Jurnal Penelitian Tanaman Industri
Not a member yet
401 research outputs found
Sort by
PEMILIHAN BATANG BAWAH JARAK PAGAR (Jatropha curcas Linn.) TOLERAN TERHADAP CEKAMAN KEKERINGAN
ABSTRA
EFEKTIVITAS EKSTRAK METANOL DAUN SALAM (Eugenia polyantha) DAN DAUN JERUK PURUT (Cytrus histrix) SEBAGAI ANTIJAMUR PADA PERTUMBUHAN Fusarium oxysporum
ABSTRAKMinyak atsiri dan ekstrak dari beberapa tanaman telah banyakditeliti sebagai bahan pestisida nabati dan telah tersedia secara komersial.Beberapa penelitian menunjukkan daun salam memiliki aktivitas antijamurdan antibakteri. Jeruk purut mengandung citronella yang dikenal bersifatantijamur. Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh ekstrakmetanol daun salam dan daun jeruk purut terhadap pertumbuhan Fusariumoxysporum telah dilakukan di laboratorium penyakit Balittro pada bulanJanuari sampai Februari 2008. Penelitian ini terdiri dari tiga kegiatan : (1)Uji ekstrak metanol daun salam dan jeruk purut terhadap pertumbuhanvegetatif F. oxysporum pada media padat. Parameter yang diamati adalahdiameter pertumbuhan F. oxysporum. (2) Uji ekstrak metanol daun salamdan jeruk purut terhadap pertumbuhan generatif F. oxysporum pada mediacair. Parameter yang diamati adalah jumlah konidia yang diproduksi danberat hifa. (3) Uji ekstrak metanol daun salam dan jeruk purut terhadappenghambatan perkecambahan konidia F. oxysporum. Perkecambahankonidia diamati pada 0, 2, dan 4 jam setelah perlakuan. Rancangan yangdigunakan dalam ketiga kegiatan tersebut adalah rancangan acak lengkap,dengan tiga ulangan. Hasil pengujian menunjukkan bahwa ekstrak metanoldaun salam menghambat pertumbuhan vegetatif F. oxysporum. Persentasepenghambatan tertinggi adalah 57,16% pada konsentrasi 5%. Pada mediacair, ekstrak daun salam efektif menurunkan jumlah konidia dan berat hifa.Ekstrak daun salam juga mampu menghambat perkecambahan spora.Persentase penghambatan perkecambahan konidia pada perlakuan ekstrakdaun salam 3% sebesar 84,67% setelah 4 jam inkubasi. Ekstrak metanoldaun jeruk purut konsentrasi 5% efektif menghambat pertumbuhanvegetatif F. oxysporum pada media padat dengan persentasepenghambatan 95,60 %. Pada media cair, ekstrak jeruk purut (semuakonsentrasi yang diuji) juga mampu menurunkan jumlah konidia dan berathifa. Selain itu, ekstrak metanol daun jeruk purut juga efektif menghambatperkecambahan konidia F. oxysporum hingga 77,00 % setelah 4 jaminkubasi.Kata kunci : Eugenia polyantha, Cytrus histrix, F. oxysporum, metanol,penghambatanABSTRACTThe Effectiveness of Methanol Extract of Bay Leaf(Eugenia polyantha) and Kaffir Lime Leaf (Cytrushistrix) as Antifungal on Growth of F. oxysporumEssential oils extracted from many plants have been investigated forbotanical pesticide source. There are several commercial pesticidescontaining essential oil. Kaffir lime containing citronella is known asantifungal material. Many research showed that bay leaf has antifungal andantibacterial activity. The objective of this research was to find out theeffect of metanol extracts of bay and kaffir lime leaves on F. oxysporumgrowth. The experiment was conducted from January to February 2008 atPhytopathology Laboratory of Indonesian Medicinal and Aromatic CropsResearch Institute (IMACRI). The experiment was consisted of 3activities : (1) Test of methanol extract of bay leaf and kaffir lime leaf onvegetative growth of F. oxysporum in solid media. Fungal colony diameterwas recorded each day. (2) Test of methanol extract of bay and kaffir limeleaves on generative growth of F. oxysporum in liquid media. Conidiaproduction and hifa weight were observed. (3) Test of methanol extract ofbay and kaffir lime leaves on inhabitation of conidia germination of F.oxysporum. The germination of conidia was observed at 0, 2, 4 hours aftertreatment. Experiment was designed using completely randomized designwith three replications. The result showed that methanol extract of bay leafinhibited the growth of F. oxysporum in solid media. The highest growthinhibition was 57.16% at 5% extract. In liquid media, methanol extract ofbay leaf decreased conidia production and hifa weight significantly.Methanol extract of bay leaf inhibited conidia germination. The percentageof inhibition of conidia germination was 84.67% at 3% extract. Methanolextract of Kaffir lime leaf inhibited the growth of F. oxysporumsignificantly. The percentage of inhibition was 95.6% at 5% extract. Inliquid media, methanol extract of kaffir lime leaf decreased conidiaproduction and hifa weight at all of concentration of extract. Methanolextract of kaffir lime leaf inhibited conidia germination. The percentage ofinhibition of conidia germination was 77.00% at 3% extract.Key words : Eugenia polyantha, Cytrus histrix, inhibition, F. oxysporum,metano
