KOMUNIKATIF : Jurnal Ilmiah Komunikasi
Not a member yet
177 research outputs found
Sort by
Strategi Komunikasi Dewan Kesenian Daerah Sidoarjo dalam Meningkatkan Daya Tarik Wisata Budaya
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui strategi komunikasi pariwisata Dewan Kesenian Daerah (Dakesda) Sidoarjo dalam mempromosikan wisata budaya yang ada di Sidoarjo. Eksplorasi strategi komunikasi pariwisata menjadi penting karena sampai saat ini wisata budaya di Sidoarjo masih tertinggal dibandingkan dengan kota-kota di sekitarnya, seperti Surabaya, Mojokerto, Pasuruan, dan Malang. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif studi kasus, yakni memfokuskan riset pada fenomena spesifik, yaitu strategi komunikasi pariwisata yang dilakukan oleh Dakesda Sidoarjo. Adapun informan kunci dalam penelitian ini adalah ketua umum, ketua program, dan ketua bidang kebudayaan Dakesda Sidoarjo. Data yang didapat melalui observasi lapangan dan wawancara mendalam pada informan kunci kemudian ditriangulasikan dengan sumber lain seperti keterangan dari akademisi, pebisnis yang terlibat dalam pariwisata, media, dan juga wisatawan, selain juga dilakukan konfirmasi keabsahan data melalui dokumentasi selama riset ini berlangsung. Hasil penelitian ini ada dua, pertama, strategi komunikasi pariwisata Dakesda menggunakan model penta helix, dimana setiap even kebudayaan yang mengarah pada promosi wisata budaya dikolaborasikan oleh Dakesda Sidoarjo dengan program kerja akademisi, pemerintah, komunitas, media, dan pebisnis. Kedua, promosi wisata budaya yang dilakukan oleh Dakesda Sidoarjo selalu melibatkan generasi muda. Hal ini dilakukan untuk mengenalkan kebudayaan lokal pada generasi muda agar wisata budaya di Sidoarjo diketahui secara massif dan berkelanjutan. Selain itu, Dakesda Sidoarjo sedang menyiapkan paket wisata edukasi museum kebudayaan sebagai respon terhadap kebijakan pemerintah terkait pembelajaran luar ruang yang dinilai masih kurang mengenalkan sejarah dan kebudayaan lokal pada generasi muda
Framing Media Giant Sea Wall: Legitimasi & Penolakan
Mass media in the digital era has transformed into a very influential reality construction agent, especially in framing complex national strategic issues such as the Giant Sea Wall project in Jakarta. The Giant Sea Wall project in Jakarta emerged as a government initiative for disaster mitigation due to rising sea levels. This research aims to analyze Tempo.co and CNN Indonesia media in constructing reality related to the project through the perspective of framing analysis. The subjects of this research are online news articles about the giant sea wall mega project designed to protect the North Coast of Java (Pantura) from flooding, erosion, and the impacts of climate change and human activities. Using qualitative methods, this study explores how the two media framed the issue, focusing on Robert M. Entman's four framing elements: defining the problem, diagnosing the cause, making a moral decision, and recommending a response. The results of the analysis show that Tempo.co tends to frame the Giant Sea Wall project as an urgent strategic solution, emphasizing urgency and support for the Prabowo government's policy, as well as criticizing the previous administration. In contrast, CNN Indonesia adopts a more critical and scientific approach, highlighting the complexity of the problem and proposing more diverse and sustainable solutions, including relocation options. These framing differences reflect different positions towards government policy, with Tempo.co supporting infrastructure megaprojects, while CNN Indonesia criticized the approach and emphasized the need for more comprehensive solutions. This research contributes to the understanding of how the media shapes public discourse on national strategic issues.
