Jurnal Peternakan Indonesia
Not a member yet
495 research outputs found
Sort by
The Effect of Yeast Tape on The Quality of Goat Feces Compost With A Mixture of Cogon Grass (Imperata Cylindrica): The Effect of Yeast Tape on The Quality of Goat Feces Compost With A Mixture of Cogon Grass (Imperata Cylindrica)
Kompos merupakan pupuk organik yang sangat bermanfaat bagi pertanian karena dapat memperbaiki struktur tanah, meningkatkan kesuburan tanah, dan mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia. Salah satu metode dalam pengomposan feses kambing yang dapat dilakukan yaitu dengan menambahkan alang- alang (Imperata cylindrica) sebagai bahan campuran organik. Penambahan ragi tape sebagai bioaktivator dalam pembuatan kompos feses kambing dengan campuran alang-alang untuk mempercepat dekomposisi bahan organik. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh pemberian ragi tape terhadap kualitas kompos feses kambing yang dicampur dengan alang-alang (Imperata cylindrica). Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) terdiri dari 5 perlakuan dan 5 ulangan. Kompos yang akan dibuat menggunakan perbandingan feses dan alang-alang sebanyak 1:10 yaitu campuran 1 kg (1000 g) feses kambing dan 100 g alang-alang dengan tambahan ragi tape pada setiap masing-masing perlakuan sebanyak P0 = 0 g (tanpa penambahan ragi tape), P1 = 10 g, P2 = 20 g, P3 = 30 g, P4 = 40 g. Data dianalisis dengan analisis varians dan jika terdapat perbedaan yang nyata atau sangat nyata dilanjutkan dengan uji Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada sifat fisik kompos, pemberian ragi tidak memberikan pengaruh terhadap warna, bau, suhu dan pH namun memberikan pengaruh terhadap tekstur kompos. Pada sifat kimia kompos, pemberian ragi tape tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap N-total dan C-Organik namun perlakuan P2 dengan dosis 20 g ragi tape berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap rasio C/N dan memberikan hasil yang optimal terhadap kualitas fisik dan kimia kompos sesuai dengan standar SNI 19-7030-2004.Compost is an organic fertilizer that is very beneficial for agriculture because it can improve soil structure, increase soil fertility, and reduce dependence on chemical fertilizers. One method in composting goat feces that can be done is by adding cogon grass (Imperata cylindrica) as an organic mixture. The addition of yeast tape as a bioactivator in making goat feces compost with a mixture of reeds to accelerate the decomposition of organic matter. The purpose of this study was to determine the effect of yeast tape on the quality of goat feces compost mixed with cogon grass (Imperata cylindrica). The study used a completely randomized design (RAL) consisting of 5 treatments and 5 replicates. The compost that will be made uses a ratio of feces and reeds as much as 1:10, namely a mixture of 1 kg (1000 g) of goat feces and 100 g of reeds with the addition of yeast tape in each treatment as much as P0= 0 g (without the addition of yeast tape), P1= 10 g, P2= 20 g, P 3= 30 g, P4= 40 g. Data were analyzed by analysis of variance and if there was a real or very real difference, it was continued with Duncan's test. The results showed that in the physical properties of compost, the provision of yeast did not affect the color, odor, temperature and pH but did affect the texture of compost. In the chemical properties of compost, the provision of yeast tape had no significant effect (P>0.05) on N-total and C-Organic but treatment P2with a dose of 20 g yeast tape had a significant effect (P<0.05) on the C/N ratio and gave optimal results on the physical and chemical quality of compost in accordance with SNI 19-7030-2004 standards.
