KOMUNIKATIF : Jurnal Ilmiah Komunikasi
Not a member yet
    177 research outputs found

    Dampak Ketergantungan Konten Flexing pada Fase Quarter Life Crisis Mahasiswa Tingkat Akhir

    Get PDF
    Final-year students aged 20 years and over often feel various pressures to achieve a certain level of success or achievement. One of them is the pressure from flexing content that is often presented on social media. Dependence on flexing content can trigger anxiety about the future, which ultimately leads to the emergence of the quarter-life crisis phase. Through its content, social media indirectly influences students, especially in forming a crisis of self-confidence. This research aims to determine the influence of dependency on flexing content on the quarter-life crisis phase of final-year students and to find out how big the influence of dependency on flexing content is on the quarter-life crisis phase of final-year students. The media dependency theory introduced by Rokeach & Defleur (1976) is utilized as the primary foundation for this research. This research uses a quantitative approach with a survey method for 214 Communication Science students class of 2020 at Telkom University, Bandung. The results of this research obtained a significance value of 0.000 <0.05. The research findings indicate that the dependency on flexing content on social media has a considerable potential to induce anxiety about life direction, leading to the formation of the quarter-life crisis phase. This shows that the dependence on flexing content which includes cognitive, affective, and behavioral aspects influences the quarter-life crisis phase which includes hopes and dreams, educational challenges, religion and spirituality, work life, home, lovers, family, and friends, and identity in final-year students. final Communication Science class of 2020, Telkom University Bandung, with an influence level of 40.7%, and the other 59.3% were influenced by other factors not included in the research. Research implications and suggestions are also discussed.ABSTRAK Mahasiswa tingkat akhir yang berusia 20 tahun keatas seringkali merasakan berbagai tekanan untuk mencapai tingkat kesuksesan atau pencapaian tertentu. Salah satunya adalah tekanan dari konten flexing yang sering dihadirkan pada media sosial. Ketergantungan pada konten flexing dapat memicu kecemasan akan masa depan, yang akhirnya berujung pada munculnya fase quarter life crisis. Melalui kontennya, media sosial secara tidak langsung memberikan pengaruh terhadap mahasiswa, terutama dalam pembentukan krisis kepercayaan diri. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh ketergantungan konten flexing terhadap fase quarter life crisis mahasiswa tingkat akhir dan mengetahui seberapa besar pengaruh ketergantungan konten flexing terhadap fase quarter life crisis mahasiswa tingkat akhir. Teori ketergantungan media yang diperkenalkan Rokeach & Defleur (1976) digunakan sebagai landasan utama penelitian ini. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei kepada 214 mahasiswa Ilmu Komunikasi angkatan 2020 Universitas Telkom Bandung. Hasil penelitian ini memperoleh nilai signifikansi sebesar 0,000 < 0,05. Penelitian ini memperoleh temuan ketergantungan konten flexing di media sosial memiliki potensi cukup tinggi sebagai terjadinya kecemasan tentang arah hidup yang mengarah pada pembentukan fase quarter life crisis. Ini menunjukan bahwa ketergantungan konten flexing yang meliputi aspek kognitif, afektif dan perilaku berpengaruh terhadap fase quarter life crisis yang meliputi hopes and dream, education challenges, religion and spirituality, work life, home, lovers, family, and friends, dan identity pada mahasiswa tingkat akhir Ilmu Komunikasi angkatan 2020 Universitas Telkom Bandung, dengan tingkat pengaruh sebesar 40,7% dan 59,3% lainnya dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak terdapat dalam penelitian. Implikasi dan saran penelitian juga dibahas

    Pola Komunikasi Beda Generasi (Studi Etnografi Komunikasi Abdi Dalem Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat)

