Jurnal Kesehatan Reproduksi
Not a member yet
    239 research outputs found

    Status Epilepticus Following Labor in a Remote Area: A Case Report of Puerperal Sepsis

    Get PDF
    Background: Puerperal sepsis is one of the five leading causes of maternal mortality worldwide, commonly occurs in low to middle income countries. Higher incidence is observed in rural areas where diagnostic and therapeutic interventions may be limited.Case: A a 21-year-old woman who developed a fever, abdominal pain, and foul-smelling vaginal discharge five days after giving birth. The patient convulsed five times in total before being admitted. She was diagnosed with status epilepticus caused by sepsis-associated encephalopathy and puerperal sepsis, which was successfully treated with antibiotics and supportive care.Discussion: Pregnancy and the puerperium period involve significant changes in maternal physiology and immune function. The Society of Obstetric Medicine Australia and New Zealand (SOMANZ) has proposed Obstetric-modified quick sepsis related organ failure assessment (omqSOFA) for early recognition of maternal sepsis. An score of 2 or higher has predictive value for maternal sepsis.Conclusion: Early recognition, appropriate treatment, and close monitoring are crucial for improving outcomes in patients with puerperal sepsis

    Perbandingan Kadar Vitamin D antara Wanita dengan Surgical Menopause Post Kemoterapi dan Wanita Menopause Alami di Yogyakarta

    No full text
    Latar Belakang: Menopause merupakan periode berhentinya haid akibat penurunan produksi hormon pada wanita. Menopause dapat terjadi secara alami maupun karena prosedur medis pengangkatan kedua ovarium mau sebab lainnya seperti obat-obatan. Wanita yang mengalami menopause dini karena surgical menopause akan mengeluhkan gejala menopause yang lebih berat karena perubahan hormon secara mendadak.  Pasien dengan surgical menopause akibat kanker seringkali mendapatkan kemoterapi adjuvant yang akan menyebabkan penurunan kadar vitamin D, dimana vitamin D diketahui berperan penting dalam mengurangi keluhan menopause. Tujuan: Mengetahui perbandingan kadar vitamin D pada pasien surgical menopause post kemoterapi dan wanita menopause alami. Latar Belakang: Menopause merupakan periode berhentinya haid akibat penurunan produksi hormon pada wanita. Menopause dapat terjadi secara alami maupun karena prosedur medis pengangkatan kedua ovarium mau sebab lainnya seperti obat-obatan. Wanita yang mengalami menopause dini karena surgical menopause akan mengeluhkan gejala menopause yang lebih berat karena perubahan hormon secara mendadak.  Pasien dengan surgical menopause akibat kanker seringkali mendapatkan kemoterapi adjuvant yang akan menyebabkan penurunan kadar vitamin D, dimana vitamin D diketahui berperan penting dalam mengurangi keluhan menopause. Tujuan: Mengetahui perbandingan kadar vitamin D pada pasien surgical menopause post kemoterapi dan wanita menopause alami. Metode: Penelitian analitik dengan desain kohort retrospektif untuk membandingkan kadar vitamin D antara 2 kelompok, yaitu kelompok wanita dengan surgical menopause yang sudah dikemoterapi dan wanita post menopause alami. Penilaian kadar vitamin D dilakukan pada satu sampai dua tahun pada kelompok pasca ooforektomi bilateral dan satu sampai dua tahun pasca haid terakhir pada kelompok menopause alami. Perbandingan rerata kadar vitamin D antar 2 kelompok dilakukan dengan uji statistika komparatif menggunakan Independent T-Test. Hasil dan Pembahasan:  Rerata dan standar deviasi kadar vitamin D pada kelompok surgical menopause post kemoterapi adalah 14,07 + 5,49 ng/mL sedangkan kelompok menopause alami adalah 17,30 ± 6,92 ng/mL dengan nilai p=0,167. Kesimpulan: Tidak terdapat perbedaan signifikan pada rerata kadar vitamin D antara kelompok surgical menopause post kemoterapi dan post menopause alami.Kata Kunci: surgical menopause; menopause alami; ooforektomi bilateral; vitamin D