MULTIPLIKASI TUNAS DAN AKLIMATISASI PEGAGAN (Centella asiatica L.) PERIODE KULTUR LIMA TAHUN
ABSTRAKPegagan (Centella asiatica L.) adalah tanaman obat yangmengandung zat asiaticotik sebagai obat alzaimer dan penghalus kulit.Tanaman ini telah diperbanyak sejak tahun 2000. Penelitian dilakukan diLaboratorium Kultur Jaringan dan Rumah Kaca Kelompok PenelitiPlasma Nutfah dan Pemuliaan, Balai Penelitian Tanaman Obat danAromatik, Bogor dari bulan Januari 2000 sampai dengan Juni 2005.Penelitian ini bertujuan untuk melihat daya multiplikasi tunas setiapperiode subkultur dimulai dari tahun kedua sampai periode lima tahun.Media yang digunakan adalah MS + BA 0,1 mg/l. Pengamatan dilakukanpada jumlah tunas, jumlah daun dan visual tunas pada umur 2, 3, 4 dan 5tahun pada dua periode subkultur setiap tahunnya. Penelitian disusundengan rancangan acak lengkap, masing-masing terdiri atas 10 botol yangmerupakan ulangan dan setiap botol terdiri atas 1 eksplan. Untuk re-mediaterhadap tanaman yang terlihat berubah digunakan media MS + BA (0;0,1; 0,2; 0,3) mg/l. Selanjutnya untuk perakaran dilakukan pada media MS+ IAA (0,1 dan 0,2); MS + NAA (0,1 dan 0,2) mg/l serta MS + IBA (0,1dan 0,2) mg/l. Plantlet utuh yang terbentuk selanjutnya diaklimatisasi padamedia tanah + pupuk kandang dan tanah + sekam dengan perbandingan 1 :1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa daya multiplikasi tunas optimumterjadi pada tahun ketiga, dan memasuki tahun keempat dan kelimamenurun yang diiringi dengan perubahan eksplan yang terlihat padatangkai daun yang terbentuk. Akar terpanjang dan terbanyak yangterbentuk didapat pada media IAA 0,2 mg/l dengan penampilan yangkurus dan rapuh. Keberhasilan aklimatisasi sangat rendah, tetapi plantletmampu beregenerasi dengan baik dan terlihat tumbuh normal. Dari hasilperbanyakan terlihat bahwa jumlah anakan, jumlah daun, panjang stolondan jumlah bunga lebih tinggi dibandingkan yang tumbuh pada mediasekam, berturut-turut : 6,77; 7,30; 46,50 cm dan 8,31. Sementara padamedia sekam komponen yang dominan adalah panjang tangkai daun yakni9,75 cm.Kata kunci : Pegagan, Centella asiatica L., multiplikasi, tunas, aklima-tisasi, penyimpanan, Jawa BaratABSRACTShoot multiplication and acclimatization of gotuloca(Centella asiatica L.) five years after conservation by invitro cultureGotuloca (Centella asiatica L.) is a medicinal crop containingasiaticotic as alzaimer and skin revitalizer. This crop has beenmultiplicated in vitro since 2000. This research was carried out in thelaboratory and glasshouse of Breeding and Germplasm Group in theIndonesian Medicinal and Aromatic Crops Research Institute (IMACRI)from January 2000 to June 2005. The objective of the research was to findout the viability of shoots multiplication after two year to five year period,with media MS + BA 0.1 mg/l. The parameters observed were the numberof shoots, the number of leaves at the age 2, 3, 4 and 5 years from twosubculture periods every year. The treatments were arranged in acompletely randomized design, each replication consisted of 10 bottles andeach bottle consisted of 1 explant. After subculture the ex-plant were re-media in medium MS + BA (0; 0,1; 0,2; 0,3) mg/l. The rooting mediabefore glasshouse were : MS + IAA ( 0,1 and 0,2); MS + NAA ( 0,1 and0,2) mg/l; and MS + IBA ( 0,1 and 0,2) mg/l. The plantlets formed wereacclimatized using soil + cattle manure and soil + rice husk withcomparison 1:1. Research result indicated that the optimum viabilitymultiplication was achieved in the third year, and it decreased after thefourth and fifth years with change in explant forming the petiole. Thelongest and plantlet roots were formed through media IAA 0.2 mg/l withbrittle and thin appearance, but the plantlets were able to regenerate betterand grow normal. The acclimatization was not very successful but theplantlets could regenerate and grew normally. The multiplication showedthat the number of stumps, leaves, stolons and flowers were : 6,77; 7,30;46,50 cm and 8,31 respectively. In rice husk media the dominantcomponent was pedicle length 9,75 cm.Key words : Gotuloca, Centella asiatica L., multiplication, shoot,acclimatization, conservation, East Ja
