Agriekonomika
Not a member yet
186 research outputs found
Sort by
Pemetaan dan Pengembangan Agribisnis Komoditas Unggulan Sayuran di Kabupaten Karanganyar
Demi membangun Kawasan Strategis Ekonomi, suatu wilayah perlu untuk mengetahui potensi komoditas yang dimiliki dan layak untuk dikembangkan. Potensi tersebut bisa karena potensi alam ataupun karena sektor tersebut memiliki keunggulan komparatif. Sehingga dengan modal yang sama, dapat berproduksi dalam waktu yang relatif singkat dan volume sumbangan untuk perekonomian daerah juga besar. Pertanian masih menjadi sektor unggulan di Kabupaten Karanganyar karena selalu masuk dalam posisi kedua sebagai penyumbang PDRB daerah. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui komoditas unggulan sayuran di Kabupaten Karanganyar. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis Location Quetient (LQ) yang didapatkan dari sumber data sekunder yaitu data produksi sayuran di Kabupaten Karanganyar yang berupa data series lima tahun terakhir dan didapatkan dari Dinas Pertanian, Tanaman Pangan, Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Karanganyar (dan didukung oleh data dari BPS Kabupaten Karanganyar). Hasil penelitian ini adalah komoditas sayuran yang dapat dijadikan unggulan dan layak dikembangkan potensinya di Kabupaten Karanganyar ditunjukkan dengan nilai Location Quotient (LQ) lebih dari 1. Hal ini berarti bahwa komoditas tersebut menjadi basis atau menjadi sumber pertumbuhan. Komoditas memiliki keunggulan komparatif yang hasilnya tidak saja dapat memenuhi kebutuhan di wilayah yang bersangkutan namun juga dapat diekspor ke luar wilayah. Komoditas yang mendapatkan nilai LQ tertinggi dan mempunyai sebaran wilayah terbanyak adalah komoditas cabai yaitu di tujuh kecamatan (Kecamatan Jumapolo, Jumantono, Matesih, Ngargoyoso, Karanganyar, Mojogedang, Kerjo dan Jenawi). Sedangkan komoditas wortel nilai LQ-nya tertinggi di Kecamatan Karangpandan. Komoditas bawang putih menjadi tertinggi di Kecamatan Tawangmangu dan komoditas sawi tertinggi di Kecamatan Jatiyoso. Kata Kunci : Pengembangan Agribisnis, analisis Location Quotient
Keberadaan TV TANI Sebagai Revitalisasi Media Baru Penyuluhan Pertanian di Indonesia
Asimetris informasi yang dialami petani di Indonesia salah satunya terjadi karena media penyuluhan seperti televisi dan radio yang kurang memberikan informasi secara signifikan dan berimbang. Kemudian muncullah TV TANI yang diharapkan mampu menjawab permasalahan tersebut, namun apakah kemudian TV TANI sebagai media baru penyuluhan mampu menyediakan beragam informasi bagi petani. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan menggunakan metode deskriptif. Data yang digunakan adalah data sekunder yang dikumpulkan lewat metode studi pustaka. Dari pembahasan diketahui bahwa TV TANI menjadi media baru bagi kegiatan penyuluhan di Indonesia karena sudah berbasis internet yang dapat diakses kapanpun dan dimanapun. Namun, Kementerian Pertanian tidak jelas dalam menentukan sasaran dan tidak memperhatikan kondisi sosial budaya petani. Meski begitu, TV TANI hadir dengan kemasan berbeda dan lebih baik jika dibandingkan konsep siaran pertanian yang sudah pernah ada. Dalam pengembangan materi acara, Kementerian Pertanian harusnya bekerja sama dengan berbagai pihak yang terkait dengan pembangunan perdesaan dan melibatkan masyarakat pedesaan dalam penyusunannya
Pengaruh Peran Kelembagaan Penyuluhan Pertanian Terhadap Penyusunan Program Penyuluhan Peternakan di Kabupaten Trenggalek dan Tulungagung
