Tugas Akhir Jurusan Teknik Elektro - Fakultas Teknik UM
Not a member yet
334 research outputs found
Sort by
PERBEDAAN HASIL BELAJAR DASAR PENGUKURAN LISTRIK MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM SOLVING DIBANDINGKAN DENGAN DISCOVERY LEARNING BERBANTUAN BUKU AJAR DASAR PENGUKURAN LISTRIK SISWA KELAS X PEMBANGKIT TENAGA LISTRIK di SMKS 3 PGRI KOTA MALANG
ABSTRAK Model pembelajaran merupakan salah satu komponen pendukung dalam kegiatan pembelajaran yang dapat meningkatkan kualitas pembelajaran dan hasil pembelajaran. Berdasarkan hasil observasi di SMKS 3 PGRI Kota Malang diketahui bahwa model pembelajaran yang digunakan dalam mata pelajaran dasar pengukuran listrik adalah model pembelajaran yang masih terpusat pada guru sehingga siswa menjadi pasif dan kurang memahami materi yang dipelajari akibatnya berdampak pada hasil belajar. Untuk membuat siswa menjadi lebih aktif, kreatif dalam berfikir serta dapat meningkatkan hasil belajar maka perlu diterapkannya model pembelajaran yang berbeda tujuan belajar dapat dicapai dengan optimal. Model pembelajaran Problem Solving dan Discovery Learningdapat digunakan sebagai alternatif model pembelajaran yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian quasi experimental design dengan desain nonequivalent control group desain. Dalam desain pola nonequivalent control group design kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol tidak dipilih secara random. Sampel pada penelitian ini menggunakan dua kelas, yaitu kelompok yang menggunakan model pembelajaran problem solving dan kelompok yang menggunakan model pembelajaran discovery learning. Kelas eksperimen satu adalah kelas yang diajar menggunakan model problem solving sedangkan kelas eksperimen dua adalah kelas yang diajar menggunakan model pembelajaran discovery learning. Instrumen penelitian terdiri dari instrumen penelitian dan instrumen pengukuran. Teknik analisis data menggunakan analisis statistik kuantitatif untuk menganalisis data kemampuan awal siswa dan hasil belajar siswa yang terdiri dari uji normalitas, uji homogenitas, uji kesamaan dua rata-rata, dan uji hipotesis.Berdasrkan hasil penelitian dan analisis data yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa: (1) hasil belajar siswa pada mata pelajaran Dasar Pengukuran Listrik kelas X Pembangkit Tenaga Listrik A yang menggunakan model pembelajaran problem solving ranah sikap diperolehnilai rata-rata 87,04, ranah pengetahuan 83,30, dan pada ranah keterampilan 87,04. (2) ) hasil belajar siswa pada mata pelajaran Dasar Pengukuran Listrik kelas X Pembangkit Tenaga Listrik B yang menggunakan model pembelajaran discovery learningranah sikap diperolehnilai rata-rata 93, ranah pengetahuan 86,76, dan pada ranah keterampilan 90,8. (3) hasil analisis signifikansi perbedaan hasil belajar pada mata pelajaran Dasar Pengukuran Listrik menggunakan model pembeajaran problem solving dengan model pembelajaran discovery learning diketahui bahwa tidak ada perbedaan yang siginifikansi rata-rata hasil belajar pada ranah sikap siswa, ada perbedaan yang siginifikansi rata-rata hasil belajar pada ranah pengetahuan siswa, dan tidak ada perbedaan yang siginifikansi rata-rata hasil belajar pada ranah keterampilan siswa. Kata kunci : Hasil Belajar, Model Pembelajaran Problem Solving, Model Pembelajaran Discovery Learning. ABSTRACT The learning model is one of the supporting components in learning activities that can improve the quality of learning and learning outcomes.Based on the observation in SMKS 3 PGRI Malang, it is known that the instructional model used in the basic subject of electrical measurement is the learning model that is still centered on the teacher so that the students become passive and less understanding of the learning material, it consequently impacts on the learning outcomes.To make students become more active, creative thinking can improve the learning outcomes, it is necessary to apply different learning models, so learning objectives can be achieved optimally.Learning modelProblemSolving andDiscovery Learning can beusedasalternative learning models