Jurnal Peluang
Not a member yet
163 research outputs found
Sort by
Peningkatan Kemampuan Pemecahan Masalah Geometri melalui Pembelajaran Kooperatif Berbasis Teori Van Hiele
Geometry is a branch of mathematics that is taught with the aim that students can understand the properties and relationships between elements of geometry and can be a good problem solver. There are still many students who have difficulty learning geometry. One of the causes of students' difficulty in understanding geometry is that the learning strategies used are not in accordance with the material being taught. In addition, in geometry learning so far has not been adjusted to the level of development of students' thinking. Therefore an appropriate strategy is needed which is arranged based on the level of development of students' thinking in geometry. Van Hiele's theory-based learning is learning that is adapted to students' thinking stages, so this learning is appropriate if applied in geometry learning. The purpose of this study was to determine the improvement of geometry problem solving abilities between students taught by cooperative learning based on Van Hiele theory with conventional learning reviewed by students and based on student level. This study uses an experimental method with a pretest-posttest control group design design. The instrument used is a geometry problem solving test. The population in this study were students of class XII SMA Negeri 1 Sakti, Pidie Regency, Aceh Province, and the randomly selected sample consisted of two classes into the experimental class and the control class. The data analyzed is data N-gain problem solving ability. From the results of the data analysis, the improvement of students 'geometry problem solving abilities that obtain Van Hiele based learning is better than students who obtain conventional learning in terms of overall students and based on students' level of ability. Thus, in geometry learning it is recommended to apply learning based on Van Hiele theory so that students' geometry problem solving skills can be improved
Peran dan Kompetensi Guru SMA di Era Persaingan Masyarakat Ekonomi ASEAN
Pemberlakuan MEA menjadi wacana diberbagai media. Karena menyangkut dengan ekonomi, maka segala lini kehidupan akan terkait didalamnya termasuk dunia pendidikan. Dan pemberlakuan MEA juga akan diiringi dengan pesatnya kemajuan teknologi dan perkembangan ilmu pengetahuan sehingga sangat dibutuhkan peran guru sebagai pelaksana lapangan untuk memajukan teknologi dan ilmu pengetahuan tersebut. Sedangkan ilmu yang sangat erat kaitannya dengan teknologi adalah matematika sehingga secara langsung guru matematika harus memiliki kompetensi yang mampu menjadikan diri dan peserta didiknya mampu menghadapi persaingan era MEA.Harus dimulai dari sekarang untuk bertindak, diantaranya memberi informasi kepada guru yang nantinya akan diteruskan kepada siswa melalui pendidikan tentang persaingan MEA yang sedang berlaku dan peningkatan kualitas kompetensi yang dimiliki guru di kota Banda Aceh. Berdasarkan survey awal yang Tim peneliti lakukan bahwa kompetensi yang dimiliki guru SMA di Banda Aceh masih sangat minim hal ini dibuktikan secara tidak langsung dari hasil UN siswa di Aceh 2007-2014 yang rendah dari rata-rata Nasional dan hasil UKG 2015 padahal Pemerintah sudah banyak melakukan upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan di kota Banda Aceh. Dari penelitian tahun ke-I diperoleh gambaran tentang persepsi dan sikap guru matematika SMA sedeajat terhadap pemberlakuan MEA.Untuk itu tujuan penelitian tahun ke II adalah perlu mengetahui peran guru matematika terhadap pemberlakuan MEA dan kompetensi yang sudah dimiliki karena belum ada pemetaan peran guru yang jelas sehingga bisa dipakai untuk menentukan kebijakan yang tepat. Selain peran guru dalam pembelajaran untuk menghasilkan siswa yang mampu bersaing, kompetensi guru juga harus ditingkatkan.Karena baik guru maupun siswa memiliki tanggung jawab yang lebih berat. Mereka tidak sekedar mengajar dan belajar mencapai target UN tetapi juga harus memiliki bekal untuk bersaing
Penerapan Problem Centered Learning terhadap Hasil Belajar Operasi Hitung Bilangan Bulat Siswa SMP Negeri 3 Banda Aceh
