KOMUNIKATIF : Jurnal Ilmiah Komunikasi
Not a member yet
    177 research outputs found

    The Role and Integration of Social Media with Online Media Practices in Malang to Enhance News Distribution and Audience Engagement

    Full text link
    This study examines the role of social media in shaping online media practices in Malang, focusing on Jatim Times and Tugu Media Group. This study aims to see how both media use platforms such as TikTok, Instagram, Facebook, and Twitter to spread news, engage with audiences, promote content, and attract advertising. This study uses a qualitative approach, collecting data through in-depth interviews with social media managers, journalists, and editors and analyzing the content on their social media. By comparing interviews, content, and activities on social media, this study provides an overview of how social media influences their strategies. The results show that social media is essential in expanding audience reach, strengthening media identity, and increasing advertising revenue. However, the challenge is how the media balances these promotional efforts while maintaining the credibility of the information that is the primary basis of the media. The benefits of this study are that it will provide a deep understanding for media practitioners and researchers about integrating social media into local media strategies, as well as the challenges faced in maintaining credibility in the digital world. Further research is recommended to focus on the ethical challenges of using social media for news dissemination in Indonesia. ABSTRAK Penelitian ini mengkaji peran media sosial dalam membentuk praktik media online di Malang, dengan fokus pada Jatim Times dan Tugu Media Group. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat bagaimana kedua media tersebut menggunakan platform seperti TikTok, Instagram, Facebook, dan Twitter untuk menyebarkan berita, berinteraksi dengan audiens, mempromosikan konten, serta menarik iklan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, dengan mengumpulkan data melalui wawancara mendalam dengan manajer media sosial, jurnalis, dan editor, serta menganalisis konten yang ada di media sosial mereka. Dengan membandingkan wawancara, konten, dan aktivitas di media sosial, penelitian ini memberikan gambaran tentang bagaimana media sosial mempengaruhi strategi mereka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media sosial memiliki peran penting dalam memperluas jangkauan audiens, memperkuat identitas media, dan meningkatkan pendapatan dari iklan. Namun, tantangannya adalah bagaimana media menyeimbangkan upaya promosi tersebut dengan tetap menjaga kredibilitas informasi yang menjadi basis utama media. Manfaat dari penelitian ini adalah memberikan pemahaman mendalam bagi praktisi media dan peneliti tentang integrasi media sosial dalam strategi media lokal, serta tantangan yang dihadapi dalam menjaga kredibilitas dalam dunia digital. Penelitian selanjutnya disarankan untuk lebih fokus pada tantangan etis dalam penggunaan media sosial untuk penyebaran berita di Indonesia

    Personal Political Branding: Framing Pemberitaan Gibran Rakabuming Pada Majalah Tempo Edisi “Ugal-Ugalan Paman Gibran”

    Full text link
    The year 2023 marks the beginning of a dynamic political period, with intensive preparations for the contestation of the presidential and vice-presidential elections in 2024. This research explores how Tempo Magazine's news framing in the “Ugal- Ugalan Uncle Gibran” edition shapes the political image of Gibran Rakabuming Raka, particularly in the context of the 2024 vice presidential election. This topic is interesting to research since it highlights the critical role of the media in influencing the political image during the crucial period leading up to the election, where public perception plays a significant role in determining the direction of political support. Using Robert M. Entman's Framing analysis model, this study assesses how Tempo defines the problem, identifies causes, provides moral judgment, and recommends solutions. Using a constructivist qualitative approach, this study examined the printed and digital editions of the magazine to assess how Tempo's framing influenced public perception and Gibran's political branding. The unit of observation and analysis of this research is Tempo Magazine's “Ugal-Ugalan Paman Gibran” print and digital editions. This study found that Tempo framed Gibran's candidacy in the context of legal and ethical violations by labeling him as the “illegitimate son of the Constitution” and highlighting the issues of nepotism and political dynasty as the main elements. The results showed that Tempo Magazine's negative framing significantly affected Gibran's political image and not only impacted public perception of Gibran, but also affected the personal political branding strategy being built ahead of the election. This research contributes to the literature by presenting a new perspective on the role of the media in shaping public opinion and political image. In addition, this research provides a novelty side by providing a perspective on practical implications for improving personal political branding strategies in Indonesia

    Instagram dan Influencer sebagai Tonggak Tranformasi Digital Public Relations UKWMS

