Jurnal Kesehatan Reproduksi
Not a member yet
    239 research outputs found

    Kualitas Rujukan Bidan Delima di RSU A.W. Sjahranie, Samarinda

    Get PDF
    Latar Belakang: Angka kematian ibu merupakan indikator tingkat kesehatan, di mana di Indonesia angka ini masih tinggi. Bidan Delima adalah salah satu program nasional dalam upaya menurunkan angka kemaitian ibu ini.Tujuan: Membandingkan ketepatan rujukan pasien Bidan Delima dengan Bidan Non-Delima serta luaran meternal dan neonatalnya.Metode: Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Sakit Umum Abdul Wahab Sjahranie Samarinda. Pasien yang dirujuk oleh Bidan Delima digunakan sebagai kelompok kasus sedangkan pasien yang dirujuk oleh bidan Non-Delima digunakan sebagai kontrol. Penelitian ini menggunakan studi Cross Sectional. Ukuran sampel dihitung untuk mendapatkan tipe satu 0,05, kekuatan 0,80 dan perbedaan proporsi sekitar 30%. Pengolahan data menggunakan alat pengolah data di komputer. Chi-Square dan regresi logistik digunakan untuk analisa statistik.Hasil dan Pembahasan: Sebanyak 189 pasien yang memenuhi syarat yang terdiri dari 66 pasien Bidan Delima dan 123 pasien Bidan Non-Delima digunakan. Pasien tepat waktu yang dirujuk oleh Bidan Delima adalah 63,6% dibandingkan dengan 72,4% oleh Bidan Non-Delima, memberikan RP 0,88 (95% CI 0,71-1,09). Angka kelahiran vaginal masing-masing adalah 54,5% dan 66,7% pada Bidan Delima dan Non-Delima masing-masing (RP 0,82; 95% CI 0,64-1,05). Tingkat bayi bugar masing-masing  adalah 78,8% dan 86,2% pada Bidan Delima dan Non-Delima (RP 0,91; 95%  CI 0,79-1,05).Simpulan: Tidak ada perbedaan ketepatan rujukan, luaran maternal dan neonatal antara Bidan Delima dan Bidan Non-Delima.Kata Kunci: Bidan Delima; Non-Delima; Ketepatan Rujukan 

    Hubungan Maternal Early Obstetric Warning Score (MEOWS) dengan Perawatan di Intensive Care Unit pada Pasien Preeklamsia Berat di RSUP DR. Sardjito

    Get PDF
    Latar Belakang: Preeklamsia merupakan masalah kedokteran yang serius dan memiliki kompleksitas yang tinggi. Preeklamsia dapat setiap saat mengalami perburukan, sehingga dibutuhkan suatu metode yang mudah digunakan untuk mendeteksi dan mengidentifikasi adanya perburukan. Salah satunya adalah Modified Early Obstetrics Warning Score (MEOWS) yang merupakan salah satu parameter untuk memudahkan mendeteksi secara dini adanya risiko tinggi pada pasien obstetri. Diharapkan perburukan yang terjadi dapat dicegah atau dikurangi risikonya dengan menempatkan pasien preeklamsia berat menurut level of care disesuaikan dengan kebutuhan pasien.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mencari cut off point skor MEOWS pada pasien preeklamsia berat dalam menentukan tempat perawatan.  Metode: Penelitian dengan desain kohort retrospektif. Data diambil dari rekam medis, dengan subyek penelitian yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Data penelitian dikumpulkan, diolah dan dilakukan analisis data univariat, bivariat dan multivariat untuk mengetahui hubungan antar variabel.Hasil dan Pembahasan: Sampel pada penelitian ini berjumlah 187 subyek penelitian. Karakteristik skor MEOWS IGD ≥8 berjumlah 70 subyek dan skor MEOWS IGD <8 berjumlah 117 subyek. Pasien yang dirawat di ICU berjumlah 15 subyek dan yang dirawat selain di ICU berjumlah 174 subyek. Hasil perhitungan mendapatkan nilai cut off point skor MEOWS adalah 7,5 (dibulatkan menjadi skor 8). Terdapat hubungan bermakna antara skor MEOWS ≥8 dengan perawatan di ICU (RR 3,34; CI 95%: 1,19-9,38). Terdapat hubungan yang bermakna juga antara skor MEOWS ≥ 8 dengan kejadian bayi IUFD (RR 9,91; CI 95%: 2,098-40,27).Kesimpulan: Pasien preeklamsia berat dengan skor MEOWS ≥8 memiliki risiko untuk dirawat di ICU 3,34 kali lipat dibandingkan dengan pasien preeklamsia berat dengan skor MEOWS <8. Pasien preeklamsia berat dengan skor MEOWS ≥8 memiliki risiko untuk kejadian bayi IUFD 9,91 kali lipat dibandingkan dengan pasien preeklamsia berat dengan skor MEOWS <8.  Kata Kunci: Modified Early Obstetric Warning Score (MEOWS); preeklamsia berat; intensive care unit

