Ibriez : Jurnal Kependidikan Dasar Islam Berbasis Sains
Not a member yet
    68 research outputs found

    Penalaran Adaptif Siswa MI Kelas Rendah Pada Materi Operasi Hitung Bilangan Bulat

    Get PDF
    The reasoning is a process of students to understand the knowledge that is appreciated. The concept of thinking is fundamental to be known by teachers, especially for low-grade students. In this study, the low class is class 3 Madrasah Ibtiaiyah. Adaptive reasoning needs to be studied to determine the ability of students when reasoning understanding of mathematics and the process of students adapting new knowledge with the way of thinking they have. This research is qualitative research with case study research type. The sample in this study will be classified based on cognitive abilities, which consist of high, medium, and low cognitive. While the subjects in this study were 20 students. This research resulted in 4 factors of students' adaptive reasoning activitiesPenalaran merupakan suatu proses siswa untuk memahami pengetahuan yang dipahami. Konsep penalaran sangat penting diketahui oleh guru terutama untuk siswa kelas rendah. Pada penelitian ini kelas rendah adalah kelas 3 MI. Penalaran adaptif perlu dikaji untuk mengetahui kemapuan siswa ketika menalar pemahaman tentang matematika dan proses siswa mengadaptasi pemahaman baru dengan cara pemikiran yang mereka punyai. Penelitian ini termasuk penelitian kualitatif dengan jenis penelitian Studi Kasus. Sampel pada penelitian ini akan di golongkan berdasarkan kemampuan kognitif, yang terdiri dari kognitif tinggi, sedang dan rendah.  Sedangkan subjek dalam penelitian ini sebanyak 20 siswa. Penelitian ini menghasilkan ada 4 faktor aktifitas penalaran adaptif siswa

    Pemahaman Penggunaan Ejaan Terhadap Kemampuan Menulis Karangan Siswa Sekolah Dasar

    Get PDF
    The main problem in this study is the relationship between understanding the use of spelling in writing essays of fifth grade students of Selodono Elementary School. This study aims to describe the level of understanding the use of spelling in the essays of fifth grade students of Selodono Elementary School, Ringinrejo District, Kediri Regency. This study used a descriptive qualitative approach with 36 students of the fifth grade students of Selodono Elementary School. Data collection instruments using human instruments or the researchers themselves. Collecting data in this study uses techniques to see and note. The next stage is the provision of scores to measure the level of understanding of student spelling use. Based on the results of the study obtained the following data: 1) the category of poor understanding (score <70) amounted to 69.44% which means that as many as 25 students out of a total of 36 students in the category do not understand; 2) the category of understanding enough (score 70-79) is 13.88% which means that as many as 5 students from a total of 36 students are categorized as quite understanding; 3) the understanding category (score 80-89) is 13.88% which means that as many as 5 students from a total of 36 students are in the category of understanding; and 4) very understandable categories (score 90-100) of 2.77%, which means that 1 student out of a total of 36 students is in the category very well understood. Based on the conclusions of the results of this study, the level of understanding the use of spelling in essays is still low. Thus, it is recommended for teachers to provide examples of the use of spelling for students both verbally and in writing in learning.Pokok permasalahan dalam penelitian ini adalah keterkaitan antara pemahaman penggunaan ejaan pada penulisan karangan siswa kelas V SDN Selodono. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tingkat pemahaman penggunaan ejaan pada karangan siswa kelas  V SDN Selodono Kecamatan Ringinrejo Kabupaten Kediri. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif  jenis deskriptif dengan subjek penelitian siswa kelas V SDN Selodono sebanyak 36 siswa. Instrumen pengumpulan data dengan menggunakan human instrument atau peneliti itu sendiri. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik simak dan catat. Tahap selanjutnya adalah pemberian skor untuk mengukur tingkat pemahaman penggunaan ejaan siswa. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh data sebagai berikut: 1) kategori kurang paham (skor <70) sebesar 69,44% yang berarti sebanyak 25 siswa dari total 36 siswa berada pada kategorisasi kurang paham; 2) kategori cukup paham (skor 70-79) adalah sebesar 13,88% yang berarti sebanyak 5 siswa dari total 36 siswa berada pada kategorisasi cukup paham; 3) kategori paham (skor 80-89) adalah sebesar 13,88% yang berarti sebanyak 5 siswa dari total 36 siswa berada pada kategorisasi paham; dan 4) kategori sangat paham (skor 90-100) sebesar 2,77% yang berarti sebanyak 1 siswa dari total 36 siswa berada pada kategorisasi sangat paham. Berdasarkan simpulan hasil penelitian ini, tingkat pemahaman penggunaan ejaan pada karangan masih rendah. Dengan demikian, disarakan bagi guru untuk memberikan contoh penggunaan ejaan bagi siswa baik secara lisan maupun tertulis dalam pembelajaran

