Jurnal Peternakan Indonesia
Not a member yet
495 research outputs found
Sort by
Comparison of Nutrient Content and Daily Milk Production in Dairy Cows Fed Cipro Plus and Setia Feed Concentrates in KPSP Setia Kawan
This study aimed to compare the nutrient content and daily milk production of dairy cows fed two types of concentrates: Cipro Plus and Setia Feed. The research was conducted at KPSP Setia Kawan, Pasuruan, using 8 lactating dairy cows divided into two treatment groups. The first group was given Cipro Plus concentrate, and the second group was given Setia Feed. Analysis of the concentrate's nutrient content was performed proximately, while milk production was measured daily for four weeks of observation. The results showed a significant difference (p < 0.05) in the crude protein parameter between the two feed types, specifically 19.09% ± 0.45 for Cipro Plus compared to 16.79% ± 0.25 for Setia Feed. There were no significant differences in moisture content, ash content, crude fat, and crude fiber between the two feed types (p > 0.05). However, Setia Feed tended to have higher crude fat and lower crude fiber content compared to Cipro Plus. Daily milk production of cows fed Setia Feed was also significantly higher (9.1 ± 0.3 liters) compared to those fed Cipro Plus (8.3 ± 0.2 liters). These results indicate that Setia Feed concentrate is superior in increasing the milk productivity of dairy cows and is recommended for use in smallholder farms
Potret Praktik Peternakan Kerbau di Kabupaten Agam: Kajian Manajemen Pakan, Reproduksi, dan Kesehatan untuk Pengembangan Peternakan Berkelanjutan
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara deskriptif (1) praktik manajemen pakan, reproduksi, dan kesehatan peternakan kerbau tradisional di Kabupaten Agam, yang dikenal sebagai salah satu sentra populasi kerbau terbesar di Sumatera Barat dan memiliki potensi signifikan untuk pengembangan peternakan berkelanjutan, serta (2) menganalisis potensi pengembangannya mendukung sistem peternakan yang berkelanjutan. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif deskriptif melalui tiga metode utama, yaitu: (a) wawancara mendalam terhadap 60 peternak yang tersebar di 4 kecamatan sentra kerbau, (b) observasi langsung terkait kondisi kandang, sistem pakan, reproduksi, dan kesehatan hewan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem pemeliharaan kerbau masih bersifat ekstensif dengan manajemen pakan yang masih konvensional dan minim inovasi, seperti hanya mengandalkan hijauan alam tanpa penambahan nutrisi atau pengawetan pakan, pengelolaan reproduksi secara alami tanpa pencatatan siklus, serta sistem kesehatan hewan yang belum mengedepankan tindakan preventif. Meski demikian, terdapat potensi besar untuk pengembangan, antara lain melalui penguatan penyuluhan, pengenalan teknologi pakan dan reproduksi tepat guna, serta peningkatan akses terhadap layanan kesehatan hewan. Temuan ini mengindikasikan pentingnya intervensi terpadu berbasis komunitas dan kearifan local guna mendukung transformasi peternakan kerbau rakyat melalui pendekatan pelatihan teknis berbasis kelompok, pemanfaatan teknologi tepat guna, dan penguatan kelembagaan peternak lokal, sehingga tercipta sistem yang lebih produktif, adaptif, dan berkelanjutan
Indikator Tingkat Keberhasilan Program Sikomandan Terhadap Populasi, Pemotongan dan Produksi Daging Sapi Potong di Provinsi Kalimantan Selatan