    Get PDF
    The reforms carried out in the Ngayogkarta Palace in recent years have brought many changes, one of which is the condition where the Abdi Dalem who are the Palace officials are divided into two groups of different generations. The first group is the older generation, consisting of the baby boomer and This research was conducted with the aim of finding and searching for communication patterns between Abdi Dalem and their environment. The research was conducted using a qualitative approach and Hymes' ethnographic communication method. The data analysis technique uses SPEAKING theory. The communication patterns resulting from this research are based on ethnographic communication theory. The results of the research show that communication patterns among Abdi Dalem are influenced by intergenerational differences within the Abdi Dalem group which causes differences in ways of communicating between generations. This difference arises because of differences in characteristics between generations, coupled with differences of opinion regarding changes that occur within the Palace. The existence of several generational groups makes communication patterns between Abdi Dalem different between generations, especially between the older generation (baby boomers and generation X) and the younger generation (generation Y and Z). Meanwhile, the communication pattern between Abdi Dalem and the Palace family occurs in the direction of Abdi Dalem's communication flow at the Ngayogyakarta Hadiningrat Palace occurs in a topdown direction, and Abdi Dalem is in the last or lowest position. The communication pattern between Abdi Dalem and the outside community is regulated based on formal protocols owned by the Palace, although informal communication also occurs.ABSTRAKPembaharuan yang dilakukan dalam Keraton Ngayogkarta dalam beberapa tahun belakangan ini membawa banyak perubahan, salah satunya adalah adanya kondisi dimana Abdi Dalem yang merupakan aparatur Keraton terbagi ke dalam dua kelompok yang berbeda generasi. Kelompok pertama merupakan generasi tua, yang terdiri dari generasi baby boomer dan X, sedangkan kelompok kedua merupakan generasi muda yang terdiri dari generasi Y / milenial dan Z. Adanya kondisi ini membawa dinamika yang berbeda bagi Abdi Dalem dengan lingkungannya. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk menemukan dan mencari pola komunikasi antara Abdi Dalem dengan lingkungannya. Penelitian dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan metode etnografi komunikasi Hymes. Teknik analisis data menggunakan SPEAKING theory. Pola komunikasi yang dihasilkan dari penelitian ini berdasarkan teori etnografi komunikasi. Hasil penelitian menunjukkan pola komunikasi diantara Abdi Dalem dipengaruhi oleh adanya perbedaan antargenerasi dalam kelompok Abdi Dalem yang menyebabkan adanya berbedaan cara berkomunikasi antargenerasi. Perbedaan ini muncul karena adanya perbedaan karakteristik antargenerasi yang ditambah dengan adanya perbedaan pendapat mengenai perubahan yang terjadi dalam lingkup Keraton. Adanya beberapa kelompok generasi ini menjadikan pola komunikasi antar Abdi Dalem menjadi berbeda antargenerasi, terutama antargenerasi tua (baby boomers dan generasi X) dengan generasi muda (generasi Y dan Z). Sementara, pola komunikasi antara Abdi Dalem dengan keluarga Keraton terjadi dalam arah aliran komunikasi Abdi Dalem di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat terjadi dengan arah topdown, dan Abdi Dalem berada dalam posisi paling akhir atau paling bawah. Pola komunikasi antara Abdi Dalem dengan masyarakat luar, diatur berdasarkan protokol yang dimiliki oleh Keraton secara formal, walau komunikasi secara informal juga terjadi

    Pengunaan NARS Power Players Sebagai Virtual Brand Ambassadors Untuk Memengaruhi Konsumen