    Kesadaran Lingkungan Hidup Mahasiswa Jurusan Tadris Ilmu Pengetahuan Alam, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, Institut Agama Islam Negeri Ponorogo

    Get PDF
    This research aimed to determine environmental awareness of natural science education department  college student, tarbiyah faculty and education science, IAIN Ponorgo. Target of this research were college student of natural science education 3th and 5th grade. Data obtained by distributing questionnaires and analyzed by descriptive analysis in the form of percentages. The results showed that the majority of natural science education department college students had high environmental awareness.  It can be seen from the analysis results of the environmental awareness aspects of (knowledge, attitude and behavior) that showed 50% of college students knowledge were in the high category, 40% of college students attitudes were in the high category, and 43.33% of college students behavior were in the high category. The highest of environment awareness is expected to be a capital for college students as potential science teachers who can produce young people who aware to the environment.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesadaran lingkungan hidup mahasiswa Jurusan Tadris IPA, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, IAIN Ponrogo. Target penelitian ini adalah mahasiswa Jurusan Tadris IPA semester 3 dan 5 dengan sampel 30 mahasiswa. Pengambilan data dilakukan dengan membagikan kuisioner dan analisis data menggunakan analisis deskriptif dalam bentuk persentase. Hasil penelitian menujukkan bahwa mayoritas mahasiswa Jurusan Tadris IPA memiliki keasadaran lingkungan hidup yang tinggi. Hal ini dapat dilihat dari hasil analisis ketiga aspek kesadaran lingkungan hidup (pengetahuan, sikap dan perilaku) yang menyatakan bahwa 50% pengetahuan mahasiswa berada dalam kategori tinggi, 40% sikap mahasiswa berada dalam kategori tinggi, dan  43,33% perilaku mahasiswa berada dalam kategori tinggi. Tingginya kesadaran lingkungan hidup ini diharapkan dapat menjadi modal bagi mahasiswa sebagai calon guru IPA yang dapat mencetak generasi muda yang peduli terhadap lingkungan hidup

