4897 research outputs found
Sort by
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN UROLITHIASIS DI POLI UROLOGI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH UNDATA PROVINSI SULAWESI TENGAH
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN UROLITHIASIS DI POLI UROLOGI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH UNDATA PROVINSI SULAWESI TENGAH
Natasya Putri Nathaniella*, Muh. Ardi Munir**, Rosa Dwi Wahyuni***, Budi Dharmono Tulaka****
*Mahasiswa Kedokteran, Fakultas Kedokteran, Universitas Tadulako
**Departemen Anatomi, Fakultas Kedokteran, Universitas Tadulako
***Departemen Patologi Klinik, Fakultas Kedokteran, Universitas Tadulako
****Departemen Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran, Universitas Tadulako
ABSTRAK
Latar Belakang: Batu saluran kemih (urolithiasis) merupakan suatu keadaan terbentuknya massa keras atau batu di sepanjang daerah saluran kemih. Urolithiasis merupakan urutan ke tiga penyakit terbanyak di bidang urologi setelah infeksi saluran kemih dan pembesaran prostat benigna. Data yang terdapat di Indonesia mencatat bahwa dalam setahun terdapat 7-21 pasien per 10.000 pasien di rumah sakit yang terdiagnosis urolithiasis dengan usia terbanyak pada 30-59 tahun. Berdasarkan riset kesehatan dasar (Riskesdas) tahun 2013, Sulawesi Tengah menempati urutan ketiga prevalensi nephrolithiasis terbanyak di Indonesia yaitu sebanyak 0,8%, di atasnya terdapat Aceh 0,9% dan tertinggi di D.I Yogyakarta dengan prevalensi 1,2%. Berdasarkan laporan kinerja RSUD Undata pada tahun 2018, urolithiasis menempati urutan ke lima sebagai penyakit terbanyak rawat jalan di UPT RSUD Undata dengan jumlah kasus 1366.
Tujuan: Untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian urolithiasis di poli urologi RSUD Undata Provinsi Sulawesi Tengah.
Metode: Pada penelitian ini, jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan metode observasional analitik, dan pendekatan cross sectional. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik accidental sampling. Sampel terdiri dari 54 pasien urolithiasis dan 45 pasien non urolithiasis yang berobat di poli urologi RSUD Undata Provinsi Sulawesi Tengah.
Hasil: Berdasarkan hasil analisis bivariat menggunakan uji chi-square didapatkan faktor yang diteliti yaitu usia memiliki nilai p-valu
HUBUNGAN DERAJAT INDEKS MASSA TUBUH DENGAN DERAJAT HYPEREMESIS GRAVIDARUM DI RSUD TORA BELO KABUPATEN SIGI
HUBUNGAN DERAJAT INDEKS MASSA TUBUH DENGAN DERAJAT HYPEREMESIS GRAVIDARUM DI RSUD TORA BELO KABUPATEN SIGI
Zuhrotul Qolbi*, IPFI White**, Sumarni***, I Kadek Rupawan****
*Mahasiswa Kedokteran, Fakultas Kedokteran, Universitas Tadulako
** Departemen Obstetri dan Ginekologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Tadulako
***Departemen Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Tadulako
****Departemen Patologi Anatomi, Fakultas Kedokteran, Universitas Tadulako
e-mail: [email protected]
ABSTRAK
LATAR BELAKANG : Hyperemesis Gravidarum (HEG) merupakan keadaan mual-muntah berlebih pada ibu hamil yang memiliki banyak dampak negatif, termasuk besarnya beban ekonomi pengobatan, ancaman keselamatan ibu dan janin, serta hasil kehamilan yang merugikan seperti Kekurangan Energi Kronik (KEK), Bearat Bayi Lahir Rendah (BBLR), hingga stunting. Keparahan derajat HEG ini dipengaruhi berbagai faktor, di antaranya adalah derajat Indeks Massa Tubuh (IMT) yang dianggap berhubungan dan juga dapat dimodifikasi.
METODE : Penelitian kuantitatif dengan desain observasional analitik dan pendekatan cross-sectional, dianalisis menggunakan uji Somers’ d.