    Get PDF
    Virtual brand ambassadors have become a new type of brand spokesperson with the advent of Artificial Intelligence (AI). NARS Cosmetics, a pioneering cosmetics company, has introduced their own virtual brand ambassadors known as NARS Power Players. However, the existing literature has not yet answered whether the attributes of virtual entities can shape consumer response. The novelty of this research lies in its focus on NARS Cosmetics' virtual brand ambassadors, the NARS Power Players, which are a new phenomenon in the field of brand representation. While virtual brand ambassadors have emerged with AI technology, there is a gap in the existing literature regarding how the attributes of these virtual entities specifically impact consumer attitudes. This study addresses this gap by investigating the influence of credibility, attractiveness, congruence, and human-likeness of NARS Power Players on consumer attitudes. Additionally, the study incorporates several relevant theories, including Stimulus-Response Theory, Source Credibility Model, Source Attractiveness Model, Match-up Hypothesis, and Uncanny Valley Theory, to provide a theoretical framework for understanding the impact of virtual brand ambassadors. The use of quantitative methodology and the specific focus on NARS Power Players contribute to the novelty of this research, offering insights that can further enhance our understanding of consumer responses to virtual brand representatives.This study used quantitative methodology by distributing online questionnaires to 112 respondents. The results showed that the credibility, congruence, and human-likeness of virtual brand ambassadors had a positive and significant influence on consumer attitudes. However, attractiveness did not have a significant influence on consumer attitudes. Researchers can further explore this topic by conducting investigative qualitative research on consumer perceptions and comparative analysis with human endorsers and non-human endorsers.ABSTRAKDengan munculnya Artificial Intelligence (AI), virtual brand ambassadors telah menjadi jenis baru brand spokesperson yang non-human. Perusahaan kosmetik perintis, NARS Cosmetics, baru-baru ini memperkenalkan virtual brand ambassadors mereka sendiri yang dikenal sebagai NARS Power Players. Namun, literatur yang ada belum menjawab apakah atribut-atribut entitas virtual yang dapat membentuk respons konsumen. Kebaruan dari penelitian ini terletak pada fokusnya pada virual brand ambassadors NARS Cosmetics, yaitu NARS Power Players, yang merupakan fenomena baru dalam bidang brand ambassadors yang non-human. Sementara virtual brand ambassadors muncul dengan teknologi AI, terdapat kesenjangan dalam literatur yang ada mengenai bagaimana atribut entitas virtual ini secara khusus mempengaruhi sikap konsumen. Penelitian ini mengatasi kesenjangan tersebut dengan menganalisis pengaruh credibility, attractiveness, congruence, dan human-likeness dari NARS Power Players sebagai virtual brand ambassadors terhadap sikap konsumen. Selain itu, penelitian ini mencakup beberapa teori yang relevan, termasuk Stimulus-Response Theory, Source Credibility Model, Source Attractiveness Model, Match-up Hypothesis dan Uncanny Valley Theory untuk memberikan kerangka teoretis dalam memahami pengaruh virtual brand ambassadors. Penggunaan metodologi kuantitatif dan fokus khusus pada NARS Power Players memberikan kontribusi pada kebaruan penelitian ini, menawarkan wawasan yang dapat lebih meningkatkan pemahaman tentang respons konsumen terhadap virtual brand ambassadors. Penelitian ini menggunakan metodologi kuantitatif dengan menyebarkan kuesioner online kepada 112 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa credibility, congruence, dan human-likeness dari virtual brand ambassadors memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap sikap konsumen, sedangkan attractiveness tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap sikap konsumen. Peneliti selanjutnya dapat mengeksplorasi topik ini lebih lanjut dengan melakukan penelitian kualitatif investigatif mengenai persepsi konsumen dan analisis perbandingan dengan human endorser dan non-human endorser

    Personal Political Branding: Strategi Kampanye Ganjar Pranowo Untuk Pilpres 2024 di Social Media Twitter