    Peran Kesenian Tradisional Dongkrek Sebagai Media Pendidikan Nilai Moral

    Get PDF
    The research aims to find out and describe the role of traditional dongkrek art as a medium of moral value education. Research using descriptive methods with a qualitative approach. Data collection tools are interviews, observation, and documentation. The process of analyzing data by reducing, presenting, and summarizing data. The results showed that (a) Dongkrek traditional art while maintaining the authenticity of Dongkrek traditional art; (b) The procedures for performing traditional Dongkrek arts are divided into three stages: the pre-event stage, the core program stage and the closing stage; (c) The moral values ??contained in the traditional arts of Dongkrek include the value of togetherness / mutual cooperation, the value of beauty, the value of truth, the value of goodness, the value of responsibility, the value of obedience, the value of evil or evil, the value of honesty, the value of trustworthiness; (d) Dongkrek traditional art in Sanggar Krido Sakti is not only for rituals and entertainment, but can be used as an educational medium when conducting exercises or performances; (e) The people of Mejayan Village are very supportive because the function of Dongkrek traditional art is considered to be very potential as a spectacle and a guide for the community.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan tentang peran kesenian tradisional dongkrek sebagai media pendidikan nilai moral. Penelitian menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Alat pengumpulan data adalah wawancara, observasi, dan dokumentasi. Proses analisis data dengan mereduksi, menyajikan, dan menyimpulkan data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (a) kesenian tradisional Dongkrek tetap menjaga keaslian Kesenian tradisional Dongkrek; (b) Tata cara pagelaran kesenian tradisional Dongkrek di bagi menjadi tiga tahap yaitu tahap pra acara, tahap acara inti dan tahap penutupan; (c) Nilai moral yang terkandung dalam kesenian tradisional Dongkrek diantaranya adalah nilai kebersamaan/gotong royong, nilai keindahan, nilai kebenaran,nilai kebaikan, nilai tanggung jawab,nilai ketaatan, nilai keburukan atau kejahatan, nilai kejujuran, nilai kepercayaan; (d) Kesenian tradisional Dongkrek yang ada di Sanggar Krido Sakti tidak hanya sebagai ritual dan hiburan saja, tetapi dapat dijadikan sebagai media pendidikan pada waktu mengadakan latihan ataupun pagelaran; (e) Masyarakat Desa Mejayan sangat mendukung dikarenakan fungsi kesenian tradisional Dongkrek dinilai sangat potensial sebagai tontonan dan tuntunan bagi masyarakat. Kata kunci: kesenian tradisional dongkrek, media pendidikan, nilai, mora

    Peran Guru dalam Mengembangkan Keterampilan Menulis Arab Melalui Ekstrakurikuler Kaligrafi di MIN 6 Ponorogo

    Get PDF
    Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan peran guru sebagai motivator dan fasilitator, faktor pendukung dan penghambat dalam mengembangkan keterampilan menulis arab melalui ekstrakurikuler kaligrafi bagi siswa kelas 3 MIN 6 Ponorogo. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Jenis penelitian ini adalah studi kasus. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi, dan dokumentasi. Adapun teknik analisa data menggunakan teknik Miles dan Huberman meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Berdasarkan analisis data ditemukan : Peran guru sebagai motivator dalam mengembangkan keterampilan menulis Arab melalui ekstrakurikuler kaligrafi bagi siswa kelas 3 MIN 6 Ponorogo adalah guru memberikan motivasi atau dorongan kepada siswa yang tidak menyukai kegiatan ekstrakurikuler kaligrafi dengan cara memberikan hadiah atau penghargaan, memberi peringatan dan memberi angka atau penilaian pada siswa yang bisa menulis kaligrafi dengan benar. Sedangkan Peran guru sebagai fasilitator adalah menyediakan sumber belajar seperti buku dan gambar-gambar kaligrafi, memberi bantuan teknis atau arahan kepada siswa-siswi yang mengalami kesulitan cara menulis kaligrafi dengan benar. Faktor pendukungnya adalah dukungan dari pihak sekolah dengan cara menyediakan pensil khat, tenaga pengajar yang kompeten, sarana dan prasarana, dan dukungan dari orang tua dengan mengajari latihan menulis kaligrafi. Adapun faktor penghambatnya adalah perhatian dan semangat siswa yang kurang karena kurang konsenterasi, dan terdapat siswa siswi yang belum lancar menulis Arab.Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan peran guru sebagai motivator dan fasilitator, faktor pendukung dan penghambat dalam mengembangkan keterampilan menulis arab melalui ekstrakurikuler kaligrafi bagi siswa kelas 3 MIN 6 Ponorogo. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Jenis penelitian ini adalah studi kasus. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi, dan dokumentasi. Adapun teknik analisa data menggunakan teknik Miles dan Huberman meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Berdasarkan analisis data ditemukan : Peran guru sebagai motivator dalam mengembangkan keterampilan menulis Arab melalui ekstrakurikuler kaligrafi bagi siswa kelas 3 MIN 6 Ponorogo adalah guru memberikan motivasi atau dorongan kepada siswa yang tidak menyukai kegiatan ekstrakurikuler kaligrafi dengan cara memberikan hadiah atau penghargaan, memberi peringatan dan memberi angka atau penilaian pada siswa yang bisa menulis kaligrafi dengan benar. Sedangkan Peran guru sebagai fasilitator adalah menyediakan sumber belajar seperti buku dan gambar-gambar kaligrafi, memberi bantuan teknis atau arahan kepada siswa-siswi yang mengalami kesulitan cara menulis kaligrafi dengan benar. Faktor pendukungnya adalah dukungan dari pihak sekolah dengan cara menyediakan pensil khat, tenaga pengajar yang kompeten, sarana dan prasarana, dan dukungan dari orang tua dengan mengajari latihan menulis kaligrafi. Adapun faktor penghambatnya adalah perhatian dan semangat siswa yang kurang karena kurang konsenterasi, dan terdapat siswa siswi yang belum lancar menulis Arab

