Jurnal Kesehatan Reproduksi
Not a member yet
    239 research outputs found

    Komplikasi Bedah, Luaran Fungsi Seksual dan Menstruasi dari Prosedur Vaginoplasti Sigmoid pada Pasien dengan Agenesis Vagina

    No full text
    Background:  Vaginal agenesis is one form of abnormality found in the uroginecology with a prevalence of 1: 4000 births. Various reconstruction techniques, both non-surgical and surgical, have been introduced, one of which is sigmoid vaginoplasty. Research on the complications and outcomes of sigmoid vaginoplasty procedure is still limited.Objective: To assess surgical complications, sexual and menstrual function outcomes of sigmoid vaginoplasty procedure.Method: This is a prospective study. A total 11 patients with a variety of genital tract malformations have been performed for sigmoid vaginoplasty during January 2017 to January 2019. Data are described descriptively-analytically. All patients were assessed for surgical complications, menstrual and sexual function after surgery.Results and Discussion: A total of 10 cases (90.9%) were diagnosed with vaginal agenesis and 1 case (9.1%) was diagnosed with Mayer-Rokitansky-Küster-Hauser (MRKH) syndrome. Durante surgery complications are severe bleeding and rectum injury, occurred in 2 cases (18.2%). Postoperative complication is surgical wound dehiscence, occurred in 2 cases (18.2%). All patients who have uterus (100%) showed good menstrual function outcomes. Of the 3 married patients, all patients (100%) showed good postoperative sexual function outcomes (FSFI score 27-30.4). Conclusion: The sigmoid vaginoplasty procedure is an effective procedure for patients with agenesis vaginal. This procedure has low surgical complications with good outcomes of menstrual and sexual function. Keywords: Sigmoid vaginoplasty; vaginal agenesis; menstrual function; sexual function

    Perbandingan Angka Ketahanan Hidup Penderita Kanker Ovarium yang Mendapat Terapi Regimen Kemoterapi Paclitaxel-Carboplatin dan Vyclophosphamide-Adriamycin-Cisplatin di RSUP Dr. Sardjito: Studi retrospektif Januari 2014-Desember 2018

    Get PDF
    Latar Belakang: Kanker merupakan penyebab kematian kedua terbanyak setelah penyakit kardiovaskular dan lebih dari 70% kematian yang disebabkan oleh kanker terjadi di negara berkembang. Kanker ovarium merupakan kanker terbanyak kesembilan pada wanita dan menjadi kanker dengan mortalitas ke-5 terbanyak, yaitu 8,6 per 100.000.Tujuan: Menilai angka ketahanan hidup penderita kanker ovarium yang diberikan kemoterapi dengan regimen Paclitaxel- Carboplatin dibandingkan dengan regimen Cyclophospamide-Adriamicyn-Cisplatin di RSUP Sardjito.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan rancangan studi analisis angka ketahanan hidup (survival rate) dari penderita kanker ovarium. Data akan diambil secara retrospektif dari rekam medis pasien kanker ovarium yang berobat ke RSUP dr. Sardjito kemudian ditelusuri riwayat kematiannya.Hasil dan Pembahasan: Terdapat 353 penderita kanker ovarium yang dilakukan kemoterapi, terdiri dari 265 subjek yang diterapi PC dan 88 subjek yang diterapi dengan CAP. Dari analisis bivariat didapatkan bahwa regimen kemoterapi PC dan CAP tidak memengaruhi angka ketahanan hidup (HR=1,15, p=0,64, CI95%=0,64-2,05).Usia <50 tahun (HR=0,42, p=0,01, CI95%=0,23-0,77), stadium klinis awal (HR=0,27,   p=0,00,   CI95%=0,14-0,49), dan CA125 pasca kemoterapi <70 U/mL (HR=0,21,        p=0,00,      CI95%=0,11-0,41) merupakan faktor protektif terhadap angka ketahanan hidup penderita kanker ovarium. Analisis multivariat dengan angka ketahanan hidup (cox’s regression) menunjukkan bahwa faktor yang dapat meningkatkan angka ketahanan hidup adalah stadium klinis awal (HR=0,45,   p=0,04,   CI95%=0,18-0,91)  dan CA125 pasca kemoterapi (HR=0,33, p=0,01, CI95%=0,15-0,74).Kesimpulan: Tidak ada perbedaan bermakna antara regimen kemoterapi PC dan CAP dengan angka ketahanan hidup penderita kanker ovarium yang dirawat di RSUP dr. Sardjito selama tahun 2014-2018. Faktor- faktor yang dapat meningkatkan angka ketahanan hidup pasien kanker ovarium adalah stadium klinis awal dan CA125 pasca kemoterapi <70 U/mL. Kata Kunci: Angka ketahanan hidup; kanker ovarium; regimen paclitaxel dan carboplatin; regimen cyclophosphamide, adriamycin, cisplatin

