Ibriez : Jurnal Kependidikan Dasar Islam Berbasis Sains
Not a member yet
68 research outputs found
Sort by
Nilai-nilai Karakter dalam Novel Hafalan Sholat Delisa
This research is a descriptive qualitative research with approach of cultural character education. Technique of collecting data using method of documentation and method of study of text. Documentation method is carried out to collect, sort, process, and convey information to be able to review the next data. Data analysis is done by content analysis. the validity of data used using triangulation of data to collect the same data. This means that the same or similar data will be more steady kebenaranya when extracted from several different data sources. HSD novel in terms of its structure tells the life of a person from the beginning to death, the theme in this novel is much raised about the theme of educational motivation and life, a sense of kemanuasiaan recorded the attitude of sympathy and empathy towards each other. The events in this novel occur in LhokNga with the grooves used in the advanced novel. The mandate of this novel is the importance of rote recitation, patience in the face of any trials, always thanking God in circumstances of joy and sorrow. The need for self-actualization in the novel shows the desire in the character to always actualize every aspiration and desire to memorize the prayer read perfectly. The novel HSD is full of educational value for its readers, consisting of religious education value that explains the human relationship with God, the moral values that regulate the good of human behavior in relation to others, the value of social education that shows the caring of human beings with each other according to its role as social beings; and the value of the nation's cultural education that demonstrates the habits and perspectives of people in living their lives.Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan nilai-nilai pendidikan budaya karakter bangsa. Teknik pengumpulan data menggunaka metode dokumentasi dan metode telaah teks. Metode dokumentasi dilaksanakan untuk mengumpulkan, memilah, mengolah, dan menyampaikan informasi untuk dapat mengkaji data selanjutnya.Analisis data dilakukan secara analisis isi. validitas data yang digunakan menggunakan trianggulasi data untuk mengumpulkan data yang sama. Artinya data yang sama atau sejenis akan lebih mantap kebenaranya bila digali dari beberapa sumber data yang berbeda. Novel HSD ditinjau dari strukturnya menceritakan kehidupan seseorang dari awal sampai meninggal, tema dalam novel ini banyak mengangkat tentang tema motivasi pendidikan dn hidup, rasa kemanuasiaan yang terekam sikap rasa simpati dan empati terhadap sesama. Peristiwa dalam novel ini terjadi di LhokNga dengan alur yang digunakan dalam novel maju. Amanat dalam novel ini adalah pentingnya hafalan bacaan shalat, sikap sabar dalam menghadapi cobaan apa pun, selalu bersyukur kepada Tuhan dalam keadaan suka dan duka. Kebutuhan aktualisasi diri dalam novel ditunjukkan adanya keinginan dalam diri tokoh untuk selalu mengaktualisasikan setiap cita-cita dan keinginannya untuk menghafalkan bacaan shalat dengan sempurna. Novel HSD sarat akan nilai pendidikan untuk pembacanya, terdiri dari nilai pendidikan agama yang menjelaskan hubungan manusia dengan Tuhannya, nilai moral yang mengatur baik buruknya perilaku manusia dalam hubungannya dengan sesama, nilai pendidikan sosial yang menunjukkan rasa peduli antar manusia satu dengan yang lain sesuai peranannya sebagai makhluk sosial; dan nilai pendidikan budaya bangsa yang menunjukkan kebiasaan dan cara pandang masyarakat dalam menjalani kehidupan
Pembentukan Karakter Islami dalam Pengelolaan Kelas Aktif
Character education is education that involves aspects of knowledge, feelings, and actions. The effort to be involved in character education is family, school, school environment, and also the wider community. The formation of Islamic character is helpful in the face of scientific progress and technology is so rapid at the moment. And the learning process will be active if all the brains are in working condition. Classroom management can be done actively with rules, consequences, and rewards.Pendidikan karakter merupakan pendidikan yang melibatkan aspek pengetahuan, perasaan, dan tindakan. Upaya yang harus dilibatkan dalam pendidikan karakter adalah pihak keluarga, sekolah, lingkungan sekolah, dan juga masyarakat luas. Pembentukan karakter Islami sangat membantu dalam menghadapi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu pesat saat ini. Kegiatan belajar dapat berhasil dengan baik jika proses belajar terjadi secara aktif. Dan proses pembelajaran dapat dikatakan aktif jika semua otak dalam kondisi bekerja. Pengelolaan kelas dapat dilakukan secara aktif dengan adanya peraturan, konsekuensi, dan penghargaan
Pembelajaran Kontekstual Learning dalam Strategi Adaptasi Masyarakat Terhadap Bencana Abrasi Pada Materi Mitigasi Bencana di Kelas X IPS SMA Negeri 1 Kragan