    Higher-Order Thinking Skills: Strategi Kontra Radikalisme Santri Pesantren

    Get PDF
    Radikalisme yang merasuki pesantren menurut Tan dapat dicegah dengan mendorong pesantren menerapkan educative tradition guna mengembalikan pesantren pada wajah aslinya, Islamic school with a smiling face, lembaga pendidikan Islam berwajah ramah. Meski beberapa parameter educative tradition kontradiktif dengan tradisi pesantren yang menjunjung tinggi kepatuhan total pada kiai, namun beberapa lainnya penting untuk diterapkan, seperti mendorong santri-siswa pesantren berpikir kritis dan kreatif. Untuk mewujudkan keduanya santri-siswa, pengelola lembaga pendidikan di bawah holding institution pesantren seyogyanya mendesain pembelajaran yang dapat menghasilkan siswa memiliki keterampilan berpikir tingkat tinggi (Higher-Order Thinking Skills/HOTS), yakni tidak hanya puas pada hafalan dan pemahaman, namun juga mengarahkan pembelajaran untuk menganalisis masalah dan konsep, mengevaluasi realitas lapangan dan merumuskan problem solving atas masalah sosial. Ikhtiar ini diharapkan menjadi solusi mencegah tekstualisme-fanatisme berpikir yang dapat menjangkit santri dan alumni pesantren.Radikalisme yang merasuki pesantren menurut Tan dapat dicegah dengan mendorong pesantren menerapkan educative tradition guna mengembalikan pesantren pada wajah aslinya, Islamic school with a smiling face, lembaga pendidikan Islam berwajah ramah. Meski beberapa parameter educative tradition kontradiktif dengan tradisi pesantren yang menjunjung tinggi kepatuhan total pada kiai, namun beberapa lainnya penting untuk diterapkan, seperti mendorong santri-siswa pesantren berpikir kritis dan kreatif. Untuk mewujudkan keduanya santri-siswa, pengelola lembaga pendidikan di bawah holding institution pesantren seyogyanya mendesain pembelajaran yang dapat menghasilkan siswa memiliki keterampilan berpikir tingkat tinggi (Higher-Order Thinking Skills/HOTS), yakni tidak hanya puas pada hafalan dan pemahaman, namun juga mengarahkan pembelajaran untuk menganalisis masalah dan konsep, mengevaluasi realitas lapangan dan merumuskan problem solving atas masalah sosial. Ikhtiar ini diharapkan menjadi solusi mencegah tekstualisme-fanatisme berpikir yang dapat menjangkit santri dan alumni pesantren

    Mengenal Pluralisme Disintegratif Menuju Pluralisme Integratif Masyarakat Beda Agama di Kelurahan Karang, Kecamatan Slogohimo, Kabupaten Wonogiri

