4897 research outputs found
Sort by
PROFIL DERAJAT KEPARAHAN BERDASARKAN PEMERIKSAAN TROMBOSIT, LEUKOSIT, HEMATOKRIT PADA PASIEN DEMAM BERDARAH DENGUE DI RAWAT INAP RSUD ANUTAPURA PALU TAHUN 2023
PROFIL DERAJAT KEPARAHAN BERDASARKAN PEMERIKSAAN TROMBOSIT, LEUKOSIT, HEMATOKRIT PADA PASIEN DEMAM BERDARAH DENGUE DI RAWAT INAP RSUD ANUTAPURA PALU TAHUN 2023
Onyx Qinaya Sitammu¹, Nur Indang², Amirah Basry3, Ary Anggara4
¹Mahasiswa Progran Studi Pendidikan Dokter Universitas Tadulako
²Bagian Parasitologi Fakultas Kedokteran Universitas Tadulako
3Bagian Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Tadulako
4Bagian Parasitologi Fakultas Kedokteran Universitas Tadulako
Email : [email protected]
ABSTRAK
Latar belakang: Demam berdarah dengue adalah masalah global, dengan 390 juta kasus infeksi setiap tahun menurut WHO. Infeksi demam berdarah terjadi di beberapa negara, khususnya di Asia Tenggara. Demam berdarah dengue disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus yang umum ditemukan di Indonesia. Kementerian kesehatan RI memperkirakan 143.000 kasus DBD di Indonesia pada akhir 2022.
Tujuan: Untuk mengetahui tingkat derajat keparahan DBD berdasarkan pemeriksaan trombosit, leukosit, hematokrit pada pasien demam berdarah dengue di rawat inap RSUD Anutapura Palu tahun 2023.
Metode: Penelitian ini menggunakan metode analitik observasional dengan desain cross sectional menggunakan data sekunder berupa rekam medis yang diambil di RSUD Anutaptra Palu. Populasi pada penelitian berjumlah 217 sampel kemudian dipilih 143 sampel melalui metode purposive sampling.
Hasil: Berdasarkan hasil yang diperoleh, dari 143 sampel, terdapat 119 orang DBD derajat 1 dengan jumlah trombosit rendah yaitu 100 orang, hematokrit normal yaitu 72 orang, dan leukosit rendah yaitu 63 orang. Pada pasien derajat 2 sebanyak 20 orang dengan jumlah trombosit rendah yaitu 20 orang, hematokrit normal yaitu 12 orang, dan leukosit rendah yaitu 13 orang. Pasien derajat 3 sebanyak 4 orang dengan jumlah trombosit rendah yaitu 4 orang, hematokrit normal 3 orang dan leukosit rendah yaitu 2 orang dan jumlah leukosit tinggi yaitu 2 orang. Hasil analisis menggunakan uji Kruskall Wallis menunjukkan nilai signifikan pada trombosit (p=0,037) dan hematokrit (p=0,044), sedangkan leukosit tidak signifikan (p=0,225).
Kesimpulan: Hasil penelitian menunjukkan perbedaan signifikan pada nilai trombosit dan leukosit antar derajat keparahan DBD, namun tidak ada perbedaan signifikan pada nilai hematokrit.
Kata Kunci: Derajat Keparahan DBD, Trombosit, Hematokrit, Leukosi
EVALUASI PENYELENGGARAAN PMT BERBAHAN LOKAL PADA BALITA GIZI KURANG DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS MAMBORO
EVALUASI PENYELENGGARAAN PEMBERIAN MAKANAN TAMBAHAN BERBAHAN LOKAL PADA BALITA GIZI KURANG DI WILAYAH KERJA PKM MAMBORO
Surya Yuro Punggava1, Ketut Suarayasa2
1 Mahasiswa Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran, Universitas Tadulako
2 Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat Dan Kedokteran Komunitas, Fakultas Kedokteran, Universitas Tadulako
ABSTRACT
Pendahuluan: Status gizi yang baik merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan Pembangunan Kesehatan yang merupakan bagian yang tak terpisahkan dari Pembangunan nasional. Menurut data hasil survei status gizi Indonesia (SSGI) tahun 2022, prevalensi wasting di kota palu mencapai 24,7%, meningkat dari 23,9% pada 2021. Pemberian makanan tambahan (PMT) berbahan pangan lokal merupakan salah satu strategi penanganan masalah gizi pada Balita. Puskesmas Mamboro juga sudah melaksanakan program PMT berbahan pangan loal kepada Balita gizi kurang, sehingga perlu dilakukan evaluasi terhadap pelaksanaan program tersebut.