ABSTRAK Media massa dalam era digital telah bertransformasi menjadi agen konstruksi realitas yang sangat berpengaruh, khususnya dalam membingkai isu-isu strategis nasional yang kompleks seperti proyek Giant Sea Wall Jakarta. Proyek Giant Sea Wall di Jakarta muncul sebagai inisiatif pemerintah untuk mitigasi bencana akibat kenaikan permukaan air laut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis media Tempo.co dan CNN Indonesia dalam mengkonstruksi realitas terkait proyek tersebut melalui perspektif analisis framing. Subjek penelitian ini adalah artikel berita daring tentang mega proyek tanggul laut raksasa yang dirancang untuk melindungi Pantai Utara Jawa (Pantura) dari banjir, erosi, dan dampak perubahan iklim serta aktivitas manusia. Menggunakan metode kualitatif, penelitian ini mengeksplorasi kedua media membingkai isu ini, dengan fokus pada empat elemen framing menurut Robert M. Entman: pendefinisian masalah, diagnosis penyebab, membuat keputusan moral, dan rekomendasi penanganan. Hasil analisis menunjukkan bahwa Tempo.co cenderung membingkai proyek Giant Sea Wall sebagai solusi strategis yang mendesak, menekankan urgensi dan dukungan terhadap kebijakan pemerintah Prabowo, serta mengkritik pemerintahan sebelumnya. Sebaliknya, CNN Indonesia mengadopsi pendekatan yang lebih kritis dan ilmiah, menyoroti kompleksitas masalah dan mengusulkan solusi yang lebih beragam dan berkelanjutan, termasuk opsi relokasi. Perbedaan framing ini mencerminkan posisi yang berbeda terhadap kebijakan pemerintah, dengan Tempo.co mendukung megaproyek infrastruktur, sementara CNN Indonesia mengkritisi pendekatan tersebut dan menekankan perlunya solusi yang lebih komprehensif. Penelitian ini memberikan kontribusi pada pemahaman tentang bagaimana media membentuk wacana publik terkait isu-isu strategis nasiona
Pergeseran Makna Cancel Culture di Indonesia : Analisis Semiotika Sosial Theo van Leeuwen
Social media’s growth has given rise to platforms where people may freely express their opinions, which has resulted in the emergence of cancel culture, a phenomenon where individuals or brands experience public outrage, boycotts, or exclusion due to the breach of social or ethical standards. Originally grounded in moral responsibility, cancel culture has transformed into a wider social occurrence with diverse motivations. This research examines the evolving significance of cancel culture through the lens of Theo van Leeuwen’s social semiotics framework, emphasizing four main aspects: discourse, genre, style, and modality. Using qualitative methods such as interviews, the results show that cancel culture is frequently driven more by a propensity, especially in Indonesia, to follow trends and a fear of missing out (FOMO), than by well-informed decision-making. It also discovers that technology is being used more and more to advance commercial, political, economic, or personal interests. The study concludes that cancel culture has shifted from being a collective moral statement into a tactical instrument for shaping digital narratives and influencing public opinion. This transformation highlights the intricate relationship between social media, power dynamics, and cultural standards, revealing both the advantages and disadvantages of cancel culture in contemporary digital society.
ABSTRAK Perkembangan teknologi telah memunculkan platform media sosial dimana orang dapat mengekspresikan pendapat, yang membentuk munculnya cancel culture, sebuah fenomena di mana individu atau merk mengalami kemarahan publik, boikot, atau pengucilan karena dianggap melakukan kesalahan fatal atau melanggar norma sosial. Fenomena yang awalnya didasarkan pada tanggung jawab moral, telah berubah menjadi gerakan sosial yang lebih luas dengan motif beragam. Penelitian ini menganalisis pergeseran makna cancel culture dengan pendekatan semiotika sosial dari Theo van Leeuwen, yang menekankan empat aspek utama: discourse, genre, style, dan modality. Metode penelitian kualitatif digunakan dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara, untuk memahami bagaimana makna cancel culture dibentuk dan digunakan dalam interaksi sosial di media digital khususnya di Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, cancel culture sering kali didorong kecenderungan untuk mengikuti tren dan fear of missing out (FOMO) atau takut tertinggal, daripada memahami konteks masalah yang terjadi. Ditemukan juga bahwa, teknologi semakin sering dimanfaatkan untuk memajukan kepentingan komersial, politik, ekonomi, atau pribadi. Melalui penelitian ini dapat disimpulkan bahwa cancel culture telah bergeser dari pernyataan moral kolektif menjadi instrumen taktis untuk membentuk narasi digital dan memengaruhi opini publik. Transformasi ini menyoroti hubungan antara media sosial, dinamika kekuasaan, dan standar budaya, yang mengungkap kelebihan dan kekurangan budaya pembatalan dalam masyarakat digital kontemporer