that canimprove the results of student learning.The purpose of this research is: (1) To know the description of learning outcomes on subjects Basic Electrical Measurement using problem-solving model of class X students of Power Generation Technique in SMKS 3 PGRI Malang, (2) To know the description of learning outcomes in subjects Basic Electrical Measurement using mind-map model of class X students of Power Generation Technique at SMKS 3 PGRI Malang, (3) To know whether or not there is difference of learning result on Basic Element of Electricity Element using model of problem-solving and discovery learning student class X of Power Generation Engineering at SMKS 3 PGRI Malang.This research uses a quasi-experimentaldesign with nonequivalent control group design.In the design of nonequivalent control group design the experimental group or control group is not randomly chosen.The sample in this research uses two classes, that is a group which usesproblem-solving learning model and a group using discovery learning model.The experiment class is a class that is taught using problem-solving modelwhile the control class is a class that is taught using discovery learning model.The research instrument consists of research instruments and measurement instruments.The data analysis technique used quantitative statistical analysis to analyze the students' initial ability data and student learning outcomes consisting of normality test, homogeneity test, two-point equality test, and hypothesis test.Based on the results of the research and data analysis that has been done, then it can be concluded that: (1) student learning outcomes on the subjects Basic Electrical Measurement class X Power Station A using problem-solving learning model of attitude aspect obtainedan average score of 87.04, the knowledge domain of 83.30, and in the skill domain 87.04.(2) student learning outcomes on Basic Electrical Measurement element class X Power Station B using discovery learninglearning modelacting aspect is gainedthe average value of 93, the realm of knowledge 86.76, and in the realm of skills 90.8.(3) the result of the analysis of the significance of the difference of learning outcomes on the subjects of Basic Electrical Measurement using a teaching modelproblem solving with learning modeldiscovery learning is known that there is no significant difference in the average of learning outcomes in the student attitude aspect, there is a difference that signifies the average result learning in the realm of students knowledge, and there is no difference that signifies the average of learning outcomes in the student skill domain. Keywords: Learning Outcomes, ProblemSolving Learning Model,Discovery Learning Model
Pengembangan Bahan Ajar Berbasis PQ4R (Preview, Question, Read, Reflect, Recite, Review) Pada Mata Pelajaran Pekerjaan Dasar Elektromekanik Kelas X Semester 2 Kompetensi Keahlian Teknik Instalasi Tenaga Listrik di SMK Muhammadiyah 7 Gondanglegi
ABSTRAK Bahan ajar merupakan salah satu aspek penting dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran. Pendidik akan lebih terbantu dengan tersedianya bahan ajar, terlebih apabila bahan ajar tersebut sesuai dengan kurikulum sekolah. Pada kenyataannya bahan ajar yang tersedia masih terpaku pada kurikulum lama, sehingga menyebabkan pendidik kesulitan menyelaraskan materi pada kurikulum terbaru dengan bahan ajar tersebut. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan guru mata pelajaran Pekerjaan Dasar Elektromekanik kompetensi keahlian Teknik Instalasi Tenaga Listrik di SMK Muhammadiyah 7 Gondanglegi, diketahui bahwa belum tersedianya bahan ajar yang sesuai dengan kurikulum agar tujuan dari sebuah pembelajaran tercapai. Pengembangan ini bertujuan untuk membuat bahan ajar Pekerjaan Dasar Elektromekanik yang belum tersedia di SMK Muhammadiyah 7 Gondanglegi dan menguji kelayakan serta keefektifan bahan ajar bagi peserta didik kelas X semester 2. Bahan ajar ini berbentuk modul cetak berbasis strategi pembelajaran PQ4R (Preview, Question, Read, Reflect, Recite, Review) yang telah terbukti dapat membantu