    Get PDF
    Bangsa Indonesia adalah bangas yang plural. Hal ini ditunjukkan dari berbagai macam suku, agama etnis serta beragam budaya yang menjadi simbol ciri khas bangsa kita. Kepluralan ini hendaknya mampu kita sikapi dan eksplor menjadi sebuh komoditi kekayaan, dimana secara subtantif keberadaannya ini bisa menjadikan nilai-nilai investasi yang patut diperhitungkan sebagai asset non fisik untuk bisa dilestaraikan sehingga menjadi modal devisa pariwisata yang luar biasa. Salah satu alasan yang mendasar adalah terbinanya kelestaraian berbagai macam budaya atau simbol-simbol budaya tetap lestari hingga sekarang, tanpa adanya konflik yang berkepanjangan yang kerap kali menjadi penyebab persoalan hancurnya (disintegratif) suatu peradaban. Model-model pluralitas yang kerap kali menjadi momok hancur/lunturnya bahkan hilangnya suatu peradaban menjadi biang keladi sebagai tuduhan klasik penyebab disintegratif sering kali di patahkan dan tidak bisa dibuktikan dimasyarakat kita, terutama masyarakat Karang, Slogohimo, Wonogiri. Peran serta warga serta para tokoh masyarakat menjadi kunci bagaiman terbina ukhuwah dalam kehidupan keberagaman agama, budaya, serta sikap teleransi tinggi yang lebih mengedepankan keharmonisan hidup. Sikap atau nilai-nilai ini terlebur dalam kebiasaan sehari-hari masyarakat dengan terus menjalin rasa tali silaturrahmi demi menjaga setiap perbedaan yang komplek, baik perbedaan agama, budaya, sikap, doktrin-doktrin agama (aliran konsep doktrin NU dan Muhammadiyah atau doktrin/ajaran Protestan dan Katolik) serta ajaran lain yang masih hidup dalam masyarakat disana. Corak dan model kehidupan yang penuh kebhinekaan ini yang tetap menjaga nilai-nilai luhur ini sangat jarang kita temui dalam suatu sistem masyarakat lain disuatu bangsa. Hal ini tentu pantas mendapatkan nilai apresiasi yang tinggi, karena tidak semudah itu melihat kenyataan suatu masyarakat yang multi kultur tanpa di temui adanya percikan atau gesekan berarti. Sepintas mata memandang, masyarakat Karang tak jauh beda dengan masyarakat lainnya yang ada di sekitarnya. Dari segi kehidupan, mata pencaharian, ekonomi, potensi-potensi lain nampak tak berarti bahkan tak layak mempunyai nilai lebih, karna itulah, dengan penulisan ini akan memberikan perspektik informasi lain yang nantinya bisa menjadi rujukan (metode) membangun suatu masyarakat sipil bangsa ini yang penuh kepluraris dengan tetap mengedepankan sikap keharmonis yang lentur. Konsep edukasi seperti diatas tentu akan menjadi ikon dalam mengedepankan upaya penyelesain konflik/isu yang berkepanjangan. Isu-isu publik yang sering kali menawarkan perpecahan bukan hal yang selama ini tidak dapat diselesaikan dengan jalan damai. Akan tetapi, kita sepakat sebut bahwa ajaran atau konsep diatas yang lebih menekankan sikap pluralisme disintegratif (perpecahan) bisa membuahkan hasil dalam wacana sikap plurarisme integratif yaitu penyatuan dan keutuhan kehidupan sosial dengan tetap mengedepan sikap toleransi kemajemukan.Bangsa Indonesia adalah bangas yang plural. Hal ini ditunjukkan dari berbagai macam suku, agama etnis serta beragam budaya yang menjadi simbol ciri khas bangsa kita. Kepluralan ini hendaknya mampu kita sikapi dan eksplor menjadi sebuh komoditi kekayaan, dimana secara subtantif keberadaannya ini bisa menjadikan nilai-nilai investasi yang patut diperhitungkan sebagai asset non fisik untuk bisa dilestaraikan sehingga menjadi modal devisa pariwisata yang luar biasa. Salah satu alasan yang mendasar adalah terbinanya kelestaraian berbagai macam budaya atau simbol-simbol budaya tetap lestari hingga sekarang, tanpa adanya konflik yang berkepanjangan yang kerap kali menjadi penyebab persoalan hancurnya (disintegratif) suatu peradaban. Model-model pluralitas yang kerap kali menjadi momok hancur/lunturnya bahkan hilangnya suatu peradaban menjadi biang keladi sebagai tuduhan klasik penyebab disintegratif sering kali di patahkan dan tidak bisa dibuktikan dimasyarakat kita, terutama masyarakat Karang, Slogohimo, Wonogiri. Peran serta warga serta para tokoh masyarakat menjadi kunci bagaiman terbina ukhuwah dalam kehidupan keberagaman agama, budaya, serta sikap teleransi tinggi yang lebih mengedepankan keharmonisan hidup. Sikap atau nilai-nilai ini terlebur dalam kebiasaan sehari-hari masyarakat dengan terus menjalin rasa tali silaturrahmi demi menjaga setiap perbedaan yang komplek, baik perbedaan agama, budaya, sikap, doktrin-doktrin agama (aliran konsep doktrin NU dan Muhammadiyah atau doktrin/ajaran Protestan dan Katolik) serta ajaran lain yang masih hidup dalam masyarakat disana. Corak dan model kehidupan yang penuh kebhinekaan ini yang tetap menjaga nilai-nilai luhur ini sangat jarang kita temui dalam suatu sistem masyarakat lain disuatu bangsa. Hal ini tentu pantas mendapatkan nilai apresiasi yang tinggi, karena tidak semudah itu melihat kenyataan suatu masyarakat yang multi kultur tanpa di temui adanya percikan atau gesekan berarti. Sepintas mata memandang, masyarakat Karang tak jauh beda dengan masyarakat lainnya yang ada di sekitarnya. Dari segi kehidupan, mata pencaharian, ekonomi, potensi-potensi lain nampak tak berarti bahkan tak layak mempunyai nilai lebih, karna itulah, dengan penulisan ini akan memberikan perspektik informasi lain yang nantinya bisa menjadi rujukan (metode) membangun suatu masyarakat sipil bangsa ini yang penuh kepluraris dengan tetap mengedepankan sikap keharmonis yang lentur. Konsep edukasi seperti diatas tentu akan menjadi ikon dalam mengedepankan upaya penyelesain konflik/isu yang berkepanjangan. Isu-isu publik yang sering kali menawarkan perpecahan bukan hal yang selama ini tidak dapat diselesaikan dengan jalan damai. Akan tetapi, kita sepakat sebut bahwa ajaran atau konsep diatas yang lebih menekankan sikap pluralisme disintegratif (perpecahan) bisa membuahkan hasil dalam wacana sikap plurarisme integratif yaitu penyatuan dan keutuhan kehidupan sosial dengan tetap mengedepan sikap toleransi kemajemukan