    Get PDF
    In this digital age, social media has become a powerful platform to communicate and influence public opinion. A critical aspect of using social media is its ability to strengthen political branding, which is how a politician or political party builds their image and identity in the eyes of the public. Political branding refers to creating a political image and identity for a candidate, political party, or political movement in society. Ganjar Pranowo, as the Governor of Central Java, utilizes Twitter as a medium to strengthen the value of political branding. This research aims to explain Ganjar Pranowo's political branding strategy through his Twitter social media account. This research uses a qualitative method; then, the researcher uses the Nvivo 12Plus application to analyze the data. The results of this study show that political branding efforts made by Ganjar Pranowo include: First, Ganjar Pranowo presents himself as a religious leader. Second, Ganjar Pranowo presents himself as a leader close to middle to lower-class people. Third, Ganjar Pranowo presents himself as a leader who upholds ethnicity and culture. Fourth, Ganjar Pranowo displays that he is a leader who supports improving the community's economy through UMKM. Fifth, Ganjar Pranowo presents himself as a leader close to the younger generation. Ganjar Pranowo's political branding capability lies in personality attributes. The personal attributes found in the Twitter account @ganjarpranowo include: First, competence as a leader. Second, passion and dedication. Third, leadership style. This research is expected to provide an overview related to political branding from political actors and stakeholders. ABSTRAK Di era digital ini, media sosial telah menjadi platform yang kuat untuk berkomunikasi dan memengaruhi opini publik. Salah satu aspek penting dari penggunaan media sosial adalah kemampuannya dalam memperkuat political branding, yaitu cara seorang politisi atau partai politik membangun citra dan identitas mereka di mata masyarakat. Political branding merujuk pada sebuah proses membangun citra dan identitas politik untuk seorang kandidat, partai politik, atau gerakan politik tertentu di masyarakat. Ganjar Pranowo sebagai Gubernur Jawa Tengah memanfaatkan twitter sebagai media penguatan nilai political branding. Penelitian ini bertujuan untuk memaparkan bagaimana strategi political branding Ganjar Pranowo melalui akun media sosial twitter. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, kemudian dalam melakukan analisis data peneliti menggunakan aplikasi Nvivo 12Plus. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa upaya political branding yang dilakukan oleh Ganjar Pranowo meliputi: Pertama, Ganjar Pranowo menampilkan bahwa dirinya seorang pemimpin yang religius. Kedua, Ganjar Pranowo menampilkan bahwa dirinya seorang pemimpin yang memiliki kedekatan dengan masyarakat menengah kebawah. Ketiga, Ganjar Pranowo menampilkan bahwa dirinya seorang pemimpin yang menjunjung tinggi suku dan budaya. Keempat, Ganjar Pranowo menampilkan bahwa dirinya seorang pemimpin yang mendukung peningkatan ekonomi masyarakat melalui UMKM. Kelima, Ganjar Pranowo menampilkan bahwa dirinya seorang pemimpin yang dekat dengan generasi muda. Kapabilitas political branding Ganjar Pranowo terletak pada personality attributes. Atribut personal yang ditemukan dalam akun twitter @ganjarpranowo diantaranya: Pertama, Kompetensi sebagai seorang pemimpin. Kedua, Semangat dan dedikasi. Ketiga, Gaya kepemimpinan. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran terkait political branding dari aktor politik sekaligus pemangku kepentingan

