4897 research outputs found
Sort by
GAMBARAN PENGETAHUAN TENTANG KEPATUHAN MINUM OBAT PADA PASIEN HIPERTENSI DI PUSKESMAS BULILI
Gambaran Pengetahuan Tentang Kepatuhan Minum Obat
Pada Pasien Hipertensi Di Puskesmas Bulili
Livia Ananda (2025)
Program Studi D-III Keperawatan Fakultas kedokteran Universitas Tadulako
Abstrak
Latar Belakang: Hipertensi merupakan suatu keadaan dimana terjadi peningkatan tekanan darah secara abnormal dan terus menerus pada beberapa kali pemeriksaan tekanan darah yang disebabkan satu atau beberapa faktor risiko yang tidak berjalan sebagaimana mestinya dalam mempertahankan tekanan darah secara normal, Hipertensi merupakan keadaan ketika tekanan darah sistolik lebih dari 120 mmHg dan tekanan diastolik lebih dari 80 mmHg. Hipertensi sering menyebabkan perubahan pada pembuluh darah yang dapat mengakibatkan semakin tingginya tekanan darah. Pengobatan awal pada hipertensi sangatlah penting karena dapat mencegah timbulnya komplikasi pada beberapa organ tubuh seperti jantung, ginjal, dan otak. Kepatuhan adalah sebagai perilaku untuk menaati saran-saran dokter atau prosedur dari dokter tentang penggunaan obat, yang sebelumnya didahului oleh proses konsultasi antara pasien dengan dokter sebagai penyedia jasa medis. Kepatuhan dalam menjalani pengobatan merupakan salah satu faktor penting dalam mengontrol tekanan darah pasien hipertensi itu sendiri. Tujuan: untuk mengidentifikasi gambaran pengetahuan tentang kepatuhan minum obat pada pasien hipertensi. Metode Penelitian: metode penelitian menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan deskriptif. Hasil: Di dapatkan bahwa dari 97 responden 3 responden dengan pengetahuan yang kurang (3.1%), pengetahuan yang cukup sebanyak 40 responden (41.2%). Dan yang memiliki pengetahuan baik sebanyak 54 responden (55.7%). Kesimpulan: pada penelitian ini disimpulkan bahwa tingkat pengetahuan kepatuhan minum obat pada hipertensi memiliki pengetahuan yang baik.Saran: Bagi penderita hipertensi penting untuk meningkatkan pengetahuan tentang kepatuhan minum obat.
Kata kunci :Pengetahuan, Hipertensi, Kepatuha
PENERAPAN INTERVENSI HORTIKULTURA DALAM MENGENDALIKAN PENERAPAN INTERVENSI HORTIKULTURA DALAM MENGENDALIKAN RISIKO PERILAKU KEKERASAN PADA PASIEN GANGGUAN JIWA DI RUMAH SAKIT UMUM MADANI PALU
ABSTRAK
PENERAPAN INTERVENSI HORTIKULTURA DALAM MENGENDALIKAN
RISIKO PERILAKU KEKERASAN PADA PASIEN GANGGUAN JIWA
DI RUMAH SAKIT UMUM MADANI PALU
(Diruang Srikaya RSUD Madani Palu Tahun 2025)
Oleh:
Wulandari
(N21022036)
Risiko perilaku kekerasan merupakan salah satu tantangan utama dalam perawatan pasien skizofrenia, yang sering kali muncul akibat ketidakmampuan mengelola emosi dan persepsi yang terganggu. Intervensi hortikultura berupa terapi berkebun dengan polybag dipandang sebagai pendekatan nonfarmakologis yang potensial dalam mengalihkan emosi negatif serta meningkatkan kesejahteraan psikologis pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas penerapan terapi hortikultura dalam mengurangi tanda dan gejala risiko perilaku kekerasan pada pasien skizofrenia di Ruangan Srikaya RSUD Madani Provinsi Sulawesi Tengah. Desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan pendekatan studi kasus terhadap dua pasien skizofrenia yang menunjukkan risiko perilaku kekerasan. Intervensi dilakukan selama 14 hari dengan melibatkan pasien dalam aktivitas berkebun menggunakan polybag. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan telaah rekam medis, kemudian dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan intensitas emosi negatif, peningkatan kemampuan mengontrol emosi, serta pengurangan perilaku agresif pada kedua pasien. Respon positif ditunjukkan baik secara verbal, fisik, maupun emosional. Dapat disimpulkan bahwa terapi hortikultura dengan metode berkebun menggunakan polybag efektif digunakan sebagai intervensi nonfarmakologis dalam menurunkan risiko perilaku kekerasan pada pasien skizofrenia. Intervensi ini direkomendasikan untuk diterapkan dalam praktik keperawatan jiwa.