HASIL : Dari 63 pasien, mayoritas memiliki derajat IMT underweight (44,4%). Derajat HEG pada sampel terdapat 2 jenis yaitu derajat 1 dan 2, dengan 93,7% pasien berada pada derajat 2. Uji Somers’ d menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara derajat IMT dengan derajat HEG (p=0,049). Hubungan yang didapatkan adalah hubungan yang negatif atau berkebalikan dengan didapatkan nilai koefisien korelasi (r=-0,201). Hubungan tersebut juga didukung oleh data tambahan bahwasannya pasien HEG yang paling banyak mengalami ketonuria positif, detak jantung abnormal, dan tekanan darah abnormal adalah pasien dengan derajat IMT underweight. Sebagian besar pasien berusia dewasa muda (88,9%), dengan status gravida multigravida (44,4%) dan paritas primipara (36,5%). Mayoritas pasien tidak pernah mengalami abortus (76,2%).
KESIMPULAN : Terdapat hubungan korelasi negatif yang bermakna antara derajat indeks massa tubuh dengan derajat hyperemesis gravidarum, yaitu semakin rendah derajat IMT maka semakin tinggi derajat keparahan HEG.
KATA KUNCI : Hyperemesis Gravidarum, Indeks Massa Tubuh, Gravida, Paritas, Riwayat Abortus, Ketonuria, Tekanan Darah, Heart Rate
INTERVENSI TERAPI RELAKSASI BENSON UNTUK MENGURANGI NYERI PADA PENDERITA HIPERTENSI DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS TINGGEDE
Intervensi Terapi Relaksasi Benson Untuk Mengurangi Nyeri Pada
Penderita Hipertensi Di Wilayah Kerja Puskesmas Tinggede
Reskiatul Amani (2024)
Program Studi D-III Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Tadulako
Ns. Parmin, S.Kep, M.Kep
Kata Kunci : Hipertensi, Terapi Relaksasi Benson, Nyeri
ABSTRAK
Hipertensi adalah suatu kondisi dimana meningkatnya tekanan darah hingga mencapai angka yang tinggi, yaitu sistolik ≥ 140 mmHg dan diastolik ≥ 90 mmHg. Masalah keperawatan yang sering terjadi adalah nyeri yang dirasakan pada bagian kepala dan tengkuk. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan asuhan keperawatan dengan pemberian terapi relaksasi benson untuk mengurangi nyeri pada penderita hipertensi. Penelitian ini dilakukan di Desa Tinggede, Kecamatan Marawola, Kabupaten Sigi. Desain penelitian ini adalah studi kasus pada dua responden yang mengalami nyeri ringan hingga sedang akibat hipertensi. Fokus intervensi adalah pemberian terapi relaksasi benson. Hasil studi kasus menunjukkan bahwa terapi relaksasi benson yang dilakukan selama 2x/hari selama 3 hari dengan waktu 15 menit dapat mengurangi nyeri dan menurunkan tekanan darah, pada klien 1 sebelum intervensi tekanan darah dari 170/94 mmHg dengan skala nyeri 6 setelah dilakukan intervensi menjadi 130/90 mmHg dengan skala nyeri 2, sedangkan klien 2 sebelum intervensi tekanan darah 165/88 mmHg dengan skala nyeri 5 setelah dilakukan intervensi menjadi 120/80 mmHg dengan skala nyeri 0 pada hari ketiga intervensi. Kesimpulan penelitian adalah terapi relaksasi benson dapat mengurangi nyeri dan menurunkan tekanan darah, diharapkan dalam memberikan terapi relaksasi benson kepada pasien dibutuhkan keterampilan dalam berkomunikasi serta menjalin hubungan saling percaya
ANALISIS PENGARUH PERILAKU MEROKOK TERHADAP KEJADIAN STUNTING DI PUSKESMAS PANTOLOAN KOTA PALU
Analisis Pengaruh Perilaku Merokok Terhadap Kejadian Stunting di Puskesmas Pantoloan Kota Palu
Muh. Rafly Rinaldy R. Tongko*, Haerani Harun**, Ketut Suarayasa***, Miranti***
*Mahasiswa Kedokteran, Fakultas Kedokteran, Universitas Tadulako
**Departemen Patologi Klinik, Fakultas Kedokteran, Universitas Tadulako
***Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran, Universitas Tadulako
e-mail: [email protected]
ABSTRAK
Latar Belakang: Stunting merupakan masalah gizi yang dapat menghambat perkembangan fisik dan mental anak. Faktor yang dapat menjadi risiko kejadian stunting pada balita adalah perilaku merokok. WHO menemukan bahwa Indonesia dianggap sebagai negara ke-3 dengan prevalensi tertinggi di kawasan Asia Tenggara. Perilaku merokok orang tua dilaporkan mempengaruhi dalam tumbuh kembang anak, oleh karena itu tujuan dari penelitian ini untuk meneliti pengaruh perilaku merokok terhadap kejadian stunting di puskesmas pantoloan kota palu.
Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain observasional analitik menggunakan pendekatan Case Control untuk melihat pengaruh perilaku merokok orang tua terhadap kejadian stunting anak di puskesmas pantoloan kota palu. Sampel dari penelitian ini merupakan total populasi. Sampel dalam penelitian ini adalah anak yang memenuhi kriteria inklusi. Sampel akan diambil menggunakan Teknik Total Sampling yang akan dibagi menjadi dua kelompok yakni 76 kasus dan 76 kontrol, sehingga jumlah sampel adalah 152 balita. Data diuji dengan uji regresi biner untuk melihatt pengaruh terhadap stunting dan nilai p bermakna apabila lebih dari 0.05
Hasil: Hasil analisis didapatkan perilaku merokok orang tua tidak perpengaruh terhadap stunting (p0.814, OR=1.117), jumlah rokok tidak berpengaruh terhadap stunting (p=0.895, OR=1.035). lama merokok tidak berpengaruh terhadap stunting (p=0.563, OR=1.183) Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat pengaruh dari perilaku merokok terhadap kejadian stunting di puskesmas pantoloan kota palu.
Kesimpulan: Tidak terdapat pengaruh dari perilaku merokok orang tua yang ditemukan terhadap kejadian stunting pada anak di puskesmas pantoloan kota palu.
Kata Kunci: Merokok, Rokok, Stuntin
GAMBARAN GAYA HIDUP PENDERITA DIABETES MELLITUS DI UPTD PUSKESMAS KAWATUNA
PROGRAM STUDI D-IIII KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS TADULAKO
KaryajTulisjIlmiah, Juli 2024
Ayumi Marlin Tarri
GAMBARAN GAYA HIDUP PENDERITA DIABETESjMELLITUS
DI UPT Di PUSKESMAS KAWATUNA
ABSTRAK
Diabetes mellitus adalah suatu penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau kedua-duanya. Keadaan hiperglikemia kronik pada diabetes dapat berdampak kerusakan .jangka .panjang, disfungsi beberapa .organ .tubuh pada mata, ginjal, saraf, jantung dan pembuluh darah yang menyababkan komplikasi gangguan penglihatan, gagal ginjal, penyakit kardiovaskuler maupun neuropati. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi gambaran gaya hidup penderita diabetes mellitus berdasarkan pola makan, aktivitas fisik, stres dan merokok. Jenis penelitian .ini merupakan jenis penelitian kuantitatif deskriptif dengan desain penelitian cross sectional untuk mengetahui gambaran gaya hidup penderita diabetes mellitus di UPTD Puskesmas Kawatuna. Jumlah sampel yang diambil sebanyak 32 sampel. Pengumpulan data menggunakan kuesioner dan menggunkan program SPSS. Hasil penelitian ini adalah sebagian besar pola makan pada pasien diabates mellitus berada pada kategori kurang baik, sebagian besar aktivitas fisik pada pasien diabates mellitus berada pada kategori aktivitas fisik ringan, sebagian besar perilaku stress pada pasien diabates mellitus berada pada kategori stress ringan, sebagian besar perilaku merokok pada pasien diabates mellitus berada pada kategori tidak merokok.
