Agriekonomika
Not a member yet
    186 research outputs found

    PERILAKU KONSUMSI SUSU CAIR MASYARAKAT DI DAERAH PERKOTAAN DAN PEDESAAN (MILK CONSUMPTION BEHAVIOR OF URBAN AND RURAL COMMUNITIES)

    No full text
    The relationship between socio-economic factors, preference, and comparison of fluid milk consumption behavior between urban and rural consumers were explored in this study. The respondents were housewives or adult family member who responsible for food shopping. Respondents had positive perception of product characteristics and attributes. Socio-economic variables namely income, education level and family size found significantly have relationship with fluid milk consumption behavior. Product characteristics and attributes found significantly correlated with fluid milk consumption behavior. This research found highly significant difference (p0.01) of fluid milk consumption behavior between urban and rural respondents. This paper underlined that fluid milk producers should maintain the continuity and quality of their products. The government should improve their role in the mechanism of controlling and supervising the quality of fluid milk and give guarantee in the stability of price and equal distribution in all urban and rural areas

    AN INTEGRATED APPROACH OF INTERPRETIVE STRUCTURAL MODELING (ISM) AND ANALYTIC HIERARCHY PROCESS (AHP) IN DEVELOPING INSTITUTIONAL SYSTEM OF THE BEEF CATTLE INDUSTRY

    No full text
    This study is aimed to knowing Structuring the sub element of Institutional System of Beef Cattle Industry, The methods used for data collection is by distributing questionnaires, interviews with experts and literature studies. Results of questionnaires and interviews with experts used to construct a hierarchy of election strategy Beef Cattle industry development. Preparation of hierarchy elections industrial development strategy Beef Cattle using AHP technique The formulation of a model institutional system Beef Cattle industry development with key elements in the element's goal is to realize a strong institutional element is the need for government support, elements of the perpetrator is a trader. While the key elements in the benchmarks is the increasing diversification of products Beef Cattle, element of constraint is the weak institutional system, lack of government support for industrial development Beef Cattle and the lack of guidance to the Breeders. For elements of the desired changes to the industrial development Beef Cattle is the formation of an independent group of cattle at the planting site Beef Cattl

    MODEL KERJASAMA KELOMPOK PEMBUDIDAYA IKAN (POKDAKAN) PADA PEMASARAN AGRIBISNIS IKAN GURAMI DI KABUPATEN BANYUMAS

    No full text
    Kelompok Pembudidaya Ikan (POKDAKAN) Ulam Sari di Desa Kalikidang Kecamatan Sokaraja Kabupaten Banyumas bertujuan untuk meningkatkan bargaining position bagi pembudidaya ikan gurami yang memiliki kekurangan modal khususnya pada bagian pemasaran. Pemasaran dilakukan secara kolektif dan lebih profesional untuk menghindari berbagai permasalahan.            Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pola kerjasama antara POKDAKAN dengan pembudidaya ikan gurami dalam bidang pemasaran yang dijabarkan melalui analisis deskriptif. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus melalui wawancara dengan pembudidaya gurami anggota POKDAKAN dan pengurus POKDAKAN.Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa melalui kerjasama antara POKDAKAN dan pembudidaya ikan diperoleh keuntungan 1) pembudidaya ikan gurami memperoleh ketersediaan faktor produksi seperti kolam, bibit, pakan dan SDM pengawasan; 2) POKDAKAN memperoleh ketersediaan ikan gurami konsumsi untuk dipasarkan dan keuntungan sebesar 15% dari hasil penjualan, 3) calon pembeli memperoleh barang (ikan gurami) dengan akses mudah (one spot service) dan memperoleh kualitas dan kuantitas yang diinginkan serta terjaganya kontinuitas pemasaran.Kata Kunci      : POKDAKAN, ikan gurami, pemasaran, kerjasama

