4897 research outputs found
Sort by
âKORELASI DERAJAT NON-ALKOHOLIC FATTY LIVER DISEASE (NAFLD) BERDASARKAN PEMERIKSAAN ULTRASONOGRAFI ABDOMEN DENGAN KADAR SGOT-SGPT DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH UNDATA DI PALU PROVINSI SULAWESI TENGAH TAHUN 2020-2023â
KORELASI DERAJAT NON-ALCOHOLIC FATTY LIVER DISEASE (NAFLD) BERDASARKAN PEMERIKSAAN ULTRASONOGRAFI ABDOMEN DENGAN KADAR SGOT- SGPT DI RSUD UNDATA TAHUN 2020-2023
Sindi Gayatri, Ria Sulistiana2, Haerani Harun3, Andi Nur Asrinawaty4
1Mahasiswa Kedokteran, Fakultas Kedokteran, Universitas Tadulako 2Bagian Radiologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Tadulako 3Bagian Patologi Klinik, Fakultas Kedokteran, Universitas Tadulako 4Bagian Mikrobiologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Tadulako
e-mail: [email protected]
ABSTRAK
Latar Belakang : Penyakit hati berlemak non-alkohol (NAFLD) merupakan kondisi perlemakan hati, peradangan dan kerusakan hepatosit yang tidak disebabkan oleh alkohol. NAFLD dianggap tidak hanya sebagai penyakit hati primer tetapi juga bagian dari sindrom metabolik atau resistensi insulin dan penyakit terkait gaya hidup seperti diabetes, dislipidemia, dan hipertensi. NAFLD telah menjadi masalah di seluruh dunia dengan prevalensi 10-50%, juga dipengaruhi oleh etnis dan jenis kelamin dan diperkirakan prevalensinya semakin meningkat dikarenakan masalah obesitas dan sindrom metabolik di seluruh dunia. (Ayu and Novista 2023).
Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui korelasi derajat NAFLD berdasarkan pemeriksaan ultrasonografi abdomen dengan kadar SGOT- SGPT di RSUD Undata tahun 2020-2023.
Metode : Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling berjumlah 69 sampel. Data diambil dari rekam medis pasien NAFLD (data sekunder). Uji statistik yang digunakan adalah uji korelasi Spearman.
Hasil : Pasien NAFLD di RSUD Undata periode tahun 2020- 2023 paling banyak dialami kelompok usia lansia akhir rentang usia 56- 65 tahun. Berdasarkan jenis kelamin, pasien NAFLD di RSUD Undata periode tahun 2020-2023 didominasi oleh perempuan.
Kesimpulan : Tidah terdapat korelasi signifikan antara derajat NAFLD berdasarkan ultrasonografi abdomen dengan kadar sgot. Tidak terdapat korelasi signifikan antara derajat NAFLD berdasarkan ultrasonografi abdomen dengan kadar sgpt
Kata kunci : Perlemakan Hati Non-alkoholik, Sgot-Sgpt, Ultrasonografi
HUBUNGAN FAKTOR RISIKO DENGAN KEJADIAN ULKUS DIABETIKUM PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 DI RSUD UNDATA
Hubungan Faktor Risiko Dengan Kejadian Ulkus Diabetikum Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Di RSUD UNDATA
Muhammad Fauzan Nuri1, Ketut Suarayasa2, David Pakaya3, Budi Dharmono Tulaka4
1Mahasiswa Kedokteran, Fakultas Kedokteran, Universitas Tadulako
2Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran Komunitas, Fakultas Kedokteran, Universitas Tadulako
3Departemen Histologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Tadulako
4Departemen Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran, Universitas Tadulako
ABSTRAK
Latar Belakang: Diabetes melitus tipe 2 merupakan penyakit metabolik yang dapat menyebabkan berbagai komplikasi, salah satunya adalah ulkus diabetikum. Angka kejadian ulkus diabetikum pada pasien diabetes melitus tipe 2 di RSUD Undata masih tergolong tinggi. Faktor risiko seperti usia, lama menderita diabetes, jenis kelamin, merokok, hipertensi, hiperglikemia, dan obesitas diduga berkontribusi terhadap kejadian ulkus diabetikum.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara faktor risiko dengan kejadian ulkus diabetikum pada pasien diabetes melitus tipe 2 di RSUD Undata.
Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif analitik observasional dengan metode cross-sectional. Sampel penelitian terdiri dari 45 pasien diabetes melitus tipe 2 yang dirawat di RSUD Undata pada periode Desember 2024 hingga Februari 2025. Data dikumpulkan dengan model total sampling melalui wawancara dan rekam medis, kemudian dianalisis menggunakan uji chi-square untuk menentukan hubungan antara variabel bebas dan terikat.
Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara usia (p=0.705), lama menderita diabetes (p=0.092), jenis kelamin (p=0.833), merokok (p=0.363), hipertensi (p=0.832), hiperglikemia (p=0.064), dan indeks massa tubuh (p=0.348) dengan kejadian ulkus diabetikum pada pasien diabetes melitus tipe 2.
Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara faktor risiko yang diteliti dengan kejadian ulkus diabetikum pada pasien diabetes melitus tipe 2 di RSUD Undata. Penelitian lebih lanjut dengan populasi yang lebih besar dan desain longitudinal diperlukan untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat.
Kata kunci: Diabetes melitus tipe 2, ulkus diabetikum, faktor risik
HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN PERAWAT DENGAN PENERAPAN TRIASE DI INSTALASI GAWAT DARURAT RUMAH SAKIT UMUM MADANI PROVINSI SULAWESI TENGAH
Hubungan Tingkat Perawat Dengan Penerapan Triase Di Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Umum Daerah Madani Provinsi Sulawesi Tengah
Nurlaila M Talib (2024)
Program Studi D-III Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Tadulako
Ns. Windu Unggun Cahya Jalu Putra, S.Kep., M.Kep
ABSTRAK
Latar Belakang: Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu, triase merupakan salah satu sistem seleksi manajemen rumah sakit di Instalasi gawat daruratdalam keadaan sehari-hari atau dalam keadaan bencana. Penilaian triase merupakan tanggung jawab bagi perawat di instalasi gawat darurat, perlu dilatih dan dipersiapkan untuk tanggung jawab dalam menghadapi kegawatdaruratan Tujuan: Diketahui hubungan tingkat pengetahuan perawat dengan penerapan triase di Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Umum Daerah Madani Provinsi Sulawesi Tengah. Metode: Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan menggunakan desain analitik korelasi dan pendekatan cross sectional, menggunakan uji dengan Chi Square Test. Populasi penelitian ini adalah seluruh perawat di Ruang Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Umum Daerah Madani. Sampel penelitian ini sebanyak 30 responden yang diambil menggunakan total sampling. Alat pengumpulan data yang digunakan adalah kuesioner. Hasil: Dari hasil penelitian diperoleh hasil analisis data sebesar p=0.000. Angka tersebut menunjukan bahwa nilai p-value ≤ 0.005 artinya dapat disimpulakn bahwa terdapat hubungan tingkat pengetahuan perawat dengan penerapan triase di Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Umum Daerah Madani Provinsi Sulawesi Tengah. Kesimpulan: Perawat yang memiliki pengetahuan baik akan memiliki penerapan triase yang sesuai sehingga perawat diharapkan dapat mampu mempertahankan sesuai dengan Standard Operating Procedure (SOP) yang berlaku karena perawat merupakan bagian utama dalam menyelamatkan kondisi pasien yang gawat darurat.