    Premenstrual Syndrome pada Remaja Selama Pandemi Covid-19 Tahun 2021

    No full text
    Latar Belakang: Premenstrual syndrome (PMS) adalah kumpulan gejala fisik, psikologis, perilaku dan bisa terjadi seminggu atau beberapa hari sebelum menstruasi. Kondisi pandemi covid-19 berpengaruh pada PMS.Tujuan: Mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan PMS pada remaja di DKI Jakarta selama pandemi Covid-19 tahun 2021Metode: Penelitian observasional ini menggunakan desain studi cross sectional dengan  jumlah sampel 294 remaja. Analisis bivariat menggunakan uji chi square. Analisis multivariat menggunakan uji regresi logistik berganda.Hasil dan Pembahasan: Hasil analisis bivariat menunjukkan ada hubungan signifikans antara stres berat (p= 0.000 POR = 6.667 95% CI 3.393-13.097) dan pola olahraga (p=0.015 POR = 2.442 95% CI 1.224-4.872) terhadap PMS. Hasil analisis multivariat menunjukkan stres berat paling berpengaruh terhadap PMS (nilai p=0,000 POR=6,483 95% CI 3,268-12,861) setelah dikontrol variabel pola olahraga dan IMT. Kesimpulan: Stres berat dan pola olahraga berhubungan dengan PMS selama pandemi covid-19. Stres  berat paling berpengaruh terhadap PMS setelah dikontrol variabel pola olahraga dan IMT

    Hubungan antara Status Gizi Ibu dengan Berat Lahir Bayi pada Kehamilan Remaja

    Get PDF
    Background: Teenage pregnancy is prone to cause problems on maternal nutritional status. If nutritional status during pregnancy is not monitored properly, the chance for the mother to experience complications in the birth weight of the newborn can be increased.Objective: To find out the relationship between maternal nutritional status and other risk factors with neonatal birth weight in teenage pregnancy.Methods: This research is an observational analytic study with cross-sectional approach. The samples of this study were collected by consecutive sampling from 2019 to December 2021 using secondary data of RSUP Dr. Kariadi Semarang. The data were analyzed by using chi-square, fisher’s exact and mann-whitney test.Result: The results showed that there were significant relationships between maternal nutritional status (p=0.001), gestational age (p<0.001), abortion history (p=0.045), anemia status (p=0.019), and multiple pregnancy (p=0,035) with neonatal birth weight. Meanwhile, the variables of maternal age, education, occupation, gravidity, diabetes melitus, hypertension, preeclampsia, prelabor rupture of the membranes, and antepartum haemorrhage did not have a significant relationship with neonatal birth weight.Conclusion: There is significant relationships between maternal nutritional status, gestational age, abortion history, anemia status, and multiple pregnancy with neonatal birthweight  Keywords:  maternal nutritional status, birth weight, teenage pregnanc

    Penerapan Robert Buckman's Six-step Protocol pada Kehamilan dengan Kanker Ovarium

    Get PDF
    Latar Belakang: Penyampaian berita buruk merupakan salah satu materi penting dalam ketrampilan komunikasi medis. Diperlukan pendekatan khusus dalam penyampaian informasi medis yang dapat menimbulkan respon buruk. Diagnosis kanker ovarium sendiri disertai kehamilan yang tidak direncanakan merupakan berita buruk yang sangat stress full, apalagi akan dilakukan terminasi kehamilan. Diperlukan protokol yang bisa dijadikan panduan untuk menyampaikannya kepada pasien.Tujuan: Untuk mempelajari dan menerapkan Robert Buckman's Six-step Protocol dalam menyampaikan satu laporan kasus berita medis yang buruk (medical breaking bad news) yang dialami seorang perempuan yang menderita kanker ovarium dan hamil, serta akan dilakukan terminasi kehamilan.Metode: Sebuah laporan kasus tentang penderita Kanker Ovarium, hamil tanpa perencanaan dan akan dilakukan terminasi.Hasil dan Pembahasan: Pada saat dilakukan pendekatan klinik dengan diagnosis multiaxial, pada axis I didapatkan penderita dengan Gangguan Penyesuaian dengan Reaksi Campuran Cemas (F32.2), pada axis II dtemukan adanya ciri kepribadian cemas, MPE acting out, dan displacement. Pada axis III pasien hamil ketiga usia kehamilan 16 Minggu + Kista Ovarium curiga Ganas. Pada axis IV, pasien harus menghadapi masalah dengan penyakitnya disertai adanya kehamilan. Serta pada avis V Global Assessment of Functioning didapatkan 61-50 sedangakan Global Assessment of Functioning 1 tahun terakhir 90-81. Diterapkan Robert Buckman's Six-step Protocol sebagai panduan dalam menyampaikan informasi buruk tersebut.Kesimpulan: Pasien-pasien kanker ovarium dengan kehamilan yang tidak direncanakan dan akan dilakukan terminasi kehamilan merupakan kelainan medis yang berat dapat diikuti dengan kecemasan dan depresi. Perlu pendekatan khusus mulai dari penyampaian informasi/diagnosis, rencana tindakan dan menghadapi risiko maupun komplikasi yang mungkin dapat terjadi. Terhadap kecemasan dan depresi yang tetap muncul, dilakukan terapi farmakologis dan dikombinasikan dengan non-farmakologi seperti Mindfulness-based cognitive behavioral therapy, dan cognitive behavior therapy. Kata kunci: Robert Buckman's Six-step Protocol; kehamilan tidak direncanakan; kanker ovarium