Kata Kunci: Risiko Perilaku Kekerasan, Skizofrenia, Terapi Berkebun dengan polybag, Hortikultur
GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN KELUARGA DALAM MENGENAL MASALAH KESEHATAN HIPERTENSI
PROGRAM STUDI D-111 KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS TADULAKO
Karya Tulis Imiah, Maret 2025
Eli Susan
GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN KELUARGA DALAM MENGENAL MASALAH KESEHATAN HIPERTENSI
ABSTRAK
Latar belakang : Hipertensi adalah salah satu masalah kesehatan yang beresiko dan mengarah kepada penyakit kardiovaskuler seperti serangan jantung, gagal jantung, stroke dan penyakit ginjal yang sering di temukan setiap negara. Hipertensi dikategorikan sebagai the silent disease atau the silent killer, karena penderita tidak mengetahui sebelum memeriksa tekanan darahnya.
Tujuan : Tujuan penelitian ini adalah Mengidentifikasi gambaran tingkat pengetahuan keluarga dalam mengenal masalah kesehatan hipertensi di Puskesmas Bulili. Metode : penelitian ini mengunakan penilitian deskriptif dengan desain survei dimana peniliti ingin menggambarkan tingkat pengetahuan keluarga dalam mengenal masalah hipertensi. Jumlah sampel yang diambil sebanyak 85 sampel mengunakan rumus slovin. Pengumpulan data menggunakan kuesioner. Hasil : Hasil penelitian menunjakan bahwa sebagian besar responden memiliki pengetahuan kurang adalah sebanyak 56 responden ( 65,9 %), dan pengetahuan baik 29 responden ( 34,1% ). Kesimpulan : kesimpulan dari penelitian ini bahwa Gambaran Tingkat pengetahuan keluarga dalam mengenal masalah Hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Bulili sebagian keluarga memeiliki pengetahuan yang kurang.
Kata Kunci : Pengetahuan,Umur, Pendidika
HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN KEAKTIFAN LANSIA HIPERTENSI DALAM MENGIKUTI POSYANDU LANSIA DIWILAYAH KERJA PUSKESMAS NOSARARA KELURAHAN PENGAWU KOTA PALU
Hubungan Dukungan Keluarga dengan Keaktifan Lansia Hipertensi dalam mengikuti
Posyandu Lansia diwilayah kerja Puskesmas Nosarara Kelurahan Pengawu Kota Palu
Widya Salsabila A.Lakati (2025)
Program Studi D-III Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Tadulako
Dr. Ni Wayan Sridani, S,ST.M.Kes
ABSTRAK
Latar belakang: Hipertensi merupakan penyakit yang umum terjadi pada lansia dan dapat menimbulkan komplikasi serius. Posyandu lansia menjadi wadah penting dalam upaya pemantauan dan peningkatan kesehatan lansia, namun keaktifan lansia dalam mengikuti kegiatan tersebut masih rendah. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara dukungan keluarga dengan keaktifan lansia hipertensi dalam mengikuti posyandu lansia di wilayah kerja Puskesmas Nosarara Kelurahan Pengawu Kota Palu. Metode: Penelitian menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross sectional dan melibatkan 32 lansia hipertensi sebagai responden, yang dipilih melalui teknik total sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan uji Chi-Square. Hasil: Dari uji Analisis statistik menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara dukungan keluarga dengan keaktifan lansia hipertensi dalam mengikuti posyandu lansia dengan nilai Nilai P-value sebesar 0,016 (p< 0,05). Kesimpulan: Terdapat hubungan dukungan keluarga dengan keaktifan lansia hipertensi dalam mengikuti posyandu lansia diwilayah kerja puskesmas Nosarara Kelurahan Pengawu Kota Palu. Saran: Lansia diharapkan lebih aktif mengikuti posyandu lansia dengan dukungan keluarga.