    Kajian Literatur Manajemen Privasi dalam Konteks Hubungan Keluarga di Facebook

    Get PDF
    The rapid development of technology makes social media an important part of the communication process. Facebook as one of the most popular social media and has many users encourages the emergence of privacy disturbances. As the number of families using Facebook increases, the risk of privacy disclosure also becomes more open in the public sphere. The management of personal data and information on social media has triggered privacy disturbances. The research team used a qualitative methodology with a literature review method to examine privacy management using the theory of Communication Privacy Management (CPM) in the family context on Facebook Social Media. The results of the study show that as owners of individual information, they apply privacy controls through privacy rules and restrictions as a way to decide what to disclose and hide on Facebook. Privacy disclosure decisions are influenced by the quality of family relationships and topics of discussion. Individuals will apply personal boundaries to information related to sex and HIV disease. Privacy controls carried out by individuals in the context of family relationships on Facebook are carried out to avoid turbulence.ABSTRAK Perkembangan teknologi yang kian pesat menjadikan media sosial bagian penting dalam proses komunikasi. Facebook sebagai salah satu media sosial yang populer dan memiliki banyak pengguna mendorong munculnya gangguan privasi. Seiring bertambahnya jumlah keluarga yang menggunakan Facebook, risiko pengungkapan privasi juga kian terbuka di ruang publik. Pengelolaan data dan informasi pribadi di media sosial telah memicu gangguan privasi. Tim peneliti menggunakan metodologi kualitatif dengan metode kajian literatur untuk menelaah manajemen privasi dengan menggunakaan teori Communication Privacy Management (CPM) dalam konteks keluarga di Media Sosial Facebook. Hasil penelitian menunjukan bahwa sebagai pemilik informasi individu menerapkan kontrol privasi melalui aturan dan batasan privasi sebagai cara untuk memutuskan apa yang akan diungkapkan dan disembunyikan di Facebook. Keputusan pengungkapan privasi dipengaruhi oleh kualitas hubungan dalam keluarga dan topik bahasan. Individu akan menerapkan batasan pribadi untuk informasi yang terkait seks dan penyakit HIV. Kontrol privasi yang dilakukan oleh individu dalam konteks hubungan keluarga di Facebook dilakukan untuk menghindari terjadinya turbulensi

    Penerimaan Komunitas Montase terhadap Representasi Ras Asia di Amerika dalam Film Minari

    Get PDF
    Films are able to provide entertainment as well as influence the attitudes and views of the audience. Audience has an important position in receiving messages. This study aims to explain the Montage community's reception of the representation of Asian race in America on the Minari film. The dynamics of adaptation, crisis, and family are closely related to the identity of Asian immigrants trying to reach their hopes in the destination country. The researcher applied Stuart Hall's reception analysis by conducting a thorough observation of Minari's film to determine the encoding and conducting interviews with three informants from the Montase community to conduct the decoding analysis. The results of this study describe two classifications of informant positions, namely dominant position and negotiated position. Differences in background, culture, and knowledge affect the informants' meaning of the representation of the Asian race in Minari.ABSTRAK Film mampu memberikan hiburan sekaligus mempengaruhi sikap dan pandangan audiens. Sebagai penonton, audiens memiliki posisi penting dalam penerimaan pesan. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan resepsi komunitas Montase terhadap representasi ras Asia di Amerika dalam film Minari. Dinamika adaptasi, krisis, dan keluarga lekat dengan identitas imigran Asia yang berupaya menggapai harapan di negara tujuan. Peneliti mengaplikasikan pendekatan resepsi milik Stuart Hall dengan melakukan pengamatan menyeluruh terhadap film Minari untuk menentukan encoding dan melakukan wawancara terhadap tiga orang informan dari komunitas Montase untuk melakukan analisis decoding. Hasil penelitian ini menguraikan dua klasifikasi posisi informan yakni dominant position dan negotiate position. Perbedaan latar belakang, budaya, dan pengetahuan mempengaruhi pemaknaan informan terhadap representasi ras Asia dalam Minari

    Penyebaran Berita Politik dan Partisipasi Politik Masyarakat Kota Palu di Media Sosial