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis data populasi, pemotongan, dan produksi daging sapi potong di Kalimantan Selatan selama periode 2021 hingga 2023, serta mengevaluasi dampak program SIKOMANDAN (Sapi Kerbau Komoditas Andalan Negeri) terhadap indikator-indikator tersebut. Program SIKOMANDAN dirancang untuk meningkatkan populasi dan produksi daging sapi melalui perbaikan mutu genetik dan manajemen ternak yang lebih baik. Data dianalisis menggunakan metode deskriptif serta uji Mann-Whitney untuk mengidentifikasi perbedaan signifikan antar tahun dalam jumlah pemotongan sapi. Hasil analisis menunjukkan bahwa populasi dan pemotongan sapi potong di Kalimantan Selatan tetap stabil selama tiga tahun terakhir. Uji Mann-Whitney menunjukkan tidak adanya perbedaan signifikan dalam jumlah pemotongan sapi antara tahun 2021, 2022, dan 2023 (p > 0,05). Produksi daging sapi juga menunjukkan tren yang stabil, meskipun program SIKOMANDAN telah diterapkan. Temuan ini mengindikasikan bahwa meskipun ada upaya peningkatan populasi dan produksi melalui program SIKOMANDAN, dampaknya terhadap produksi daging dan jumlah pemotongan sapi di Kalimantan Selatan masih belum signifikan. Kesimpulannya, stabilitas dalam populasi, pemotongan, dan produksi daging sapi potong menunjukkan bahwa sektor peternakan di Kalimantan Selatan memiliki ketahanan, namun memerlukan intervensi lebih lanjut agar program SIKOMANDAN dapat mencapai hasil yang lebih optimal. Penelitian ini merekomendasikan evaluasi dan penyesuaian strategi program SIKOMANDAN, serta peningkatan dukungan teknis dan infrastruktur untuk mendukung pencapaian swasembada daging nasional
Aktivitas Farmakologis Ekstrak Daun Bandotan (Ageratum conyzoides L.) dalam Bidang Kesehatan Hewan: Pharmacological Activity of Bandotan Leaf Extract (Ageratum conyzoides L.) in Animal Health
Kesehatan hewan memiliki peranan yang sangat penting dalam mendukung produktivitas ternak, kesejahteraan hewan, serta kesehatan masyarakat veteriner. Seiring dengan meningkatnya kekhawatiran terhadap dampak negatif penggunaan obat-obatan kimia, seperti antibiotik dan antioksidan sintetis, khususnya yang berkaitan dengan risiko resistensi antimikroba, toksisitas, serta residu, muncul kebutuhan akan alternatif alami yang lebih aman dan berkelanjutan. Salah satu tanaman yang berpotensi memenuhi kebutuhan tersebut adalah bandotan (Ageratum conyzoides Linn.). Tanaman ini mengandung berbagai senyawa fitokimia seperti flavonoid, fenol, alkaloid, dan tanin yang memiliki aktivitas farmakologis sebagai antioksidan, antimikroba, antiinflamasi, serta membantu menurunkan kadar kolesterol. Penelitian ini merupakan studi literatur dengan analisis deskriptif terhadap data sekunder dari jurnal dan artikel terakreditasi nasional dan internasional. Berdasarkan kajian pustaka dari berbagai sumber ilmiah, Ekstrak daun bandotan efektif menghambat peroksidasi lipid, menurunkan kolesterol dan trigliserida, serta meningkatkan bobot badan pada tikus. Pada ayam broiler, ekstrak ini menurunkan kolesterol, meningkatkan pertumbuhan, efisiensi pakan, kualitas daging, dan berfungsi sebagai agen antikoksidia alami.ABSTRACT
Kesehatan hewan merupakan salah satu hal terpenting dalam menunjang produktivitas peternakan, kesejahteraan hewan, dan kesehatan masyarakat veteriner. Meningkatnya kesadaran terhadap dampak negatif penggunaan obat-obatan kimia seperti antibiotik dan antioksidan sintetis, termasuk risiko resistensi, toksisitas, dan residu, mendorong pencarian alternatif berbasis bahan alam. Salah satu tumbuhan yang banyak ditemukan di wilayah tropis adalah bandotan (Ageratum conyzoides L.), yang dikenal sebagai gulma namun memiliki berbagai aktivitas farmakologis, seperti antioksidan maupun antibakteri. Penelitian ini merupakan kajian literatur yang mengkaji potensi ekstrak daun bandotan dalam bidang kesehatan hewan dengan menggunakan data sekunder dari berbagai sumber publikasi ilmiah. Hasil kajian menunjukkan bahwa ekstrak daun bandotan mengandung senyawa aktif yang berperan dalam menurunkan kadar kolesterol dan trigliserida, meningkatkan performa ayam broiler, serta berpotensi sebagai agen antikoksidia alami. Oleh karena itu, ekstrak bandotan dapat menjadi alternatif alami yang menjanjikan dalam mendukung kesehatan dan produktivitas ternak.