peserta didik dalam memahami hingga menghapal informasi atau materi yang telah dibaca dan dipelajari. Model pengembangan yang digunakan dalam penelitian ini diadopsi dari tiga model pengembangan, yakni model pengembangan ADDIE, Dick and Carrey dan Borg and Gall. Dengan langkah-langkah pengembangan sebagai berikut: (1) analisis kebutuhan bahan ajar; (2) desain pengembangan; (3) mengembangkan bahan ajar; (4) merancang & mengembangkan evaluasi formatif; (5) revisi akhir bahan ajar; dan (6) penyebarluasan bahan ajar. Subjek uji coba pada penelitian ini adalah peserta didik kelas X kompetensi keahlian Teknik Instalasi Tenaga Listrik di SMK Muhammadiyah 7 Gondanglegi sebagai uji kelayakan. Dengan menggunakan jenis data kuantitatif yang diperoleh dari skor angket dari validator isi dan format bahan ajar serta responden. Sedangkan data kualitatif berupa saran, kritik dan pendapat seluruh subjek uji coba. Setelah angket dan seluruh data dari validator isi dan format terkumpul, akan dilakukan analisis data dengan uji validasi. Apabila bahan ajar tersebut valid, maka siap untuk diuji kelayakan kepada responden. Setelah angket dan seluruh data dari responden terkumpul, akan dilakukan uji kelayakan dan keefektifitasan dari bahan ajar yang telah dikembangkan . Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa hasil review validator isi didapatkan skor 95,5% dengan kriteria sangat valid, hasil review validator format didapatkan skor 96,5% dengan kriteria sangat valid, uji coba perseorangan didapatkan skor 85,87% dengan kriteria sangat valid. uji coba kelompok kecil didapatkan skor 80,51% dengan kriteria sangat valid dan uji lapangan didapatkan skor 84,46% dengan kriteria sangat valid. Berdasarkan paparan data skor tersebut, modul Pekerjaan Dasar Elektromekanik berbasis PQ4R (Preview, Question, Read, Reflect, Recite, Review) Kelas X Semester 2 Kompetensi Keahlian Teknik Instalasi Tenaga Listrik di SMK Muhammadiyah 7 Gondanglegi dinyatakan sangat valid dan layak untuk digunakan dalam pembelajaran di sekolah
PENGARUH KEPRIBADIAN BELAJAR DAN EFEKTIVITAS PROSES PEMBELAJARAN TERHADAP PRESTASI BELAJAR PADA SISWA KELAS X JURUSAN TEKNIK ELEKTRONIKA INDUSTRI DI SMK NEGERI SE-KABUPATEN PASURUAN
ABSTRAK Khurniawan, Mohammad. 2017. Pengaruh kepribadian belajar dan efektivitas proses pembelajaran terhadap prestasi belajar pada siswa kelas X jurusan teknik elektronika industri di SMK Negeri Se-Kabupaten Pasuruan. Skripsi. Program Studi Pendidikan Teknik Elektro, Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik,Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Setiadi C.P., M.Pd, M.T (II) Drs. Dwi Prihanto., S.T., S.ST., M.Pd. Kata Kunci:kepribadian belajar, efektivitas proses pembelajaran, prestasi belajar. Berdasarkan pengamatan dan interaksi dengan siswakelas X Jurusan Teknik Elektronika Industri (TEI) SMK Negeri Se-Kabupaten Pasuruan, Prestasi belajar siswa dirasakan kurang optimal. Kepribadian belajar merupakan aspek penting untuk mendukung kegiatan belajar yang baik.Efektivitas proses pembelajaran dapat mempengaruhi prestasi belajar, karena proses pembelajaran yang efektif dapat menunjang prestasi belajar siswa. Kepribadian dan efektivitas proses pembelajaran yang ada mampu meningkatkan prestasi siswa dalam belajar. Tujuan penelitian adalah: (1) mendeskripsikan kepribadian belajar (X1); (2) mendeskripsikan efektivitas proses pembelajaran (X2); (3) mendeskripsikan prestasi belajar (Y); (4) mengetahui signifikansi hubungan antara X1 dengan Y; (5) mengetahui signifikansi hubungan antara X2 dengan Y; (6) mengetahui signifikansi hubungan secara simultan antara X1 dan X2 dengan Y pada siswa kelas X SMK Negeri Jurusan TEI di Kabupaten Pasuruan. Penelitian kuantitatif ini menggunakan rancangan deskriptif korelasional. Responden penelitian adalah siswa SMK kelas X Jurusan TEI di Kabupaten Pasuruan. Pengumpulan data masing-masing variabel menggunakan kuesioner dan dokumentasi. Nilai reliabilitas variabel X1 sebesar 0,728, dan variabel X2 sebesar 0,740. Untuk mengungkap hubungan X1 dengan Y dan hubungan X2 dengan Y menggunakan analisis korelasi