    Kejadian Infeksi Menular Seksual pada Wanita Kawin di Indonesia dan Variabel-variabel yang Memengaruhinya

    Get PDF
    Latar Belakang: Infeksi Menular Seksual (IMS) merupakan salah satu jenis penyakit menular yang penularan utamanya melalui kontak seksual. Lebih dari 1 juta IMS terjadi setiap hari di seluruh dunia dan menempati peringkat 10 besar alasan berobat di banyak negara berkembang. IMS dapat memiliki konsekuensi kesehatan reproduksi yang serius di luar dampak langsung dari infeksi itu sendiri, misalnya infertilitas atau penularan dari ibu ke anak. Wanita kawin merupakan kelompok yang berisiko tinggi untuk terkena penularan IMS dari pasangannya.Tujuan: melihat gambaran umum kejadian IMS pada wanita kawin usia 15-49 tahun di Indonesia dan variabel-variabel yang memengaruhinyaMetode: Jenis penelitian observasional dengan menggunakan data hasil SDKI 2017. Unit analisis dalam penelitian ini adalah wanita kawin usia 15-49 tahun yang suaminya juga turut diwawancarai. Jumlah sampel yang digunakan adalah sebanyak 8.743 responden. Analisis yang digunakan adalah univariabel, bivariabel dan analisis regresi logistik biner.Hasil dan Pembahasan: Terdapat 14,1 persen wanita kawin usia 15-49 tahun yang mengalami IMS/gejala IMS di Indonesia tahun 2017. Wanita yang berusia <25 tahun memiliki kecenderungan 1,421 kali untuk mengalami IMS. Kecenderungan wanita yang tidak pernah mendengar IMS 1,416 kali untuk mengalami IMS dibandingkan wanita pernah mendengar IMS. Wanita yang memiliki suami yang melakukan perilaku berisiko memiliki kecenderungan 1,548 kali untuk mengalami IMS.Kesimpulan: Usia wanita, status ekonomi, pernah mendengar IMS, dam perilaku berisiko suami merupakan variabel-variabel yang mempengaruhi kejadian IMS pada wanita kawin