    Full text link
    Penelitian ini berfokus melihat bagaimana pelaku public relation UKWMS melakukan transformasi pada digital public relations dengan memunculkan social media specialist sebagai salah satu istilah baru yang melekat di masyarakat saat ini untuk mempertahankan eksistensi kinerja seorang public relations untuk beradaptasi dan berinovasi dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab yang dimiliki. Kemajuan teknologi digital melahirkan berbagai media sosial yang digunakan untuk berkomunikasi, mengekspresikan diri hingga melahirkan komunikasi yang tidak dapat dipisahkan oleh jarak. Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif studi kasus dalam memperoleh berbagai informasi yang dibutuhkan dengan in-depth interview serta observation participatory kepada pelaku digital public relation di UKWMS untuk mengetahui bagaimana proses aktivitas dari transformasi digital public relation yang saat ini dikenal sebagai social media specialist melalui perubahan perilaku yang ditimbulkan dalam dunia kerja dari seorang public relations konvensional dalam era digital, dan memaksimalkan kulitas kinerja pada era digital untuk meminimalisir hilangnya seorang public relations di sosial masyarakat, dengan kemampuan untuk berkolaborasi dengan pihak – pihak eksternal serta mengikuti perubahan gaya komunikasi melalui digitalisasi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa langkah untuk melakukan transformasi digital pr merupakan hal yang harus dijalankan di era digital saat ini, agar tidak tertinggal dan mampu memanfaatkan teknologi komunikasi yang secara terkhusus mampu untuk membangun community relations UKWMS

    Sharenting and Digital Reputation: Pengaruh Sharenting Terhadap Presentasi Diri Orang Tua Milenial Di Media Sosial

    Full text link
    Sharenting has now become a global trend on social media. The phenomenon that we can see in Indonesia is that many social media users who are millennial parents share content about their children's activities on social media. Sharenting is also considered a place for millennial parents to build their digital reputation. This research aims to prove the influence of sharenting on millennial parents' self-presentation on social media. The right approach to help researchers answer this research question is through a quantitative approach. Data collection techniques use online surveys distributed through advertising features on the Facebook platform. After filtering the online questionnaire data, the total number of respondents taken was 518 respondents. All respondents met the respondent criteria, namely millennial parents (age range 24-39 years), regularly sharing their children's activities on social media, and active users of popular social media. The research hypothesis will be tested using regression tests, correlation tests, partial tests (t), and simultaneous tests (f). The measurement method uses a Likert scale. Meanwhile, the data's validity was tested using validity and reliability tests. The research results prove a significant influence of sharenting activities on the self-presentation of millennial parents on social media. The relationship between the two variables is also stated to be positive. Then, the strength of the two variable relationships enters into a strong correlation. From the calculation results, the higher the sharenting, the higher the self-presentation. In the context of self-presentation, millennial parents use sharenting to display positive aspects of their lives, especially related to family life and their role as modern parents. For millennial parents, self-presentation on social media can also affect their reputation in the online environment. By building a positive image as caring and involved parents, they can strengthen their social connections and expand their support network online.ABSTRAKSharenting saat ini telah menjadi tren di media sosial yang mendunia. Fenomena yang dapat kita lihat di Indonesia adalah banyak pengguna media sosial yang notabene adalah orang tua milenial, membagikan konten tentang aktivitas anak-anak mereka di media sosial. Sharenting juga diasumsikan menjadi ajang orang tua milenial membangun reputasi digital mereka. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan adanya pengaruh sharenting terhadap presentasi diri orang tua milenial di media sosial. Pendekatan yang tepat untuk membantu peneliti menjawab pertanyaan penelitian ini adalah melalui pendekatan kuantitatif. Teknik pengumpulan data menggunakan survei secara daring yang didistribusikan melalui fitur iklan pada platform Facebook. Setelah dilakukan penyaringan data kuesioner daring, total responden yang diambil adalah 518 responden. Seluruh responden yang diambil telah memenuhi kriteria responden yaitu orang tua milenial (range usia 24-39 tahun), rutin membagikan aktivitas anaknya ke media sosial, dan pengguna aktif media sosial populer. Hipotesis penelitian akan diuji dengan uji regresi, uji korelasi, uji parsial (t), dan uji simultan (f). Metode pengukuran menggunakan skala likert. Sementara itu, uji keabsahan data dilakukan dengan uji validitas dan reliabilitas. Hasil penelitian membuktikan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan aktivitas sharenting terhadap presentasi diri orang tua milenial di media sosial. Hubungan diantara kedua variabel juga dinyatakan positif. Kemudian, kekuatan kedua hubungan variabel masuk ke dalam korelasi kuat. Dari hasil penghitungan, dapat disimpulkan bahwa, semakin tinggi sharenting maka semakin tinggi pula presentasi diri. Dalam konteks presentasi diri, orang tua milenial menggunakan sharenting untuk menampilkan aspek-aspek positif dari kehidupan mereka, terutama berkaitan dengan kehidupan keluarga dan peran mereka sebagai orang tua modern. Bagi orang tua milenial, presentasi diri di media sosial juga dapat mempengaruhi reputasi mereka dalam lingkungan daring. Dengan membangun citra positif sebagai orang tua yang peduli dan terlibat, mereka dapat memperkuat koneksi sosial mereka dan memperluas jaringan dukungan mereka di dunia maya