Tujuan: Tujuan penelitian adalah untuk mengevaluasi pelaksanaan program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) berbahan lokal Pada Balita Gizi Kurang di Puskesmas mamboro.
Metode: Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah Mix Method yaitu penelitian dengan mengkombinasikan antara metode kuantitatif dan kualitatif. Penelitian Kuantitatif dilakukan untuk mengevaluasi pelaksanaan indikator input (Perencanaan) proses (Persiapan dan pelaksanaan) dan output (Pencatatan dan pelaporan). Sedangkan penelitian kualititaf dilakukan untuk memperoleh informasi lebih mendalam tentang pelaksanaan program PMT berbahan loka pada Balita gizi kurang
Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan indikator input (meliputi : penyusunan kerangka acuan, pembentukan tim pelaksana, penetapan data sasaran penerima PMT, penetapan lokasi kegiatan, penyusunan siklus menu, dan penyusunan Rencana Anggaran), indikator proses (meliputi : persiapan dalam bentuk sosialisasi dan pembekalan petugas, pembelian bahan makanan, pengolahan bahan makanan, pemberian makanan tambahan disertai edukasi, dan memperhatikan protokol kesehatan), serta indikator output (meliputi : pencatatan dan Pelaporan secara berjenjang dan berkesinambungan, pencatatan dan pelaporan dari penentuan sasaran hingga berakhirnya intervensi PMT), terlaksana dengan baik (100%). Hasil wawancara mendalam terhadap informan juga menyampaikan bahwa pelaksanaan program PMT berbahan lokal bagi balita gizi kurang telah berjalan dengan baik.
Kesimpulan : Program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) berbahan lokal bagi balita gizi kurang berdasarkan indikator input, proses dan output terlaksana 100% dan sudah berjalan dengan baik.
Kata Kunci : Evaluasi Program, Balita Gizi Kurang, Pemberian Makanan Tambahan (PMT) berbahan pangan loka
PENGARUH PEMBERIAN MAKANAN TAMBAHAN (PMT) TERHADAP PERUBAHAN STATUS GIZI ANAK BALITA GIZI KURANG DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS BIROBULI KOTA PALU TAHUN 2023
PENGARUH PEMBERIAN MAKANAN TAMBAHAN (PMT) TERHADAP PERUBAHAN STATUS GIZI ANAK BALITA GIZI KURANG DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS BIROBULI KOTA PALU TAHUN 2023
Ihsaniaty Razqiyah*, Miranti**
*Mahasiswa Kedokteran, Fakultas Kedokteran, universitas Tadulako
**Departemen Ikatan Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran, universitas Tadulako
ABSTRAK
Latar Belakang: Balita adalah anak dengan usia 12 bulan sampai dengan 59 bulan yang membutuhkan zat gizi seimbang. Hasil survei status gizi Indonesia (SSGI) 2022 menunjukkan prevalensi balita gizi kurang di Indonesia sebesar 17,1% dan mengalami peningkatan sebesar 0,1%. Prevalensi balita gizi kurang di Sulawesi Tengah sebesar 25% dan di Kota Palu sebesar 3,37%. Pemberian makanan tambahan (PMT) merupakan salah satu strategi pemerintah dalam mengatasi masalah gizi, baik PMT penyuluhan maupun PMT Pemulihan yang dibuat dari bahan makanan lokal yang tersedia dan mudah diperoleh masyarakat.
Tujuan: Mengetahui pengaruh pemberian makanan tambahan (PMT) terhadap perubahan status gizi anak balita gizi kurang di Puskesmas Birobuli Kota Palu tahun 2023.