Kata Kunci : Gaya Hidup, Pola Makan, Diabetes Melitu
Intervensi Terapi Aktivitas Kelompok Menggambar Pada Pasien Halusinasi Pendengaran Diruangan Manggis RSUD Madani Prov. Sul-Teng
Abstrak
Intervensi Terapi Aktivitas Kelompok Menggambar Pada Pasien Halusinasi Pendengaran Diruangan Manggis RSUD Madani Prov. Sul-Teng
Nurfadilah Fitrianti (2024)
Program Studi D-III Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Tadulako
(Parmin, Andi Saifah, Sukrang)
Halusinasi merupakan salah satu gejala yang sering pada pasien gangguan jiwa hal tersebut dimana klien mengalami gangguan presepsi sensori. Tujuan studi kasus ini adalah Untuk mengetahui asuhan keperawatan Jiwa pada pasien dengan gangguan persepsi sensori halusinasi Pendengaran dengan intervensi terapi aktivitas kelompok menggambar untuk mengurangi halusinasi pasien di ruangan manggis RSUD Madani Prov. Sulawesi Tengah. Desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif dalam bentuk studi kasus dengan pendekatan proses keperawatan dan kasus terpilih dua klien yang mengalami halusinasi pendengaran. Instrumen yang digunakan adalah format pengkajian asuhan keperawatan jiwa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah kedua klien mendapatkan terapi sesuai perencanaan selama 5 hari kedua klien mampu mengontrol halusinasi dengan kriteria hasil kedua klien mampu memulai pembicaraan, kontak mata ada, pembicaraan terarah, tidak gelisah, mau mengkuti aktivitas di ruang perawatan serta mampu berbaur dengan klien lainnya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa halusinasi pendengaran dapat teratasi dengan menggunakan strategi pelaksanaan berupa menghardik, mengendalikan halusinasi dengan cara bercakap – cakap, membuat jadwal kegiatan, meminum obat secara rutin dan pelaksanaan terapi aktifitas kelompok menggambar. Penelitian ini diharapkan Sebagai masukan bagi institusi pendidikan dalam upaya mempersiapkan calon tenaga keperawatan yang memiliki pengetahuan dan keterampilan khususnya dalam memberikan asuhan keperawatan jiwa.
Kata Kunci: Asuhan Keperawatan Jiwa, Strategi Pelaksanaan, Terapi Aktifitas Kelompok Menggambar, Halusinasi Pendengara
GAMBARAN PENGETAHUAN IBU TENTANG KEJADIAN KEJANG DEMAM PADA ANAK DI WILIYAH KERJA PUSKESMAS BANGKIR KABUPATEN TOLI-TOLI SULAWESI TENGAH
ASNIRA
Program Studi DIII Keperawatan
[email protected]
ABSTRAK
latar belakang : Kejang demam adalah kejang yang disebabkan kenaikan suhu tubuh lebih dari 38,4o C tanpa adanya infeksi susunan saraf pusat atau gangguan elektrolit akut pada anak berusia di atas 1 bulan tanpa riwayat kejang sebelumnya. Kejang demam pada anak perlu diwaspadai karena kejang yang lama (lebih dari 15 menit) dapat menyebabkan kerusakan saraf otak sehingga menjadi epilepsy, Kelumpuhan, retardasi mental, bahkan kematian. Penanganan kejang demam pada anak sangat tergantung pada peran orang tua khususnya ibu. Pengetahuan ibu tentang kejang demam merupakan peran penting yang mempengaruhi penatalaksanaan kejang demam. Ibu yang memiliki pengetahuan baik tentang kejang demam dapat melakukan penanganan yang baik untuk anaknya. Tujuan : Untuk Mengedintifikasi Gambaran Pengetahuan Ibu Tentang Kejang Demam Pada Anak Di Puskesmas Bangkir Kabupaten Tolitoli Sulawesi Tengah Metode : Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif yaitu suatu penelitian yang dilakukan untuk mendeskripsikan