parsial. Sedangkan untuk mengungkap hubungan X1 dan X2 secara simultan dengan Y menggunakan analisis regresi linear ganda. Hasil penelitian: (1) Y dikategorikan tinggi sebesar 69%; (2) X1 dikategorikan baik sebesar 73%; (3) X2 dikategorikan efektif sebesar 76%; (4) ada hubungan positif dan signifikan antara X1 dengan Y; (5) ada hubungan positif dan signifikan antara X2 dengan Y; (6) ada hubungan positif dan signifikan antara X1dan X2 secara simultan dengan Y. Kesimpulan penelitian adalah: (1) ada hubungan positif dan signifikan antara kepribadian belajar dengan prestasi belajar; (2) ada hubungan positif dan signifikan antara efektivitas proses pembelajaran dengan prestasi belajar; (3) ada hubungan positif dan signifikan antara kepribadian belajardan efektivitas proses pembelajaransecara simultan dengan prestasi belajar
PENERAPAN MODEL KOOPERATIF TIPE STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DEVISION (STAD) UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATA PELAJARAN TEKNIK DASAR ELEKTRONIKA SISWA KELAS X JURUSAN TEKNIK OTOTRONIK SMK NEGERI 6 MALANG
ABSTRAK Syafii. Imam. 2018. Penerapan Model Kooperatif Tipe Student Teams Achievement Division (STAD) untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Mata Pelajaran Teknik Dasar Elektronika Siswa Kelas X Jurusan Teknik Ototronik SMKN 6 Malang. Skripsi, S1 Pendidikan Teknik Elektro, Jurusan Teknik Elektro, Universitas Negeri Malang, Pembimbing: (1) Drs. Dwi Prihanto, S.ST.,M.Pd. (2) Ahmad Fahmi, S.T., M.T. Kata Kunci: Pembelajaran Kooperatif, STAD, aktivitas belajar, hasil belajar. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan di kelas X Ototronik 2 SMKN 6 malang, diketahui bahwa kegiatan pembelajaran kurang terlaksana dengan baik. Pada saat kegiatan pembelajaran TDE siswa terlihat mengantuk dan bosan. Dari 32 siswa dikelas X Ototronik 2, hanya sekitar tujuh sampai sembilan siswa yang aktif mengikuti proses pembelajaran. Hasil belajar siswa rendah yaitu hanya 36% siswa yang mendapat nilai diatas KKM dengan rata-rata nilai 65. Berdasarkan permasalahan tersebut, maka perlu dilakukan penelitian tentang penerapan pembelajaran yang dapat aktivitas dan hasil belajar siswa. Salah satu tindakan perbaikan adalah dengan penerapan model kooperatif tipe student teams achievement division (STAD) untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas X teknik ototronik SMKN 6 Malang. Penelitian ini mengacu pada model penelitian tindakan kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam 3 siklus tindakan. Subjek penelitian yang digunakan dalam penelitian tindakan kelas ini yaitu siswa kelas X Ototronik 2 semester ganjil tahun ajaran 2018-2019 SMKN 6 Malang yang berjumlah 32 siswa. Dalam penelitian ini data yang diperoleh berupa aktivitas dan hasil belajar siswa serta data pendukung berupa aktivitas guru. Hasil penelitian belajar untuk ranah pengetahuan menunjukkan penerapan model kooperatif tipe student teams achievement division (STAD) memiliki rata-rata 68 dengan persentase ketuntasan siswa 48.48% pada siklus I, selanjutnya rata-rata 72 dengan persentase ketuntasan siswa 78.78% pada siklus II, dan rata-rata 75 dengan persentase ketuntasan 100%. Untuk persentase hasil belajar ranah sikap menunjukkan predikat yang diperoleh siswa sebanyak dengan predikat C (cukup) rata-rata 72.6 pada siklus I, B (baik) rata-rata 88.4 pada siklus II dan SB (sangat baik) rata-rata 93.4. Sedangkan rata-rata hasil belajar ranah keterampilan meningkat disetiap siklusnya sebesar 70.6 pada siklus I, 79.2 pada siklus II dan 88.3 pada siklus III. Aktivitas yang dinilai adalah kegiatan visual, lisan, mendengarkan, menulis, menggambar, metrik, mental dan emosional. Aktivitas siswa meningkat dari rata-rata semua indikator dari 67.64% siklus I, 79.61% pada siklus II dan 91.43 pada siklus III. ABSTRACT Syafii. Imam. 2018. The Implementation of Cooperative Type of Student Teams Achievement Division (STAD) to Increase Students Learning Activities and Achievement Subject of Basic Techniques Electronics of Class X Ototronik Engineering of SMKN 6 Malang. Sarjana’s Thesis, S1 Education