Metode: Desain penelitian yang digunakan adalah quassy eksperimental dengan rancangan pre post test without control. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh balita gizi kurang di Wilayah Kerja Puskesmas Birobuli Kota Palu yang mendapatkan program pemberian makanan tambahan (PMT) pada rentang waktu Oktober – Desember 2023, yaitu sebanyak 30 balita gizi kurang. Teknik pengambilan sampel yaitu total sampling. Data diolah dengan analisis uji univariat dan bivariat menggunakan uji “wilcoxon signed rank”
Hasil: Uji normalitas dengan Shapiro-Wilk menunjukkan nilai si
HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN KEAKTIFAN LANSIA HIPERTENSI DALAM MENGIKUTI POSYANDU LANSIA DIWILAYAH KERJA PUSKESMAS NOSARARA KELURAHAN PENGAWU KOTA PALU
Hubungan Dukungan Keluarga dengan Keaktifan Lansia Hipertensi dalam mengikuti
Posyandu Lansia diwilayah kerja Puskesmas Nosarara Kelurahan Pengawu Kota Palu
Widya Salsabila A.Lakati (2025)
Program Studi D-III Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Tadulako
Dr. Ni Wayan Sridani, S,ST.M.Kes
ABSTRAK
Latar belakang: Hipertensi merupakan penyakit yang umum terjadi pada lansia dan dapat menimbulkan komplikasi serius. Posyandu lansia menjadi wadah penting dalam upaya pemantauan dan peningkatan kesehatan lansia, namun keaktifan lansia dalam mengikuti kegiatan tersebut masih rendah. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara dukungan keluarga dengan keaktifan lansia hipertensi dalam mengikuti posyandu lansia di wilayah kerja Puskesmas Nosarara Kelurahan Pengawu Kota Palu. Metode: Penelitian menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross sectional dan melibatkan 32 lansia hipertensi sebagai responden, yang dipilih melalui teknik total sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan uji Chi-Square. Hasil: Dari uji Analisis statistik menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara dukungan keluarga dengan keaktifan lansia hipertensi dalam mengikuti posyandu lansia dengan nilai Nilai P-value sebesar 0,016 (p< 0,05). Kesimpulan: Terdapat hubungan dukungan keluarga dengan keaktifan lansia hipertensi dalam mengikuti posyandu lansia diwilayah kerja puskesmas Nosarara Kelurahan Pengawu Kota Palu. Saran: Lansia diharapkan lebih aktif mengikuti posyandu lansia dengan dukungan keluarga.
Kata Kunci: Dukungan keluarga, Keaktifan lansia, Hipertensi, Posyandu lansi
GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN KEPATUHAN MINUM OBAT PADA LANSIA PENDERITA HIPERTENSI DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS NOSARARA KELURAHAN PENGAWU
Gambaran Tingkat Pengetahuan Kepatuhan Minum Obat Pada Lansia
Penderita Hipertensi Di Wilayah Kerja Puskesmas
Nosarara Kelurahan Pengawu
Meylanda Anastasya Putri Rais Hinelo (2025)
Program Studi D-III Keperawatan Fakultas kedokteran Universitas Tadulako
Abstrak
Latar Belakang : Lansia merupakan fase akhir dari proses perjalanan manusia dimana akan terjadi perubahan dan penurunan fungsi organ akibat proses menua yang dialami. Hipertensi memiliki dua faktor risiko yang menyebabkan hipertensi yaitu faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi seperti usia jenis kelamin dan keturunan/genetic, risiko yang dapat dimodifikasi seperti kegemukan,merokok, kurang aktifitas fisik, konsumsi garam berlebih, dislipidemia, konsumsi alkohol serta psikososial dan stress. Tujuan: untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan kepatuhan minum obat pada lansia penderita hipertensi. Metode Penelitian : Penelitian deskriptif dengan pendekatan observasional yaitu suatu metode penelitian yang dilakukan dengan tujuan utama untuk membuat gambaran atau deskripsi tentang suatu keadaan secara objektif. Populasi penelitian ini 449 dengan sampel berjumlah 82 orang dengan kriteria inklusi dan ekslusi. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan rumus slovin. Hasil : Didapatkan bahwa dari 82 responden 57 responden dengan pengetahuan yang rendah (69,5%) dan 25 responden dengan pengetahuan yang tinggi (30,5%). Kesimpulan : pada penelitian ini disimpulkan bahwa tingkat pengetahuan kepatuhan minum obat pada lansia penderita hipertensi memiliki pengetahuan yang rendah Saran : Di harapkan kepada pasien hipertensi, lebih meningkatkan untuk patuh minum obat agar tekanan darah bisa terkontrol dan tidak membahayakan diri kita sendiri.