Sumber belajar pendidikan mengenai bencana abrasi masih kurang. Sumber belajar mengenai abrasi pantai diharapkan dapat meminimalisirkan resiko bencana abrasi, serta diharapkan pula dengan adanya sumber belajar mengenai bencana abrasi ini mampu menambah wawasan bagi para siswa dan pembaca. Penelitian dilakukan di Kecamatan Kragan dan Kecamatan Sarang yang termasuk wilayah pesisir Kabupaten Rembang bagian timur. Uji coba suplemen penelitian dilakukan di SMA Negeri 1 Kragan Kabupaten Rembang. Pengembangan materi ajar dilakukan dengan menggunakan pendekatan Research and Development. Sebagai implementasi dalam pendidikan, penelitian ini kemudian diimplementasikan dalam modul pembelajaran berupa Modul Pembelajaran Kontekstual Stategi Adaptasi Bencana Abrasi yang dapat digunakan dalam Materi Mitigasi Bencana di kelas X semester 2 Kurikulum 2013. Hassil uji coba dilakukan di SMA N 1 Kragan dan respon yang diberikan oleh tim ahli, guru geografi dan siswa sangat layak.Sumber belajar pendidikan mengenai bencana abrasi masih kurang. Sumber belajar mengenai abrasi pantai diharapkan dapat meminimalisirkan resiko bencana abrasi, serta diharapkan pula dengan adanya sumber belajar mengenai bencana abrasi ini mampu menambah wawasan bagi para siswa dan pembaca. Penelitian dilakukan di Kecamatan Kragan dan Kecamatan Sarang yang termasuk wilayah pesisir Kabupaten Rembang bagian timur. Uji coba suplemen penelitian dilakukan di SMA Negeri 1 Kragan Kabupaten Rembang. Pengembangan materi ajar dilakukan dengan menggunakan pendekatan Research and Development. Sebagai implementasi dalam pendidikan, penelitian ini kemudian diimplementasikan dalam modul pembelajaran berupa Modul Pembelajaran Kontekstual Stategi Adaptasi Bencana Abrasi yang dapat digunakan dalam Materi Mitigasi Bencana di kelas X semester 2 Kurikulum 2013. Hassil uji coba dilakukan di SMA N 1 Kragan dan respon yang diberikan oleh tim ahli, guru geografi dan siswa sangat layak
Pengembangan Kompetensi Profesional Calon Guru PKn MI: Pemahaman tentang Paradigma Baru PKn
Education is a process by which teachers help learners into a change that is considered good. The essence of an education is a process of teaching and learning. Teachers as the main role-holders, where teachers guide a learning process and create mutual relationships between teachers and learners in the learning environment for the achievement of learning objectives. Civic education as a curricular program serves as a medium for the development of democratic and responsible character. Through Civic learning in schools as a center for the development of insights, attitudes, and skills in democratic life. Therefore, for the learning process and guidance can be directed and achieve the goals that have been determined then a candidate of Civics teacher of Madrasah Ibtidaiyah should begin to develop his/her professional competence related to the ability to package a lesson that includes mastery of learning materials in the field of study and the substance of science on the curriculum subjects (materials, structures, concepts and scientific minds that support the civic education).
The task of Civics with its new paradigm (the paradigm in this context is a new way of thinking about basic Civics such as: the subject matter of science, vision and mission, and the model or frame of mind used in the civic education process in Indonesia) that is to develop democratic education with three functions to develop civic intelligence, to cultivate civic responsibility, and to encourage citizen participation. A candidate of Civics teacher of Madrasah Ibtidaiyah must prepare his ability in understanding the new paradigm of Civics so that later in the future the candidate of Civics teacher of Madrasah Ibtidaiyah no longer have difficulty in selecting and arranging the material and determine the appropriate learning model for a particular subject.Pendidikan merupakan sebuah proses dimana guru membantu peserta didik ke dalam sebuah perubahan yang dianggap baik. Inti dari sebuah pendidikan ialah sebuah proses belajar mengajar. Guru sebagai pemegang peranan utama, dimana guru memandu sebuah proses pembelajaran dan menciptakan hubungan timbal balik Antara guru dan peserta didik dalam suasana belajar demi tercapainya tujuan pembelajaran. Pendidikan kewarganegaraan sebagai program kurikuler berfungsi sebagai wahana pengembangan karakter yang demokrasi dan bertanggung jawab. Melalui pembelajaran PKn di sekolah sebagai pusat pengembangan wawasan, sikap, dan keterampilan dalam kehidupan demokratis. Oleh karena itu, agar proses pembelajaran dan bimbingan dapat terarah dan mencapai yujuan yang telah ditetapkan maka seorang calon guru PKn MI harus mulai mengembangkan kompetensi profesionalnya yang berkenaan dengan kemampuan mengemas sebuah pembelajaran yang mencakup penguasaan materi pembelajaran bidang studi dan substansi keilmuan pada kurikulum mata pelajaran (materi, struktur, konsep serta pola pikir keilmuan yang mendukung PKn).