Banyak faktor yang mempengaruhi penyebab rendahnya hasil belajar matematika siswa, salah satunya adalah ketidaktepatan penggunaan pendekatan, model, metode, strategi, dan pendekatan pembelajaran yang digunakan guru dikelas. Salah satu pendekatan yaitu pendekatan Problem Centered Learning yaitu salah satu model yang dapat membantu siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran yang lebih baik. pendekatan ini dapat digunakan dalam semua mata pelajaran, salah satunya materi operasi hitung bilangan bulat pada SMP kelas VII di semester satu. pendekatan Problem Centered Learning memberi kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan bakat dan dapat meningkatkan daya fikir dalam memecahkan masalah. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hasil belajar operasi hitung bilangan bulat siswa SMP Negeri 3 Banda Aceh sebelum dan sesudah diterapkan Problem Centered Learning. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan desain penelitian one-group pre-test and pos-test. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII SMP Negeri 3 Banda Aceh tahun pelajaran 2017/2018 di SMP Negeri 3 Banda Aceh. Sedangkan yang menjadi sampel dalam penelitian ini hanya satu kelas yang diajarkan dengan Problem Centered Learning yaitu kelas VII9 yang diambil secara random sampling. Instrumen yang digunakan untuk memperoleh data penelitian berupa tes hasil belajar operasi hitung bilangan bulat. Pengambilan data dilakukan dengan cara mengadakan tes dengan soal yang berbentuk essay, tes dilakukan dua kali sebelum perlakuan (Pre-Test) dan setelah perlakuan (Post-Test) yang berjumlah 10 butir soal. Uji normalitas pengujian hipotesis menggunakan rumus uji-t berpasangan, dengan taraf signifikan dan derajat kebebasan . Dari hasil pengolahan data penelitian didapatkan bahwa derajat kebebasan (dk) = 33 ini menunjukkan bahwa yaitu . Sehingga dapat disimpulkan bahwa: terdapat perbedaan nilai rata-rata hasil belajar operasi hitung bilangan bulat siswa SMP Negeri 3 Banda Aceh sebelum dan sesudah menggunakan pembelajaran dengan Problem Centered Learning
Peningkatan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa SMP dengan Menggunakan Pembelajaran Contextual Teaching and Learning
Tujuan dari pembelajaran matematika di sekolah dalam kurikulum 2013 adalah untukmengembangkan dan meningkatkan kemampuan pemecahan masalah siswa baik dalam bidang matematika, bidang lain, maupun dalam kehidupan sehari-hari. Bagi siswa, memiliki kemampuan pemecahan masalah matematis yang tinggi akan sangat membantu mereka baik dalam proses pembelajaran matematika maupun dalam kehidupan sehari-harinya. Untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah siswa maka harus didukung dengan proses pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir dan bernalar siswa, dimana salah satunya adalah pembelajaran dengan pendekatan Contextual Teaching and Learning. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yang diajarkan dengan pendekatan Contextual Teaching and Learning lebih baik daripada siswa yang diajarkan dengan pembelajaran konvensional baik secara keseluruhan maupun berdasarkan kemampuan awal siswa (tinggi, sedang, dan rendah). Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan desain pre-test post-test control group design. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII SMP Negeri 9 Banda Aceh pada tahun pelajaran 2017/2018. Sampel diambil dua kelas yaitu kelas VII2 sebagai kelas eksperimen dan kelas VII3 sebagai kelas kontrol melalui teknik random sampling. Instrumen yang digunakan untuk memperoleh data penelitian berupa tes kemampuan pemecahan masalah matematis. Uji statistik yang digunakan untuk mengalisis data peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis adalah uji anava dua jalur yang diolah menggunakan bantuan software Statistical Package for the Social Science (SPSS). Hasil penelitian menunjukkan peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yang diajarkan dengan pendekatan Contextual Teaching and Learning lebih baik daripada siswa yang diajarkan dengan pembelajaran konvensional, baik ditinjau secara keseluruhan maupun berdasarkan kemampuan awal siswa
Penggunaan Problem Solving untuk Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa SMP
Problem solving is a process or thinking activity to solve a problem. Mathematical problem solving skills is needed for students both in the process of understanding mathematics itself and in everyday life. The problem solving can be achieved by implementing the learning using problem solving approach which train students to deal with various problems including individuals and group problems to be solved individually or together. This learning is oriented towards the investigation and discovery which is basically solving the problems. It is the basis for students to solve problems critically, systematically, logically, and creatively as well as the ability to collaborate effectively and to present fundamental knowledge which in turn can improve the solving skills. This study aimed to examine whether the improvement of mathematical problem solving skills of students learned with the problem-solving approach was better than students taught using the conventional learning. The