Electrical Engineering, Faculty of Engineering, State University of Malang, Advisors: (1) Drs. Dwi Prihanto, S.ST.,M.Pd. (2) Ahmad Fahmi, S.T., M.T. Key Words: Cooperative Learning STAD, learning activities, learning outcomes. Based on observations made in class X Ototronik 2 SMKN 6 unfortunate, it is known that the learning activities are less performing well. At the time of learning activities EFT students look sleepy and bored. Of the 32 students in class X Ototronik 2, only about seven to nine students who actively participates in the learning process. Student learning outcomes low at only 36% of students who scored above KKM with an average value of 65. Based on these problems, it is necessary to research on the application of learning that can activity and student learning outcomes. One corrective action is with the application of cooperative model type of student teams achievement division (STAD) to enhance the activity and results of class X student engineering ototronik SMKN 6 Malang. This study refers to the model of classroom action research (PTK) carried out in three cycles of action. Subjects used in the study of this class action is class X Ototronik second semester of the school year 2018-2019 SMKN 6 Malang totaling 32 students. In this study, the data obtained in the form of activity and student learning outcomes as well as supporting data in the form of teacher activity. Results of the research study to the realm of knowledge demonstrate the applicability of cooperative model type of student teams achievement division (STAD) has an average of 68 by the percentage of completeness students 48.48% in the first cycle, then an average of 72 by the percentage of completeness students 78.78% in the second cycle, and an average of 75 by the percentage of completeness 100%. To learn realm percentage yield shows the predicate obtained attitude of students as much as the predicate C (quite) an average of 72.6 in the first cycle, B (good) an average of 88.4 on the second cycle and SB (very good) an average of 93.4. While the average realm of skills improved learning outcomes in each cycle of 70.6 in the first cycle, second cycle and 79.2 to 88.3 in the third cycle. Activity assessed activities of visual, verbal, listening, writing, drawing, metrics, mental and emotional. Student activity increased from an average of 67.64% of all the indicators of the first cycle, the second cycle of 79.61% and 91.43 in the third cycle
Rancang Bangun Miniatur Sistem Saluran Distribusi Jaringan Radial dan Mesh
Jaringan distribusi merupakan bagian dari sistem tenaga listrik yang berguna untuk menyalurkan tenaga listrik dari sumber daya listrik sampai ke konsumen tenaga listrik yang memiliki beberapa sistem penyaluran. Sistem penyaluran jaringan distribusi memiliki beberapa jenis yaitu sistem Radial dan Mesh. Kedua sistem jaringan tersebut memiliki perbedaan sistem penyuplain listrik dari Gardu Induk (GI) ke konsumen. Sistem penyuplaian Radial ini di tarik secara radial dari suatu titik yang merupakan sumber dari jaringan yang kemudian di cabangkan ke masing-masing titik beban yang di layani. Sedangkan untuk sistem Mesh penyuplaian tenaga listrik dilakukan secara terus-menerus oleh dua atau lebih feeder pada gardu-gardu induk dari beberapa pusat pembangkit Tenaga Listrik yang bekerja secara parallel. Oleh karena itu, mengingat ruang lingkup kontruksi jaringan distribusi ini langsung berhubungan dan berada pada lingkungan daerah berpenghuni, maka selain harus memenuhi persyaratan kualitas teknis pelayanan, kita juga harus memenuhi persyaratan aman terhadap pengguna dan ramah terhadap lingkungan. Tahap perencanaan dan pemasangan suatu jaringan distribusi dimulai dengan survei lapangan untuk mendapatkan data yang nantinya akan digunakan dalam penentuan sistem saluran, kapasitas trafo pembebanan, jenis penghantar serta jenis tiang yang akan digunakan
tokoh rama dan sinta sebagai sumber inspirasi penciptaan karya lukis