Keywords: Compost quality, Goat feces, Cogon Grass, Yeast tape, Physical properties, Chemical properties
 
Karakteristik Kuantitatif Domba Garut pada Sistem Pemeliharaan Berbeda Berdasarkan Umur dan Jenis Kelamin
Penelitian ini bertujuan untuk mengamati karakteristik kuantitatif Domba Garut dalam sistem pemeliharaan yang berbeda berdasarkan usia dan jenis kelamin. Metode observasi dilakukan untuk memperoleh data empiris karakteristik kuantitatif domba Garut yang dipelihara secara intensif dan semi intensif. Sampel penelitian ditentukan dalam dua tahap sampling yaitu berdasarkan sistem pemeliharaan (intensif dan semi intensif) dan umur domba (lepas sapih atau 3-4 bulan, domba muda berumur 8 bulan, dan domba dewasa umur >12 bulan). Umur domba ditentukan berdasarkan kondisi gigi permanen, dan setiap unit yang diamati berlokasi di wilayah Kecamatan Kertajati Kabupaten Majalengka. Variabel yang diamati meliputi tinggi bahu, panjang tubuh, lingkar dada, lebar dada, tinggi pinggul, dan berat badan. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji-t. Hasil penelitian menunjukkan bahwa domba Garut betina yang dipelihara secara intensif pada setiap fase usia memiliki sifat kuantitatif yang lebih baik, dan beberapa variabel menunjukkan perbedaan yang signifikan (p<0,05) dibandingkan dengan semi intensif. Berbeda dengan domba Garut jantan, pada fase usia penyapihan, sifat kuantitatif cenderung lebih tinggi pada domba yang dipelihara secara semi intensif, bahkan variabel panjang tubuh dan tinggi pinggul secara signifikan lebih tinggi (p<0,05) daripada yang dipelihara secara intensif. Namun, pada usia 8 dan >12 bulan, Karakteristik kuantitatif keseluruhan domba jantan Garut yang dipelihara secara intensif cenderung lebih baik daripada sistem pemeliharaan semi-intensif. Dapat disimpulkan bahwa karakteristik kuantitatif domba Garut dipengaruhi oleh sistem pemeliharaan, dan sistem pemeliharaan intensif cenderung memiliki karakteristik kuantitatif yang lebih baik daripada sistem pemeliharaan semi intensif.This study aims to investigated the quantitative characteristics of Garut Sheep in different rearing systems based on age and sex. The observation method was conducted to obtain empirical data on the quantitative characteristics of Garut sheep raised intensively and semi-intensively. The research sample was determined in two sampling stages, with the analysis unit located in the Kertajati District area of Majalengka Regency. The observed variables included shoulder height, body length, chest circumference, chest width, hip height, and body weight. The data obtained were analyzed using a t-test. The results showed that female Garut sheep raised intensively in each age phase had better quantitative traits, and some variables showed significant differences (
Analisis Penambahan Feed Additive pada Pakan Terhadap Performa Puyuh
Puyuh merupakan unggas penghasil telur bergizi tinggi dan terjangkau yang digemari masyarakat, namun tantangan budidayanya terletak pada efisiensi pakan dan performa produksi, sehingga penggunaan feed additive alami seperti daun kelor dan kunyit diharapkan dapat meningkatkan performanya secara optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh penambahan tepung daun kelor dan tepung kunyit dalam ransum terhadap performa puyuh petelur. Sebanyak 180 ekor puyuh betina (Coturnix coturnix japonica) berumur enam minggu digunakan dalam penelitian ini yang dilaksanakan menggunakan metode feeding trial. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial 2 × 3. Faktor A yaitu penggunaan dua taraf tepung daun kelor (0% dan 3%), dan faktor B merupakan penggunaan tiga taraf tepung kunyit (0%, 0,5%, dan 1%), masing-masing diulang sebanyak tiga kali. Parameter yang diamati meliputi konsumsi ransum, produksi telur harian, konversi ransum dan persentasi mortalitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh yang signifikan (P>0,05), baik secara tunggal maupun interaksi terhadap konsumsi ransum, produksi telur harian, konversi ransum dan persentase mortalitas Dengan demikian, penambahan tepung daun kelor dan tepung kunyit pada level tersebut aman digunakan, namun belum mampu meningkatkan performa produksi puyuh secara signifikan
Suplementasi Pellet Indigofera Pada Pakan Starter Terhadap Penlngkatan Performa Cempe Domba Cross Awassi