    Analisis Hubungan Clinical Autonomy Terhadap Kepuasan Kerja Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi Dalam Tindakan Seksio Sesarea Pada Sistem Jaminan Kesehatan Nasional

    Get PDF
    Background: In Indonesia, the National Health Insurance System (NHIS) is an implementation of law No. 40 of 2004 on the National Social Insurance System in health sector with universal health coverage (UHC) concept. Therefore, the satisfaction of specialist’s work will be very influence towards hospital works. The previous research (Nasruddin, 2017) about factor analysis related to job satisfaction of doctor specialist for obstetrics and gynecology (SpOG) toward Sectio Caesarea (SC) on NHI showed that medical service (transparency and remuneration) and working condition have significant correlation towards work satisfaction of doctor SpOG in SC on NHI.    Objective: to analyze the correlation of clinical autonomy on job satisfaction of doctor SpOG on Sectio Caesarea on National Health Insurance system.Method: A quantitative research by applying analytic observational study with cross sectional design.Materials and Research: This research was conducted in Makassar. A number of sample was 73 doctors SpOG. Data was obtained by clinical autonomy questionnaire having been tested its validity and reliability. The result of the research was analyzed by using chi-square test.  Result: Based on the correlation of characteristics towards work satisfaction of doctor SpOG in SC on National Health Insurance system found that age category between 36 – 45 years old is satisfied, female is satisfied, working duration more than 5 years is dissatisfied and public hospital status is dissatisfied. There is no correlation between clinical autonomy in this case is control overwork (p = 0.170) and prerogative obtain need service (p = 0.240) on job satisfaction of doctor SpOG in Sectio Caesarea on National Health Insurance System.Conclusion: There is no relation between clinical autonomy on job satisfaction of doctor SpOG in Sectio Caesarea on National Health Insurance System. Even though the doctors SpOG are not satisfied with NHI (medical service and working condition) but the doctors are able to work professionally with clinical autonomy. Keywords: clinical autonomy, doctor SpOG, National Health Insurance System

    Pengaruh Pelatihan Ultrasonografi terhadap Tingkat Pengetahuan Residen Obstetri dan Ginekologi mengenai Keamanan Penggunaan Ultrasonografi Obstetri

    Get PDF
    Tujuan: Untuk mengetahui perbandingan tingkat pengetahuan residen Obgin mengenai keamanan penggunaan USG obstetri di RSUP Dr. Sardjito antara yang sudah dan belum mengikuti pelatihan USG.Metode: Kuasi eksperimen dengan desain Post Test Only. Subyek penelitian adalah seluruh residen Obgin FK-KMK UGM yang memenuhi kriteria inklusi. Pengambilan data melalui pengisian kuesioner yang berisi pertanyaan mengenai bioeffects dan safety index pemeriksaan USG obstetri.Hasil dan Pembahasan: Subyek penelitian terdiri dari 64 subyek yang sudah mengikuti pelatihan USG dan 24 subyek yang belum mengikuti pelatihan USG. Seluruh subyek yang belum mengikuti pelatihan memiliki klasifikasi pengetahuan kurang. Dan dari 64 subyek yang sudah mengikuti pelatihan hanya 1 subyek yang memiliki pengetahuan baik (1,56%), 14 subyek dengan pengetahuan cukup (21,87%), dan sisanya dengan pengetahuan kurang (76,56%). Dari analisis tidak ditemukan perbedaan yang bermakna diantara kedua kelompok tersebut (p=0,29).Kesimpulan: Tidak terdapat perbedaan tingkat pengetahuan  mengenai keamanan penggunaan USG obstetri antara residen Obgin yang sudah dan belum mengikuti pelatihan ultrasonografi. Kata kunci: Ultrasonografi; bioeffects; safety index; pengetahuan; pelatihan ultrasonografi; residen Obstetri dan Ginekologi

