KOMUNIKATIF : Jurnal Ilmiah Komunikasi
Not a member yet
177 research outputs found
Sort by
Implementasi Manajemen Reputasi Selebriti Dalam Krisis Citra : Analisis Konten Media Instagram @panncafe
Reputation is crucial especially public figures and celebrities. For celebrities, reputation differentiates them from others. It attracts the public to idolize these celebrities. However, reputation can be damaged when a celebrity experiences a crisis. This research focuses on the image restoration of Kim Soo Hyun, whose reputation is currently declining due to a dating scandal with another South Korean celebrity, Kim Sae Ron. This crisis is widely discussed among K-pop fans. It has become a focus in the context of crisis management with intense and massive information dissemination. This study uses a qualitative content analysis method based on Instagram content @panncafe regarding the crisis experienced by Kim Soo Hyun in March 2024 - May 2025. Instagram @panncafe was chosen as Korean entertainment agencies tend to provide statements through the press directly. The analysis is based on Benoit's image repair theory and crisis communication strategies. The results of this study found that Kim Soo Hyun and his agency used the strategies of denial, evading responsibility, reducing offensiveness, and mortification to repair their reputation. Kim Soo Hyun and his agency provided a consistent and active response to every information regarding the crisis. There is a pattern of changing responses from Kim Soo Hyun and his agency, namely tending to quickly deny every allegation. Nevertheless, they are admitting some of the information conveyed after rechecking. This crisis has a negative impact on the reputation of Kim Soo Hyun and his agency as they appear to have no standing in this case.
ABSTRAK Reputasi merupakan hal yang penting bagi setiap individu, terutama tokoh public dan selebriti. Bagi para selebriti, reputasi menjadi pembeda antara dirinya dengan orang lain. Ini menjadi daya tarik bagi masyarakat sehingga dapat mengidolakan selebriti dimaksud. Namun, reputasi ini bisa rusak terutama ketika selebriti mengalami krisis. Penelitian ini fokus pada perbaikan reputasi selebriti yaitu Kim Soo Hyun, yang merupakan selebriti yang sedang mengalami penurunan reputasi akibat skandal dating dengan selebriti Korea Selatan lainnya yaitu Kim Sae Ron. Krisis ini banyak dibicarakan di kalangan penggemar Kpop, serta menjadi sorotan dalam konteks penanganan krisis dengan penyebaran informasi yang intens dan massif. Penelitian ini menggunakan metode analisis isi kualitatif berdasarkan konten Instagram @panncafe mengenai krisis yang dialami oleh Kim Soo Hyun pada bulan Maret 2024 – Mei 2025. Instagram @panncafe dipilih karena menjadi sumber informasi berita entertainment Korea Selatan. Hal ini dikarenakan agensi hiburan Korea cenderung memberikan pernyataan melalui pers secara langsung. Analisis didasarkan pada teori perbaikan citra oleh Benoit serta strategi komunikasi krisis. Hasil penelitian ini menemukan bahwa Kim Soo Hyun dan agensinya menggunakan strategi denial, evading responsibility, reducing offensiveness, dan mortification untuk memperbaiki reputasinya. Kim Soo Hyun dan agensinya memberikan respons yang konsisten terhadap setiap informasi yang disebarkan mengenai krisis. Terdapat pola respons yang berubah – ubah dari Kim Soo Hyun dan agensinya, yaitu cenderung cepat membantah setiap dugaan. Namun pada akhirnya mengakui sebagian dari informasi yang disampaikan setelah melakukan pengecekan kembali. Hal ini justru berdampak negatif pada reputasi Kim Soo Hyun dan agensi dimana mereka terkesan tidak memiliki standing position dalam kasus ini
Megawati VS Jokowi di Pemilu 2024 (Analisis Semiotika Desain Sampul Majalah Tempo “Bara Dalam Sekam Jokowi-Mega”)