Penelitian ini mengevaluasi pengaruh suplementasi pelet Indigofera zollingeriana 10% pada pakan starter terhadap performa domba persilangan Awassi. Sebanyak 14 ekor domba dibagi menjadi dua perlakuan: P0 (kontrol, pakan starter tanpa suplementasi pelet) dan P1 (pakan starter yang disuplementasi dengan 10% pelet Indigofera). Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumsi pakan meningkat 12,9% pada P1 dibandingkan dengan P0, meskipun perbedaannya tidak signifikan secara statistik (P>0,05). Pertambahan bobot badan harian rata-rata meningkat secara signifikan sebesar 27,9% (P<0,05), dan FCR menurun sebesar 14,7% (P<0,05), yang mengindikasikan peningkatan efisiensi pakan. IOFC meningkat sebesar 35,3% pada P1 tetapi tidak berbeda secara signifikan (P>0,05). Kesimpulannya, suplementasi pelet Indigofera meningkatkan kinerja biologis dan kelayakan ekonomi, yang menunjukkan potensi penerapannya dalam sistem produksi domba
Analisis Hubungan antara Pengeluaran dan Ketahanan Pangan pada Rumah Tangga di Kabupaten Sijunjung
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proporsi pengeluaran pangan dan konsumsi rumah tangga, menganalisis konsumsi energi dan protein rumah tangga, serta menganalisis ketahanan pangan rumah tangga di Kabupaten Sijunjung. Metode yang digunakan adalah analisis deskriptif dengan teknik survei. Penelitian dilakukan di Kabupaten Sijunjung, dengan pemilihan daerah penelitian secara purposive sampling di Kecamatan Sijunjung, Koto VII, IV Nagari, dan Kupitan. Data yang digunakan adalah data primer dan sekunder yang dikumpulkan melalui wawancara dan pencatatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata proporsi pengeluaran untuk non-pangan adalah Rp 1.338.153,00 atau 38,89%, sedangkan pengeluaran untuk pangan adalah Rp 2.102.966,00 atau 61,11%. Rata-rata konsumsi energi dan protein adalah 1.885,71 kkal/orang/hari dan 57,50 gram/orang/hari. Tingkat kecukupan energi adalah 88% yang termasuk dalam kategori normal, dan tingkat kecukupan protein adalah 101% yang termasuk dalam kategori berlebih. Kondisi ketahanan pangan rumah tangga menunjukkan 40% rumah tangga rentan pangan, 27% rawan pangan, 10% tahan pangan, dan 10% kurang pangan
Pengaruh Dosis Inokulum dan Lama Fermentasi Eceng Gondok dengan Neurospora Crassa Sebagai Bahan Pakan Sumber Energi
Eceng gondok (Eichhornia crassipes) adalah tanaman air yang melimpah namun sering dianggap sebagai gulma dan potensi sebagai pakan alternatif untuk unggas karena kandungan nutrisinya yang baik.Namun, tingginya kandungan serat kasar menjadi kendala utama dalam pemanfaatannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi dosis inokulum dan lama inkubasi terhadap kandungan energi, bahan organik (BO) dan pH eceng gondok yang difermentasi menggunakan Neurospora crassa. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap pola faktorial dengan variasi dosis inokulum (1%, 2%, 3%) dan lama inkubasi (5 dan 7 hari). Hasil penelitian menunjukkan bahwa fermentasi eceng gondok pada dosis 1% dan lama fermentasi 7 hari dapat menurunkan kandungan serat kasar. Kesimpulan dari penelitan ini adalah dosis inokulum 1% dengan lama fermentasi 5 hari dapat menurunkan kandungan serat kasar 23,57%, dengan kandungan energi 3753,38 Kkal/kg, kandungan bahan organik 89,77% dan pH 7,47
Pengaruh Sex Ratio dan Umur Induk Itik Bayang Terhadap Fertilitas, Daya Tetas dan Mortalitas Embrio
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh sex ratio dan umur induk itik Bayang terhadap fertilitas, daya tetas dan mortalitas embrio. Penelitian ini menggunakan 216 ekor itik Bayang, dimana 189 ekor betina dan 27 ekor jantan dengan umur 72 ekor itik umur 6-9 bulan, 72 ekor itik umur 10-13 bulan dan 72 ekor itik umur 14-17, yang ditempatkan pada 27 flock dengan perbandingan sex ratio 1:6, 1:7 dan 1:9. Itik bayang dipelihara selama 14 hari, pada hari ke 12, 13 dan 14 telur itik diambil untuk ditetaskan dengan menggunakan mesin tetas semi otomatis. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan pola faktorial terdiri dari 3 level faktor A (sex ratio) dan 3 level faktor B (umur induk). Parameter yang diukur adalah fertilitas dan daya tetas dan mortalitas embrio. Hasil penelitian menunjukan tidak terdapat interaksi (P>0,05) antara sex ratio dan umur induk itik Bayang terhadap fertilitas, daya tetas dan mortalitas embrio. Faktor A (sex ratio) berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap fertilitas, namun tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap daya tetas dan mortalitas embrio. Faktor B (umur induk) berpegaruh nyata (P<0,05) terhadap daya tetas dan mortalitas embrio, namun tidak berpengaruh nyata terhadap fertilitas telur. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa sex ratio dan umur induk yang baik untuk menghasilkan telur yang bagus adalah 1:5 dan umur induk 14-17 bulan untuk mendapatkan fertilitas dan daya tetas telur yang tinggi serta mortalitas embrio yang rendah