    Konsep Diri Jurnalis Perempuan (Studi Fenomenologi Tentang Pengalaman Traumatik Jurnalis Perempuan Saat Menjalankan Profesinya)

    Full text link
    This research aims to understand how female journalists develop their self-concept after experiencing traumatic events while performing their professional duties. Traumatic experiences include incidents such as invasion of privacy, sexual violence, terror, destruction threats, and verbal abuse. The phenomenon examined in this research is the impact of this experience on self-concept and the actions taken to restore the psychological condition of female journalists. A qualitative approach with phenomenological methods and symbolic interaction theory was employed. In this research, researchers involved 5 (five) female journalist informants using snowball sampling techniques. The finding reveal a variety of responses among female journalists, ranging from self-blame and doubt to positive self-concepts achieved by establishing personal boundaries. The essence of female journalists' responses to traumatic experiences obtained from structural descriptions extracted from narrative textural descriptions resulting from participant interviews is that even though they are faced with challenges and trauma, female journalists show resilience, determination, and a willingness to learn and grow from their experiences. which impacts their affirmation of their profession and personal well-being. This research contributes to the literature by providing a new perspective on the psychological dynamics and professionalism of female journalists in a local context. Apart from that, this research also has practical implications for media organization and government policies regarding the protection of female journalists and support for female journalists in various concrete forms. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan memahami bagaimana jurnalis perempuan mengembangkan konsep diri mereka setelah mengalami peristiwa traumatis ketika melakukan tugas profesionalnya. Pengalaman traumatis mencakup insiden seperti pelanggaran privasi, kekerasan seksual, teror, ancaman pengrusakan, dan pelecehan verbal. Fenomena yang diteliti dalam penelitian ini adalah dampak pengalaman tersebut pada konsep diri dan tindakan yang dilakukan untuk memulihkan kembali kondisi psikologis jurnalis perempuan. Pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi dan teori interaksi simbolik digunakan. Dalam penelitian ini peneliti melibatkan 5 (lima) orang informan jurnalis perempuan dengan menggunakan teknik snowball sampling. Temuan mengungkapkan beragam respon jurnalis perempuan, mulai dari menyalahkan dan meragukan diri sendiri hingga pengembangan konsep diri yang positif yang dicapai dengan membangun batasan-batasa personal. Adapun esensi dari respon jurnalis perempuan terhadap pengalaman traumatis yang diperoleh dari deskripsi struktural hasil ekstraksi dari deskripsi tekstural narasi hasil wawancara partisipan adalah walaupun dihadapkan pada tantangan dan trauma, para jurnalis perempuan menunjukkan adanya resiliensi, determinasi, dan kesediaan untuk belajar dan tumbuh dari pengalaman mereka, yang berdampak pada afirmasi mereka pada profesi dan kesejahteraan personal. Penelitian ini berkontribusi pada literatur dengan memberikan perspektif baru tentang dinamika psikologis dan profesionalisme jurnalis perempuan dalam konteks lokal. Selain itu, penelitian ini juga berimplikasi praktis bagi kebijakan organisasi media dan pemerintah terkait perlindungan terhadap jurnalis perempuan dan dukungan terhadap jurnalis perempuan dalam berbagai bentuk nyata

    Vaksinasi dan Digitalisasi Komunikasi Kesehatan (Studi Fenomenologi Interpretatif atas Pemahaman Pengguna Platform PeduliLindungi di Yogyakarta)