    Ogilvie’s Syndrome Post Elective Caesarean Section

    Get PDF
    Background: Ogilvie's syndrome is an acute abdominal condition characterized by massive colonic distension without any evidence of mechanical obstruction. In female patients this syndrome was associated with caesarean section and the use of spinal anaesthetics.Case: We report a case of Ogilvie's syndrome that occurred after elective caesarean section. On the first day postoperative care the patient complained of lower abdominal pain accompanied by abdominal bloating. Physical examination reveals a distended abdomen without clinical evidence of peritonitis. Vital signs were normal and laboratory results showed an increase in leukocytes. An abdomen radiology was taken and shows gas distention in the large intestine which did not decrease even after given muscle relaxants. The patient then underwent emergency surgery by digestive surgeon followed by decompression measures for intestinal distention. The patient got a good postoperative care and continued control through the outpatient clinic.Discussion: The exact mechanism that causes colonic dilatation in Ogilvie's syndrome is not known clearly, but many of these cases are associated with trauma, spinal anaesthesia, and pharmacological agents in which the autonomic nervous system (ANS) function is impaired. Diagnosis can be made by abdominal imaging which will show dilation of the large intestine. The main goal of treatment is to decompress the colon and thereby minimize the risk of colonic ischemia, perforation, and death. Pharmacological therapy should be considered in patients who fail conservative management within 24-48 hours, with the last resort being colonic decompression up to laparotomy with or without stoma creation.Conclusion: Although it has a rare incidence, Ogilvie's syndrome has a high morbidity and mortality rate. Proper management of Ogilvie's Syndrome is carried out according to an algorithm starting from conservative management, pharmacology, to surgical management in resistant cases.Key words: Ogilvie syndrome; acute abdomen; caesarean section complication

    Luaran Maternal pada Ibu Hamil dengan Covid-19 di Daerah Istimewa Yogyakarta Studi Kohort Retrospektif

    No full text
    Background: Coronavirus is a disease at the end of 2019 caused by Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-CoV-2) which now was declared a pandemic by WHO on March 11, 2020. Indonesia reported the first case of COVID-19 on March 2, 2020 and the number still increase until now. The studies of SARS-CoV-2 infection on pregnancy and maternal outcomes are still uncertain since evidence regarding the disease is still ongoing.  Moreover, the pregnant women have a higher risk of morbidity and mortality than the general population.Objective: This study aimed to determined the relationship among COVID-19 in pregnancy with maternal outcome at YogyakartaMethods: This is a retrospective cohort study. The subjects were pregnant women who were diagnosed confirm COVID-19. The research subjects were taken     at Dr. Sardjito Hospital and Akademik UGM Hospital from March 2020 to August 2021.Results and Discussion: Among all 436 research subjects, obtained 340 sampels that met the criteria for analysis. The characteristics of subjects showed patients with aged >35 years (58.24%), and gestational age ≥37 weeks (79.41%). There were correlated significantly  between confirmed symptomatic COVID-19 in pregnant women with prematurity (RR 2,42, CI 95% 1,44–4.04), requiring ICU (RR 53.89, CI 95% 3.33–870.45), length of stay (RR 1.97, CI 95% 1,05–3,68), and maternal mortality maternal (RR 38.08, CI 95% 2,34–619,83) compared with asymptomatic COVID-19. There was no correlated significantly   (p>0.05) between COVID-19 in pregnancy with mode of delivery.  Age, obesity, hypertension and diabetes mellitus have no correlated significantly  with maternal outcomesConclusion: Pregnancy as an independent risk factor for symptomatic COVID-19 that is likely independent of other comorbidities. Pregnant women who symptomatic COVID-19 increase the risk of worse maternal outcome compare with asymptomatic COVID-19. The mode of delivery decided based on medical and obstetric indication. Keywords : COVID-19; pregnancy; co-morbidities; maternal outcome