Kata Kunci : Tingkat Pengetahuan, Lansia, Hipertens
HUBUNGAN JUMLAH DAN FREKUENSI PEMBERIAN MP-ASI TERHADAP STATUS GIZI ANAK USIA 7-24 BULAN DI PUSKESMAS BIROMARU KABUPATEN SIGI
HUBUNGAN JUMLAH DAN FREKUENSI PEMBERIAN MP-ASI TERHADAP STATUS GIZI ANAK USIA 7-24 BULAN DI PUSKESMAS BIROMARU KABUPATEN SIGI
Risma*, Rahma**
*Mahasiswa Kedokteran, Fakultas Kedokteran Universitas Tadulako
**Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran Universitas Tadulako
ABSTRAK
Latar Belakang: Status gizi adalah ukuran kondisi fisik yang menunjukkan keadaan tubuh. Ini didasarkan pada perbandingan antara jumlah zat gizi yang dikomsumsi tubuh dan jumlah zat gizi yang dibutuhkan tubuh. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan 22% populasi stunting di seluruh dunia, atau sekitar 149,2 juta anak di bawah usai lima tahun akan mengalami stunting pada tahun 2020.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara jumlah dan frekuensi pemberian Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) terhadap status gizi anak usia 7-24 bulan di Puskesmas Biromaru, Kabupaten Sigi.
Metode: penelitian yang digunakan adalah desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional, melibatkan 87 responden yang memenuhi kriteria inklusi. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan pengukuran antropometri untuk menilai status gizi anak.
Hasil: penelitian menunjukkan bahwa mayoritas anak memiliki status gizi baik, dengan 79,3% berdasarkan indeks BB/PB, 57,5% berdasarkan indeks PB/U, dan 60,9% berdasarkan indeks BB/U. Analisis bivariat menggunakan uji Somer’s D menunjukkan adanya hubungan signifikan antara frekuensi pemberian MP-ASI dengan status gizi anak (p 0,05).
Kesimpulan: Temuan ini menegaskan pentingnya frekuensi pemberian MP-ASI yang sesuai untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak, serta mencegah masalah gizi. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan bagi orang tua dan penyedia layanan kesehatan mengenai pentingnya pemberian MP-ASI yang tepat, serta menjadi dasar untuk penelitian lebih lanjut dalam upaya meningkatkan status gizi anak di wilayah tersebut.
Kata Kunci: MP-ASI, Status Gizi, Stunting, Ana
PENGARUH PEMBERIAN MAKANAN TAMBAHAN (PMT) BERBAHAN LOKAL TERHADAP PENINGKATAN STATUS GIZI PADA BALITA GIZI KURANG DI PUSKESMAS MAMBORO TAHUN 2023
PENGARUH PEMBERIAN MAKANAN TAMBAHAN (PMT) BERBAHAN LOKAL TERHADAP PENINGKATAN STATUS GIZI PADA BALITA GIZI KURANG DI PUSKESMAS MAMBORO TAHUN 2023
Alingga Nabilasava Lesnusa1, Ketut Suarayasa2, Sumarni 3, Elly Yane Bangkele4
1Mahasiswa Kedokteran, Fakultas Kedokteran, Universitas Tadulako
2Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran, Universitas Tadulako
ABSTRAK
Latar Belakang: Nutrisi adalah zat organik yang diperlukan untuk fungsi normal sistem tubuh, pertumbuhan dan pemeliharaan kesehatan. pemberian bayi asupan nutrisi seimbang sangat penting untuk pertumbuhan hidup sehat dikemudian hari. Status gizi balita yang tidak normal masih merupakan masalah kesehatan di Indonesia terutama di Sulawesi Tengah. Pemberian Makanan Tambahan (PMT) berbahan pangan lokal merupakan salah satu strategi penanganan masalah gizi pada balita. Kegiatan PMT tersebut perlu disertai dengan edukasi gizi dan kesehatan untuk perubahan perilaku. Tujuan: Mengetahui pengaruh pemberian makanan tambahan (PMT) berbahan lokal dengan peningkatan status gizi pada balita gizi kurang di Puskesmas Mamboro tahun 2023.