Kata Kunci : Tingkat Pengetahuan, Penerapan Trias
HUBUNGAN BERAT BADAN LAHIR RENDAH (BBLR) DENGAN KEJADIAN STUNTING PADA BALITA USIA 24-59 BULAN DI PUSKESMAS MAMBORO
HUBUNGAN BERAT BADAN LAHIR RENDAH (BBLR) DENGAN KEJADIAN STUNTING PADA BALITA USIA 24-59 BULAN DI PUSKESMAS MAMBORO
Nugrah Rendra Sentosa Kadir1, Rahma2, Sumarni3, dan Elli Yane Bangkele4
1Mahasiswa Kedokteran, Fakultas Kedokteran, Universitas Tadulako
2Departemen Anak, Fakultas Kedokteran, Universitas Tadulako
3Departemen Gizi Klinik, Fakultas Kedokteran, Universitas Tadulako
4Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran, Universitas Tadulako
ABSTRAK
Pendahuluan: Stunting merupakan permasalahan gizi kronis yang berdampak pada pertumbuhan anak dan perkembangan kognitifnya. Salah satu faktor risiko utama yang berkontribusi terhadap kejadian stunting adalah Berat Badan Lahir Rendah (BBLR).
Tujuan: Untuk mengetahui Hubungan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) Dengan Kejadian Stunting Pada Balita Usia 24-59 Bulan.
Metode: Penelitian ini menggunakan desain studi analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian terdiri dari 83 balita yang mengalami stunting di wilayah kerja Puskesmas Mamboro, yang dipilih menggunakan metode total sampling. Data dikumpulkan melalui buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) dan dianalisis menggunakan uji Chi-Square.
Hasil: Dari 83 balita yang diteliti, sebanyak 31 balita (37,3%) memiliki riwayat BBLR. Hasil analisis bivariat menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara BBLR dengan kejadian stunting (p-value < 0,001). Balita dengan BBLR memiliki risiko lebih tinggi mengalami stunting dibandingkan balita dengan berat badan lahir normal.
Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara BBLR dengan kejadian stunting pada balita usia 24-59 bulan di Puskesmas Mamboro. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar dalam upaya pencegahan dan intervensi dini untu
MODEL EVALUASI KOMPETENSI KADER MELALUI SISTEM OSCE DI WILAYAH KERJA POSYANDU KELURAHAN MAMBORO
MODEL EVALUASI KOMPETENSI DASAR KADER MELALUI SISTEM OSCE DI WILAYAH KERJA POSYANDU KELURAHAN MAMBORO
Pury Jasticia Prameswari*, Ketut Suarayasa**, Miranti***, Elly Yane Bangkele****
*Mahasiswa Kedokteran, Fakultas Kedokteran, Universitas Tadulako
**Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran Komunitas Fakultas Kedokteran Universitas Tadulako
e-mail : [email protected]
ABSTRAK
Pendahuluan: Kader posyandu berperan penting dalam mendukung pelayanan kesehatan primer melalui kegiatan promotif dan preventif di masyarakat. Namun, masih banyak kader yang belum mendapatkan pelatihan keterampilan dasar secara menyeluruh, sehingga diperlukan model evaluasi yang objektif untuk menilai kompetensi mereka. Salah satu metode yang dapat digunakan adalah Objective Structured Clinical Examination (OSCE) yang menilai keterampilan praktis dan komunikasi kader secara terstruktur.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model video evaluasi kompetensi kader posyandu menggunakan sistem OSCE serta mengetahui persepsi kader dan petugas puskesmas terhadap penerapan model video evaluasi tersebut.
Metode: Penelitian ini menggunakan metode Research and Development (R&D) yang dilaksanakan di Puskesmas Mamboro, Kota Palu, pada bulan April–Juli 2025. Sampel terdiri dari delapan kader posyandu dan dua petugas puskesmas sebagai informan utama dan kunci. Instrumen penelitian meliputi lembar checklist validasi video OSCE dan pedoman wawancara. Analisis dilakukan secara deskriptif untuk menilai validitas model dan persepsi pengguna.
Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa model video evaluasi kompetensi kader berbasis OSCE dinilai valid dan layak digunakan sebagai salah satu model penilaian objektif keterampilan kader. Kader dan petugas kesehatan menyatakan bahwa dengan adanya model video evaluasi kompetensi keterampilan dasar kader menggunakan sistem OSCE ini membantu meningkatkan pemahaman dan keterampilan kader mengenai model evaluasi OSCE dan dalam melakukan layanan posyandu serta menjadi inovasi baru dalam melakukan evaluasi keterampilan kader posyandu.