Aksi Kawal Putusan MK Dalam Bingkai Media: Dominasi Konflik dan Tantangan Demokrasi
This research aims to analyze how Tempo.co and Kompas.com framed news coverage of the “Aksi Kawal Putusan MK” (The Movement to Protect the Constitutional Court Ruling), which represents a political crisis in Indonesia. The protest emerged as a public response to the revision of the Constitutional Court’s decision regarding the age requirement for regional election candidates. In this context, the media play a crucial role in shaping public perception through the construction of narratives in their reporting. This study employs a descriptive quantitative content analysis method using Semetko and Valkenburg’s framing model, which consists of five categories: conflict, attribution of responsibility, economic consequences, human interest, and morality. A total of 44 news articles from Tempo.co and Kompas.com published between August 20–31, 2024, were selected using purposive sampling. The findings reveal that the conflict frame is the most dominant (38.6%), followed by attribution of responsibility (25%), human interest (20.5%), and morality (15.9%). No economic consequence frame was identified. These findings indicate that both media outlets emphasize political tensions and responsible actors, underscoring the media's role in shaping public opinion within a democratic context.
ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana media Tempo.co dan Kompas.com membingkai pemberitaan mengenai Aksi Kawal Putusan MK yang mencerminkan bentuk krisis politik di Indonesia. Aksi ini muncul sebagai respons publik terhadap revisi keputusan Mahkamah Konstitusi terkait batas usia calon kepala daerah. Dalam konteks ini, media memainkan peran penting dalam membentuk persepsi publik melalui konstruksi narasi yang disampaikan dalam pemberitaan. Penelitian ini menggunakan metode analisis isi kuantitatif deskriptif dengan model framing dari Semetko dan Valkenburg, yang mengkategorikan bingkai ke dalam lima jenis: konflik, atribusi tanggung jawab, konsekuensi ekonomi, human interest, dan moralitas. Sebanyak 44 berita dari Kompas.com dan Tempo.co dalam kurun waktu 20–31 Agustus 2024 dianalisis menggunakan teknik purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bingkai konflik menjadi yang paling dominan (38,6%), diikuti oleh atribusi tanggung jawab (25%), human interest (20,5%), dan moralitas (15,9%). Tidak ditemukan penggunaan bingkai konsekuensi ekonomi. Temuan ini menunjukkan bahwa kedua media menyoroti ketegangan politik dan aktor kunci, menegaskan peran media dalam membentuk opini publik
Pemberitaan Strategi Respon Perusahaan dalam Isu Boikot di Sosial Media
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kmunculnya peristiwa boikot beberapa merk global di sosial media, atau disebut online firestorm. Online firestorm merupakan serangan tiba-tiba dari sejumlah besar komentar negatif dari mulut ke mulut dan perilaku mengeluh terhadap seseorang, perusahaan, atau kelompok di jaringan media sosial. Online firestorm menjadi perspektif dalam melihat krisis perusahaan dengan berkembangangnya media sosial. Hashtag #boikotprodukisrael, #boikotisrael menjadi trending topic di twitter sejak adanya beberapa dugaan global brand diduga terafiliasi dengan Israel. Tentunya, munculnya gerakan boikot di sosial media turut memunculkan pemberitaan di beberapa media massa. Pada akhirnya apa yang diperbincangan sebagai online firestorm tersebut dapat berubah menjadi skandal dan ancaman reputasi bagi organisasi. Berpijak pada situational crisis communication theory (SCCT), penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi respon global brand atas online firestorm dalam seruan boikot yang dituliskan oleh media online dengan menggunakan metode analisis isi kualitatif. SSCT menjelaskan bahwa strategi dalam merespon krisis yang dialami perusahaan ada 3 cara 1) penyangkalan (deny response strategy), (2) mengurangi (diminish response strategy) dan (3) membangun kembali (rebuild response strategy. Hasil dari intepretasi data, penelitian ini menyimpulkan bahwa strategi utama merepson online firestorm dalam seruan boikot yang dituliskan Kumparan.com dan Kompas.com adalah deny crisis respose strategies dengan attact the accuser dan scapegoat. Sedangkan secondary crisis response strategies strategies dilakukan dengan reminder dan victimage