EFEKTIVITAS FORMULA JAMUR Beauveria bassiana DALAM PENGENDALIAN PENGGEREK BUAH KAPAS (Helicoverpa armigera)
ABSTRAKJamur entomopatogen Beauveria bassiana sangat potensialmengendalikan berbagai serangga hama, namun potensinya terhadappenggerek buah kapas (Helicoverpa armigera) belum banyak diteliti.Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui efektivitas B. bassianaterhadap H. armigera. Penelitian dilakukan di Laboratorium PatologiSerangga dan Kebun Percobaan Karangploso, Balai Penelitian TanamanPemanis dan Serat mulai Januari hingga Desember 2012. Penelitian terdiriatas dua kegiatan di lapangan, yaitu (1) uji efektivitas B. bassiana terhadapH. armigera di pot, dan (2) uji efektivitas B. bassiana terhadap H.armigera di lapangan. Kegiatan pertama terdiri dari delapan perlakuankonsentrasi B. bassiana, yaitu: (1) 3,7 x 10 4 ; (2) 7,7 x 10 4 ; (3) 1,2 x 10 5 ;(4) 1,5 x 10 5 ; (5) 1,9 x 10 5; (6) 2,3 x 10 5; (7) 2,5 x 10 5 ; (8) 3,0 x 10 5konidia/ml; dan (9) kontrol. Perlakuan disusun dalam Rancangan AcakKelompok dengan 3 kali ulangan. Parameter yang diamati adalahmortalitas dan bobot larva hidup. Kegiatan kedua terdiri dari empatperlakuan konsentrasi B. bassiana, yaitu: (1) 3,1 x 10 11 ; (2) 6,2 x 10 11 ; (3)9,3 x 10 11 ; dan (4) 1,2 x 10 12 konidia/ha dengan dua pembanding(azadirachtin dan betasiflutrin), serta kontrol. Perlakuan disusun dalamRancangan Acak Kelompok dengan tiga kali ulangan. Parameter yangdiamati adalah populasi larva H. armigera dan laba-laba, kerusakan buahkapas, dan hasil kapas berbiji. Hasil uji efektivitas di pot menunjukkanhingga hari ke-7 setelah perlakuan B. bassiana masih efektif menyebabkanmortalitas larva H. armigera sebesar 46,7% dan meningkatkan kehilanganbobot larva hidup hingga 59,3%, terutama pada konsentrasi 2,3 x 10 5konidia/ml. Di lapangan, perlakuan jamur B. bassiana efektif menurunkanpopulasi larva H. armigera sekitar 36-48%, tetapi menurunkan populasilaba-laba hingga 48,4%, sehingga kurang aman bagi musuh alami tersebut.Perlakuan B. bassiana dapat menurunkan kerusakan buah kapas 10,1-10,3% dengan meningkatkan hasil kapas berbiji sekitar 12,1-29,7%.Kata kunci: Beauveria bassiana, Helicoverpa armigera, konidia, larva,mortalitasABSTRACTBeauveria bassiana is the most common fungal entomopathogenagainst several of insect pests. Its potency, however, has not been tested oncotton bollworm, H. armigera. The objective of study was to know theeffectivity of B. bassiana against H. armigera. This study had beenconducted at Pathology Laboratory and Experimental Station ofIndonesian Sweetener and Fiber Crops Research Institute (ISFCRI) fromJanuary to December 2012. The study consists of two field tests, e.g. teston B. bassiana effectivity against H. armigera (polybag testing) dan teston B. bassiana effectivity a against H. armigera (field testing). In polybagtesting, eight concentrations of B. bassiana and one control were used astreatment, e.g. (1) 3.7 x 10 4 ; (2) 7.7 x 10 4 ; (3) 1.2 x 10 5 ; (4) 1.5 x 10 5 ; (5)1.9 x 10 5; (6) 2.3 x 10 5; (7) 2.5 x 10 5 ; (8) 3.0 x 10 5 conidia/ml; and (9)control. Each treatment was arranged in Randomized Block Design withthree replications. Parameters recorded were mortality and weight ofsurvival larvae. The field testing consists of four concentrations of B.bassiana viz. 3.1 x 10 11 ; 6.2 x 10 11 ; 9.3 x 10 11 ; and (4) 1.2 x 10 12 conidia/hawhich compared to azadirachtin and betacyfluthrin. Each treatment wasarranged in Randomized Block Design with three replications. Parameterobserved were population of H. armigera larvae and its natural enemy(spiders), boll damage, and seed cotton yield. Result showed that until theday seventh the mortality of H. armigera larvae reached 46.7% due to B.bassiana and loss 59.3% of larval weight at 2,3 x 10 5 conidia/ml inpolybag testing. In field testing, B. bassiana proved to be relativelyharmful to spiders because it reduced the their population as 48.4%.However, the B. bassiana reduced of 36-48% the population of H.armigera larvae as well as the cotton boll damage of 10.1-10.3% andincreased the seed cotton yield ranged 12.1-29.7%.Key words: Beauveria bassiana, Helicoverpa armigera, conidia, larvae,mortalit
KERAGAMAN GENETIK, HERITABILITAS, DAN KORELASI ANTAR KARAKTER 10 GENOTIPE TERPILIH JARAK PAGAR (JATROPHA CURCAS L.)