    Hubungan Anemia Pada Ibu Hamil Dengan Antropometri Bayi Baru Lahir

    Get PDF
    Latar Belakang: Gangguan kesehatan yang terjadi selama kehamilan dapat mempengaruhi kesehatan janin dalam kandungan hingga kelahiran dan pertumbuhan bayi selanjutnya. Antropometri pada bayi baru lahir dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu anemia pada kehamilan, nutrisi maternal yang kurang, infeksi maternal dan fetal, dan ibu mengandung janin multipel. Anemia pada wanita hamil akan meningkatkan risiko mortalitas dan morbiditas perinatal karena dapat menyebabkan gangguan nutrisi dan oksigenasi utero plasenta yang menimbulkan gangguan pertumbuhan hasil konsepsi.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menilai hubungan anemia pada ibu hamil dengan antropometri bayi baru lahir.Metode: Analisis observasional dengan desain studi potong lintang dengan subjek penelitian ibu hamil yang melahirkan di RS pada bulan Januari 2017 - Juni 2018. Variabel yang dikumpulkan dan akan diteliti adalah kadar Hb trimester III, berat badan bayi lahir, panjang badan bayi lahir, dan lingkar kepala bayi lahir yang diperoleh dari data sekunder yaitu rekam medis.Hasil dan Pembahasan: Total subjek pada penelitian ini adalah 152 subjek, sebagian besar subjek penelitian berusia 26 - 30 tahun (41,4%) dengan ibu tidak anemia sebanyak 105 orang (69,1%). Hasil analisis menunjukkan tidak ada hubungan antara berat badan bayi baru lahir dengan anemia pada ibu hamil, tidak ada hubungan antara panjang badan bayi baru lahir dengan anemia pada ibu hamil, ada hubungan antara lingkar kepala bayi baru lahir dengan anemia pada ibu hamil.Kesimpulan: Penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan bermakna antara anemia pada ibu hamil dengan lingkar kepala bayi baru lahir (p = 0,050), tetapi didapatkan tidak terdapat hubungan bermakna antara anemia pada ibu hamil dengan berat badan bayi lahir (p = 0,374) dan panjang badan bayi lahir (p = 0,198). Kata Kunci : Anemia; Ibu Hamil; Hemoglobin trimester III; Antropometri bay

    Perbandingan Pemberian Parasetamol Oral dan Ketorolak Intravena dalam Membantu Keberhasilan Menyusui Pasca Seksio Sesarea

    Get PDF
    Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan pemberian parasetamol 1000 mg oral dan injeksi ketorolak 30 mg intravena dalam mengatasi nyeri terhadap keberhasilan menyusui pasca seksio sesarea. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian non blinding, randomized controlled trial yang membagi subyek penelitian menjadi 2 kelompok. Kelompok kontrol adalah kelompok yang mendapat injeksi ketorolak 30 mg intravena dan kelompok perlakuan adalah yang mendapat parasetamol 1000 mg per oral yang kemudian dinilai nyeri dengan VAS dan keberhasilan menyusui dengan skor LATCH pada 24 jam setelah seksio sesarea. Chi square serta risiko relatif dipakai untuk uji statistik untuk membandingan 2 proporsi. Hasil: Penelitian ini melibatkan 86 subjek. Pada pemberian parasetamol 1000 mg per oral dan ketorolak 30 mg intravena didapatkan hasil tidak perbedaan bermakna terhadap nyeri (RR 1,16; 95% CI 0,84-1,16). Angka keberhasilan menyusui pada kedua kelompok dengan efek tidak nyeri dan nyeri didapatkan hasil tidak berbeda bermakna secara statistik. Kesimpulan: Pemberian parasetamol 1000 mg per oral tidak berbeda bermakna dibandingkan dengan pemberian injeksi ketorolak 30 mg intravena terhadap nyeri dan keberhasilan menyusui pasca seksio sesarea.   Kata Kunci: parasetamol, ketorolak, seksio sesarea, keberhasilan menyusui, nyer

    Pengaruh Psikokuratif terhadap Kadar VEGF-c, Kortisol dan Skor HADS Pasien Kanker Serviks Stadium Lanjut

