Jurnal Kesehatan Reproduksi
Not a member yet
    239 research outputs found

    Hubungan Nilai Rasio Platelet-Limfosit Pra Pembedahan pada Kanker Ovarium Epitelial dengan Respon Kemoterapi Berbasis Platinum di RSUP Dr. Sardjito

    Get PDF
    ABSTRAKLatar Belakang: Respon inflamasi memiliki hubungan yang signifikan terhadap nilai prognostik dari suatu keganasan. Rasio platelet-limfosit (RPL) sebagai salah satu penanda inflamasi pada keganasan sehingga menjadi prediktor terhadap prognosis pasien kanker pada umumnya.Tujuan: Mengetahui hubungan antara RPL pra pembedahan dan respon kemoterapi berbasis platinum pada kanker ovarium epithelial di RSUP DR. Sardjito.Metode: Penelitian kohort retrospektif untuk menilai hubungan antara RPL pra pambedahan dan faktor-faktor risiko terhadap respon kemoterapi berbasis platinum pada pasien kanker ovarium epitelial.Hasil dan Pembahasan: Nilai cut-off RPL pra pembedahan adalah 203 dengan sensitivitas dan spesifitas=76,2%, nilai AUC=0,786, dan akurasi=76,2%. Ditemukan hubungan signifikan antara RPL pra pembedahan dan respon kemoterapi pada pasien kanker ovarium epitelial, p=0,001, RR(CI95%)=3,200(1,815-5,640). Terdapat hubungan yang signifikan antara jenis histologi dan respon kemoterapi, p=0,001, RR(CI95%)=2,384(1,424-3,989).Kesimpulan: Kejadian resisten kemoterapi berbasis platinum pada pasien kanker ovarium epitelial signifikan lebih tinggi pada pasien dengan nilai RPL pra pembedahan ≥203 dan jenis histologi (serosa 2 kali lebih tinggi dan  non serosa 4 kali lebih tinggi yang disertai dengan nilai  RPL ≥203)(efek modifikas

    Changes in CA 125 Level Pre and Post Ovarian Cancer Surgery

    Get PDF
    Background: Ovarian cancer is one of the gynecological cancers that has a fairly high mortality rate and has a poor prognosis. Ovarian cancer management includes optimal operation followed by chemotherapy, which at follow up will have an effect on decreasing CA 125 levels. But in fact there are several studies showing increased CA 125. Given these differences in findings, this study attempted to evaluate the pre and post operation changes in CA 125 levels in ovarian cancer patients.Objective: This study aims to determine the changes in pre and post operation CA 125 levels in ovarian cancer patients. And to find out the optimal relationship between CA 125 level post operation and post operation.Methods: The type of research is an analytic study with a prospective cohort design. The source comes from secondary data taken from Simetris dr. Sardjito Hospital within 6 months.Results: The distribution of the age < 40 years was 11 and 19 were 40 years old. There was a significant change in pre operation log CA 125 levels (mean = 2,53 or 902,03U/ml) and post operation log CA 125 levels (mean = 1,92 or 406,23 U/ml). With a difference or delta mean of 0,61 or 495,80 U/ml and p value = 0.001. There was a significant difference in post operation log CA 125 levels between optimal and non optimal operation. Based on risk factors, there was a significant change or decrease in log CA 125 levels pre and post operation, but there was no significant difference in log CA 125 levels pre and post operation.Conclusion: There was a significant decrease in log CA 125 levels pre and post operation in patients with ovarian cancer who underwent operation. The post operation log CA 125 level in optimal operation is lower than in non-optimal operation.Keywords: CA 125, Ovarian Cancer, Operation, Optima

    Premenstrual Syndrome Based On Physical Activity, Body Mass Index And Blood Pressure In Adolescent Girls