Tugas PKn dengan paradigma barunya (paradigma dalam konteks ini merupakan cara berpikir baru tentang PKn yang sifatnya mendasar seperti: materi pokok keilmuan, visi dan misi, serta model atau kerangka berpikir yang digunakan dalam proses pendidikan kewarganegaraan di Indonesia) yaitu mengembangkan pendidikan demokrasi dengan tiga fungsi pokoknya yaitu mengembangkan kecerdasan warga negara (civic intelligence), membina tanggung jawab warga negara (civic responsibility), dan mendorong partisipasi warga negara (civic participation). Seorang calon guru PKn MI wajib mempersiapkan kemampuannya dalam memahami paradigm baru PKn sehingga kelak dalam praktiknya kelak para calon guru PKn MI tidak lagi mengalami kesulitan dalam memilih dan menyusun materi serta menentukan model pembelajaran yang cocok untuk pokok bahasan tertentu
Representasi Matematis Pemahaman Geometri Siswa MI
Representation is one of the most important aspects of student understanding. Students' mathematical representation of the geometry of the material in a rectangular flat build is a study that needs to be studied. Because geometry is one of the materials that began to invite students in the Diniyah Madrasah to think abstractly. Factors that influence students' communication skills and representation can be used as study material for designing learning. This study uses a descriptive qualitative approach. This study categorizes subjects into 3 categories based on understanding abilities. Research subjects were 24 students. The results of the study found that there were 3 factors that influenced students' mathematical representation.Representasi merupakan salah satu aspek terpenting dalam pemahaman siswa. Representasi matematis siswa pada Geometri dimateri bangun datar persegi panjang merupakan salah kajian yang perlu dikaji. Karena geometri itu merupakan salah satu materi yang mulai mengajak siswa di Madrasah Diniyah untuk berpikir abstrak. Faktor yang mempengaruhi kemampuan komunikasi dan representasi siswa bisa dijadikan bahan kajian untuk mendesain pembelajaran. Penelitian ini menggunakan pendekatan Kualitatif deskriptif. Penelitian ini mengkategorikan subjek menjadi 3 kategori berdasarkan kemampuan pemahamaan. Subjek penelitian sebanyak 24 siswa. Hasil penelitian mendapakan ada 3 faktor yang mempengaruhi representasi matematis siswa
Analisis Kesalahan dalam Menyelesaikan Soal Cerita Berdasarkan Teori Newman
This research is descriptive research using qualitative approach. This study aims to analyze the types of mistakes made by students in solving linear programming problems based on Newman's theory, in the grade XI students of PGRI Lawang High School. Research subjects taken 6 people from 22 students of class XI MIA. From the research conducted, the conclusions obtained are: (1) 16.7% of students experienced a reading error that can not mean the meaning of the word in the matter. (2) 27.8% of students misunderstand the problem that is not able to write down what is known and what is asked in accordance with the request questions. (3) 44.4% of students make a transformation error that students can not make a mathematical model. (4) 50% of students misconstrue the process skill that is unable to perform the calculation appropriately. (5) As for the errors of writing answers made by students as much as 55.6% of students can not make conclusions from the answers obtained. The solution to minimize students' mistakes in solving mathematical story problems is by giving reinforcement to students how to turn a sentence into a mathematical model and multiply the exercises in working on the story.Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis jenis kesalahan yang dilakukan oleh siswa dalam memecahkan masalah linear programming berdasarkan teori Newman, pada siswa kelas XI SMA PGRI Lawang. Subjek penelitian diambil 6 orang dari 22 siswa kelas XI MIA. Dari hasil penelitian yang dilakukan, kesimpulan yang didapat adalah: (1) 16,7% siswa mengalami kesalahan membaca yang tidak dapat berarti makna kata dalam materi. (2) 27,8% siswa salah memahami masalah yang tidak dapat menuliskan apa yang diketahui dan apa yang ditanyakan sesuai dengan pertanyaan permintaan. (3) 44,4% siswa membuat kesalahan transformasi yang siswa tidak dapat membuat model matematika. (4) 50% siswa salah mengartikan keterampilan proses yang tidak dapat melakukan perhitungan dengan tepat. (5) Adapun kesalahan menulis jawaban yang dibuat oleh siswa sebanyak 55,6% siswa tidak dapat membuat kesimpulan dari jawaban yang diperoleh. Solusi untuk meminimalkan kesalahan siswa dalam memecahkan masalah cerita matematika adalah dengan memberikan penguatan kepada siswa bagaimana mengubah kalimat menjadi model matematika dan melipatgandakan latihan dalam mengerjakan cerita