ABSTRAKUntuk menyusun program pemuliaan jarak pagar berdaya hasiltinggi, diperlukan populasi dasar yang memiliki keragaman genetik yangtinggi terutama pada karakter yang berkaitan dengan daya hasil tanaman.Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi keragaman genetik,heritabilitas, dan korelasi antar karakter genotipe terpilih. Sepuluhgenotipe dievaluasi di Kebun Percobaan Balai Penelitian TanamanRempah dan Aneka Tanaman Industri Pakuwon, Sukabumi mulai bulanAgustus 2009 - Juli 2010. Rancangan lingkungan adalah acak kelompoklengkap dengan 3 ulangan. Setiap unit percobaan terdiri atas 5 tanamanyang ditanam dalam 1 baris dengan jarak antar baris 2 m dan jarak dalambaris 1 m. Evaluasi dilakukan terhadap karakter vegetatif (meliputi tinggitanaman, lingkar batang, lebar kanopi, dan jumlah cabang total), karaktergeneratif (meliputi jumlah cabang produktif, umur mulai berbunga, jumlahtandan bunga, jumah tandan buah, fruit set), serta komponen hasil yaitujumlah buah per tanaman. Hasil penelitian menunjukkan 10 genotipe yangdievaluasi memiliki keragaman genetik yang luas pada karakter generatifumur mulai berbunga, jumlah tandan bunga, jumlah tandan buah, danjumlah buah per tanaman dengan nilai koefisien keragaman genetik(KKG) berturut-turut 21,89; 29,77; 32,08; dan 33,75. Karakter-karakter inimemiliki ragam genetik luas dan heritabilitas dalam arti luas yang tinggisehingga dapat dimanfaatkan sebagai kriteria seleksi. Karakter vegetatifjumlah cabang total memiliki keragaman genetik agak luas, heritabilitastinggi, dan berkorelasi positif dengan jumlah tandan bunga, jumlah tandanbuah, dan jumlah buah per tanaman sehingga dapat dipertimbangkansebagai kriteria seleksi.Kata kunci : Jatropha curcas, keragaman fenotipik, koefisien keragaman,ragam genetik, kriteria seleksiABSTRACTGenetic variability, heritability, and correlation amongcharacters of 10 selected genotypes of physic nut(Jatropha curcas L.)To arrange breeding programme of jatropha high yielding varieties,it is required population base having high genetic variabilities, especiallyin yield components. The objectives of this research were to evaluategenetic variability, heritability estimate, and analyze correlation amongcharacters of 10 physic nut genotypes. Ten Jatropha curcas genotypeswere evaluated at Pakuwon Experimental Station of Indonesian Spice andIndustrial Crops Research Institute, Sukabumi, from August 2009 - July2010. A randomized complete block design with 3 replicates was appliedin this experiment. Each experimental unit consisted of five plants grownin a row with 2 m spacing in line and 1 m in row. The observations weremade for vegetative characters (plant height, stem girth, canopy width, andnumber of total branches per plant), generative characters (days toflowering, number of productive branches, inflorescences, fruit bunchesper plant, and fruit set percentages), and yield component : number of fruitper plant. Results of the experiments indicated that the evaluatedgenotypes had wide genetic variability on several generative characters i.e.days to flowering, number of inflorescences, number of fruit bunches, andnumber of fruits per plant with genotypic variability coefficient (GVC)values of 21.89; 29.77; 32.08; and 33.75, respectively. Their geneticvariabilities were broad and high heritability. The total number of branchesas a vegetative character was fairly wide in genetic diversity, highheritability, and positively correlated with number of inflorescences,bunches, and fruits per plant. These characters can be considered asselection criteria.Key words : Jatropha curcas L., phenotypic variability, coefficient ofvariation, genetic variability, selection criterio
OPTIMASI TEKNIK ISOLASI DAN PURIFIKASI DNA YANG EFISIEN DAN EFEKTIF PADA KEMIRI SUNAN (Reutalis trisperma (Blanco) Airy Shaw)
ABSTRAKKemiri sunan merupakan salah satu tanaman penghasil biodieseldengan potensi yang sangat besar disamping pemanfaatannya sebagaitanaman konservasi. Minyak kemiri sunan mengandung racun sehinggatidak dapat dikonsumsi. Dikatakan bahwa asam α-eleostearat dengankandungan 50% dalam minyak merupakan senyawa yang mengakibatkanminyak kemiri sunan beracun. Sebagai tanaman yang potensial, makasangat diperlukan informasi lengkap tentang tanaman tersebut, termasukanalisis DNA. Berbagai teknik dapat dilakukan untuk mengisolasi DNAtergantung dari jenis tanaman, organ tanaman, atau jaringan tanaman yangdigunakan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan teknik isolasi danpurifikasi DNA yang efektif dan efisien, sehingga bisa mengurangi biayadan penghematan waktu dalam pengerjaan di