    No full text
    Background: One of the risk factors for PMS is physical activity, where during the COVID-19 pandemic there was a decrease in physical activity with PPKM. The impact of this decrease in physical activity is an increase in BMI. Obese women are more than twice as likely to have PMS, and obesity can also increase blood pressureObjective: to determine the relationship between physical activity, BMI and blood pressure with the incidence of PMS in adolescent girls.Method: This research is a cross sectional study. The population is young women in SMA N 1 Pagerbarang. With a total sample 212 people and the sampling technique uses quota sampling. Data collection by questionnaire and atropometric measurements of weight and height. Data analysis using chi square.Results and Discussion: A total of 45.8% of respondents experienced PMS. 46.7% had light physical activity, 54.7% had normal BMI and 87.3% had normal blood pressure 87.3%. Test the relationship between PMS with physical activity obtained P = 0.001, PMS with BMI with P = 0.005, and PMS with Blood Pressure with P value = 0.524.Conclusion: there is a relationship between physical activity and BMI with PMS, but there is no relationship between PMS with blood pressure. Keywords: PMS; Physical Activity; BMI; Blood Pressure

    Kompres Hangat Sebagai Strategi Perawatan Diri untuk Meredakan Dismenore Primer pada Remaja

    Get PDF
    Background: Primary dysmenorrhea is a problem that often occurs in adolescents, the incidence of dysmenorrhea is high so it is necessary for adolescents to understand how to deal with dysmenorrhea pain problems independently.Objectives: This study aims to determine the impact of warm compresses in reducing dysmenorrhea in adolescentsMethods: Pre-experimental research design with one group pretest-posttest type, on 30 female students based on inclusion and exclusion criteria. The application of warm compresses was carried out independently, previously given training on SOPs for warm compresses, paying attention to pain using the Verbal Descriptor Scale (VDS) instrument, data analysis using Wilcoxon with a significant level of 0.05.Results and Discussion: The results of the characteristic study found that respondents were at the age of 21 years, the median body mass index (BMI) was 22.2, some respondents had a menstrual period of 27.5 days with regular menstrual cycles and dysmenorrhea that occurred on the first day. The median score before intervention was 5.5 with an interquartile range (IQR) of 1.75 while the median after intervention was 0 with an IQR value of 2. The Wilcoxon test results found a significant reduction in pain before and before warm compresses with a level of 0.000 Conclusion: Compresses have a positive impact in reducing dysmenorrhea pain and can be an alternative to self-care that teenagers can do Keywords: dysmenorrhea; pain; warm compress

    Manfaat Maternal Early Obstetric Warning Score (MEOWS) dalam Memprediksi Lama Perawatan pada Pasien Preeklamsia Berat di RSUP Dr. Sardjito

    Get PDF
     Latar Belakang: skor MEOW sangat penting untuk menilai kondisi klinis pasien dengan adanya perubahan tanda vital selama pasien dirawat. Adanya perubahan ini akan berpengaruh terhadap lama perawatan pasien preeklamsia berat. Namun saat ini belum ada penelitian mengenai hubungan skor MEOW dengan lama perawatan pasien preeklamsia berat yang dirawat di rumah sakit.Tujuan: Mengetahui apakah terdapat hubungan antara skor MEOW dan lama perawatan pasien preeklamsia berat.Metode: Desain penelitian ini adalah kohort retrospektif. Subjek penelitian adalah pasien hamil dengan diagnosis preeklamsia berat sesuai dengan kriteria inklusi dan kriteria eksklusi di RSUP Dr. Sardjito sejak Juli 2020 sampai dengan Juni 2021 dengan mengambil data dari rekam medis.Hasil dan Pembahasan: Dari 86 subjek penelitian didapatkan 78 sampel yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Berdasarkan karakteristik subjek penelitian didapatkan paritas primigravida (69,2%), obesitas (51,3%) dan riwayat hipertensi (53,8%). Hal ini sesuai referensi bahwa faktor resiko preeklamsia berat yaitu primigravida, obesitas dan riwayat hipertensi. Hasil dari ROC yaitu nilai AUC 0,878 dengan p = 0,001 dan CI 95% (0,745 – 1). Penentuan nilai cut off point skor MEOW yaitu 8,5 atau 9 dengan sensitivitas 92%, spesifisitas 71% dan Youden Index tertinggi = 0,631. Lama perawatan antara pasien dengan skor MEOW ≥9 dan pasien dengan skor MEOW 0,05). Tidak ada perbedaan bermakna antara variabel luar dan lama perawatan (p >0,05).Kesimpulan: Pasien preeklamsia berat yang mengalami persalinan di RSUP dr. Sarjito dengan skor MEOW tinggi memiliki lama perawatan yang lebih lama dibandingkan dengan skor MEOW rendah.Kata Kunci: MEOWS; preeklamsia berat; lama perawatan

