KOMUNIKATIF : Jurnal Ilmiah Komunikasi
Not a member yet
    177 research outputs found

    Komunikasi Interpersonal Termediasi Pekerja Laki-Laki Pengguna Badoo: Resiprokal dan Tak Terburu-buru

    Get PDF
     ABSTRACTCultural pressure to marry soon is not only experienced by women but also by men. Working adult men are under more intense pressure because they are considered mature, well-established, and culturally positioned as carriers of family/surname names. Amid the pressure of limited time and the perception of higher risk in offline communication, more and more people are using online dating applications to initiate interpersonal communication in search of partners, one of which is Badoo. Using a phenomenological research design with main data from interviews and documentation of informant conversations in Badoo, this study identified the characteristics of interpersonal communication among male workers in Bekasi: driven by practicality, prioritizing privacy, highly determined by reciprocity, and preferring medium pace of communication. The purpose of their interpersonal communication is mainly to find friends to then be chosen as partners. Communication through online dating applications was chosen because it is considered practical, protects privacy, and is better at neutralizing psychological barriers such as shame and self-doubt. Communication via Badoo functions as a starting point for building chemistry before moving on to offline relationships. As a means of first assessment and screening, interpersonal communication that occurs at Badoo can be interrogative. The informants used reciprocity as an indicator as well as a variable for the effectiveness of interpersonal communication.ABSTRAKTekanan kultural untuk segera menikah bukan hanya dialami perempuan, namun juga laki-laki. Bahkan, laki-laki dewasa yang sudah bekerja mendapat tekanan yang lebih intensif karena mereka dianggap matang, mapan, dan secara kultural diposisikan sebagai pembawa nama keluarga/marga. Di tengah himpitan waktu yang terbatas dan persepsi risiko yang lebih tinggi dalam komunikasi luring, makin banyak orang yang menggunakan aplikasi kencan daring untuk memulai komunikasi interpersonal guna mencari pasangan, salah satunya Badoo. Menggunakan desain penelitian fenomenologi dengan data utama wawancara dan dokumentasi percakapan informan di aplikasi Badoo, penelitian ini mengidentifikasi empat karakteristik komunikasi interpersonal para pekerja laki-laki di Bekasi: didorong oleh kepraktisan, mengedepankan privasi, sangat diwarnai oleh sikap timbal balik, dan lebih menyukai kecepatan komunikasi sedang. Tujuan komunikasi interpersonal mereka terutama mencari teman untuk kemudian yang terpilih menjadi pasangan. Komunikasi melalui aplikasi kencan daring dipilih karena dinilai praktis, melindungi privasi, dan bisa meruntuhkan hambatan psikologis seperti rasa malu dan tidak percaya diri. Komunikasi melalui Badoo difungsikan sebagai titik awal membangun chemistry sebelum berlanjut ke hubungan luring. Sebagai sebuah sarana penjajagan pertama kali dan skrining, komunikasi interpersonal yang terjadi di Badoo bisa bersifat interogatif. Informan menjadikan sikap timbal balik sebagai indikator sekaligus variabel efektivitas komunikasi interpersonal..

    The Relationship Between Mother’s Safety Competency and The Risk Perception in Sharenting Activities