laboratorium. Penelitiandilaksanakan di Laboratorium Biologi Molekuler, Balai Besar Penelitiandan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian (BBBiogen), Bogor pada bulan Juli-September 2010. Materi genetik yangdigunakan adalah contoh daun muda tanaman kemiri sunan yang diambildari kebun koleksi plasma nutfah dan kebun Agro Widya Wisata,Pakuwon, Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Aneka Tanaman Industri(BALITTRI), Sukabumi. Sedangkan bahan lain adalah paket bahan kimiayang digunakan dalam kegiatan isolasi DNA pada umumnya. Kegiatanmeliputi beberapa tahapan: ekstraksi dan purifikasi DNA, pengukurankonsentrasi dan kemurnian DNA serta amplifikasi DNA. Hasil ekstraksiDNA kemiri sunan dengan menggunakan kombinasi penambahanantioksidan polivinilpolipirolidon (PVPP) dan mercapto-ethanol, namuntanpa penggunaan nitrogen cair, ataupun penyimpanan lebih lama (overnight) dari ekstrak daun yang telah digerus sebelum dilakukan purifikasiseperti yang sering dilakukan untuk tanaman tahunan pada umumnya,memperlihatkan hasil yang sangat memuaskan, dimana DNA mempunyaikualitas dan kuantitas yang sangat baik serta pola pita amplikon DNAterlihat sangat jelas dan tebal, sehingga bisa dikatakan bahwa teknik isolasiDNA yang dipakai dalam kegiatan ini adalah sangat memberikan hasilyang nyata dan memenuhi syarat untuk digunakan dalam ekstraksi DNAkemiri sunan.Kata kunci: Reutalis trisperma, optimasi, isolasi, purifikasi, DNAABSTRACTOptimation of DNA isolation and purification techniques on Reutalistrisperma (Blanco) Airy ShawReutalis trisperma is well known as a potential plant whichproduces biodiesel and to be used for the conservation as well. Thereutalis oil is toxic, therefore it is inedible due to about 50% α-eleostearatacid content in the oil. As a potential plant, its information in more detail isneeded including the DNA analysis. There are many techniques to conductDNA isolation depending on kind of plants, plant organ, or plant tissuethat will be analyzed. The aim of this experiment was to find theeffectiveness and efficiency techniques of DNA isolation and purification,so they can reduce cost and time while working in the laboratory. Theexperiment was conducted at Molecular Biology Laboratory of IndonesianCenter for Agricultural Biotechnology and Genetic Resources Researchand Development (BB BIOGEN), Bogor from July to September 2010.Young leaves of reutelis used as genetic materials were taken fromgermplasms collection at Pakuwon Experimental Station of IndonesianSpice and Industrial Crops Research Institute (ISICRI), Sukabumi. Whilesome chemicals were used as the other material. The activities were asfollows : DNA extraction and purification, measurement of DNAconcentration, and amplification of DNA. Deletion of resistor enzyme-polysacharide, especially for perennial plant. DNA isolation can be doneby breaking down of cell wall, cell membrane, and nuclear membrane. Theresults showed that conscientiousness of DNA isolation and purificationdenoted an important step to obtain clean and contaminant free of DNA, sothe banding patterns were clear. In this technique did not usepolypinilpolypirolidone (PVPP) and mercapto-ethanol such as antioxidant,liquid nitrogen, neither over night storage of leaf extraction before used forpurification which is often used for perennial plant. In addition the resultsshowed that band pattern of DNA was very thick and clear, therefore thistechnique can be applied for DNA isolation on Reutalis trisperma.Key words: Reutalis trisperma, optimization, isolation, purification, DN
DETEKSI SECARA SEROLOGI DAN MOLEKULER BEBERAPA JENIS VIRUS YANG BERASOSIASI DENGAN PENYAKIT MOSAIK TANAMAN NILAM (Pogostemon cablin Benth)
ABSTRAKPenyakit mosaik pada tanaman nilam disebabkan oleh beberapajenis virus, yaitu Potyvirus, Potexvirus, Cucumber mosaic virus (CMV),dan Broad bean wilt virus 2 (BBWV2). Penelitian ini bertujuan untukmengidentifikasi secara serologi dan molekuler virus-virus yangberasosiasi dengan gejala mosaik pada nilam di KP. Manoko, KP. Cicurugdan lahan petani di Cijeruk. Sampel daun nilam baik yang menunjukkangejala mosaik atau pun tidak diambil dari setiap lokasi penanamanmasing–masing sebanyak 30 sampel. Kejadian penyakit ditentukan melaluideteksi serologi dengan Direct-ELISA dan Indirect-ELISA terhadap sampelmenggunakan empat antiserum, yaitu CMV, Cymbidium mosaic virus(CymMV), Potyvirus, dan BBWV2. Deteksi molekuler dengan RT-PCRdilakukan untuk mengonfirmasi virus baru yang ditemukan. Hasilpenelitian menunjukkan bahwa gejala infeksi virus yang ditemukan padanilam bervariasi, yaitu mosaik lemah, mosaik kuning hijau, mosaik