Agriekonomika
Not a member yet
186 research outputs found
Sort by
Peran Konsep Contract Farming Agro Jamur Pabuwaran Terhadap Pengembangan Agribisnis Jamur Tiram di Kabupaten Banyumas
Sistem Contract Farming yang dijalankan Agro Jamur Pabuwaran bersama petani mitra/plasma fokus pada produksi dan pemasaran. Konsep tersebut bertujuan agar petani jamur dapat mengembangkan usahanya tanpa khawatir akan kelangkaan pasar serta ketidakpastian harga. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsep dan peran Contract Farming yang dijalankan Agro Jamur Pabuwaran. Metode yang digunakan adalah analisis deskriptif. Terdapat dua jenis sampel yaitu Agro Jamur Pabuwaran selaku petani inti dan petani jamur mitra selaku petani plasma yang berada di Kabupaten Banyumas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep Contract Farming yang digunakan Agro Jamur Pabuwaran merupakan pola kemitraan semi intiplasma dengan kerjasama produksi dan pemasaran serta memiliki manfaat sosial dan ekonomi yang berdampak pada kedua belah pihak
Pengembangan Agroindustri Wilayah Pesisir Berbasis Komoditas Unggulan Ikan Hasil Tangkapan
Sektor perikanan merupakan salah satu sektor riil yang potensial dan dapat dimanfaatkan secara optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa komoditas hasil tangkap unggulan dan merumuskan strategi pengembangan agroindustri yang berasal dari komoditas hasil tangkap unggulan yang terpilih. Metode yang digunakan adalah metode Location Quotient (LQ) untuk mengetahui komoditas hasil tangkap unggulan dan Analisys Hierarchy Process (AHP) untuk mengetahui strategi pengembangannya. Berdasarkan hasil analisis LQ, ikan kurisi dan ikan cakalang merupakan komoditas unggulan di Wilayah Pesisir Kecamatan Tlanakan sedangkan hasil analisis AHP, kriteria modal menjadi prioritas pertimbangan utama dalam memilih alternatif agroindustri berbasis komoditas hasil tangkap unggulan, kemudian prioritas selanjutnya adalah kriteria sarana prasarana, teknologi, peluang pasar, kebijakan pemerintah, tenaga kerja, dan bahan baku
Sektor Pertanian: Faktor Utama Penentu Kemiskinan Jawa Barat
Penjelasan mendasar mengenai faktor yang menyebabkan kemiskinan merupakan strategi yang efektif untuk memberantas kemiskinan. Penelitian yang dilakukan menggunakan data rumah tangga untuk menganalisis faktor penentu kemiskinan karakteristik rumah tangga di Jawa Barat. Dengan menggunakan regresi model logit, variabel dependen terdiri dari dua bagian, yaitu rumah tangga miskin dan rumah tangga tidak miskin. Hasilnya menunjukkan bahwa usia dan lama pendidikan dari kepala rumah tangga, serta pekerjaan di sektor pertanian, industri dan perdagangan, secara signifikan menjelaskan variasi kemungkinan menjadi miskin. Variabel usia, lama pendidikan, dan pekerjaan kepala rumah tangga di sektor industri dan perdagangan, mengurangi kemungkinan menjadi miskin, sedangkan pekerjaan di sektor pertanian dikaitkan dengan kemungkinan terbesar rumah tangga untuk menjadi miskin
PEMBANGUNAN DAN KONFLIK SOSIAL DI MASYARAKAT DESA (Studi Etnografi Implementasi Program Upaya Khusus Peningkatan Produksi Padi, Jagung, dan Kedelai di Kabupaten Bondowoso-Jawa Timur)
ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menjawab permasalahan yang diajukan yaitu: mendiskripsikan Implementasi Program Upaya Khusus Peningkatan Produksi Padi, Jagung dan Kedelai (UPSUS PAJALE) di Kab. Bondowoso yang dimaknai oleh masyarakat secara umum; mendiskripsikan dampak dan manfaat yang ditimbulkan dari program UPSUS PAJALE yang dirasakan oleh masyarakat; mendiskripsikan apakah aktivitas program UPSUS PAJALE telah mendorong terjadinya konflik sosial dikalangan masyarakat di Bondowoso. Untuk mewujudkan tujuan penelitian tersebut, metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan etnografi, yang dikemas dalam bingkai penelitian kualitatif. Penentuan lokasi penelitian dilakukan secara purposive yaitu di Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur. Teknik Pengumpulan data mengkombinasikan studi dokumen dan penelitian lapangan (field study) melalui wawancara mendalam, observasi, dan pengamatan berperanserta. Hasil penelitian menunjukan bahwa implementasi UPSUS Pajale memberikan gambaran bahwa pada kalangan elit, telah memberikan dampak yang cukup baik dan respon yang positif terhadap implementasi program UPSUS, namun belum menyentuh masyarakat marginal dan masyarakat powerless ditingkat struktur terbawah.DEVELOPMENT AND SOCIAL CONFLICT (Ethnographic Study of Implementation of Special Effort Program for Increasing Rice, Corn, and Soybean Production