Kata Kunci: Ageratum conyzoides, aktivitas farmakologis, kesehatan hewa
Suplemen Ekstrak Buah Asam Kandis (Garcinia xanthochymus) dalam Air Minum terhadap Populasi Escherichia coli Usus Burung Puyuh (Coturnix coturnix japonica)
Garcinia xanthochymus (asam kandis) merupakan salah satu herbal yang dapat digunakan sebagai acidifier bagi puyuh dengan pemberian melalui air minum. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi suplemen asam kandis dalam air minum sebagai acidifier dengan perbedaan pH larutan yang digunakan, untuk menekan bakteri E. coli pada digesta dalam usus halus burung puyuh (Coturnix coturnix japonica). Uji daya hambat ekstrak asam kandis terhadap bakteri E. coli dilakukan dengan metode sumuran konsentrasi ekstrak asam kandis 100%-6,5% dan metode perhitungan populasi menggunakan konsentrasi asam kandis 0%-4%, kemudian dianalisis deskriptif. Perhitungan koloni bakteri E. coli pada digesta usus puyuh yang dipelihara menggunakan ransum yang mengandung protein 20,71% dan pemberian air minum yang ditambahkan ektrak asam kandis dengan pH 3,05; 2,4; 2,19 serta perlakuan kontrol yaitu tanpa ekstrak asam kandis. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ekstrak buah asam kandis sebagai acidifier pada puyuh periode layer mampu digunakan sebagai antibakteri dengan kategori daya hambat kuat dan pada perlakuan pH 2,19 dapat menurunkan jumlah koloni bakteri E. coli sampai Log 0,699 CFU/mL. Kesimpulan hasil penelitian menunjukkan pemberian ekstrak asam kandis pada air minum pada pH 2,19 digunakan sebagai acidifier
Efektivitas Ovsynch Protocol pada Kerbau Rawa dengan Paritas yang Berbeda
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi metode ovsynch protocol pada kerbau rawa dengan paritas yang berbeda. Sebanyak 18 ekor kerbau rawa betina dengan organ reproduksi sehat, normal dan tidak bunting digunakan dalam penelitian ini. Kerbau dibagi ke dalam tiga kelompok berdasarkan paritas, yaitu kerbau dara (P0), kerbau paritas satu (P1) dan kerbau paritas dua (P2) masing-masing terdiri dari enam ekor. Sinkronisasi estrus dilakukan menggunakan metode ovsynch protocol dengan injeksi hormon GnRH pada hari ke-1 dan ke-9, serta hormon PGF2a pada hari ke-7. Inseminasi buatakan dilaksanakan pada hari ke-10. Parameter yang diamati meliputi persentase respons estrus, intensitas estrus, dan tanda-tanda klinis estrus. Data dianalisis menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga perlakuan dan enam ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh kelompok paritas memberikan respoms estrus sebesar 100%. Analisis ragam terhadap intensitas estrus tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan antar kelompok (P>0,05). Demikian pula tanda-tanda klinis estrus cenderung lebih baik pada kelompok P2, namun secara statistik juga tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan (P>0,05). Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa metode ovsynch protocol efektif dalam menstimulasi estrus pada kerbau rawa terlepas dari perbedaan paritas
Pemakaian Produk Kulit Ubi Kayu dan Limbah Ikan yang Difermentasi dengan Bacillus amyloliquefaciens Dalam Ransum Ayam Broiler