    INTEGRATED DESEASE MANAGEMENT FOR CHILI FARMING IN BREBES AND MAGELANG - CENTRAL JAVA: SOCIAL ECONOMIC IMPACTS

    No full text
    This study aims to analyze the impact of an integrated disease management (IDM) on chilli. Chili disease control technologies that include crop barrier with corn and Crotalaria, and compost tea have been introduced to farmers in Magelang and Brebes. A qualitative approach was used to assess and estimate the socio-economic impact of agricultural research. The study was conducted in 2011. The results showed that based on land use chili, the net economic benefits generated was relatively low. There were only a few farmers who have adopted the technology on chili peppers. Furthermore, the survey also illustrates that three years after its introduction in 2007 the technology status at farm level was just at consciousness phase. Learning of this fact, a thorough evaluation of the technology on chili pepper should be done immediately. Research institutions which have developed the technology should encourage bottom-up initiatives and build a shared commitment to complete the implementation of a clear strategic plan. The adoption of the strategic plan should include the integration of research activities with promotional activities for example by revitalizing participatory approaches to awareness of farmers

    Fisheries Recources Status of Rasbora (Rasbora sp) in Rawa Pening, Semarang, Central Java: Bioeconomic Analysis

    No full text
    Rasbora (Rasbora sp) is natural resources which have potency to catch in Rawa Pening Swamp. Total production of rasbora was 11,930 kg in 2014. The research objectives to analyzed rasbora bioeconomic status with Maximum Sustainable Yield (MSY), Maximum Economic Yield (MEY), and Open Access (OA) indicators in Rawa Pening. Bioeconomic analysis for Rasbora used Gordon-Schaefer Model. Primary data obtained with census and the total respondents were 31 gillnet fishers. Primary data were gillnet efforts, price and cost of rasbora fishing. Secondary data used Rasbora (Rasbora sp) production for 10 years from 2003-2012. The result of Gordon-Schaefer model for Maximum Sustainable Yield produced of rasbora (CMSY) of 44,100 kg/year with fishing efforts (EMSY) 21,000 efforts/year. The Maximum Economic Yield status (CMEY) 35,916.08 kg/year with effort maximum (EMEY) of rasbora 11,953 efforts/year. Meanwhile, limitation of the rasbora production in Open Access Equilibrium (COAE) was 43,000 kg/year and effort maximum (EOAE) 23,766 efforts/year. Rasbora resources in Rawa Pening status is in underfishing condition

    DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITAS PISANG MAS KIRANA

    No full text
    ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis aspek profitabilitas pisang mas Kirana di Kabupaten Lumajang, dan menganalisis dampak kebijakan pemerintah terhadap pisang mas Kirana di Kabupaten Lumajang. Penentuan lokasi dilakukan secara sengaja (purposive method) di Kabupaten Lumajang. Data yang digunakan meliputi data primer dan data sekunder. Analisa data menggunakan Policy Analysis Matrix (PAM) untuk menganalisis aspek profitabilitas dan dampak kebijakan pemerintah terhadap pisang mas Kirana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Komoditas pisang mas Kirana menguntungkan secara finansial dan ekonomi yang ditunjukkan dengan keuntungan privat (PP) Rp 10.444.911,8 per hektar dan keuntungan sosial (SP) sebesar Rp 23.108.983,7 per hektar. Keuntungan privat pisang mas Kirana lebih kecil daripada keuntungan sosialnya (PPSP) menunjukkan bahwa terjadi distorsi pasar pada komoditas pisang mas Kirana, terdapat dampak kebijakan subsidi terhadap harga-harga input pada usahatani pisang mas Kirana; masih belum ada lembaga yang dapat memberikan pelayanan yang kompetitif serta informasi yang lengkap dan rendahnya harga beli pisang mas Kirana di dalam negeri. ABSTRACTThe purpose of this research for: to analyse the aspect of profitability Kirana Mas banana and to analyse impact of government policy on Kirana Mas banana in Lumajang District. Determination of location was done intentionally or purposive method in Lumajang regency. The data that was used covering primary data and secondary data. Data analysis used Policy Analysis Matrix (PAM) for knowing of profitability aspect and impact of government policy on Kirana Mas banana. The results showed that Commodity of Kirana Mas banana has financially and economically beneficial, shown by private profit (PP) Rp 10,444,911.8 per hectare and social benefits (SP) Rp 23,108,983.7 per hectare. Private profits of “Kirana mas” banana are smaller than social benefit (PP SP), shows that the distortion in the commodity markets, there is the impact of subsidies on input prices on a banana farm; there is still no institution that can provide competitive services and complete information and the low purchase price of this banana in the country