    Full text link
    The development of “PeduliLindungi” Application is one of the government's efforts to respond to the COVID-19 pandemic. The government designed this application to track and detect the potential spread of the SARS-CoV-2 virus so that it does not spread further. Recording vaccinations, history oaf exposure to viruses, and personal health status in this application is personal data that can be used stakeholders related to getting an idea of a person's condition or health status. The “PeduliLindungi” application become a real picture of the progress of digital-based health communication. Using this application during the Covid-19 pandemic has become an obligation for everyone if they want to access public services. Through an Interpretative Phenomenology analytical study approach developed from the ideas of Georg Gadamer's Hermeneutics, researchers attempt to explore further the understanding and meaning of the use of “PeduliLindungi” application in implementing the vaccination program as a mitigation measure for handling the Covid-19 outbreak in the city of Yogyakarta. The target subjects of this research are all user of “PeduliLindungi” application in Yogyakarta. The users of “PeduliLindungi” application, especially those survivors who have been infected with Covid-19. The research results show that there is a tendency for the subject's understanding of “Peduli Lindungi” application development only as an instrument of health communication with all the ethical risk consequences therein. The use of applications is more related to procedural formalities and is not based on awareness of choice because health aspects are fully considered. Communication in the “PeduliLindungi” application could be said that it has not yet formed an understanding but is limited to being a means of control over the individual's body.ABSTRAKPengembangan aplikasi PeduliLindungi menjadi salah satu upaya pemerintah merespon pandemi COVID-19. Pemerintah merancang aplikasi ini untuk melacak serta mendeteksi adanya potensi penyebaran virus SARS-CoV-2 agar tidak semakin meluas. Pencatatan vaksinasi, riwayat terpapar virus, dan status kesehatan personal dalam aplikasi ini menjadi data pribadi yang bisa dimanfaatkan stakeholders terkait untuk mendapatkan gambaran kondisi atau status kesehatan seseorang. Aplikasi PeduliLindungi menjadi gambaran nyata dari wajah kemajuan komunikasi kesehatan berbasis digital. Penggunaan aplikasi ini dalam masa pandemi Covid-19 bertransformasi menjadi kewajiban bagi setiap orang jika mereka ingin mengakses layanan publik. Melalui pendekatan kajian analisis Fenomenologi Interpretatif yang dikembangkan dari gagasan Hermeneutika Georg Gadamer peneliti berupaya untuk menggali lebih lanjut mengenai pemahaman dan pemaknaan atas pemanfaatan aplikasi PeduliLindungi dalam pelaksanaan program vaksinasi sebagai langkah mitigasi penanganan wabah Covid-19 di kota Yogyakarta. Subjek sasaran dari riset ini adalah para pengguna aplikasi PeduliLindungi, terutama mereka para penyintas yang pernah terinfeksi Covid-19. Hasil riset menemukan bahwa ada kecenderungan pemaknaan subjek terhadap aplikasi PeduliLindungi hanya sebatas sebagaai instrumen formalitas karena bertujuan memenuhi aturan SOP semata. Penggunaan aplikasi lebih banyak terkait dengan formalitas prosedural dan tidak didasari oleh kesadaran pilihan karena pertimbangan aspek kepentingan kesehatan. Komunikasi melalui aplikasi PeduliLindungi bisa dikatakan belum membentuk ‘kesepahaman’ namun sebatas menjadi instrumen kontrol atas tubuh individu.

    Pemanfaatan Media Sosial untuk Quality Time Keluarga pada Pekerja Stayer dan Mover