Penggunaan bahan pakan asal limbah dalam ransum unggas memerlukan proses pengolahan bahan baku yang tepat apabila dijadikan pakan sumber protein atau energi dan diperlukan uji ransum pada unggas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan produk kulit ubi kayu dan limbah ikan tongkol fermentasi (KUKLIF) menggunakan inokulum Waretha yang terdiri dari bakteri Bacillus amyloliquefaciens. Sebanyak 100 ekor DOC ayam broiler strain New Lohmann. (MB-202 Platinum) digunakan dan diberi ransum perlakuan selama 5 minggu. Perlakuan adalah pemakaian KUKLIF dalam ransum. Ransum disusun dengan isoprotein 22% dan isoenergi 3.000 kkal/kg. Penelitian dilakukan menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan 5 perlakuan ransum dan 4 kali ulangan. Perlakuan terdiri dari R0: (kontrol, 0% KUKLIF), R1 (5%), R2 (10%), R3 (15%), R4 (20%). Peubah yang diamati adalah konsumsi ransum, pertambahan bobot badan, konversi ransum, dan persentase karkas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan level penggunaan produk KUKLIF dalam ransum menunjukkan pengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap konsumsi ransum dan pertambahan bobot badan, namun berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap konversi ransum, serta berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap persentase karkas. Kesimpulan penelitian adalah bahwa level penggunaan KUKLIF dalam ransum ayam broiler dapat diberikan sampai 15% dan dapat mempertahankan performa ayam broiler, dengan konsumsi ransum 669,30 g/ekor/minggu, pertambahan bobot badan 393,81 g/ekor/minggu, konversi ransum 1,70, dan persentase karkas 76,37%.ABSTRAK         Penggunaan bahan pakan asal limbah dalam ransum unggas memerlukan proses pengolahan bahan baku yang tepat apabila dijadikan pakan sumber protein atau energi dan diperlukan uji ransum pada unggas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemakaian produk limbah kulit ubi kayu dan limbah ikan tongkol fermentasi (KUKLIF) menggunakan inokulum Waretha yang terdiri dari bakteri Bacillus amyloliquefaciens. Sebanyak 100 ekor DOC ayam broiler strain New Lohmann (MB-202 Platinum) digunakan dan diberi ransum perlakuan selama 5 minggu. Perlakuan adalah pemakaian  KUKLIF dalam ransum. Ransum disusun dengan isoprotein 22% dan isoenergi 3000 kkal/kg. Penelitian dilakukan menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan 5 perlakuan ransum dan 4 kali ulangan. Perlakukan terdiri dari R0: (kontrol, 0% KUKLIF), R1 (5%), R2 (10%), R3 (15%), R4 (20%). Peubah yang diamati adalah konsumsi ransum, pertambahan bobot badan, konversi ransum, dan persentase karkas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan level penggunaan produk KUKLIF dalam ransum  menunjukkan pengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap konsumsi ransum dan pertambahan bobot badan, namun berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap konversi ransum, serta berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap persentase karkas. Kesimpulan penelitian adalah bahwa level penggunaan KUKLIF dalam ransum ayam broiler dapat diberikan sampai 15% dan dapat mempertahankan performa ayam broiler, dengan konsumsi ransum 669,30 g/ekor/minggu, pertambahan bobot badan 393,81 g/ekor/minggu, konversi ransum 1,70, and persentase karkas 76,37%
Pengaruh Limbah Industri Pangan dan Sampah Pasar Sebagai Media Maggot BSF Terhadap Biomassa, Frass, dan Penyusutan