ABSTRAK Barri, Sofi. 2018. Tokoh Rama dan Sinta Sebagai Sumber Inspirasi Penciptaan Seni Lukis. Skripsi, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang.Pembimbing: (I) Drs. Didiek Rahmanadji, M.Pd., (II) Fenny Rochbeind, S.Pd., M.Sn. Kata Kunci: Tokoh Rama dan Sinta, Penciptaan, Seni Lukis, Representasional. Tokoh Rama dan Sinta merupakan tokoh utama dalamcerita Ramayana. Ramayana adalah sebuah kisah kepahlawanan India sehingga tersebar dikepulauan Jawa dan menjadi kebudayaan Indonesia yaitu pewayangan Jawa. Kisah cinta Rama dan Sinta yang luar biasa dalam perjalanan hidupnya, akhirnya dikenang dan menjadi salah satucerita yang sangat popular dipewayangan.Dari kisah tersebut memiliki nilai-nilai kebaikan dan pesan moral bagi masyarakat Jawa. Jenis penelitian ini adalah penelitian penciptaan eni yang memaparkan penciptaan seni lukis representasioanl. Model proses kreatif Chaterina Patrick digunakan sebagai pedoman berkarya lukis mulai dari tahap persiapan, tahap penetasan, tahap inspirasi, dan tahap pengembangan. Pada tahap pengembangan proses kreatif dimulai dengan mewujudkan ide, konsep , dan tema kedalam enam karya lu kis representasional dengan menampilkan objek utama tokoh Rama danSinta. Pencipta menampilkan enam karya lukis dengan media estetik berupa garis, bentuk, dan warna sebagai simbolisasi dari konsep.Karakteristik dari keenam lukisan ini adalah objek utama tokoh Rama dan Sinta yang direpresentasikan secara ekspresif. Pada perwujudan objek utama figur manusia terjadi pengubahan bentuk tetapi masih dapat dikenali bentuk aslinya. Proses visualisasi karya memaparkan teknik, alat, dan bahan yang digunakan dalam berkarya kreatif, dilanjutkan dengan langkah perwujudan karya mulai dari membuat sketsa di atas kertas lalu memindahkan kekanvas. Proses pewarnaan menggunakan teknik gradasi dan teknik plakat, diakhiri dengan proses finishing karya. Melalui karya penciptaan ini, diharapkan mendapat apresiasi yang positif dari masyarakat sebagai apresian. Sesuai pesan moral melalui tokoh Rama dan Shinta membuat masyarakat memahami cerita Ramayana bukan hanya melalui pewayangan tetapi terimplementasikan di dalam kehidupan sehingga tumbuh rasa penghargaan terhadap nilai-nilai budaya lokal yang perlu dilestarikan
Perbedaan Hasil Belajar Pemrograman Dasar Karena Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Group Investigation (GI) Dibandingkan dengan Creative Problem Solving (CPS) Berbantuan Handout Pada Siswa Kelas X Multimedia (MM) di SMK Negeri 11 Malang
ABSTRAK Khasanah, Musfirati. 2017. Perbedaan Hasil Belajar Pemrograman Dasar karena Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Group Investigation (GI) Dibandingkan dengan Creative Problem Solving (CPS) Berbantuan Handout pada Siswa Kelas X Multimedia (MM) di SMK Negeri 11 Malang. Skripsi, Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (1) Dr. Setiadi Cahyono Putro.M.Pd., M.T.(2) Triyanna Widiyaningtyas, S.T., M.T. Kata Kunci : Group Investigation, Creative Problem Solving, Hasil. Penelitian ini dilatarbelakangi dengan permasalahan yang dihadapi siswa ketika proses pembelajaran Pemrograman Dasar berlangsung. Permasalahan tersebut meliputi kurangnya ketertarikan siswa dalam memahami materi, keaktifan siswa dalam berpendapat, ketarmpilan siswa dalam menyelesaikan suatu permasalahan kurang optimal, beberapa kelompok tidak mengerjakan tugas atau terlambat mengerjakan tugas, dan nilai UTS yang hampir 50% kelas tidak melampaui KKM. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hasil belajar siswa dalam ranah kognitif dan psikomotorik dengan menerapkan model Group Investigation dan Creative Problem Solving berbantuan handout. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk membandingkan hasil belajar ranah kognitif dan ranah psikomotorik diantara kedua model tersebut, sehingga diperoleh hasil yang maksimal dalam melakukan pembelajaran Pemrograman Dasar. Model pembelajaran Group Investigation merupakan model pembelajaran yang menekankan kerjasama antar siswa dalam menginvestigasi suatu permasalahan. Model pembelajaran Creative Problem Solving merupakan model pembelajaran dengan menekankan kerjasama antar siswa dalam memecahkan suatu permasalahan didasarkan pada keterampilan. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian eksperimen model quasi eksperimental yaitu pretest posttest dengan pendekatan kuantitatif. Kelas eksperimen yang akan diteliti sebagai sampel yaitu kelas X MM 1 dan X MM 2. Variabel yang diukur pada kedua kelas adalah hasil belajar ranah kognitif dan ranah psikomotorik. Kelas X MM 1 berjumlah 33 siswa diberi perlakuan model pembelajaran Group Investigationberbantuan handout. Kelas X MM 2 berjumlah 32 siswa diberi perlakuan model pembelajaran Creative Problem Solvingberbantuan handout. Teknik pengumpulan data meliputi observasi dan soal pilihan ganda. Teknik analisis data meliputi uji normalitas, uji homogenitas dan uji hipotesis. Hasil dari penelitian ini diperoleh (1)rata-rata hasil belajar kelas X MM 1 dalam ranah kognitif sebesar 70,303 dan ranah psikomotorik sebesar 70,303, sedangkan rata-rata hasil belajar kelas X MM 2 dalam ranah kognitif sebesar 79,375 dan ranah psikomotorik sebesar 77,031 (2)Hasil uji t dalam ranah kognitif dengan menerapkan model pembelajaran Group Investigation dan Creative Problem Solving sebesar 0,028, karena 0,028 < 0,05 maka terdapat perbedaan dalam ranah kognitif diantara keduanya. Hasil uji t dalam ranah psikomotorik dengan menerapkan model pembelajaran Group Investigation sebesar 0,046 dan Creative Problem Solving sebesar 0,045. Berdasarkan hasil tersebut, 0,046 < 0,05 dan 0,045 < 0,05 maka terdapat perbedaan dalam ranah psikomotorik diantara keduanya. Kesimpulan dari penelitian ini adalah (1) penelitian terhadap hasil belajar dalam ranah kognitif dengan menggunakan model pembelajaran Group Investigation diperoleh nilai tertinggi sebesar 100, nilai terendah sebesar 40 dan nilai rata-rata sebesar 70,303 (2) penelitian terhadap hasil belajar dalam ranah kognitif dengan menggunakan model pembelajaran Creative Problem Solving diperoleh nilai tertinggi sebesar 100, nilai terendah sebesar 40, dan nilai rata-rata sebesar 79,375 (3) penelitian terhadap hasil belajar dalam ranah psikomotorik dengan menggunakan model pembelajaran Group Investigation diperoleh nilai tertinggi sebesar 95, nilai terendah sebesar 50 dan nilai rata-rata sebesar 70,303 (4) penelitian terhadap hasil belajar dalam ranah psikomotorik dengan menggunakan model pembelajaran Creative Problem Solving diperoleh nilai tertinggi sebesar 95, nilai terendah sebesar 50, dan nilai rata-rata sebesar 77,031 (5) Hasil yang diperoleh dari model pembelajaran Group Investigation adalah 0,028 dan hasil dari model pembelajaran Creative Problem Solving adalah 0,028 (6) Hasil yang diperoleh dari model pembelajaran Group Investigation adalah 0,046 dan hasil dari model pembelajaran Creative Problem Solving adalah 0,045
PENGEMBANGAN MODUL INSTALASI DAN MANAJEMEN SERVER PADA MATA KULIAH KOMUNIKASI DATA DAN JARINGAN KOMPUTER UNTUK MAHASISWA PENDIDIKAN TEKNIK INFORMATIKA UNIVERSITAS NEGERI MALANG
RINGKASAN Mata kuliah Komunikasi Data dan Jaringan Komputer (KDJK) adalah salah satu mata kuliah yang wajib ditempuh oleh mahasiswa PTI Universitas Negeri Malang. Saat ini mata kuliah Komunikasi Data dan Jaringan Komputer sudah memiliki modul yang berkualitas dan memenuhi standar kebutuhan Akan tetapi ada suatu materi yang perlu dikuasai mahasiswa dan belum masuk ke dalam mata kuliah KDJK, materi tersebut adalah Instalasi dan Manajemen Server. Berdasarkan permasalahan di atas, maka perlu dikembangkan modul instalasi dan manajemen server yang valid dan sesuai perkembangan teknologi sebagai sumber belajar. Untuk selanjutnya materi instalasi dan manajemen server disarankan masuk ke dalam kurikulum S1 Pendidikan Teknik Informatika mata kuliah KDJK. Metode yang digunakan dalam pengembangan modul instalasi dan manajemen server adalah metode pengembangan Sadiman. Dalam model pengembangan Sadiman langkah yang dilakukan adalah identifikasi kebutuhan, perumusan tujuan, perumusan butir materi, perumusan pengukuran keberhasilan, penulisan naskah, ujicoba, revisi produk, siap produksi. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara dan observasi, sedangkan subjek uji coba adalah mahasiswa S1 Pendidikan Teknik Informatika angkatan 2015 yang sudah menempuh mata kuliah Komunikasi Data dan Jaringan Komputer. Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data maka didapatkan presentase hasil validasi dari ahli materi sebesar 88% yang tergolong sangat valid, hasil validasi media sebesar 87.50% yang tergolong sangat valid , hasil uji coba kelompok kecil sebesar 86.91% yang tergolong sangat valid, dan hasil uji coba kelompok besar sebesar 87,19% yang tergolong sangat valid. Dari hasil tersebut, dapat disimpulkan modul instalasi dan manajemen server sangat valid dan layak digunakan