    Pengaruh Metode Membaca PQRST Terhadap Hasil Belajar Menyelesaikan Soal Cerita Mahasiswa PGSD UWKS

    Get PDF
    The purpose of this study to prove the method of reading PQRST influence on student learning outcomes on mathematics story material. Instrument in this research is test sheet. This research type is quantitative with Quasi Experiment method. The population in this study is the fourth semester students of Teacher Education Elementary School of Wijaya Kusuma University, Surabaya which consists of 2 classes. Selection of sample used as experiment class and control class was done by non-prabability sampling technique with saturated sampling technique and selected semester IV-A as experiment class and semester IV-B as control class. The results of this study obtained the average value of the experimental class treated with the method of reading PQRST 80.66, while the average value of the control class treated by conventional learning method 75.00. The analysis results of the Independent Samples T-test showed that the significant value was 0.008 <0.05. Meaning H0 rejected Ha accepted. So it can be concluded that there is a significant influence between giving treatment in the form of reading PQRST method to student learning outcomes on mathematics story test.Tujuan penelitian ini untuk membuktikan metode membaca pqrst berpengaruh terhadap hasil belajar mahasiswa pada materi soal cerita matematika. Instrumen pada penelitian ini adalah lembar tes. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan metode Eksperimen Semu (Quasi Experiment). Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa semester 4 prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Wijaya Kusuma Surabaya yang terdiri dari 2 kelas. Pemilihan sampel yang digunakan sebagai kelas eksperimen dan kelas kontrol dilakukan dengan teknik nonprabability sampling dengan teknik sampling jenuh dan terpilih semester IV-A sebagai kelas eksperimen dan semester IV-B sebagai kelas kontrol. Hasil dari penelitian ini diperoleh nilai rata-rata kelas eksperimen yang diberi perlakuan metode membaca pqrst 80,66, sedangkan nilai rata-rata kelas kontrol yang diberi perlakuan metode pembelajaran konvensional 75,00. Hasil analisis Uji Independent Samples T-test menunjukkan bahwa nilai signifikan 0,008 < 0,05. Artinya H0 ditolak Ha diterima. Sehingga dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh yang signifikan antara pemberian perlakuan berupa metode membaca pqrst terhadap hasil belajar mahasiswa pada materi soal cerita matematika