Situasi politik di Indonesia menghangat di Pemilihan Umum 2024. Keputusan Mahkamah Konstitusi mengubah batas usia pendaftaran calon presiden dan wakil presiden pada 16 Oktober 2023. Hasilnya, Gibran Rakabuming Raka yang masih berusia di bawah 40 tahun berhasil mengikuti konstetasi Pemilu 2024, bersama Prabowo Subianto. Hal ini turut menimbulkan perbedaan pandangan politik antara Jokowi, Gibran, yang justru tidak mendukung Ganjar-Mahfud yang diusung oleh PDIP. Momen ini menjadikan media tidak putus mengulas dan melakukan kritik sosial sebagai salah satu tugasnya. Kondisi inipun terdokumentasi lewat ilustrasi dalam Majalah Tempo di desain sampul edisi “Bara Dalam Sekam Jokowi-Mega” yang sarat akan kritik sosial dalam bahasa visual. Menggunakan metode penelitian analisis semiotika Roland Barthez, yang menganalisis bagaimana makna denotatif, konotatif, hingga mitos di belakang sebuah objek, peneliti melihat Tempo menggambarkan Jokowi meninggalkan partai yang telah membesarkan langkah politiknya selama ini, PDIP Perjuangan. Momen ini punya banyak analisis pertimbangan, mulai dari ketidakcocokan dalam program pemerintahan, adanya pergesekan otoritas dan kekuasaan antara Jokowi dan Megawati, hingga momen Jokowi yang tidak ada menampilkan penolakan akan keikutsertaan anaknya menjadi bakal calon wakil presiden dari Prabowo Subianto. Hasilnya, efek ‘perpindahan’ kubu yang secara tidak langsung dilakukan oleh Jokowi, membuat Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka sah menjadi Capres dan Cawapres terpilih yang ditetapkan oleh KPU. Desain majalah Tempo edisi ini menampilkan kritik media akan tindakan implisit penguasa akan naluri menggunakan aturan negara, untuk menjawab keinginan pribadi. Secara mendalam, kondisi ini mencerminkan feodalisme yang kental pada negara demokrasi
Transformasi Komunikasi Antarbudaya di Perbatasan Indonesia–Timor Leste Melalui Media Sosial Facebook
The border communities of Indonesia and Timor Leste present intriguing social and cultural phenomena. The social relations between these border communities in both countries remain strong due to kinship ties and historical proximity, despite being separated by national administrative boundaries. The aim of this study is to analyze the cross-cultural communication patterns of the Indonesia-Timor Leste border communities through Facebook social media and to explore the meanings attached to digital interactions on social media by these communities. This qualitative research adopts an interpretive paradigm, employing a media ethnography methodology. Data collection was carried out through observations and in-depth interviews with community members, including youth, women, and community leaders. The findings indicate that social media has brought about a transformation in cross-cultural communication within the border communities, where Facebook has "replaced" conventional communication that previously relied on physical visits for socio-cultural activities between the Indonesia-Timor Leste border populations. The border communities also perceive the use of Facebook as a space to strengthen kinship, preserve cultural identity, and support local border economic activities. However, this study also identifies negative impacts of Facebook use, such as disputes arising from misinterpretations in digital communication, which are often resolved through culturally-based conflict resolution mechanisms. Overall, this research demonstrates that social media not only functions as a communication tool but also as a cultural space in which the Indonesia-Timor Leste border communities maintain their connectivity, identity, and solidarity.
ABSTRAK Masyarakat perbatasan Indonesia dan Timor Leste menyimpan fenomena sosial dan budaya yang menarik. Relasi sosial masyarakat perbatasan di kedua negara ini tetap terjalin erat karena adanya ikatan kekerabatan dan kedekatan historis, meskipun terpisah oleh batas administratif negara. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis pola komunikasi antarbudaya masyarakat perbatasan Indonesia–Timor Leste melalui media sosial Facebook dan mengeksplorasi makna yang dilekatkan masyarakat perbatasan terhadap interaksi digital di media sosial. Penelitian kualitatif ini menggunakan paradigma interpretatif, dengan metode etnografi media. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, dan wawancara mendalam dengan masyarakat, termasuk pemuda, perempuan, dan tokoh masyarakat. Temuan penelitian menunjukkan bahwa media sosial telah membawa transformasi dalam komunikasi antarbudaya pada masyarakat perbatasan di mana Facebook “menggantikan” komunikasi konvensional yang mengandalkan kunjungan fisik untuk aktifitas sosial budaya di kalangan masyarakat perbatasan Indonesia-Timor Leste. Masyarakat perbatasan juga memaknai penggunaan Facebook sebagai ruang untuk memperkuat kekerabatan, mempertahankan identitas budaya, dan mendukung kegiatan ekonomi lokal perbatasan. Namun, penelitian ini juga menemukan dampak negatif dari penggunaan Facebook berupa perselisihan akibat salah tafsir dalam komunikasi digital, yang kerap diselesaikan melalui mekanisme penyelesaian konflik berbasis budaya. Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa media sosial tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai ruang budaya di mana masyarakat perbatasan Indonesia-Timor Leste mempertahankan keterhubungan, identitas, dan solidaritas mereka