Kata Kunci: Dukungan keluarga, Keaktifan lansia, Hipertensi, Posyandu lansi
GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN KEPATUHAN MINUM OBAT PADA LANSIA PENDERITA HIPERTENSI DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS NOSARARA KELURAHAN PENGAWU
Gambaran Tingkat Pengetahuan Kepatuhan Minum Obat Pada Lansia
Penderita Hipertensi Di Wilayah Kerja Puskesmas
Nosarara Kelurahan Pengawu
Meylanda Anastasya Putri Rais Hinelo (2025)
Program Studi D-III Keperawatan Fakultas kedokteran Universitas Tadulako
Abstrak
Latar Belakang : Lansia merupakan fase akhir dari proses perjalanan manusia dimana akan terjadi perubahan dan penurunan fungsi organ akibat proses menua yang dialami. Hipertensi memiliki dua faktor risiko yang menyebabkan hipertensi yaitu faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi seperti usia jenis kelamin dan keturunan/genetic, risiko yang dapat dimodifikasi seperti kegemukan,merokok, kurang aktifitas fisik, konsumsi garam berlebih, dislipidemia, konsumsi alkohol serta psikososial dan stress. Tujuan: untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan kepatuhan minum obat pada lansia penderita hipertensi. Metode Penelitian : Penelitian deskriptif dengan pendekatan observasional yaitu suatu metode penelitian yang dilakukan dengan tujuan utama untuk membuat gambaran atau deskripsi tentang suatu keadaan secara objektif. Populasi penelitian ini 449 dengan sampel berjumlah 82 orang dengan kriteria inklusi dan ekslusi. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan rumus slovin. Hasil : Didapatkan bahwa dari 82 responden 57 responden dengan pengetahuan yang rendah (69,5%) dan 25 responden dengan pengetahuan yang tinggi (30,5%). Kesimpulan : pada penelitian ini disimpulkan bahwa tingkat pengetahuan kepatuhan minum obat pada lansia penderita hipertensi memiliki pengetahuan yang rendah Saran : Di harapkan kepada pasien hipertensi, lebih meningkatkan untuk patuh minum obat agar tekanan darah bisa terkontrol dan tidak membahayakan diri kita sendiri.
Kata Kunci : Tingkat Pengetahuan, Lansia, Hipertens
HUBUNGAN JUMLAH DAN FREKUENSI PEMBERIAN MP-ASI TERHADAP STATUS GIZI ANAK USIA 7-24 BULAN DI PUSKESMAS BIROMARU KABUPATEN SIGI
HUBUNGAN JUMLAH DAN FREKUENSI PEMBERIAN MP-ASI TERHADAP STATUS GIZI ANAK USIA 7-24 BULAN DI PUSKESMAS BIROMARU KABUPATEN SIGI
Risma*, Rahma**
*Mahasiswa Kedokteran, Fakultas Kedokteran Universitas Tadulako
**Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran Universitas Tadulako
ABSTRAK
Latar Belakang: Status gizi adalah ukuran kondisi fisik yang menunjukkan keadaan tubuh. Ini didasarkan pada perbandingan antara jumlah zat gizi yang dikomsumsi tubuh dan jumlah zat gizi yang dibutuhkan tubuh. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan 22% populasi stunting di seluruh dunia, atau sekitar 149,2 juta anak di bawah usai lima tahun akan mengalami stunting pada tahun 2020.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara jumlah dan frekuensi pemberian Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) terhadap status gizi anak usia 7-24 bulan di Puskesmas Biromaru, Kabupaten Sigi.
Metode: penelitian yang digunakan adalah desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional, melibatkan 87 responden yang memenuhi kriteria inklusi. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan pengukuran antropometri untuk menilai status gizi anak.
Hasil: penelitian menunjukkan bahwa mayoritas anak memiliki status gizi baik, dengan 79,3% berdasarkan indeks BB/PB, 57,5% berdasarkan indeks PB/U, dan 60,9% berdasarkan indeks BB/U. Analisis bivariat menggunakan uji Somer’s D menunjukkan adanya hubungan signifikan antara frekuensi pemberian MP-ASI dengan status gizi anak (p 0,05).
Kesimpulan: Temuan ini menegaskan pentingnya frekuensi pemberian MP-ASI yang sesuai untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak, serta mencegah masalah gizi. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan bagi orang tua dan penyedia layanan kesehatan mengenai pentingnya pemberian MP-ASI yang tepat, serta menjadi dasar untuk penelitian lebih lanjut dalam upaya meningkatkan status gizi anak di wilayah tersebut.