Pengaruh Pemberian Produk Fermentasi Campuran Kulit Pisang Batu dan Daun Indigofera dalam Ransum terhadap Karkas Broiler
Penelitian ini mengkaji pemanfaatan campuran kulit pisang batu dan daun Indigofera yang difermentasi menggunakan Natura Organik Dekomposer (KPBDIF) sebagai alternatif pakan broiler. Fermentasi ini terbukti meningkatkan nilai nutrisi dan berpotensi mengurangi ketergantungan pada jagung dan bungkil kedelai dalam ransum broiler. Tujuan penelitian adalah menganalisis pengaruh dan menentukan kadar optimal KPBDIF dalam ransum terhadap karkas broiler. Penelitian dilakukan pada 80 ekor broiler strain CP 707, dengan pemberian pakan fermentasi dimulai saat ayam berumur 15 hari hingga 5 minggu. Menggunakan metode eksperimen Rancangan Acak Lengkap (RAL), penelitian dibagi menjadi 5 perlakuan dengan 4 pengulangan. Perlakuan terdiri dari variasi kandungan KPBDIF dalam ransum: 0% (A), 15% (B), 20% (C), 25% (D), dan 30% (E). Parameter yang diteliti meliputi bobot hidup, persentase karkas, persentase lemak abdomen, dan kolesterol daging broiler. Hasil analisis menunjukkan bahwa penggunaan KPBDIF memberikan pengaruh sangat signifikan (P<0,01) terhadap bobot hidup, namun tidak memberikan pengaruh nyata (P>0,05) terhadap persentase karkas, lemak abdomen, dan kolesterol daging. Kesimpulannya, penggunaan KPBDIF hingga level 20% dalam ransum dapat mempertahankan kualitas karkas broiler, sekaligus mengurangi penggunaan jagung sebesar 15,76% dan bungkil kedelai sebesar 47,67%. Pada level ini, diperoleh bobot hidup 1.575,06 gram per ekor dengan persentase karkas 73,57% dan lemak abdomen 1,55%. Sementara itu, penggunaan KPBDIF 30% mampu menurunkan kadar kolesterol daging hingga 183,95 mg/100g, setara dengan penurunan 9,79%
Pengaruh Suplementasi Campuran Tepung Kunyit dan Adas dalam Ransum Terhadap Performan dan Profil Lipida Darah Ayam Kampung
Penelitian dilakukan untuk mengetahui pengaruh suplementasi campuran tepung kunyit dan adas terhadap kinerja produksi dan profil lipida darah ayam kampung. Tujuh puluh dua ekor ayam kampung unggul balitbangtan (KUB) berumur 2 minggu berjenis kelamin unsexed, dengan berat badan rata-rata 107,66±8,37 g dialokasikan secara acak dalam rancangan acak lengkap ke dalam empat perlakuan. Keempat perlakuan dibedakan berdasarkan level suplementasi campuran tepung kunyit (TK) dan tepung adas (TA) yaitu P1 sebagai kontrol (tanpa campuran TK dan TA); P2 ( 2,5 g TK + 2,5 g TA)/kg ransum; P3 (5 g TK+ 5 g TA)/kg ransum dan P4 (7,5 g TK + 7,5 g TA)/kg. Setiap perlakuan diulang 3 kali, dengan menggunakan 6 ekor ayam kampung. Penelitian dilakukan selama 8 minggu mulai ayam berumur 3 sampai 10 minggu. Variabel yang diukur meliputi konsumsi pakan, kenaikan berat badan, konversi pakan, profil lipida meliputi kadar kolesterol, HDL, LDL dan trigliserida dalam plasma darah. Data dikoleksi selama 8 minggu, dan dianalis dengan analisis variansi. Hasil penelitian menunjukkan suplementasi campuran TK dan TA menurunkan konsumsi pakan dan konversi pakan, kenaikan berat badan berbeda tidak nyata dan menurunkan kadar kolesterol, HDL, LDL dan trigliserida plasma darah secara nyata (P<0,05). Disimpulkan penggunaan TKA pada P4 (campuran 7,5 g TK + 7,5 TA) menurunkan konsumsi pakan, konversi pakan dan profil lipida, walaupun tidak memperbaiki kenaikan berat badan ayam KUB
Analisis Faktor yang Mempengaruhi Pendapatan Peternak Itik Petelur pada Lahan Basah di Kecamatan Tuntang Kabupaten Semarang
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pendapatan dan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan peternak itik petelur. Penelitian ini bertempat di Desa Kesongo, Desa Rowosari, dan Desa Lopait yang berada di Kecamatan Tuntang. Metode penelitian yang digunakan adalah survei. Metode penentuan sampel yang digunakan adalah proportionate stratified random sampling. Jumlah sampel penelitian sebesar 77 peternak itik petelur. Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara, observasi, dan studi pustaka. Metode analisis data menggunakan analisis biaya produksi, penerimaan, pendapatan, dan fungsi keuntungan Cobb-Douglas unit output price. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendapatan peternak rata-rata sebesar Rp47.830.353/tahun. Nilai koefisien determinasi sebesar 61%. Variabel harga pakan, harga OVAC, dan sewa lahan berpengaruh terhadap pendapatan. Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan evaluasi dalam kegiatan usaha ternak itik petelur guna meningkatkan pendapatan peternak