Tujuan Penelitian ini untuk mengkaji Peran BP3K dan BPP terhadap penyusunan program penyuluhan peternakan di Kabupaten Trenggalek dan Kabupaten Tulungagung. Pendekatan penelitian adalah pendekatan kuantitatif, penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Trenggalek dan Kabupaten Tulungagung Provinsi Jawa Timur Tahun 2016. Jumlah populasi adalah 317 orang, Jumlah sampel 90 orang dengan cara menentukan jumlah sampel yaitu menggunakan rumus Slovin dengan taraf kesalahan 10%. Teknik sampling pada penelitian ini menggunakan teknik propotional random sampling. Variabel penelitian ini yaitu Variabel independent adalah peran BP3K dan BPP. Variabel dependent adalah penyusunan Program Penyuluhan Peternakan. Metode pengumpulan data adalah Wawancara menggunakan kuesioner dan Dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis Regresi Linier berganda. Hasil penelitian menunjukan Pengaruh BP3K dan BPP secara bersama-sama mempengaruhi dalam penyusunan program penyuluhan peternakan sebesar 57,5%. peran BP3K yang secara langsung terhadap penyusunan program penyuluhan peternakan adalah sebesar 18 %. Sedangkan pengaruh peran BPP yang secara langsung terhadap penyusunan program penyuluhan peternakan sebesar 64,7 %
Persepsi Petani Cabai Besar dan Pengelola Koperasi Terhadap Kemitraan Agribisnis
Penelitian ini bertujuan mengetahui: alasan petani cabai menjalin kemitraan dengan koperasi, persepsi petani cabai dan pengelola koperasi terhadap kemitraan agribisnis. Penentuan daerah penelitian menggunakan purposive method yaitu di Desa Dukuhdempok Kecamatan Wuluhan Kabupaten Jember. Metode penelitian yaitu deskriptif kualitatif. Penentuan informan menggunakan metode snowball sampling. Pengumpulan data dengan triangulasi teknik. Analisis data dilakukan dengan metode analisis model Miles and Huberman. Hasil penelitian menunjukan bahwa alasan petani cabai menjalin kemitraan adalah adanya kepastian pasar, ingin mendapat ketenangan hati, adanya bimbingan teknis, menumbuhkan kekeluargaan, adanya bantuan modal, memiliki kedekatan dengan koperasi dan adanya keinginan untuk menaikan kapasitas diri. Persepsi petani cabai terhadap kemitraan beranggapan sudah berjalan baik. Semua norma, baik itu tertulis atau tidak tertulis, di jalankan dan diterima sebaik mungkin. Persepsi pengelola Koperasi terhadap kemitraan beranggapan sudah berjalan baik. Tidak ada permasalahan secara teknis yang sangat berarti, namun permasalahan yang paling berpengaruh adalah permasalahan SDM
Marketing Aspects of Vegetables: Comparative Study of Four Regions in East Java and Bali
One of the factors that determines the success or failure of agribusiness is ability of farmers to sell the product. Thus, marketing is an important part of vegetable farming. Good marketing process leads to commercialization, and unsuccessful in this step leads to inadequate income. This study aims to explore the marketing aspects of vegetables using descriptive analysis of vegetable marketing relates issues. The aspects include sources of information, traders, time to sell, use of mobile phone in marketing and the potential constraints. Marketing characteristics of each region were discussed by comparing and contrasting one to another. Data for this study were gathered from a quantitative investigation of 360 farm households situated in four main vegetable producing regions of rural East Java and Bali, Indonesia. The results show that farmers relied on traders and neighbouring farmers as the trusted sources market information. The ways of farmers to sell the product to the market varied across regions. Commonly, farmers had frequent buyers or costumers to sell the products without any special commitment. In majority, farmers contacted a few of traders to sell the product about three days before harvesting. Highly fluctuation of prices was perceived to be the most important constraint among other factors limiting good marketing. Thus, there is a need to address such constraints to help farmers to get fairness
Karakteristik Petani Muda Agribisnis dan Faktor-faktor yang Mepengaruhi Alih Fungsi Lahan di Malang