    TINGKAT KONSISTENSI PEMUDA TANI TERHADAP TRANSFORMASI SEKTOR PERTANIAN DI KABUPATEN PONOROGO

    No full text
    Sebagai salah satu daerah di propinsi Jawa Timur yang menyumbang devisa terbesar di Indonesia melalui pengiriman TKI di luar negeri adalah kabupaten Ponorogo. Fenomena tersebut menyebabkan adanya permasalahan tata keruangan wilayah maupun sosiologi pedesaan .Hal ini memberikan dampak pada pergeseran mata pencaharian dari petani menjadi bukan petani. Salah satu wilayah yang mengalami perubahan menjadi perkotaan adalah di lima desa Kabupaten Ponorogo yaitu Mojorejo, Kemuning, Siwalan, Babadan, Demangan  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat konsistensi pemuda tani terhadap mata pencahariannya di Kabupaten Ponorogo. Penelitian ini menggunakan metode survey. Data yang dikumpulkan diperoleh melalui teknik wawancara dengan para pemuda tani yang tersebar di lima desa di Kecamatan kota Ponorogo.Teknik analisis datanya menggunakan purposive sample dengan mengambil 60 sampel. Kemudian mendeskripsikan konsistensi pemuda tani dengan cara skoring. Selanjutnya diklasifikasikan dalam tiga kelas, yaitu kelas tidak konsisten, kurang konsisten, dan konsisten. Di Kabupaten Ponorogo terdapat 38.3% pemuda tani tidak konsisten (23pemudatani).Pemuda yang tidak konsisten di dominasi oleh para pemuda tani yang penguasaan lahannya sempit (1.200m2), pendapatan dari hasil kegiatan pertanian rendah ( Rp. 10.000.000,00 per tahun) dan mengelola lahan yang dimiliki oleh investor. Sementara itu terdapat 25% (15pemuda tani) kurang konsisten yang didominasi oleh para pemuda tani yang memiliki pekerjaan lain di luar pertanian dan bukan penduduk asli. Sedangkan pemuda tani yang konsisten 36,7% (22pemuda tani) yang didominasi oleh para pemuda yang kepemilikan lahannya luas (2.000m2), pendapatan tinggi ( Rp. 15.000.000,00 per tahun) dan merupakan penduduk asli. ABSTRACTAs one of the areas in the province of East Java, which accounts for the largest foreign exchange in Indonesia through sending workers in a foreign country is Ponorogo. The phenomenon led to problems of spatial planning regions and rural sociology. It is an impact on the livelihoods of farmers shifting to non-farmers. One area that has been changed into an urban village is in five Ponorogo is Mojorejo, Myrtle, Siwalan, Babadan, Demangan This study aims to determine the consistency of farm youth to livelihood in Ponorogo. This study used survey method. The data collected was obtained through interviews with youths techniques farmers in five villages in the district town of Ponorogo. Data analysis technique using purposive sample by taking 60 samples. Then describe the consistency of farm youth by means of scoring. Further classified into three classes, namely inconsistent, less consistent, and consistent.  In Ponorogo contained 38.3% farm youth inconsistent (23 young farmer). Youth who do not consistently dominated by the young peasant land tenure narrow (1.200m2), income from agricultural activities is low (Rp. 10,000,000.00 per year) and manage land owned by the investor. Meanwhile there is a 25% (15 young farmer) less consistently dominated by the young farmers have other jobs outside the agricultural and non-indigenous. While young farmer consistent 36.7% (22 young farmers) are dominated by young men who vast land holdings ( 2.000m2), high incomes ( Rp. 15,000,000.00 per year) and the original inhabitants

