Agriekonomika
Not a member yet
    186 research outputs found

    Social Economy and Digital Mapping of Subak Sembung Ecotourism

    No full text
    The social, cultural, economic, and environmental potentials in Subak Sembung are not well-developed, such that these potentials have not been adequately explored by the local community. This study aimed to describe the synergy between subak and the ecotourism in supporting the sustainable national food stability program. Subak Sembung selected as the study location because its location in the middle of Denpasar City and already developed as ecotourism sites. There were 66 participants involved in this study. Formal surveys, rapid appraisal, and map-making through satellite imaging from the Google Earth Pro (GE) application were used to collect the data. Result revealed that the social economy social activities conducted by the farmer were: (1) seed-producing tools, fertilizers, pesticides, agricultural tools, (2) land-tillage, nurseries, cultivating, preserving the plant, harvesting, (3) marketing, and (4) the correlation between farmers, subak and ecotourism; worth to be developed as a tourist attraction site

    Empowerment of Urban Farming Community to Improve Food Security in Gresik

    No full text
    The purpose of this study is to determine the role of urban farming community empowerment to improve food security (A case study of RT 02 and RT 03 Awikoen village, Gending-Gresik Urban Village). The method of analyzing data in this study uses Structural Equation Modeling Parial Least Square (SEM-PLS) using Smart PLS 3 application. The results of this study shows that the variable empowerment of urban farming community members had a real influence to improve food security in Gending urban village, Gresik Regency

    Strategi Peningkatan Nilai Tambah Perkebunan Karet Melalui Diversifikasi Usaha

    No full text
    Pendapatan petani dan perusahaan perkebunan karet belum optimal karena harga komoditi karet fluktuatif. Diversifikasi usaha menjadi salah satu strategi untuk meningkatkan produktivitas lahan dan nilai ekonomi perkebunan karet. Tujuan tulisan review iniadalah (1) mendeskripsikan strategi peningkatan nilai tambah perkebunan karet melalui diversifikasi usaha, (2) menyajikan sistem tumpangsari berbasis karet, integrasi karet-ternak, pemanfaatan biji karet, ekstraksi protein lateks, dan pemanfaatan kayu karet sebagai alternatif untuk memperoleh keuntungan yang optimal.Jarak tanam yang renggang dapat dimanfaatkan sebagai sumber pendapatan dengan pola tumpangsari selama tanaman belum menghasilkan (TBM).Peningkatan nilai tambah lainnya dapat dilakukan dengan integrasi karet-ternakmemanfaatkan gulma di areal perkebunan karet sebagai pakan. Endosperm biji karet dapat diolah menjadi tepung pakan dan biodiesel, sedangkan cangkang biji dapat diproses menjadi karbon aktif yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Pemanfaatan sumberdaya non-lateks selain meningkatkan nilai tambah kebun, juga dapat digunakan sebagai alternatif sumber pendapatan untuk meminimalisir dampak harga karet yang rendah

    Mengapa Petani menjadi Pekerja Industri Rumahan di Pedesaan?

    No full text
    Fenomena petani meninggalkan lahan dan beralih profesi menjadi pekerja di industri rumahan kian marak seiring bermunculannya industri rumahan yang tumbuh di pedesaan. Penelitian ini bermaksud untuk mengetahui penyebab petani memutuskan untuk menjadi pekerja industri rumahan di Kabupaten Tasikmalaya. Penelitian menggunakan rumus Slovin dalam penentuan jumlah sampel dan analisis regresi linier berganda untuk mengukur variabel pekerja industri rumahan dan variabel yang diduga kuat menjadi penyebabnya yaitu usia, pendidikan, kepemilikan lahan, pendapatan, kosmopolitan, tanggungan keluarga, lingkungan ekonomi dan kebijakan pemerintah. Hasil penelitian menunjukkan penyebab menjadi pekerja industri rumahan adalah kombinasi antara ketiadaan lahan yang dimiliki, usia produktif dengan jumlah tanggungan keluarga 2–3 orang menyebabkan terlibat utang. Kecuali kosmopolitan yang tidak menjadi masalah. Disarankan kebijakan pemerintah untuk menjadikan industri rumahan berbasis hasil pertanian untuk menjaga keberlangsungan pertanian dan keragaman pangan Indonesia. Semua sektor berada dalam keseimbangan