denganpenebalan, mosaik dengan malformasi daun, dan bintik kuning. Secaraserologi, kejadian virus pada setiap kebun bervariasi. Di KP Manoko,Potyvirus dan BBWV2 lebih dominan (100%) dibandingkan CymMV. DiKP Cicurug, kejadian Potyvirus dan CMV terlihat lebih dominan (83,3 dan80%) dibandingkan BBWV2 dan CymMV, sedangkan di Cijeruk, BBWV2lebih dominan (90%) dari Potyvirus (50%) dan CMV (13,3%). Hasil RT-PCR dengan primer degenerate BBWV, diidentifikasi BBWV2 padasampel daun nilam dari Manoko, Cicurug, dan Cijeruk, sedangkan denganprimer general Potexvirus, diidentifikasi CymMV hanya dari sampel daunnilam dari asal Manoko. Hasil penelitian ini merupakan laporan pertamatentang BBWV2 dan CymMV pada tanaman nilam di Jawa Barat yangmengindikasikan bahwa virus merupakan kendala utama pada perbenihannilam yang harus segera diatasi.Kata kunci: BBWV2, CymMV, mosaik, Pogostemon cablin Benth, PCRABSTRACTMosaic symptoms on patchouli plant are associated with severalviruses, i.e. Potyvirus, Potexvirus, CMV, and BBWV2. The objective ofthe study was to detect virus(es) associated with mosaic symptoms onpatchouli at the the patchouli seed nurseries, in Manoko, Cicurug, andCijeruk. Thirty leaf samples either showing typical symptomatic mosaic orasymptomatic were taken from each location. Serological testing byDirect-ELISA and Indirect-ELISA using four antisera namely CMV,Cymbidium mosaic virus (CymMV), Potyvirus, and BBWV2 was carriedout to test the incidence of each virus. Molecular detection by RT-PCR wasperformed to confirm the new virus(es). The results showed that symptomsof virus infection were found vary, i.e. weak mosaic, green yellow mosaic,mosaic with thickening, mosaic with leaf malformations, and yellow spot.Based on the serological detection, virus(es) incidence varied at each seednurseries. In Manoko, Potyvirus, and BBWV2 were more dominant(100%) compared with CymMV. In Cicurug, Potyvirus and CMV weremore dominat (83.3 and 80%) compared with BBWV2 and CymMV.While in Cijeruk, BBWV2 was the most dominant (90%) than Potyvirus(50%) and CMV(13.3%). Result of RT-PCR with degenerate primers pairof BBWV was succesfully identified BBWV2 from Manoko, Cicurug, andCijeruk samples, whereas by using Potexvirus general primary, CymMVwas identified only from Manoko samples. BBWV2 and CymMV werefirst reported to infect patchouli in West Java. The result indicate thatvirus(es) are the major constraint on patchouli seed that should bemanaged immediately.Key words: BBWV2, CymMV, mosaic, Pogostemon cablin Benth, PC
UJI MULTILOKASI GALUR HARAPAN TEMBAKAU MADURA
Produksi rokok di Indonesia mcngarah ke rokok ringan sehingga kebutuhan tembakau bermutu baik dan ingan meningkat. Bahan baku utama yang semakin banyak dibutuhkan adalah tembakau madura. Untuk memperbaiki mutu dan mengurangi kadar nikotinnya, tembakau madura disilangkan dengan tembakau oriental. Sebanyak 9 galur harapan telah diperoleh dan diuji multilokasi bcrsama Prancak-95 sebagai pembanding. Pada tahun 2002 pengujian dilaksanakan di (1) Palalang 1 dan (2) Bajang, Kecamatan Pakong, Kabupaten Pamekasan seta (3) Guluk-guluk, Kecamatan Guluk-guluk, Kabupaten Sumenep. Pada tahun 2003 pengujian dilanjutkan di (1) Palalang 2, Kecamatan Pakong, Kabupaten Pamekasan seta (2) Bakeong dan (3) Por-dapor, Kecamatan Guluk-guluk, Kabupaten Sumenep. Pengujian di setiap lokasi menggunakan rancangan acak kelompok dengan tiga ulangan. Data dari semua percobaan dianalisis menggunakan program MSTAT. Anova menggunakan model 2 tahun, setiap tahun lokasi bcrubah. Analisis stabilitas'menggunakan mctode F.bcrhat dan Russell (1966). Tidak ada interaksi antara genotipe dengan lahun atau lokasi. Galur yang mempunyai nikotin lebih rendah dari Prancak-95 adalah 90/1 (2%) dan 93/2 (1.76%), masing-masing berkurang 13 dan 24% dai Prancak-95. Kedua galur tersebut stabil dan beradaptasi luas, galur 93/2 potensi hasilnya 0.892 ton/ha atau meningkat 11% dari Prancak-95, sedangkan 90/1 potensinya 0.798 ton/ha.Kata kunci: Tembakau, tembakau madura, uji multilokasi, nikotin rendah, Madura ABSTRACT Multilocation test ofpromising madura tobacco linesThe production of Indonesian cigaretes tends to the production of mild cigarete, so that the demand for higher quality and lighter tobacco increases. The demand for madura tobacco as the main raw mateial also increases. To improve its quality and to reduce its nicotine content, madura tobacco was crossed to oriental tobacco. Nine promising lines were produced and tested at multilocation together with Prancak-95 as a control. The multilocation tests were conducted in 2002 in (1) Palalang 1 and (2) Bajang, Pakong Distict, Pamekasan