    Get PDF
    Social media has attracted many groups of society to use it for various goals. Some parents use it as digital gallery for their children’s photographs, which is now becomes common digital activity in Instagram. In the midst of Instagram popularity, there is risk, lurks children’s safety. The risk includes misuse of children’s images or even kidnapping threat. The activity of sharing online information about children by parents is known as ‘sharenting’, which is mostly practiced by mothers. By practicing ‘sharenting’, they might violate children’s privacy rights. To avoid this, parents' digital literacy skill is needed. Parents’ digital literacy may affect their skill in using digital media, including safety competency. Thus, this research aims to measure the relationship between mother’s safety competencies and risk perception of children’s privacy in ‘sharenting’ activities. The method for this research is web survey, using questionnaire to collect the data from 385 mothers who have children under 13 years old, in accordance with Instagram’s age restriction policy, who live in East Java. The results show that the safety competency factor only correlates 14.4% with the mothers' risk perceptions of children's privacy. Another factor of 85.6% is not seen in this study. The weak relation between mothers’ safety competency and their risk perception of child’s privacy in this research shows that there are many other factors that can be explored in the future research.ABSTRAK Media sosial menarik banyak kalangan masyarakat untuk menggunakannya dengan berbagai tujuan. Beberapa orang tua menggunakannya sebagai galeri digital untuk foto anak-anak mereka, yang sekarang menjadi aktivitas digital yang umum di Instagram. Di tengah popularitas Instagram, terdapat risiko yang mengintai keselamatan anak-anak. Risiko tersebut termasuk penyalahgunaan gambar anak-anak atau bahkan ancaman penculikan. Kegiatan berbagi informasi daring tentang anak oleh orang tua dikenal dengan istilah ‘sharenting’, yang paling banyak dilakukan oleh para ibu. Dengan mempraktikkan 'sharenting', mereka mungkin melanggar hak privasi anak-anak. Untuk menghindari hal tersebut, orang tua perlu memiliki keterampilan literasi digital. Literasi digital orang tua dapat memengaruhi keterampilan mereka dalam menggunakan media digital, termasuk kompetensi keamanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur hubungan antara kompetensi keamanan ibu dan persepsi risiko atas privasi anak dalam kegiatan 'sharnting'. Metode penelitian yang digunakan adalah survei web, dengan menggunakan kuesioner untuk mengumpulkan data dari 385 ibu yang memiliki anak di bawah 13 tahun, sesuai dengan kebijakan pembatasan usia Instagram, yang tinggal di Jawa Timur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor kompetensi keamanan hanya berkorelasi 14,4% dengan persepsi risiko ibu terhadap privasi anak. Faktor lain sebesar 85,6% tidak terlihat dalam penelitian ini. Lemahnya hubungan antara kompetensi keselamatan ibu dan persepsi risiko mereka terhadap privasi anak dalam penelitian ini menunjukkan bahwa masih banyak faktor lain yang dapat dieksplorasi dalam penelitian selanjutnya.

    Peran Media Lokal dalam Pencegahan Radikalisme Guna Mendukung Kerukunan Beragama di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT)

    Get PDF
    Radicalism and terrorism are still common in Indonesia, so all parties have a common obligation to carry out prevention and countermeasures. Even the Press Council issued Press Council Regulation Number 01/Peraturan-DP/IV/2015 concerning Guidelines for Reporting on Terrorism on April 9, 2015. However, it is really not easy for the mass media to report and report on this issue in various situations and interests in Indonesia. Likewise for local media in East Nusa Tenggara (NTT). This study aims to find out how the role of local journalists in NTT is to perform their functions in preventing radicalism and supporting religious harmony in NTT Province. What obstacles they face in the field, as well as what kind of news construction they have to do in carrying out their duties. Mass media, terrorism and radicalism are theories that continue to develop in line with how the discourse of radicalism is inseparable from the role of mass media coverage in encouraging or inhibiting radicalization and existing acts of violence. The position of the media, both at the local, national and global levels, becomes very important in carrying out counter narration when there are efforts by parties who want to promote the idea of radicalism and terrorism in a region. This research will use the FGD method on 10 journalists from local media in NTT, as an effort to dig deeper into the real conditions in the field. However, nowadays with the strengthening of transnational radical groups, they are trying to do various ways to divide Indonesia, and it is very likely that it will be present in NTT as one of the heart of the province which has been considered very ideal in maintaining religious harmony.ABSTRAK Radikalisme  dan terorisme masih sering terjadi di Indonesia, sehingga semua pihak memiliki kewajiban bersama untuk melakukan pencegahan dan penanggulangannya.  Bahkan  Dewan Pers mengeluarkan Peraturan Dewan Pers Nomor 01/Peraturan-DP/IV/2015 tentang Pedoman Pemberitaan Terorisme pada 9 April 2015. Meski demikian sungguh tidak mudah untuk media massa melakukan peliputan dan pemberitaan isu ini dalam berbagai situasi dan kepentingan yang ada di Indonesia. Demikian juga bagi media-media lokal yang ada di Nusa Tenggara Timur (NTT). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana sesungguhnya peran jurnalis lokal di NTT untuk melakukan fungsinya dalam mencegah radikalisme dan mendukung kerukunan beragama di Provinsi NTT. Kendala apa saja yang mereka hadapi di lapangan, serta konstruksi pemberitaan seperti apa yang mereka harus lakukan dalam menjalankan tugasnya.  Media massa, terorisme  dan radikalisme menjadi teori yang terus berkembang sejalan dengan bagaimana wacana radikalisme  tidak terlepas dari peran liputan media massa dalam mendorong atau menghambat radikalisasi dan tindakan kekerasan yang ada. Posisi media baik di tingkat lokal, nasional maupun global, menjadi sangat penting dalam melakukan narasi balasan (counter narration) ketika ada upaya pihak-pihak yang ingin mempromosikan gagasan radikalisme dan terorisme di sebuah wilayah. Riset ini akan menggunakan metode FGD pada 10 jurnalis dari media-media lokal yang ada di NTT, sebagai upaya menggali lebih dalam kondisi riil yang ada di lapangan. Bagaimanapun juga saat ini dengan makin menguatnya kelompok radikal yang bersifat transnasional, mereka berupaya melakukan berbagai cara untuk memecah belah Indonesia, dan sangat mungkin akan hadir di NTT sebagai salah satu jantung provinsi yang selama ini dianggap sangat ideal dalam menjaga kerukunan umat beragama