    Hubungan Kejadian Disfungsi Dasar Panggul dan Kualitas Hidup Perempuan Usia Menopause di Daerah Istimewa Yogyakarta

    No full text
    Latar Belakang: Disfungsi dasar panggul paling banyak terjadi pada perempuan usia lanjut, dengan insidensi sekitar 39,8%. Hal ini erat hubungannya dengan kejadian menopause. Menopause akan menyebabkan penurunan hormon estrogen, yang berkontribusi terhadap kelemahan dan atrofi otot dasar panggul. Jarangnya perempuan dengan disfungsi dasar penggul memeriksakan dirinya, mengakibatkan tidak adanya data yang tepat mengenai angka kejadian disfungsi dasar panggul pada perempuan menopause. Keadaan disfungsi dasar panggul pada perempuan menopause akan berpengaruh terhadap kualitas hidupnya, terutama dalam hal fisik, seksual, dan psikososial. Berdasarkan hal tersebut, penilaian kualitas hidup perempuan dengan disfungsi dasar panggul dilakukan dengan instrumen MENQOL yang dapat menilai kualitas hidup perempuan menopause secara umum.Latar Belakang: Disfungsi dasar panggul paling banyak terjadi pada perempuan usia lanjut, dengan insidensi sekitar 39,8%. Hal ini erat hubungannya dengan kejadian menopause. Menopause akan menyebabkan penurunan hormon estrogen, yang berkontribusi terhadap kelemahan dan atrofi otot dasar panggul. Jarangnya perempuan dengan disfungsi dasar penggul memeriksakan dirinya, mengakibatkan tidak adanya data yang tepat mengenai angka kejadian disfungsi dasar panggul pada perempuan menopause. Keadaan disfungsi dasar panggul pada perempuan menopause akan berpengaruh terhadap kualitas hidupnya, terutama dalam hal fisik, seksual, dan psikososial. Berdasarkan hal tersebut, penilaian kualitas hidup perempuan dengan disfungsi dasar panggul dilakukan dengan instrumen MENQOL yang dapat menilai kualitas hidup perempuan menopause secara umum.Tujuan: Untuk mengetahui hubungan kejadian disfungsi dasar panggul dengan kualitas hidup perempuan usia menopause di Daerah Istimewa Yogyakarta.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian analitik cross sectional yang dilakukan di beberapa daerah di DIY. Subjek dilakukan penilaian disfungsi dasar panggul berupa prolaps organ panggul dengan pemeriksaan POPQ, sedangkan kualitas hidup perempuan menopause dinilai berdasarkan instrumen MENQOL.Hasil dan Pembahasan: Dari 192 subjek, didapatkan 140 subjek (72,92%) mengalami prolaps organ panggul, dengan kejadian sistokel 69,79%, rektokel 67,71%, dan prolaps uteri 46,35%. Gambaran kualitas hidup perempuan usia menopause menunjukkan variasi dalam tingkat keluhan dari subjek. Terdapat perbedaan yang bermakna dari median skor pada domain fisik MENQOL antara kelompok disfungsi dasar panggul dan tidak (p=0,000). Usia, paritas, riwayat obstetri, penyakit kronis, dan lamanya menopause, memiliki hubungan yang bermakna secara signifikan terhadap kejadian disfungsi dasar panggul (p < 0,05). Kualitas hidup perempuan usia menopause juga dipengaruhi oleh faktor usia, pekerjaan, riwayat penyakit kronis, dan lamanya menopause (p < 0,05).Kesimpulan: Kualitas hidup berdasarkan domain fisik MENQOL lebih rendah pada perempuan usia menopause dengan disfungsi dasar panggul (p<0,05). Kata kunci: disfungsi dasar panggul; menopause; prolaps organ panggul; MENQOL; kualitas hidu