    Luaran Maternal dan Perinatal Kehamilan dengan HIV di RSUP dr. Kariadi Semarang Tahun 2019-2021

    Get PDF
    Background: Human Immunodeficiency Virus (HIV) remains a global health crisis. HIV infection during pregnancy is associated with an increased risk of adverse maternal and perinatal outcomes.Objective: To determine the maternal and perinatal outcomes of HIV in pregnant women.Method: The descriptive study of pregnant women with HIV infection was done at Central General Hospital dr. Kariadi Semarang January 2019 – December 2021.Results and Discussion: From 122 cases of pregnancy with HIV infection, the majority of cases were found in 20-34 years old group (75,4%), finished high school education (51.6%), working as a housewife (55.7%), 37-41 weeks pregnancy (84.4%), primiparity (35.2%), mean frequency of antenatal care 5 (0-10), was diagnosed with HIV during the third trimester of pregnancy (27.9%), received ARV therapy during the third trimester (30.3%), history of drug withdrawal 13 cases, CD4 cell count 200-500 cells/mm3 (41.8%), hospital referral (47.5%), emergency referral (94.9%), cesarean section (95.9%), opportunistic infections (19.7%), and co-morbidities (56.6%). Maternal outcomes included preterm delivery (15.6%), premature rupture of membranes (PROM) (11.5%), and postpartum hemorrhage (0.8%), and there was no maternal mortality case. Perinatal outcomes included small gestational age (SGA) (30.3%), low birth weight (LBW) (21.3%), asphyxia (19.7%), and prematurity (15.6%). There were no perinatal deaths and fetal growth restrictions.Conclusion: The incidences of pregnancies with HIV infection in 2019-2021 were found in 122 cases. The most common maternal outcome was preterm delivery and PROM. The most common perinatal outcome was SGA, LBW, asphyxia, and prematurity. Keywords: HIV; maternal; outcomes; perinatal; pregnancy Abstrak Latar Belakang: Human Immunodeficiency Virus (HIV) masih menjadi krisis kesehatan global. Infeksi HIV pada ibu hamil memiliki hubungan dengan peningkatan risiko luaran maternal dan perinatal yang buruk.Tujuan: Mengetahui luaran maternal dan perinatal kehamilan dengan HIV.Metode: Penelitian deskriptif pada seluruh ibu hamil dengan HIV yang bersalin di RSUP dr. Kariadi Semarang Januari 2019 – Desember 2021.Hasil dan Pembahasan: Dari 122 kasus kehamilan dengan HIV, ibu hamil mayoritas berusia 20-34 tahun (75,4%), pendidikan terakhir SMA (51,6%), pekerjaan sebagai ibu rumah tangga (55,7%), usia kehamilan 37-41 minggu (84,4%), paritas primipara (35,2%), rata-rata frekuensi ANC yaitu 5(0-10), waktu terdiagnosis HIV pada trimester 3 (27,9%), terapi ARV dimulai pada trimester 3 (30,3%), riwayat putus obat 13 ibu, jumlah sel CD4 200-500 sel/mm3 (41,8%), asal rujukan rumah sakit (47,5%), rujukan kegawatdaruratan (94,9%), bedah sesar (95,9%), infeksi oportunistik (19,7%), dan penyakit penyerta (56,6%).  Luaran maternal meliputi persalinan prematur (15,6%), ketuban pecah dini (11,5%), perdarahan postpartum (0,8%) dan tidak ada kematian maternal.  Luaran perinatal meliputi kecil massa kehamilan (30,3%), berat badan lahir rendah (BBLR) (21,3%), asfiksia (19,7%), dan prematuritas (15,6%). Tidak ditemukan kematian perinatal dan pertumbuhan janin terhambat (PJT).Kesimpulan: Kejadian kehamilan dengan HIV tahun 2019-2021 adalah sebanyak 122 kasus. Luaran maternal terbanyak adalah persalinan prematur dan KPD, sedangkan luaran perinatal terbanyak adalah KMK, BBLR, asfiksia dan prematuritas. Kata kunci: HIV; kehamilan; luaran; maternal; perinata