Kesimpulan: Model video evaluasi kompetensi kader posyandu melalui sistem OSCE dapat mengukur secara objektif dan terstruktur 25 keterampilan kader posyandu.
Kata kunci:Posyandu, Kompetensi kader, Model Evaluasi, OSCE
Prevalensi dan Karakteristik Pasien Human Immunodeficiency Virus (HIV) Usia Remaja di RSUD Undata Kota Palu Tahun 2020 â 2024
Prevalensi dan Karakteristik Pasien Human Immunodeficiency Virus (HIV) Usia Remaja di RSUD Undata Kota Palu Tahun 2020 – 2024
Trianita Naftali Paelongan1, Intania Riska Putrie2, Devi Oktafiani2, Mohammad Zainul Ramadhan3
1Mahasiswa Kedokteran, Fakultas Kedokteran, Universitas Tadulako
2Departemen Biokimia, Fakultas Kedokteran, Universitas Tadulako
3Departemen Fisiologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Tadulako
Email : [email protected]
ABSTRAK
Latar Belakang : Human Immunodeficiency Virus (HIV) menyerang sistem imun manusia, khususnya sel CD4, dan jika tidak ditangani, dapat berkembang menjadi AIDS. Prevalensi HIV di Indonesia dan secara global terus meningkat, sementara remaja menjadi kelompok yang sangat rentan terhadap infeksi ini akibat perilaku berisiko, kurangnya edukasi kesehatan reproduksi, serta keterbatasan data terkait prevalensi HIV pada kelompok usia remaja.
Metode : Desain penelitian ini bersifat observasional deskriptif dengan pendekatan cross-sectional. Data yang digunakan merupakan data sekunder dari rekam medis pasien HIV usia 10–19 tahun yang berobat di RSUD Undata antara tahun 2020 hingga 2024, dengan total sampel sebanyak 18 pasien yang memenuhi kriteria inklusi.
Hasil : Prevalensi kasus HIV tertinggi pada tahun 2022 dan 2024 sebesar 23,8%, sedangkan terendah pada tahun 2020 dan 2021 sebesar 16,6%. Karakteristik pasien menunjukkan mayoritas berjenis kelamin laki-laki (83,3%), pendidikan terakhir Sekolah Menengah Pertama (38,9%), serta memiliki limfosit total normal (61,1%), Rasio Neutrofil-Limfosit (RNL) normal (55,6%), kadar hemoglobin rendah (anemia) (66,7%), dan sebagian besar tidak mengalami infeksi oportunistik (66,7%). Jenis infeksi oportunistik yang ditemukan meliputi tuberkulosis (16,7%), kandidiasis (11,1%), dan diare kronis (5,5%).
Kesimpulan : Kejadian HIV pada remaja di RSUD Undata cenderung fluktuatif dengan dominasi kasus pada remaja laki-laki dan berpendidikan dasar. Temuan ini menegaskan perlunya upaya promotif dan preventif berbasis edukasi kesehatan reproduksi untuk menurunkan risiko penularan HIV pada kelompok usia remaja.
Kata kunci : HIV, remaja, prevalensi, karakteristik pasie
FAKTOR RISIKO YANG BERPENGARUH TERHADAP KEJADIAN HIPERTENSI PADA IBU HAMIL DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS TALISE KOTA PALU
FAKTOR RISIKO YANG BERPENGARUH TERHADAP KEJADIAN HIPERTENSI PADA IBU HAMIL DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS TALISE KOTA PALU
Brigita Dela*, Asrawati Sofyan**, Muhammad Sabir***, Ary Anggara****
* Mahasiswa Kedokteran, Fakultas Kedokteran, Universitas Tadulako
** Departemen Farmakologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Tadulako
*** Departemen Mikrobiologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Tadulako
**** Departemen Infeksi Tropis dan Traumatologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Tadulako
ABSTRAK
Hipertensi adalah kondisi di mana tekanan darah sistolik hampir mencapai atau lebih dari 140 mmHg dan tekanan darah diastolik hampir mencapai atau lebih dari 90 mmHg. Hipertensi bisa terjadi di berbagai tahap kehidupan, termasuk selama kehamilan. Hipertensi dalam kehamilan termasuk dalam faktor utama penyebab morbiditas dan mortalitas untuk ibu ataupun janin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor risiko yang berpengaruh terhadap kejadian hipertensi dalam kehamilan pada ibu hamil. Metode penelitian yang digunakan adalah cohort retrospektif dengan populasi wanita hamil di wilayah kerja puskesmas Talise Kota Palu dan Sampel sebanyak 91 sampel menggunakan Teknik Purposive sampling. Hasil penelitian menunjukan bahwa usia ibu hamil dan paritas ibu hamil tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap kejadian hipertensi dalam kehamilan. Namun riwayat hipertensi pada ibu hamil memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kejadian hipertensi dalam kehamilan. untuk mengatasi hipertensi dalam kehamilan perlu dilakukan pemantauan ibu hamil yang memiliki riwayat hipertensi dan penyuluhan tentang pentingnya pemeriksaan tekanan darah secara teratur dan kontrol kesehatan bagi ibu hamil.