    Analisis Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Berhenti Pakai (Drop Out) Kontrasepsi Di Kalimantan Barat (Analisis Data SDKI Tahun 2017)

    Get PDF
    Latar Belakang: Berhenti pakai (drop out) kontrasepsi merupakan kejadian berhentinya PUS menjadi akseptor KB. Angka kejadian drop out KB di Indonesia mengalami peningkatan, dari 11,46% pada tahun 2008 menjadi 15,09% pada tahun 2012. Hasil SDKI 2017 di Kalimantan Barat menunjukkan 34% wanita usia 15-49 tahun yang sudah menikah dan mulai memakai alat/cara KB dalam 5 tahun sebelum survey, berhenti memakai alat/cara KB dalam waktu 12 bulan setelah mulai memakai. Peningkatan angka drop out KB akan sejalan dengan angka peningkatan jumlah penduduk. Hal ini akan berdampak pada tingkat kesejahteraan, kualitas pendidikan, pembangunan, dan kesehatan sehingga akan menurunkan kualitas penduduk setempat.Tujuan: Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian berhenti pakai (drop out) kontrasepsi di Kalimantan Barat berdasarkan hasil analisis data SDKI 2017.Metode: Penelitian ini dirancang menggunakan desain kuantitatif. Responden adalah wanita usia subur dengan status kawin berusia 15-49 tahun yang pernah menggunakan kontrasepsi atau masih menggunakan kontrasepsi saat pengambilan data SDKI tahun 2017 di provinsi Kalimantan Barat. Besar sampel yaitu 490 orang berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Data dianalisis secara univariat, bivariat (chi square), dan multivariat (regresi logistik).Hasil dan Pembahasan: Terdapat hubungan yang signifikan antara jenis metode kontrasepsi (OR=2.2|CI95%;1,412-3,565), usia (OR=1.7|CI95%;1,180-2,562),  status pekerjaan (OR = 1.5|CI95%;1,024-2,218), paritas (OR = 1.6|CI95%; 1,124-2,427), tempat tinggal (OR = 1.7|CI95%; 1,153-2,623), dukungan pasangan (OR = 14|CI95%; 5,708-34,42), efek samping (OR = 2.3|CI95%; 1,354-3,990), masalah kesehatan (OR = 3.2|CI95%;1,640-6,255), kebersamaan dengan suami (OR = 3.2|CI95%; 1,449-7,223), frekuensi melakukan hubungan seksual (OR = 3.5| CI95%; 2,179-5,618), serta penkes KB dari petugas kesehatan (OR = 2.4|CI95%; 1,448-4,083) terhadap perilaku drop out kontrasepsi. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa apabila variabel secara bersama-sama dalam kategori baik, maka probabilitas untuk tidak melakukan drop out KB adalah sebesar 94%, sedangkan 6% dipengaruhi oleh variabel lain. Sedangkan tidak ada hubungan antara tingkat pendidikan (OR=0.8|CI95%;0,354-1,708), keterjangkauan jarak pelayanan kesehatan (OR=1.5|CI95%;0,889-2,364), pengetahuan metode KB (OR = 0.9|CI95%;0,519-1,414)  dan kunjungan petugas KB ke rumah (OR = 2|CI95%; 0,728-5,319). Kata kunci : Berhenti Pakai; Drop out; Kontrasepsi; SDKI 2017; Kalimantan Barat