atau menggambarkan suatu fenomena yang terjadi di dalam masyarakat. pada penelitian ini peneliti akan medeskripsikan bagaimana gambaran pengetahuan ibu tentang kejang demam pada anak.Hasil : dapat ditarik kesimpulan yaitu responden dengan pengetahuan baik 8 responden (22,8 %), pengetahuan cukup 10 responden (28,6 %), pengetahuan kurang 17 responden (48,6 %).Kesimpulan : Ibu yang berumur 21-35 tahun lebih memiliki wawasan yang lebih luas dan memiliki penegetahuan yang lebih banyak karna masih produktif
Kata kunci : kejang demam pada anak, pengetahuan ibu tentang kejang demam
ASUHAN KEPERAWATAN LANSIA YANG MENDERITA HIPERTENSI DI WILAYAH KERJA UPTD PUSKESMAS KAWATUNA KECAMATAN MANTIULORE KOTA PALU SULAWESI TENGAH
Asuhan Keperawatan Lansia Yang Menderita Hipertensi Di Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Kawatuna Kecamatan Mantikulore Kota Palu Sulawesi Tengah
Yulince Douw
Program Studi D-III Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Tadulako
Dr. Ni Wayan Sridani, SST.,M.Kes
ABSTRAK
Latar belakang: Hipertensi adalah meningkatnya tekanan darah pada dinding arteri yang pada sistoliknya sekitar 140 mmHg atau lebih dan diastoliknya 90 mmHg atau lebih. faktor pencetus terjadinya hipertensi adalah stress, kegemukan, merokok, asupan garam yang tinggi, sensitifitas terhadap angiotensin, hiperkolesteroemia, kurang olah raga, genetik, obesitas, ateroskllerosis, kelainan ginjal, gaya hidup dan kualitas tidur yang buruk. Tujuan : Untuk mendapatkan gambaran asuhan keperawatan lansia yang menderita Hipertensi di UPTD Puskesmas Kawatuna Palu Sulawesi Tengah tahun 2024. Metode : penelitian deskriptif dengan desain studi kasus. Sampel penelitian yaitu dua klien lansia yang menderita hipertensi. Instrumen yang digunakan yaitu format pengkajian, tensi meter, stetoskop, termometer, lifflet. Hasil : Pengkajian Pada klien 1 dan klien 2, ditemukan keluhan dan tanda gejala yang berbeda, yaitu nyeri kepala dan nyeri tengkuk. Tekanan darah yang tercatat pada kedua klien adalah 160/90 mmHg. Kedua klien juga mengungkapkan kurangnya pengetahuan tentang hipertensi dan sering lupa mengonsumsi obat hipertensi tepat waktu, Diagnosa Keperawatan: Nyeri akut, Defisit pengetahuan, Ketidakpatuhan, Intervensi yang dilakukan disesuaikan dengan masalah keperawatan klien yang ada, Implementasi keperawatan yaitu edukasi tentang penyakit, pengobatan, dan dukungan dari keluarga untuk meningkatkan kepatuhan pasien terhadap program pengobatan. Evaluasi dilakukan untuk menilai efektivitas intervensi yang diberikan, dengan tujuan untuk meningkatkan kondisi kesehatan klien. Kesimpulan : Pengkajian dilakukan dengan pendekatan asuhan keperawatan yang meliputi pengumpulan data subjektif dan objektif dari dua klien yang berbeda - beda, diagnosa keperawatan yang ditemukan adalah nyeri akut, defisit pengetahuan, dan ketidakpatuhan, Intervensi dan Implementasi keperawatan yang dilakukan berfokus pada edukasi kesehatan dan pengelolaan hipertensi, yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing klien yang berbeda, Hasil evaluasi masalah keperawatan yang dihadapi klien dapat teratasi, dan terdapat peningkatan dalam pemahaman serta kepatuhan klien terhadap pengobatan. Saran : bagi peneliti selanjutnya diharapkan dapat menggunakan penelitian ini pada analisa yang lebih tinggi dan menguji kembali hasil dari penelitian ini.