improvement was examined in general and based on the students levels. The study also aimed to investigate an interaction between the learning (problem solving and conventional approach) and student levels (high, medium and low) in increasing mathematical problem solving skills. This study applied a pre-test and post-test control group design. The population of the study were Year 7 students of one of junior high schools in Pidie, Indonesia, consisting of seven classes in 2017/2018. Two classes, a control and an experimental class, were selected as the sample through purposive sampling technique. The instrument used to obtain the data is the mathematical problem solving skills test. The data was then analyzed by employing a two-way ANAVA test using SPSS. The results of the study showed that the improvement of mathematical problem solving skills of the students learning with the problem-solving approach is better than the students experiencing the conventional learning, reviewed in general and based on student levels. There is no interaction between the learning models and student levels on mathematical problem solving skills. The results are expected to be used as a reference for mathematics teachers to apply the problem-solving approach in the learning process to improve mathematical problem solving skills
Pengaruh Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) terhadap Kemampuan Koneksi Matematis Siswa SMA Berbasis Gender
Pembelajaran kontekstual merupakan sebuah konsep pembelajaranyang membantu guru mengkaitkan antara materi yang diajarkannya dengansituasi dunia nyata dan mendorong pemelajar membuat hubungan antaramateri yang diajarkannya dengan penerapannya dalam kehidupan merekasebagai anggota keluarga dan masyarakat. Kemampuan koneksi matematis yaitu meliputi mencari hubungan antar topik matematika, hubungan matematika dengan mata pelajaran lain dan hubungan matematika dengan kehidupan sehari-hari atau dunia nyata. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : ada atau tidak ada perbedaan kemampuan koneksi matematis kelompok siswa yang menggunakan pembelajaran matematika kontekstual dengan kelompok siswa yang menggunakan pembelajaran konvensional; mengetahui ada atau tidak ada perbedaan kemampuan koneksi matematis antara kelompok siswa laki-laki dengan kelompok siswa perempuan baik kelas eksperimen maupun kelas kontrol; ada atau tidak ada pengaruh pembelajaran matematika kontekstual terhadap kemampuan kemampuan koneksi matematis siswa SMA berbasis gender. Penelitian yang digunakan adalah penelitian menggunakan desain faktorial yang merupakan modifikasi dari design true experimental. Penelitian ini dilakukan di SMA Negeri 1 Sigli. Teknik pengambilan data menggunakan tes kemampuan koneksi matematis siswa laki-laki dan perempuan melalui pendekatan kontekstual yang berupa soal yaitu pretes dan postes yang dilakukan sebelum dan sesudah diberikan pembelajaran di kelas eksperimen. Teknik analisis data menggunakan Analisis of Varians (Anova) setelah memenuhi uji prasyarat parametris (normalitas dan homogenitas), dengan bantuan program perhitungan SPSS 17.0 for windows
Pembelajaran dengan Pendekatan Kontekstual untuk Meningkatkan Kemampuan Pemahaman Matematis
Mathematical comprehension ability is a very important initial ability possessed by students in the learning process of mathematics, especially in understanding mathematics. One important goal in learning mathematics is that the material taught to students is not as memorization, but with understanding students can understand the concept of mathematical material. Mathematical understanding is one of the goals of every material delivered by the teacher, because the teacher is the student's guide to achieving the expected concept. Therefore, it is very important to develop and improve the ability of students' mathematical understanding in the process of learning mathematics. This study aims to examine the enhancement of the ability of mathematical understanding between students who obtain learning with a contextual approach and students who obtain conventional learning. This research is an experimental study using a pre-test post-test control group design. The population in this study were students of class VIII MTsN 4 Pidie, Aceh in the 2018/2019 school year. Through purposive sampling, two classes were chosen in parallel, namely class VIII1 as the experimental class and VIII2 as the control class. The instrument used to collect research data is a mathematical comprehension ability test. The statistical test used is the t-test to analyze the data for increasing the ability of mathematical understanding. The results of the study showed that the improvement of students' mathematical comprehension ability who obtained contextual approach learning was better than students who received conventional learning