    Get PDF
    ABSTRACT Today's social media has created a new dilemma. Media independency is an important component for a democratic order, however, in some contexts, citizens experience several hindrance to fully enjoy this right. Replacing conventional media channels, social media is becoming an indispensable medium for expressing and discussing politics. This research focuses on the political participation of the people of Palu City which is influenced by the presence of social media. The social media means are Facebook, WhatsApp, Instagram, Twitter, TikTok, YouTube, and Telegram. This study was designed using a quantitative approach. The techniques used to collect the data include observation, questionnaires, and written documents. This research questionnaire was distributed to the people of Palu City which was carried out directly and through social media. The results of distributing the questionnaires showed that 144 respondents were willing to fill out the questionnaires. Data analysis in this study used descriptive statistics. The results of the study show that the political participation of the people in Palu City places more emphasis on spreading news or political issues on social media, especially by spreading the news or issues on sundury social media accounts, but not only that, the political participation of the people is also shown by receiving and following the news. -News and political issues on social media. The political news or issues shared on social media in this study was carried out by the public if they received news or political issues that were hotly discussed. News or issues that are disseminated are no longer managed, but are immediately distributed on various social media accounts such as Facebook, WhatsApp, Instagram, Twitter, TikTok, YouTube, and Telegram, so it is not uncommon for news or issues to have a positive impact, it some even have an negative impact.ABSTRAKMedia sosial saat ini menjadi telah menghasilkan dilema baru. Kebebasan media merupakan komponen penting untuk tatanan demokrasi, namun demikian, dalam beberapa konteks, warga negara mengalami beberapa hambatan untuk menikmati hak tersebut secara penuh. Menggantikan saluran media konvensional, media sosial menjadi media yang sangat diperlukan untuk mengekspresikan dan mendiskusikan politik. Penelitian ini fokus pada partisipasi politik masyarakat Kota Palu yang dipengaruhi oleh keberadaan media sosial. Media sosial yang dimaksud dalam penelitian ini adalah Facebook, WhatsApp, Instagram, Twitter, TikTok, YouTube, dan Telegram. Penelitian ini didesain menggunakan pendekatan kuantitatif. Teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data tersebut mencakup observasi, kuesioner, dan dokumen tertulis. Kuesioner penelitian ini disebar ke masyarakat Kota Palu yang dilakukan secara langsung dan melalui media sosial. Hasil penyebaran kuesioner menunjukkan 144 responden yang bersedia mengisi kuesioner. Analisis data penelitian ini menggunakan statistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa partisipasi politik masyarakat di Kota Palu lebih menekankan pada penyebaran berita atau isu politik di media sosial, terutama dengan menyebarkan berita atau isu tersebut di berbagai akun media sosial, namun tidak hanya itu, partisipasi politik masyarakat juga ditunjukkan dengan menerima dan mengikuti berita-berita dan isu-isu politik di media sosial. Penyebaran berita atau isu politik di media sosial dalam penelitian ini dilakukan oleh masyarakat jika mendapatkan berita atau isu politik yang sedang hangat diperbincangkan. Berita atau isu yang disebarkan tidak lagi dikelola, tetapi langsung disebarkan diberbagai akun media sosial seperti Facebook, WhatsApp, Instagram, Twitter, TikTok, YouTube, dan Telegram, sehingga tidak jarang hal berita atau isu tersebut ada yang berdampak positif dan bahkan ada juga yang berdampak negatif

    Populism in the Self Presentation of Politician on Ganjar Pranowo's Instagram Account