Kata Kunci: Hipertensi, Ibu Hamil, Parita
GAMBARAN TINGKAT KEMANDIRIAN LANSIA DALAM PEMENUHAN ACTIVITY OF DAILY LIVING (ADL) DI PUSKESMAS BULILI KOTA PALU
PROGRAM STUDI D-III KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS TADULAKO
Karya Tulis Ilmiah, Juli 2025
Cindy
GAMBARAN TINGKAT KEMANDIRIAN LANSIA DALAM
PEMENUHAN Activity Of Daily Living (ADL)
DI PUSKESMAS BULILI
KOTA PALU
ABSTRAK
Latar belakang : Lanjut usia merupakan tahap akhir dalam siklus kehidupan yang ditandai dengan penurunan kemampuan fisik, termasuk fungsi muskuloskeletal, sehingga berdampak pada kemandirian lansia dalam menjalani aktivitas sehari-hari (Activity of Daily Living / ADL). Ketergantungan lansia dalam melakukan ADL berpotensi menurunkan kualitas hidup serta meningkatkan beban keluarga dan fasilitas pelayanan kesehatan. Berdasarkan data Puskesmas Bulili Kota Palu tahun 2024, terdapat 758 lansia berusia di atas 60 tahun. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat kemandirian lansia dalam pemenuhan ADL di Puskesmas Bulili Kota Palu. Metode : Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan pendekatan survei, melibatkan 53 responden lansia yang berusia ≥60 tahun dan dipilih menggunakan teknik accidental sampling. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner Katz Index yang terdiri dari enam komponen ADL: mandi, berpakaian, makan, berpindah tempat, toileting, dan kontrol eliminasi. Hasil : Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 53 responden, 23 orang (43,3%) termasuk kategori mandiri, 23 orang (43,3%) dibantu, dan 7 orang (13,4%) bergantung. Lansia usia 60–74 tahun sebagian besar berada dalam kategori mandiri (41,5%), sedangkan lansia usia 75–90 tahun cenderung berada dalam kategori dibantu (15,0%) dan bergantung (4%). Sedangkan berdasarkan jenis kelamin perempuan lebih banyak dalam kategori mandiri yaitu 16 responden (30,1%) dibanding dengan jenis kelamin laki-laki cenderung berada dalam kategori dibantu sebanyak 14 responden (26,4%). Kesimpulan: sebagian besar lansia di wilayah kerja Puskesmas Bulili masih mampu menjalankan aktivitas sehari-hari secara mandiri, terutama pada usia yang lebih muda. Namun, seiring bertambahnya usia, tingkat ketergantungan meningkat. Oleh karena itu, diperlukan dukungan dari keluarga dan fasilitas kesehatan untuk mempertahankan serta meningkatkan kemandirian lansia melalui pelatihan ADL dan senam lansia.