    Comparative Economic Competitiveness Analysis of Soybean Farming with and without Subsidy to Rice and Corn Farming in Bancak Sub-district, Semarang

    No full text
    In Indonesia, soybeans are categorized as secondary crops with high demand. Indonesian government still emphasizes soybean self-sufficiency and efforts to grow soybean production, but the low yields and limited profitability of soybeans imply that Indonesian farmers will continue to grow other crops, namely rice or corn. This study aims to identify whether the Semarang district government must issue  seed subsidies to support soybean competitiveness in terms of productivity and minimum prices so that it can compete with other crops, namely rice, and corn. Primary and secondary data are used in this study. Primary data were collected in a field survey in Bancak District. The sampling method uses a purposive sampling technique, which interviewed 45 farmers. Analyzed using descriptive statistics and competitiveness matrix analysis. The results showed that the analysis of soybean competitiveness was lower than rice and corn despite the existence of subsidy assistance

    Back Cover

    No full text

    Kajian Food Waste untuk Mendukung Ketahanan Pangan

    No full text
    Ketahanan pangan dalam penelitian ini fokus pada aspek pemanfaatan pangan khususnya konsumsi pangan yang menyebabkan food waste, yaitu seluruh makanan yang layak dikonsumsi tetapi terbuang sia-sia. Penelitian ini bertujuan menganalisis fenomena food waste di Surabaya, perilaku makan konsumen di restoran mitra, upaya pemilik restoran dan rekomendasi bagi pemerintah dalam food waste. Penelitian dilakukan di Garda Pangan dan restoran mitra Garda Pangan Surabaya. Penentuan responden menggunakan accidental sampling dengan responden sebanyak 100 orang. Analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif, penghitungan food waste, danregresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku makan konsumen mengakibatkan food waste, secara simultan seluruh variabel independen (pemahaman agama, kebiasaan makan, etika makan, pengetahuan, jenis kelamin, jumlah porsi, penampilan makanan, pemilihan menu, dan pengaruh makan bersama)berpengaruh terhadap variabel dependen (food waste konsumen). Secara parsial, terdapatgaya hidup, motif pemilihan menu, dan pengaruh makan bersama tidak berpengaruh terhadap food waste konsumen

    Pemanfaatan Etnobotani Masyarakat Tengger Untuk Obat Herbal dan Upacara Adat

    No full text
    Penurunan ketersediaan tanaman etnobotani baik untuk obat herbal maupun upacara adat di Desa Ngadisari diakibatkan oleh rendahnya minat masyarakat untuk melakukan budidaya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui persepsi masyarakat Tengger dalam pemanfaatan tanaman etnobotani di Desa Ngadisari. Metode yang digunakan adalah skala likert. Hasil analisis menunjukkan bahwa persepsi masyarakat dalam pemanfaatannya sebagai obat herbal antara lain berdasarkan tingkat kebutuhan sebesar 4,4, penggunaan 3,3, keberhasilan 2,8 dan kemudahan bahan didapat 3,4. Besar persepsi masyarakat dalam pemanfaatannya sebagai upacara adat berdasarkan tingkat kebutuhannya sebesar 13,3, penggunaan 7,5, keberhasilan 9,0 dan kemudahan bahan didapat 8,9. Disimpulkan bahwa persepsi masyarakat dalam pemanfaatan tanaman etnobotani untuk obat herbal tergolong sangat rendah dengan nilai sebesar 13,9, sedangkan pemanfaatan tanaman etnobotani untuk upacara adat tergolong sangat tinggi dengan nilai sebesar 38,7

    Risk Associated with Corn Farming in Madura Island

    No full text
    Corn play an essential role in providing food and feed for living things in Madura Island and other parts of the country. More than 80% of the Madura Island farmer, plant this commodity, thereby, making it a productive farming activity in this region. However, its level of productivity is still below average due to the farmers' risk preference. This research, therefore, aims to analyze the risk preferences and inputallocation used in corn farming. The multistage sampling was used to collect data from a total of 120 people in Bangkalan, Sampang, Pamekasan, and Sumenep Regencies located in Madura, while the Kumbhakar parametric model was used to analyze risks. The results showed that farmers are in the Risk Averse category due to poor utilization of seeds, manure, labor, and NPK fertilizer, compared to the recommended level of usage

    Back Page

    No full text

    0

    full texts

    186

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Agriekonomika
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