kemloko3;V4 = Kasturi1; V5 = Kasturi2; V6 = Grompol Jatim1; dan V7 =Bojonegoro1. Sebagai anak petak adalah: R1 = Tanpa perendaman(kontrol); R2 = perendaman selama satu jam dalam air; R3 = perendamanselama satu jam dalam larutan KNO 3  (0,1%), dan R4 = perendamanselama satu jam dalam larutan KNO 3 (0,2%). Setelah perlakuanperendaman, benih tembakau dikecambahkan menggunakan metode Uji diAtas Kertas. Pada setiap ulangan, sebanyak 100 benih tembakaudikecambahkan pada media kertas merang yang diletakkan di dalampetridish berdiameter 9 cm. Perkecambahan dilakukan di dalamgerminator tipe IPB dengan suhu 23 o C dan kelembaban nisbi 87-93%.Parameter yang diamati adalah daya berkecambah, panjang kecambah,panjang akar kecambah, dan indeks vigor kecambah. Perendaman benihtembakau menggunakan air, larutan KNO 3 0,1% dan larutan KNO 3 0,2%selama satu jam sebelum benih disemaikan, dapat meningkatkan dayaberkecambah dan panjang kecambah varietas Kemloko1 dan GrompolJatim1. Perlakuan perendaman benih dengan air berpengaruh positif padavarietas Kemloko1 yang ditunjukkan dengan daya berkecambah tertinggi,sedangkan perendaman dengan larutan KNO 3 0,2% berpengaruh negatifpada varietas Bojonegoro1 yang ditunjukkan dengan daya berkecambahpaling rendah. Perlakuan perendaman dengan air maupun larutan KNO 3(0,1% dan 0,2%) menunjukkan pengaruh yang berbeda-beda terhadapparameter daya berkecambah, panjang kecambah, panjang akar kecambah,dan indeks vigor kecambah pada semua varietas tembakau yang diuji.Kata kunci: Nicotiana tabacum L., perendaman, KNO 3 , viabilitas benihABSTRACTLow germinability of seeds is one of major problems in tobaccodevelopment. The aim of this study was to determine the effect of primingon tobacco (Nicotiana tabacum L.) seed viability. The research wasconducted in the laboratory of the Indonesian Sweeteners and Fiber CropsResearch Institute during May to July 2013. The treatments were arrangedin a split plot design with four times of replication. The main plots wereseven tobacco varieties namely V1 = Kemloko1; V2 = Kemloko2; V3 =Kemloko3; V4 = Kasturi1; V5 = Kasturi2; V6 = Grompol Jatim1; and V7= Bojonegoro1. The subplots were priming seeds for one hour namely R1= without priming (control); R2 = priming for one hour on water; R3 =priming for one hour on KNO 3  (0,1%) solution, and R4 = priming for onehour on KNO 3 (0,2%) solution. After priming, seeds were germinated usingthe Upper Paper Test method. A hundred of seeds were sown on strawpaper media in a petridish diameter 9 cm of each replication. Parametersmeasured were germination percentage, shoot and root length, andseedling vigor index. Priming tobacco seed with water or KNO 3  (0.1 and0.2%) solution for one hour before seeds were germinated significantlyimproved germination percentage and shoot length of Kemloko1 andGrompol Jatim1 varieties. Priming tobacco seed with water had positiveeffect on Kemloko1 variety which resulted the highest germinationpercentage but had adversely effect on Bojonegoro1 variety which resultedthe lowest germination percentage. Priming tobacco seeds with water orKNO 3 (0.1 and 0.2%) solution resulted different effect on germinationpercentage, shoot and root length, and seedling vigor index parameters forall tobacco varieties were observed.Key words: Nicotiana tabacum L., priming, KNO 3 , seed viabilit

    PENGARUH KONSENTRASI STARTER Saccharomyces cerevisiae DAN LAMA FERMENTASI TERHADAP RENDEMEN DAN MUTU MINYAK KELAPA