Program Pembelajaran IPA Berbasis Masalah untuk Menumbuhkan Metakognisi Siswa MTS di Salatiga
The rapid development of study materials on science requires educators to be able to design and implement more targeted education on the concept of science. The development of science is not only shown by a collection of facts, but arises due to the existence of scientific methods and scientific attitudes. Science is not just about knowledge, it involves mental operations, skills and strategies in discovering the concept of science itself. Science-problem based learning program for metacognition for metacognition skills development is a implementation of learning tools, especially syllabus, lesson plan (RPP), worksheet, media, and assessment. Learning model used in this research is problem based learning (PBL). Learning innovation model refers to PBL model in learning implementation to know student metacognition achievement. The research methode is Research and Development Procedure (R&D). The research was conducted on MTs in Salatiga City with the subject of the study of students in 8th class by purposive sampling method. The research final goal is to review characteristic of problem-based science learning program and to analyze achievment of metacognition ability level. Metacognition indicators used are referring to the types of Schraw and Dennison Metacognition (1994: 472-474). Result of metacognition skill achievement on aspect of essay test showed positive result, performance aspect showed the dominant indicator was planning, meanwhile from result of questionnaire showed dominance of evaluation indicatorPerkembangan bahan kajian tentang IPA yang pesat menuntut para pendidik agar mampu merancang dan melaksanakan pendidikan yang lebih terarah pada pengusaan konsep IPA. Perkembangan IPA tidak hanya ditunjukkan oleh kumpulan fakta, melainkan timbul akibat adanya metode ilmiah dan sikap ilmiah. IPA tidak hanya sekedar pengetahuan, melainkan melibatkan operasi mental, keterampilan dan strategi dalam menemukan konsep IPA itu sendiri. Program pembelajaran IPA berbasis masalah untuk menumbuhkan metakognisi merupakan pelaksanaan perangkat pembelajaran, khususnya silabus, RPP, lembar kerja, media, dan asesmen. Model pembelajaran yang dipakai dalam penelitian ini adalah model problem based learning (PBL). Inovasi model pembelajaran merujuk pada penggunaan model PBL dalam pelaksanaan pembelajaran yang digunakan untuk mengetahui pencapaian metakognisi. Secara umum, penelitian ini dilakukan dengan prosedur penelitian Research & Development. Penelitian dilakukan pada MTs di Kota Salatiga dengan subjek penelitian siswa kelas VIII dengan cara pengambilan sampling yaitu purposive sampling. Tujuan akhir dari penelitian ini adalah untuk meninjau karakteristik Program Pembelajaran IPA berbasis masalah, serta menganalisis tingkat pencapaian kemampuan metakognisi. Indikator-indikator metakognisi yang digunakan adalah mengacu pada tipe-tipe Metakognisi Schraw dan Dennison (1994:472-474). Hasil pencapaian keterampilan metakognisi pada aspek tes essay menunjukkan hasil yang positif, aspek kinerja menunjukkan indikator yang dominan adalah planning, sedangkan dari hasil angket menunjukkan dominasi indikator evaluasi
Pendidikan Islam Indonesia dan Tantangan Globalisasi: Perspektif Sosio-Historis
National and global challenges faced by the Islamic education is increasingly complex, particularly in Indonesia in this global era, faced with problems of social-philosophical failed over. There are two problems faced by Islamic education on the challenges of globalization. 1.) as an opportunity, (globalization) one side will make it easier for Islamic education to access a variety of information easily. Also makes it easier to disseminate Islamic education (dissemination) Scientific products that deliver the benefits of existence for the society.2.) as a challenge, it turns out that globalization not only affects the order of life on a macro level, but also change the life at the micro level, for example against the bond of the social life of the community. That is, the phenomenon of social disintegration, the loss of values tradition, lunturnya customs, manners, and other social deviation in this paper, concludes that, Islamic institutions as a whole still run his role in three basic:the transmission of knowledge and the Sciences of Islam. Secondly, maintenance of Islamic tradition; third, the reproduction of the candidates.Tantangan nasional dan global yang dihadapi oleh pendidikan Islam semakin kompleks, khususnya di Indonesia di era global ini, dihadapkan pada problematika filosofis-sosial yang tidak kunjung usai. Ada dua masalah yang dihadapi oleh pendidikan Islam pada tantangan Globalisasi. 