KOMUNIKATIF : Jurnal Ilmiah Komunikasi
Not a member yet
177 research outputs found
Sort by
Pendidikan di Perbatasan Dalam Film “Batas”
Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana representasi pendidikan di perbatasan dalam film “Batas”. Metode analisis semiotika Charles Sanders Peirce digunakan untuk membedah film. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan
jenis penelitian ini adalah deskriptif. Peneliti memilih untuk melihat bagaimana representasi pendidikan di perbatasan yang berlokasi di Entikong, Kalimantan Barat, karena wilayah perbatasan merupakan wilayah yang jauh dari pemerintah pusat dan butuh perhatian khusus karena mengingat wilayahnya yang berbatasan langsung dengan Malaysia. Terdapat banyak isu-isu perbatasan yang muncul seperti tindak kriminal dan
perdagangan manusia. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa film “Batas” merepresentasikan pendidikan yang berbeda dengan konsep pendidikan nasional pada umumnya, yaitu pendidikan yang tidak formal, yang tidak mengacu pada aturan-aturan, kurikulum, dan jam-jam sekolah pada umumnya. Penyaluran pendidikan diupayakan dengan cara memasuki pola kehidupan masyarakat disana. Ini disebabkan karena
masyarakat perbatasan dalam film tersebut belum memiliki kesadaran untuk bersekolah karena mereka beranggapan pendidikan bukan kebutuhan primer. Butuh upaya untuk
tetap dapat menyalurkan pendidikan bagi anak-anak perbatasan agar dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusianya sehingga dapat memajukan wilayah perbatasan. Upaya menyalurkan pendidikan untuk anak-anak perbatasan dengan cara memasuki pola kehidupan mereka berhasil sehingga menciptakan sebuah pendidikan versi perbatasan. hal ini mencerminkan pendidikan bekerja sebagai agen perubahan
sosial
Cultivation Analysis Pengaruh Terpaan Program Sinetron TBNH Dan Sikap Ibu-Ibu Di Jawa Timur Mengenai Keluarga Bahagia ( Uji Statistik Deskriptif Konsep Mainstraiming Dan Resonance Dengan Metode Survei Terhadap Ibu-Ibu Di Jawa Timur Penonton Sinetron TBNH)
Menurut Geroge Gerbner (dalam Griffin, 2003: 380 – 389), televisi memiliki pengaruh yang besar pada pembentukan persepsi penonton atas realitas, inilah konsep utama cultivation theory (teori kultivasi). Teori ini diperkenalkan pada tahun 1970an untuk menjelaskan
hubungan antara terpaan program televisi dan persepsi publik terhadap lingkungan sekitarnya (West dan Turner, 2010: 87 – 89). Penelitian ini menguji dua cara kultivasi yang disebut oleh Gerbner, yakni proses mainstraiming dan resonance yang terjadi pada para ibu-ibu Jawa Timur yang merupakan penonton sinetron TNBH.
Dengan menggunakan metode survey, hasil olah data atas responden di Kabupaten Gresik, Sidoardjo, Magetan, Madiun, dan Kota Surabaya menunjukkan bahwa hasil uji konsep mainstraiming tidak sepenuhnya berlaku. Data menunjukkan bahwa responden yang memiliki tingkat terpaan rendah dan termasuk dalam kategori penonton ringan juga memiliki sikap yang positif atas persetujuan mengenai penggambaran sinetron TBNH mengenai keluarga bahagia. Sebaliknya, terpaan tinggi memiliki kecenderungan persetujuan rendah yaitu sebesar 44%. Hal ini bertetangan dengan konsep mainstraiming yang menyatakan bahwa semakin tinggi terpaan media maka semakin tinggi pula persetujuan audiens atas isi media dan menunjukkan sikap yang semakin positif. Konsep kedua yang diuji dalam penelitian, konsep resonace menunjukkan data yang mendukung konsep tersebut. Data menunjukkan bahwa semakin tinggi kesesuaian antara pengalaman responden dengan isi tanyangan media, maka semakin tinggi pula persetujuan responden bahwa realitas sosial itu sama dengan realitas yang ditampilkan oleh media. Dalam penelitian ini, responden mengalami proses kultivasi melalui proses resonance dengan data