    No full text
    Untuk mendapatkan cara pengolahan minyak kelapa yang lebih eisien dalam menghasilkan rendemen dan mutu yang tinggi dan tahan simpan serta aman dikonsumsi telah dilakukan penelitian pengaruh konsentrasi starter Saccharomyces cerevisiae dan lama fermentasi terhadap rendemen mutu minyak kelapa. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Balai Penelitian Tanaman Kelapa dan Palma Lain Manado dan Kebun Percobaan Mapanget sejak bulan Maret sampai Desember 2001. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap disusun secara faktorial, yaitu faktor A adalah konsentrasi starter Saccharomyces cerevisiae, terdiri dari 0%, 0.25%, 0.35%, 0.45% dan faktor B adalah lama fermentasi krim. terdiri dari 0 jam, 12 jam, dan 24 jam. Ulangan dilakukan sebanyak 2 kali. Hasil penelitian diperoleh rendemen minyak tertinggi 23.83% pada fermentasi krim selama 24 jam. Mutu minyak kelapa yang dihasilkan sebagai berikut kadar air 0.03 - 0.18%, asam lemak bebas 0.15 - 0.29%, warna bening dan bau harum/ normal, bilangan peroksida berkisar 0.20 - 0.40 meq/kg, mutu minyak kelapa tersebut memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI) 01-2902-1992.Kata kunci: Minyak kelapa, Saccharomyces cerevisiae, konsentrasi, fermentasi. rendemen, mutu ABCTRACT Effect of concentration of stater Saccharomyces cerevisiae and duration of fermentation on the content and quality of coconut oilResearch on the effect of concentration of starter Saccharomyces cerevisiae on the content and quality of coconut oil was conducted at the Laboratory of Indonesian Coconut and Palmae Research Institute (ICOPRI) and Mapanget Research Instalation from March to December 2001. The objective of the research was to find out the effective technique and processing of coconut oil. The research used a completely randomized design with 2 factors and 2 replications. Factor A was the concentration of starter Saccharomyces cerevisiae of 0%, 0.25%, 0.35%, 0.45% and factor B was duration of fermentation consist of 0 hour, 12 hours, and 24 hours. The results showed that the highest yield of coconut oil is 23.83% was obtained by fermented coconut cream for 24 hours. The coconut oil had good quality with moisture content about 0.03 to 0.18%, free fatty acid content about 0.15 to 0.29%, colorless, good smell and peroxide value about 0.20 - 0.40 mcq/kg, the quality of coconut oil fulfilled the requirements of Indonesian National Standard (Standar Nasional Indonesia/SNI 01-2902-1992).Key words: Coconut oil, Saccharomyces cerevisiae. concentration, fermentation, yield and qualit

    PENELITIAN PERUBAHAN WARNA DAN ETILEN SELAMA PEMERAMAN DAUN TEMBAKAU KULTIVAR MADURA SERTA PENGARUHNYA TERHADAP MUTU TEMBAKAU RAJANGAN

    No full text
    Colour alternation and et/tylene changes during ripening tobacco leaves cultivar Madura and its effect to the quality of slice Madura tobaccoThe colour change and elhylene production in the leaves of Madura tobacco (Nicotiana tabacum) during ripening was studied at "Labora¬ torium Biokimia Pusat Antar Universitas Pangan dan Gizi Universitas Gadjahmada Yogyakata" and "Laboratorium Inti dan Atom Jurusan I'isika, FMIPA Universitas Gadjahmada Yogyakata". The change of colour was measured with Chrommameter CR-200. while the production of ethylcne, ACC (1-aminocyclopropanc-l-carboxylic acid) and MACC (malonyl-ACC) were measured with Photoaccuslic Spectroscopy, from the sample of 100 kg tobacco leaves cv. Jepon grown from April to September 1995 in Plakpak, Pcgantenan, Pamekasan, East Java. The experiment was designed as a completely randomized design in three replicates. The leaves samples were taken randomly from the mature middle leaves Results showed that endogenous ethylcne production al the irst day al a level of 169 ppb. was able to initiate ripening. Conversion percentage of ACC to ethylcne for 8 days ripening increased from 7.7 up lo 61.4 %. F tests least signiicantly different (1%). showed that yellow intensity signiicantly increased on the second day. This indicated thai ripening process was stated on the second day. On the other hand green intensity significantly decreased at the ifth day, thus no chlorophyl degradation. Brightness was signiicantly observed on Ihe third day of ripening, meaning that ripening stated on the third day. Based on the three criteria, the best ripening period was from the third lo the ilth day. This implies that the farmers will have three day periods of ripening which can be arranged to overcome the shotage of man power for slicing the leaves

    NGENGAT PARASITOID (Lepidoptera : Epipyropidae) PADA WERENG PUCUK METE DI PERTANAMAN JAMBU METE DI PULAU LOMBOK