Pengembangan Modul Instalasi dan Manajemen Server pada Mata Kuliah Komunikasi Data dan Jaringan Komputer untuk Mahasiswa Pendidikan Teknik Informatika Universitas Negeri Malang
RINGKASAN Mata kuliah Komunikasi Data dan Jaringan Komputer (KDJK) adalah salah satu mata kuliah yang wajib ditempuh oleh mahasiswa PTI Universitas Negeri Malang. Saat ini mata kuliah Komunikasi Data dan Jaringan Komputer sudah memiliki modul yang berkualitas dan memenuhi standar kebutuhan Akan tetapi ada suatu materi yang perlu dikuasai mahasiswa dan belum masuk ke dalam mata kuliah KDJK, materi tersebut adalah Instalasi dan Manajemen Server. Berdasarkan permasalahan di atas, maka perlu dikembangkan modul instalasi dan manajemen server yang valid dan sesuai perkembangan teknologi sebagai sumber belajar. Untuk selanjutnya materi instalasi dan manajemen server disarankan masuk ke dalam kurikulum S1 Pendidikan Teknik Informatika mata kuliah KDJK. Metode yang digunakan dalam pengembangan modul instalasi dan manajemen server adalah metode pengembangan Sadiman. Dalam model pengembangan Sadiman langkah yang dilakukan adalah identifikasi kebutuhan, perumusan tujuan, perumusan butir materi, perumusan pengukuran keberhasilan, penulisan naskah, ujicoba, revisi produk, siap produksi. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara dan observasi, sedangkan subjek uji coba adalah mahasiswa S1 Pendidikan Teknik Informatika angkatan 2015 yang sudah menempuh mata kuliah Komunikasi Data dan Jaringan Komputer. Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data maka didapatkan presentase hasil validasi dari ahli materi sebesar 88% yang tergolong sangat valid, hasil validasi media sebesar 87.50% yang tergolong sangat valid , hasil uji coba kelompok kecil sebesar 86.91% yang tergolong sangat valid, dan hasil uji coba kelompok besar sebesar 87,19% yang tergolong sangat valid. Dari hasil tersebut, dapat disimpulkan modul instalasi dan manajemen server sangat valid dan layak digunakan
Turbin Impuls Sebagai Penggerak Mula Alternator Berbasis Energi Air
RINGKASAN Air memiliki manfaat yang sangat besar bagi kehidupan manusia. Terbukti pada saat masyarakat mengeluh ketika air di saluran air tidak keluar. Salah satu pemanfaatan air yang cukup cerdas adalah dibentuknya pembangkit listik tenaga air skala kecil atau sering disebut dengan mikrohidro. Dari sisi konstruksi juga tidak terlalu banyak memerlukan biaya. Namun, daya yang dihasilkan oleh generator DC tidak terlalu besar seperti pembangkit listrik tenaga air biasanya. Komponen utama dalam pembangkit air adalah turbin. Turbin adalah alat yang berfungsi sebagai mengubah aliran fluida pada air menjadi energi gerak. Energi gerak inilah yang digunakan untuk menggerakkan generator DC, sehingga dapat menghasilkan energi listrik. Untuk kriteria lokasi hanya ada 2 syarat utama yaitu: (1) memiliki debit air yang mencukupi, dan (2) tidak terdapat sampah karena dapat menyumbat aliran air. Dan lokasi yang dipilih terletak di Desa Sidomulyo, Kota Batu. Di Desa Sidomulyo terdapat saluran irigasi yang cocok untuk pengaplikasian turbin impulse. Debit pada aliran saluran irigasi tersebut sebesar 0,6 . Dengan debit sebesar itu diperkirakan mampu untuk menghasilkan daya listrik sebesar 882,9 Watt. Namun, yang dihasilkan oleh generator hanya 50 Watt. Hal ini bisa disebabkan oleh kondisi geografis di lokasi penempatan atau karena kondisi alat yang kurang maksimal sehingga efisiensi dari alat ini berkurang. Terdapat rugi gesek, rugi angin, rugi histerisis, rugi tembaga, dan rugi besi