Metode: Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Pre eksperimen.
Desain ini menggunakan one group pretest postest.
Hasil: Penelitian ini menunjukkan adanya hubungan signifikan antara pemberian makanan tambahan berbahan lokal (PMT) dengan status gizi balita.
Kesimpulan : Terdapat perbedaan nilai sebelum PMT dan sesudah PMT setelah diberikan intervensi PMT berbahan lokal sehingga program tersebut dikatakan berpengaruh dalam peningkatan status gizi balita.
Kata kunci: makanan tambahan, gizi , balita
HUBUNGAN LINGKAR LENGAN ATAS (LILA) DENGAN KADAR HEMOGLOBIN PADA IBU HAMIL DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS MAMBORO TAHUN 2024
HUBUNGAN LINGKAR LENGAN ATAS (LILA) DENGAN KADAR HEMOGLOBIN PADA IBU HAMIL DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS MAMBORO TAHUN 2024
Dzakiyyah Nuur Rihadah*, Sumarni**, Tri Setyawati***, Rahma****
*Mahasiswa Kedokteran, Fakultas Kedokteran, Universitas Tadulako
**Departemen Gizi, Fakultas Kedokteran, Univeristas Tadulako
***Departemen Biokimia, Fakultas Kedokteran, Univeristas Tadulako
****Departemen Pediatrik, Fakultas Kedokteran, Univeristas Tadulako
ABSTRAK
Lingkar Lengan Atas (LILA) selama kehamilan merupakan indikator sederhana yang digunakan sebagai skrining awal untuk menilai status gizi ibu hamil. Status gizi yang kurang (LILA < 23,5 cm) menjadi salah satu faktor predisposisi kejadian anemia terhadap ibu hamil. Kondisi ini dapat diketahui melalui pemeriksaan kadar hemoglobin (Hb) dalam darah. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan lingkar lengan atas (LILA) dengan kadar hemoglobin pada ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Mamboro Tahun 2024. Jenis penelitian ini adalah observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 73 orang yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling dari populasi ibu hamil yang melakukan pemeriksaan antenatal care di wilayah kerja Puskesmas Mamboro tahun 2024. Data sekunder dikumpulkan melalui rekam medis dan buku KIA ibu hamil, kemudian data dianalisis dengan uji Chi-Square. Sebagian besar ibu hamil memiliki LILA dalam kategori normal (74%) dan kadar hemoglobin dalam batas normal (68,5%). Analisis bivariat menunjukkan hubungan sangat signifikan antara LILA dengan kadar Hb pada ibu hamil (p-value < 0,001). Nilai LILA mencerminkan status gizi ibu hamil yang berperan dalam proses pembentukan eritrosit dan menjaga kadar Hb yang optimal.
Kata Kunci: Lingkar Lengan Atas, Kadar Hemoglobin, Ibu Hami
PERBANDINGAN RASIO NEUTROFIL LIMFOSIT (RNL) PADA PASIEN HEPATITIS VIRAL DAN NONVIRAL DI RSUD UNDATA SULAWESI TENGAH TAHUN 2020-2024
PERBANDINGAN RASIO NEUTROFIL LIMFOSIT (RNL) PADA PASIEN HEPATITIS VIRAL DAN NONVIRAL DI RSUD UNDATA SULAWESI TENGAH TAHUN 2020-2024
Lania Putri1, Junjun Fitriani P.2, Haerani Harun3, Andi Nur Asrinawaty4
1Mahasiswa Program Studi Kedokteran Universitas Tadulako
2Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Tadulako
3Bagian Patologi Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Tadulako
4Bagian Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Tadulako
Email : [email protected]
ABSTRAK
Latar Belakang: Hepatitis adalah peradangan hepar yang menjadi tantangan besar dalam kesehatan global, dapat disebabkan oleh virus serta faktor non-infeksius seperti autoimun, obat, alkohol, dan toksin. WHO mencatat 304 juta kasus hepatitis pada 2022, dengan dominasi hepatitis B dan C. Indonesia menempati posisi ketiga dunia dengan 18,9 juta kasus. Di Sulawesi Tengah, prevalensi hepatitis menurun dari 0,62% (2018) menjadi 0,16% (2023), namun Kota Palu tetap mencatat angka tertinggi ibu hamil reaktif HBsAg. Pemeriksaan hematologi seperti rasio neutrofil limfosit (RNL) penting dalam menilai tingkat keparahan inflamasi akibat respon imun terhadap infeksi.