    Get PDF
    Background: Cancer diagnosis and therapy that causes chronic stress, its progression to depression  increase cortisol and VEGF-c levels in advanced cervical cancer patientsObjective: To  know the VEGF-c, cortisol and HADS level  in advanced stage cervical cancer patients who get Psychocurative intervention Method : An experimental study of pretest – posttest controle group design in outpatient oncology clinic and ward of Doctor Moewardi General Hospital. Thirty subjects with advanced cervical cancer were randomly divided into 15 patients in the intervention group, and 15 in control. Psycho-curative intervention 4 times a month, 1 time a week, 60 minutes duration. Before and after intervention, each subject of the two groups was examined levels of VEGF-c, cortisol and HADS scores. Data obtained were analyzed by independent t test, Mann Whitney, Pair t and Wilcoxon with the 19th version of SPSS for Windows.Result and Discussion: Average VEGF-c levels before intervention 9006.53 ± 2181.49, after intervention 5631.20 ± 2071.55, p <0.001. The mean cortisol level before intervention was 12.29 ± 4.36, after intervention 6.71 ± 3.88, p <0.001. The mean HADS Anxiety score before intervention was 14.13 ± 3.02, after intervention 8.47 ± 3.07, p <0.001. Mean Depression HADS scores before intervention 13.80 ± 3.21, after intervention 7.20 ± 2.70, p <0.001.Conclusion : VEGF-c levels, cortisol, HADS anxiety scores and depression in patients with advanced cervical cancer decline after psychocurative intervention. Keywords : Psychocurative; VEGF-c; Cortisol; HADS; Cervical cance

    Faktor-faktor yang Mendukung dan Menghambat Dilakukannya Versi Luar pada Kehamilan dengan Presentasi Bokong di Yogyakarta

    Get PDF
    Background: Guidelines recommend that external cephalic version (ECV) should be offer to all women with fetus in breech presentation at term. Many literature show external cephalic version can lowering c-section rate caused by breech presentation.Objective: To explore the determinants (barriers and facilitators) affecting obstetricians and gynaecologists to do external cephalic version at Yogyakarta.Method: Explanatory mixed methods design with quantitative-qualitative model. Survey with validated questionnaire and in-depth interview with semi-structured question was done January 2019 until August 2019.Results and Discussion: 72 respondents (83.7%) was responded to questionnaire and in-depth interview was done to 12 respondents. Adherence to ECV guideline was varied: counselling (20.8%), advising for ECV (15.3%), and arranged for ECV to for (almost) all their clients (16.6%). Although 76.4% of respondents considered ECV to be an effective treatment for preventing caesarean childbirth, only 18.1% respondents agreed that every client with breech presentation should undergo ECV. Self-efficacy was the most important determinant influencing adherence. In-depth interview shows several determinants to performed or did not performed ECV: skill of clinicians, guideline for ECV, facility to emergency c-section, ECV characteristic, cost, other methods for breech presentation, perception about ECV in lowering c-section rate, perceived ECV risk and patient preferences.Conclusion: Most respondents agreed that ECV was effective intervention to reduce caesarean childbirth, but adherence to counselling, advising and arranging ECV for clients still very low. Several determinants influenced obstetrician and gynaecologists to perform or did not perform ECV.Keywords: External cephalic version; breech presentation; determinants

    Luaran Transfer Embrio Simpan Beku pada Pasien Endometriosis Pasca Operasi dan Non Endometriosis yang Menjalani IVF di Klinik Permata Hati RSUP Dr. Sardjito