Kemampuan Pemecahan Masalah pada Materi Himpunan oleh Siswa SMP Negeri 1 Unggul Sukamakmur Kabupaten Aceh Besar
Kemampuan pemecahan masalah adalah kemampuan seorang siswa dalam menggunakan proses berpikirnya untuk memecahkan masalah melalui pengumpulan fakta, analisis informasi, menyusun berbagai alternatif pemecahan, dan memilih pemecahan masalah yang paling efektif. Rumusan masalah pada penelitian ini adalah, 1) Apakah kemampuan pemecahan masalah siswa yang memperoleh model pembelajaran problem based learning lebih baik daripada kemampuan pemecahan masalah siswa dengan pembelajaran biasa (konvensional), 2) Apakah terdapat interaksi antara faktor pembelajaran problem based learning terhadap peningkatan kemampuan pemecahan masalah siswa. Jenis penelitian adalah eksperimen dengan pendekatan kuantitatif. Instrumen tes berbentuk uraian sebanyak 5 soal berdasarkan indikator kemampuan pemecahan masalah. Teknik pengolahan data dianalisis dengan statistik kuantitatif. Pengolahan data peneliti menggunakan bantuan SPSS 16.0. hasil penelitian, diketahui 1) Peningkatan kemampuan pemecahan masalah siswa yang memperoleh pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw lebih baik daripada kemampuan pemecahan masalah siswa dengan pembelajaran biasa (konvensional) berdasarkan keseluruhan siswa, 2) Peningkatan kemampuan pemecahan masalah siswa yang memperoleh pembelajaran Problem Based Learning lebih baik daripada kemampuan pemecahan masalah siswa dengan pembelajaran biasa (konvensional) berdasarkan pengelompokkan siswa, dan 3) Terdapat interaksi antara penerapan pembelajaran dan pengelompokkan siswa terhadap kemampuan pemecahan masalah siswa
PROSES BERPIKIR DAN RESPON BALIKAN MAHASISWA TERHADAP PELAKSANAAN PEMBELAJARAN KALKULUS INTEGRAL
Penelitian ini bertujuan adalah untuk mendeskripsikan proses berpikir dan respon balikan mahasiswa terhadap pelaksanaan pembelajaran kalkulus integral. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif deskriptif. Subjek penelitian adalah mahasiswa semester genap 2012/2013 program studi pendidikan matematika FKIP Unsyiah. Instrumen penelitian adalah tes dan lembar respon balikan. Teknik analisis data tes dilakukan dengan cara mencermati hasil kerja, menginterpreasi dan menyimpulkan. Respon balikan mahasiswa dideskripsikan hasil tulisan subjek tentang materi dan pelaksanaan pembelajaran. Hasil penelitian diperoleh proses berpikir mahasiswa dalam menyelesaikan soal integral adalah proses berpikir analitik dan sintesis. Respon balikan mahasiswa adalah umum pelaksanaan pembelajaran sudah terlaksana dengan baik.Kata Kunci: Proses Berpikir, Respon Balikan, Pembelajaran Kalkulus Integra
PENERAPAN PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL DALAM MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR SISWA PADA MATERI VOLUME BALOK DI KELAS V SD NEGERI 54 BANDA ACEH
This research is a classroom action research that discusses the application of contextual learning in improving students chievement in beam volume to 5 grade students at SDN 54 Banda Aceh. The problems were a major focus of this research is How the students activity, teachers acticity and student learning outcomes by using contextual approach to the material volume of the beam in class V SDN 54 in Banda Aceh? This study aims to determine the activity of the student, the teacher activity and student learning outcomes by uisng contextual approach to the material beams volume in class V SDN 54 in Banda Aceh. The approach used is qualitative and data analysis using percentages. Results showed activity of students has increased from the first cycle to the third cycle. It can be seen from the average score obtained in the first cycle of 3.25 (65%) in the second cycle by 3.63 (72.60%) and the third cycle of 4.38 (87.60%). The activities of teachers in the first cycle to obtain a value of 4.32 (86.40%), the second cycle by 4.63 (92.60%) and the third cycle of 4.7 (94%). Activity of students in Cycle I get the value of the average grade of 66.30 and students who completed following the learning process as many as 17 students (62.96%) of 27 students. In the second cycle, the value of the average grade achieved by the students at 71.85 and students who completed following the learning process as many as 21 students (77.78%) of the 27 students who take the learning process. While the third cycle the average value obtained by the students at 79.26 and 26 students completed (96.29%) in participating in the learning process of beams volume. Learning Outcomes students increased due to the use of contextual approach.Keywords: Contextual Approach, Beams Volum