in Bondowoso-East Java)ABSTRACTThis research aims to answer the question raised is: describing the Program Implementation Specialty Effort Increasing Production of Rice, Corn and Soybeans (UPSUS PAJALE) in Kabupaten Bondowoso is understood by the general public; describe the impact and the benefits arising from program UPSUS PAJALE perceived by the public; describe whether UPSUS PAJALE program activities have lead to social conflicts among people in Bondowoso. To realize the goal of the research, the research method used is an ethnographic approach, which is encapsulated in frames of qualitative research. Location research is purposive in Kabupaten in East Java. Data collection technique combines the study of documents and field study through interviews, observation, and observation participate. The results showed that the implementation of UPSUS Pajale illustrates that the elite, has impacted quite good and positive response to the implementation of the program UPSUS, but has not touched the marginalized people and communities powerless level structure of the lowest
PROYEKSI DAYA DUKUNG PAKAN DAN POPULASI SAPI DI PROVINSI MALUKU
ABSTRAKKebutuhan masyarakat akan daging sapi selalu meningkat setiap tahun seiring dengan pertambahan jumlah penduduk. Dalam hal ini, ketersediaan daging sapi sangat bergantung terhadap populasi sapi, sehingga harus seimbang antara kebutuhan daging sapi dan populasi sapi. Dinamika populasi sapi didukung oleh ketersediaan pakan dalam wilayah tersebut, sehingga proyeksi dugaan antara populasi sapi dan ketersediaan pakan dapat diramalkan. Ketersediaan pakan selama 1 tahun dengan kuantitas yang berlebih dalam suatu wilayah mendukung untuk peningkatan kapasitas populasi sapi. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan pendugaan dan peramalan berdasarkan data runtun waktu dari tahun 1997 sampai dengan tahun 2012 terhadap peubah daya dukung pakan dan peubah populasi ternak sapi. Hasil ramalan dari kedua peubah tersebut digunakan untuk melakukan peramalan kemampuan daya dukung pakan terhadap kapasitas peningkatan populasi ternak sapi. Penelitian ini menggunakan empat model analisis tren yakni; Least Square pola linear, Quadratic, exponential, dan moving average. Adapan tahapannya adalah mendeskripsikan pola daya dukung pakan dan populasi sapi, penentuan model tren, pemilihan model yang sesuai, dan melakukan pendugaan atau peramalan. Hasil menunjukkan bahwa dugaan sumber daya dukung pakan masih memenuhi kebutuhan populasi sapi sampai 1.800.734 ekor. Hal ini menandakan bahwa ketersediaan pakan di Provinsi Maluku melimpah karena prediksi populasi ternak sapi hanya mencapai 96.343 ekor di tahun 2017. Kata kunci: proyeksi, daya dukung pakan, sapi.FEED RESOURCES AND CATTLE POPULATION PROJECTION IN MALUKU PROVINCEABSTRACTThe beef demands on the country always increasing every year as growth as human population. The beef stock depending on population of cattle, so the beef stock and cattle population must balanced. The dynamics of cattle population supported by carrying capacity in every region, so the cattle population and feedstuff stock can be estimated. Availability of feedstuff stock in every year with an excess quantity in an area can support for increasing cattle population. The aim of research was to estimating and forecasting carrying capacity and cattle population based on time series data from 1997 until 2012. The result of estimating and forecasting regional feedstuff stock support for increasing cattle. 4 model of tren analyzation used are Least Square pola linear, Quadratic, exponential, dan moving average. First, describe the carrying capacity from agriculture waste in every region and beef cattle population, then tren models was decided. The results showed feed source projection still sufficient to 1.800.734 cattle. This indicated that feed availability is abundant because the cattle population projection reach only 96.343 in 2017.Keywords: beef cattle, carrying capacity, projection,
HARMONISASI KEPEMIMPINAN KEPALA DAERAH DI KABUPATEN WONOSOBO DALAM MENJALANKAN KEBIJAKAN PEMBANGUNAN PERTANIAN BERKELANJUTAN