    Full text link
    Physical absence due to distance limits quality family time for workers due to job migration. Social media now has become a means of communication to maintain ties, form family identity, and replace physical presence. This research aims to test and prove the existence of differences between stayer and mover (circular) workers in utilizing social media for quality family time. This research uses quantitative methods, explanatory in nature, with comparative analysis. The survey method was used to collect data by filling out a questionnaire via Google Form. The sample was selected using convenience sampling from workers in a number of offices in the Jabodetabek area. Data processing was carried out using SPSS version 29 on 127 questionnaires filled in by respondents. The Mann-Whitney Test was used to determine differences in the use of social media by stayer and mover (circular) workers. The research results show that there are differences between stayer and mover (circular) workers in utilizing social media for family quality time, as measured by perceptions, attitudes, behavior and level of social media use. Behavioral variables have a moderate correlation to perception variables, and strong correlations to attitude variables. The variable level of social media use has a very weak correlation with the variables of perception, attitude and behavior. This proves that compared to stayer workers, mover (circular) workers use social media more to create quality family time and overcome physical absence. It is recommended that further research add qualitative methods (becoming mixed methods) so as to enrich and strengthen the data about the different reasons for using social media through in-depth interviews. Expanding the opulation, different research areas, and samples involving different community groups can be carried out to determine differences in the use of social media by other community groups.ABSTRAKKetidakhadiran fisik karena jarak membatasi quality time keluarga pada pekerja karena migrasi pekerjaan. Media sosial kini menjadi sarana komunikasi untuk menjaga ikatan, membentuk identitas keluarga, dan menggantikan kehadiran fisik. Penelitian ini bertujuan untuk menguji dan membuktikan adanya perbedaan antara pekerja stayer dan mover (sirkuler) dalam memanfaatkan media sosial untuk quality time keluarga. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif, bersifat eksplanatif, dengan analisis komparatif. Metode survei dilakukan untuk mengumpulkan data dengan mengisi kuesioner melalui Google Form. Sampel dipilih secara convenience sampling terhadap pekerja pada sejumlah kantor di wilayah Jabodetabek. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan SPSS versi 29 atas 127 isian kuesioner oleh responden. Mann-Whitney Test digunakan untuk mengetahui perbedaan pemanfaatan media sosial oleh pekerja stayer dan mover (sirkuler). Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan antara pekerja stayer dan mover (sirkuler) dalam memanfaatkan media sosial untuk quality time keluarga, yang diukur dari persepsi, sikap, perilaku, dan tingkat penggunaan media sosial. Variabel perilaku memiliki korelasi yang moderat terhadap variabel persepsi, serta kuat terhadap variabel sikap. Variabel tingkat penggunaan media sosial memiliki korelasi yang sangat lemah terhadap variabel persepsi, sikap, dan perilaku. Hal tersebut membuktikan bahwa dibanding pekerja stayer, pekerja mover (sirkuler) lebih banyak dalam menggunakan media sosial untuk menciptakan quality time keluarga dan mengatasi ketidakhadiran secara fisik. Penelitian selanjutnya disarankan menambahkan metode kualitatif (menjadi mixed method) sehingga memperkaya dan memperkuat data tentang perbedaan alasan penggunaan media sosial melalui wawancara mendalam. Perluasan populasi, wilayah penelitian yang berbeda, dan sampel yang melibatkan kelompok masyarakat yang berbeda dapat dilakukan untuk mengetahui perbedaan penggunaan media sosial oleh kelompok masyarakat lainnya

    Product Placement Dalam Serial Drama Korea (Analisis Isi Kualitatif terhadap Evaluasi Atribut Product Placement Kopiko dalam Drama Korea Vincenzo)

    Full text link
    This study aims to analyze the implementation of Kopiko product placement in the Korean drama "Vincenzo" through Russell's (2002) dimensions of product placement, while evaluating the associated attributes of Kopiko brand placement within it. Considering the attributes of Entertainment, Informativeness, and Discomfort as outlined by Ducoffe (1996), the study adopts a qualitative approach with a constructivist paradigm, utilizing content analysis as the research method. The units of analysis include episodes 14, 15, 17, and 19 of the drama "Vincenzo". The analysis results indicate that the product placement strategy successfully optimizes visual, entertainment, and informative attributes in each episode. Aligning product messages with the storyline is crucial to maintaining narrative integrity without disrupting the viewer's experience. For instance, dialogues promoting the consumption of Kopiko candies in specific scenes demonstrate effective alignment between product messaging and narrative context. The informative attribute of product placement is also demonstrated effectively, particularly in episode 19 where information about Kopiko's product advantages is conveyed through dialogue, providing added value to viewers with relevant product information aligned with product placement attributes. Nevertheless, there is a risk of discomfort from product placement if the integration of the product within the storyline is inadequate. This study underscores the importance of considering product integration with a consistent narrative to avoid disruptions to the viewer's experience.ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi product placement Kopiko dalam drama Korea Vincenzo melalui dimensi product placement oleh Russell (2002), serta mengevaluasi atribut-atribut product placement yang terkait dengan merek Kopiko di dalamnya. Dengan mempertimbangkan atribut Entertainment, Informativeness, dan Discomfort sebagaimana dijelaskan oleh Ducoffe (1996). Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan paradigma konstruktivisme, menggunakan analisis isi sebagai jenis penelitian. Unit observasi yang dianalisis adalah episode 14, 15, 17, dan 19 dari drama Korea Vincenzo. Hasil analisis menunjukkan bahwa strategi product placement berhasil mengoptimalkan atribut visual, hiburan, dan informatif dalam setiap episode. Penyesuaian pesan produk dengan alur cerita menjadi kunci utama untuk menjaga integritas naratif tanpa mengganggu pengalaman menonton. Seperti dialog yang mengarahkan konsumsi permen Kopiko dalam adegan tertentu menunjukkan penyesuaian yang baik antara pesan produk dan konteks cerita. Atribut informatif dari product placement juga terbukti efektif, terutama pada episode 19 di mana informasi mengenai kelebihan produk Kopiko disampaikan melalui dialog, yang memberikan nilai tambah kepada penonton dengan informasi yang relevan sesuai dengan atribut. Meskipun demikian, risiko ketidaknyamanan dari product placement dapat terjadi jika produk tidak terintegrasi dengan baik dalam cerita. Penelitian ini menyoroti pentingnya mempertimbangkan integrasi produk dengan naratif yang konsisten untuk menghindari gangguan pada pengalaman penonton