Regency, and in (3) Guluk-guluk, Guluk-guluk Distict, Sumenep Regency. In 2003 the tests were continued in (1) Palalang 2, Pakong District, Pamekasan Regency ; (2) Bakeong and (3) Por-dapor, Guluk-guluk District, Sumenep Regency. The tests in each location used a randomized block design with three replications. Data collected from all tests were analyzed using MSTAT Program. Anova was itted to model for 2 year tests, each year the location was changed. F.bcrhart and Russell method (1966) was used for stability analysis. There was no interaction between genotype and the year as well as the location. The tobacco lines that had lower nicotine content than Prancak-95 were 90/1 (2%) and 93/2 (1.76%). Their nicotine contents were lower than that of Prancak 95 by 13% and 24% respectively. The two lines were stable and broad adapted. Line 93/2 had yield potency 0.892 ton/ha higher by 1 1% than that of Pancak-95, while the yield potency of line 90/1 was 0.798 ton/ha.Key words: Tobacco, madura tobacco, multilocation test, low nicotine, Madu
VARIASI GENETIK BEBERAPA SPESIES KAPAS (Gossypium sp.) BERDASARKAN KERAGAMAN POLA PITA ISOZIM
ABSTRAKDeskripsi aksesi-aksesi kapas berdasarkan karakter morfologinyatelah disusun berdasarkan descriptor list yang disusun oleh IBPGR, akantetapi marka genetik dari aksesi-aksesi tersebut belum diketahui. Penelitianini bertujuan untuk mempelajari keragaman pola-pita isozim Peroksidase(PER), Esterase (EST), dan Aspartate amino transferase (AAT) pada 19aksesi kapas dan kemiripan ke-19 aksesi kapas berdasarkan ketiga isozimtersebut. Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan Februari 2008 di RumahKaca Fakultas Pertanian, Universitas Sebelas Maret Surakarta dan analisisisozim dilakukan di Laboratorium Biologi Tumbuhan, PAU Ilmu HayatIPB. Metode analisis yang digunakan adalah elektroforesis gel pati tipehorisontal dengan tiga sistem enzim, yaitu enzim peroksidase (PER),esterase (EST), dan aspartate amino transferase (AAT). Penelitianmenghasilkan data berupa pola pita isozim yang selanjutnya dibuat dalamdata biner. Data biner yang dihasilkan dibuat dalam persamaan matrik dandilanjutkan analisis gerombol dengan metode ‘UPGMA’ (Unweighted PairGroup Method Arithmetic Average) menggunakan fungsi SHAN padaProgram NTSYSpc versi 2.02. Hasil penelitian menunjukkan bahwaIsozim esterase dapat dijadikan marka genetik bagi Kanesia 1 (terbentuksatu pita spesifik) dan Kanesia 6 (satu pita spesifik); isozim peroksidasedapat dijadikan marka genetik bagi Kanesia 3 (dua pita pada kutub positif),aksesi-aksesi G. barbadense (dalam hal ini CTX-3 dan Giza-90 dua pitapada kutub positif) dan G. arboreum (empat pita pada kutub positif dansatu pita pada kutub negatif). Sedangkan isozim aspartat amino tranferasedapat dijadikan marka genetik bagi spesies G. herbaceum (dua pitaspesifik). Selain itu, terdapat kemiripan genetik antar aksesi kapasberdasarkan ketiga isozim (EST, PER, dan AAT). Pengelompokanberdasarkan ketiga isozim dari ke-19 aksesi kapas diketahui bahwa padajarak kemiripan 0,59 atau kemiripan 59% semua aksesi kapas menyatu,yang terbagi menjadi 2 kelompok. Kelompok pertama hanya terdiri aksesiKanesia 1 saja. Sedangkan Kelompok kedua terdiri atas aksesi-aksesiKanesia 2, Kanesia 3, Kanesia 6, Kanesia 4, Kanesia 10, Kanesia 7,Kanesia 11, Kanesia 12, M-5, Kanesia 8, Kanesia 9, Kanesia 15, AKA-5,Kanesia 13, Kanesia 14, CTX-3, Giza-90 dan Kanesia 5.Kata kunci: Gossypium sp., keragaman genetik, pola pita isozimABSTRACTGenetic Diversity of Cotton Species (Gossypium sp.)Based on Variation of Isozyme Banding PatternMorphological characters of cotton accessions have been describedbased on the descriptor list produced by IBPGR, but the genetic markersfor those accessions have not yet been known. This research aimed atstudying the diversity and similarity among 19 cotton accessions based onisozyme banding patterns of peroxidase (PER), esterase (EST), andaspartate amino transferase (AAT). Research was carried out in February2008 at the green house of Faculty of Agriculture, Sebelas MaretUniversity, Surakarta and the isozyme was analyzed in Plant BiologicalLaboratory, Biological Science PAU IPB. Samples were electrophoresedon horizontal type of potato extract gel and stained with three enzymesystems, i.e. peroxidase (PER), esterase (EST), and aspartate aminotransferase ( AAT). The isozyme bandings were scored and translated intobinary data, which was then used to deduce the similarity amongaccessions and to draw dendrogram by using 'UPGMA' (Unweighted PairGroup Method Arithmetic Average) method from the NTSYSPC softwareversion 2.02. Experimental