    Efikasi Misoprostol Rektal Intraoperasi Seksio Cesarea Versus Oksitosin dalam Mengurangi Jumlah Perdarahan untuk Mencegah Perdarahan Post Partum

    Get PDF
    Latar Belakang : Perdarahan post partum adalah salah satu etiologi kematian ibu. Setelah operasi caesar, uterotonik dalam bentuk infus oksitosin (20-40 IU) atau misoprostol rektal (200-600 μg) diberikan untuk kontraksi uterus pasca operasi pada pasien pada risiko perdarahan post partum. Penelitian ini dibuat membandingkan kedua agen uterotonik  tersebut.Tujuan : Mengetahui perbandingan penggunaan misoprostol rektal tiga tablet (600 ugr) dan penggunaan oksitosin 20 IU  selama operasi seksio cesarea dalam mengurangi jumlah perdarahan untuk mencegah perdarahan post partum di fasilitas kesehatan tingkat lanjut.Metode : Penelitian ini adalah  double blind randomised controlled trial. Populasi penelitian adalah pasien rawat inap ruang kebidanan dan kandungan RSUD Datu Sanggul, Rantau. Besar sampel ditentukan dengan rumus Kirkwood dan Steme sebesar 98. Secara acak peserta dibagi ke kelompok misoprostol dan oksitosin. Farmasi menyediakan obat penelitian dan plasebo dalam bentuk yang tidak dapat dikenali. Untuk kelompok misoprostol disiapkan tablet misoprostol 600 μg untuk digunakan secara rektal ditambah spuit yang sudah diisi sebelumnya larutan saline normal. Kelompok oksitosin disiapkan tablet plasebo untuk digunakan secara rektal ditambah jarum suntik dengan oksitosin 20 IU dan larutan normal saline.Hasil dan Pembahasan: Didapatkan kelompok 1 (misoprostol) dari 42 sampel, yang mengalami perdarahan kurang dari 1000 ml sebanyak 41 sampel (97,6%) dan yang perdarahan lebih dari atau sama dengan 1000 ml sebanyak 1 sampel (2,38%). Sedangkan kelompok 2 (oksitosin) dari 42 sampel yang mengalami perdarahan kurang dari 1000 ml sebanyak 36 sampel (85,7% ) dan yang perdarahan lebih dari 1000 ml sebanyak 6 sampel  (14,3% )Kesimpulan: Ada perbedaan bermakna antara jumlah perdarahan kelompok misoprostol dengan jumlah perdarahan kelompok oksitosin. Karena mean rank kelompok misoprostol lebih rendah dapat disimpulkan bahwa: “Jumlah perdarahan pada penggunaan misoprostol rektal tiga tablet (600 ugr) lebih sedikit dibanding penggunaan oksitosin 20 IU selama operasi seksio cesarea”. Di antara variabel-variabel perancu, riwayat partus lama dan adanya faktor keterlambatan, berhubungan dengan  jumlah perdarahan. Variabel yang dapat digunakan untuk memprediksi jumlah atau banyaknya perdarahan adalah variabel “ada terlambat/tidak”. Kata Kunci: Jumlah Perdarahan, Oksitosin, Misoprostol, Perdarahan Postpartu

    Faktor-Faktor yang Meningkatkan Prognosis Fetal dan Maternal pada Kehamilan dengan Kanker Ovarium

    Get PDF
    Background: Pregnancy complicated by ovarian cancer presents relation between controlled growth in pregnancy and uncontrolled growth in cancer. The management of pregnancy illustrate conflict between optimal maternal therapy and fetal life for best prognosis at all. The incidence was low but it occured in reproductive age women and most found in the first pregnancy. It is important to analyze factors that improve the prognosis of pregnancy and appropiate management to prevent fetal and maternal morbidity and mortality. Objectives: To analyze factor on pregnancy complicated by ovarian cancer that improve fetal and maternal prognosisMethods: This is descriptive analytic study with cohort retrospective design using medical records of pregnancy patient complicated by ovarian cancer that underwent treatment at Sardjito Hospital Yogyakarta on 2010, January till 2017, December. All statistical analysis were done by statistic software for computer.Results: There were 18 research subjek had been undergone treatment at Sardjito Hospital for 8 years. Factors on pregnancy related to prognosis of pregnancy complicated by ovarian cancer were late gestational age at the cancer diagnosis and epithelial histopathology type. That factors have better prognosis than early gestational age and non-epithelial histopathology clinically (p=0.18; CI 95% 0.4-104.2; OR 6,5) and (p=0.29; CI 95% 0.36-30.12; OR 3.28). Timing of surgery intervention improve prognosis of pregnancy statistically and clinically significant (p=0.02; OR=4.2). Conclusion: Factors on pregnancy complicated by ovarian cancer that is late gestational age at the cancer diagnosis, epithelial histopathology type and timing of surgery intervention type II-III improved fetal and maternal prognosis. Best management of pregnancy lead to better prognosis.Keywords: prognosis of pregnancy, ovarian cancer.