    Upaya Pencegahan Disfungsi Dasar Panggul Pasca Persalinan Vaginal oleh Kelompok Bidan Berbasis Aplikasi KIPPas Jogja (Kartu Instrumen Prediktor Pangastuti Jogja) di Desa Pandowoharjo, Kabupaten Sleman, DIY

    Get PDF
    Latar belakang: disfungsi atau terganggunya fungsi dasar panggul terdiri dari beberapa macam gambaran klinis, antara lain prolaps organ panggul, inkontinensia urin atau fekal, maupun gangguan fungsi seksual. Disfungsi dasar panggul pada perempuan sering dikaitkan dengan kejadian persalinan vaginal yang dialami sebelumnya. Pertolongan persalinan vaginal dapat dilakukan oleh berbagai profesi tenaga kesehatan, termasuk para bidan. Meskipun pertolongan persalinan normal telah dilakukan secara rutin, masih dijumpai beberapa permasalahan terkait pencegahan disfungsi dasar panggul pasca persalinan vaginal. Salah satu cara untuk membantu upaya pencegahan tersebut adalah dengan menggunakan KIPPas Jogja (Kartu Instrumen Prediktor Pangastuti Jogja), suatu instrumen atau alat bantu sebagai prediktor terjadinya disfungsi dasar panggul pasca persalinan vaginal.Tujuan: melakukan sosialisasi penggunaan KIPPas Jogja pada kelompok mitra bidan di wilayah Pandowoharjo Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta dalam rangka upaya pencegahan disfungsi dasar panggul pasca persalinan vaginal. Metode: kegiatan dilakukan dalam bentuk pengabdian masyarakat pada bulan Agustus 2022. Bentuk aktifitas berupa pertemuan kelompok, ceramah, diskusi interaksi, praktikum, penyampaian buklet panduan dan buku pengetahuan tentang faktor risiko disfungsi dasar panggul perempuan, serta video panduan penggunaan KIPPas Jogja, kepada mitra bidan di wilayah Pandowoharjo Sleman, Kabupaten Sleman, DIY.Hasil dan diskusi: terdapat beberapa permasalahan bidan dalam pengelolaan kehamilan dan persalinan yang masih perlu mendapat perhatian. KIPPas Jogja merupakan suatu alat bantu atau instrumen dalam bidang kesehatan yang digunakan untuk membantu melakukan prediksi terjadinya disfungsi dasar panggul khususnya prolaps organ panggul pada perempuan pasca persalinan vaginal. KIPPas Jogja memiliki bentuk kartu, program aplikasi android, serta aplikasi berbasis web, yang dapat berperan pada upaya pencegahan disfungsi dasar panggul perempuan pasca persalinan vaginal. Mitra bidan diharapkan dapat mengenali kasus-kasus disfungsi dasar panggul serta melakukan upaya tindak lanjut pencegahan terjadinya atau memberatnya disfungsi dasar panggul, sehingga akan mengurangi risiko penurunan kualitas hidup perempuan.Kesimpulan: terdapat peningkatan pemahaman mitra bidan tentang disfungsi dasar panggul serta kemampuan melakukan deteksi faktor risiko, tercapai pemahaman baru mengenai instrumen KIPPas Jogja. Selanjutnya dengan pemahaman yang telah ada akan bermanfaat dalam upaya pencegahan disfungsi dasar panggul perempuan, khususnya pasca persalinan vaginal. Kata Kunci: KIPPas Jogja; aplikasi; instrumen; disfungsi; panggu

    Pengaruh Pemberian Buah Kurma Ajwa (Phoenix dactilyfera L) terhadap Kadar Hormon Anti-Mullerian (AMH) dan Gambaran Klinis Perempuan Perimenopause