Fungsi lahan pertanian di Indonesia sekarang ini harus bersaing dengan pemukiman, bidang industri dan properti. Upaya perlindungan terhadap status lahan sawah kemudian menjadi bagian yang paling urgen. Optimisme perlu dibangun dengan pandangan bahwa dengan membina petani muda agar berjiwa agribisnis (wirausaha) maka pembangunan sektor pertanian akan tetap berlanjut. Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah mengetahui karakteristik petani muda di Malang, mengetahui dan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi praktik alih fungsi lahan di daerah penelitian, mengetahui model komunitas petani muda di Malang. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Curungrejo, Desa Jatirejoyoso, Desa Mangunrejo, dan Panggungrejo Kecamatan Kepanjen Kabupaten Malang. Metode penelitian yang digunakan adalah proportionate stratified random sampling. Hasilnya adalah karakteristik petani muda yang paling banyak dimiliki adalah yang bersemangat di bidang agribisnis, kemudian dilanjutkan dengan karakteristik berusahatani sendiri, dan yang menganggap bertani sebagai usaha utama menduduki peringkat ketiga. Sedangkan variabel yang berpengaruh terhadap praktik alih fungsi lahan adalah kendala irigasi, resiko usahatani, harga jual lahan dan tingkat pendapatan
KELAYAKAN DAN PENGEMBANGAN PABRIK KARET PTPN VII PADANG PELAWI BENGKULU
Karet adalah komoditas perkebunan strategis yang memiliki peranan ekonomi yang signifikan bagi petani dan bagi Negara sebagai penyumbang devisa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) Kelayakan finansial dan teknis usaha karet; (2) sensitivitas terhadap penurunan harga output, penurunan produksi dan kenaikan harga input; (3) strategi pengembangan. Metode penelitian dilakukan dengan wawancara dan pengumpulan data produksi tahun 2015. PTPN VII Unit Padang Pelawi Bengkulu merupakan perusahaan yang melakukan kegiatan onfarm hingga offarm karet. Produk yang dihasilkan adalah SIR 20. Hasil penelitian menggunakan analisis Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), Benefit and Cost Ratio (B/C Ratio) dan Payback Period (PP) dengan tingkat bunga sebesar 6,75% menunjukkan bahwa perusahaan secara finansial layak. Analisis sensitivitas untuk menguji tingkat sensitivitas proyek terhadap penurunan produksi sebesar 5%, penurunan harga output sebesar 5% dan kenaikan harga input sebesar 6% menunjukkan perusahaan tidak sensitif dan strategi pengembangan PTPN VII Unit Padang Pelawi Bengkulu adalah memaksimalkan sumber daya alam dan tenaga kerja. Kelayakan usaha karet PTPN VII Unit Padang Pelawi Bengkulu layak untuk dilanjutkan.This research aims to analyze : (1) Financial and technical feasibility of rubber factory; (2) sensitivity to decreasing output price and production and increasing input price; (3) development strategy. The data obtained from interview and production data of 2015. PTPN VII Padang Pelawi Unit is a company that manages onfarm and off-farm activity of rubber plantation. Their product is SIR 20. The result of financial feasibility analysis using Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), Benefit and Cost Ratio (B / C Ratio) and Payback Period (PP) with an interest rate of 6.75% showing that the company is financially feasible. Sensitivity analysis tests the sensitivity of the factory to the production decrease of 5%, output price decrease of 5% and input price increase of 6% and strategy development at PTPN VII Unit Padang Pelawi Bengkulu. The result shows that PTPN VII Padang Pelawi is Financially and Technically feasible
Peran Kompetensi Penyuluh Pertanian pada Keterampilan Petani Bawang Merah
Penyuluh pertanian dalam upaya mengubah perilaku petani bawang merah menjadi petani yang berkualitas perlu mempunyai kompetensi teknis budidaya tanaman maupun kompetensi manajerial. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan karakteristik penyuluh pertanian, menganalisis faktor-faktor kompetensi penyuluh pertanian yang berhubungan dengan keterampilan petani bawang merah, dan menganalisis kekuatan hubungan kompetensi penyuluh pertanian dengan keterampilan petani bawang merah. Metode penelitian ini adalah ex post facto. Penelitian dilaksanakan di Kabupaten Gorontalo. Data penelitian di analisis menggunakan uji Korelasi Rank Spearman. Hasil penelitian menunjukan bahwa penyuluh pertanian di Kabupaten Gorontalo tersebar pada sejumlah karakteristik individu, yaitu: umur penyuluh, masa kerja, jumlah petani binaan, tingkat pendidikan, dan pelatihan yang pernah diikuti penyuluh. Kompetensi penyuluh memiliki keeratan hubungan dengan keterampilan petani bawang merah melalui dimensi kompetensi kepribadian, kompetensi andragogik, kompetensi profesionalisme, dan kompetensi sosial