    Pengaruh Sapa Orangtua Remaja Terhadap Pengetahuan, Sikap dan Perilaku Oangtua tentang Pendidikan Kesehatan Reproduksi

    Get PDF
    ABSTRAK Latar belakang : Seks pranikah merupakan masalah yang rentan terjadi pada remaja. Salah satu penyebabnya adalah kurangnya pengetahuan tentang kesehatan reproduksi. Pendidikan kesehatan reproduksi sangat penting, tetapi mayoritas orangtua memiliki pengetahuan kurang serta persepsi negatif terhadap kesehatan reproduksi remaja.Tujuan : Menganalisis perbedaan pengetahuan, sikap dan perilaku orangtua sebelum dan setelah diberikan intervensi Sapa Orangtua Remaja.Metode : Rancangan penelitian quasi experimental non randomized pre test  and post test one group design. Subjek penelitian ini adalah 35 orangtua siswa Sekolah Dasar Pamitran Kota Cirebon dengan kriteria inklusi dan eksklusi.  Instrumen penelitian meliputi kuesioner dan modul Sapa Orang Tua Remaja . Analisis data menggunakan uji wilcoxon dan paired t-test.Hasil dan pembahasan : Terdapat perbedaan yang bermakna pengetahuan sikap dan perilaku orang tua sebelum dan setelah intervensi (p value 0,003 ; 0,000 dan 0,013).Kesimpulan : Sapa orangtua remaja dapat meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku orangtua tentang kesehatan reproduksi remaja. 

    Tren dan Faktor Risiko Kematian Maternal di RSUP Dr.Sardjito Yogyakarta tahun 2012-2017

    Get PDF
    Latar Bakang: Kematian maternal merupakan masalah obstetrik besar di Indonesia. Pada tahun 2015 MDG’s menargetkan angka kematian ibu di Indonesia sebesar 102 per 100.000 kelahiran hidup.Tujuan: Untuk mengetahui tren dan menganalisis faktor risiko yang menyebabkan kematian maternal di RSUP dr. Sardjito tahun 2012-2017.Metode :Penelitian ini menggunakan metode kasus kontrol di RSUP Dr. Sardjito dengan sampel kasus maternal yang meninggal pada tahun 2012-2017 yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Kontrol diambil dengan melakukan matching dengan umur kehamilan dan tanggal masuk rumah sakit, besarnya masing-masing 100 sampel. Data dianalisis menggunakan uji statistik chi-square dan regresi logistik.Hasil dan pembahasan: Pada tahun 2012 – 2017 terdapat 100 kematian maternal dengan penyebab utama adalah preeklampsia 29%, penyakit jantung 25%, penyakit lain 19%, infeksi (sepsis) 16%, dan perdarahan 11%. Dengan penyebab kematian langsung 43% dan tidak langsung 57%. Pada penelitian ini tren angka kematian ibu per 100.000 kelahiran hidup cenderung meningkat, tertinggi pada tahun 2016 sebesar 2670 per 100.000 kelahiran hidup. Sedangkan penyebab kematian maternal terbanyak pada tahun 2012, 2015, 2016 dan 2017 adalah preeklampsia sedangkan pada tahun 2013 dan 2014 adalah penyakit jantung. Kasus rujukan (OR 11,67; CI 95% 4,51-30,19), infeksi (OR 7,42; CI 95% 2,21-24,87) dan penyakit jantung (OR 4,02; CI95% 1,65-9,80) berpengaruh secara signifikan terhadap kejadian kematian maternal.Kesimpulan: Tren kematian maternal di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta tahun 2012-2017 cenderung meningkat. Kasus rujukan, infeksi dan penyakit jantung berpengaruh meningkatkan kejadian kematian maternal di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta tahun 2012-2017.Kata kunci: Kematian maternal; tren dan faktor risik

    Faktor yang Mempengaruhi Skor Apgar Menit Pertama pada Seksio Sesarea dengan Anestesi Spinal