    Get PDF
    Background: Endometriosis is a chronic condition that is influenced by the hormone estrogen which affects women of childbearing age, and is associated with pelvic pain and infertility. In Vitro Fertilization (IVF) is currently the most efficient assisted reproductive technology and its high success rate is often done for infertility therapy in women associated with endometriosisObjective: The aim of this study is to determine whether postoperative endometriosis affected pregnancy outcomes in patients underwent frozen embryo transfer in IVF / ICSI programs.Method: This Research is done with a retrospective cohort design. The data was taken from medical records, research subjects who met the inclusion and exclusion criteria. The research data was collected, processed and analyzed using SPSS 23. Univariate, bivariate and multivariate data analysis was carried out to determine the effect between variablesResult: There were 458 research subjects in this study. Endometriosis patients were 119 subjects (26%). 57 subjects were categorized as minimum-mild endometriosis (47.9%) and moderate-severe subjects as many as 62 subjects (52.1%). The biochemical pregnancy rate (36.31%) and clinical pregnancy (29.4%) in patients with endometriosis was slightly higher than in non-endometriosis. But statistically it did not affect success rate of achieving biochemical (p = 0.428; RR 0.89; 95% CI: 0.71-1.24) and clinical pregnancy (p = 0.535; RR 0.883; 95% CI: 0.63- 1.22). The rate of miscarriage in postoperative endometriosis patients was higher than non-endometriosis patients (88.6% vs 80.7%) but was not statistically significant (p = 0.294; RR 1.69; 95% CI: 0.61-4.67) . Biochemical and clinical pregnancies were significantly affected by age, infertility, endometrial thickness, embryo age and embryo quality. The incidence of miscarriage was affected by the ovarian stimulation protocol.Conclusion: Endometriosis post operative statistically has no effect on pregnancy outcomes in the IVF / ICSI cycle with frozen embryo transfer compared with another cause of infertility .Keywords:Endometriosis, In Vitro Fertilization, Clinical pregnancy, biochemical pregnancy, miscarriag

    Deteksi Dini Conventional Smear dan Liquid Based Cytology dalam Upaya Pencegahan Kanker Serviks: Literature Review

    Get PDF
    Background: Cervical cancer is the most common cancer among women. Cervical cancer mortality is also an indicator of health success, because 86% of all deaths due to cervical cancer are in developing, low and middle income countries. Cervical cancer is caused by the Human Papilloma Virus (HPV), one of the most common sexually transmitted infections in the world.Objective: This literature review aims to describe early detection of pap smear (Conventional Smear and Liquid Based Cytology) as prevention of cervical cancer.Method: This review used the literature review method to search all related and relevant articles in PubMed, ProQuest, Science Direct and Portal Garuda with publications between 2008-2018.Results and Discussion: Liquid Based Cytology sensitivity (88%) is much higher than that reported in Conventional Smear (20-30%), Liquid Based Cytology examination has the potential to increase sensitivity in the diagnosis of endometrial carcinoma.Conclusion: Although conventional smear sensitivity is lower than Liquid Based Cytology, the price of conventional smear is more affordable for the community, and the target of Liquid Based Cytology is adapted for the upper middle class. To improved conventional smear effectiveness can be accompanied by IVA examination so that it is not repeated, more practical, and higher validity

    Analisis Faktor Determinan Kematian Ibu di Kabupaten Sukoharjo Jawa Tengah Indonesia

    Get PDF
    LatarBelakang: Kematian ibu di kabupaten Sukoharjo masih cukup tinggi. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor seperti 4 “terlalu” ,komplikasi kehamilan, persalinan dan nifas,terlambat mengambil keputusan, merujuk dan mendapat pelayanan kesehatanserta sosioal ekonomi yang rendah.Metode: Observasional analitik dengan case control study. Jumlah sampel 16 kasus dan 32 kontrol dengan teknik simple random sampling. Analisis dilakukan secara univariat, bivariat dengan chi square test, multivariat dengan metode regresi logistik.Hasil: Terdapat hubungan yang bermakna antara komplikasi kehamilan (p<0.034) (OR=4,200; 95% CI : 1,064 – 16,584), komplikasi persalinan (p<0.001) (OR=9,533; 95% CI : 2,397 – 37,909), komplikasi nifas (p<0.000), keterlambatan penanganan petugas (p=0,011),paritas (OR=0,035; 95% CI : 0,004 – 0,300; p=0,000) dan ibu bekerja (p=0,017)(OR=4.592; 95% CI : 1.257 – 16.771) terhadap kematian maternal. Dengan faktor  risiko di atas kemungkinan kematian maternal meningkat sebanayak 88,9 %.Kesimpulan: Komplikasi kehamilan, persalinan, nifas ,keterlambatan penanganan petugas, paritas dan ibu bekerja meningkatkan risiko kematian materna

    219

    full texts

    239

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Kesehatan Reproduksi
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