yang menunjukkan bahwa semakin tinggi persamaan antara pengalaman responden dengan penggambaran keluarga bahagia dalam sinteron TBNH maka semakin tinggi pula persetujuan responden atas isi dari penggambaran keluarga bahagia dalam sinetron TBNH
Strategi Media Relations PT Astra International Tbk dalam Mempublikasikan Program Satu Indonesia
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana proses strategi media relations PT Astra International dalam mempublikasikan Program SATU Indonesia. Penelitian ini diajukan sebagai salah satu persyaratan untuk menempuh ujian sarjana. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Konsep yang digunakan adalah konsep strategi media relations dari Frank Jefkins. Sementara itu, untuk mengumpulkan data, penulis melakukan, wawancara, observasi, dan studi kepustakaan. Penelitian dilaksanakan di Kota Jakarta tepatnya di Kantor PT Astra International Tbk. Hasil penelian ini adalah petugas humas PT Astra International memiliki persamaan filosofi mengenai tujuan dari program SATU Indonesia yang memudahkan petugas humas untuk memahami dan melayani PT Tempo Group dalam upaya publikasi, kemudian penggunaan rubrik – rubrik yang independen serta narasumber yang berkredibel menjadi
strategi untuk meningkatkan reputasi perusahaa, petugas humas PT Astra International juga menyediakan press release, straight news dan feature news dalam penyediaan naskah informasi, selain itu juga petugas humas PT Astra International menyediakan waktu untuk melakukan meeting mingguan sebagai fasilitas verifikasi bagi awak media PT Tempo untuk memverifikasi setiap informasi yang didapatkan untuk kebutuhan publikasi acara, dan dalam membangun hubungan personal dengan awak media, petugas humas PT Astra International tetap menghargai dan menghormati profesi
masing–masing sehingga tidak ada konflik yang terjadi antara petugas humas dengan awak media karena adanya campur tangan dalam melaksanakan profesi masing–masing
Anomali dan teori hirarki pengaruh terhadap isi media
Teori hirarki pengaruh terhadap isi media dikenalkan oleh Pamela J. Shoemaker dan Stephen D. Reese, yang menjelaskan pengaruh internal dan eksternal media terhadap isi pemberitaan.2
Keduanya membagi pengaruh tersebut ke dalam lima level, yaitu pengaruh individu pekerja media (individual level), rutinitas media (media routines level), organisasi media (organizational level), luar media (extramedia level), dan ideologi (ideology level). Teori ini menjadi penting dalam studi media karena isi media diasumsikan memiliki implikasi penting dalam perubahan sosial. Teori ini juga menarik karena menawarkan perspektif alternatif dalam memahami isi media, yang sebelumnya lebih sering dilihat sebagai sesuatu yang netral dalam melaporkan realitas, atau setidaknya dianggap menyajikan representasi yang fair tentang realitas (tanpa distorsi atau setidaknya dengan distorsi
minimal). Dalam perspektif ini, media diasumsikan pasif, sekadar medium (media as channels), yang hanya menyampaikan realitas apa adanya, bertumpu pada konsep-konsep positivistik seperti objektivitas,
dan tidak membawa dampak pada perubahan sosial. Sebaliknya, Shoemaker dan Reece berangkat dari asumsi media berperan aktif membentuk realitas, media as participants, bahwa media tidak netral
bahkan bisa memanipulasi realitas melalui penekanan atau penghilangan elemen-elemen tertentu dari realitas, dan memosisikan media massa sebagai agen perubahan sosial. Dengan asumsi ini,
Shoemaker-Reece membawa teorinya sebagai alternatif atau bahkan kritik terhadap teori-teori media (jurnalistik) mainstream yang cenderung posivistik. Mengikuti kerangka berpikir Thomas Kuhn, teori ini bisa disebut sebagai jawaban atas terjadinya ”anomali” ketika teori (jurnalistik, komunikasi massa) lama yang positivistik tidak mampu lagi menjelaskan gejala/fenomena