Pembacaan Ulang Teori Pembelajaran Sosial Bandura sebagai Strategi Komunikasi dalam Konteks Pembelajaran Literasi Digital Lansia
Digital literacy is crucial for older adults to maintain independence and social connectedness. However, skill gaps, psychosocial barriers, and limited adaptive communication strategies hinder their participation. This article aims to develop a communication strategy framework based on Bandura’s Social Learning Theory to enhance elderly digital literacy learning. The study employs a targeted theoretical review of five relevant studies from Scopus, SpringerLink, Google Scholar, ScienceDirect, and DOAJ. The thematic synthesis identifies six key strategies: presenting relatable role models, providing verbal and emotional reinforcement, creating supportive learning environments, using real-life scenarios, strengthening outcome expectations, and applying personalized adaptive approaches. Each strategy is linked to Bandura’s core components: observational learning, modeling, and the strengthening of self-efficacy. Bandura's Social Learning Theory as a communication strategy is important in empowering the elderly to face the challenges of the digital world because it builds their intrinsic motivation to learn and strengthens their self-confidence.
ABSTRAK Literasi digital menjadi kebutuhan krusial bagi lansia untuk mempertahankan kemandirian dan keterhubungan sosial. Namun, kesenjangan keterampilan, hambatan psikososial, dan keterbatasan komunikasi edukatif adaptif menghambat partisipasi mereka. Artikel ini bertujuan menyusun kerangka strategi komunikasi berbasis Teori Pembelajaran Sosial Bandura untuk memperkuat pembelajaran literasi digital lansia. Kajian dilakukan melalui targeted theoretical review terhadap lima studi relevan dari basis data Scopus, SpringerLink, Google Scholar, ScienceDirect, dan DOAJ. Analisis sintesis mengidentifikasi enam strategi utama: menghadirkan model sebagai teladan, penguatan verbal dan emosional, penciptaan lingkungan belajar yang mendukung, penggunaan skenario kehidupan nyata, penguatan outcome expectations, serta pendekatan personal dan adaptif. Setiap strategi terkait dengan komponen utama Bandura, yaitu observational learning, modeling, dan penguatan self-efficacy. Teori Pembelajaran Sosial Bandura sebagai strategi komunikasi menjadi penting dalam memberdayakan lansia dalam menghadapi tantangan dunia digital karena membangun motivasi intrinsik lansia untuk belajar dan memperkuat rasa percaya diri
Komunikasi Persuasif Berbasis AI: Strategi Retorika Chatbot dalam Adopsi Bitcoin oleh Mahasiswa
This study aims to analyze how rhetorical strategies—ethos, logos, and pathos—are applied in an AI chatbot to educate university students about Bitcoin and encourage its adoption wisely. The AI chatbot was developed using the Chatfuel platform and integrated with WhatsApp as the primary communication medium. In this study, the AI chatbot was tested on 117 students from Petra Christian University with basic knowledge of AI. The researcher evaluated the AI chatbot effectiveness through qualitative content analysis and a survey. The results indicate that the AI chatbot adjusts its communication approach based on user characteristics and question types. The ethos strategy was effective in building trust, while logos was preferred for providing logical clarity, particularly for technical and investment-related questions. Pathos was used to evoke emotional awareness regarding Bitcoin's risks. Gender-based analysis showed that female students responded more to ethos and pathos, whereas male students were more inclined toward logos. Additionally, the chatbot utilized logos for basic knowledge questions, pathos and logos for risk-related inquiries, and a combination of ethos and logos for security and investment-related questions.These findings confirm that AI chatbots can enhance students' financial literacy by effectively adapting their communication strategies. This study contributes to the understanding of AI-driven communication in financial education and opens opportunities for developing more personalized and interactive AI chatbots in the future.