    “The Real Green” or Just Gimmick: The Implementation of Green Concept in Inagro’s Instagram

    Get PDF
    This research paper raises the issue of green marketing in content that usually has a figurative meaning or is also called an oxymoron because a green product is a product that is not produced through a fabrication process. However, this research explores if the product is indeed a product that comes from nature. In addition, this paper examines further the relationship between content publishing for a pro-environmental company, namely PT, Intidaya Agrolestari (Inagro), on its Instagram account @inagro.id. This research examines the application of green concept content on the @inagro.id account and its suitability with data in the field. The method used in this research is a virtual observation of the @inagro.id Instagram account, field observations, interviews, and documentation. The results show that if there are differences with previous research regarding green marketing, the company only used advertising to label its products as green products. With the help of a case study from Inagro, publishing content on the @inagro.id Instagram account is limited to only informing the products and services offered, including various facilities, atmosphere, and also nature-based educational packages. The implementation of the green concept has not been seen explicitly, even though the content has met the green criteria. Nevertheless, Inagro as a nature-based tourist destination has at least highlighted a green atmosphere and is not a gimmick. The content of the Instagram channel has been examined to determine whether it offers additional information through the Inagro case study, where the product being offered is one manufactured from nature. Images used to conceal products don't always serve to mislead the production process; instead, they encourage further discussion that isn't just centered on information about product for labeling green but also information that raising visitor awareness of concern for the environment.ABSTRAK Penelitian ini mengangkat isu green marketing dalam konten yang biasanya memiliki arti kiasan atau disebut juga oxymoron karena produk green merupakan produk yang tidak diproduksi melalui proses fabrikasi. Namun, penelitian ini mengeksplorasi jika produk dari perusahaan yang diteliti memang produk yang berasal dari alam. Selain itu, tulisan ini mengkaji lebih jauh hubungan antara penerbitan konten untuk perusahaan pro lingkungan yaitu PT Intidaya Agrolestari (Inagro), pada akun Instagram @inagro.id. Penelitian ini mengkaji penerapan konten konsep green pada akun @inagro.id dan kesesuaiannya dengan data di lapangan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi virtual akun Instagram @inagro.id, observasi lapangan, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan jika terdapat perbedaan dengan penelitian sebelumnya mengenai green marketing yang dimanfaatkan perusahaan hanya memanfaatkan periklanan untuk melabeli produknya sebagai produk green. Dengan melalui studi kasus dari Inagro, penerbitan konten di akun Instagram @inagro.id terbatas hanya menginformasikan produk dan jasa yang ditawarkan, termasuk beragam fasilitas, atmosfer, dan juga paket edukasi berbasis alam. Penerapan konsep green belum terlihat secara eksplisit, meskipun di dalam kontennya telah memenuhi kriteria green. Meskipun demikian, Inagro sebagai tempat wisata berbasis alam setidaknya telah menonjolkan atmosfer yang green dan bukan merupakan gimik. Melalui studi kasus Inagro, konten yang dianalisis di channel Instagram menunjukkan jika mengandung informasi lain dan mengajak pada diskusi mengenai green lebih lanjut. Produk yang dikemas melalui gambar tidak selalu gambar yang menipu proses pembuatannya, melainkan mengundang diskusi lebih lanjut, tidak semata-mata terfokus pada informasi yang mempromosikan hijau, tetapi informasi yang meningkatkan kesadaran akan kepedulian lingkungan bagi pengunjung

    Melihat Dunia dengan Simulakra (Mengkaji Baudrillard dan Masyarakat Konsumsi)