Kata Kunci: MP-ASI, Status Gizi, Stunting, Ana
PENGARUH PEMBERIAN MAKANAN TAMBAHAN (PMT) BERBAHAN LOKAL TERHADAP PENINGKATAN STATUS GIZI PADA BALITA GIZI KURANG DI PUSKESMAS MAMBORO TAHUN 2023
PENGARUH PEMBERIAN MAKANAN TAMBAHAN (PMT) BERBAHAN LOKAL TERHADAP PENINGKATAN STATUS GIZI PADA BALITA GIZI KURANG DI PUSKESMAS MAMBORO TAHUN 2023
Alingga Nabilasava Lesnusa1, Ketut Suarayasa2, Sumarni 3, Elly Yane Bangkele4
1Mahasiswa Kedokteran, Fakultas Kedokteran, Universitas Tadulako
2Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran, Universitas Tadulako
ABSTRAK
Latar Belakang: Nutrisi adalah zat organik yang diperlukan untuk fungsi normal sistem tubuh, pertumbuhan dan pemeliharaan kesehatan. pemberian bayi asupan nutrisi seimbang sangat penting untuk pertumbuhan hidup sehat dikemudian hari. Status gizi balita yang tidak normal masih merupakan masalah kesehatan di Indonesia terutama di Sulawesi Tengah. Pemberian Makanan Tambahan (PMT) berbahan pangan lokal merupakan salah satu strategi penanganan masalah gizi pada balita. Kegiatan PMT tersebut perlu disertai dengan edukasi gizi dan kesehatan untuk perubahan perilaku. Tujuan: Mengetahui pengaruh pemberian makanan tambahan (PMT) berbahan lokal dengan peningkatan status gizi pada balita gizi kurang di Puskesmas Mamboro tahun 2023.
Metode: Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Pre eksperimen.
Desain ini menggunakan one group pretest postest.
Hasil: Penelitian ini menunjukkan adanya hubungan signifikan antara pemberian makanan tambahan berbahan lokal (PMT) dengan status gizi balita.
Kesimpulan : Terdapat perbedaan nilai sebelum PMT dan sesudah PMT setelah diberikan intervensi PMT berbahan lokal sehingga program tersebut dikatakan berpengaruh dalam peningkatan status gizi balita.
Kata kunci: makanan tambahan, gizi , balita
HUBUNGAN LINGKAR LENGAN ATAS (LILA) DENGAN KADAR HEMOGLOBIN PADA IBU HAMIL DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS MAMBORO TAHUN 2024
HUBUNGAN LINGKAR LENGAN ATAS (LILA) DENGAN KADAR HEMOGLOBIN PADA IBU HAMIL DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS MAMBORO TAHUN 2024
Dzakiyyah Nuur Rihadah*, Sumarni**, Tri Setyawati***, Rahma****
*Mahasiswa Kedokteran, Fakultas Kedokteran, Universitas Tadulako
**Departemen Gizi, Fakultas Kedokteran, Univeristas Tadulako
***Departemen Biokimia, Fakultas Kedokteran, Univeristas Tadulako
****Departemen Pediatrik, Fakultas Kedokteran, Univeristas Tadulako
ABSTRAK
Lingkar Lengan Atas (LILA) selama kehamilan merupakan indikator sederhana yang digunakan sebagai skrining awal untuk menilai status gizi ibu hamil. Status gizi yang kurang (LILA < 23,5 cm) menjadi salah satu faktor predisposisi kejadian anemia terhadap ibu hamil. Kondisi ini dapat diketahui melalui pemeriksaan kadar hemoglobin (Hb) dalam darah. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan lingkar lengan atas (LILA) dengan kadar hemoglobin pada ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Mamboro Tahun 2024. Jenis penelitian ini adalah observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 73 orang yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling dari populasi ibu hamil yang melakukan pemeriksaan antenatal care di wilayah kerja Puskesmas Mamboro tahun 2024. Data sekunder dikumpulkan melalui rekam medis dan buku KIA ibu hamil, kemudian data dianalisis dengan uji Chi-Square. Sebagian besar ibu hamil memiliki LILA dalam kategori normal (74%) dan kadar hemoglobin dalam batas normal (68,5%). Analisis bivariat menunjukkan hubungan sangat signifikan antara LILA dengan kadar Hb pada ibu hamil (p-value < 0,001). Nilai LILA mencerminkan status gizi ibu hamil yang berperan dalam proses pembentukan eritrosit dan menjaga kadar Hb yang optimal.