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana strategi retorika ethos, logos, dan pathos diterapkan dalam chatbot AI untuk mengedukasi mahasiswa mengenai Bitcoin serta mendorong adopsinya secara bijak. Chatbot AI dikembangkan menggunakan platform Chatfuel dan diintegrasikan dengan WhatsApp sebagai media komunikasi utama. Dalam penelitian ini, chatbot AI diuji pada 117 mahasiswa Universitas Kristen Petra yang memiliki keahlian penggunaan AI , dan kemudian peneliti mengevaluasi efektivitas chatbot AI melalui analisis isi kualitatif dan survei. Hasil penelitian menunjukkan bahwa chatbot AI menyesuaikan pendekatan komunikasinya berdasarkan karakteristik pengguna dan jenis pertanyaan. Strategi ethos terbukti efektif dalam membangun kepercayaan, sementara logos lebih dihargai dalam memberikan kejelasan logis, terutama untuk pertanyaan teknis dan investasi. Pathos digunakan untuk membangkitkan kesadaran emosional terkait risiko Bitcoin. Analisis berbasis gender menunjukkan bahwa mahasiswa perempuan lebih merespons ethos dan pathos, sedangkan mahasiswa laki-laki lebih cenderung merespons logos. Selain itu, chatbot menggunakan logos untuk pertanyaan dasar, pathos dan logos untuk pertanyaan risiko, serta kombinasi ethos dan logos untuk pertanyaan tentang keamanan dan investasi.Temuan ini menegaskan bahwa chatbot AI dapat meningkatkan literasi keuangan mahasiswa dengan menyesuaikan strategi komunikasinya secara efektif. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pemahaman tentang komunikasi berbasis AI dalam pendidikan keuangan dan membuka peluang untuk pengembangan chatbot yang lebih personal dan interaktif di masa depan
Penggunaan Media Sosial dalam Aktivitas Digital PR Hotel-hotel di Kota Kupang
Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan penggunaan media sosial dalam aktivitas digital PR pada hotel-hotel di kota Kupang. Penelitian tentang digital PR di berbagai daerah sudah banyak dilakukan dengan metode dan temuan yang cukup beragam. Namun berdasarkan pantauan tim peneliti ke beberapa jurnal penelitian khususnya penelitan terkait dengan aktivitas digital PR pada hotel-hotel masih sangat jarang dilakukan khususnya di Kota Kupang. Meskipun media sosial telah banyak digunakan dalam PR digital di berbagai kota besar, studi spesifik di Kupang masih terbatas. Penelitian ini menggunakan pendekatan konstruktivisme (kualitatif) dan metode observasi (pada teks media sosial) dan wawancara dalam pengumpulan data. Jumlah hotel dan informan yang diteliti ada enam di kota Kupang. Fokus penelitian ini untuk menemukan penggunaan media sosial pada hotel-hotel di kota Kupang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media sosial dalam aktivitas digital PR di arahkan pada informasi persuasif yaitu iklan atau promosi dan informasi umum yang dilakukan di hotel-hotel. Selain itu dampak yang ditumbulkan adalah adanya keterlibatan publik dalam memberikan tanggapan dan penggunaan lebih dari satu akun media sosial dalam menginformasikan produk dan jasa yang ditawarkan di Hotel-hotel di kota Kupang
Unlocking Agrotourism Potential: Navigating Contemporary Development Communication Challenges in Tamanmartani Village
The aim of this study is to understand the intricate relationship between development communication in village government level to develop agrotourism, village entreprise, and engage the community in the same time. There are two stages of this project. First, the study learned the statusquo of the village officials’ programs to develop agrotourism by examining the area’s customes, culinary traditions, and cultural heritage. Through learning the exisiting programs, this study can understand the communication tactics in promoting community engagement. Second, the study looked at the issues surround the development communication by exploring the obstacles that the stakeholders faced. Through qualitative methods, the study discovered the internal obstacles in the complex web of subdistrict government level. The results show three important process to improve agrotourism from establishment, identification, and development. Meanwhile there are wide range of challenges which restrict the agrotourism from infrastructural, capacity, stakeholder collaboration, and leadership. The findings of this research can be userful for scholars and practitioners in development communication especially in the landscape of agrotourism program in the village..