    Melukis Kembali Penggambaran Citra Gender dalam Media Massa

    Full text link
    In Netflix’s 'Ice Cold,' which delves into the murder of Jessica by Mirna, she is often praised and forgiven for her beauty. The documentary even states that the killer is a handsome figure. Women seem to be forced to conform to the image of modern women, who should hold feminist paradigms. Digital television content, as one of the mass media platforms, often portrays women as limited to the role of 'subordinates.' The existence of women is frequently reduced solely to their physical dimensions. It is as if advertisements and television programs would feel empty without the presence of women celebrated as objects. This perspective eventually becomes ingrained in the minds of modern women, largely through the influence of mass media, while commercial demands and the race for the highest ratings are the primary reasons why women continue to be used as complementary objects in various media content.This research employs Roland Barthes' Semiotics to explore how religious education, the male gaze, mass media, and societal views interact in shaping the contemporary perception of the female body. Ironically, the excessive use of patriarchal media has made women feel more liberated to express themselves and actualize their potential in various aspects of life. In this context, elements of religious education play a crucial role, as some Abrahamic religious teachings promote gender hierarchies that can influence society's perception of women and result in gender inequality. The concept of the male gaze is also relevant in this analysis, as it refers to how the male perspective dominates the understanding and representation of women in media, often reducing women to objects of male sexual desire. This research can offer valuable insights into the interconnection of these perspectives and women's potential for increased self-expression within patriarchal-dominated environments.ABSTRAKPada film dokumenter 'Ice Cold' di Netflix yang mengulik tentang pembunuhan Jessica oleh Mirna, ia kerap dipuji dan dimaafkan karena parasnya. Dokumenternya pun menyebutkan bahwa sang pembunuh adalah sosok rupawan. Di luar itu, televisi digital sebagai salah satu medium media massa seringkali menggambarkan perempuan sebagai objek yang terbatas dalam peran 'bawahan'. Eksistensi perempuan sering direduksi hanya pada dimensi fisik mereka. Seakan iklan dan tayangan televisi akan terasa hampa tanpa kehadiran perempuan sebagai objek yang dirayakan. Perempuan seolah-olah dipaksa untuk memenuhi citra perempuan modern yang seharusnya memegang paradigma feminis. Pandangan ini akhirnya tertanam dalam pikiran perempuan modern, sebagian besar melalui pengaruh media massa, sementara tuntutan komersialisme dan perlombaan untuk mendapatkan rating tertinggi menjadi alasan utama mengapa perempuan terus dijadikan objek pelengkap dalam berbagai konten media. Penelitian ini menggunakan metode penelitian Semiotika Roland Barthes, menggunakan denotasi, konotasi, serta mitos untuk memahami interaksi kompleks antara unsur didikan agama, ‘male gaze’, dan pengaruh media massa serta dampaknya terhadap persepsi tubuh perempuan dalam masyarakat modern. Ironisnya, penggunaan berlebihan oleh media patriarki telah membuat perempuan merasa lebih bebas untuk mengekspresikan diri dan mengaktualisasikan potensi mereka di berbagai aspek kehidupan. Dalam konteks ini, unsur didikan agama memainkan peran penting, karena beberapa ajaran agama Abrahamik mengajarkan hierarki gender, yang dapat memengaruhi persepsi masyarakat terhadap perempuan dan menimbulkan ketidaksetaraan gender. Konsep ‘male gaze’ juga relevan dalam analisis ini, karena mengacu pada cara pandangan laki-laki mendominasi pemahaman dan representasi perempuan dalam media, sering kali mengurangi perempuan menjadi objek hasrat seksual laki-laki. Temuan dalam penelitian ini dapat memberikan wawasan yang lebih dalam tentang bagaimana pandangan-pandangan ini berkaitan dan bagaimana perempuan dapat lebih leluasa mengekspresikan diri dalam lingkungan yang seringkali didominasi oleh norma-norma patriarki