Analisis Kualitatif terhadap Fenomena "Peringatan Darurat Garuda Biru": Memahami Peran Framing dan Resonansi Emosional dalam Membentuk Opini Publik
Munculnya simbol Peringatan Darurat Garuda Biru di Indonesia mencerminkan dinamika komunikasi politik yang terus berkembang di era digital. Fenomena ini meluas di berbagai platform media sosial, termasuk Twitter, Instagram, dan Facebook, sebagai simbol perlawanan terhadap ketidakadilan konstitusional dan ketidakpuasan terhadap kondisi politik nasional. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis potensi simbol Garuda Biru dalam membentuk persepsi politik, khususnya di kalangan generasi muda. Menggunakan metode analisis pembingkaian dan evaluasi viralitas konten, studi ini mengevaluasi bagaimana media sosial membentuk pandangan politik dan memengaruhi wacana publik di ruang digital.Hasil penelitian menunjukkan bahwa simbol Garuda Biru berfungsi sebagai alat framing visual yang memperkuat solidaritas kolektif melalui resonansi emosional dan viralitas konten. Media sosial tidak hanya mempercepat penyebaran isu politik tetapi juga membingkai narasi secara efektif, memobilisasi publik secara emosional dan kognitif. Simbol ini terutama berfungsi untuk menyampaikan ketidakpuasan publik terhadap kebijakan pemerintah, memperkuat solidaritas lintas kelompok, dan membangkitkan identitas nasional. Studi ini memberikan wawasan baru tentang peran media sosial sebagai katalis perubahan transformatif dalam kesadaran politik masyarakat kontemporer, dengan menekankan pentingnya penggunaan simbol visual dalam komunikasi politik digital
Seeing vs Experiencing: Generation Z’s Needs and Satisfaction in Consuming 2D vs VR News
This study aims to examine the comparative experience of Generation Z as potential news consumers when utilizing two-dimensional (2D) and virtual reality (VR) news sources. What are their needs, and if those needs are fulfilled. Participants in the study were students between the ages of 18 and 21 who were enrolled in one of ten different study programs and lived in urban regions of Jabodetabek Indonesia. The study makes use of the concept of Gratification Sought, which encompasses five different aspects of needs: cognitive, affective, personal identity/interactive needs, social interaction and integration, and tension relief. The study employs a mixed-method approach, and the data gathering procedure is carried out through the use of questionnaires. A number of conclusions concerning the needs and levels of satisfaction related with the consumption of 2D and VR news can be identified from the outcomes of the study. Virtual reality media succeeds in fulfilling affective needs and delivering higher levels of satisfaction on identity and social connection when compared to 2D media. Nonetheless, there are limitations in adequately addressing cognitive needs. Meanwhile, 2D media remains a robust option for informational and cognitive needs, but it has a tendency to inadequately address affective needs and managing tension.
ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengalaman komparatif Generasi Z sebagai calon konsumen berita saat menggunakan sumber berita dua dimensi (2D) dan realitas virtual (VR). Penelitian ini mengeksplorasi apa kebutuhan mereka dalam mengkonsumsi berita dan sejauh mana kebutuhan tersebut terpenuhi. Informan dalam penelitian ini adalah mahasiswa berusia 18 hingga 21 tahun yang terdaftar dalam salah satu dari sepuluh program studi dan tinggal di wilayah perkotaan Jabodetabek di Indonesia. Penelitian ini mengadopsi konsep Gratification Sought yang mencakup lima aspek kebutuhan: kognitif, afektif, identitas pribadi/kebutuhan interaktif, interaksi dan integrasi sosial, serta pelepasan ketegangan. Pendekatan yang digunakan adalah metode campuran, dengan pengumpulan data melalui kuesioner. Hasil penelitian mengungkap sejumlah temuan terkait kebutuhan dan tingkat kepuasan yang berkaitan dengan konsumsi berita 2D dan VR. Media VR terbukti lebih mampu memenuhi kebutuhan afektif serta memberikan tingkat kepuasan yang lebih tinggi dalam aspek identitas dan koneksi sosial dibandingkan dengan media 2D. Namun, media VR memiliki keterbatasan dalam memenuhi kebutuhan kognitif secara memadai. Di sisi lain, media 2D tetap menjadi pilihan yang kuat untuk memenuhi kebutuhan informasi dan kognitif, meskipun cenderung kurang optimal dalam mengakomodasi kebutuhan afektif dan pengelolaan ketegangan..