ABSTRAK Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memahami kompleksitas hubungan dalam komunikasi pembangunan yang dihadapi oleh pemerintah kalurahan dalam mengelola agrowisata untuk mendukung usaha mereka dan meningkatkan keterlibatan masyarakat. Penelitian ini dilakukan melalui dua tahap penting. Pertama, penelitian meneliti langkah-langkah status quo yang telah diambil oleh pejabat desa untuk memanfaatkan agrowisata dengan melihat pada aspek adat, tradisi kuliner, dan warisan budaya daerah. Kedua, penelitian ini meneliti isu-isu kompleks yang hadir dalam bidang komunikasi pembangunan, khususnya terkait dengan menarik wisatawan ke desa agrowisata. Penelitian kami menggunakan metodologi kualitatif dapat menambah pemahaman yang lebih dalam tentang tantangan komunikasi dalam jaringan kompleksnya pemerintahan desa. Hasil penelitian menunjukkan tiga proses penting dalam meningkatkan usaha agrowisata yakni pendirian, identifikasi, dan pengembangan. Sementara itu, tantangan yang membatasi mulai dari infrastruktur, kapasitas, kolaborasi pemangku kepentingan, dan kepemimpinan. Temuan ini dapat bermanfaat bagi akademisi dan praktisi dalam menelaah komunikasi pembangunan khususnya dalam pengembangan lanskap agrowisata
Dari Inovasi ke Penghentian (Analisis Adopsi Inovasi Presenter Artificial Intelligence (AI) di tvOne)
Media companies, lately, increasingly use artificial intelligence (AI) in news production. an example is the use of AI presenters on tvOne. This study wants to see how the adoption of AI presenters on tvOne. The analysis of research findings uses the theory of innovation diffusion, especially the innovation-decision process model, namely from the stages of knowledge, persuasion, decision, implementation, and confirmation. The Technology Acceptance Model (TAM) theory is also used as a supporting theory. This study uses a case study method, through observation, in-depth interviews, and literature studies. The results, the innovation decision process can be seen in the characteristics of the innovator's values and the influence of socio-economic values. At the persuasion stage, innovators and users are aware of the importance of eradicating deepfakes. From a psychological perspective, the use of AI presenters is based on the desire of tvOne management to make their media a leader in the use of AI technology. At the decision stage, it is realized by showing AI presenters on TV screens, news portals, and 3 social media platforms. At the implementation stage, AI presenters encounter several obstacles. Such as production speed factors that cannot be met, the difficulty of coordination between providers and users of AI presenters, and low audience acceptance. So at the confirmation stage, the AI presenter was finally stopped or discontinued. From the TAM theory, the decision to adopt an AI presenter is based on the aspects of Intention to Use, Usage Behavior, Perceived Usefulness, and Perceived Ease of Use.
ABSTRAK Perusahaan media, akhir akhir semakin banyak menggunakan kecerdasan buatan (AI) dalam produksi berita. Salah satunya pemanfaatan presenter AI di TvOne. Penelitian ini ingin melihat bagaimana adopsi presenter AI di tvOne. Analisis temuan penelitian menggunakan teori difusi inovasi, khususnya model inovation-decision procces, yakni dari tahapan pengetahuan, persuasi, keputusan, implementasi dan konfirmasi. Teori Technology Acceptance Model (TAM) juga digunakan sebagai teori pendukung. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus, melalui observasi, wawancara mendalam, dan studi pustaka. Hasilnya, dari sisi pengetahuan, proses keputusan inovasi terlihat pada karakteristik nilai pribadi inovator dan pengaruh dari nilai sosial ekonomi. Pada tahapan persuasi, invator dan pengguna (manajemen tvOne) memiliki kesadaran tentang pentingnya memberantas deepfake (berita palsu). Dari sisi keuntungan relatif produksi presenter AI bisa menekan biaya produksi berita. Dari sisi psikologis, pengguaan presenter AI didasarkan atas keinginan manajemen tvone untuk menjadikan medianya sebagai pemimpin (pionir) dalam pemanfaatan teknologi AI. Pada tahapan keputusan diwujudkan dengan penayangan presenter AI di layar TV, portal berita, dan 3 platform media sosial. Pada tahap implementasi, presenter AI menemui beberapa kendala. Seperti faktor kecepatan produksi yang tidak bisa dipenuhi, sulitnya koordinasi antara penyedia dengan pengguna presenter AI, dan rendahnya penerimaan khalayak. Maka pada tahap konfirmasi, presenter AI di tvone akhirnya dihentikan atau discontinuance. Dari sisi teori TAM, keputusan adopsi presenter AI didasarkan atas aspek Intention to Use, Usage Behaviour, Perceived Usefulness, dan Perceived Ease of Use
Pengaruh Literasi Digital terhadap Literasi Kesehatan Digital Tenaga Kesehatan di Indonesia
The advancement of information and communication technology requires healthcare professionals to have strong digital competencies in consuming, acting upon, and producing digital health information. In Indonesia, some social media content created by healthcare professionals has been deemed unethical or unwise, highlighting the importance of digital literacy in this sector. Although studies on digital literacy and digital health literacy exist, research specifically focusing on Indonesian healthcare professionals is still limited. This study aims to analyze the influence of digital literacy on digital health literacy among healthcare professionals. Using a survey method, an online questionnaire was distributed to 387 respondents. The findings indicate that respondents’ levels of digital literacy and digital health literacy are moderate. While respondents generally perceive themselves as proficient in technical digital skills, they report lower confidence in broader digital competencies such as sharing opinions, participating in online activities, and protecting themselves from internet-related risks. Although they demonstrate stronger operational skills, they encounter challenges in navigating digital health information, evaluating the reliability of information, safeguarding personal privacy, and adding self-generated content. These results confirm that digital literacy significantly influences digital health literacy, emphasizing the need for healthcare professionals to develop comprehensive digital skills. Strong digital capabilities are essential for engaging effectively with digital health information and establishing credibility as sources on social media. The study underscores the urgent need to enhance digital capacity, particularly in device security, information navigation, content creation, digital participation, and protection from privacy breaches and other online risks.