    Get PDF
    ABSTRAKWereng pucuk mete, Sanurus indecora (Homoptera : Flatidae),merupakan hama utama tanaman jambu mete di pulau Lombok. Berbagaicara pengendalian telah dilakukan baik secara kimiawi maupun biologi.Pengendalian biologis yang telah banyak digunakan adalah pemanfaatandan eksplorasi musuh alami yang mencakup parasitoid, patogen danpredator. Salah satu musuh alami wereng daun (leafhoppers) dan werengpohon (planthoppers) yang masih belum diteliti di Indonesia dan baru 20spesies yang ada di di dunia adalah Epipyropidae. Ektoparasitoid familiEpipyropidae yang berasosiasi dengan imago S. indecora telah ditemukanpertama di Indonesia, khususnya di Pulau Lombok. Tujuan penelitian iniadalah untuk mengetahui keberadaan ngengat parasitoid pada inang S.indecora pada pertanaman jambu mete di lahan kering Pulau Lombok.Penelitian ini difokuskan pada dua kegiatan utama, yaitu pengambilansampel di lapang dan pengamatan laboratorium. Lokasi penelitian beradadi tiga desa di wilayah Kecamatan Gangga, Kayangan, dan Bayan.Penelitian dilakukan selama musim kemarau 2007 (Mei hingga Oktober2007) dan musim hujan (November 2007 hingga April 2008) di tiga kebunjambu mete milik petani yang ditanam secara monokultur. Dari penelitianini dapat diberikan beberapa kesimpulan, yaitu : wereng pucuk mete S.indecora berkembang baik pada musim kemarau (April hingga September)dan cenderung menurun pada saat musim hujan (Oktober hingga Maret),dengan populasi tinggi dicapai pada bulan Agustus hingga Oktober 2007.Larva ektoparasitoid Epypiropidae menyerang S. indecora jantan danbetina yang bersifat soliter dan atau gregarius. Laju parasitisasiEpipyropidae pada S. indecora jantan lebih kecil daripada betina, yaituberkisar 5,89 – 12,16% dan betina berkisar 15,23 – 19,23%. LarvaEpipyropidae tidak dapat menekan laju pertumbuhan populasi S. indecoradi pertanaman monokultur jambu mete di pulau Lombok. Denganperkataan lain bahwa semakin tinggi populasi S. indecora semakin rendahlaju parasitisasi yang ditemukan.Kata kunci : Anacardium occidentale, Sanurus indecora, ngengatparasitoid, EpipyropidaeABSTRACTParasitoid moth (Lepidoptera : Epipyropidae) on cashewplanthopper at cashew plantation in LombokSanurus indecora Jacobi is a serious pest attacking cashewplantation in Lombok Island. A number of natural enemies of flatids werefound on cashew plantation such as predator, pathogen, and parasitoid. Allmembers  of  Epipyropidae  (Lepidoptera)  are  ectoparasitoid  onplanthoppers and leafhoppers (Homoptera). The first report onEpipyropidae in Indonesia was documented, in Lombok whereEpipyropidae parasitized S. indecora. Study was conducted to determinethe prevalence of parasitoid moth on S. indecora at Lombok uplandcashew plantations. This experiment was conducted on May 2007 untilApril 2008 in three village areas of Gangga, Kayangan, and Bayandistricts. The results showed that population of Sanurus indecora increasesgradually from April until October (dry season) and decreases fromNovember until March (rainy season), with the highest population occursin August to October. Epipyropidae attacks both male and female of S.indecora J. Parasitation rate of male ranges from 0.38 – 46.00% with anaverage of 8.96%. Parasitation rate of female varies from 8.77 - 38.52%with an average of 17.45%. Epipyropidae is a solitary and or gregariousparasitoid. The parasitation rate was negatively correlated with S. indecorapopulation. The numbers of Epipyropidae larvae were correlated with thenumbers of S. indecora infected.Key words : Anacardium occidentale, Sanurus indecora, parasitoid moth,Epipyropida

    INDUKSI TUNAS TABAT BARITO (Ficus deltoidea JACK) SECARA IN VITRO MENGGUNAKAN BENZIL ADENIN (BA) DAN NAPHTHALENE ACETIC ACID (NAA)