    Strategi Harian Kompas Dalam Membangun Brand Engagement NFT Kompas Melalui Aktivitas Community Relation

    Full text link
    Digital transformation is something that most industrial players have done and continue to do. Transformation is carried out, through the use of the latest technology products such as non-fungible tokens (NFT). The popularity of NFTs, has grown rapidly and has become a hot topic of conversation in Indonesia. Kompas Daily as the largest national media in Indonesia has introduced NFT products through the Narasi Fakta Terkurasi (NFT Kompas) project since June 28, 2022. This project started with a decision to explore new business potential within the Kompas Gramedia Group. The boom in crypto, NFT and metaverse in early 2022 is considered as a great potential to develop the business. To support the Kompas NFT project, Kompas Daily is building a community and holding various activities as an effort to build Kompas NFT brand engagement. This research first adapts the Community Involvement concept by Lakin & Scheubel (2017) to understand Kompas' daily strategy, especially in building brand engagement in the Kompas NFT online community on the Discord channel. It was concluded that Kompas' NFT technology products had received a positive response and were able to build brand engagement in the NFT community which had the potential to become a new audience for Kompas Daily. Second, through Everett M. Rogers' diffusion-of-innovation theory, the research also explores the socialization strategy for Kompas NFT products. It was concluded that the exhibition forums, media articles and Townhall Meetings held by Kompas Daily to encourage the adoption of NFT innovation internally and externally to the company, were effective strategies for building audience adaptation to Kompas NFTs. This qualitative research using can be developed further, especially to examine more deeply community relations strategies for new technology products that are increasingly appearing in this digital era.ABSTRAKTransformasi digital adalah sebuah tuntutan peradaban yang antara lain dilakukan melalui penggunaan produk-produk teknologi terbaru seperti non-fungible token (NFT). Harian Kompas sebagai media nasional terbesar di Indonesia telah memperkenalkan produk NFT melalui proyek Narasi Fakta Terkurasi Kompas (NFT Kompas) sejak 28 Juni 2022. Untuk mendukung proyek NFT Kompas, Harian Kompas membangun komunitas dan mengadakan berbagai aktivitas sebagai upaya membangun brand engagement NFT Kompas. Penelitian dilakukan dengan metode kualitatif deskriptif. Pengambilan data dilakukan dengan observasi, wawancara dan dokumen. Tujuan dari penelitian, pertama dengan mengadaptasi konsep Community Involvement oleh Lakin & Scheubel (2017) peneliti menganalisa strategi Harian Kompas dalam membangun brand engagement pada online community NFT Kompas di kanal Discord. Disimpulkan bahwa produk teknologi NFT Kompas telah mendapat respon positif dan berhasil membangun brand engagement pada komunitas NFT yang berpotensi menjadi audiens baru bagi Harian Kompas. Kedua, melalui kacamata teori difusi-inovasi Everett M. Rogers (2005), penelitian juga menggali strategi sosialisasi produk NFT Kompas. Disimpulkan bahwa wadah pameran, artikel media dan Townhall Meeting yang dilakukan Harian Kompas untuk mendorong adopsi inovasi NFT ke arah internal maupun eksternal perusahaan, menjadi strategi yang efektif untuk membangun adaptasi audiens terhadap NFT Kompas. Penelitian kualitatif ini dapat dikembangkan lebih lanjut khususnya untuk mengkaji lebih dalam strategi community relation bagi produk-produk teknologi baru yang semakin sering muncul di era digital ini

    164

    full texts

    177

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    KOMUNIKATIF : Jurnal Ilmiah Komunikasi
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