    Get PDF
    This paper is a literature review that elaborates Baudrillard's thoughts on Simulacra in Consumption Society which can be used as a study in understanding the phenomenon of consumption society today and in the future. Basically, according to Baudrillard, consumption in its process can be analyzed in two basic perspectives, namely: as a process of meaning and communication based on rules (code), where consumption practices appear and receive their meaning. Here, consumption is a language-appropriate system of exchange. Second, as a process of social classification and differentiation, this time defines objects/signs not only as significant differences in one code, but as values (rules) that are appropriate in a hierarchy. Consumption can be the subject of strategic power-determining discourse here, especially in the distribution of values that follow rules (except in relation to other social signals: knowledge, power, culture, etc.). In other words, Baudrillard's theory is able to connect the dynamics of consumption society with self-actualization and social needs.ABSTRAKNaskah ini merupakan tinjauan literatur yang mengelaborasi pikiran Baudrillard tentang Simulakra dalam Masyarakat Konsumsi yang bisa digunakan sebagai kajian dalam memahami fenomena masyarakat konsumsi saat ini dan selanjutnya. Pada dasarnya menurut Baudrillard konsumsi dalam prosesnya dapat dianalisis dalam dua perspektif dasar, yaitu: sebagai proses pemaknaan dan komunikasi berdasarkan aturan (kode), di mana praktik konsumsi muncul dan menerima maknanya. Di sini, konsumsi adalah sistem pertukaran yang sesuai dengan bahasa. Kedua, sebagai proses klasifikasi dan diferensiasi sosial, kali ini menetapkan objek/tanda tidak hanya sebagai perbedaan yang signifikan dalam satu kode, tetapi sebagai nilai (aturan) yang sesuai dalam suatu hierarki. Konsumsi dapat menjadi subjek diskursus penentu kekuatan strategis di sini, terutama dalam distribusi nilai yang mengikuti aturan (kecuali dalam kaitannya dengan sinyal sosial lainnya: pengetahuan, kekuasaan, budaya, dll). Dengan kata lain teori Baudrillard mampu mengkoneksikan dinamika masyarakat konsumsi dengan aktualisasi diri dan kebutuhan sosial

    Ahok dalam Internet Meme (Analisis Semiotika Penggambaran Ahok sebagai Pemimpin dalam Internet Meme)

    Get PDF
    Sosok Ahok banyak digambarkan dalam beragam media komunikasi baik media konvensional maupun media modern berbasis digital seperti meme di internet yang tersebar luas dalam masyarakat. Meme sendiri sebagai media komunikasi yang dikreasikan oleh individu bersifat sangat anonim, banyak digunakan oleh para pengguna internet, khususnya pengguna media sosial. Munculnya meme sebagai media pesan di berbagai media sosial kian menambah bahan bagi para netizen (internet citizen) – sebutan untuk para pengguna internet –yang kreatif untuk menciptakan pesan-pesan sosialnya. Dalam beberapa kasus, meme seringkali digunakan untu mengkomunikasikan pesan khusus dengan konsep humor atau sindiran. Penyajian konten tentang Ahok pun beragam, mulai dari sekedar sindiran tidak penting sampai problematika politik pun menjadi kajian meme. Dikemas dalam kajian konten yang sangat beragam dan tak terhitung jumlahnya, karakter Ahok yang kerap dikatakan kasar dan tak tahu sopan santun. Penelitian ini kemudian berfokus pada penggambaran Ahok sebagai Gubernur DKI Jakarta dalam internet meme. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode analisis semiotika C.S.Peirce. Didapatkan hasil bahwa Penggambaran Ahok sebagai pemimpin dalam internet meme adalah sang pemimpin yang terbiasa bertutur kasar tanpa tata karma, Ahok sebagai pemimpin yang sukar menghargai perasaan orang lain, bahkan Ahok pemimpin Tionghoa dan Kristen yang tak cukup pantas memimpin, masih menempel pada makna tanda di beberbapa internet meme yang telah dianalisis. Namun disisi lain, pada kumpulan teks di internet meme lainnya, Ahok digambarkan sebagai sosok yang berani, berkharisma, bertekad kuat, jujur, dan pantang mundur. Bahkan Ahok ditampilkan sebagai pemimpin yang sempat dirindukan karena prestasi kinerja dan keberhasilannya dalam memimpin

    Penyerangan Mabes Polri Dalam Bingkai Media (Analisis Framing Tribunnews.com dan Republika.co.id)

