Agriekonomika
Not a member yet
186 research outputs found
Sort by
Penuaan Petani dan Determinan Penambahan Tenaga Kerja di Sektor Pertanian
Penuaan petani menjadi isu di sektor pertanian, padahal sektor pertanian memiliki posisi penting bagi Indonesia. Untuk itu perlu mengkaji fenomena tersebut dan factor yang mempengaruhi penambahan tenaga kerja di sektor pertanian. Tujuan penelitian ini untuk mengkaji bagaimana pengaruh usia, pendidikan, lahan, dan upah terhadap penambahan tenaga kerja di sektor pertanianserta kaitannya dengan penuaan petani.Jenis data yang digunakan adalah data kuantitatif. Sumber data merupakan data sekunder dengan dimensi waktu data merupakan data cross section meliputi 34 provinsi di Indonesia pada tahun 2020. Variabel dependen adalah penambahan jumlah petani,variabel independen meliputi usia, pendidikan, lahan dan upah minimum sektor pertanian. Alat analisis menggunakan regresi berganda dengan metode Ordinary Least Square. Hasil penelitian menunjukkan kelompok usia 25-59 tahun, pendidikan dasar, pendidikan menengah dan upah berpengaruh terhadap penambahan tenaga kerja, sedangkan variabel usia 15-24 tahun, pendidikan tinggi, dan lahan tidak berpengaruh terhadap penambahan tenaga kerja di sektor pertanian
Beef Cattle Sustainability Determinants Using Structural Equation Modeling in Pati Regency, Central Java
The research objective was to create a structural model to link social, economic, and environmental variables to the sustainability of the beef cattle business. One hundred twenty beef cattle farmers in Pati Regency were taken as respondents. The exogenous variables studied were social, economic, and environmental factors. Endogenous variables were taken, namely beef cattle sustainability. The model was created using Structural Equation Modeling. The results show that social factors have a positive and significant effect on sustainability, while economic and environmental factors have a negative and significant effect. The net income obtained is low, and the investment return period takes nine years, nine months, and nine days. The number of beef cattle farmers who process dung is only 27.2%. To improve economic and environmental performance, it is necessary to provide training to improve skills in processing feed based on local resources and training in processing livestock manure into fertilizer and biogas
Mengungkap Makna “Keuntungan”pada Sistem Paroan Penggemukan Sapi Madura
Pulau Madura terkenal sebagai pulau sapi karena populasi budidaya sapi yang masif. Budidaya sapi sudah lama dikembangkan dengan pola kerjasama (paroan). Tujuan penelitian untuk mengungkap faktor yang mempengaruhi penggemukan sapi, model konsep bisnis “Paroan”dan makna keuntungan nilai serta makna di balik keuntungan. Penelitian ini menggunakan model mix method yang memadukan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Model kualitatif digunakan setelah penelitian kuantitatif dilakukan. Hasil analisis regresi berganda menunjukkan bahwa konsep keuntungan memiliki pengaruh terhadap perkembangan bisnis sistem paroan. Secara kualitatif, terdapat 2 konsep paroan yaitu paroan uang dan paroan hasil anak sapi. Jenis keuntungan berupa keuntungan material dan non material. Keuntungan materi dimaknai sebagai usaha mencari uang atau rejeki, sebagai penghasilan tambahan, sebagai tabungan. Sedangkan non materi dimaknai sebagai: (1) anugerah produktivitas, (2) bersama beramal, (3) menyambung saudara, (4) menjunjung tinggi budaya
Supplier Performance Evaluation and Selection on Apple Agro-Industry
Understanding supplier performance is very vital to ensuring a well-functioning of apple agro-industry supply chain network. It will help the process of potential supplier sevaluation and selection, it is also improving both the performance of firms and its suppliers. The purposes of this research are to evaluate the performance and select the potential of apple supplier. The results of this study are as follows: categories (drivers) priority for the evaluation of apple supplier performance are price (0.406), quality (0.335), delivery (0.130) and services (0.070). Based on that categories, the selection of potential of apple supplier sequentially areSupplier A (0.429), Supplier C (0,316), Supplier D (0.129) and Supplier B (0.125). Hopefully, the apple agro-industry can determine the best of suppliers in fulfilling their raw material
Adopsi Inovasi Jajar Legowo oleh Petani di Desa Balahu, Kabupaten Gorontalo