    Penerapan Model PBL dan GI Terhadap Kemampuan Menganalisis Fenomena Sosial Berorientasi Pendekatan Interdisipliner

    Get PDF
    This study aims to describe the ability to analyze social phenomena oriented in the interdisciplinary approach of social studies learning, and to describe the differences in the ability to analyze social phenomena oriented in interdisciplinary approach of social studies learning by applying PBL and GI model to PGSD students of UN PGRI Kediri. This research type is experimental with Nonequivalent Groups Design research design that is done by comparison of model treatment applied by group A and group B model to know the ability of analyzing social phenomena of social studies learning in PGSD student UN PGRI Kediri. Group A uses the PBL (Problem Based Learning) model and group B uses GI (Group Investigation). Research subjects are students of UN PGRI Kediri. Technique used in this research is giving test. Instruments used to collect data in this study is a scoring sheet or test sheet in the form of a description of the problem that refers to an indicator of the ability to analyze social phenomena oriented interdisciplinary approach. The analytical technique used in this study uses inferential statistics. The results of this study indicate that there are differences in the ability to analyze social phenomena in the class of PBL and GI shown t count 6.069 with significance 0.000<0.050. From these differences the PBL model is determined to be superior to the GI model, based on the comparison of posttest and pretest values. The difference of the PBL model is 16.08 points, while the GI model is 6.56 points.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan menganalisis fenomena sosial berorientasi pendekatan interdisipliner pembelajaran IPS, dan mendeskripsikan perbedaan kemampuan menganalisis fenomena sosial berorientasi pendekatan interdisipliner pembelajaran IPS  dengan menerapkan model PBL dan GI pada mahasiswa PGSD UN PGRI Kediri. Jenis penelitian ini adalah eksperimental dengan rancangan penelitian Nonequivalent Groups Design yakni rancangan ini dilakukan perbandingan perlakuan model yang diterapkan oleh kelompok A dan model kelompok B untuk mengetahui kemampuan menganalisis fenomena sosial pembelajaran IPS pada mahasiswa PGSD UN PGRI Kediri. Kelompok A menggunakan model PBL (Problem Based Learning) dan kelompok B menggunakan GI (Group Investigation). Subjek penelitian adalah mahasiswa UN PGRI Kediri. Teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah pemberian tes. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini adalah lembar penilaian atau lembar tes tulis berbentuk soal uraian yang mengacu pada indikator kemampuan menganalisis fenomena sosial berorientasi pendekatan interdisipliner. Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan statistik inferensial. Hasil pada penelitian ini menunjukkan bahwa ada perbedaan kemampuan menganalisis fenomena sosial pada kelas PBL dan GI ditunjukkan t hitung 6,069 dengan signifikansinya 0,000<0,050. Dari perbedaan tersebut model PBL ditentukan lebih unggul dibandingkan dengan model GI, berdasarkan perbandingan nilai posttest dan pretest. Selisih model PBL yakni 16,08 point, sedangkan model GI yakni 6,56 point

    64

    full texts

    68

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Ibriez : Jurnal Kependidikan Dasar Islam Berbasis Sains
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