    Get PDF
    Pemberitaan peristiwa penyerangan Markas Besar Polisi Republik Indonesia (Mabes Polri) di media online menimbulkan komentar kontroversi dikalangan pengamat terorisme. Hal ini berkaitan dengan adanya penonjolan isu yang dikonstruksikan oleh media terkait pelekatan label “teroris” terhadap pelaku penyerangan Zakiah Aini. Beberapa pengamat mengatakan bahwa tindakan penyerangan merupakan aksi terorisme, namun ada pula pengamat yang berkomentar agar penyerangan tersebut tidak terlalu cepat dispekulasikan kearah tindakan terorisme. Peneliti menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan framing analisis model Robert N. Entman pada media online Tribunnews.com dan Republika.co.id yang memberitakan peristiwa penyerangan mabes polri oleh Zakiah Aini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa frame yang dibangun oleh kedua media online tersebut sangat berbeda. Frame yang dibangun oleh Tribunnews.com adalah terorisme stigmatik ideology yakni aksi tersebut dilakukan karena adanya ideologi dengan dalih jihad, sedangkan Republika.co.id mengarah kepada insiden penembakan. Penelitian ini memperlihatkan bahwa ideologi yang dibawa oleh setiap media berkontribusi terhadap konstruksi berita.

    Retorika dan Power Relations: Strategi Restorasi Citra Kepolisian Republik Indonesia pada Kasus Ferdy Sambo

    Get PDF
    This research aimed to identify Indonesian National Police (Polri) strategy in carrying out image restoration in the Ferdy Sambo case. The case of Ferdy Sambo attracted substantial public attention throughout the end of 2022 because it involved members of the National Police in criminal acts. This incident undermined the image and reputation of the National Police as a state apparatus whose function is to maintain security and order. Furthermore, the case of Ferdy Sambo has implications for a communication crisis along with reports in the media that involve many parties as sources so that it brings speculation on the image of the Police. A communication strategy to restore the image was required in crisis communication management, especially in the early period of the crisis in order to maintain the organization's reputation. This research used a qualitative approach with qualitative content analysis as the method. This study used William Benoit's strategy formulation as divided image restoration strategies into five categories: "Denial, Evading Responsibility, Reducing offensiveness of events, Corrective action, and Mortification". The findings showed that the Polri image restoration strategy at the beginning of the Ferdy Sambo case was reducing the offensiveness of the event which consisted of bolstering followed by corrective action, while the combination of strategies practice was bolstering, differentiation, compensation, and corrective action in the post-initial case. The image restoration strategy used in the clarification meeting with Commission III of the DPR RI was to assume the crisis as an accident, bolstering, corrective action and mortification. This study found another strategy in the data as the trait of the qualitative content analysis required interpretation, apart from the strategy described by Benoit, namely hierarchical power at the beginning of the crisis, authoritative support in the post-crisis beginning and continuous improvement in the clarification meeting with Commission III of the DPR RI. The organization's power relations with the public and stakeholders determine the rhetoric and various strategies in crisis communication.ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi strategi Polri dalam melakukan restorasi citra pada kasus Ferdy Sambo. Kasus Ferdy Sambo menarik perhatian besar publik sepanjang akhir tahun 2022 karena melibatkan para anggota Polri dalam tindakan kriminalitas. Peristiwa ini meruntuhkan citra dan reputasi Polri sebagai aparat negara yang berfungsi menjaga keamanan dan ketertiban. Selain itu, kasus Ferdy Sambo berimplikasi pada krisis komunikasi seiring dengan perberitaan-pemberitaan di media yang melibatkan banyak pihak sebagai narasumber sehingga membawa spekulasi pada citra Polri. Strategi komunikasi untuk merestorasi citra dibutuhkan dalam manajemen komunikasi krisis terutama pada periode awal krisis guna menjaga reputasi organisasi.  Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini ialah kualitatif dengan metode analisis isi kualitatif. Penelitian ini menggunakan rumusan strategi William Benoit yang membagi strategi restorasi citra menjadi lima kategori: “Denial, Evading Responsibility, Reducing offensiveness of event, Corrective action dan Mortification”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi restorasi citra Polri pada awal kasus Ferdy Sambo ialah reducing offensiveness of event yang terdiri dari bolstering dan diikuti dengan corrective action sedangkan pada paska awal kasus, kombinasi strategi yang digunakan ialah bolstering, differentiation, compentation serta corrective action. Strategi restorasi citra yang digunakan dalam rapat kerja dengan Komisi III DPR RI ialah melihat krisis sebagai kecelakaan, bolstering, corrective action dan mortification. Sebagaimana penelitian analisis isi kualitatif yang bersifat melakukan interpretasi data, peneliti menemukan strategi lain dalam data, di luar strategi yang dipaparkan Benoit yaitu hierarchical power pada awal krisis, authoritative support pada paska awal krisis serta continuous improvement dalam rapat kerja dengan Komisi III DPR RI. Power relations organisasi dengan publik maupun stakeholder yang dihadapinya menentukan retorika dan variasi strategi dalam komunikasi krisis.