results showed that isozyme esterase can beused as genetic marker for Kanesia 1 (one specific band) and Kanesia 6(one specific band). Isozyme peroxidase can be used as genetic marker forKanesia 3 (two bands at positive end), accessions G. barbadense i.e. CTX-3 and Giza-90 (two bands at positive end) and G. arboreum (four bands atpositive end and one band at negative). Isozyme aspartate aminotransferase can be used as genetic marker for spesies G. herbaceum (twospecific bands). Moreover, the similarity analysis among 19 cottonaccessions based on the three isozymes showed that at the similarity levelof 59%, all accessions are divided in two groups. The first group consistedof Kanesia 1 only. Whereas the second group consisted of accessionsKanesia 2, Kanesia 3, Kanesia 6, Kanesia 4, Kanesia 10, Kanesia 7,Kanesia 11, Kanesia 12, M-5, Kanesia 8, Kanesia 9, Kanesia 15, AKA-5,Kanesia 13, Kanesia 14, CTX-3, Giza-90, and Kanesia 5.Key words: Gossypium sp., genetic diversity, isozyme banding patter
PENGARUH JENIS DAN TARAF PUPUK ORGANIK TERHADAP PRODUKSI DAN MUTU PURWOCENG
ABSTRAKMemenuhi kebutuhan bahan baku simplisia purwoceng (Pimpinellapruatjan) untuk industri jamu, dan mengurangi dampak eksplorasi dihutan sekitar pegunungan Dieng, perlu areal pengembangan purwocengyang baru. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan taraf dan jenispupuk organik yang optimal untuk peningkatkan produksi dan mutusimplisia purwoceng di KP Gunung Putri, Cianjur yang tanahnya berpasirdengan ketinggian 1.500 m dpl. Percobaan menggunakan rancangan acakkelompok dengan 4 ulangan. Perlakuan terdiri dari 12 kombinasi jenis dantaraf pupuk organik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenispemupukan organik berpengaruh nyata terhadap komponen pertumbuhandan produksi biomas tanaman. Pemberian pukan ayam menghasilkanbobot daun, akar, dan total paling baik dibandingkan dengan pukankambing, pukan sapi dan pupuk kompos. Aplikasi pukan ayam dengantaraf yang rendah sebesar 0,24 kg/tanaman atau setara dengan 20 ton/hamempunyai efisiensi pemupukan yang paling tinggi dan tidak berbedanyata dengan aplikasi pemupukan yang lebih tinggi. Kadar sitosterol didalam daun terlihat lebih tinggi dibanding di dalam jaringan akar.Sebaliknya, kadar stigmasterol di dalam akar terlihat lebih tinggidibandingkan di dalam daun. Aplikasi pukan ayam dan pukan sapimenghasilkan kadar sitosterol yang lebih tinggi dibanding aplikasi pukankambing dan pupuk kompos. Sebaliknya, pupuk kompos dan pukankambing menghasilkan kadar stigmasterol yang lebih tinggi dibandingpukan ayam dan pukan sapi. Kondisi agroklimat dataran tinggi GunungPutri, Cianjur cukup sesuai untuk pengembangan baru purwoceng.Kata kunci : Pimpinella pruatjan, pupuk organik, taraf pupuk, produksi,mutuABSTRACTEffect of type and dosage of organic fertilizer(fertilization) on production and quality of pruatjanIn order to fulfill the demands of pruatjan raw materials for jamuindustry, and to minimize negative impact of over exploration of naturalpruatjan plants in the forest surrounding Mount Dieng areas, it is importantto search new plantation areas for the development of such plant. Thisresearch aimed to find out optimal combination of type and dosage oforganic fertilizer for increasing production and quality of pruatjan rawmaterial. A field experiment was conducted at Gunung Putri experimentalstation, Cianjur. The experiment was arranged using randomized blockdesign with four replicates, and the treatment consisted of twelvecombinations of type and dosage of organic fertilizer. The results showedthat type of organic fertilizer significantly affected plant growth andbiomass production. Application of chicken dung produced leaf, root, andtotal fresh and dry weights higher than those of sheep and cow dung, andcompost. The highest fertilization efficiency was found on the applicationof chicken dung at low dosage with 0.24 kg/plant (or equivalent with 20t/ha), however, it was not significantly different with that of higher level offertilizer application. Sitosterol content was slightly higher in leaves thanin roots. On the contrary, stigmasterol and total steroid in pruatjan rootswere higher than those in leaves. Application of chicken and cow dungproduced higher sitosterol content than those of sheep dung and compost.However, application of compost and sheep dung produced higherstigmasterol content than those of chicken and cow dung. Agroclimaticcondition of Gunung Putri highland, Cianjur is well suited for thedevelopment of new pruatjan plantation area.Key words : Pimpinella pruatjan, organic fertilizer, fertilizer level,production, qualit