    Laparotomi Miomektomi Mioma Uteri Wanita Usia 48 Tahun: Laporan Kasus

    Get PDF
    Latar Belakang: Mioma uteri disebut juga fibroid uterus atau leiomyoma merupakan neoplasma jinak yang berasal dari otot, dan jaringan ikatuterus, yang sering terjadi pada usia reproduksi. Diduga penyebab timbulnya mioma uteri paling banyak oleh karena stimulasi hormon estrogen yangberlebihan. Keluhan yang diakibatkan oleh mioma uteri sangat tergantung pada lokasi, arah pertumbuhan, jenis, besar dan jumlah mioma. Keluhanyang sering muncul adalah menorrhagia. Hanya sekitar 20 – 50 % saja mioma uteri menimbulkan keluhan, sedangkan sisanya tidak mengeluh apapun.Kasus: Kami melaporkan kasus perempuan usia 48 tahun dengan nyeri perut kanan bawah. Pemeriksaan fisik ditemukan nyeri tekan pada abdomen.Pada pemeriksaan USG didapatkan kesan adanya mioma uteri intramural dengan ukuran 4,76 cm× 6,20 cm × 3,60.Pembahasan: Selanjutnya dilakukan tindakan operatif laparatomi miomektomi untuk mengambil mioma dengan tetap mempertahankan uterus. Hasilpemeriksaaan laboratorium histopatologi adalah leiomyoma tanpa disertai tanda-tanda keganasan. Selama operasi dan setelah operasi tidak adakomplikasi.Kata Kunci: Mioma uteri; fibroid uterus; miomektomi; laparotom

    Penatalaksanaan Dismenore Primer pada Remaja dengan Pemberian Jus Wortel dan Air Kelapa Hijau

    Get PDF
     ABSTRAKBackground: Menurut WHO tahun 2018 bahwa angka kejadian dismenore di dunia ini sangat besar. Dismenore dapat dikurangi dengan tindakan farmakologi dan non-farmakologi. Salah satu pengobatan non-farmakologi untuk mengurangi dismenore  menggunakan jus wortel dan air kelapa hijau. Objective: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan pemberian jus wortel dan air kelapa hijau terhadap penurunan skala nyeri dismenore primer pada remaja putri di SMPN 02 Kota Bengkulu. Method: Desain penelitian quasi eksperiment dengan rancangan penelitian two group pretest-posttest. Pengambilan sampel dilakukan secara proportional random sampling dengan jumlah masing-masing kelompok sebanyak 13 responden. Penelitian ini menggunakan instrument penelitian berupa lembar pengukuran skala nyeri NRS (numeric rating scale). Analisis data berupa analisis univariat dan bivariat. Results and Discussion: Hasil Penelitian menunjukan terdapat penurunan skala nyeri setelah diberikan jur wortel dan air kelapa hijau. Tidak ada perbedan antara pemerian jus wortel  dan  air kelapa hijau terhadap penurunan skala  nyeri  dengan p value 0.740 >0,05. Conclusion: Penatalaksanaan dismenore pada remaja yang mengalami dismenore dapat mengkonsumsi jus wortel atau air kepala hijau secara rutin pada saat mulai mentsruasi.Keyword: Jus wortel; air kelapa hijau; dismenore 

    219

    full texts

    239

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Kesehatan Reproduksi
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