Limbah industri pangan dan sampah pasar merupakan limbah dengan kandungan bahan organik tinggi belum banyak dimanfaatkan. Apabila tidak diolah dengan baik maka limbah organik dapat menimbulkan berbagai macam permasalahan. Salah satu cara pengolahan limbah adalah dengan reduksi sebagai media pertumbuhan maggot Black Soldier Fly (BSF). Hasil dari proses pertumbuhan maggot dengan media organik adalah biomassa maggot, frass maggot, dan penyusutan media. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh limbah industri pangan dan sampah pasar sebagai media pertumbuhan maggot terhadap biomassa maggot, frass maggot, dan penyusutan media. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimental dengan 3 perlakuan, P1 (media 100% sampah pasar), P2 (media 100% limbah industri pangan), dan P3 (kombinasi media 50% sampah pasar dan 50% limbah industri pangan) dengan ulangan sebanyak 6 kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua perlakuan tidak berpengaruh nyata terhadap biomassa maggot, tetapi berpengaruh nyata terhadap frass maggot dan penyusutan. Pada P3 merupakan perlakuan media terbaik untuk pertumbuhan maggot
The MACRO AND MICRO MINERAL STATUS OF FORAGE RUMINANTS: MACRO AND MICRO MINERAL STATUS OF FORAGE RUMINANTS
Tujuan penelitian ini adalah untuk mencari informasi kandungan mineral makro dan mineral mikro hijauan pakan ternak ruminansia dari rumput dan legum. Pengambilan sampel rumput dan legum dilakukan secara cuplikan dengan mengambil sebagian kecil untuk mewakili hijauan diarea Kabupaten Lombok Barat. Analisis sampel menggunakan SEM Merk JOEL Tipe JEM-7000 dan diitegrasikan dengan uji Energy Dispersive X-ray Spectroscopy (EDX). Pengamatan terhadap parameter dari penelitian ini berupa kandungan mineral makro dan mineral mikro hijauan pakan ternak.Analisis data menggunakan analisis statistik deskriptif berdasarkan mean, konversi dan tabulasi data kemudian diolah. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh kandungan mineral dalam HPT (Hijauan Pakan Ternak) yang bervariasi dari beberapa jenis rumput (graminae) dan kacang-kacangan (legumienosae) yang terbagi menjadi mineral makro dan mikro. Nilai rerata kandungan mineral makro HPT diperoleh 0,95% Ca, 0,74% P, 0,65% Mg, 8,18% K, 0,07% Na, 1,29% Cl dan S 0,42%. Sementara nilai rerata kandungan mineral mikro HPT yang diperoleh yaitu 0,35% Zn, 0,25% Fe, 0,16% Mn, 0,14% Cr, 4,58% Cu, 0,21% Co, 0,37% Mo, 019% Se, 0,25% I, 1,23% F, 9,89% Si, 0,09% Al dan 54,21% O. Kesimpulan hasil analisis menunjukkan bahwa nilai dari kandungan mineral makro dan mikro yang diperoleh dari hasil penelitian ini berada pada kisaran normal bila merujuk pada hasil NRC (2001) berada diatas kisaran normal.Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh penggunaan campuran daun ubi kayu dan
ampas tahu fermentasi (DUK–ATF) dengan Rhizopus oligosporus sebagai pengganti sebagian ransum
komersial terhadap bobot karkas, kadar kolesterol total, dan lemak kasar daging paha atas ayam broiler.
Penelitian menggunakan metode eksperimen dengan rancangan acak lengkap (RAL) dengan lima perlakuan
level DUK–ATF (0%, 5%, 10%, 15%, dan 20%) dan empat ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
peningkatan level DUK–ATF dalam ransum berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap bobot karkas, kadar
kolesterol total, dan lemak kasar daging paha atas broiler. Perlakuan penggunaan 15% (D) menghasilkan
kadar kolesterol 24,81 mg/100g dan lemak kasar 5,79%, yang secara signifikan lebih rendah dibandingkan
kontrol (38,39 mg/100g dan 7,42%), dengan bobot karkas 1329,90 g yang masih dalam kisaran normal.