Kata Kunci : Asuhan Keperawatan, Hipertensi
KEPATUHAN MINUM OBAT PADA PENDERITA DIABETES MELLITUS DI KELURAHAN DUYU KECAMATAN TATANGA WILAYAH PUSKESMAS SANGURARA KOTA PALU
Karya Tulis Ilmiah, Oktober 2024 Waradita Nursyahbani
KEPATUHAN MINUM OBAT PADA PENDERITA DIABETES MELLITUS DI KELURAHAN DUYU KECAMATAN TATANGA WILAYAH PUSKESMAS SANGURARA KOTA PALU
ABSTRAK
Latar Belakang: Diabetes mellitus merupakan penyakit kronis yang memerlukan perawatan jangka panjang, termasuk kepatuhan terhadap pengobatan. Tingkat kepatuhan sangat berpengaruh pada hasil pengobatan dan kontrol kadar gula. Tujuan: untuk mengetahui tingkat kepatuhan minum obat pada penderita Diabetes Mellitus di Kelurahan Duyu Kecamatan Tatanga Wilayah Puskesmas Sangurara Kota Palu. Metode penelitian: Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan sampel sebanyak 69 responden yang dipilih secara purposive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan analisis univariat. Hasil: penelitian ini menunjukkan bahwa 24,6% responden patuh, 49,3% kurang patuh, dan 24,6% tidak patuh dalam mengonsumsi obat. Faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan meliputi usia, tingkat pendidikan, pekerjaan dan dukungan keluarga. Kesimpulan: bahwa Gambaran Kepatuhan Minum Obat Penderita Diabetes Mellitus Di Kelurahan Duyu Kecamatan Tatanga Wilayah Puskesmas Sangurara Kota Palu Sebagian besar kurang patuh. Temuan ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi tenaga kesehatan dalam memberikan edukasi dan meningkatkan kesadaran penderita untuk patuh dalam minum obat.
Saran: diharapkan kepada pasien diabetes mellitus lebih meningkatkan untuk patuh minum obat agar kadar gula bisa terkontrol dan tidak membahayakan diri kita sendiri.
Kata Kunci: Kepatuhan, Diabetes Mellitus, Minum Obat, Puskesmas Sangurar
HUBUNGAN ANTARA TINGKAT KECEMASAN DENGAN HASIL OBJECTIVE STRUCTURED CLINICAL EXAMINATION (OSCE) PADA MAHASISWA ANGKATAN 2022 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TADULAKO
HUBUNGAN ANTARA TINGKAT KECEMASAN DENGAN HASIL OBJECTIVE STRUCTURED CLINICAL EXAMINATION (OSCE) PADA MAHASISWA ANGKATAN 2022 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TADULAKO
Andi Nurhidayah*., Imtihanah Amri**., Fitriah Handayani***., Jane Mariem Monepa****
*Mahasiswa Kedokteran, Fakultas Kedokteran, Universitas Tadulako
**Departemen Anestesiologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Tadulako
***Departemen Neurologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Tadulako
****Dosen Program Studi Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran, Universitas Tadulako
ABSTRAK
Latar Belakang : Objective Structured Clinical Examination (OSCE) adalah metode yang mengukur kemampuan mahasiswa kedokteran dengan mengkolaborasikan antara skill dengan daya ingat yang kuat sehingga dapat menimbulkan tekanan. Kecemasan yang timbul saat menghadapi ujian akan berpengaruh pada performa mahasiswa saat ujian sehingga mempengaruhi hasil ujian.
Tujuan : Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara tingkat kecemasan dengan hasil Objective Structured Clinical Examination (OSCE) pada mahasiswa angkatan 2022 Fakultas Kedokteran Universitas Tadulako.
Metode : Penelitian ini menggunakan desain analisis observasional dengan pendekatan mixed methods (kuantitatif dan kualitatif) cross-sectional. Sampel berjumlah 98 mahasiswa angkatan 2022 Fakultas Kedokteran Universitas Tadulako yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dengan teknik pengambilan sampel total sampling. Data primer diperoleh melalui kuesioner Test Anxiety Inventory (TAI) dan wawancara. Data sekunder berupa hasil OSCE yang diambil langsung dari Departemen Clinical Skills Lab.
Hasil : Hasil analisis univariat distribusi tingkat kecemasan sebagian besar sedang sebanyak 38 orang (38,8%) dan distribusi hasil OSCE sebagian besar sedang sebanyak 70 orang (71,4%). Hasil uji korelasi spearman diperoleh nilai p-value 0.695 dengan arah korelasi negatif dan kekuatan korelasi (r) adalah 0.040.
Kesimpulan : Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat kecemasan dengan hasil Objective Structured Clinical Examination (OSCE) mahasiswa angkatan 2022 Fakultas Kedokteran Universitas Tadulako.
Kata Kunci : Objective Structured Clinical Examination (OSCE), Kecemasan, Test Anxiety Inventory (TAI).