    Get PDF
    Background: Perimenopause is clinically characterized by the appearance of various complaints such as disturbed menstrual cycles, vasomotor symptoms, and mood changes that have an impact on reduced quality of life. The decline in ovarian reserve is thought to be the beginning of this transition which eventually triggers hormonal changes. AMH is used as a marker of ovarian reserve and clinically as a predictive biomarker of menopause. Ajwa dates contain various phytochemicals that have potential to be used to protect primordial follicles from various damage while reducing perimenopause complaints.Objective: This study aimed to analyze the effect of consumption of ajwa dates on AMH levels and clinical features of perimenopausal women.Methods: This quasi-experimental study with a pre-post control design was carried out at RSIA Sitti Khadijah I Muhammadiyah Makassar, South Sulawesi, Indonesia, from May to October 2021. This study involved 44 perimenopausal subjects aged 42-48 years who were divided into 2 groups randomly (28 intervention groups, 16 control groups). AMH levels were checked by ELISA method while the clinical features was assessed by clinical examination.Results and Discussion: AMH levels in the intervention group decreased more slowly than the control group (0.37 ± 0.36 ng/ml vs 0.55 ± 0.19 ng/ml, p<0.05). Complaints of sleep disturbances, vaginal dryness, and mood changes were better in the intervention group (p<0.05), while complaints of irregular menstrual cycles and hot flushes were not significantly different in either control and intervention groups.Conclusion: AMH levels in the intervention group decreased more slowly than in the control group. The clinical features in the intervention group were better than the control group. Ajwa dates can be a good nutrition in improving the quality of life of perimenopausal women.Keywords: Anti-Mullerian Hormone (AMH); Clinical Features; Ajwa Dates; Perimenopause

    Hubungan Onset Preeklamsia dengan Luaran Neonatus di RSUP Dr.Sardjito Yogyakarta

    Get PDF
    Background: Preeclampsia is one of the leading causes of death for both mother and fetus. Preeclampsia is divided into two categories of onset, for preeclampsia that begins at gestational age below 34 weeks is called early onset preeclampsia and late onset preeclampsia begins after gestational age above 34 weeks. In early-onset preeclampsia, there is an imperfect remodeling of the maternal spiral arteries, resulting in abnormal uteroplacental perfusion, causing hypoxia and acidosis in neonates which can increase incidence of IUGR, incidence of neonatal sepsis, neonatal mortality, low APGAR scores and longer hospital length of stay.Objectives: To determine the relationship between maternal and neonatal outcomes with early-onset preeclampsia and late-onset preeclampsia.Methods: This study was a retrospective cohort design and the sampling method used consecutive sampling. The research subjects were divided into two groups, the early-onset preeclampsia group and the late-onset preeclampsia group who were treated and gave birth at the RSUP. Dr. Sardjito Yogyakarta in 2019-2020.Results and Discussion: This study had a total sample of 235 subjects consisting of 146 subjects in the EO-PE group and 89 subjects in the LO-PE group. The two groups had a significant difference in the incidence of neonatal death, the incidence of neonatal sepsis and length of stay (p<0.05), but there was no significant difference in the incidence of IUGR (p=0.527) and the incidence of low Apgar score (p=0.771).Conclusion: There was no difference in the incidence of IUGR and low Apgar score between mothers with EO-PE and mothers with LO-PE. The incidence of neonatal sepsis and the incidence of neonatal death in mothers with EO-PE is higher than in mothers with LO-PE which was influenced by gestational age and history of preeclampsia. The length of neonatal hospital stay in mothers with EO-PE is longer than that of mothers with LO-PE, it was influenced by the onset of preeclampsia and gestational age. Keywords: Early onset preeclampsia; late onset preeclampsia; neonatal outcome; neonatal sepsis; IUGR.

    219

    full texts

    239

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Kesehatan Reproduksi
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