    Get PDF
    ABSTRACT As one of the most popular social media in Indonesia, Instagram is widely used by political actors to present themselves to attract the potential voters. Ganjar Pranowo, who’s often referred as a populist politician, has been widely discussed as a candidate for the 2024 presidential election. This research wants to analyze the self-presentation form of Ganjar Pranowo's populism communication on Instagram. A qualitative content analysis methods are used to analyze the visual content in the form of videos from Ganjar Pranowo's Instagram posts. With purposive sampling, 5 samples were obtained which would be analyzed. The results of the analysis show that on Instagram, Ganjar Pranowo plays himself as a political actor who’s close to the citizens, friendly, firm, empathetic, and loves his family. Based on the self-presentation shown, it’s known that Ganjar Pranowo displayed two of the three most common characteristics of populism according to Jager and Walgrave through his Instagram account during the research period, which is referring to the people and exclusion of outside groups. These findings indicate that there is a tendency for political bias and identity politics in Ganjar Pranowo's self-presentation of populism on Instagram that shown through the behavior of referring to certain groups of people. Populism behavior shown by politicians on social media is known to be able to influence the climate of Indonesian political communication in the modern era.ABSTRAK Sebagai salah satu media sosial paling populer di Indonesia, Instagram banyak dimanfaatkan para aktor politik untuk mempresentasikan diri mereka sebagai cara menarik perhatian calon pemilih. Ganjar Pranowo yang sering disebut sebagai politisi populis yang dekat dengan rakyat saat ini banyak dikaitkan dengan kabar pencalonannya di Pemilihan Presiden 2024 mendatang. Penelitian ini ingin menganalisis bentuk presentasi diri komunikasi populisme Ganjar Pranowo di Instagram. Metode analisis isi kualitatif digunakan untuk menganalisis konten visual berupa video dari postingan Instagram Ganjar Pranowo. Dengan purposive sampling, didapat 5 sampel yang akan dianalisis. Hasil analisis menunjukkan bahwa di Instagram, Ganjar Pranowo memerankan dirinya sebagai aktor politik yang merakyat, supel, tegas, empatis, dan sayang keluarga. Berdasarkan presentasi diri yang ditunjukkan, didapatkan bahwa Ganjar Pranowo menampilkan dua dari tiga ciri populisme paling umum menurut Jager dan Walgrave melalui akun Instagramnya selama kurun waktu penelitian, yaitu merujuk kepada rakyat dan pengecualian terhadap kelompok luar. Temuan ini mengindikasikan adanya kecenderungan bias politik dan politik identitas pada presentasi diri populisme Ganjar Pranowo di Instagram yang ditunjukkan melalui perilaku perujukan kepada kelompok masyarakat tertentu. Perilaku populisme yang ditunjukkan politisi di media sosial diketahui mampu mempengaruhi iklim komunikasi politik Indonesia di era modern

    Pengaruh Implementasi Strategi IMC terhadap Keputusan Mendaftar Siswa di SMK Telkom Sidoarjo Tahun Ajaran 2022/2023

    Get PDF
                                                           ABSTRACT The study is to describe and examine the effect of implementing IMC strategy on the decision of student to enrollment at Vocational School of Telkom Sidoarjo during academic year of 2022/2023. The background of which was based on the result of new student enrollment at Vocational School of Telkom Sidoarjo throughout academic year of 2021/2022, during Covid-19 pandemic outbreak to the transition of new normal era, reporting a total of 231 student from the targeted number of 250. The results of new student enrollment at Vocational School of Telkom Sidoarjo during academic year of 2022/2023, however, has exceeded the target by achieving a total of 240 student from the targeted number of 223. The research was conducted using explanatory quantitative method which included 150 respondents. The samples were collected using simple random sampling, while the data was collected through questionnaire. In addition, the data was processed through data validity test consisting validity and reliability test, as well as classical assumption test consisting normality test, multicollinearity test, and heteroscedasticity test. Moreover, the data was analyzed using descriptive statistical analysis and parametric inferential statistics. Furthermore, the hypothesis test was established through multiple linear regression test, partial test (t test), simultaneous test (F test), and coefficient of multiple determination test (R2). The findings suggest that the event & experience variable performed a significant effect with a substantial relationship, while the digital marketing variable represented a significant effect with a substantial relationship on the decision to enrollment at Vocational School of Telkom Sidoarjo. Additionally, the implementation of IMC strategy as measured by variable of advertising, sales promotion, event & experience, public relations, direct marketing, personal selling, and digital marketing simultaneously influenced the decision of student to enrollment at Vocational School of Telkom Sidoarjo.                                                          ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menguji pengaruh implementasi strategi IMC terhadap keputusan mendaftar siswa di SMK Telkom Sidoarjo pada tahun ajaran 2022/2023. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh hasil PPDB SMK Telkom Sidoarjo tahun ajaran 2021/2022 yang bertepatan dengan wabah pandemi Covid-19 melanda hingga transisi era new normal pandemi Covid-19 menunjukan pencapaian sejumlah 231 siswa dari target 250 siswa. Akan tetapi, PPDB SMK Telkom Sidoarjo tahun ajaran 2022/2023 mampu melebihi target dengan pencapaian sebanyak 240 siswa dari target 223 siswa. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif eksplanatoris dengan jumlah responden sebanyak 150 responden. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah simple random sampling. Teknik pengambilan data yang dalam penelitian ini berupa kuisioner. Teknik pengolahan data dalam penelitian ini menggunakan uji keabsahan data yang terdiri dari uji validitas dan uji reliabilitas serta uji asumsi klasik yang terdiri dari uji normalitas, uji multikolinearitas, dan uji heteroskedastisitas. Teknik analisis data dalam penelitian ini adalah analisis statistika deskriptif dan statistik inferensial parametrik. Pengujian hipotesis dalam penelitian ini dilakukan dengan uji regresi linear berganda, uji parsial (uji t), uji simultan (uji F), dan uji koefisien determinasi berganda (R2). Hasil dalam penelitian ini adalah variabel event & experience berpengaruh signifikan dengan hubungan yang cukup dan variabel digital marketing berpengaruh signifikan dengan hubungan yang cukup berarti terhadap keputusan pendaftaran di SMK Telkom Sidoarjo. Implementasi strategi IMC yang diukur dengan variabel advertising, sales promotion, event & experience, public relations, direct marketing, personal selling, dan digital marketing secara simultan berpengaruh terhadap keputusan mendaftar siswa di SMK Telkom Sidoarjo