Kata Kunci: Lingkar Lengan Atas, Kadar Hemoglobin, Ibu Hami
PERBANDINGAN RASIO NEUTROFIL LIMFOSIT (RNL) PADA PASIEN HEPATITIS VIRAL DAN NONVIRAL DI RSUD UNDATA SULAWESI TENGAH TAHUN 2020-2024
PERBANDINGAN RASIO NEUTROFIL LIMFOSIT (RNL) PADA PASIEN HEPATITIS VIRAL DAN NONVIRAL DI RSUD UNDATA SULAWESI TENGAH TAHUN 2020-2024
Lania Putri1, Junjun Fitriani P.2, Haerani Harun3, Andi Nur Asrinawaty4
1Mahasiswa Program Studi Kedokteran Universitas Tadulako
2Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Tadulako
3Bagian Patologi Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Tadulako
4Bagian Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Tadulako
Email : [email protected]
ABSTRAK
Latar Belakang: Hepatitis adalah peradangan hepar yang menjadi tantangan besar dalam kesehatan global, dapat disebabkan oleh virus serta faktor non-infeksius seperti autoimun, obat, alkohol, dan toksin. WHO mencatat 304 juta kasus hepatitis pada 2022, dengan dominasi hepatitis B dan C. Indonesia menempati posisi ketiga dunia dengan 18,9 juta kasus. Di Sulawesi Tengah, prevalensi hepatitis menurun dari 0,62% (2018) menjadi 0,16% (2023), namun Kota Palu tetap mencatat angka tertinggi ibu hamil reaktif HBsAg. Pemeriksaan hematologi seperti rasio neutrofil limfosit (RNL) penting dalam menilai tingkat keparahan inflamasi akibat respon imun terhadap infeksi.
Metode: Penelitian ini merupakan studi analitik observasional dengan pendekatan cross sectional menggunakan data sekunder dari rekam medis pasien hepatitis viral dan nonviral di RSUD Undata Sulawesi Tengah periode 2020–2024. Sampel diambil secara total sampling sebanyak 73 pasien yang memenuhi kriteria inklusi. Analisis data dilakukan dengan uji Mann–Whitney, dengan nilai
Efektivitas Gel Ekstrak 10% Rimpang Kunyit Putih (Curcuma zedoaria L.) Terhadap Penyembuhan Luka Sayat Pada Tikus Putih (Rattus norvegicus L.) Galur Wistar
EFEKTIVITAS GEL EKSTRAK 10% RIMPANG KUNYIT PUTIH (Curcuma zedoaria L.) TERHADAP PENYEMBUHAN LUKA SAYAT TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus L.) GALUR WISTAR
Nur Rezky Amaliah1, Asrawati Sofyan2, Junjun Fitriani2, Devi Oktafiani3
1Mahasiswa Kedokteran, Fakultas Kedokteran, Universitas Tadulako
2Departemen Farmakologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Tadulako
3Departemen Biokimia, Fakultas Kedokteran, Universitas Tadulako
ABSTRAK
Latar Belakang: Luka sayat merupakan masalah kesehatan dengan prevalensi tinggi di Indonesia dan berisiko menimbulkan infeksi serta keterlambatan penyembuhan bila tidak ditangani dengan tepat. Obat modern seperti bioplacenton memang efektif, namun akses dan biayanya masih menjadi kendala. Indonesia memiliki potensi besar tanaman obat, salah satunya kunyit putih (Curcuma zedoaria L.) yang mengandung kurkuminoid, flavonoid, tanin, alkaloid, dan minyak atsiri dengan efek antiinflamasi, antibakteri, dan antioksidan yang berperan dalam penyembuhan luka. Bentuk sediaan gel dipilih karena mudah digunakan dan cepat diserap kulit. Namun, penelitian mengenai efektivitas gel ekstrak kunyit putih terhadap penyembuhan luka masih terbatas, sehingga diperlukan penelitian ini untuk membuktikan potensinya sebagai terapi alternatif berbasis bahan alam.
Tujuan: Mengetahui efektivitas gel ekstrak 10% rimpang kunyit putih terhadap penyembuhan luka sayat pada tikus putih (Rattus norvegicus L.) galur wistar.
Metode: Penelitian eksperimental dengan rancangan post test with control group menggunakan 18 ekor tikus wistar jantan yang dibagi menjadi tiga kelompok: kontrol negatif (basis gel), kontrol positif (gel bioplacenton), dan perlakuan (gel ekstrak 10% kunyit putih). Parameter yang diamati adalah panjang luka dan rata-rata waktu penyembuhan. Analisis data menggunakan uji Kruskal-Wallis.
Hasil: Rata-rata waktu penyembuhan luka sayat pada kelompok kontrol positif adalah 5,5±0,54 hari, kontrol negatif 7,5±1,22 hari, dan perlakuan 5,1±1,32 hari. Uji Kruskal-Wallis menunjukkan perbedaan bermakna antar kelompok (p=0,009).
Kesimpulan: Gel ekstrak 10% rimpang kunyit putih efektif mempercepat penyembuhan luka sayat pada tikus putih wistar, dengan efektivitas sebanding gel bioplacenton dan lebih baik dibandingkan basis gel. Penelitian ini mendukung potensi kunyit putih sebagai terapi alternatif berbasis bahan alam untuk perawatan luka.
Kata Kunci: Kunyit putih, luka sayat, penyembuhan luka, kurkumi