Kajian Resistensi Sosial Pengguna Media Sosial X Dalam Tagar #Netizenselalubenar Melalui Analisis Jaringan Komunikasi
The anecdote that netizens are always right is often used to describe internet users who can comment anything on posts from other people’s accounts. This is sad because it means there are no restrictions on what netizens can and cannot comment on. This phenomenon raises pros and cons, resulting in resistance in netizens who disagree with the concept. This study aims to reveal how audiences respond to #Netizenselalubenar and the resistance that arises on social X. This research uses Computer- Mediated Communication theory and Social network theory. This research provides an overview of the important role of hashtags in exchanging information and forming public opinion. It shows how resistance arises as a response to opinion domination on social media. This research is expected to be a reference for further network analysis research. Moreover, it illustrates the power of netizens’ digital activities in influencing public opinion. The research method used is communication network analysis, which is included in quantitative research with a descriptive approach. Data was taken from tweets on social media X that had activity on #Netizenselalubenar. The main findings include a centralized communication network with several dominant accounts, especially the @0 account. Hashtags disseminate information and shape public opinion regarding the ‘netizens are always right’ phenomenon. Resistance from the audience emerged in response to the dominance of opinion on the hashtag and formed an online community to counter the dominance of the hashtag
Strategi Pengurangan Ketidakpastian pada Komunikasi Guru dengan Siswa Berkebutuhan Khusus
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui strategi pengurangan ketidakpastian komunikasi guru lembaga pendidikan anak usia dini dalam penanganan siswa berkebutuhan khusus. Penelitian ini menggunakan Uncertainty Reduction Theory, dimana pada penelitian sebelumnya teori digunakan untuk menganalisis fenomena komunikasi interpersonal pada ranah organisasi. Sehingga kebaruan dari penelitian ini adalah mengeksplorasi penggunaan teori untuk penyelesaian masalah komunikasi interpersonal di tahap pendidikan anak usia dini. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif pendekatan kualitatif dan menggunakan paradigma konstruktivisme. Adapun pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi partisipatif, dan studi pustaka. Pada metode wawancara peneliti menentukan kriteria pemilihan informan terdiri dari memiliki pengalaman menjadi guru pendidikan anak usia dini minimal dua tahun dan tingkat pendidikan minimal sekolah menengah atas. Hasil penelitian ini diantaranya pertama, bentuk ketidakpastikan yang dialami guru termasuk jenis ketidakpastian kognitif dan perilaku yang disebabkan keterbatasan informasi dan pengetahuan serta pengalaman dalam penanganan siswa berkebutuhan khusus. Kedua, guru menerapkan tiga strategi utama untuk mengurangi ketidakpastian, yaitu: (1) Strategi Pasif, dengan mengamati perilaku siswa secara langsung; (2) Strategi Aktif, melalui diskusi dengan kolega, pencarian informasi dari media, serta pelatihan; dan (3) Strategi Interaktif, dengan berkomunikasi langsung menggunakan pendekatan verbal maupun non-verbal. Peneliti menemukan terdapat perbedaan penerapan strategi pengurangan ketidakpastian komunikasi pada guru yang lebih berpengalaman dengan guru pemula. Sehingga berdasarkan hasil observasi dan konfirmasi dengan tenaga ahli, guru dapat melakukan assessment menggunakan berbagai instrument screening untuk menunjang strategi pengurangan ketidakpastian komunikasi dengan lebih sistematis. Selain itu penelitian selanjutnya dapat melakukan studi komparasi dengan subjek penelitian di wilayah urban
Pengaruh Kompetensi Komunikasi Hati dan Dukungan Sosial Teman Sebaya Terhadap Resiliensi Akademik Mahasiswa Tingkat Akhir