Penyuluhan pertanianberperan dalam memperkenalkan metode tanam jajar legowo kepada petani padi dan jagung. Meski begitu, metode tanam jajar legowo belum banyak diadopsi oleh petani. Penelitian ini bertujuan untuk; (1) mengetahui sejauh mana tingkat adopsi jajar legowo oleh petani padi dan jagung berdasarkan tahapan keputusan inovasi pengadopsi, (2) mengetahui persepsi petani terhadap atribut inovasi jajar legowo, (3) mengetahui hubungan antara faktor demografi dengan tingkat adopsi jajar legowo, dan (4) mengetahui hubungan antara persepsi terhadap atribut inovasi terhadap tingkat adopsi jajar legowo. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif. Wawancara terstruktur dengan menggunakan lensa teori difusi inovasi disebar kepada 122 responden. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat adopsi jajar legowo oleh petani padi dan jagung masih tergolong rendah. Petani memiliki persepsi yang cukup baik mengenai observabilitas dan kompatibilitas jajar legowo. Luas lahan dan persepsi petani terhadap kompatibilitas, kompleksitas, maupun observabilitas berkorelasi kuat dengan posisi petani pada tahapan keputusan inovasi jajar legowo.Penyuluhan pertanianberperan dalam memperkenalkan metode tanam jajar legowo kepada petani padi dan jagung. Meski begitu, metode tanam jajar legowo belum banyak diadopsi oleh petani. Penelitian ini bertujuan untuk; (1) mengetahui sejauh mana tingkat adopsi jajar legowo oleh petani padi dan jagung berdasarkan tahapan keputusan inovasi pengadopsi, (2) mengetahui persepsi petani terhadap atribut inovasi jajar legowo, (3) mengetahui hubungan antara faktor demografi dengan tingkat adopsi jajar legowo, dan (4) mengetahui hubungan antara persepsi terhadap atribut inovasi terhadap tingkat adopsi jajar legowo. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif. Wawancara terstruktur dengan menggunakan lensa teori difusi inovasi disebar kepada 122 responden. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat adopsi jajar legowo oleh petani padi dan jagung masih tergolong rendah. Petani memiliki persepsi yang cukup baik mengenai observabilitas dan kompatibilitas jajar legowo. Luas lahan dan persepsi petani terhadap kompatibilitas, kompleksitas, maupun observabilitas berkorelasi kuat dengan posisi petani pada tahapan keputusan inovasi jajar legowo
The Effect of Price and Tariff Policy on Shallot Import in Indonesia
Shallot is an agricultural commodity whose prices fluctuate depending on the season and cannot always be predicted in advance. In order to stabilize prices, the government often imports shallots. The government also imposes tariffs on imports so that the price of imported shallots increases. As a result, domestic production can be more competitive. Then domestic production can compete with imported goods, so it is hoped that imports of shallots will decrease. This study aims to determine the effect of price and tariff policies on shallot imports using Ordinary Least Square (OLS). In addition, a partial correlation analysis was carried out to identify the relationship between price and tariff policy variables with shallot imports. The results show that the increase in imported shallot prices and tariffs reduces imports of shallots. Those findings indicate that the tariff policy can control the import of shallots. In addition, the tariff policy has a negative relationship with shallot imports
Comparative Advantage and Export Performance of Indonesia and Vietnam Coffee to the US Market during 2001-2019
Coffee as a strategic commodity in the world opens up opportunities for various producing countries including Indonesia and Vietnam. Both countries have a significant role to supply the US market as the main export destination. This study aims to evaluate comparative advantage and export performance of Indonesian and Vietnamese coffee. Quantitative method has been used by calculating the Revealed Comparative Advantage (RCA), Export Competitiveness Index (ECI), and Export Product Dynamic (EPD) using secondary data from 2001-2019. In term of RCA, both Indonesia and Vietnam have a comparative advantage in US. Indonesia’s RCA valuewas lower than Vietnam’sones, i.e., 5.52 8.57. This result was caused by the lower Indonesia’s export performance rather than Vietnam’s ones. The ECI of both countries were dynamic but tended to decrease in international market.In term of EPD, Indonesia and Vietnam were both in the rising star position that indicated strong capability of both countries in supplying coffee to the US market. Therefore, both countries shared a similar big opportunity to increase their coffee export quantities
Strategi Peningkatan Kesejahteraan Petani Indonesia, Review Manajemen Strategis
Penelitian ini bertujuan membangun kerangka strategi peningkatan kesejahteraan petani, terkait kondisi petani, stakeholder pertanian, strategi yang dilakukan, dan ukuran kinerja, untuk memberikan gambaran trend manajemen strategis dalam peningkatan kesejahteraan petani. Penelitian ini mengandalkan studi pustaka dari artikel tentang aspek sosioekonomi dan kebijakan pertanian di Indonesia. Kelembagaan, tata niaga, produksi pertanian, kebutuhan komoditas pertanian, regulasi pertanian, keuangan, manajemen risiko, demografi sosial, teknologi pertanian, ekologi, adalah kondisi yang mempengaruhi kesejahteraan petani Indonesia. Strategi penguatan kesejahteraan petani yang teridentifikasi adalah: intensifikasi, ekstensifikasi, diversifikasi usaha, manajemen pemasaran dan rantai pasok, kemitraan dan kelembagaan, adopsi teknologi, manajemen risiko dan keuangan. Penerapan strategi ini memerlukan sinergi stakeholder pertanian: pemerintahan pusat dan daerah, industri, pedagang komoditas, lembaga keuangan, koperasi dan lembaga tani. Ukuran kinerja dari strategi-strategi ini adalah: peningkatan produktifitas, pengurangan biaya, perbaikan kualitas produk, akses pasar lebih luas, kestabilan keuangan, perlindungan risiko, kondisi kerja lebih baik, diferensiasi sumber penghasilan, dan kelestarian lingkungan