Disimpulkan bahwa penggunaan DUK–ATF hingga 15% dapat meningkatkan kualitas daging ayam
broiler melalui penurunan kolesterol dan lemak tanpa menurunkan performa secara signifikan. Aplikasi
bahan pakan fermentasi ini juga berpotensi mendukung kemandirian pakan lokal dan pengelolaan limbah
agroindustri secara berkelanjutan
Aplikasi Pakan Total Mixed Ration (TMR) dengan Penambahan Corn Gluten Meal (CGM) untuk Domba Cross Awassi Fase Akhir Laktasi : The Addition of Corn Gluten Meal (CGM) in the Total Mixed Ration (TMR) on the Performance of Cross Awassi Sheep in the Late Lactation Phase
Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh penambahan Corn Gluten Meal (CGM) dalam Total Mixed Ration (TMR) terhadap performa domba cross Awassi fase akhir laktasi. Penelitian dilakukan di UD. Kambing Burja, Malang, menggunakan tiga ekor domba cross Awassi laktasi bulan ke-4 dengan pendekatan deskriptif komparatif. Perlakuan terdiri atas dua jenis pakan, yaitu TMR tanpa CGM dan TMR dengan penambahan CGM 5%, yang diberikan secara berurutan pada ternak yang sama selama 28 hari, dengan hari ke-1 hingga ke-14 untuk pemberian pakan dan koleksi data TMR tanpa CGM, serta hari ke-15 hingga ke-28 untuk TMR dengan CGM. Parameter yang diamati meliputi konsumsi bahan kering, pertambahan bobot badan harian (PBBH), produksi susu, Feed Conversion Ratio (FCR), dan Income Over Feed Cost (IOFC). Data dianalisis menggunakan uji t berpasangan dan analisis deskriptif. Hasil menunjukkan bahwa penambahan CGM tidak berpengaruh nyata (p>0,05), namun berpotensi sebagai sumber protein alternatif dalam formulasi pakan yang efisien secara nutrisi dan ekonomi.Domba Awassi merupakan salah satu jenis domba unggul yang dikenal memiliki produktivitas susu tinggi dan kemampuan adaptasi yang baik. Pada fase akhir laktasi, kebutuhan nutrisi meningkat untuk mempertahankan produksi susu dan kondisi tubuh. Namun, hasil pengamatan di Peternakan UD. Kambing Burja menunjukkan performa domba masih kurang optimal akibat ketidakseimbangan ransum. Salah satu solusi yang diterapkan adalah penggunaan pakan Total Mixed Ration (TMR) dengan penambahan Corn Gluten Meal (CGM), sebagai sumber protein tinggi dan protein bypass untuk meningkatkan ketersediaan nutrisi pada ternak laktasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh penambahan CGM dalam formulasi TMR terhadap konsumsi bahan kering, produksi susu, dan Feed Conversion Ratio (FCR) pada domba cross Awassi fase akhir laktasi. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimen menggunakan tiga ekor domba laktasi yang masing-masing menerima dua jenis perlakuan pakan, yaitu TMR non-CGM dan TMR CGM. Hasil analisis kandungan nutrisi menunjukkan bahwa TMR memiliki kualitas yang cukup baik, meskipun kandungan protein kasar masih berada di bawah standar yang direkomendasikan oleh NRC (2007). Analisis statistik menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan (p>0,05) antara kedua perlakuan terhadap seluruh parameter yang diamati. Namun, secara deskriptif, perlakuan TMR dengan CGM menunjukkan tren peningkatan performa, yang meliputi konsumsi bahan kering sebesar 2,09 kg/ekor/hari, pertambahan bobot badan harian mencapai 40,48 g/ekor/hari. produksi susu sebesar 0,67 liter/ekor/hari, dan FCR sebesar 3,27