Proses Pengambilan Keputusan Melalui Kemasan Pada Produk Snack
Banyaknya jumlah produk makanan ringan yang beredar di pasaran disertai dengan pertumbuhan bisnis retail khususnya hypermart yang terus menjamur membuat peran kemasan tidak lagi terbatas hanya untuk memenuhi kebutuhan fungsional saja yaitu sebagai wadah atau pembungkus, namun kemasan juga harus mampu membangun emosi dari konsumen sehingga menarik perhatian dan memotivasi terjadinya pembelian
impulsif. Produk-produk low involvement seperti snack (makanan ringan) merupakan produk yang penting memperhatikan aspek kemasan karena sifat produknya yang tidak memerlukan pertimbangan dan biasanya keputusan membeli produk diputuskan di toko, secara impulsif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana proses
pengambilan keputusan pembelian impulsif melalui kemasan pada produk snack (makanan ringan). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemasan mampu memancing
emosi konsumen dan mendorong untuk membeli produk. Namun dalam proses pengambilan keputusannya tidak semua tahap akan dilewati oleh konsumen. Tahapan evaluasi alternative bisa dilewatkan, akibat emosi positif yang begitu kuat yang
dipancarkan oleh kemasan sehingga konsumen merasa tidak perlu untuk membandingkan dengan produk lain
Telaahan Atas Sikap Bersosialisasi Siswa Sma Dan Santri Ponpes Di Cianjur
Karakter remaja cenderung dipengaruhi oleh lingkungan, tempat ia menempuh pendidikan. Karakter ini akan membentuk sikap remaja terhadap sesuatu, termasuk sikap dalam bersosialisasi. Remaja yang menempuh pendidikan di pondok pesantren dan sekolah umum akan memiliki sikap bersosialisasi yang berbeda. Hal ini disebabkan sistem pendidikan yang dijalaninya turut membentuk kepribadian siswa. Hal ini lah yang melatarbelakangi riset ini untuk mengkaji tentang sikap bersosialisasi remaja. Adapun sikap bersosialisasi merupakan bagian dari effective socialization. Dan effective socialization merupakan bagian dari perilaku produktif. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif, dengan teknik pengumpulan data berupa angket, observasi dan studi literatur. Adapun hasilnya menunjukkan bahwa sikap bersosialisasi siswa sekolah menengah atas dan santri ponpes yang sederajat dan menjadi responden dalam riset yang dilakukan di Cianjur, tidak memiliki perbedaan yang signifikan sekalipun mereka memiliki lingkungan pendidikan dengan sistem pendidikan yang berbeda. Hal ini disebabkan adanya peranan keluarga, lingkungan sepermainan dan informasi dari media yang relatif tak jauh berbeda di antar keduanya
Hedonisme Dalam Iklan Remaja (Analisis Isi Media Tentang Gaya Hidup Hedonis Dalam Iklan Seri Yamaha New Mio M3 125 Blue Core)
Iklan dipilih sebagai salah satu cara produsen untuk mengenalkan produk baru ataupun
mendongkrak penjualan. Hedonisme adalah satu bentuk gaya hidup yang digunakan dalam
iklan guna menggambarkan kelebihan produk serta alasan mengapa harus memilikinya. Tulisan
ini memuat bagaimana gaya hidup hedonis diajarkan melalui iklan kepada para remaja dan
mengapa hal ini layak dikritisi. Iklan yang menjadi obyek kajian yaitu Yamaha New Mio Blue
Core 125. Analisis menunjukkan gaya hidup yang mengedepankan kesenangan dan
mengutamakan materi ini direpresentasikan secara vulgar atau terang-terangan melalui gambar
dan tulisan. Semua versi menonjolkan kepemilikan materi sebagai satu-satunya hal utama
dalam hidup. Materi atau kekayaan ditampilkan sebagai kunci mengatasi semua masalah.
Kepemilikan harta benda bahkan dapat mengalahkan kekayaan hati maupun intelektual.