1). Sebagai peluang, (globalisasi) satu sisi akan memudahkan pendidikan Islam untuk mengakses berbagai informasi dengan mudah. Juga memudahkan pendidikan Islam untuk menyebarluaskan (diseminasi) produk-produk keilmuan yang memberikan manfaat seluas-luasnya bagi masyarakat. 2). Sebagai tantangan, ternyata globalisasi tidak hanya mempengaruhi tatanan kehidupan pada tataran makro, tetapi juga mengubah tata kehidupan pada tataran mikro, misalnya terhadap ikatan kehidupan sosial masyarakat. Yaitu, Fenomena disintegrasi sosial, hilangnya nilai-nilai tradisi, lunturnya adat-istiadat, sopan santun, dan penyimpangan sosial lainya Dalam tulisan ini, berkesimpulan bahwa, lembaga-lembaga pendidikan Islam secara keseluruhan tetap menjalankan perannya dalam tiga hal pokok: transmisi ilmu-ilmu dan pengetahuan Islam (transmission of Islamic knowlwdge); kedua, pemeliharaan tradisi Islam (maintenance of Islamic tradition); ketiga, kaderisasi calon-calon ulama. Peserta didik tidak hanya menggetahui ilmu-ilmu agama, atau sebaliknya tidak hanya mengetahui pengetahuan umum, dengan demikian, dapat melakukan mobilisasi pendidikan. Disamping itu, para anak didik memiliki keterampilan, keahlian atau life skills khususnya dalam bidang sains dan teknologi yang menjadi karakter dan ciri globalisasi, yang pada gilirannya membuat mereka memiliki dasar-dasar dalam lapangan kerja sebagaimana dituntut di alam globalisasi
Analisis Psikologi Tokoh dalam Filosofi Kopi untuk Menentukan Materi Pembelajaran Sastra
Literary works is one of the media to motivate students. Such motivation is usually conveyed in a message contained in a literary work. One of the messengers in literary works is through the characters portrayed by the author. To know the message contained in the literary works through the characters, can be analyzed through psychological figures with psychoanalytical approach that was delivered by Freud. Freud's psychoanalysis analyzes the three elements in man, id, ego, and super ego. All three of these systems work in balanced on Ben. Ben initially dominated by the id, and ego always line with id. Then little by little the conflicts experienced by Ben resulted in the ego not in line with the id. This results in the superego appearing in Ben, and performing its function. This analysis contributes to literary learning, which contributes to the affective and cognitive aspects. On the affective aspect, this analysis can motivate the learner to become a man who is not ambitious in chase of perfection because there is nothing perfect in this world. In the cognitive aspect, this analyzes can contribute to increase the students' knowledge about the analysis of literary works, especially short stories.Karya sastra merupakan salah satu media untuk memotivasi siswa. Motivasi tersebut biasanya disampaikan dalam pesan yang terkandung dalam karya sastra. Salah satu pembawa pesan dalam karya sastra adalah melalui tokoh yang digambarkan oleh pengarang. Untuk mengetahui pesan yang terkandung dalam karya sastra melalui tokohnya, dapat dianalisis melalui psikologi tokoh dengan pendekatan psikoanalisa yang disampiakan oleh Freud. Psikoanalisa Freud menganalisis tiga unsur dalam diri manusi, yakni id, ego, dan super ego. Ketiga sistem tersebut bekerja secara seimbang pada diri Ben. Semula Ben dikuasai oleh id, dan ego selalu berjalan dengan id. Kemudian sedikit demi sedikit konflik-konflik yang dialami oleh Ben mengakibatkan ego tak sejalan lagi dengan id. Hal ini mengakibatkan superego muncul pada diri Ben, dan menjalankan fungsinya. Analisis ini berkontribusi dalam pembelajaran sastra, yakni kontribusi pada aspek afektif dan kognisi. Pada aspek afektif, analisis ini dapat memberi motivasi peserta didik agar menjadi manusia yang tidak ambisi dalam mengejar kesempurnaan karena tidak ada yang sempurna di dunia ini. Pada aspek kognitif, kajian ini dapat memberikan kontribusi untuk menambah pengetahuan mahasiswa tentang analisis karya sastra, khususnya cerpen