Metode: Penelitian ini merupakan studi analitik observasional dengan pendekatan cross sectional menggunakan data sekunder dari rekam medis pasien hepatitis viral dan nonviral di RSUD Undata Sulawesi Tengah periode 2020–2024. Sampel diambil secara total sampling sebanyak 73 pasien yang memenuhi kriteria inklusi. Analisis data dilakukan dengan uji Mann–Whitney, dengan nilai
Efektivitas Gel Ekstrak 10% Rimpang Kunyit Putih (Curcuma zedoaria L.) Terhadap Penyembuhan Luka Sayat Pada Tikus Putih (Rattus norvegicus L.) Galur Wistar
EFEKTIVITAS GEL EKSTRAK 10% RIMPANG KUNYIT PUTIH (Curcuma zedoaria L.) TERHADAP PENYEMBUHAN LUKA SAYAT TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus L.) GALUR WISTAR
Nur Rezky Amaliah1, Asrawati Sofyan2, Junjun Fitriani2, Devi Oktafiani3
1Mahasiswa Kedokteran, Fakultas Kedokteran, Universitas Tadulako
2Departemen Farmakologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Tadulako
3Departemen Biokimia, Fakultas Kedokteran, Universitas Tadulako
ABSTRAK
Latar Belakang: Luka sayat merupakan masalah kesehatan dengan prevalensi tinggi di Indonesia dan berisiko menimbulkan infeksi serta keterlambatan penyembuhan bila tidak ditangani dengan tepat. Obat modern seperti bioplacenton memang efektif, namun akses dan biayanya masih menjadi kendala. Indonesia memiliki potensi besar tanaman obat, salah satunya kunyit putih (Curcuma zedoaria L.) yang mengandung kurkuminoid, flavonoid, tanin, alkaloid, dan minyak atsiri dengan efek antiinflamasi, antibakteri, dan antioksidan yang berperan dalam penyembuhan luka. Bentuk sediaan gel dipilih karena mudah digunakan dan cepat diserap kulit. Namun, penelitian mengenai efektivitas gel ekstrak kunyit putih terhadap penyembuhan luka masih terbatas, sehingga diperlukan penelitian ini untuk membuktikan potensinya sebagai terapi alternatif berbasis bahan alam.
Tujuan: Mengetahui efektivitas gel ekstrak 10% rimpang kunyit putih terhadap penyembuhan luka sayat pada tikus putih (Rattus norvegicus L.) galur wistar.
Metode: Penelitian eksperimental dengan rancangan post test with control group menggunakan 18 ekor tikus wistar jantan yang dibagi menjadi tiga kelompok: kontrol negatif (basis gel), kontrol positif (gel bioplacenton), dan perlakuan (gel ekstrak 10% kunyit putih). Parameter yang diamati adalah panjang luka dan rata-rata waktu penyembuhan. Analisis data menggunakan uji Kruskal-Wallis.
Hasil: Rata-rata waktu penyembuhan luka sayat pada kelompok kontrol positif adalah 5,5±0,54 hari, kontrol negatif 7,5±1,22 hari, dan perlakuan 5,1±1,32 hari. Uji Kruskal-Wallis menunjukkan perbedaan bermakna antar kelompok (p=0,009).
Kesimpulan: Gel ekstrak 10% rimpang kunyit putih efektif mempercepat penyembuhan luka sayat pada tikus putih wistar, dengan efektivitas sebanding gel bioplacenton dan lebih baik dibandingkan basis gel. Penelitian ini mendukung potensi kunyit putih sebagai terapi alternatif berbasis bahan alam untuk perawatan luka.
Kata Kunci: Kunyit putih, luka sayat, penyembuhan luka, kurkumi