ABSTRAK Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi menuntut tenaga kesehatan untuk memiliki kompetensi digital dan keterampilan dalam mengonsumsi, mengambil tindakan atas, serta memproduksi informasi kesehatan digital. Beberapa tahun terakhir, terdapat sejumlah konten media sosial oleh tenaga kesehatan di Indonesia yang dinilai kurang etis dan bijak. Sejumlah studi mengenai literasi digital dan literasi kesehatan digital telah dilakukan. Namun, di Indonesia masih terbatas studi mengenai literasi digital dan literasi kesehatan digital tenaga kesehatan. Riset ini ditujukan untuk menguji dan menganalisis pengaruh literasi digital terhadap literasi kesehatan digital pada tenaga kesehatan. Metode survei dilakukan melalui kuesioner daring kepada 387 tenaga kesehatan. Hasil riset menunjukkan bahwa secara umum, literasi digital dan literasi kesehatan digital responden berada pada tingkat moderat. Responden cenderung menilai diri mereka lebih memiliki keterampilan teknis digital dibandingkan kompetensi digital yang mencakup berbagi opini, berpartisipasi, dan perlindungan dari risiko penggunaan internet. Responden lebih unggul dalam keterampilan operasional, namun menghadapi tantangan dalam menavigasi, mengevaluasi reliabilitas, melindungi privasi, dan menambahkan konten yang telah diproduksi sendiri. Temuan ini menegaskan bahwa literasi digital memiliki pengaruh signifikan terhadap literasi kesehatan digital, menunjukkan bahwa kemampuan digital yang baik menjadi elemen penting bagi tenaga kesehatan untuk mendukung keterlibatan mereka memanfaatkan internet dalam konteks kesehatan serta partisipasi aktif sebagai sumber informasi di media sosial. Studi ini memperkuat urgensi peningkatan kapasitas digital terutama terkait keamanan perangkat digital, navigasi dan produksi pesan, partisipasi dalam aktivitas digital, dan perlindungan privasi serta risiko lain dari penggunaan internet
The Impact of Social Media Exposure and Peer Group Towards Gen Z Decision To Visit Pasar Kangen Yogyakarta
The Special Region of Yogyakarta has taken proactive measures to boost tourist numbers after COVID-19 by reinstating various cultural events. Pasar Kangen is a recurring annual event that garners substantial visitor interest. Looking at the long journey of Pasar Kangen that has been held since 2007, this agenda has now become a destination for various groups of tourists, including Gen Z. This research aims to analyze the influence of social media exposure and peer group on Gen Z decision to visit Pasar Kangen Yogyakarta. This research utilized a quantitative approach, involving a survey conducted among 100 Gen Z tourists who visited Pasar Kangen in 2023. The data analysis technique used to test the hypothesis in this research was multiple regression using SmartPLS program. The research results show that social media exposure and peer group have a positive and significant effect on Gen Z decision to visit Pasar Kangen. Furthermore, as a managerial implication, the event organizer of Pasar Kangen can expand their reach of social media exposure through collaboration with digital key opinion leaders, especially those who are mostly followed by Gen Z on social media