Wonosobo merupakan kabupaten yang mempunyai petensi besar di sektor Pertanian. Lebih dari 50% penduduk Kabupaten Wonosobo berprofesi sebagai petani. Isu tentang pertanian dan kesejahteraan petani selalu menjadi isu sentral ketika memasuki masa pemilihan kepala daerah. Di era otonomi daerah, setiap kepala daerah mempunyai kewenangan dalam menjalankan tata kelola pemerintahan sesuai dengan potensi sumberdaya yang dimiliki. Tulisan ini merupakan suatu kajian analitik berdasarkan literatur yang bertujuan untuk mengupas sejauh mana pengaruh penerapan otonomi daerah di Kabupaten Wonosobo dalam hal kebijakan pembangunan pertanian berkelanjutan, serta memberi gambaran kelebihan serta kelemahan otonomi daerah dalam tata kelola pemerintahan di sektor pertanian. Adapun hasil kajian menunjukkan bahwa saat ini bahwa harmonisasi kepemimpinan dalam hal pengambilan kebijakan kepala daerah di Wonosobo belum berjalan sesuai harapan, ego dan gaya kepemimpinan menjadi alasan mengapa setiap pergantian periode cenderung berganti pula kebijakan yang dijalankan
PENGARUH ATRIBUT KEMASAN MAKANAN DAN KARAKTERISTIK KONSUMEN TERHADAP PEMBELIAN
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh atribut kemasan makanan dan karakteristik konsumen terhadap persepsi, pencarian informasi, pemilihan alternatif, dan perilaku setelah pembelian. Pengambilan data menggunakan teknik convenience sampling kepada 400 responden dan wawancara kepada asosiasi ritel dan industri makanan. Analisis data dengan menggunakan Interpretasi Skor Interval dan Seemingly Unrelated Regression. Hasil menunjukkan bahwa atribut kualitas dan fitur kemasan berpengaruh lebih besar terhadap semua tahapan keputusan pembelian. Secara simultan karakteristik responden berpengaruh signifikan terhadap persepsi, pemilihan alternatif, dan perilaku setelah pembelian. Intensitas belanja berpengaruh signifikan terhadap persepsi dan perilaku setelah pembelian; sedangkan umur, jenis kelamin, dan pendapatan berpengaruh signifikan terhadap pemilihan alternatif dan perilaku setelah pembelian. Implikasinya, IKM makanan perlu memberikan perhatian lebih besar terhadap atribut kemasan yang berpengaruh lebih besar.THE EFFECT OF FOOD PACKAGING AND CONSUMER CHARACTERISTICS ON PURCHASE BEHAVIORABSTRACTThis study aims to determine the effect of snack package attributes and consumer characteristics on the perception, information search, alternative selection, and after purchase behaviour. The survey wasdone by the convenience sampling technique to 400 respondents and interviewingretail and food industries association. Data analysiswas Interval Score interpretation and Seemingly Unrelated Regression. The results show that the quality attributes and package features have greater effect on all purchasing decision stages. The respondent characteristics, simultaneously, significantly affect the perception, information search, alternative selection, and after purchase behaviour. The shopping intensity significantly affect the perception and after purchase behaviour; while, age, gender, and income significantly affect the alternative selection and after purchase behaviour. The implication is that food SMEs are required to give greater attention to the attributes greater affected.
STRATEGI PENGEMBANGAN PASAR OTAK-OTAK BANDENG DI KABUPATEN GRESIK
Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui karakteristik konsumen otak-otak bandeng di Gresik, (2) menganalisis atribut-atribut yang mempengaruhi pembelian otak-otak bandeng di Gresik. Penelitian ini dilaksanakan di Toko Muzanah dan Sari Kelapa. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode diskriptif dan analisis konjoin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumen otak-otak bandeng berusia antara 25-35 tahun, rata-rata pendidikan terakhir sarjana dan bekerja sebagai karyawan swasta dengan gaji rata-rata lebih dari Rp. 2.500.000dan memiliki tanggungan keluarga antara 1-5 orang. Berdasarkan hasil analisis konjoin diketahui bahwa konsumen otak-otak bandeng lebih menyukai bahan kemasan kardus, desain kemasan bergambar bandeng, rasa pedas, harga Rp. 45.000 dan ukuran berat 400 gr.MARKETING STRATEGY OF OTAK-OTAK BANDENG IN GRESIKABSTRACTThe aims of this study are (1) to know the characteristics of the consumers who buy otak-otak bandeng in Gresik, (2) to analyze what kinds of attributes that become the consumers’ choice on otak-otak bandeng in Gresik. This study is conducted in Muzanah Store and Sari Kelapa. This study uses descriptive analysis and conjoint analysis. The results of this study show that the consumers who buy otak-otak bandeng are consumers in the age of 25-35 years old with college as their last education that work as private sector employees with salary Rp 2,500,000 and have a number of family members of 1-5 people. The results of conjoint analysis show that the consumers prefer cardboard packaging material, milkfish image packaging design, dominant blue color packaging, spicy flavor, price of Rp 45,000, and size of 400 gr