    Pengalaman Komunikasi Kesehatan pada Anak Didik Pemasyarakatan di Lembaga Pembinaan Khusus Anak

    Get PDF
    Setiap anak dan remaja berhak untuk menjalani masa pertumbuhan yang baik dan sehat. Hal ini termasuk pada Anak Didik Pemasyarakatan (Andikpas) yang berada dalam Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA). “Andikpas” adalah istilah khusus yang diberikan kepada remaja yang melakukan tindak kriminal. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengalaman “Andikpas” dalam mendapatkan pelayanan kesehatan, motif serta pemaknaan terhadap pelayanan kesehatan yang ada di LPKA. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, metode fenomenologi dengan teknik pengumpulan data wawancara pada empat orang “Andikpas”. Hasil penelitian diketahui bahwa adanya “Andikpas” yang melapor kepada petugas dan teman jika mengalami sakit. Namun adanya “Andikpas” yang menahan diri untuk tidak menyampaikan rasa sakit. “Andikpas” tersebut berusaha untuk menyembunyikan rasa sakit dan kendala yang dihadapi. Motif yang mendorong “Andikpas” untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yakni motif kesembuhan diri yang termasuk dalam in order to motives dan motif kepatuhan yang berkaitan dengan because motives. “Andikpas” memaknai pelayanan kesehatan sebagai suatu sarana yang diberikan LPKA dengan tujuan agar “Andikpas” dapat menjalani aktivitas pembinaan dengan baik

    Dialog Antar Budaya: Interpretasi Video Musik Wonderland Indonesia

    Get PDF
    August 17, 2021, coinciding with the 76th Independence Day of the Republic of Indonesia, a music video with a duration of 08 minutes 15 seconds appeared on the Alffy Rev’s Youtube channel, which managed to top trending number 1 on Youtube. Wonderland Indonesia, which is used as the material object of this research, is a collaborative work that compiles nine folk songs and one national anthem mixed with Electronic Music Dance elements. This study examines the dialectic of the combination of technology, communications, and culture until an intercultural dialogue is finally found that offers an encounter with local cultures. The music video in this object study is visually used as a cultural code, including myths displayed in the form of a music video arrangement that imagines the wonders of Indonesia. The methodology in this study uses a descriptive qualitative approach which includes the interpretation meaning of the presence of images, music, and lyrics in the Wonderland Indonesia music video. This study found that the elements of motion and sound in Alffy Rev’s Wonderland Indonesia music video can play a role in presenting a cultural code that communicates with local cultural identity to the global realm. Likewise, it also offers intercultural dialogue for creating music videos in the Revolutionary era of 4.0. 17 Agustus 2021, bertepatan dengan hari raya kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-76 muncul video musik berdurasi 08 menit 15 detik di kanal Youtube Alffy Rev yang berhasil memuncaki trending nomor 1 di Youtube. Wonderland Indonesia yang dijadikan objek material dalam penelitian ini merupakan sebuah karya kolaboratif yang mengkompilasikan sembilan lagu daerah dan satu lagu nasional, dan diramu dengan elemen musik Electronic Music Dance. Kajian ini bertujuan menelaah dialektika perpaduan antara teknologi, komunikasi, dan budaya, hingga akhirnya ditemukan dialog antarbudaya yang menawarkan perjumpaan budaya lokal. Video musik dalam objek material kajian ini dijadikan kode kultural secara visual mencakup mitos yang ditampilkan dalam wujud sebuah tatanan musik video yang membayangkan keajaiban Indonesia. Dengan memakai pendekatan kualitatif deskriptif yang mencakup interpretasi makna dari kehadiran gambar, musik, dan lirik dalam video musik wonderland Indonesia. Hasil penelitian ini bahwa elemen-elemen gerak dan bunyi dalam video musik Wonderland Indonesia karya Alffy Rev dapat dapat berperan menghadirkan kode kultural yang mengkomunikasikan identitas kultural lokal ke ranah global, selain juga menawarkan dialog antarbudaya bagi penciptaan karya video musik di era Revolusi 4.0

    164

    full texts

    177

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    KOMUNIKATIF : Jurnal Ilmiah Komunikasi
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