    Discourse Network Analysis: Studi Kasus pada Kebijakan Kenaikan Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) Pertamina

    Get PDF
    ABSTRACT Fuel oil is one of the important commodities in society and simultaneously affects various sectors. The increase in fuel prices is an unpopular policy in society, but it must still be taken by the government. Various responses and speculations emerged in the public and elite spheres, both in the form of support or rejection regarding the discourse. The purpose of this research is to find out the discourse network of the fuel price increase policy by looking at the debate map that occurs, as well as knowing the actors and concepts involved in it. The data collection technique was carried out using the Discourse Network Analysis (DNA) method using the Pertamina fuel price increase policy discourse in online media in the period August 27-September 10, 2022. The results showed that the issue debate in this discourse was dominated by a coalition of skeptics consisting of the community, student associations, think tanks, political parties and some factions in the DPR. Meanwhile, the supporting coalition is dominated by government figures, such as the President, Ministers, Members of Parliament, as well as economic and social observers.ABSTRAK Bahan bakar minyak (BBM) merupakan salah satu komoditas utama yang penting dalam masyarakat serta berpengaruh secara simultan terhadap berbagai sektor. Kenaikan harga BBM merupakan kebijakan tidak populer dalam masyarakat, namun tetap harus diambil oleh pemerintah. Berbagai respon dan spekulasi muncul di ranah publik dan elit, baik berupa dukungan ataupun penolakan terkait wacana tersebut. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui jejaring wacana kebijakan kenaikan harga BBM dengan melihat peta perdebatan yang terjadi, serta mengetahui aktor dan konsep yang terlibat di dalamnya. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui metode Discourse Network Analysis (DNA) menggunakan wacana kebijakan kenaikan harga BBM Pertamina di media daring dalam kurun waktu 27 Agustus-10 September 2022. Hasil penelitian menunjukkan perdebatan isu dalam wacana didominasi oleh koalisi skeptis yang terdiri dari masyarakat, himpunan mahasiswa, think tank, partai politik dan sebagian fraksi dalam DPR. Sedangkan, koalisi pendukung didominasi oleh tokoh pemerintahan, seperti Presiden, Menteri, Anggota DPR, maupun para pengamat ekonomi dan sosial

    164

    full texts

    177

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    KOMUNIKATIF : Jurnal Ilmiah Komunikasi
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