Final-year students often face complex academic pressures. Academic resilience is a key competency for students to be able to face pressure. Academic resilience is influenced by internal factors such as heart communication competency and external factors such as peer social support. The study aims to analyze the effect of heart communication competency (X1) and social support (X2) on the academic resilience of final-year students (Y). The study used a quantitative method. The research sample was 80 final-year students of the Faculty of Vocational Studies, UNY. Data collection through surveys to samples. Data analysis with parametric statistics in the form of linearity tests and hypothesis tests through simple correlation analysis methods, multiple correlation analysis, and multiple regression analysis. The results of the study showed that there was a positive and significant partial influence between X1 and Y of 40.2%, there was a positive and significant influence between X2 and Y of 26.5%, and there was a positive and significant influence together between heart communication competency and peer social support of 30.2% on academic resilience in students of the Faculty of Vocational Studies, UNY. The findings show that the competence of heart communication, with the dimensions of thinking, feeling, managing heart waste, sympathy, empathy, peace, and happiness, plays a dominant role in the academic resilience of final-year students. The contribution of the research provides a new understanding of the importance of heart communication competence and peer social support in supporting the academic resilience of final-year students. The results of the study support the Theory of Heart Communication, which emphasizes that thinking, feeling, managing heart waste, sympathy, and empathy for a peaceful and happy life can positively increase the academic resilience of final-year students. The study successfully tested the relevance of the Theory of Heart Communication to the academic resilience of final-year students at the Faculty of Vocational Studies, UNY, as a novelty.
ABSTRAK Mahasiswa tingkat akhir kerap menghadapi tekanan akademik yang kompleks. Resiliensi akademik menjadi kompetensi kunci agar mahasiswa mampu menghadapi tekanan. Resiliensi akademik dipengaruhi faktor internal seperti kompetensi komunikasi hati dan eksternal seperti dukungan sosial teman sebaya. Penelitian bertujuan untuk menganalisis pengaruh kompetensi komunikasi hati (X1) dan dukungan sosial (X2) terhadap resiliensi akademik mahasiswa tingkat akhir (Y). Penelitian menggunakan metode kuantitaif. Sampel penelitian sebanyak 80 mahasiswa tingkat akhir Fakultas Vokasi UNY. Pengumpulan data melalui survei kepada sampel. Analisis data dengan statistik parametris berupa uji linearitas dan uji hipotesis melalui metode analisis korelasi sederhana, analisis korelasi berganda dan analisis regresi berganda. Hasil penelitian menunjukkan terdapat pengaruh positif dan signifikan secara parsial antara X1 dengan Y sebesar 40,2%, terdapat pengaruh positif dan signifikan antara X2 dengan Y sebesar 26,5%, dan terdapat pengaruh positif dan signifikan secara bersama-sama antara kompetensi komunikasi hati dan dukungan sosial teman sebaya sebesar 30,2% terhadap resiliensi akademik pada mahasiswa Fakultas Vokasi UNY. Temuan menunjukkan kompetensi komunikasi hati, dengan dimensi olah pikir, olah rasa, kelola sampah hati, simpati, empati, damai, dan bahagia berperan dominan terhadap resiliensi akademik mahasiswa tingkat akhir. Kontribusi penelitian memberikan pemahaman baru pentingnya kompetensi komunikasi hati dan dukungan sosial teman sebaya dalam mendukung resiliensi akademik mahasiswa tingkat akhir. Hasil penelitian mendukung Teori Komunikasi Hati yang menekankan bahwa olah pikir olah rasa, kelola sampah hati, simpati, empati, untuk hidup damai dan bahagia secara positif dapat meningkatkan resiliensi akademik mahasiswa tingkat akhir. Penelitian berhasil menguji relevansi Teori Komunikasi Hati terhadap resiliensi akademik mahasiswa tingakt akhir di Fakultas Vokasi UNY sebagai novelty