    Get PDF
    ABSTRAKTabat barito (Ficus deltoidea Jack), merupakan salah satu tanamanobat yang dikategorikan langka dan digunakan sebagai bahan afrodisiakwanita. Perbanyakan tanaman secara in vitro dilakukan untuk mendapatkanbahan tanaman dalam jumlah banyak. Penelitian bertujuan untukmendapatkan media terbaik tabat barito dan telah dilakukan di laboratoriumkultur jaringan Plasma Nutfah dan Pemuliaan Balittro, pada bulanJanuari sampai dengan Desember 2007. Penelitian ini dilakukan dalam tigatahap, yaitu : 1) respon tunas pada media perbanyakan, menguji mediamultiplikasi tunas dengan media sitokinin tunggal yaitu : MS + BenzilAdenin (BA) 0,5; 1,0; 1,5 dan 2,0 mg/l; tahap 2) respon tunas pada mediakombinasi sitokinin dan auksin, yaitu : MS + BA 0,5 mg/l + NAA 0,1mg/l; MS + BA 0,5 mg/l + NAA 0,5 mg/l; MS + BA 1,0 mg/l + NAA 0,1mg/l dan MS + BA 1,0 mg/l + NAA 0,5 mg/l. Tahap 3) Daya multiplikasidan penampilan tunas setelah subkultur pada media yang sama. Masingmasingpercobaan disusun dengan rancangan acak lengkap, dan terdiri atas5 ulangan. Parameter pengamatan meliputi jumlah tunas, tinggi tunas danjumlah ruas serta penampilan visual. Hasil penelitian menunjukkan bahwapada tahap pertama, penggunaan media MS + BA 0,5 menghasilkanjumlah tunas yang paling banyak dibandingkan yang lain, tetapi tidakberbeda nyata pada jumlah ruas dan tinggi eksplan. Sementara pada tahapdua, jumlah tunas terbaik didapat pada media dengan auksin rendah baikpada kombinasi sitokinin rendah dan tinggi. Sementara untuk jumlah ruasmedia terbaik adalah media dengan konsentrasi BA tinggi yangdikombinasi dengan NAA. Untuk tinggi tunas, media terbaik adalah MS +BA 1,0 mg/l + NAA 0,5 mg/l, tapi ditemukan eksplan yang menguning.Pada tahap ketiga, dari hasil subkultur kembali terlihat bahwa tunas yangbersumber dari pucuk pertumbuhannya baik sementara tunas yang berasaldari ruas ke-2 dan 3 sebagian menguning.Kata kunci : Ficus deltoidea Jack, tunas, induksi, in vitro, BA, NAAABSTRACTIn vitro shoot induction of Mistleteo fig (Ficus deltoideaJack) in Murashige & Skoog (MS) media with addition ofBA and NAAMistleteo fig (Ficus deltoidea) is one of endangered medicinalplants and used for female aphrodisiac. In vitro multiplication of the plantwas done to find a number of shoots. This experiment was conducted intissue culture laboratory of Germplasm and Breeding of IMACRI fromJanuary to December 2007, and aimed to find best media for shootmultiplication. This experiment was carried out in three steps: step 1)shoot respon in multiplication media using single cytokinin : MS + BA(0.5; 1.0; 1.5 and 2 mg/l); step 2) shoot respon in multiplication media ofcombined cytokinin and auxin : MS + BA 0.5 mg/l + NAA 0.1mg/l; MS+ BA 0.5 mg/l + NAA 0.5 mg/l; MS + BA 1.0 mg/l + NAA 0.1 mg/l andMS + BA 1.0 + NAA 0.5 mg/l; and step 3) viability and visualization ofthe shoots after subcultured in the same media. The experiment wasarranged using completely randomized design with 5 replicates. Theparameters observed were of shoots and nodes, shoot height andperformance. The results in the first step showed that MS + BA 0.5 mg/lmedia resulted in the highest number of shoots, but they were notsignificantly different in the number of nodes and shoots height. In thesecond step, highest number of shoots was found using low concentrationof auxin combined with low and high concentration of cytokinin. Bestmedium for number of nodes was MS with high concentration of BAcombined with NAA. For shoot height, the best medium was MS + BA0.1 mg/l + NAA 0.5 mg/l, but the shoots turned yellow. In the third step,after subcultured, the shoots originated from plant tips performed well,however, those taken from second and third inter nodes partially turnedyellow.Key words : Ficus deltoidea Jack, shoot, induction, in vitro, BA, NA

    245

    full texts

    401

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Penelitian Tanaman Industri
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