    Get PDF
    Latar Belakang: Seksio sesarea membawa konsekuensi morbiditas dan mortalitas pada ibu dan bayi. Morbiditas ibu pada seksio sesarea seyogyanya tidak diikuti dengan kejadian morbiditas pada bayi khususnya rendahnya nilai skor APGAR sehingga berpotensi menjadi asfiksia pada bayi baru lahir. Faktor risiko terjadinya asfiksia yang dinilai dari rendahnya skor APGAR pada bayi baru lahir saat dilakukan secara seksio sesarea dengan anestesi spinal perlu diketahui agar ada usaha untuk meminimalisasi kejadian asfiksia tersebut.Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi rendahnya skor APGAR menit pertama pada seksio sesarea dengan anestesi spinal.Metode:  Penelitian ini adalah studi observasional dengan rancangan penelitian crossectional study dengan cara observasi langsung proses seksio sesarea elektif yang menggunakan anestesi spinal dan dilihat luaran skor APGAR bayi baru lahir pada menit pertama. Uji statistik yang digunakan untuk analisis bivariat adalah uji Chi Square, Fisher Exact serta Mann-Whitney. Sedangkan analisis multivariat dilakukan dengan uji regresi logistik. Pengolahan data untuk pengujian statistik menggunakan SPSS 21.Hasil dan Pembahasan: Terdapat 93 subjek memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dalam penelitian ini. Terjadinya penurunan tekanan darah sistolik (RR 1,05; CI 0,40–2,75; p=1,00), terjadinya penurunan tekanan darah diastolik (RR 0,93; CI 0,33–2,59; p=0,56), terjadinya penurunan MAP (RR 0,72; CI 0,28–1,86; p=0,35) pasca induksi anestesi, pemanjangan waktu insisi kulit hingga bayi lahir ≥5,5 menit (RR 1,63; CI 0,65–4,12; p=0,44) dan rendahnya kadar Hb sebelum operasi (RR 1,22; CI 0,44–3,37; p=0,47) berhubungan tidak signifikan dengan rendahnya skor APGAR menit pertama pada seksio sesarea dengan anestesi spinal. Sedangkan interval waktu induksi anestesi hingga bayi lahir ≥12,5 menit (RR 2,91; CI 1,10–7,72; p=0,04) dan interval waktu insisi uterus hingga bayi lahir ≥3 menit (RR 3,48; CI 1,51–8,02; p=0,01) berhubungan kuat serta bermakna secara signifikan baik secara statistik maupun klinis menyebabkan skor APGAR menit pertama <7 pada bayi baru lahir secara seksio sesarea dengan anestesi spinal.Kesimpulan: Faktor-faktor yang mempengaruhi rendahnya skor APGAR menit pertama pada seksio sesarea dengan anestesi spinal adalah interval waktu induksi anestesi hingga bayi lahir ≥12,5 menit dan interval waktu insisi uterus hingga bayi lahir ≥3 menit.Kata kunci: seksio sesarea; asfiksia; anestesi spinal; skor APGA

    Analisis Peran Penerapan Warga Peduli AIDS (WPA) pada Kader di Desa Karangtengah Cilongok, Banyumas

    Get PDF
    Latar Belakang: Pemberdayaan kader WPA diperlukan dalam upaya penerapan konsep WPA yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan pencegahan perilaku berisiko di masyarakat.Tujuan: penelitian ini untuk mengetahui persepsi dan peran penerapan program WPA yang dilakukan oleh kader WPA.Metode: Penelitian yang dilakukan merupakan jenis penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh kader WPA yang aktif di wilayah Desa Karangtengah Cilongok. Sampel dalam penelitian ini yaitu berjumlah 46 kader.Hasil dan Pembahasan: Analisis data dilakukan dengan analisis univariat dan bivariate. Analisis bivariate menggunakan uji chi square. Hasil penelitian yang didapat dalam penelitian ini yaitu kader WPA sebagian besar memiliki persepsi baik sebesar 56,5%, pengetahuan yang baik sebesar 54,3%, serta peran dalam kegiatan  WPA sebagian besar  kurang baik sebesar 47,8%. Kesimpulan : Hasil analisis bivariat didapatkan hasil bahwa tidak ada hubungan antara persepsi dengan peran kader dalam pelaksanaan WPA, namun ada hubungan antara pengetahuan tentang WPA dengan peran kader dalam pelaksanaan WPA. Kata Kunci : Kader WPA;  Persepsi; Pera

    219

    full texts

    239

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Kesehatan Reproduksi
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