    KAPASITAS PENYULUH PERTANIAN DALAM UPAYA MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS PERTANIAN DI JAWA TIMUR

    No full text
    ABSTRAKProvinsi Jawa Timur merupakan salah penyedia produk-produk pertanian. Oleh karena itu penguatan sektor pertanian melalui program peningkatan produktifitas perlu dilakukan dimana salah satunya berhubungan dengan peran penyuluh pertanian. Tujuan dari kegiatan penelitian ini adalah mengukur kinerja penyuluh pertanian dalam rangka meningkatkan produktifitas pertanian di Jawa Timur. Pendekatan penelitian ini menggunakan pendekatan/metode deskriptif, analitik dan korelasional. Daerah penelitian dilaksanakan secara purposive method pada 4 (empat) kabupaten di Jawa Timur, yaitu Jember, Banyuwangi, Nganjuk, dan Kediri. kinerja penyuluh pertanian dalam rangka peningkatan produksi pertanian Di Jawa Timur memiliki kategori sangat baik. Strategi Kebijakan Penyuluhan yang tepat untuk meningkatkan produktivitas pertanian adalah meningkatkan program-program terkait kelembagaan, kuantitas dan kualitas penyuluh serta perbaikan kelembagaan kelompok tani. Tujuan yang harus dicapai adalah peningkatan mutu penyuluhan pertanian, sasaran dari tujuan tersebut adalah peningkatan kualitas dan kuantitas penyuluh melalui pendidikan dan pelatihan, serta pemberdayaan kelompok tani. AGRICULTURAL EXTENSION CAPACITY IN EFFORTS TO INCREASE AGRICULTURAL PRODUCTIVITY IN EAST JAVAABSTRACTEast Java province is one of provider agricultural products. Therefore, the strengthening of the agricultural sector through productivity improvement programs need to be done one which relates to the role of agricultural extension. The purpose of this research activity is to measure the performance of agricultural extension in order to increase agricultural productivity in East Java. This research approach using the approach / method descriptive, analytical and correlational. Research area by purposive method in 4 (four) districts in East Java, that are Jember, Banyuwangi, Nganjuk and Kediri. Agricultural Extension Performance in order to increase agricultural production in East Java has a very good category. Right Extension Policy Strategy to improve agricultural productivity is improving programs related to institutional, quantity and quality of the extension and improvement of farmers groups. Goals to be achieved are improving the quality of agricultural extension, the target of these objectives is to increase the quality and quantity of extension through education and training, as well as the empowerment of farmer groups

    KEUNGGULAN KOMPARATIF KOMODITAS HORTIKULTURA DI KAWASAN AGROPOLITAN KECAMATAN BELIK

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keunggulan komparatif dari komoditas hortikultura yang dibudidayakan oleh petani di Kawasan Agropolitan Kecamatan Belik Kabupaten Pemalang. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode survey. Data penelitian diperoleh dari responden sebanyak 50 orang petani yang dipilih secara sengaja. Data penelitian yang diperoleh selanjutnya dianalisis dengan menggunakan analisis Koefisien Biaya Sumber Daya Domestik (Koefisien BSD). Hasil analisis menunjukan bahwa koefisien biaya sumber daya domestik lebih besar dari satu (koefisien BSD 1). Dengan demikian komoditas hortikultura utama yang dibudidayakan oleh petani di Kecamatan Belik tidak memiliki keunggulan komparatif dibandingkan dengan komoditas sejenis yang dibudidayakan oleh petani di negara lain

    FAKTOR DOMINAN YANG MEMPENGARUHI PERILAKU EKONOMI RUMAH TANGGA PETANI KARET EKS UPP TCSDP DI DEBA BINA BARU

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor dominan yang mempengaruhi perilaku ekonomi rumah tangga petani karet Eks UPP TCSDP di Desa Bina Baru. Teknik pengumpulan sampel dilakukan secara stratified random sampling. Ada pun untuk menjawab tujuan penelitian menggunakan pendekatan ekonometrik dengan model persamaan simultan yang menggunakan persamaan 2SLS. Hasil dari penelitian adalah faktor yang dominan pada aspek produksi adalah jumlah batang karet produktif dan total biaya usaha tani. Namun, tidak ada faktor yang responsif. Faktor dominan pada aspek alokasi waktu kerja adalah jumlah batang karet produktif, pengalaman kerja petani, pendapatan luar usaha tani dan umur petani. Faktor yang responsif adalah pengalaman kerja petani dan umur petani. Faktor dominan pada aspek pendapatan adalah alokasi waktu kerja luar usaha tani karet dan pendidikan petani. Faktor yang responsif adalah pendidikan petani. Faktor dominan pada aspek pengeluaran adalah pendapatan total petani, pendidikan istri, jumlah anak sekolah dan konsumsi non pangan, dan jumlah anggota keluarga. Faktor yang responsif adalah pendapatan total petani, pendidikan istri, jumlah anak sekolah dan konsumsi non pangan

    0

    full texts

    186

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Agriekonomika
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