Pandangan tentang gaya hidup hedonis perlu dikritisi karena dapat membawa pengaruh
terutama bagi perkembangan psikologis para remaja
Tingkat Kepatutan Berbahasa Jurnalistik Pada Jurnalisme Online Di Situs Detikbandung.Com (Studi Deskriptif Dengan Teknik Analisis Isi Terhadap Penerapan Kaidah Bahasa Jurnalistik Berita Langsung (Straight News) Di Detikbandung.Com)
Tingkat kepatutan berbahasa jurnalistik pada jurnalisme online terhadap penerapan kaidah
bahasa jurnalistik di sebuah media online penting untuk diketahui. Dalam penggunaan Bahasa
Indonesia, penerapan bahasa jurnalistik yang baik dan benar, media online bisa dikatakan
paling banyak melakukan pelanggaran. Hal itu utamanya dikarenakan penulisan berita di media
online dilakukan tergesa-gesa agar segera online (kejar tayang), apalagi jika wartawan yang
menulisnya kurang atau tidak menguasai tata bahasa dengan baik dan benar. Masalah ini
penting diteliti, karena media massa dinilai sebagai ‘guru bahasa’ bagi para pembacanya dan
berkaitan juga dengan upaya penyampaian informasi secara jelas dan lengkap, sehingga
terjalin komunikasi yang efektif dengan pembacanya. Tujuan penelitian ini adalah untuk
mengetahui dan menganalisis penerapan kaidah bahasa jurnalistik dari struktur kalimat,
penggunaan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD), dan penerapan kalimat efektif pada berita
langsung kanal news di situs detikBandung.com. Penelitian ini menggunakan pendekatan
penelitian kuantitatif dan metode penelitian deskriptif, dengan teknik analisis isi. Dari hasil
penelitian, dapat disimpulkan bahwa struktur kalimat yang banyak digunakan adalah kalimat
sederhana artinya singkat, padat dan jelas, penggunaan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD),
sedangkan penerapan kalimat efektif atau keefektifan kalimat dinilai masih sedikit digunakan,
karena pilihan kata yang tidak tepat dan terdapat kerancuan (ambiguitas) makna
“Si Loko” sebagai Maskot PT. Kereta Api Indonesia
Upaya meningkatkan promosi dan komunikasi pemasaran, PT. Kereta Api Indonesia
menetapkan Si Loko sebagai maskot PT. KAI dan juga duta yang memberikan berbagai
informasi yang ingin diketahui oleh masyarakat pengguna kereta api. Si Loko adalah tokoh
imajiner yang diciptakan untuk menjadi maskot PT. KAI yang digunakan untuk menyapa
pelanggan dan stakeholder kereta api secara langsung. Sebagai duta PT. KAI, Si Loko juga
merupakan wujud peningkatan pelayanan kepada pelanggan berkaitan dengan kebutuhan
informasi produk maupun kebijakan yang dikeluarkan perusahaan yang juga dapat digunakan
sebagai media promosi dan komunikasi pemasaran. Penelitian ini bermaksud mengungkap
maksud penunjukan, fungsi, dan penetapan Si Loko sebagai maskot PT Kereta Api Indonesia.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif.Hasil penelitian
menunjukan bahwa penetapan Si Loko Sebagai Maskot PT. Kereta Api Indonesia (Persero),
dilakukan karena perusahaan ingin menunjukkan sebuah perubahan dimana perusahaan tidak
hanya mengembangkan sarana transportasinya saja, melainkan juga dapat memberikan harapan
baru bagi pengembangan perkeretaapian di Indonesia yang semakin dekat dan peduli dengan
masyarakat. Selain itu, Si Loko juga menjadi sarana mediator komunikasi antara perusahaan
dengan masyarakat
Strategi Community Relations PT. Telekomunikasi Indonesia (PT. Telkom, Tbk) Dalam Usaha Peningkatan Pemanfaatan Internet Untuk Usaha Kecil Menengah Melalui Kegiatan Broadband Learning Centre
Penelitian ini berfokus pada strategi community relations yang dilaksanakan oleh PT. Telkom
dalam melaksanakan program kegiatan Broadband Learning Centre. Teori utama yang terdapat
pada penelitian ini adalah teori manajemen strategis didukung dengan teori community
relations. Teori manajemen strategis terdiri dari empat tahapan yaitu scanning (pengumpulan
fakta), formulasi strategi (perencanaan), implementasi strategi (pelaksanaan) dan evaluasi.
Pada penelitian ini peneliti menggunakan metode wawancara dan observasi untuk
mendapatkan data dari pihak PT. Telkom mengenai strategi yang mereka terapkan untuk
program Broadband Learning Centre dan observasi secara langsung terhadap pelatihan yang
diikuti komunitas pelaku Usaha Kecil Menengah. Hasil dari penelitian ini menunjukkan tahapantahapan
yang dilakukan oleh PT. Telkom dalam mencapai keberhasilan PT. Telko