Kata Kunci: lansia, kemandirian, aktivitas sehari-hari, AD
ASUHAN KEPERAWATAN PADA LANSIA GOUT ARTHRITIS DENGAN MASALAH GANGGUAN MOBILITAS FISIK DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS DOLO
ABSTRAK
Asuhan Keperawatan Pada Lansia Gout Arthritis Dengan Masalah Gangguan Mobilitas Fisik Di Wilayah Kerja Puskesmas Dolo
Tri Suci Rahmadani (2025)
Program Studi DIII Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Tadulako Dr. Ni Wayan Sridani.S.ST., Ns., M,Kes
Latar Belakang: Gout arthritis merupakan salah satu penyakit degeneratif yang umum terjadi pada lanjut usia. Kondisi ini dapat menimbulkan gejala nyeri akut dan gangguan mobilitas fisik yang berdampak pada penurunan kualitas hidup lansia. Di wilayah kerja Puskesmas Dolo, tercatat peningkatan kasus gout arthritis pada lansia, dengan keluhan utama berupa nyeri sendi dan keterbatasan aktivitas harian. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan asuhan keperawatan pada lansia penderita gout arthritis dengan masalah gangguan mobilitas fisik. Metode: Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan studi kasus pada dua orang lansia di Desa Langaleso, wilayah kerja Puskesmas Dolo. Proses keperawatan dilakukan selama tiga hari, meliputi pengkajian, diagnosis keperawatan, perencanaan, implementasi, dan evaluasi. Hasil: Hasil studi menunjukkan bahwa kedua lansia mengalami nyeri lutut, keterbatasan gerak, dan gangguan tidur akibat nyeri. Diagnosa keperawatan utama adalah gangguan mobilitas fisik. Intervensi yang dilakukan meliputi edukasi, latihan rentang gerak (ROM), dan manajemen nyeri. Setelah intervensi selama 3 hari, terdapat peningkatan pada kekuatan otot, dan penurunan nyeri. Kesimpulan: Asuhan keperawatan yang tepat dapat membantu meningkatkan mobilitas fisik dan kualitas hidup lansia dengan gout arthritis. Dukungan keluarga serta edukasi berkelanjutan diperlukan untuk mencegah komplikasi dan kekambuhan. Saran : bagi peneliti selanjutnya diharapkan dapat menggunakan penelitian ini pada analisa yang lebih tinggi dan menguji kembali hasil dari penelitian ini. Kata Kunci: Gout Arthritis; Lansia; Gangguan Mobilitas Fisik
TINGKAT KEPATUHAN MINUM OBAT PADA PENDERITA DIABETES MILLITUS TIPE 2 DI UPTD PUSKESMAS KAWATUNA KOTA PALU
TINGKAT KEPATUHAN MINUM OBAT PADA PENDERITA DIABETES MILLITUS TIPE 2 DI UPTD PUSKESMAS KAWATUNA KOTA PALU
HAERUNNISAH YUSUF
N21022038
ABSTRAK
Pendahuluan: Diabetes Millitus merupakan penyakit kronis dengan tanda gejala terlihat jelas dan semakin parah. Penyakit diabetes millitus memiliki ciri adanya kegagalan dalam proses mengolah zat gizi menjadi sumber energi yang bersumber dari karbohidrat, protein dan lemak, diabetes mellitus akan dikenali dengan meningkatnya gula darah. Tujuan: Mengetahui tingkat kepatuhan minum obat pada penderita diabetes millitus tipe 2 di UPTD Puskesmas Kawatuna Kota Palu. Metode: Desain penelitian ini yaitu deskriptif dengan jumlah sampel 86 responden diabetes millitus tipe 2 dengan teknik purposive sampling. Pengumpulan data menggunakan kuesioner tingkat kepatuhan dari teori Morisky Medication Adherence Scale (MMAS-8). Hasil: Berdasarkan hasil mayoritas pasien diabetes millitus tipe 2 memiliki kepatuhan minum obat rendah 58 responden (67,4%). Kesimpulan: Kepatuhan pasien sangat diperlukan untuk mencapai keberhasilan terapi diabetes millitus sehingga disarankan kepada keluarga pasien agar dapat meningkatkan pengawasan dan pendampingan minum obat pasien yang kurang patuh guna mencegah terjadinya komplikasi.
Kata Kunci: Diabetes Millitus Tipe 2, Kepatuhan Minum Oba